Skip to content
AKIDAH.NET
AKIDAH.NET

Keyakinan Pangkal Penghayatan

AKIDAH.NET
AKIDAH.NET

Keyakinan Pangkal Penghayatan

Perkataan Ulama Ahlussunnah Waljama`ah Terkait Sifat “Al-`Uluw” (Kemahatinggian Allah) (Bagian 4)

Muhammad Atim, 7 Mei 2026

Sumber: Kitab Ma`arij al-Qabul Bisyarhi Sullami al-Wushul Ila Ilmi al-Ushul Fii at-Tauhid

Penulis:  Syeikh Hafidz bin Ahmad al-Hakami

Penerjemah: Ust. Muhammad Atim

Editor: Idrus Abidin

Dan sabdanya,

مَثَلُ الكافِرِ كَمَثَلِ الأرْزَةِ صَمَّاءَ مُعْتَدِلَةً حتَّى يَقْصِمَها اللَّهُ إذا شاءَ

“Perumpamaan orang kafir seperti tangkai padi yang keras dan lurus, sampai akhirnya Allah patahkan ia sesuai kehendak-Nya”.[1]

Dan sabdanya,

تعرَّضوا لنَفَحاتِ رَحْمَةِ اللَّهِ، فإنَّ للَّهِ سَحَائِبُ من رَحْمَتِهِ يُصيبُ بِها مَن يشاءُ من عبادِهِ

“Bersiap dan sambutlah hembusan rahmat kasih sayang Allah ‘azza wajalla. Sesungguhnya Allah ‘azza wajalla memiliki awan-awan pada rahmat dan kasih-Nya, yang akan diraih oleh para hamba yang dikehendaki-Nya.”[2]

Dan sabdanya tentang hadits bai’at,

ومَن أصَابَ مِن ذلكَ شيئًا فَسَتَرَهُ اللَّهُ، فَهو إلى اللَّهِ ﷻ إنْ شَاءَ عَذَّبَهُ وإنْ شَاءَ غَفَرَ له

“Dan siapa yang terjerumus melakukan di antara hal itu, lalu Allah menutupinya, maka ia diserahkan kepada Allah, jika Ia berkehendak Ia menyiksanya dan jika Ia berkehendak Ia mengampuninya.”[3]

Dan dalam hadits tentang protesnya surga dan neraka, firman Allah kepada surga,

أنتِ رحمتي أرحَمُ بكِ مَن أشاءُ

“Engkau adalah rahmat-Ku, aku beri rahmat denganmu kepada siapa pun yang Aku kehendaki.”,

Dan kepada neraka,

أنتِ عذابي أُعذِّبُ بكِ مَن أشاءُ

“Engkau adalah siksa-Ku, Aku siksa denganmu siapa pun yang Aku kehendaki.”[4]

Dan sabdanya,

لَا يَقُلْ أَحَدُكُمْ : اَللَّهُمَّ اغْفِرْلِي إِنْ شِئْتَ، اَللَّهُمَّ ارْحَمْنِي إِنْ شِئْتَ وَارْزُقْنِي إِنْ شِئْتَ، لِيَعْزِمِ الْمَسْأَلَةَ، فَإِنَّ اللهَ تَعَالَى لَا مُكْرِهَ لَهُ

“Janganlah salah seorang dari kalian mengatakan, “Ya Allah, ampunilah aku jika Engkau berkehandak”, “Ya Allah, rahmatilah aku jika Engkau berkehandak, dan berilah aku rizki jika Engkau berkehendak. Hendaklah ia memiliki tekad yang kuat dalam memohon, sesungguhnya Allah tidak ada yang bisa memaksa-Nya.”[5]

Dan sabdanya,

وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ

“Tetapi katakanlah, “Itu adalah takdir, dan apa yang Ia kehendaki pasti Ia lakukan.” [6]

Dan sabdanya, dari Allah ﷻ :

ذَلِكَ بِأَنِّي جَوَّادٌ أَفْعَلُ مَا أَشَاءُ، عَطَائِي كَلَامٌ، وَعَذَابِي كَلَامٌ، إِنَّمَا أَمْرِي لِشَيْءٍ إِذَا أَرَدْتُهُ أَنْ أَقُوْلَ لَهُ كُنْ فَيَكُوْنُ

“Hal itu karena Aku Maha Dermawan, Aku melakukan apa yang Aku kehendaki, pemberian-Ku adalah perkataan, dan siksa-Ku adalah perkataan, perintah-Ku terhadap sesuatu jika Aku menghendakinya hanyalah dengan Aku berkata kepadanya, “Jadilah! Maka jadilah ia.” [7]

Dan sabdanya,

مَا أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَى عَبْدٍ مِنْ نِعْمَةٍ مِنْ أَهْلٍ وَوَلَدٍ فَيَقُوْلُ : مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إلَّا بِاللَّهِ، فيَرى فِيْهِ آفَةً دونَ الموتِ

“Tidaklah Allah memberi nikmat kepada seorang hamba suatu kenikmatan berupa keluarga dan anak, lalu ia berkata, “Masya Allah la Quwwata illah billah”, lalu ia melihat padanya ada kemadharatan selain kematian.”[8]

Dan dalam hadits syafaat,

فَيَدَعُنِي مَا شَاءَ اللهُ أَنْ يَدَعَنِي

“Lalu Allah membiarkanku sekehendak Allah membiarkanku.”[9]

Dan dalam hadits akhir penghuni surga masuk ke dalam surga,

فَيَسْكُتُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ يَسْكُتَ

“Lalu Allah diam sekehendak Allah untuk diam.”[10]

Dan di dalamnya ada firman Allah ta’ala,

لَا أَهْزَأُ بِكَ وَلَكِنِّي عَلَى مَا أَشَاءُ قَدِيْرٌ

“Aku tidak mempermainkanmu, tetapi Aku Maha Berkuasa atas apa yang Aku kehendaki.”[11]

Dan beliau bersabda,

فَأُرِيْدُ إِنْ شَاءَ اللهُ أَنْ أَخْتَبِئَ دَعْوَتِي شَفَاعَةً لِأُمَّتِي

“Lalu aku menginginkan jika Allah berkehendak, untuk menyimpan doaku sebagai syafaat bagi umatku.”[12]

Dan beliau bersabda,

لَا يَدْخُلُ النَّارَ إِنْ شَاءَ الله مِنْ أَصْحَابِ الشَّجَرَةِ الَّذِيْنَ بَايَعُوا تَحْتَهَا أَحَدٌ

“Tidak akan masuk neraka, insya Allah, dari para sahabat pohon yang mereka berbaiat di bawahnya seorang pun.”[13]

Dan beliau bersabda,

إِنِّي لَأَطْمَعُ أَنْ يَكُوْنَ حَوْضِي إِنْ شَاءَ اللهُ مَا بَيْنَ أَيْلَةَ إِلَى كَذَا

“Sesungguhnya aku benar-benar berharap agar telagaku insya Allah antara Ailah hingga ke “ini”.[14]

Dan beliau bersabda tentang Madinah,

لَا يَدْخُلُهَا الطَّاعُوْنَ وَلَا الدَّجَّالُ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى

“Tidak akan masuk ke dalamnya tha’un, dan tidak pula Dajjal, insya Allah ta’ala”. [15]

Dan tentang ziarah kubur,

وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ بِكُمْ لَاحِقُوْنَ

“Dan sesungguhnya kami insya Allah akan menyusul kalian.”[16]

Dan tentang pada Thaif,

إِنَّا قَافِلُوْنَ غَدًا إِنْ شَاءَ اللهُ

“Sesungguhnya kita akan mengunci mereka besok insya Allah.”[17]

Dan pada kedatangan beliau ke Mekkah,

مَنْزِلُنَا غَدًا إِنْ شَاءَ اللهُ بِخَيْفِ بَنِي كِنَانَةَ

“Tempat singgah kita besok insya Allah di tempat peristirahatan Bani Kinanah.”[18]

Dan pada kisah perang Badar,

هَذَا مَصْرَعُ فُلَانٍ غَدًا إِنْ شَاءَ اللَّهُ وَهَذَا مَصْرَعُ فُلَانٍ إِنْ شَاءَ اللَّهُ

“Ini tempat kematian fulan besok insya Allah, dan ini tempat kematian fulan insya Allah.”[19]

Dan pada sebagian safarnya,

إِنَّكُمْ تَأْتُوْنَ الْمَاءَ غَدًا إِنْ شَاءَ اللهُ

“Sesungguhnya kalian akan mendatangi air besok insya Allah.”[20]

Dan beliau bersabda,

مَنْ حَلَفَ فَقَالَ إِنْ شَاءَ اللهُ فَإِنْ شَاءَ مَضَى وَإِنْ شَاءَ رَجَعَ غَيْرَ حَنِثٍ

“Siapa yang bersumpah lalu ia berkata insya Allah, maka jika Allah berkehendak ia melakukannya, dan jika Allah berkehendak ia kembali dalam keadaan tidak melanggar.”[21]

Dan beliau bersabda,

لَأَغْزُوَنَّ قُرَيْشًا

“Sungguh aku akan memerangi Quraisy.”

Lalu beliau berkata pada yang kedua, “Insya Allah”.[22]

Dan beliau bersabda,

أَلَا مُشَمِّرٌ لِلْجَنَّةِ

“Mengapa kalian tidak bersiap-siap masuk surga?.”

Para sahabat menjawab,

نَحْنُ الْمُشَمِّرُونَ لَهَا يَا رَسُولَ اللَّهِ

“Kami bersiap-siap wahai Rasulullah.”

Beliau bersabda,

قُولُوا إِنْ شَاءَ اللهُ

“Katakanlah, “Insya Allah.”

Mereka berkata, “Insya Allah”.[23]

Dan hadits-hadits lainnya yang valid.

Kata “munfarid/menyendiri” yaitu Rabb kita ﷻ. “Dengan makhluk” yaitu tidak ada dari makhluk di langit dan di bumi kecuali Allah Subhanahu Penciptanya, tidak ada pencipta selain Dia, tidak ada Rabb selain-Nya. Dia adalah pencipta semua pembuat dan buatannya, pencipta orang kafir dan kekafirannya, orang beriman dan keimanannya, yang bergerak dan gerakannya, yang diam dan diamnya, sebagaimana Dia berfirman,

اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ ۖ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ وَكِيلٌ

“Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu.” (QS. Az-Zumar : 62).

Dan Dia berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ ۚ هَلْ مِنْ خَالِقٍ غَيْرُ اللَّهِ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ ۚ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ فَأَنَّىٰ تُؤْفَكُونَ

“Wahai manusia, ingatlah akan nikmat Allah kepadamu. Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezeki kepada kamu dari langit dan bumi? Tidak ada Tuhan selain Dia; maka mengapakah kamu berpaling (dari ketauhidan)?” (QS. Fathir : 3).

Dan Dia berfirman,

هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ فَمِنْكُمْ كَافِرٌ وَمِنْكُمْ مُؤْمِنٌ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

“Dialah yang menciptakan kamu maka di antara kamu ada yang kafir dan di antaramu ada yang mukmin. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. At-Taghabun : 2).

Dan Dia berfirman,

خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِالْحَقِّ وَصَوَّرَكُمْ فَأَحْسَنَ صُوَرَكُمْ ۖ وَإِلَيْهِ الْمَصِيرُ

“Dia menciptakan langit dan bumi dengan haq. Dia membentuk rupamu dan dibaguskan-Nya rupamu itu dan hanya kepada Allah-lah kembali(mu).” (QS. At-Taghabun : 3).

Dan Dia berfirman,

وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ

“Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu”. (QS. Ash-Shaffat : 96).

Dan Dia berfirman,

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُمْ ثُمَّ رَزَقَكُمْ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ ۖ هَلْ مِنْ شُرَكَائِكُمْ مَنْ يَفْعَلُ مِنْ ذَٰلِكُمْ مِنْ شَيْءٍ

“Allah-lah yang menciptakan kamu, kemudian memberimu rezeki, kemudian mematikanmu, kemudian menghidupkanmu (kembali). Adakah di antara yang kamu sekutukan dengan Allah itu yang dapat berbuat sesuatu dari yang demikian itu?” (QS. Ar-Ruum : 40).

Dan Dia berfirman,

وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ بُيُوتِكُمْ سَكَنًا وَجَعَلَ لَكُمْ مِنْ جُلُودِ الْأَنْعَامِ بُيُوتًا تَسْتَخِفُّونَهَا يَوْمَ ظَعْنِكُمْ وَيَوْمَ إِقَامَتِكُمْ ۙ وَمِنْ أَصْوَافِهَا وَأَوْبَارِهَا وَأَشْعَارِهَا أَثَاثًا وَمَتَاعًا إِلَىٰ حِينٍ. وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمْ مِمَّا خَلَقَ ظِلَالًا وَجَعَلَ لَكُمْ مِنَ الْجِبَالِ أَكْنَانًا وَجَعَلَ لَكُمْ سَرَابِيلَ تَقِيكُمُ الْحَرَّ وَسَرَابِيلَ تَقِيكُمْ بَأْسَكُمْ

“Dan Allah menjadikan bagimu rumah-rumahmu sebagai tempat tinggal dan Dia menjadikan bagi kamu rumah-rumah (kemah-kemah) dari kulit binatang ternak yang kamu merasa ringan (membawa)nya di waktu kamu berjalan dan waktu kamu bermukim dan (dijadikan-Nya pula) dari bulu domba, bulu unta dan bulu kambing, alat-alat rumah tangga dan perhiasan (yang kamu pakai) sampai waktu (tertentu). Dan Allah menjadikan bagimu tempat bernaung dari apa yang telah Dia ciptakan, dan Dia jadikan bagimu tempat-tempat tinggal di gunung-gunung, dan Dia jadikan bagimu pakaian yang memeliharamu dari panas dan pakaian (baju besi) yang memelihara kamu dalam peperangan.” (QS. An-Nahl : 80-81).

Dan Dia berfirman,

نَحۡنُ خَلَقۡنَـٰكُمۡ فَلَوۡلَا تُصَدِّقُونَ ۝٥٧ أَفَرَءَیۡتُم مَّا تُمۡنُونَ ۝٥٨ ءَأَنتُمۡ تَخۡلُقُونَهُۥۤ أَمۡ نَحۡنُ ٱلۡخَـٰلِقُونَ ۝٥٩ نَحۡنُ قَدَّرۡنَا بَیۡنَكُمُ ٱلۡمَوۡتَ وَمَا نَحۡنُ بِمَسۡبُوقِینَ ۝٦٠ عَلَىٰۤ أَن نُّبَدِّلَ أَمۡثَـٰلَكُمۡ وَنُنشِئَكُمۡ فِی مَا لَا تَعۡلَمُونَ ۝٦١ وَلَقَدۡ عَلِمۡتُمُ ٱلنَّشۡأَةَ ٱلۡأُولَىٰ فَلَوۡلَا تَذَكَّرُونَ ۝٦٢ أَفَرَءَیۡتُم مَّا تَحۡرُثُونَ ۝٦٣ ءَأَنتُمۡ تَزۡرَعُونَهُۥۤ أَمۡ نَحۡنُ ٱلزَّ ٰ⁠رِعُونَ ۝٦٤ لَوۡ نَشَاۤءُ لَجَعَلۡنَـٰهُ حُطَـٰمࣰا فَظَلۡتُمۡ تَفَكَّهُونَ ۝٦٥ إِنَّا لَمُغۡرَمُونَ ۝٦٦ بَلۡ نَحۡنُ مَحۡرُومُونَ ۝٦٧ أَفَرَءَیۡتُمُ ٱلۡمَاۤءَ ٱلَّذِی تَشۡرَبُونَ ۝٦٨ ءَأَنتُمۡ أَنزَلۡتُمُوهُ مِنَ ٱلۡمُزۡنِ أَمۡ نَحۡنُ ٱلۡمُنزِلُونَ ۝٦٩ لَوۡ نَشَاۤءُ جَعَلۡنَـٰهُ أُجَاجࣰا فَلَوۡلَا تَشۡكُرُونَ ۝٧٠ أَفَرَءَیۡتُمُ ٱلنَّارَ ٱلَّتِی تُورُونَ ۝٧١ ءَأَنتُمۡ أَنشَأۡتُمۡ شَجَرَتَهَاۤ أَمۡ نَحۡنُ ٱلۡمُنشِـُٔونَ ۝٧٢ نَحۡنُ جَعَلۡنَـٰهَا تَذۡكِرَةࣰ وَمَتَـٰعࣰا لِّلۡمُقۡوِینَ ۝٧٣ فَسَبِّحۡ بِٱسۡمِ رَبِّكَ ٱلۡعَظِیمِ ۝٧٤

“Maka terangkanlah kepadaku tentang nutfah yang kamu pancarkan. Kamukah yang menciptakannya, atau Kamikah yang menciptakannya? Kami telah menentukan kematian di antara kamu dan Kami sekali-sekali tidak akan dapat dikalahkan, untuk menggantikan kamu dengan orang-orang yang seperti kamu (dalam dunia) dan menciptakan kamu kelak (di akhirat) dalam keadaan yang tidak kamu ketahui. Dan Sesungguhnya kamu telah mengetahui penciptaan yang pertama, maka mengapakah kamu tidak mengambil pelajaran (untuk penciptaan yang kedua)? Maka terangkanlah kepadaku tentang yang kamu tanam. Kamukah yang menumbuhkannya atau Kamikah yang menumbuhkannya? Kalau Kami kehendaki, benar-benar Kami jadikan dia hancur dan kering, maka jadilah kamu heran dan tercengang. (Sambil berkata): “Sesungguhnya kami benar-benar menderita kerugian”, bahkan kami menjadi orang-orang yang tidak mendapat hasil apa-apa. Maka terangkanlah kepadaku tentang air yang kamu minum. Kamukah yang menurunkannya atau Kamikah yang menurunkannya? Kalau Kami kehendaki, niscaya Kami jadikan dia asin, maka mengapakah kamu tidak bersyukur? Maka terangkanlah kepadaku tentang api yang kamu nyalakan (dengan menggosok-gosokkan kayu). Kamukah yang menjadikan kayu itu atau Kamikah yang menjadikannya? Kami jadikan api itu untuk peringatan dan bahan yang berguna bagi musafir di padang pasir. Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Rabbmu Yang Maha Besar.” (QS. Al-Waqi’ah : 57-74).

Dan dalam kitab Shahih dari hadits Asy’ariyyin,

مَا أَنَا أَحْمِلُكُمْ وَلَكِنَّ اللهَ حَمَلَكُمْ

“Tidaklah aku yang membawa kalian, tetapi Allah-lah yang telah membawa kalian.”[24]

Dan di dalamnya tentang hadits para pelukis,

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ ذَهَبَ يَخْلُقُ كَخَلْقِي فَلْيَخْلُقُوا ذَرَّةً أَوْ لِيَخْلُقُوا حَبَّةً أَوْ شَعِيرًا

“Siapa yang lebih zhalim daripada orang yang mencipta seperti ciptaan-Ku, hendaklah ia cipta biji sawi, atau biji tepung, atau biji gandum!”[25]

Dan di dalamnya terdapat,

مَنْ صَوَّرَ صُوْرَةً كُلِّفَ أَنْ يَنْفَخَ فِيْهَا الرُّوْحَ وَلَيْسَ بِنَافِخٍ

“Siapa yang menggambar suatu gambar ia dibebankan untuk meniupkan ruh padanya dan ia pun tidak mampu meniupkannya.”[26]

Dan selain itu dari hadits-hadits yang valid dan shahih, maka milik Allah-lah penciptaan dan perintah, dan milik-Nya kekuasaan dan milik-Nya pujian dan Dia Maha Berkuasa atas segala sesuatu.

Kata “Al-Iradah/kehendak” yakni Allah menyendiri dengan kehendak, maka tidak ada yang dikehendaki oleh seorangpun bersama-Nya, tidak ada kehendak bagi seorang pun kecuali setelah kehendak-Nya ﷻ sebagaimana Dia berfirman,

كَلَّاۤ إِنَّهُۥ تَذۡكِرَةࣱ ۝٥٤ فَمَن شَاۤءَ ذَكَرَهُۥ ۝٥٥ وَمَا یَذۡكُرُونَ إِلَّاۤ أَن یَشَاۤءَ ٱللَّهُۚ هُوَ أَهۡلُ ٱلتَّقۡوَىٰ وَأَهۡلُ ٱلۡمَغۡفِرَةِ

“Sekali-kali tidak demikian halnya. Sesungguhnya Al–Quran itu adalah peringatan. Maka barangsiapa menghendaki, niscaya dia mengambil pelajaran daripadanya (Al–Quran). Dan mereka tidak akan mengambil pelajaran daripadanya kecuali (jika) Allah menghendakinya. Dia (Allah) adalah Tuhan Yang patut (kita) bertakwa kepada-Nya dan berhak memberi ampun.” (QS. Al-Muddatsir : 54-56).

Dan Dia berfirman,

إِنۡ هُوَ إِلَّا ذِكۡرࣱ لِّلۡعَـٰلَمِینَ ۝٢٧ لِمَن شَاۤءَ مِنكُمۡ أَن یَسۡتَقِیمَ ۝٢٨ وَمَا تَشَاۤءُونَ إِلَّاۤ أَن یَشَاۤءَ ٱللَّهُ رَبُّ ٱلۡعَـٰلَمِینَ ۝٢٩

“Al–Quran itu tiada lain hanyalah peringatan bagi semesta alam, (yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. At-Takwir : 27-29).

Dan Dia berfiman,

إِنَّ هَـٰذِهِۦ تَذۡكِرَةࣱۖ فَمَن شَاۤءَ ٱتَّخَذَ إِلَىٰ رَبِّهِۦ سَبِیلࣰا ۝٢٩ وَمَا تَشَاۤءُونَ إِلَّاۤ أَن یَشَاۤءَ ٱللَّهُۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلِیمًا حَكِیمࣰا ۝٣٠ یُدۡخِلُ مَن یَشَاۤءُ فِی رَحۡمَتِهِۦۚ وَٱلظَّـٰلِمِینَ أَعَدَّ لَهُمۡ عَذَابًا أَلِیمَۢا ۝٣١

“Sesungguhnya (ayat-ayat) ini adalah suatu peringatan, maka barangsiapa menghendaki (kebaikan bagi dirinya) niscaya dia mengambil jalan kepada Tuhannya. Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Dan memasukkan siapa yang dikehendaki-Nya ke dalam rahmat-Nya (surga). Dan bagi orang-orang zalim disediakan-Nya azab yang pedih.” (QS. Al-Insan : 29-31).

Maka, bagi para hamba ada kemampuan atas amal-amal mereka dan mereka memiliki kehendak, dan Allah pencipta mereka dan pencipta kemampuan dan kehendak mereka. Tidak ada kemampuan bagi mereka dan tidak ada kehendak melainkan dengan pemberian kemampuan dari Allah kepada mereka, jika Dia berkehendak dan berkeinginan.

“Dan Allah membuat ketetapan dengan apa yang Ia kehendaki” maka tidak ada yang dapat menolak ketetapan-Nya, tidak ada yang mencegah kehendak-Nya, dan tidak ada yang dapat menentang ketentuan dan takdir-Nya.

وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِیُعۡجِزَهُۥ مِن شَیۡءࣲ فِی ٱلسَّمَـٰوَٰ⁠تِ وَلَا فِی ٱلۡأَرۡضِۚ

“Dan tiada sesuatupun yang dapat melemahkan Allah baik di langit maupun di bumi.” (QS. Fathir : 44).

Bahkan “Dia Maha Melakukan apa saja yang Ia kehendaki.”

وَرَبُّكَ یَخۡلُقُ مَا یَشَاۤءُ وَیَخۡتَارُۗ مَا كَانَ لَهُمُ ٱلۡخِیَرَةُۚ

“Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka.” (QS. Al-Qashash : 68).

بَدِیعُ ٱلسَّمَـٰوَٰ⁠تِ وَٱلۡأَرۡضِۖ وَإِذَا قَضَىٰۤ أَمۡرࣰا فَإِنَّمَا یَقُولُ لَهُۥ كُن فَیَكُونُ

“Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya: “Jadilah!” Lalu jadilah ia.” (QS. Al-Baqarah : 117).

إِنَّمَاۤ أَمۡرُهُۥۤ إِذَاۤ أَرَادَ شَیۡـًٔا أَن یَقُولَ لَهُۥ كُن فَیَكُونُ

“Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” maka terjadilah ia.” (QS. Yasin : 82).

Sesungguhnya Allah menetapkan apa yang Dia kehendaki, melakukan apa yang Ia kehendaki dan menciptakan apa yang Ia kehendaki. Tidak ada yang dapat menentang apa yang Ia putuskan, tidak ada yang dapat menolak apa yang Ia tetapkan, tidak dikatakan “kenapa melakukan begini?” dan “mengapa begini?”, karena Dia “Tidak ditanya tentang apa yang Ia lakukan, sedangkan merekalah yang akan ditanya” (QS. Al-Anbiya : 23). Dan dalam hadits Abu Dzar dari Tirmidzi dan yang lainnya, di akhirnya Allah berfirman,

ذَلِكَ بِأَنِّي جَوَّادٌ وَأَجَدُّ مَاجِدٌ أَفْعَلُ مَا أُرِيْدُ عَطَائِي كَلَامٌ وَعَذَابِي كَلَامٌ، إِنَّمَا أَمْرِي لِشَيْءٍ إِذَا أَرَدْتُهُ أَنْ أَقُوْلَ لَهُ كُنْ فَيَكُوْنُ

“Itu karena Aku adalah yang Maha Dermawan, Paling Dermawan, Maha Mulia, Aku melakukan apa yang Aku kehendaki. Pemberian-Ku adalah perkataan, siksa-Ku adalah perkataan. Urusan-Ku terhadap sesuatu jika Aku menghendakinya, aku hanya berkata kepadanya, “Jadilah! Maka terjadilah ia.”[27]

“Maka siapa yang Ia kehendaki, Ia berikannya taufik dengan karunia-Nya

Dan siapa yang Ia kehendaki, Ia sesatkannya dengan keadilannya

Maka diantara mereka ada yang sengsara dan ada yang bahagia

Yang satu didekatkan dan yang satu dijauhkan

Allah ﷻ berfirman,

مَن يَشَإِ اللَّهُ يُضْلِلْهُ وَمَن يَشَأْ يَجْعَلْهُ عَلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ

“Siapa yang Allah kehendaki, Allah sesatkan dia, dan siapa yang Dia kehendaki, Ia jadikannya di atas jalan yang lurus.” (QS. Al-An’am : 39).

Allah ﷻ berfirman,

مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِي ۖ وَمَنْ يُضْلِلْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

“Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka merekalah orang-orang yang merugi.” (QS. Al-A’raf : 178).

Allah ﷻ berfirman,

مَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ ۚ وَيَذَرُهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ

“Barangsiapa yang Allah sesatkan, maka baginya tak ada orang yang akan memberi petunjuk. Dan Allah membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan.” (QS. Al-A’raf : 186).

Allah ﷻ berfirman,

وَمَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ ۖ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِهِ

“Dan barangsiapa yang ditunjuki Allah, dialah yang mendapat petunjuk dan barangsiapa yang Dia sesatkan maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat penolong-penolong bagi mereka selain dari Dia.” (QS. Al-Isra : 97).

Allah ﷻ berfirman,

مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ ۖ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ وَلِيًّا مُرْشِدًا

“Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpinpun yang dapat memberi petunjuk kepadanya.” (QS. Al-Kahfi : 17).

Allah ﷻ berfirman,

أَفَمَنْ زُيِّنَ لَهُ سُوءُ عَمَلِهِ فَرَآهُ حَسَنًا ۖ فَإِنَّ اللَّهَ يُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۖ فَلَا تَذْهَبْ نَفْسُكَ عَلَيْهِمْ حَسَرَاتٍ

“Maka apakah orang yang dijadikan (syaitan) menganggap baik pekerjaannya yang buruk lalu dia meyakini pekerjaan itu baik, (sama dengan orang yang tidak ditipu oleh syaitan)? Maka sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya; maka janganlah dirimu binasa karena kesedihan terhadap mereka.” (QS. Fathir : 8).

Allah ﷻ berfirman,

فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ ۖ وَمَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ

“Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit.” (QS. Al-An’am : 125).

Allah ﷻ berfirman,

قُلْ إِنَّ اللَّهَ يُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَنْ أَنَابَ

“Katakanlah: “Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan menunjuki orang-orang yang bertaubat kepada-Nya”” (QS. Ar-Ra’du : 27).

Allah ﷻ berfirman,

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۚ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS. Al-Qashash : 56).

Allah ﷻ berfirman,

لَيْسَ عَلَيْكَ هُدَاهُمْ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ

“Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufiq) siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. Al-Baqarah : 272).

Allah ﷻ berfirman,

قُلْ هَلْ مِنْ شُرَكَائِكُمْ مَنْ يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ ۚ قُلِ اللَّهُ يَهْدِي لِلْحَقِّ ۗ أَفَمَنْ يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ أَحَقُّ أَنْ يُتَّبَعَ أَمَّنْ لَا يَهِدِّي إِلَّا أَنْ يُهْدَىٰ ۖ فَمَا لَكُمْ كَيْفَ تَحْكُمُونَ

“Katakanlah: “Apakah di antara sekutu-sekuturmu ada yang menunjuki kepada kebenaran?” Katakanlah “Allah-lah yang menunjuki kepada kebenaran”. Maka apakah orang-orang yang menunjuki kepada kebenaran itu lebih berhak diikuti ataukah orang yang tidak dapat memberi petunjuk kecuali (bila) diberi petunjuk? Mengapa kamu (berbuat demikian)? Bagaimanakah kamu mengambil keputusan?” (QS. Yunus : 35).

Allah ﷻ berfirman,

قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَىٰ

“Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”.” (QS. Al-Baqarah : 120).

Allah ﷻ berfirman,

قُلْ إِنَّ الْهُدَىٰ هُدَى اللَّهِ

“Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk (yang benar) adalah petunjuk Allah” (QS. Ali Imran : 73).

Allah ﷻ berfirman,

وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا. فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا

“Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.” (QS. Asy-Syams : 7-8).

Nabi ﷺ bersabda dalam khutbahnya,

مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ

“Siapa yang Allah beri petunjuk maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan siapa yang Allah sesatkan maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk”[28]

Beliau ﷺ bersabda,

اللَّهُمَّ آتِ نَفْسِي تَقْوَاهَا، وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَن زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا

“Ya Allah berilah kepada jiwaku ketakwaannya, dan sucikanlah ia, Engkau adalah sebaik-baik yang mensucikannya, Engkau adalah pelindung dan pemiliknya.”[29]

“Dan diantara mereka” yaitu dari hamba-hamba-Nya. “Yang sengsara” Dan Dialah yang menyesatkannya dengan keadilan-Nya. “Dan” diantara mereka “Yang bahagia” Dan Dia yang memberinya taufiq dan petunjuk dengan karunia-Nya. Yang bahagia itu adalah yang bahagia dengan ketetapan Allah, dan yang sengsara adalah yang sengsara dengan ketetapan Allah. Maka segala puji bagi Allah atas karunia dan keadilan-Nya. “Yang satu didekatkan” dengan Allah mendekatkannya kepada-Nya dan dia yang bahagia. “Dan yang satu dijauhkan” dengan Allah menjauhkannya, dan dia yang sengsara dan yang jauh. Maka di tangan Allahlah petunjuk dan penyesatan, membuat sengsara dan membuat bahagia. Pemberian hidayah-Nya kepada hamba dan membuatnya bahagia adalah karunia dan rahmat, dan menyesatkan dan menjauhkannya adalah keadilan dari-Nya dan hikmah, Dia Maha Mengetahui dengan tempat-tempat karunia dan keadilan-Nya, Dia Maha Bijaksana, Maha Mengetahui yang menempatkan segala sesuatu pada tempatnya. Dia Maha Mengetahui yang layak diberi hidayah, maka Ia memberinya hidayah, dan yang layak disesatkan, maka Ia menyesatkannya. Dialah Hakim Yang Paling Bijak. Dia Maha Mengetahui orang-orang bertakwa, Maha Mengetahui terhadap orang-orang yang zhalim, Maha Mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. Dia Maha Mengetahui orang-orang yang bersyukur, Maha Mengetahui apa yang ada di hati seluruh alam. Dia Maha Mengetahui kemanakah memberikan kerasulan-Nya, Dia Maha Mengetahui terhadap orang yang sesat dari jalan-Nya, Dia Maha Mengetahui siapa yang mendapat petunjuk, dan dalam hal itu Ia memiliki hikmah yang kuat dan hujjah yang kuat. Oleh karena itu kita berkata,

لِحِكْمَةٍ بَالِغَةٍ قَضَاهَا        يَسْتَوْجِبُ الْحَمْدَ عَلَى اقْتِضَاهِا

“Karena hikmah yang kuat ia menetapkannya

Menuntut pujian terhadap ketetapannya.”

Yaitu sesungguhnya setiap perbuatan-Nya, baik itu pemberian-Nya petunjuk kepada yang Ia kehendaki, dan penyesatan-Nya kepada yang Ia kehendaki, pemberian-Nya kebahagiaan kepada yang Ia kehendaki, pemberian-Nya kesengsaraan kepada yang Ia kehendaki, menjadikannya para pemimpin petunjuk yang menunjuki kepada kebenaran dengan perintah-Nya, dan para pemimpin kesesatan yang menunjuki kepada neraka, Ia mengilhami kepada setiap jiwa kedurhakaan dan ketakwaannya, Ia menjadikan yang beriman sebagai yang beriman, yang kafir sebagai yang kafir dan durhaka, bersamaan dengan kekuasaan-Nya yang sempurna dan lengkap dan bahwa kalau Ia berkehendak niscaya menjadikan manusia sebagai umat yang satu, kalau Ia berkehendak Ia menjadikan mereka di atas petunjuk, kalau Ia berkehendak niscaya beriman seluruh yang ada di bumi, tetapi yang Ia lakukan ini terhadap mereka dengan membagi mereka kepada yang sesat, yang mendapat petunjuk, yang sengsara, yang bahagia, yang didekatkan, yang dijauhkan, yang taat, yang durhaka, yang beriman, yang kafir, dan lain-lain adalah tuntutan dari hikmah-Nya dan konsekwensi dari rububiyyah-Nya. Hikmah-Nya adalah hikmah yang haq, ia adalah sifat-Nya yang melekat pada-Nya seperti sifat-sifat yang lain. Ia adalah kandungan dari nama-Nya Al-Hakim. Ia adalah puncak yang dicintai oleh-Nya, dan dengannya ia menciptakan dan menyempurnakan, menakdirkan dan memberi petunjuk, memberi kebahagiaan dan kesengsaraan, menahan dan memberi, menciptakan langit dan bumi, akhirat dan dunia. Dia Subhanahu Yang Maha Bijaksana dalam penciptaan-Nya, pembentukan-Nya yang bijaksana dalam ketetapan-Nya dan kekuasaan-Nya yang bijaksana dalam perintah-Nya, larangan-Nya dan seluruh syariat-Nya. Sesungguhnya nama-nama-Nya dan sifat-sifat-Nya adalah sifat kesempurnaan dan kemuliaan, perbuatan-Nya semuanya adalah keadilan dan hikmah. Perbuatan tanpa hikmah adalah kesia-siaan, kesia-siaan adalah termasuk sifat kekurangan, dan Allah terhindar dengan seluruh nama-Nya, sifat-Nya dan perbuatan-Nya dari seluruh kekurangan. Seluruh apa yang Ia ciptakan, tetapkan dan takdirkan adalah kebaikan dan hikmah dari segi dinisbatkan kepada-Nya Subhanau wa Ta’ala. Begitu pula seluruh apa yang Ia syariatkan dan perintahkan, seluruhnya adalah hikmah dan keadilan. Apa saja yang termasuk keburukan dalam ketetapan dan takdir-Nya, maka dari segi ia dinisbatkan kepada perbuatan hamba, karena ia adalah maksiat yang tercela yang dibenci oleh Rabb, tidak disenangi. Adapun dari segi ia dinisbatkan kepada Rabb ﷻ maka ia adalah baik secara murni, dan karena ada hikmah yang kuat, keadilan yang sempurna dan tujuan yang terpuji, tidak ada keburukan padanya sedikitpun. Oleh karena itu Allah ﷻ berfirman pada kisah jin yang Ia tuturkan :

وَأَنَّا لَا نَدْرِي أَشَرٌّ أُرِيدَ بِمَنْ فِي الْأَرْضِ أَمْ أَرَادَ بِهِمْ رَبُّهُمْ رَشَدًا

“Dan sesungguhnya kami tidak mengetahui (dengan adanya penjagaan itu) apakah keburukan yang dikehendaki bagi orang yang di bumi ataukah Tuhan mereka menghendaki kebaikan bagi mereka.” (QS. Al-Jin : 10).

Ia menjadikan perbuatan “menginginkan keburukan” dalam bentuk fi’il majhul (tidak disebutkan subjeknya) karena tidak ada keburukan pada hak-Nya ﷻ.

Nabi ﷺ bersabda dalam doa iftitah dalam shalat malam :

لبَّيْكَ اللَّهُمَّ وَسَعْدَيْكَ والخيرُ كلُّه في يدَيْكَ والشَّرُّ ليس إليكَ

“Aku memenuhi panggilan-Mu ya Allah dengan kegembiraan, kebaikan seluruhnya ada pada kedua tangan-Mu, dan keburukan tidak dinisbatkan kepada-Mu.”[30]

Ia menafikan untuk dinisbatkan keburukan kepada Allah dalam bentuk apapun, meskipun Ia yang menciptakannya, karena ia bukanlah keburukan dari segi dinisbatkan kepada-Nya ﷻ, hanyalah ia menjadi keburukan dari segi dinisbatkan kepada hamba. Hal itu karena keburukan tiada lain adalah kejelekaan dan hukumannya, dan penyebab kejelekan-kejelekan adalah buruknya jiwa dan kebodohannya, oleh karena itu Nabi ﷺ bersabda :

الْحَمْدُ للهِ نَحْمَدُه ونستعينُه ، ونستغفرُه ، ونعوذُ باللهِ من شرورِ أنفسِنا ، ومن سيئاتِ أعمالِنا

“Segala puji bagi Allah, kita memuji-Nya, memohon pertolongan kepada-Nya, memohon ampun kepada-Nya, dan berlindung kepada Allah dari keburukan-keburukan jiwa kami, dan kejelekan-kejelekan amalan-amalan kami.”[31]

Beliau ﷺ juga bersabda dalam Sayyidul Istighfar yang ia ajarkan kepada umatnya,

اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكُ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوْذُ بِكَ مِن شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكِ َعَلَيَّ، وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فاَغْفِر لِيْ فَإِنهَّ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلَّا أَنْتَ

“Ya Allah, Engkau adalah Tuhanku. Tidak ada Tuhan selain Engkau yang telah menciptakanku. Aku adalah hamba-Mu. Dan aku atas tanggungan dan janji-Mu selama aku masih mampu. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan yang telah aku perbuat. Aku mengakui nikmat yang Kau berikan kepadaku. Aku mengakui dosaku, maka ampunilah aku. Sesungguhnya tidak ada yang bisa mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau.”[32]

Allah ﷻ berfirman dalam penuturan-Nya tentang istighfar para malaikat bagi orang-orang beriman :

وَقِهِمُ السَّيِّئَاتِ ۚ وَمَنْ تَقِ السَّيِّئَاتِ يَوْمَئِذٍ فَقَدْ رَحِمْتَهُ ۚ وَذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Dan peliharalah mereka dari (balasan) kejahatan. Dan orang-orang yang Engkau pelihara dari (pembalasan) kejahatan pada hari itu maka sesungguhnya telah Engkau anugerahkan rahmat kepadanya dan itulah kemenangan yang besar”. (QS. Ghafir : 9).

 Siapa yang Allah jaga ia dari keburukan dan melindunginya darinya, sungguh Ia menjaganya dari siksaan-siksaan-Nya, sebagai konsekwensinya. Apabila diketahui bahwa penyebab kejelekan adalah kezhaliman dan kebodohan, dan hal itu berasal dari diri hamba, ia adalah perkara yang ada pada dirinya, dan bahwa keburukan itu adalah penyebab siksaan, sedangkan siksaan dari Allah adalah keadilan yang murni. Ia menjadi buruk hanyalah pada hak hamba, ketika ia mendapatkan rasa sakitnya. Hal itu adalah karena perbuatan kedua tangannya, sebagai balasan yang setimpal, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman :

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy-Syura : 30).

Dan Allah Ta’ala berfirman :

وَمَا ظَلَمْنَاهُمْ وَلَٰكِنْ كَانُوا هُمُ الظَّالِمِينَ

“Dan tidaklah Kami menganiaya mereka tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (QS. Az-Zukhruf : 76).

Dan Allah Ta’ala berfirman :

إِنَّ اللَّهَ لَا يَظْلِمُ النَّاسَ شَيْئًا وَلَٰكِنَّ النَّاسَ أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ

“Sesungguhnya Allah tidak berbuat zalim kepada manusia sedikitpun, akan tetapi manusia itulah yang berbuat zalim kepada diri mereka sendiri.” (QS. Yunus : 44).

Maka, perbuatan-perbuatan Allah ﷻ semuanya adalah kebaikan, karena ia berasal dari ilmu-Nya, hikmah-Nya, keadilan-Nya dan kekayaan-Nya yang merupakan sifat zat-Nya. Apabila Ia menghendaki kebaikan pada hamba-Nya, Ia memberinya dari karunia-Nya ilmu, keadilan dan hikmah, maka lahirlah darinya ihsan, ketaatan, kebajikan dan kebaikan. Apabila Ia menghendaki keburukan padanya, ia menahannya darinya, meniadakannya, dan meniadakan pendorong-pendorong bagi dirinya, tabiatnya, dan penyebabnya, maka lahirlah darinya penyebab kebodohan dan kezhaliman dari setiap keburukan dan kejelekan. Penahanan Allah terhadap hal tersebut bukanlah kezhaliman dari-Nya ﷻ, karena ia adalah karunia-Nya yang Ia berikan kepada siapa yang Ia kehendaki, penahaman dari karunia-Nya itu bukanlah kezhaliman, apalagi apabila Ia menahannya dari pihak yang memang tidak berhak dan tidak layak untuk mendapatkannya. Juga karena karunia-Nya ini adalah taufik-Nya dan keinginan-Nya Ta’ala untuk berkasih sayang kepada hamba-Nya, menolongnya, memberinya taufik, tidak membiarkannya sendirian. Ini adalah murni perbuatan-Nya dan karunia-Nya, dan Dia Maha Mengetahui siapa yang berhak untuk itu. Oleh karena itu Allah Ta’ala berfirman :

وَكَذَٰلِكَ فَتَنَّا بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لِيَقُولُوا أَهَٰؤُلَاءِ مَنَّ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنْ بَيْنِنَا ۗ أَلَيْسَ اللَّهُ بِأَعْلَمَ بِالشَّاكِرِينَ

“Dan demikianlah telah Kami uji sebahagian mereka (orang-orang kaya) dengan sebahagian mereka (orang-orang miskin), supaya (orang-orang yang kaya itu) berkata: “Orang-orang semacam inikah di antara kita yang diberi anugerah Allah kepada mereka?” (Allah berfirman): “Tidakkah Allah lebih mengetahui tentang orang-orang yang bersyukur (kepada-Nya)?” (QS. Al-An’am : 53).

Dan Dia berfirman :

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ آمَنَّا بِاللَّهِ فَإِذَا أُوذِيَ فِي اللَّهِ جَعَلَ فِتْنَةَ النَّاسِ كَعَذَابِ اللَّهِ وَلَئِنْ جَاءَ نَصْرٌ مِنْ رَبِّكَ لَيَقُولُنَّ إِنَّا كُنَّا مَعَكُمْ ۚ أَوَلَيْسَ اللَّهُ بِأَعْلَمَ بِمَا فِي صُدُورِ الْعَالَمِينَ. وَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْمُنَافِقِينَ

“Dan di antara manusia ada orang yang berkata: “Kami beriman kepada Allah”, maka apabila ia disakiti (karena ia beriman) kepada Allah, ia menganggap fitnah manusia itu sebagai azab Allah. Dan sungguh jika datang pertolongan dari Tuhanmu, mereka pasti akan berkata: “Sesungguhnya kami adalah besertamu”. Bukankah Allah lebih mengetahui apa yang ada dalam dada semua manusia? Dan sesungguhnya Allah benar-benar mengetahui orang-orang yang beriman: dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang munafik.” (QS. Al-‘Ankabut : 10-11).

Dan Dia berfirman :

وَإِذَا جَاءَتْهُمْ آيَةٌ قَالُوا لَنْ نُؤْمِنَ حَتَّىٰ نُؤْتَىٰ مِثْلَ مَا أُوتِيَ رُسُلُ اللَّهِ ۘ اللَّهُ أَعْلَمُ حَيْثُ يَجْعَلُ رِسَالَتَهُ

“Apabila datang sesuatu ayat kepada mereka, mereka berkata: “Kami tidak akan beriman sehingga diberikan kepada kami yang serupa dengan apa yang telah diberikan kepada utusan-utusan Allah”. Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan.” (QS. Al-An’am : 124).

Dan Dia berfirman :

وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۚ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ. إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ مَنْ يَضِلُّ عَنْ سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah). Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang orang yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia lebih mengetahui tentang orang orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-An’am : 116-117).

Dan Dia berfirman :

إِنْ تَحْرِصْ عَلَىٰ هُدَاهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ يُضِلُّ ۖ وَمَا لَهُمْ مِنْ نَاصِرِينَ

“Jika kamu sangat mengharapkan agar mereka dapat petunjuk, maka sesungguhnya Allah tiada memberi petunjuk kepada orang yang disesatkan-Nya, dan sekali-kali mereka tiada mempunyai penolong.” (QS. An-Nahl : 37).

Dan dia berfirman :

فَأَعْرِضْ عَنْ مَنْ تَوَلَّىٰ عَنْ ذِكْرِنَا وَلَمْ يُرِدْ إِلَّا الْحَيَاةَ الدُّنْيَا. ذَٰلِكَ مَبْلَغُهُمْ مِنَ الْعِلْمِ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اهْتَدَىٰ

“Maka berpalinglah (hai Muhammad) dari orang yang berpaling dari peringatan Kami, dan tidak mengingini kecuali kehidupan duniawi. Itulah sejauh-jauh pengetahuan mereka. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang paling mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia pulalah yang paling mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.” (QS. An-Najm : 29-30).

Dan Dia berfirman :

مَا يَوَدُّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَلَا الْمُشْرِكِينَ أَنْ يُنَزَّلَ عَلَيْكُمْ مِنْ خَيْرٍ مِنْ رَبِّكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَخْتَصُّ بِرَحْمَتِهِ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ

“Orang-orang kafir dari Ahli Kitab dan orang-orang musyrik tiada menginginkan diturunkannya sesuatu kebaikan kepadamu dari Tuhanmu. Dan Allah menentukan siapa yang dikehendaki-Nya (untuk diberi) rahmat-Nya (kenabian); dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (QS. Al-Baqarah : 105).

Dan Dia berfirman :

فَمَا يُكَذِّبُكَ بَعْدُ بِالدِّينِ. أَلَيْسَ اللَّهُ بِأَحْكَمِ الْحَاكِمِينَ

“Maka apakah yang menyebabkan kamu mendustakan (hari) pembalasan sesudah (adanya keterangan-keterangan) itu? Bukankah Allah Hakim yang seadil-adilnya?” (QS. At-Tiin : 7-8). Tentu, kita menjadi saksi atas hal itu.

Dan Dia berfirman :

قُلْ إِنَّ الْهُدَىٰ هُدَى اللَّهِ أَنْ يُؤْتَىٰ أَحَدٌ مِثْلَ مَا أُوتِيتُمْ أَوْ يُحَاجُّوكُمْ عِنْدَ رَبِّكُمْ ۗ قُلْ إِنَّ الْفَضْلَ بِيَدِ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ. يَخْتَصُّ بِرَحْمَتِهِ مَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ

“Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk (yang harus diikuti) ialah petunjuk Allah, dan (janganlah kamu percaya) bahwa akan diberikan kepada seseorang seperti apa yang diberikan kepadamu, dan (jangan pula kamu percaya) bahwa mereka akan mengalahkan hujjahmu di sisi Tuhanmu”. Katakanlah: “Sesungguhnya karunia itu di tangan Allah, Allah memberikan karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Luas karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui”; Allah menentukan rahmat-Nya (kenabian) kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (QS. Ali Imran : 73-74).

Dan Dia berfirman :

هُوَ أَعْلَمُ بِكُمْ إِذْ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَإِذْ أَنْتُمْ أَجِنَّةٌ فِي بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ ۖ فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَىٰ

“Dan Dia lebih mengetahui (tentang keadaan)mu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu; maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (QS. An-Najm : 32).

Dan Dia berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَآمِنُوا بِرَسُولِهِ يُؤْتِكُمْ كِفْلَيْنِ مِنْ رَحْمَتِهِ وَيَجْعَلْ لَكُمْ نُورًا تَمْشُونَ بِهِ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ. لِئَلَّا يَعْلَمَ أَهْلُ الْكِتَابِ أَلَّا يَقْدِرُونَ عَلَىٰ شَيْءٍ مِنْ فَضْلِ اللَّهِ ۙ وَأَنَّ الْفَضْلَ بِيَدِ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ

“Wahai orang-orang yang beriman (kepada para rasul), bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian, dan menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan dan Dia mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Kami terangkan yang demikian itu) supaya ahli Kitab mengetahui bahwa mereka tiada mendapat sedikitpun akan karunia Allah (jika mereka tidak beriman kepada Muhammad), dan bahwasanya karunia itu adalah di tangan Allah. Dia berikan karunia itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (QS. Al-Hadid : 28-29).

Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu dari karunia-Mu yang besar untuk memberi kami hidayah kepada jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang Engkau telah beri nikmat kepada mereka, bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan orang-orang yang sesat. Aamiin.. Wahai Yang Maha Hidup, Yang Terus menerus mengurus makhluk-Nya, wahai Yang Memiliki kemuliaan, wahai Yang menciptakan langit dan bumi, dengan rahmat-Mu kami memohon pertolongan. Ya Allah, dengan rahmat-Mu kami berharap, janganlah Engkau bebankan kepada kami kepada diri-diri kami, dan juga kepada salah seorang dari makhluk-Mu sekejap matapun. Dan perbaikilah bagi kami urusan kami seluruhnya, tiada tuhan selain Engkau, maha suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zhalim.

“Wajib” maksudnya berhak “Pujian di atas tuntutannya” kata ganti tersebut kembali kepada hikmah. Maka bagi-Nya pujian di atas tuntutan hikmah-Nya pada seluruh makhluk-Nya dan urusan-Nya. Maka seluruh yang Ia lakukan dan yang Ia perintahkan adalah konsekwensi dari rububiyyah-Nya, dan tuntutan nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Milik-Nya segala pujian atas seluruh perbuatan-Nya, Milik-Nya segala pujian atas ciptaan-Nya dan perintah-Nya. Dan Dia terpuji atas ketaatan para hamba dan kemaksiatan mereka, iman dan kekafiran mereka, dan Dia terpuji atas ciptaan-Nya terhadap orang-orang yang baik dan orang-orang yang durhaka, atas ciptaan-Nya terhadap para malaikat dan para syaitan, atas ciptaan-Nya terhadap para rasul dan musuh-musuhnya, dan Dia terpuji atas keadilan-Nya dan hikmah-Nya pada musuh-musuh-Nya, sebagaimana Ia terpuji atas karunia-Nya dan rahmat-Nya kepada para wali-Nya. Maka setiap butir dari butir-butir alam semesta menjadi saksi dengan hikmah-Nya dan pujian-Nya, sebagaimana Ia berfirman :

تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَالْأَرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ ۚ وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ

“Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya,” (QS. Al-Isra : 44).

Dan Dia berfirman :

يُسَبِّحُ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۖ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ ۖ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi; hanya Allah lah yang mempunyai semua kerajaan dan semua pujian, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. At-Taghabun : 1).

Dan Dia berfirman :

وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ ۗ مَا كَانَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ ۚ سُبْحَانَ اللَّهِ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ. وَرَبُّكَ يَعْلَمُ مَا تُكِنُّ صُدُورُهُمْ وَمَا يُعْلِنُونَ. وَهُوَ اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ لَهُ الْحَمْدُ فِي الْأُولَىٰ وَالْآخِرَةِ ۖ وَلَهُ الْحُكْمُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

“Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan (dengan Dia). Dan Tuhanmu mengetahui apa yang disembunyikan (dalam) dada mereka dan apa yang mereka nyatakan. an Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, bagi-Nya-lah segala puji di dunia dan di akhirat, dan bagi-Nya-lah segala penentuan dan hanya kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.” (QS. Al-Qashsash : 68-70).

Dan Nabi ﷺ telah mengajari kita dalam dzikir i’tidal dari ruku’ :

رَبَّنا لَكَ الحمدُ، مِلْءَ السَّمواتِ وَالْأَرْضِ، ومِلْءَ مَا بَيْنَهُمَا، وَمِلْءَ مَا شِئتَ مِن شيءٍ بعدُ

“Wahai Rabb kami, bagi-My segala puji, sepenuh langit dan bumi, dan sepenuh yang ada diantara keduanya, dan sepenuh apa saja yang Engkau kehendaki dari sesuatu setelah itu.”[33]


[1] HR. Bukhari (13/446), Kitab Tauhid, Bab Masyiah, dan Muslim (4/2163. Hadits no. 2809) tentang sifat-sifat orang munafik, bab perumpamaan orang mukmin seperti tanaman, dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu

[2] Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dunya dalam Al-Faraj ba’da Asy-Syiddah (hal. 24), Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman (Al-Kanz hadits no. 3189), dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dan sanadnya dhaif. Dan As-Suyuthi menisbatkannya dalam Al-Jami’ Ash-Shagir kepada Al-Farah ba’da Asy-Syuddah dari hadits Anas, ini keliru sebagaimana telah kami jelaskan, begitu pula yang dikatakan oleh Al-‘Iraqi dalam Takhrij Al-Ihya (1/168).

[3] HR. Bukhari (7/219) dalam Manaqib Al-Anshar, bab Wufud Al-Anshar ila An-Nabi bi Makkah wa Bai’ah Al-‘Aqabah, dari hadits Ubadah bin Shamit

[4] HR. Bukhari (8/595) dalam Tafsir, bab Wataqulu Hal min Mazid, Muslim (4/2186, hadits no. 2846) dalam fil Jannah wa Sifati Na’imiha, bab An-Naar yadkhuluha Al-Jabbarun

[5] HR. Bukhari (13/448) dalam Tauhid, bab fil Masyiah wal Iradah, Tirmidzi (5/526, hadits no. 3497) dalam Ad-Da’awat, bab ke-78, dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu

[6] HR. Muslim (4/2052, hadits no. 2664) dalam Al-Qadr, bab Al-Amr bil Quwwah wa Tarkh Al-‘Ajz, dan selainnya dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu

[7] HR. Ahmad (5/154 dan 177), Tirmidzi (4/656, hadits no. 2495), dalam Sifat Qiyamah, bab no. 48, dan Ibnu Majah (2/1422, hadits no. 4257) dalam Az-Zuhd, bab Dzikrut Taubah, dari hadits Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu

[8] HR. Thabrani dalam Ash-Shagir (1/212) dan Al-Ausath (Majma’ Az-Zawaid, 10/143), di dalamnya ada Abdul Malik bin Zurarah, dan ia itu dhaif

[9] HR. Bukhari (13/392) dalam Tauhid, bab firman Allah ta’ala “lima khalaqtu biyadayya, Muslim (!/180, hadits no. 193) dalam Al-Iman, bab Adna Ahlil Jannah Manzilatan Fiiha, dari hadits Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu

[10] HR. Bukhari (2/292) dalam Adzan, bab Fadhl As-Sujud, Muslim (1/163-166, hadits no. 182) dalam Al-Iman, bab Ma’rifatu Thariq Ar-Ru’yah, dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu

[11] HR. Muslim (1/174-175, hadits no. 187) dalam Al-Iman, bab Akhir Ahlin Naar Khurujan, dari hadits Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu

[12] HR. Bukhari (11/96) dalam Ad-Da’awat, bab li Kulli Nabiy Da’watun Mustajabah, dan Muslim (1/188, hadits no. 198) dalam Al-Iman, bab Ikhtiba An-Nabiy Da’wah Asy-Syafa’ah li Ummatihi, dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu

[13] HR. Muslim (4/1942, hadits no. 2496) dalam Fadhail Shahabah, bab Fadhail Ashab Asy-Syajarah Ahli Bai’at Ridwan radhiyallahu ‘anhum, dari hadits Ummu Mubasyir radhiyallahu ‘anhuma

[14] HR. Baihaqi dalam Al-Asma was Sifat, hal. 214, sanadnya di atas syarat Syaikhain (di dalamnya disebut antara Ailah dan Damaskus), dari hadits Abu Hurairah

[15] HR. Bukhari (13/447) dalam At-Tauhid, bab fil Masyiah wal Iradah

[16] HR. Muslim (2/669, hadits no. 974) dalam Al-Janaiz, bab Ma Yuqalu ‘inda Dukhul Al-Maqabir

[17] HR. Bukhari (13/448) dalam At-Tauhid, bab fil Masyiah wal Iradah, Muslim (3/1402-1403, hadits no. 1778) dalam Jihad was Siyar, bab Ghazwah Ath-Thaif

[18] HR. Bukhari (13/448) dalam At-Tauhid, bab fil Masyiah wal Iradah

[19] HR. Muslim (4/2202-2203, hadits no. 2873) dalam Al-Jannah wa Shifah Na’imiha wa Ahliha, bab ‘Ardh Maq’ad Al-Mayyit minal Jannah aw An-Naar ‘alaihi

[20] Yaitu mata air Tabuk, sungguh beliau ﷺ telah mengatakannya pada perang Tabuk, HR. Muslim (4/1784, hadits no. 706, dalam Al-Fadhail, bab Mu’jizat An-Nabi ﷺ, dari hadits Raja bin Haywah

[21] HR. Abu Dawud (3/225, hadits no. 3262) dalam Al-Aiman wan Nudzur, bab Al-Istitsna fil Yamin, Ibnu Majah (1/680, hadits no. 2105) dalam Al-Kaffarat, bab Al-Istitsna fil Yamin tapi dengan lafazh “man halafa was tatsna”, dan sanadnya hasan

[22] HR. Abu Dawud (3/231, hadits no. 3285) dalam Al-Aiman, bab Al-Istitsna fil Yamin ba’da As-Sukut, dari riwayat Ikrimah secara mursal. Ia berkata, “Dan telah menyambungkan sanad hadits ini lebih dari satu orang dari Syarik dari Simak dari Ikrimah dari Ibnu Abbas. Abu Hatim berkata, “Mursal lebih mendekati.” (Al-‘Ilal, 1/440). Aku berkata, “Dalam sanadnya ada Syarik Al-Qadhi dan dia dhaif.”

[23] HR. Ibnu Majah (2/1448-1449, hadits no. 4332) dan Ibnu Hibban dalam Shahihnya (mawarid 2620), dan Al-Faswa fil Ma’rifah wat Tarikh (1/304). Sanadnya dhaif, di dalamnya terdapat Adh-Dhahhak Al-Mu’afiri, ia itu majhul, dan Sulaiman bin Musa Al-Asydaq dalam haditsnya ada sebagian yang layyin dan sedikit ikhtilat sebelum ia meninggal

[24] HR. Bukhari (1/55) dalam Al-Aiman wan Nudzur, bab firman Allah Ta’ala : “Sesungguhnya Allah tidak menyiksa kalian dengan yang tidak sengaja dalam sumpah kalian”, dan bab “Janganlah kalian bersumpah dengan ayah-ayah kalian.” Dan Muslim (3/1268, hadits no. 1649) dalam Al-Aiman, bab Anjuran bagi yang bersumpah. Ia melihat selainnya lebih baik darinya untuk melakukan yang lebih baik itu dan ia membayar kifarat dari sumpahnya.

[25] HR. Bukhari (10/385) dalam Al-Libas, bab Naqhd Ash-Shuwar, dan dalam At-Tauhid, bab firman Allah “Wallahu khalaqakum wama ta’malun”. Muslim (3/1671, hadits no. 2111) dalam Al-Libas waz Zinah, bab Pengharaman menggambar gambar hewan

[26] HR. Bukhari (12/427) dalam At-Ta’bir, bab Man kadzaba fi hilmihi, Muslim (3/1671, hadits no. 2110) dalam Al-Libas waz Zinah, bab Tahrim tashwir shurotal hayawan, Nasai (8/215) dalam Az-Zinah, bab Penyebutan tentang para penggambar yang dibebani pada hari kiamat

[27] Telah terdahulu penyebutannya belum lama

[28] HR. Muslim (2/593, hadits no. 868) dalam Jumu’ah, bab Takhfif Ash-Shalah wal Khutbah, dari hadits Jabir radhiyallahu ‘anhu

[29] HR. Muslim (4/2088, hadits no. 2722) dalam Zikir dan Doa, bab Ta’awudz dari keburukan yang dilakukan dan keburukan yang belum dilakukan, dan Ahmad (4/371) dari hadits Zaid bin Arqam

[30] HR. Muslim (1/535, hadits no. 771) dalam Shalat Musafirin, bab Doa dalam shalat malam dan qiyamnya

[31] HR. Muslim (2/593, hadits no. 867) dalam Al-Jumu’ah, bab Takhfif Ash-Shalah wal Khutbah, telah terdahulu

[32] HR. Bukhari (11/97-98) dalam Ad-Da’awat, bab Afdhal Istighfar, dan Ahmad (4/122-125).

[33] HR. Muslim (1/534, hadits no. 771), dalam Shalat Musafirin, bab Doa dalam shalat malam dan qiyamnya, dan dalam kitab Shalat, bab I’tidal dalam rukun-rukun Shalat dan meringankannya dalam kesempurnaan

Terjemahan Kitab Akidahislamkemahatinggianpengetahuantauhid

Navigasi pos

Previous post

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recent Posts

  • Perkataan Ulama Ahlussunnah Waljama`ah Terkait Sifat “Al-`Uluw” (Kemahatinggian Allah) (Bagian 4)
  • INFORMASI ALAM GHAIB
  • PERTAMA – BUKTI ADANYA ALLAH SWT.
  • SYUBHAT KETIGA: PIDANA MATI ORANG MURTAD
  • PASAL VI – SYUBHAT DAN BANTAHAN
Mei 2026
S S R K J S M
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031
« Jan    

ahli kitab (2) ahlussunnah (2) akal (4) Akidah (103) Al 'Uluw (2) Allah (5) alquran (32) budaya (4) dalil (2) evolusi (1) firqah (2) firqah najiyah (2) ghaib (2) hadits (2) hidayah (2) ibadah (3) ibnu taimiyah (4) ilmu (64) imam syafi'i (9) iman (3) islam (90) kalam (2) kenabian (4) kesesatan (2) kristologi (5) ma'rifah (2) manusia (2) meditasi (1) nubuwah (3) pengetahuan (16) perdebatan (1) rububiyah (1) sejarah (4) sunnah (4) syubhat (5) tabiin (1) tafsir (2) takdir (2) tauhid (78) taurat (3) teori (2) tsaqafah (3) turats (1) uluw (1) wahyu (2)

©2026 AKIDAH.NET | WordPress Theme by SuperbThemes