KISAH PERDEBATAN LAIN TENTANG MASALAH TAUHID Supriyadi Yusuf Boni, 29 Januari 202529 Januari 2025 Sumber: Kitab Ma`arij al-Qabul Bisyarhi Sullami al-Wushul Ila Ilmi al-Ushul Fii at-Tauhid Penulis: Syeikh Hafidz bin Ahmad al-Hakami Penerjemah: Supriyadi Yusuf Boni Editor: Idrus Abidin Allah Tabârka wa Ta`âlâ berfirman: قَالَ فِرْعَوْنُ وَمَا رَبُّ الْعَالَمِينَ. قَالَ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا إِنْ كُنْتُمْ مُوقِنِينَ. قَالَ لِمَنْ حَوْلَهُ أَلَا تَسْتَمِعُونَ. قَالَ رَبُّكُمْ وَرَبُّ آبَائِكُمُ الْأَوَّلِينَ. قَالَ إِنَّ رَسُولَكُمُ الَّذِي أُرْسِلَ إِلَيْكُمْ لَمَجْنُونٌ. قَالَ رَبُّ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَمَا بَيْنَهُمَا ۖ إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُونَ. “Fir’aun bertanya: ‘Siapa Tuhan semesta alam itu?’ Musa menjawab: ‘Tuhan Pencipta langit dan bumi, dan apa-apa yang di antara keduanya (itulah Tuhan kalian), jika kalian (orang-orang) mempercayai-Nya.’ Berkata Fir’aun kepada orang-orang sekelilingnya: ‘Apakah kalian tidak mendengarkan?’ Musa berkata (pula): ‘Tuhan kalian dan Tuhan nenek moyang kalian yang dahulu.’ Fir’aun berkata: ‘Sungguh Rasul kalian yang diutus kepada kamu sekalian benar-benar orang gila.’ Musa berkata: ‘Tuhan yang menguasai timur dan barat dan apa yang ada di antara keduanya (itulah Tuhan kalian) jika kalian mempergunakan akal.” [QS. asy-Syu`arâ’: 23-28]. Allah Swt. mengisahkan dialog dan perdebatan yang terjadi antara Nabi Musa dan Fir`aun, dan dalil-dalil yang ditegakkan oleh Nabi Musa Al-Kalîm di hadapan Fir`aun—yang hina—berupa argumentasi logis-maknawi kemudian bukti-bukti empirik. Hal ini karena Fir`aun—semoga Allah menghinakannya—menampilkan pengingkarannya terhadap Sang Khaliq Swt. dan mengklaim bahwa dirinya adalah Tuhan: “Maka dia mengumpulkan (pembesar-pembesarnya) lalu berseru memanggil kaumnya, seraya berkata: ‘Akulah Tuhan kalian yang paling tinggi” [QS. An-Nâzi`ât: 23], dan juga berkata: “Dan Fir’aun berkata: ‘Wahai para pembesar kaumku! Aku tidak mengetahui ada Tuhan bagi kalian selain aku.” [QS. al-Qashash: 38]. Padahal dengan ungkapan seperti ini ia sebenarnya menyadari bahwa dirinya adalah hamba ciptaan, dan bahwa Allah adalah Sang Pencipta, Pemberi rupa (al-Mushawwir) dan Ilah yang haq, sebagaimana firman Allah Swt.: “Dan mereka (Firaun dan para pembesarnya) mengingkarinya lantaran kezaliman dan kesombongannya, padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya. Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan.” [QS. an-Naml: 14]. Oleh karena itu ia berkata kepada Musa a. s.: Fir’aun berkata kepada orang-orang yang ada di sekelilingnya seperti para pejabat, murazabtuhu[1] dan kelompoknya, para pembesarnya dan petinggi-petinggi negerinya dengan penuh kepongahan, kesombongan, pelecehan dan penghinaan serta kedustaan terhadap Musa alaihissalam sembari berkata; “Tidakkah kalian dengar?” maksudnya, tidak kalian heran dengan klaim Musa bahwa ada tuhan selain aku? Musa lantas mengajarkan mereka sembari berkata: “Rabb kalian sesungguhnya adalah Raab nenek moyang kalian yang dahulu”. Artinya, Dialah Allah Swt. yang menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian, termasuk diantaranya ayah-ayah kalian, kakaek dan nenek kalian, dan seluruh generasi yang telah berlalu. Mereka semua yakin bahwa tiada seorang pun yang mampu menciptakan dirinya sendiri, tidak pula ayahnya, demikian pula ibunya. Tiada sesuatu yang muncul tiba-tiba melainkan pasti ada yang menciptakan dan Dialah Rabb sekalian alam. Inilah dua peristiwa yang direkan Allah Swt. dalam ayat: سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. “ (QS. Fushshilat: 53). Namun demikian, semuanya belum mampu membuat Fir’aun beriman. Dia tidak mampu lepas dari mimpinya dan tidak pula melepaskan kesesatan dari dirinya. Sebaliknya dia terus berada dalam kesombongan dan kedurhakaannnya. Firman Allah Swt.: قَالَ إِنَّ رَسُولَكُمُ الَّذِي أُرْسِلَ إِلَيْكُمْ لَمَجْنُونٌ Fir’aun berkata: “Sesungguhnya Rasulmu yang diutus kepada kamu sekalian benar-benar orang gila” (QS. al-Syu’ara: 27). Maksudnya, dia berkata, rasul itu tidak berakal karena mengaku ada tuhan selain aku. Musa berkata kepada mereka yang dicekoki fikiran syubuhat oleh Fir’aun bahwasanya: Dialah Allah yang menjadi Rabb bumi belahan timur dan belahan barat dan alam yang ada di antara keduanya jika kalian orang yang berakal.” Maksudnya, bahwa Allah Swt. yang menetapakn yang timur itu timur tempat terbitnya matahari dan tata surya lainnya. Demikian pula, Allah Swt. yang menetapkan bahagian barat itu sebagai barat, tempat terbenamnya matahari dan palnet lainnya, baik yang bersifat statis maupun yang dinamis sesuai dengan hukum alam yang telah diciptakan dan ditakdirkan. Dialah Allah Swt. yang tiada ilah selain-Nya, pencipta kegelapan, cahaya, Rabb bumi dan langit, Rabb generasi terdahulu dan generasi sekarang bahkan yang akan hadir pada masa mendatang, pencipta matahari, bulan, bintang gemintang yang diam dan bergerak, pencipta malam dan gelap yang menyertainya, siang dan terang yang mengiringinya. Semua itu berada dalam kuasa dan kendali Allah Swt. sebagaimana semuanya juga di alam ini ditakdirkan bergerak, terjadi proses saling mengganti secara berurutan. Intinya, Dialah Allah Swt. dzat Pencipta, Penguasa dan Pengendali semua makhluk ciptaan-Nya. Jika ada seorang yang mengaku dirinya tuhan dan ilah maka coba dia putar balik hukum alam pada bumi ini, dia ubah masyriq (timur/tempat terbitnya matahari) menjadi maghrib (barat/ tempat terbenamnya matahari), planet yang bersifat statis diubah menjadi dinamis, yang dinamis diubah menjadi statis, persis seperti argumen Ibrahim sebagaimana yang tertuang dalam ayat al-Qur’an. Ketika dalil dan argumen sudah dijelaskan kepada Fir’aun dengan seterang-terangnya yang menghapus semua syubuhat dalam diri dan fikirannya hingga tidak mampu membantahnya lagi, Fir’aun beralih menjadi pembangkang dan sangat arogan, ia menggunakan semua kekuatan dan pengaruhnya melawan kebenaran, dia anggap sikapnya itu benar dan akan menang sembari mengancam Musa alaihisshalatu wassalam sebagaimana dikisahkan firman Allah Swt.: قَالَ لَئِنِ اتَّخَذْتَ إِلَٰهًا غَيْرِي لَأَجْعَلَنَّكَ مِنَ الْمَسْجُونِينَ Fir’aun berkata: “Sungguh jika kamu menyembah Tuhan selain aku, benar-benar aku akan menjadikan kamu salah seorang yang dipenjarakan”. (QS. al-Syu’ara: 29). Akan tetapi, ujung hidup Fir’aun sang durjana ini dibinasakan oleh Allah Swt. sang Maha Kuasa dengan cara yang teramat hina seperti halnya para penguasa-penguasa durjana sebelumnya. Peristiwa pergulatan antara para Rasul Allah Swt. dengan sebagian ummatnya teramat panjang untuk dikisahkan, termasuk bagaimana rintangan yang dilalui Rasulullah Muhammad Saw. menyadarkan ummatnya sudah sangat masyhur. Siapa pun yang berminat mengetahuinya lebih dalam maka silahkan menyelami lembaran-lembaran mushaf al-Qur’an dengan seksama, mulai dari surah al-Fatihah hingga akhirnya. Satu diantara banyak hal yang membedakan sekaligus menggembirakan adalah karena tiada satupun dari ummat dakwah Muhammad Saw. yang mengingkari adanya sang pencipta. Mereka semua meyakini adanya Allah Swt. dan Rububiyah Allah Swt. Hanya saja, sebagian mereka belum meningkatkan keyakinan mereka itu pada level mengabdi dan menghamba kepada Allah Swt. Bahkan ada yang masih terjebak dalam perilaku syirik. Firman Allah Swt.: وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ ۚ Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?” Tentu mereka akan menjawab: “Allah”. (QS. Luqman: 25). وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?”, niscaya mereka menjawab: “Allah”. (QS. al-Zumar: 38). وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ نَزَّلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهَا لَيَقُولُنَّ اللَّهُ ۚ Dan sesungguhnya jika kamu menanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menurunkan air dari langit lalu menghidupkan dengan air itu bumi sesudah matinya?” Tentu mereka akan menjawab: “Allah”, (QS. al-Ankabut: 63), وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ خَلَقَهُنَّ الْعَزِيزُ الْعَلِيمُ Dan sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?”, niscaya mereka akan menjawab: “Semuanya diciptakan oleh Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui”. (QS. al-Zukhruf: 9). Ayat-ayat lain yang maknanya selaras dengan ayat-ayat di atas masih dapat kita jumpai dalam al-Qur’an dalam jumlah yang banyak dan akan dijelaskan pada lembaran-lembaran berikutnya in sya Allah Swt. Pernyataan Para Ulama dan Kalangan Selevel Mereka Diriwayatkan dari imam Malik rahimahullahu bahwasanya al-Rasyid pernah bertanya kepadanya tentang (Rububiyah) Allah Swt., lalu beliau menjelaskan dengan menggunakan beberapa bahasa, suara dan dialek. Diriwayatkan dari Imam Abu Hanifah rahimahullahu bahwasanya sebagian orang Zindiq menanyakan keberadaan Allah Swt. kepadanya lalu beliau menjawab: kalian dengarkan kisah yang pernah diceritakan padaku. Sebagian orang menceritakan, ada sebuah perahu yang memuat ragam komodity dagang namun tidak ada satu pun orang di dalamnya, merawat dan menahkodainya. Anehnya, perahu itu bergerak sendiri, pergi pulang dengan sendirinya, menantang ombak besar dengan sendirinya dan perahu itu berhasil melewati semua perjalan sulit itu. Jadi, perahu itu bergerak dan menentukan arahnya sendiri tanpa dikendalikan oleh seorang nahkoda. Mendengar cerita itu, sontak orang-orang zindiq itu menimpali: mustahil peristiwa itu terjadi di alam nyata, sungguh tidak logis. Lalu Abu Hanifah menyatakan: kalian tidak percaya cerita itu, lantas bagaimana mungkin alam yang begitu besar dan luas ini yang meliputi langit dan bumi dengan segala yang terkandung di dalamnya tanpa diciptakan dan dikendalikan oleg Dzat Maha Agung? Mendengar jawaban ini, orang-orang Zindiq itupun serta merta diam seribu bahasa, tidak mampu berkata-kata lagi. Diriwayatkan dari imam al-Syafi’i rahimahullahu bahwa beliau pernah ditanya mengenai keberadaan Allah Swt. sang pencipta. Lalu beliau menjawab: “Daun murbai ini rasanya satu lalu dimakan cacing lantas menghasilkan sutra Lalu dimakan oleh lebah yang menghasilkan madu. Daun yang sama dimakan oleh kambing, sapi dan binatang lainnya lalu mengeluarkan kotoran. Daun itu dimakan juga oleh Antelop dan menghasilkan minyak wangi. Hasilnya beragam namun berasal dari satu sumber. Diriwayatkan juga dari imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah bahwa beliau pernah ditanya tentang keberadaan Allah Swt., lalu beliau jawab: “Coba perhatikan kulit kokoh nan halus tanpa ada pintu, luarnya terlihat seperti perak putih sedang bagian dalamnya terlihat seperti emas. Lalu tiba-tiba dia pecah dan keluarlah seekor hewan yang mendengar dan melihat, bentuknya menarik dan suaranya indah. Yang beliau maksud adalah telur ayam yang menetas. Abu Nuwas juga pernah ditanya tentang keberadaan Allah Swt. lalu beliau jawab dengan lantunan sya’ir: تأمَّلْ فِي رَبِيع الأرْضِ وانْظُرْ … إلى آثَارِ مَا صَنَعَ الْمَلِيكُ عُيونٌ مِن لُجَيْنٍ ٣ شَاخِصَاتٍ … كَأنَّ حداقِها ذَهَبٌ سَبِيكُ على قَضبِ الزَّبَرْجَدِ شَاهِدات … بأَنَّ الله لَيسَ لَهُ شَرِيكُ Amati dan renungilah taman-taman di bumi ini Juga semua ciptaan Allah Swt. sang Raja Mata-mata tampak seperti perak tajam memandang Dengan bola mata seperti emas tercipta manis Disangga leher yang terbuat dari mutiara zabarjad Semua menjadi bukti kalau Allah Swt. tiada sekutu bagi-Nya Pernyataan Ibnu al-Mu’taz yang diperuntukkan kepada Abu al-Atahiyah rahimahumallahu menyatakan: فَيا عَجَباً كيف يُعْصَى الإله … أمْ كَيف يجحده الجاحِدُ وَلله في كلِّ تَحْريكَةٍ … عَلينا وَتَسْكِينَةٍ شَاهِدُ وفِي كُلِّ شَيءٍ لَهُ آيةٌ … تَدُلُّ على أنَّهُ واحِدُ Sungguh heran melihat orang yang durhakai Allah Bagaimana mungkin Allah diingkari seseorang Padahal Allah saksikan setiap gerak Juga dlam dia selalu menjadi saksi Di setiap sesuatu selalu jadi bukti bagi Allah Swt. Menunjukkan jika Allah Swt. hanya satu. Sebagian orang Arab Badui ditanya bukti keberadaan Allah Swt. lalu dijawab: Subhanallah, jejak pijakan keledai adalah penanda adanya keledai, jejak kaki pertanda orang berlalu, langit yang tinggi, alam yang dihiasi sungai dan laut yang dipenuhi ombak, tidakkah ini semua menunjukkan keberadaan Allah Swt.? Disebutkan dalam khutbah Qais bin Sa’idah al-Iyyadi pengikut millah Ibrahim bahwa: Wahai manusia, berkumpul dan degarkanlah lalu perhatikanlah dengan baik agar kalian dapat manfaat, jujurlah kalian saat berucap, setiap yang hidup pasti mati, dan yang sudah mati berarti kehilanggan kesempatan berbuat baik, semua yang berada di masa mendatang akan terjadi, lihatlah tumbuhan dan hujan, orang-orang yang masih hidup dan yang telah meninggal. Malam yang gelap, langit yang tinggi, bintang-bintang yang bercahaya, lautan yang penuh gelombang, terang dan gelap, siang dan malam hari, kebajikan dan keburukan, sungguh dari langit kita dapatkan syariat, di bumi kita temukan banyak pelajaran, pandangan mata kadang tertipu, lembah yang rendah, langit yang tinggi, gemintang yang terang, lautan yang tak meluap, kematian yang pasti datang, masa yang bergulir, ibarat pisau tajam dan timbangan yang baik. Saya bersumpah dengan sadar, tanpa dicampuri dusta dan tidak berniat menipu. Andai semua ini dianggap berjalan sendiri maka sungguh sebuah kedurhakaan. Wahai manusia, sumgguh Allah Swt. turunkan ke kalian satu agama yang lebih baik dan lebih disukai ketimbang agama yang kalian anut saat ini. kini masanya telah hadir. Mari perhatikan mereka yang telah meninggal, mereka tidak pernah kembali, adakah mereka lebih tenang dalam kubur hingga mereka pilih menetap di dalamnya, ataukah karena mereka ditinggalkan hingga mereka tertidur. Dalam beberapa redakasi disebutkan; timur dan barat, personal dan komunal, damai dan perang, kering dan basah, tawar dan asin, matahari dan bulan, angin dan hujan, malam dan siang, pria dan wanita, daratan dan lautan, bijian dan tumbuhan, para ayah dan para ibu, perpaduan dan pemisahan, ayat-ayat yang berkesinambungan, terang dan gelap, mudah dan sulit, Rabb dan patung-patung. Sungguh manusia berada dalam puncak kesesatan, bayi dibunuh bahkan dikubur hidup-hidup, tarbiyah diamputasi, kaya dan miskin, orang baik dan orang jahat. Sungguh celaka orang-orang yang lalai, hendaklah setiap orang mengoptimalkan amalannya, dan hendaklah semua harapan diupayakan terwujud, sungguh Dialah ilah yang satu, dia tidak dilahirkan dan tidak pula melahirkan, Dia yang membangkitkan dan memusnahkan, mematikan dan menghidupkan, menciptakan laki-laki dan perempuan, Rab kehidupan dunia dan ahirat. Selanjutnya, wahai saudara-saudara Iyyad, di mana kaum Tsamud dan kaum Ad saat ini? di mana para-ayah dan nenek moyang kita saat ini? di mana orang yang dahulu menderita dan senang, semua akan meninggal pada waktunya. Saya bersumpah, sungguh setiap orang akan dikumpulkan di hari kiamat di saat terompet ditiup malaikat, di saat sangkakala ditiup, di saat itu orang jahat baru tersadar sedang orang baik lebih yakin dan bahagia. Maka sungguh celakalah orang yang berpaling dari kebenaran yang sangat terang, meninggalkan cahaya Islam yang menyinari serta mengingkari hari pembalasan, di saat semua persoalan dibuka, timbangan amalan ditegakkan seadil-adilnya, sang Maha Kuasa memutus semua perkara, para Rasul menjadi saksi, pertolongan jauh, keburukan ditampakkan, di mana ujungnya sebagian ditempatkan di syurga dan sebagian lagi dijebloskan ke dalam neraka disertai azab pedih. Nama-nama Allah Swt. Yang Maha Indah Semua nama-nama Allah Swt. yang Dia sematkan pada diri-Nya atau disematkan Rasulullah Saw. pada-Nya adalah yang terbaik dan mesti diimani setiap orang beriman. Firman Allah Swt.: وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ بِهَا ۖ وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ ۚ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. (QS. al-A’raf: 180). قُلِ ادْعُوا اللَّهَ أَوِ ادْعُوا الرَّحْمَٰنَ ۖ أَيًّا مَا تَدْعُوا فَلَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ Katakanlah: “Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang terbaik) (QS. al-Isra’: 110). اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang baik), (QS. Taha: 8). هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ ۖ هُوَ الرَّحْمَٰنُ الرَّحِيمُ. هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ ۚ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ. هُوَ اللَّهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ ۖ لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ ۚ يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ. Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dialah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan Keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala Keagungan, Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Asmaaul Husna. Bertasbih kepada-Nya apa yang di langit dan bumi. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. al-Hasyr: 22-24). Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah Saw. bersabda: “Allah memiliki Sembilan puluh Sembilan nama, siapa yang menghafalnya akan masuk surga. Allah Swt. itu ganjil dan suka yang ganjil.”(HR. al-Bukhari dan Muslim).[2] Imam al-Tirmidzi meriwayatkan juga dengan redaksi tambahan menyebutkan; Dialah Allah Swt. yang tiada ilah kecuali Dia. Dialah yang al-rahman (Maha Pengasih), al-rahim (Maha Penyayang), al-malik (Maha Diraja), al-Quddus (Maha Suci), al-Salam (Maha Pemberi Kesejahteraan), al-Mukmin (Maha Pemberi Keamanan), al-Muhaimin (Maha Mengatur), al-Aziz (Maha Perkasa), al-Jabbar (Maha Gagah), al-Mutakabbir (Maha Megah), al-Khaliq (Maha Pencipta), al-Bari (Maha Membuat), al-Mushawwir (Maha Membentuk), al-Ghaffar (Maha Pengampun), al-Qahhar (Maha Menundukkan), al-Wahhab (Maha Pemberi Karuni), al-Razzaq (Maha Pemberi Rezeki), al-Fattah (Maha Pembuka Rahmat), al-Alim (Maha Mengetahui), al-Qabidh (Maha Menyempitkan), al-Basith (Maha Melapangkan), al-Khafidh (Maha Merendahkan), al-Rafi’ (Maha Meninggikan), al-Muiz (Maha Memuliakan), al-Mudzil (Maha Menghinakan), al-Sami’ (Maha Mendengar), al-Bashir (Maha Melihat), al-Hakam (Maha Menetapkan), al-Adl (Maha Adil), al-Lathif (Maha Lembut), al-Khabir (Maha Mengenal), al-Halim (Maha Penyantun), al-Adzim (Maha Agung), al-Ghafuur (Maha Pemberi Ampunan), al-Syakuur (Maha Pembalas Budi), al-Aliy (Maha Tinggi), al-Kabir (Maha Besar), al-Hafidz (Maha Memelihara), al-Muqith (Maha Pemberi Kecukupan), al-Hasib (Maha Pemberi Perhitungan), al-Jalil (Maha Luhur), al-Karim (Maha Pemurah), al-Raqib (Maha Mengawasi), al-Mujib (Maha Mengabulkan), al-Wasi’ (Maha Luas), al-Hakim (Maha Bijaksana), al-Wadud (Maha Mengasihi), al-Majid (Maha Mulia), al-Baits (Maha Membangkitkan), al-Syahid (Maha Menyaksikan), al-Haqq (Maha Benar), al-Wakil (Maha Memelihara), al-Qawiy (Maha Kuat), al-Matin (Maha Kokoh), al-Wali (Maha Melindungi), al-Hamid (Maha Terpuji), al-Muhshi (Maha Menghitung), al-Mubdi’ (Maha Memulai), al-Mu’id (Maha Mengembalikan), al-Muhyi (Maha Menghidupkan), al-Mumitu (Maha Mematikan), al-hayyu (Maha Hidup), al-Qayyum (Maha Mandiri), al-Wahid (Maha Esa), al-Shamad (Maha Dibutuhkan), al-Qadir (Maha Menentukan), al-Muqtadir (Maha Berkuasa), al-Mutaqaddim (Maha Mendahulukan), al-Muakhhir (Maha Mengakhirkan), al-Awwalu (Maha Awal), al-Akhir (Maha Akhir), al-Dzahir (Maha Nyata), al-Bathin (Maha Ghaib), al-Waali (Maha Memerintah), al-Muta’ali (Maha Tinggi), al-Barr (Maha Penderma), al-Tawwab (Maha Penerima Taubat), al-Muntaqim (Maha Pemberi Balasan), al-Afuw (Maha Pemaaf), al-Ra’uuf (Maha Pengasuh), Maluk al-Mulki (Maha Penguasa Kerajaan), dzu al-Jalali wa al-Ikran (Maha Pemilik Kebesaran dan Kemuliaan), al-Muqsith (Maha Pemberi Keadilan), al-Jami’ (Maha Mengumpulkan), al-Ghaniy (Maha Kaya), al-Mughni (Maha Pemberi Kekayaan), al-Mani’ (Maha Mencegah), al-Dhaar (Maha Penimpa Kemudharatan), al-Nafi’ (Maha Memberi Manfaat), al-Nuur (Maha Bercahaya), al-Hadi’ (Maha Pemberi Petunjuk), al-Badii’ (Maha Pencipta Tiada Bandingan), al-Baqi (Maha Kekal), al-Warits (Maha Pewaris), al-Rasyid (Maha Pandai) dan al-Shabuur (Maha Sabar). Al-Tirmidzi menyatakan hadits ini Gharib. Banyak jalur periwayatan dari Abu Hurairah namun hanya pada riwayat ini yang menyebutkan nama-nama Allah Swt. Al-Darimi juga meriwayatkannya dan menambahkan redaksi “Semuanya telah tertuang dalam al-Qur’an.”[3] Diriwayatkan oleh Ibnu Abi al-Dunyaa dan al-Thabarani dalam pasal do’a, juga Abu al-Syaikh, al-Hakim, Ibnu Mardawaih, Abu Na’im dan al-Baihaqi dari Abu Hurairah r.a.; Sesungguhnya Allah Swt. memiliki sembilan puluh sembilan nama, siapa yang menghafalnya akan masuk surga. Yakni Allah, al-Rahman, al-Rahim, al-Ilah, al-Rabb, al-Malik, al-Quddus, al-Salam, al-Mukmin, al-Muhaimin, al-Aziz, al-Jabbar, al-Mutakabbir, al-Khaliq, al-Bari’, al-Mushawwir, al-Halim, al-Alim, al-Sami’, al-Bashir, al-Hayyu, al-Qayyum, al-Wasi’, al-Lathif, al-Khabir, al-Hannan (Maha Mengayomi), al-Mannan (Maha Pemberi Karunia), al-Badi’, al-Ghafuur,, al-Waduud, al-Syakuur, al-Majiid, al-Mubdi, al-Mu’iid, al-Nuur, al-Baari, dalam lafadz lain disebut al-Qaim, al-Awwalu, al-Akhir, al-Dzhahir, al-Bathin, al-Afuww, al-Ghaffar, al-Wahhab, al-Fard (Maha Sendiri) dalam lafadz lain al-Qadir, al-Ahad, al-Shamad, al-Wakil, al-Kafi (Maha Mencukupi), al-Baqi, al-Mughits (Maha Penolong), al-Daim (Maha Kekal), al-Muta’al, dza al-Jalali wa al-Ikram, al-Maula (Maha Pelindung), al-Nashir, al-Haqq, al-Matin, al-Warits, al-Munir, al-Ba’its, al-Qadir dalam lafadz lain disebuta al-Mujib, al-Muhyi, al-Mumit, al-Hamid atau dalam lafadz lain disebut al-Jamil, al-Shadiq (Maha Benar), al-Hafidz, al-Muhith (Maha Menguasai), al-Khafid, al-Qarib (Maha Dekat), al-Raqib, al-Fattah (Maha Membuka), al-Tawwab, al-Qadim (Maha Dahulu), al-Witr (Maha Ganjil), al-Fathir (Maha Pencipta), al-Razzaq, al-Allam (Maha Mengetahui), al-Aliy, al-Adzim, al-Ghnani, al-Maliku, al-Muqtadir (Maha Tak Terkalahkan), al-Akram (Maha Pemurah), al-Ra’uf, al-Mudabbir, al-Malik (Maha Memilik), al-Qahir (Maha Menguasai), al-Hadi (Maha Memberi Petunjuk), al-Syakir, al-Kariim, al-Rafi’, al-Syahid, al-Wahid, dzu al-Thauli (Maha Memiliki Kuasa), dzu al-Ma’arij (Maha Tinggi), al-Khallaq (Maha Pencipta), al-Kafil (Maha Mencukupi) dan al-Jalil (Maha Mulia).[4] Abu Na’im meriwayatkan dari Muhammad bin Ja’far rahimahullah. Muhammad berkata, saya pernah bertanya kepada ayahku Ja’far al-Shadiq mengenai nama-nama Allah Swt. yang sembilan puluh Sembilan. Yang mana, siapa yang menghafalnya akan masuk surga. Nama-nama itu tertuang dalam al-Qur’an, di surah al-Fatihah terdapat lima nama yakni: ya Allah, ya Rahman, ya Rahim, ya Malik. Di surah al-Baqarah ada tiga puluh tiga nama yakni: ya Muhith, ya Qadir, ya Aliim, ya Hakiim, ya Aliy, ya Adziim, ya Tawwab, ya Bashir, ya Waliy, ya Wasi’, ya Kaafi, ya Rauuf, ya Badii’, ya Syakir, ya Wahid, ya Samii’, ya Qaabidh, ya Basith, ya Hayyu, ya Qayyum, ya Ghaniy, ya Hamiid, ya Ghafur, ya Haliim, ya Ilah, ya Qariib, ya Mujiib, ya Aziiz, ya Kashiir, ya Qawiy, ya Syadiid, ya Sarii’, ya Khabiir. Di surah Ali Imran terdapat, ya Wahhab, ya Qaaim, ya Shaadiq, ya Baaits, ya Mun’im, ya Mutafadhdhil. Di surah al-Nisa’ ada ya Hasiib, ya Raqiib, ya Syhiid, ya Muqiith, ya Wakiil, ya Aliy dan ya Kabiir. Dalam surah al-An’am ada ya Fathir, ya Qaahir, ya Lathiif, dan ya Burhan. Di surah al-A’raaf ada ya Muhyii dan ya Mumit. Di surah al-Anfaal ada ya Ni’ma al-Maula dan ya Ni’ma al-Nashiir. Di surah Huud ada ya Hafiidz, ya Majiid, ya Waduud, ya Fa’aal lima Turid. Dalam surah al-Ra’d ada ya Kabiir dan ya Muta’al. Dalam surah Ibrahim ada ya Mannan dan ya Warits. Di surah al-Hijir ada ya Khallaq. Di surah Maryam ada ya Fard. Di surah Taha ada ya Ghaffaar. Di surah Qad Aflaha ada ya Kariim. Di surah al-Nuur ada ya Haqq dan ya Mubiin. Di surah al-Furqan ada ya Haad dandi surah Saba’ ada ya Fattaah. Di surah al-Zumar ada ya Aalim. Di surah Ghafir ada ya Qaabilu al-Taub dan ya Dza al-Thauli serta ya Rafii’. Di surah al-Dzariyyat ada ya Razzaaq dan ya Dzal al-Quwwati serta ya Matiin. Di surah al-Thur ada ya Barr dan di surah Iqtarabat ada ya Muqtadir dan ya Maliik. Di surah al-Rahman ada ya Dza al-Jalali wa ai-Ikraam, ya Rabbu al-Masyriqaini, ya Rabba al-Maghribain, ya Baaqi dan ya Mu’iin. Di surah al-Hadiid ada ya Awwalu, ya Aakhiru, ya Zhaahiru dan ya Baathin. Di surah al-Hasyr ada ya Malik, ya Quddus, ya Salaam, ya Mukmin, ya Muhaimin, ya Aziiz, ya Jabbar, ya Mutakabbir, ya Khaaliq, ya Baari’, dan ya Mushawwir. Di surah al-Buruuj, ada ya Mubdi dan ya Mu’iid. Di surah al-Fajar ada ya Witr dan di surah al-Ikhlash ada ya Ahad dan ya Shamad.[5] Al-Hafidz Ibnu Hajar telah merangkum nama-nama Allah Swt. yang berjumlah sembilan puluh sembilan ini dalam kitabnya Talkhish al-Habiir selaras dengan redaksi hadits di atas. Yakni; Allahu, al-Rabb, al-Ilah, al-Waahid, al-Rahmaan, al-Rahiim, al-Maliku, al-Qudduus, al-Salaam, al-Mukmin, al-Muhaiminu, al-Aziizu, al-Jabbaaru, al-Mutakabbiru, al-Khaaliqu, al-Baari’u, al-Mushawwiru, al-Awwalu, al-Aakhiru, al-Zhaahiru, al-Baathinu, al-Hayyu, al-Qayyuum, al-Aliyyu, al-Azhiimu, al-Tawwaabu, al-Haliimu, al-Waasui’u, al-Hakiimu, al-Syaakiru, al-Aliimu, al-Ghaniyyu, al-Kariimu, al-Afuwwu, al-Qadiiru, al-Lathiifu, al-Khabiiru, al-Samii’u, al-Bashiiru, al-Maula, al-Nashiiru, al-Qariibu, al-Mujiibu, al-Raqiibu, al-Hasiibu, al-Qawiyyu, al-Syahiidu, al-Hamiidu, al-Majiidu, al-Muhiithu, al-Hafiizhu, al-Haqqu, al-Mubiinu, al-Ghaffaaru, al-Qahhaaru, al-Khallaaqu, al-Fattaahu, al-Waduudu, al-Ghafuuru, al-Ra’uufu, al-Syakuuru, al-Kabiiru, al-Muta’alu, al-Muqiitu, al-Musta’aanu, al-Wahhaabu, al-Hafiyyu, al-Waaritsu, al-Waliyyu, al-Qaaimu, al-Qaadiru, al-Ghaalibu, al-Qaahiru, al-Barru, al-Haafizhu, al-Ahadu, al-Shamadu, al-Maliiku,, al-Muqtadiru, al-Wakiilu, al-Haadiyu, al-Kafiilu, al-Kaafi, al-Akramu, al-A’laa, al-Razzaaqu, Dzu al-Quwwati, al-Matiinu, Ghaafiru al-Dzanbi, Qaabilu al-taubi, Syadiidu al-Iqaabi, Dzu al-Thauli, Rafii’u al-Darajaati, Sarii’u al-Hisaabi, Faathiru al-Samawaati wa al-Ardhi, Badii’u al-Samawaati wa al-Ardhi, Nuuru al-Samawaati wa al-Ardhi, Maliku al-Mulki dan Dzu al-Jalali wa al-Ikraam.[6] Ulama lain yang mengintrodusir nama-nama Allah Swt. tersebut selain ulama yang telah disebutkan di atas adalah seperti Sufyan bin Uyainah[7], Ibnu Hazm[8], al-Qurthubi[9] dan selainnya. Ibnu al-Arabi al-Maliki menyebutkannya dalam kitab Ahkaamu al-Qur’an secara berurutan mengikuti urutan surah.[10] Hanya saja terdapat sedikit kekeliruan pada beberapa nama sebagaimana akan dijelaskan pada pasal berikutnya. Perlu diketahui bahwa nama-nama Allah Swt. tidak terbatas pada sembilan puluh sembilan nama yang disebutkan dalam hadits Abu Hurairah, tidak pula sebatas pada yang dirangkum para ulama dari al-Qur’an, tidak juga hanya pada yang diketahui oleh para rasul, Malaikat atau makhluk lainnya. Disebutkan dalam hadits Ibnu Mas’ud yang diriwayatkan imam Ahmad dan selainnya dari Rasulullah Saw., beliau bersabda: Tiada seorang ditimpa kegundahan dan kesedihan lalau dia berucap: “ Ya Allah, aku adalah hamba-Mu, anak hamba lelaki-Mu dan anak hamba perempuan-Mu, ubun-ubunku dalam kendali-Mu, berlaku padaku ketetapan-Mu, adil padaku qadha’-Mu, aku memohon kepada-Mu dengan segala nama-Mu, Engkau sematkan pada diri-Mu, atau yang Engkau turunkan dalam kitab-Mu, atau yang Engkau ajarkan pada seorang makhluk-Mu, atau yang Engkau rahasiakan dari balik tirai ilmu ghaib yang ada di sisi-Mu agar Engkau jadikan al-Qur’an sebagai penyejuk hatiku, cahaya jiwaku, pelipur laraku, penghapus kegundahanku, melainkan Allah Swt. akan menghapus kesedihan dan kegundahannya lalu menggantinya dengan kegembiraan’’. Lalu beliau ditanya; wahai Rasulullah, tidakkah lebih baik jika kami mempelajarinya? Beliau bersabda: Tentu! semestinya setiap orang yang mendengarnya hendaklah ia mempelajarinya.”[11] Perlu ditegaskan bahwa diantara nama-nama Allah Swt. ada yang tidak boleh dimutlakkan. Nama tersebut mesti disandingkan dengan kata lain yang berseberangan. Jika nama tersebut disebutkan sendiri maka akan mengandung cacat bagi Allah Swt. Diantaranya adalah nama al-Mu’thi al-Mani’, al-Dhaaru al-Naafi’ al-Qaabidhu al-Baasithu, al-Mu’izzu al-Mudzillu, al-Khaafidhu al-Raafi’u. jadi nama-nama al-Maani’u, al-Dhaarru, al-Qaabidhu, al-Khaafidhu dan al-Mudzillu tidak boleh disebutkan secara tersendiri. Namun mesti disebutkan bersamaan dengan nama lain yang berlwananan arti. Alasannya karena wahyu menyebutnya tidak berdiri sendiri namun menyebutnya secara bersamaan. Temasuk di antaranya adalah nama al-Muntaqim di mana al-Qur’an menyebutnya selalu didahului oleh kata dzu seperti firman Allah Swt.: وَاللَّهُ عَزِيزٌ ذُو انْتِقَامٍ Dan Allah Maha Perkasa lagi mempunyai balasan (siksa). (QS. Ali Imran: 4) Atau dikhususkan kepada orang-orang durhaka seperti firman Allah Swt.: إِنَّا مِنَ الْمُجْرِمِينَ مُنْتَقِمُونَ Sesungguhnya Kami akan memberikan pembalasan kepada orang-orang yang berdosa. (QS. al-Sajadah: 22). Diketahui bahwa Allah Swt. menyebutkan beberapa tindakan dalam al-Qur’an secara mutlak dalam konteks balasan, sikap adil dan sifat kontra. Semua tindakan tersebut tetap diposisikan sebagai pujian dan kesempurnaan. Hanya saja, syariat melarang menderivasi tindakan tersebut lalu menjadikannya sebagai nama bagi Allah Swt., juga hanya difahami sesuai peruntukannya dari Allah Swt. Contohnya; Firman Allah Swt.: إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. (QS. al-Nisa’: 142). Firman Allah Swt.: وَمَكَرُوا وَمَكَرَ اللَّهُ Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. (QS. Ali Imran: 54). Firman Allah Swt.: نَسُوا اللَّهَ فَنَسِيَهُمْ Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. (QS. al-Taubah: 67), firman Allah Swt.: وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ آمَنُوا قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا إِلَىٰ شَيَاطِينِهِمْ قَالُوا إِنَّا مَعَكُمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِئُونَ Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: “Kami telah beriman”. Dan bila mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka, mereka mengatakan: “Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok”. (QS. al-Baqarah: 14). Termasuk ayat-ayat lain yang senada. Seseorang dilarang menyematkan kepada Allah Swt. nama seperti mukhadi’ (penipu), maakir (ahli makar), naasin (pelupa), mustahzi’ (pengejek) dan nama lain sejenisnya. Juga dilarang mengatakan Allah Swt. mengolok-olok, menipu, membuat makar dan lupa secara mutlak. Ibnu al-Qayyim rahimahullah mengatakan; Allah Swt. tidak menyifati diri-Nya dengan sifat-sifat seperti al-kaid (tipu muslihat), al-makr (membuat makar), al-khida’ (menipu), al-istihza’ (mengejek) secara mutlak. Ia juga tidak termasuk nama Allah Swt. Barang siapa yang mengklaim bahwa diantara nama-nama Allah Swt. adalah al-Maakir (pembuat makar), al-Mukhaadi’ (penipu), al-Mustahzi’ (pengejek), al-Kaaid (perancang tipu muslihat) maka sungguh perkataannya itu teramat menyimpang yang membuat bulu roma berdiri ketakutan dan telinga seolah pekak mendengarnya. Dia juga termasuk orang bodoh lagi tertipu karena menyangka bahwa tindakan Allah Swt. tersebut bersifat mutlak dan boleh diderivasi menjadi nama Allah Swt. Padahal, kita semua tahu bahwa nama-nama Allah Swt. itu amat baik seluruhnya bahkan disandingkan dengan sifat al-Rahiim (kasih sayang), al-Waduud (penyinta), al-Hakim (bijaksana) dan al-Kariim (pemurah) Merangkai nama lalu menyematkannya kepada Allah Swt. dari tindakan yang disebutkan dalam ayat seperti di atas merupakan bukti kejahilan luar biasa. Karena, tindakan Allah Swt. tersebut merupakan cacat dan kekurangan jika dimutlakkan. Sebab, tindakan-tindakan tersebut merupakan pujian untuk kondisi tertentu dan menjadi celaan pada kondisi yang lain. Jadi tindakan tersebut dilarang keras disebutkan secara mutlak. Jadi, dilarang mengatakan Allah Swt. membuat makar, menipu, mengejek, membuat tipu muslihat dan semacamnya. Termasuk, tidak dibenarkan menyematkan nama tertentu untuk Allah Swt. yang didierivasi dari tindak-tindakan di atas. Alasan logisnya adalah, jika tidak ditemukan diantara nama Allah Swt. seperti al-Murid (menginginkan), al-Mutakallim (berbicara), al-Faa’il (pekerja), al-Shaani’ (pencipta) dan sejenisnya karena nama-nama tersebut terkadang jadi pujian dan terkadang pula jadi cacat dan kekurangan, dan karena Allah Swt. hanya disifati dengan hal-hal yang baik seperti al-Haliim (Maha Penyayang), al-Hakiim (Maha Bijakasana), al-Aziiz (Maha Perkasa) dan al-Fa’aal lima Yurid (Maha Berhak Melakukan Segala yang Dikehendaki), lantas bagaimana mungkin Allah Swt. boleh dinamai al-maakir, al-mukhaadi’, al-mustahzi; dll. Selanjutnya, jika dibolehkan merangkai nama dari tindakan seperti di atas untuk disematkan kepada Allah Swt., maka dibolehkan pula menyematkan kepada Allah Swt. nama-nama seperti al-Daa’i (pendakwah), al-Aati (yang datang), al-Jaa’i (hadir), al-Dzaahi (berlalu), al-Qaadim (datang), al-Raaid (pemimpin), al-Naasi (pelupa), al-Qasim (pembagi), al-Saakhith (pemarah), al-Ghadbaan (emosional), al-Laain (pelaknat) dan nama-nama lain yang jumlahnya sangat banyak. Jadi, Allah Swt. tidak menyifati dirinya dengan al-kaid, al-makr, al-khidaa’ melainkan dalam kontek membalas perilaku manusia. Landasannya karena sesama manusia dibolehkan saling membalas perilaku, maka demikian pula bagi Allah Swt. Oleh karena itu, penjelasan di atas merupakan koreksi atas sebagian nama yang disebutkan oleh Ibnu al-Arabi dalam kitab tafsirnya. Sebab, sifat al-Faa’il dan al-Zaari’u jika disebutkan secara mutlak dan tidak disandingkan dengan kata lain yang mengandung pujian dan kebajikan maka keduanya tidak memberikan makna pujian dan kesempurnaan. Berbeda dengan yang disebutkan dalam al-Qur’an di mana keduanya menunjukkan kesempurnaan dan pujian. Firman Allah Swt.: كَمَا بَدَأْنَا أَوَّلَ خَلْقٍ نُعِيدُهُ ۚ وَعْدًا عَلَيْنَا ۚ إِنَّا كُنَّا فَاعِلِينَ Kami telah memulai panciptaan pertama begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti Kami tepati; sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya. (QS. al-Anbiyaa’: 104). Firman Allah Swt.: أَفَرَأَيْتُمْ مَا تَحْرُثُونَ. أَأَنْتُمْ تَزْرَعُونَهُ أَمْ نَحْنُ الزَّارِعُونَ Maka terangkanlah kepadaku tentang yang kamu tanam. Kamukah yang menumbuhkannya atau Kamikah yang menumbuhkannya? (QS. al-Waaqi’ah: 63-64). Kedua kata di atas andai tidak disandingkan dengan kata lain maka dipastikan maknanya tidak sempurna. Bahkan menjadi cacat dan kekurangan andai dia dijadikan nama bagi Allah Swt. Lebih parah dari itu, tatakala dikatakan bahwa diantara nama Allah Swt. adalah raabi’ (empat), tsalatsah (tiga), saadis (enam) dan khamsah (lima). Sebagaimana disebutkan Ibnu al-Arabi Ketika menjelaskan surah al-Mujadalah. Beliau menyebutkan dua sifat Allah Swt. Padahal ayat tersebut sama sekali tidak menyinggung nama Allah Swt. Baik secara eksplisit maupun secara implisit. Firman Allah Swt.: أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَىٰ ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلَا أَدْنَىٰ مِنْ ذَٰلِكَ وَلَا أَكْثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi? Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dialah keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dialah keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraan antara jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia berada bersama mereka di manapun mereka berada. (QS. al-Mujadalah: 7). Mari perhatikan ayat ini, kira-kira pada kalimat mana kata Raabi’, tsalatsah, saadis dan khamsah mungkin menjadi nama? Makna kata-kata di atas hanyalah menunjukkan kalau Allah Swt. menjadi pihak keempat pada setiap kumpulan tiga orang bercerita dan menajdi pihak keenam dari kumpulan lima orang yang sedang bergunjing. Termasuk, bahwa Allah Swt. mengetahui semua perilaku kumpulan orang itu dan mendengar bisik-bisik mereka seperti yang ditegaskan di awal ayat. Wallahu a’lam. Perlu diketahui pula, bahwa kandungan makna dari setiap nama Allah Swt. merupakan kebenaran dan sesuai dengan hakikatnya, dari sisi keselarasan, kandungan dan implikasinya. Makna sifat al-Rahman (Maha Pengasih) misalnya, menunjukkan zat Allah Swt. yang selaras dengan sifat rahmat, juga menunjukkan kalau Allah Swt. hidup sebagai implikasi dari al-Rahman itu. Dan begitulah seluruh nama-nama Allah Swt. dimaknai. Sungguh keliru klaim sebagian orang tersesat yang menyatakan bahwa nama Allah Swt. adalah bukan diri-Nya. Karena, Allah Swt. adalah ilah sedang selain-Nya adalah hamba, Allah Swt. adalah al-Rabb sedang selain-Nya adalah marbub. Allah Swt. adalah al-Khaliq sedang selain-Nya adalah makhluk. Dialah Allah yang awal, tidak didahului oleh apapun dan selain-Nya tergolong baru dan muncul belakangan dan setelah didahului oleh ketiadaan. Allah Swt. juga yang akhir dan tiada yang sekekal Dia serta selain-Nya bersifat fana (ekspair) dan akan berakhir. Andai benar nama-nama Allah Swt. itu bukan Dia maka dipastikan status nama-nama Allah Swt. itu menjadi bahagian dari makhluk Allah Swt., dikendalikan Allah Swt. dan baru muncul belakangan. Sungguh Maha Suci Allah Swt. dari segala tudingan orang-orang dzalim. [1] Artinya, pengikut dan pasukannya. [2] Sudah dijelaskan sebelumnya. [3] HR. Tirmidzi, 5/530-531/3507 dalam pasal Do’a-do’a, bab 83. Al-Darimi dalam pasal al-Naqdh, hal 12 – 13. Al-Hakim, 1/16, Ibnu Hibban dan al-Ihsan, 2/88 – 89, al-Baihaqi, 10/27, semuanya dari jalur al-Walid bin Muslim. Hadits ini juga diriwayatkan oleh al-Tirmidzi, al-Hakim, Ibnu Hibban dan al-Baihaqi dari jalur al-Walid dari Syu’aib dari Abu Hamzah dari Abu al-Zinad dari al-A’raj dari Abu Hurairah secara marfu’ (sampai ke Nabi Saw). Sa’id bin Abdul Aziz mengikuti jalur Syu’aib dalam riwayat al-Darimi. Al-Tirmidzi menyatakan: “yang kami pastikan validitasnya hanya riwayat ini dari sekian banyak riwayat-yang shahih, yang menyebutkan nama-nama Allah Swt. Ibnu Katsir menyatakan: “Yang ditegaskan sebagian besar para Huffadz adalah bahwa penyebutan nama-nama Allah Swt. dalam hadits ini termasuk mudraj (sisipan), Tafsir Ibnu Katsir, 2/280. Demikian pula pernyataan Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa, 22/488). Ibnu Hajar menyatakan dalam kitab al-Fathu, 11/216 bahwa Riwayat al-Walid mengisyaratkan kalau penyebutan nama-nama tersebut termasuk mudraj. Demikian pula pernyataan Ibnu al-Arabi dan selainnya, lihat al-Fathu, 11/217. Saya berpendapat: tidak dipungkiri terdapat perbedaan redaksi pada riwayat-riwayat tersebut dari sisi urutan, tambahan atau kekurangan jumlah, namun hal itu dianggap biasa saja. Diriwayatkan oleh Ibnu Majah, 2/1269 – 1270/3861 dari jalur selain jalur al-Walid dengan sanad yang lemah di mana di dalamnya terdapat Abdul Malik bin Muhammad al-Shan’ani. Pada redaksinya juga terdapat tambahan dan kekurangan jumlah. Tambahannya adalah al-Bari, al-Rasyid, al-Burhan, al-Syadid, al-Wafi, al-Qaim, al-Hafidz, al-Fathir, al-Saami’, al-Mu’thi, al-Abad, al-Munir dan al-Taam. Lihat pernyataan Ibnu Taimiyah dalam kitab Majmu’ Fatawa tentang tambahan beberapa nama yang ditetapkan dalam al-Qur’an dan al-Sunnah namun tidak disebutkan dalam hadits ini. Catatan: ada pernyataan Ibnu Hajar dalam kitab Fathu al-Bari yang amat baik terkait perbedaan redaksi riwayat-riwayat yang ada dalam menyebutkan nama-nama Allah swt. Silahkan lihat, 11/214 – 221). [4] Al-Hakim, 1/17 dan al-Baihaqi dalam pasal Do’a-do’a menyatakan: hadits ini diketahui termasuk hadits Ayyub dan Hisyam yang berasal dari Muhammad bin Sirin dari Abu Hurairah secara ringkas tanpa menyebutkan nama-nama tambahan di dalamnya dan semuanya disebutkan dalam al-Qur’an. Saya berpendapat: hadits al-Hakim juga diiriwayatkan dari jalur Abdul Aziz bin Hushain bin al-Turjuman. Beliau berkata: Abdul Aziz termasuk perawi tsiqah. Ibnu Jarir berkata: Sebenarnya hadits ini disepakati ke-dhaif-annya. Lihat Talkhish al-Khabir, 4/172. Al-Dzahabi berkata: para ulama melemahkan hadits ini. Lihat al-Talkhish, catatan al-Mustadrak, 1/17 [5] Diriwayatkan oleh Abu Na’iim dari al-Thabarani dari Ahmad bin ‘Amr al-Khallaal dari Ibnu Abi Amru. Muhammad bin Ja’far bin Muhammad bin Ali bin al-Husain mengabarkan riwayat ini kepada kami. Lihat kitab al-Fath, 11/217. [6] Kitab Talkhishu al-Habiir, 4/174 [7] Diriwayatkan oleh Tammam dalam kitab Fawaidnya dan selaras dengan yang dintrodusir oleh Ja’far di dalam al-Qur’an, kitab al-Fathu, 11/217 [8] Disebutkan dalam kitabnya al-Iyshaal sebagaimana beliau sebutkan juga dalam kitabnya al-Muhalla, 1/30 (permasalahan 56). Beliau juga punya kitab spesifik yang mengurai tentang nama-nama Allah Swt. [9] Beliau menyebutkan dalam kitabnya Syarhu al-Asma al-Husna dan disebutkan pula oleh Ibnu Jariir dalam kitab Talkhishu al-Habiiru, 4/173. [10] Ibnu al-Arabi al-Maliki dalam tafsirnya. [11] Ahmad, 1/391, Abu Ya’laa, 9/199/5297, al-Hakim, 1/509, Ibnu al-Sunni dalam kitab Amalu al-Yaumi wa al-Lailah, no. 342, al-Bazzaar dalam Kasyfu al-Astaar, 4/31/3122. Semuanya berasal dari hadits al-Qasim bin Abdul Rahman dari ayahnya. Al-Hakim menyatakan: hadits ini shahih berdasarkan standar Muslim jika saja tidak tergolong mursal Abdul Rahman dari ayahnya. Karena statusnya meriwayatkan dari ayahnya diperdebatkan oleh ulama. Ibnu Ma’iin berkata; beliau pernah mendengar hadits dari ayahnya. Al-Bukhari berkata dalam kitab al-Tarikh, beliau mendengar hadits dari ayahnya. Ibnu Hajar menyatakan; Beliau meriwayatkan hadits dari ayahnya, hanya saja jumlahnya sedikit. Ibnu al-Madini menyatakan dalam kitab al-Ilalu; Beliau meriwayatkan dua hadits dari ayahnya, yakni hadits al-Dhabb, dan hadits al-Walid mentakhirkan shalatnya. Al-Ajali berkata; disebutkan bahwa Beliau tidak pernah mendengar hadits dari ayahnya kecuali satu saja. Yakni, orang yang mengharamkan yang halal seperti orang yang menghalalkan yang haram. Karenanya, al-Mundziri mengomentari pernyataan al-Hakim bahwa klaim itu tidak benar. Artinya hadits ini tidak aman dari keterputusan riwayat (al-inqitha’). Ada hadits lemah lain menguatkan hadits ini dari Abu Musa r.a. sebagaimana diriwayatkan al-Thabarani dalam al-Majma’, 10/139 dan Ibnu al-Sunni, no. 341. Al-Haitsami mengatakan: dalam riwayatnya terdapat perawi yang tidak dikenal. Terjemahan Kitab Akidahilmuislamperdebatantauhid