Skip to content
AKIDAH.NET
AKIDAH.NET

Keyakinan Pangkal Penghayatan

AKIDAH.NET
AKIDAH.NET

Keyakinan Pangkal Penghayatan

Perkataan Ulama Ahlussunnah Waljama`ah Terkait Sifat “ilmullah” (Pengetahuan Allah) dan Kekayaan serta Kalam-Nya

Lalu Heri Aprizal, 3 Juni 2026

Sumber: Kitab Ma`arij al-Qabul Bisyarhi Sullami al-Wushul Ila Ilmi al-Ushul Fii at-Tauhid

Penulis:  Syeikh Hafidz bin Ahmad al-Hakami

Penerjemah: Ust. Lalu Hery Aprizal

Editor: Idrus Abidin

Allah Ta’alaa berfirman:

وَإِنْ تَجْهَرْ بِالْقَوْلِ فَإِنَّهُ يَعْلَمُ السِّرَّ وَأَخْفَى

“Dan jika kamu mengeraskan ucapanmu maka sungguh Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi.” [QS. Thâhâ: 7], dan berfirman:

يَعْلَمُ مَا بَيْنَ اَيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيْطُوْنَ بِهٖ عِلْمًا

“Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka, sedang ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmu-Nya.” [QS. Thâhâ: 110], dan berfirman:

قَالَ رَبِّيْ يَعْلَمُ الْقَوْلَ فِى السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

“Katakanlah (hai Muhammad kepada mereka): ‘Tuhanku mengetahui semua perkataan di langit dan di bumi dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” [QS. Al-Anbiyâ’: 4], dan berfirman:

إِنَّهٗ يَعْلَمُ الْجَهْرَ مِنَ الْقَوْلِ وَيَعْلَمُ مَا تَكْتُمُوْنَ

“Sungguh Dia mengetahui perkataan (yang kamu ucapkan) dengan terang-terangan dan Dia mengetahui apa yang kamu rahasiakan.” [QS. Al-Anbiyâ’: 110], dan berfirman:

اَلَمْ تَعْلَمْ اَنَّ اللّٰهَ يَعْلَمُ مَا فِى السَّمَۤءِ وَالْاَرْضِۗ اِنَّ ذٰلِكَ فِيْ كِتٰبٍۗ اِنَّ ذٰلِكَ عَلَى اللّٰهِ يَسِيْرٌ

“Tidakkah engkau mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi?! Sungguh yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sungguh yang demikian itu amat mudah bagi Allah.” [QS. Al-Hajj: 70], dan berfirman:

أَلا إِنَّ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَالأرْضِ قَدْ يَعْلَمُ مَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ وَيَوْمَ يُرْجَعُونَ إِلَيْهِ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Ketahuilah sesungguhnya kepunyaan Allahlah apa yang di langit dan di bumi. Sungguh Dia mengetahui keadaan yang kamu berada di dalamnya (sekarang), dan (mengetahui pula) hari (manusia) dikembalikan kepada-Nya, lalu diterangkan-Nya kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Dan Allah Maha mengehui segala sesuatu.” [QS. An-Nûr: 64], dan berfirman:

وَإِنَّ رَبَّكَ لَيَعْلَمُ مَا تُكِنُّ صُدُورُهُمْ وَمَا يُعْلِنُونَ وَمَا مِنْ غَائِبَةٍ فِي السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ

“Dan sungguh Tuhanmu benar-benar mengetahui apa yang disembunyikan hati mereka dan apa yang mereka nyatakan. Tiada sesuatupun yang ghaib di langit dan di bumi, melainkan (terdapat) dalam kitab yang nyata (Lauhul Mahfuzh).” [QS. An-Naml: 74-75], dan berfirman:

يٰبُنَيَّ اِنَّهَآ اِنْ تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ فَتَكُنْ فِيْ صَخْرَةٍ اَوْ فِى السَّمٰوٰتِ اَوْ فِى الْاَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللّٰهُ ۗاِنَّ اللّٰهَ لَطِيْفٌ خَبِيْرٌ

“(Luqman berkata): ‘Hai anakku, sungguh jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji Sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasnya). Sungguh Allah Mahalembut (terhadap makhluk-Nya) lagi Maha Mengetahui.” [QS. Luqmân: 16], dan berfirman:

ذٰلِكَ عٰلِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ الْعَزِيْزُ الرَّحِيْمُ

“Yang demikian itu ialah Tuhan Yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.” [QS. As-Sajdah: 6], dan berfirman:

إِنْ تُبْدُوْا شَيْئًا أَوْ تُخْفُوْهُ فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمًا

“Jika kamu melahirkan sesuatu atau menyembunyikannya maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” [QS. Al-Ahzâb: 54], dan berfirman:

وَقَالَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لَا تَأْتِيْنَا السَّاعَةُ ۗقُلْ بَلٰى وَرَبِّيْ لَتَأْتِيَنَّكُمْۙ عٰلِمِ الْغَيْبِۚ لَا يَعْزُبُ عَنْهُ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ فِى السَّمٰوٰتِ وَلَا فِى الْاَرْضِ وَلَآ اَصْغَرُ مِنْ ذٰلِكَ وَلَآ اَكْبَرُ اِلَّا فِيْ كِتٰبٍ مُّبِيْنٍ

“Demi Tuhanku Yang Mengetahui yang ghaib, sungguh Kiamat itu pasti akan datang kepadamu. Tidak ada tersembunyi daripada-Nya sebesar zarrahpun yang ada di langit dan yang ada di bumi dan tidak ada (pula) yang lebih kecil dari itu dan yang lebih besar, melainkan tersebut dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” [QS. Saba’: 3], dan berfirman:

وَاللّٰهُ خَلَقَكُمْ مِّنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُّطْفَةٍ ثُمَّ جَعَلَكُمْ اَزْوَاجًا ۗوَمَا تَحْمِلُ مِنْ اُنْثٰى وَلَا تَضَعُ اِلَّا بِعِلْمِهٖ ۗوَمَا يُعَمَّرُ مِنْ مُّعَمَّرٍ وَّلَا يُنْقَصُ مِنْ عُمُرِهٖٓ اِلَّا فِيْ كِتٰبٍ ۗاِنَّ ذٰلِكَ عَلٰلِ اللّٰهُ يَسِيْرٌ

“Dan tidaklah seorang perempuanpun mengandung dan tidak (pula) melahirkan melainkan dengan sepengetahuan-Nya. Dan sekali-kali tidak dipanjangkan umur seorang yang berumur panjang dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam Kitab (Lauh Mahfuzh). Sungguh yang demikian itu bagi Allah adalah mudah.” [QS. Fâthir: 11], dan berfirman:

إِنَّ اللَّهَ عَالِمُ غَيْبِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ إِنَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ

“Sesungguhnya Allah mengetahui yang tersembunyi di langit dan di bumi. Sungguh Dia Maha Mengetahui segala isi hati.” [QS. Fâthir: 38], dan berfirman:

يَعۡلَمُ خَآئِنَةَ ٱلۡأَعۡيُنِ وَمَا تُخۡفِي ٱلصُّدُورُ

“Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati.” [QS. Ghâfir: 19], dan berfirman:

أَلَا إِنَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ مُّحِيطٌ

“Ingatlah bahwa sungguh (pengetahuan-Nya) meliputi segala sesuatu.” [QS. Fushshilat: 54], dan berfirman:

وَلَتَعْرِفَنَّهُمْ فِى لَحْنِ ٱلْقَوْلِ ۚ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ أَعْمَٰلَكُمْ

“Dan engkau benar-benar akan mengenal mereka dari kiasan-kiasan perkataan mereka dan Allah mengetahui perbuatan-perbuatan kalian.” [QS. Muhammad: 30], dan berfirman:

قُلْ اَتُعَلِّمُوْنَ اللّٰهَ بِدِيْنِكُمْ ۖوَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِ ۗوَاللّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ

“Katakanlah: ‘Apakah kalian akan mengajari Allah tentang agamamu! padahal Allah mengetahui apa yang di langit dan apa yang di bumi dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu?!” [QS. Al-Hujurât: 16], dan berfirman:

اِنَّ اللّٰهَ يَعْلَمُ غَيْبَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ ۗوَاللّٰهُ بَصِيْرٌۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ

“Sungguh Allah mengetahui apa yang ghaib di langit dan bumi. Dan Allah Mahamelihat apa yang kalian perbuat.” [QS. Al-Hujurât: 18], dan berfirman:

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ ۖ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ

“Dan sungguh Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” [QS. Qâf: 16], dan berfirman:

نَحْنُ اَعْلَمُ بِمَا يَقُوْلُوْنَ وَمَآ اَنْتَ عَلَيْهِمْ بِجَبَّارٍ فَذَكِّرْ بِالْقُرْاٰنِ مَنْ يَّخَافُ وَعِيْدِ

“Kami lebih mengetahui tentang apa yang mereka katakan, dan kamu sekali-kali bukanlah seorang pemaksa terhadap mereka.” [QS. Qâf: 45], dan berfirman:

ذٰلِكَ مَبْلَغُهُمْ مِّنَ الْعِلْمِ ۗاِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِمَنِ اهْتَدٰى

“Sungguh Tuhanmu, Dialah yang paling mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia pulalah yang paling mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.” [QS. An-Najm: 30], dan berfirman:

هُوَ أَعْلَمُ بِكُمْ إِذْ أَنشَأَكُم مِّنَ ٱلْأَرْضِ وَإِذْ أَنتُمْ أَجِنَّةٌ فِى بُطُونِ أُمَّهَٰتِكُمْ ۖ فَلَا تُزَكُّوٓا۟ أَنفُسَكُمْ ۚ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ ٱتَّقَىٰٓ

“Dia lebih mengetahui (tentang keadaan)mu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu; maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui siapakah yang bertakwa.” [QS. An-Najm: 32], dan berfirman:

يَعۡلَمُ مَا يَلِجُ فِى الۡاَرۡضِ وَمَا يَخۡرُجُ مِنۡهَا وَمَا يَنۡزِلُ مِنَ السَّمَآءِ وَمَا يَعۡرُجُ فِيۡهَاؕ وَهُوَ مَعَكُمۡ اَيۡنَ مَا كُنۡتُمۡ​ وَاللّٰهُ بِمَا تَعۡمَلُوۡنَ بَصِيۡرٌ‏

“Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” [QS. Al-Hadîd: 4], dan berfirman:

أَلَمْ تَرَ أَنَّ ٱللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلْأَرْضِ ۖ مَا يَكُونُ مِن نَّجْوَىٰ ثَلَٰثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلَا أَدْنَىٰ مِن ذَٰلِكَ وَلَا أَكْثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا۟ ۖ ثُمَّ يُنَبِّئُهُم بِمَا عَمِلُوا۟ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi? Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dialah keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dialah keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraan antara jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia berada bersama mereka di manapun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sungguh Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” [QS. Al-Mujâdilah: 7], dan berfirman:

يٰۤاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا لَا تَتَّخِذُوۡا عَدُوِّىۡ وَعَدُوَّكُمۡ اَوۡلِيَآءَ تُلۡقُوۡنَ اِلَيۡهِمۡ بِالۡمَوَدَّةِ وَقَدۡ كَفَرُوۡا بِمَا جَآءَكُمۡ مِّنَ الۡحَـقِّ​ ۚ يُخۡرِجُوۡنَ الرَّسُوۡلَ وَاِيَّاكُمۡ​ اَنۡ تُؤۡمِنُوۡا بِاللّٰهِ رَبِّكُمۡ ؕ اِنۡ كُنۡـتُمۡ خَرَجۡتُمۡ جِهَادًا فِىۡ سَبِيۡلِىۡ وَ ابۡتِغَآءَ مَرۡضَاتِىۡ ​ تُسِرُّوۡنَ اِلَيۡهِمۡ بِالۡمَوَدَّة وَاَنَا اَعۡلَمُ بِمَاۤ اَخۡفَيۡتُمۡ وَمَاۤ اَعۡلَنۡتُمۡ​ وَمَنۡ يَّفۡعَلۡهُ مِنۡكُمۡ فَقَدۡ ضَلَّ سَوَآءَ السَّبِيۡلِ‏ 

“Kalian memberitahukan secara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, karena rasa kasih sayang. Aku lebih mengetahui apa yang kalian sembunyikan dan apa yang kalian nyatakan. Dan barangsiapa di antara kalian yang melakukannya maka sungguh dia telah tersesat dari jalan yang lurus.” [QS. Al-Mumtahanah: 1], dan berfirman:

يَعْلَمُ مَا فِي السَّمٰوٰتِ وَالْأَرْضِ وَيَعْلَمُ مَا تُسِرُّونَ وَمَا تُعْلِنُونَ ۚ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ

“Dia mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi dan mengetahui apa yang kailan rahasiakan dan yang kalian nyatakan. Dan Allah Maha Mengetahui segala isi hati.” [QS. At-Taghâbun: 4], dan berfirman:

قُلْ بَلٰى وَرَبِّيْ لَتَأْتِيَنَّكُمْۙ عٰلِمِ الْغَيْبِۙ لَا يَعْزُبُ عَنْهُ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ فِى السَّمٰوٰتِ وَلَا فِى الْاَرْضِ وَلَآ اَصْغَرُ مِنْ ذٰلِكَ وَلَآ اَكْبَرُ اِلَّا فِيْ كِتٰبٍ مُّبِيْنٍࣙ

“Demi Tuhanku Yang Mengetahui yang ghaib. Tiada tersembunyi daripada-Nya sebesar zarrahpun.” [QS. Saba’: 3], dan berfirman:

عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ

“Yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata. Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” [QS. At-Taghâbun: 18], dan berfirman:

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الْأَرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ الْأَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا

“Agar kalian mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.” [QS. Ath-Thalâq: 12], dan berfirman:

وَأَسِرُّوْا قَوْلَكُمْ أَوِ اجْهَرُوْا بِهٖۗ إِنَّهٗ عَلِيْمٌۢ بِذَاتِ الصُّدُوْرِ

“Dan rahasiakanlah perkataanmu atau lahirkanlah; sungguh Dia Maha Mengetahui segala isi hati.” [QS. Al-Mulk: 13], dan berfirman:

اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ

“Sungguh Tuhanmu, Dialah Yang Paling Mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya; dan Dialah Yang Paling Mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” [QS. Al-Qalam: 7], dan berfirman:

عٰلِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلٰى غَيْبِهٖٓ اَحَدًاۙ اِلَّا مَنِ ارْتَضٰى مِنْ رَّسُوْلٍ فَاِنَّهٗ يَسْلُكُ مِنْۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهٖ رَصَدًاۙ لِّيَعْلَمَ اَنْ قَدْ اَبْلَغُوْا رِسٰلٰتِ رَبِّهِمْ وَاَحَطْ بِمَا لَدَيْهِمْ وَاَحْصٰى كُلَّ شَيْءٍ عَدَدًا

“(Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya, maka sungguh Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya. Supaya Dia mengetahui bahwa sesungguhnya para rasul itu telah menyampaikan risalah-risalah Tuhannya, sedang (sebenarnya) ilmu-Nya meliputi apa yang ada pada mereka, dan Dia menghitung segala sesuatu satu persatu.” [QS. Al-Jin: 26-28], dan berfirman:

اِنَّ رَبَّكَ يَعْلَمُ اَنَّكَ تَقُوْمُ اَدْنٰى مِنْ ثُلُثَيِ الَّيْلِ وَنِصْفَهٗ وَثُلُثَهٗ وَطَاۤىِٕفَةٌ مِّنَ الَّذِيْنَ مَعَكَۗ

“Sungguh Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (sembahyang) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu.” [QS. Al-Muzzammil: 20], dan berfirman:

“Kecuali kalau Allah menghendaki. Sungguh Dia mengetahui yang terang dan yang tersembunyi.” [QS. Al-a`lâ: 7], dan berfirman:

لَا تَجْعَلُوْا دُعَاۤءَ الرَّسُوْلِ بَيْنَكُمْ كَدُعَاۤءِ بَعْضِكُمْ بَعْضًاۗ قَدْ يَعْلَمُ اللّٰهُ الَّذِيْنَ يَتَسَلَّلُوْنَ مِنْكُمْ لِوَاذًاۚ فَلْيَحْذَرِ الَّذِيْنَ يُخَالِفُوْنَ عَنْ اَمْرِهٖٓ اَنْ تُصِيْبَهُمْ فِتْنَةٌ اَوْ يُصِيْبَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ

“Sungguh Allah telah mengetahui orang-orang yang berangsur-angsur pergi di antara kalian dengan berlindung (kepada kawannya).” [QS. An-Nûr: 63], dan berfirman:

إِنَّ اللَّهَ عِندَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْحَامِ ۖ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مََّاذَا تَكْسِبُ غَدًا ۖ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dialah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” [QS. Luqmân: 34],dan juga ayat-ayat seperti firman Allah Ta’alaa: “Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”, “Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana, “Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Memberitahu, “Sesungguhnya Allah itu Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana”, “Sesungguhnya Allah itu Maha Mengetahui dan Maha Memberitahu”, “Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala yang ada di dalam hati”. Kalaulah kami menyitir di sini seluruh ayat yang mengisbat sifat ilmu bagi Allah Ta’alaa niscaya pembahasannya akan terlalu panjang. Tetapi ayat-ayat yang telah kami sebutkan sudah cukup.

Di dalam Ash-Shahîhain diriwayatkan dari Jâbir RA, ia berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يُعَلِّمُنَا الِاسْتِخَارَةَ فِي الْأُمُورِ كُلِّهَا كَمَا يُعَلِّمُنَا السُّورَةَ مِنَ الْقُرْآنِ، يَقُولُ: إِذَا هَمَّ أَحَدُكُمْ بِالْأَمْرِ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الْفَرِيضَةِ، ثُمَّ لِيَقُلْ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ، وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيمِ، فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلَا أَقْدِرُ، وَتَعْلَمُ وَلَا أَعْلَمُ، وَأَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ. اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الْأَمْرَ (ثُمَّ يُسَمِّيهِ بِعَيْنِهِ) خَيْرٌ لِي فِي عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ ـ أَوْ قَالَ: فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي ـ فَاقْدُرْهُ لِي، وَيَسِّرْهُ لِي، ثُمَّ بَارِكْ لِي فِيهِ. وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّهُ شَرٌّ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي ـ أَوْ قَالَ: فِي عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ ـ فَاصْرِفْهُ عَنِّي وَاصْرِفْنِي عَنْهُ، وَاقْدُرْ لِي الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ، ثُمَّ أَرْضِنِي بِهِ

“Rasulullah SAW mengajari kami (para sahabatnya) beristikharah dalam segala urusan seperti beliau mengajari surat di dalam Al-Quran. Beliau bersabda: ‘Jika salah seorang dari kalian menginginkan sebuah urusan maka hendaklah ia shalat dua rakaat, bukan fardhu, kemudian berdoa: Ya Allah, aku memohon kepada-Mu pilihan (urusan) dengan ilmu-Mu, memohon kemampuan dengan kuasa-Mu, dan memohon pada-Mu karunia-Mu yang besar, karena sungguh Engkaulah Yang Mahakuasa sementara aku tiada kuasa, Engkaulah Yang Maha Mengetahui sementara aku tiada mengetahui, dan Engkaulah Yang Maha Mengetahui hal-hal yang ghaib. Ya Allah, jika dalam pengetahuan-Mu bahwa urusan ini (lalu menyebut urusan tersebut) baik bagiku di dunia dan akhiratku—atau menyabdakan: dalam agamaku, kehidupanku dan akhir urusanku—maka takdirkanlah ia untukku dan mudahkanlah ia bagiku kemudian berkatilah aku padanya. Ya Allah, jika dalam pengetahuan-Mu bahwa urusan ini buruk bagiku dalam agamaku, kehidupanku dan akhir urusanku—atau menyabdakan: di duniaku dan akhiratku—maka jauhkanlah ia dariku, dan takdirkanlah bagiku kebaikan dimanapun jua, kemudian ridhailah aku dengannya.”[1]

Di dalam Shahîhain juga, dalam hadis tentang pergantian tugas para Malaikat di setiap ujung siang (disebutkan): “Lalu Allah bertanya kepada mereka (para Malaikat), padahal Dialah yang lebih tahu daripada mereka.”[2] Di dalam Shahîhain juga, tentang doa ketika mendapat kesusahan: “Tiada ilah selain Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Penyabar.”[3] Juga di dalam Shahîhain, hadis tentang seorang yang berwasiat agar mayatnya dibakar dan abunya disebar, lalu Allah bertanya: “Mengapa engkau berwasiat demikian?” Orang itu menjawab:

مِنْ خَشْيَتِكَ وَأَنْتَ أَعْلَمُ

“Karena hamba takut pada-Mu, dan Engkaulah yang lebih tahu (tentang itu).”[4] 

Juga di dalam Shahîhain, hadis tentang kisah Nabi Musa dan Khadhir:

إِنَّ مُوسَى قَامَ خَطِيبًا فِي بَنِي إِسْرَائِيلَ، فَسُئِلَ: أَيُّ النَّاسِ أَعْلَمُ؟ فَقَالَ: أَنَا، فَعَتَبَ اللَّهُ عَلَيْهِ إِذْ لَمْ يَرُدَّ الْعِلْمَ إِلَى اللَّهِ
“Sungguh Musa berdiri berkhutbah di hadapan Bani Israil, lalu beliau ditanya: Siapakah manusia yang paling alim? Beliaupun menjawab: Aku. Maka Allah menegur beliau karena tidak mengembalikan ilmu (tentang itu) kepada Allah.” Dalam hadis ini juga terdapat perkataan Nabi Khadhir AS:

يَا مُوسَى، إِنَّكَ عَلَى عِلْمٍ مِنْ عِلْمِ اللَّهِ عَلَّمَكَهُ اللَّهُ لَا أَعْلَمُهُ، وَأَنَا عَلَى عِلْمٍ مِنْ عِلْمِ اللَّهِ عَلَّمَنِيهِ اللَّهُ لَا تَعْلَمُهُ إِلَى أَنْ قَالَ: «فَرَكِبَا فِي السَّفِينَةِ». قَالَ وَوَقَعَ عُصْفُورٌ عَلَى حَرْفِ السَّفِينَةِ فَغَمَسَ مِنْقَارَهُ فِي الْبَحْرِ، فَقَالَ الْخَضِرُ لِمُوسَى: مَا عِلْمُكَ وَعِلْمِي وَعِلْمُ الْخَلَائِقِ فِي عِلْمِ اللَّهِ إِلَّا مِقْدَارَ مَا غَمَسَ هَذَا الْعُصْفُورُ مِنْقَارَهُ» وَفِي رِوَايَةٍ: إِلَّا مِثْلَ مَا نَقَصَ هَذَا الْعُصْفُورُ مِنْ هَذَا الْبَحْرِ.

“Wahai Musa, sungguh engkau mengetahui sesuatu dari ilmu Allah yang Dia ajarkan kepadamu dan aku tidak mengetahuinya, dan aku juga mengetahui sesuatu dari ilmu Allah yang Dia ajarkan kepadaku dan engkau tidak mengetahuinya.” Sampai ia berkata: “Lalu mereka berdua menaiki kapal. Lalu hinggaplah seekor burung kecil di ujung kapal tersebut, lalu membenamkan paruhnya di lahut. Khadhir pun berkata kepada Musa: Tidaklah ilmumu dan ilmuku serta ilmu seluruh makhluk di sisi ilmu Allah melainkan seukuran benaman paruh burung kecil ini.” Dalam riwayat lain: “..Melainkan seperti apa yang diseruput oleh burung kecil ini dari lautan ini.”[5]

Di dalam Shahîhain juga, dari Ibnu `Umar RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda:

مَفَاتِيحُ الْغَيْبِ خَمْسٌ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا اللَّهُ: لَا يَعْلَمُ مَا فِي غَدٍ إِلَّا اللَّهُ، وَلَا يَعْلَمُ مَا تَغِيضُ الْأَرْحَامُ إِلَّا اللَّهُ، وَلَا يَعْلَمُ مَتَى يَأْتِي الْمَطَرُ أَحَدٌ إِلَّا اللَّهُ، وَلَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ، وَلَا يَعْلَمُ مَتَى تَقُومُ السَّاعَةُ إِلَّا اللَّهُ».

“Kunci-kunci keghaiban itu ada lima, tiada yang mengetahuinya kecuali Allah: Tiada yang mengetahui apa yang akan terjadi esok hari kecuali Allah, tiada yang mengetahui apa yang dikandung oleh rahim kecuali Allah, tiada yang mengetahui kapan akan terjadi hujan kecuali Allah, tiada seorangpun jiwa yang mengetahui di bumi manakah ia akan mati, dan tiada yang mengetahui kapan akan terjadi hari Kiamat kecuali Allah.”[6]

Di dalam Shahîhain juga, dari Abû Mûsâ Al-Asy`ary:

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي خَطِيئَتِي وَجَهْلِي، وَإِسْرَافِي فِي أَمْرِي، وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي.

“Ya Allah, ampunilah kesalahanku, kebodohanku dan sikap berlebihanku dalam urusanku serta apa-apa yang Engkau lebih tahu daripadaku.”[7] Dan hadis-hadis lainnya.

Selain itu, Allah Ta’alaa juga mengabarkan bahwa ilmu-Nya meliputi segala yang telah terjadi, dan yang akan terjadi, bahkan perkara-perkara mungkin dan mustahil yang tidak terjadi seandainya terjadi bagaimana hal itu akan terjadi. Dia berfirman tentang perkara mungkin (yang tidak terjadi) seandainya ia terjadi:

وَلَوْ جَعَلْنٰهُ مَلَكًا لَّجَعَلْنٰهُ رَجُلًا وَّلَلَبَسْنٰهُ مَا يَلْبِسُوْنَ

“Dan jikalau Kami jadikan rasul itu malaikat, tentulah Kami jadikan dia seorang laki-laki dan (kalau Kami jadikan ia seorang laki-laki), tentulah Kami meragu-ragukan atas mereka apa yang mereka ragu-ragukan atas diri mereka sendiri.” [QS. Al-An`âm: 9], dan berfirman:

وَلَوۡ جَعَلۡنٰهُ قُرۡاٰنًا اَعۡجَمِيًّا لَّقَالُوۡا لَوۡلَا فُصِّلَتۡ اٰيٰتُهٗ ؕ ءَؔاَعۡجَمِىٌّ وَّعَرَبِىٌّ​ قُلۡ هُوَ لِلَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا هُدًى وَشِفَآءٌ​ وَ الَّذِيۡنَ لَا يُؤۡمِنُوۡنَ فِىۡۤ اٰذَانِهِمۡ وَقۡرٌ وَّهُوَ عَلَيۡهِمۡ عَمًى​ ؕ اُولٰٓٮِٕكَ يُنَادَوۡنَ مِنۡ مَّكَانٍۢ بَعِيۡدٍ‏

“Dan jikalau Kami jadikan Al-Quran itu suatu bacaan dalam bahasa selain Arab, tentulah mereka mengatakan: ‘Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya?’ Apakah (patut Al Quran) dalam bahasa asing sedang (rasul adalah orang) Arab?” [QS. Fushshilat: 44], dan berfirman:

وَأَقْسَمُوا بِاللَّهِ جَهْدَ أَيْمَانِهِمْ لَئِنْ جَاءَتْهُمْ آيَةٌ لَيُؤْمِنُنَّ بِهَا ۗ قُلْ إِنَّمَا الْآيَاتُ عِنْدَ اللَّهِ ۖ وَمَا يُشْعِرُكُمْ أَنَّهَا إِذَا جَاءَتْ لَا يُؤْمِنُونَ وَنُقَلِّبُ أَفْئِدَتَهُمْ وَأَبْصَارَهُمْ كَمَا لَمْ يُؤْمِنُوا بِهِ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَنَذَرُهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ

“Mereka bersumpah dengan nama Allah dengan segala kesungguhan, bahwa sungguh jika datang kepada mereka sesuatu mukjizat pastilah mereka beriman kepada-Nya. Katakanlah: ‘Sungguh mukjizat-mukjizat itu hanya berada di sisi Allah.’ Dan apakah yang memberitahukan kepadamu bahwa apabila mukjizat datang mereka tidak akan beriman. Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (Al Quran) pada permulaannya, dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat.” [QS. Al-An`âm: 109-110], dan berfirman:

وَلَوْ نَزَّلْنَاهُ عَلَىٰ بَعْضِ الْأَعْجَمِينَ مَا كَانُوا بِهِ مُؤْمِنِينَ

“Dan kalaulah Al-Quran itu Kami turunkan kepada salah seorang dari golongan bukan Arab. Lalu ia membacakannya kepada mereka (orang-orang kafir); niscaya mereka tidak akan beriman kepadanya.” [QS. Asy-Syu`arâ’: 198-199], dan berfirman:

لَوْ كَانَ فِيهِمَا آلِهَةٌ إِلَّا اللَّهُ لَفَسَدَتَا ۚ فَسُبْحَانَ اللَّهِ رَبِّ الْعَرْشِ عَمَّا يَصِفُونَ

“Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai `Arsy daripada apa yang mereka sifatkan.” [QS. Al-Anbiyâ’: 22], dan berfirman: “Dan orang-orang yang memelihara shalatnya.” [QS. Al-Mu’minûn: 91], dan berfirman: “Katakanlah:  

قُلْ لَوْ كَانَ مَعَهُ آلِهَةٌ كَمَا يَقُولُونَ إِذًا لَابْتَغَوْا إِلَىٰ ذِي الْعَرْشِ سَبِيلًا  سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يَقُولُونَ عُلُوًّا كَبِيرًا

‘Jikalau ada tuhan-tuhan di samping-Nya, sebagaimana yang mereka katakan, niscaya tuhan-tuhan itu mencari jalan kepada Tuhan yang mempunyai `Arsy.’  Mahasuci dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka katakan dengan ketinggian yang sebesar-besarnya.” [QS. Al-Isrâ’: 42-43], dan ayat-ayat lainnya.

Sekte Jahmiyyah dan Muktazilah mengingkari sifat ilmu Allah yang Dia sandarkan pada Diri-Nya seperti menyandarkan sifat kepada pemiliknya. Mereka mengingkari bahwa Allah menurunkan Al-Quran dengan ilmu-Nya, mengingkari bahwa seorang perempuan tidaklah ia hamil atau melahirkan kecuali Allah mengetahuinya, mengingkari bahwa ilmu Allah meliputi segala sesuatu. Mereka menentang ayat-ayat Al-Quran dan Sunnah serta seluruh generasi salaf Umat. Sesembahan mereka bukanlah Tuhan yang Maha Mengetahui segala sesuatu. Mereka sejatinya menyembah “ketiadaan” yang tidak ada hakikatnya, tidak ada wujudnya. Silahkan saja mereka menyifati Allah sekehendak mereka. Sungguh sesatlah orang-orang yang zalim itu.

Dialah Dzat yang Mahakaya, Mahasucilah Dia

Agunglah pujian-Nya dan tinggilah keadaan-Nya

Rezeki segala makhluk adalah tanggungan-Nya

Dan semua kita sangat butuh kepada-Nya

 (Dialah Dzat yang Mahakaya) bagi-Nya kekayaan mutlak, Dia tiada membutuhkan sesuatu apapun (Mahasucilah Dia) dan dengan segala puji bagi-Nya, mahasuci dan maha terpujilah Dia. (Agunglah pujian-Nya dan tinggilah keadaan-Nya) dengan segenap pengagungan dan kejayaan yang hanya milik-Nya. (Rezeki segala makhluk adalah tanggungan-Nya) tiada pemberi rezeki bagi makhluk selain Dia. Makhluk tiada mampu memberi mudarat ataupun manfaat bagi dirinya, kecuali apa yang dikehendaki oleh Allah. (Dan semua kita) segenap makhluk(sangat butuh kepada-Nya), tiadalah kita terlepas dari sifat butuh kepada-Nya walau sekejap mata.

Sebagaimana halnya eksistensi seluruh makhluk butuh kepada-Nya, tiada wujud bagi makhluk kecuali dengan izin-Nya, demikianlah pula mereka butuh kepada-Nya dalam segala urusan mereka. Tiada tegak urusan makhluk kecuali dengan-Nya, tiada gerak maupun diam kecuali dengan izin-Nya. Dialah Yang Mahahidup dan Maha Mengatur, Yang Berdiri Sendiri, tidak butuh kepada sesuatu apapun. Dialah yang mengatur yang lain, tiada tegak urusan yang lain kecuali oleh-Nya. Bagi Sang Penciptalah kekayaan dan kesempurnaan yang mutlak, dan bagi makhluk adalah kefakiran yang mutlak kepada Allah. Allah TA’ALAA berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ أَنتُمُ ٱلْفُقَرَآءُ إِلَى ٱللَّهِ ۖ وَٱللَّهُ هُوَ ٱلْغَنِيُّ ٱلْحَمِيدُ إِن يَشَأْ يُذْهِبْكُمْ وَيَأْتِ بِخَلْقٍ جَدِيدٍ وَمَا ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ بِعَزِيزٍ

“Hai manusia, kalianlah yang fakir kepada Allah; dan Allah Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji. Jika Dia menghendaki, niscaya Dia memusnahkan kalian dan mendatangkan makhluk yang baru (untuk menggantikan kalian). Dan yang demikian itu sekali-kali tidak sulit bagi Allah.” [QS. Fâthir: 15-17], dan berfirman:

أَلَمْ يَأْتِكُمْ نَبَؤُا۟ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ مِن قَبْلُ فَذَاقُوا۟ وَبَالَ أَمْرِهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ ذٰ لِكَ بِاَنَّهٗ كَانَتۡ تَّاۡتِيۡهِمۡ رُسُلُهُمۡ بِالۡبَيِّنٰتِ فَقَالُوۡۤا اَبَشَرٌ يَّهۡدُوۡنَـنَا فَكَفَرُوۡا وَتَوَلَّوْا​ وَّاسۡتَغۡنَى اللّٰهُ​ ؕ وَاللّٰهُ غَنِىٌّ حَمِيۡدٌ‏

“Apakah belum datang kepada kalian (hai orang-orang kafir) berita orang-orang kafir terdahulu. Maka mereka telah merasakan akibat yang buruk dari perbuatan mereka dan mereka memperoleh azab yang pedih. Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka membawa keterangan-keterangan lalu mereka berkata: ‘Apakah manusia yang akan memberi petunjuk kepada kami?’ lalu mereka ingkar dan berpaling; dan Allah tidak memerlukan (mereka). Dan Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” [QS. At-Taghâbun: 5-6], dan berfirman:

لَهُۥ مَا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلْأَرْضِ ۗ وَإِنَّ ٱللَّهَ لَهُوَ ٱلْغَنِىُّ ٱلْحَمِيدُ

“Kepunyaan Allah-lah segala yang ada di langit dan segala yang ada di bumi. Dan sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” [QS. Al-Hajj: 64], dan berfirman: “Katakanlah: ‘Apakah akan aku jadikan pelindung selain dari Allah yang menjadikan langit dan bumi, padahal Dia memberi makan dan tidak memberi makan?” [QS. Al-An`âm: 14], dan berfirman: “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan. Sungguh Allah Dialah Maha Pemberi rezeki Yang mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.” [QS. Adz-Dzâriyât: 56-58], dan berfirman: “Dan kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan yang di bumi, dan sungguh Kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kalian dan (juga) kepada kalian; bertakwalah kepada Allah. Tetapi jika kalian kafir maka (ketahuilah), sesungguhnya apa yang di langit dan apa yang di bumi hanyalah kepunyaan Allah dan Allah Maha Kaya dan Maha Terpuji.” [QS. An-Nisâ’: 131]. Dan berfirman, membantah perkataan orang-orang Yahudi: “Sungguh Allah telah mendengar perkatan orang-orang yang mengatakan: ‘Sesunguhnya Allah itu miskin dan kami kaya’.” [QS. Âli `Imrân: 180], dan berfirman membantah perkataan mereka juga: “Orang-orang Yahudi berkata: ‘Tangan Allah terbelenggu’, sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu dan merekalah yang dilaknat disebabkan apa yang telah mereka katakan itu. (Tidak demikian), tetapi kedua-dua tangan Allah terbuka; Dia menafkahkan sebagaimana Dia kehendaki…” [QS. Al-Mâ’idah: 64]. Dan berfirman membantah orang-orang munafik: “Mereka orang-orang yang mengatakan (kepada orang-orang Anshar): ‘Janganlah kalian memberikan perbelanjaan kepada orang-orang (Muhajirin) yang ada di sisi Rasulullah supaya mereka bubar (meninggalkan Rasulullah)’. Padahal kepunyaan Allah-lah perbendaharaan langit dan bumi, tetapi orang-orang munafik itu tidak memahami.” [QS. Al-Munâfiqûn: 7]. Dan berfirman: “Katakanlah: ‘Kalau seandainya kalian menguasai perbendaharaan rahmat Tuhanku, niscaya perbendaharaan itu kalian tahan, karena takut membelanjakannya.’ Dan adalah manusia itu sangat kikir.” [QS. Al-Isra’: 100].

Ayat-ayat seputar sifat ini sangat banyak. Allah Ta’alaa mengabarkan tentang kesempurnaan sifat mahakaya-Nya (ketidakbutuhan-Nya) terhadap makhluk-Nya. Dan bahwa ketaatan hamba yang taat tidak menambah kekayaan-Nya sebagaimana maksiat hamba yang bermaksiat tidak akan mengurangi kemahakayaan-Nya; dan bahwa Dia tidak menciptakan makhluk lantaran butuh kepada mereka. Kalaulah berkehendak, Dia tidak akan menciptakan mereka, dan kalaulah berkehendak, Dia juga berkuasa memusnakan mereka, dan mengganti mereka dengan ciptaan yang lain. Dia mengabarkan bahwa seluruh makhluk sangat fakir terhadap-Nya. Mereka tidak terlepas dari (karunia)-Nya, bahkan dalam setiap nafas mereka, dan merekapun menyadari hal ini pada diri mereka. Bahwa mereka tidak mungkin terwujud sampai Dia menciptakan mereka. Mereka tidak memiliki kuasa atas apapun pada diri mereka ataupun makhluk yang lain kecuali sebatas kemampuan yang Dia berikan kepada mereka. Dialah Yang Mahakaya lagi Maha Terpuji, yang melakukan apa saja yang Dia kehendaki.

Allah Ta’alaa berfirman sebagaimana yang rasul-Nya, Muahammad SAW riwayatkan dari-Nya:

يَا عِبَادِي، إِنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِي، وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا، فَلَا تَظَالَمُوا. يَا عِبَادِي، كُلُّكُمْ ضَالٌّ إِلَّا مَنْ هَدَيْتُهُ، فَاسْتَهْدُونِي أَهْدِكُمْ. يَا عِبَادِي، كُلُّكُمْ جَائِعٌ إِلَّا مَنْ أَطْعَمْتُهُ، فَاسْتَطْعِمُونِي أُطْعِمْكُمْ. يَا عِبَادِي، كُلُّكُمْ عَارٍ إِلَّا مَنْ كَسَوْتُهُ، فَاسْتَكْسُونِي أَكْسُكُمْ. يَا عِبَادِي، إِنَّكُمْ تُخْطِئُونَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ، وَأَنَا أَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا، فَاسْتَغْفِرُونِي أَغْفِرْ لَكُمْ. يَا عِبَادِي، إِنَّكُمْ لَنْ تَبْلُغُوا ضُرِّي فَتَضُرُّونِي، وَلَنْ تَبْلُغُوا نَفْعِي فَتَنْفَعُونِي. يَا عِبَادِي، لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ، وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ، كَانُوا عَلَى أَتْقَى قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ، مَا زَادَ ذَلِكَ فِي مُلْكِي شَيْئًا. يَا عِبَادِي، لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ، وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ، كَانُوا عَلَى أَفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ، مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِي شَيْئًا. يَا عِبَادِي، لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ، وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ، قَامُوا فِي صَعِيدٍ وَاحِدٍ فَسَأَلُونِي، فَأَعْطَيْتُ كُلَّ إِنْسَانٍ مَسْأَلَتَهُ، مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِمَّا عِنْدِي إِلَّا كَمَا يَنْقُصُ الْمِخْيَطُ إِذَا أُدْخِلَ الْبَحْرَ. يَا عِبَادِي، لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ، وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ، وَمَيِّتَكُمْ وَحَيَّكُمْ، وَرَطْبَكُمْ وَيَابِسَكُمْ، اجْتَمَعُوا عَلَى أَتْقَى قَلْبِ عَبْدٍ مِنْ عِبَادِي، مَا زَادَ ذَلِكَ فِي مُلْكِي جَنَاحَ بَعُوضَةٍ. يَا عِبَادِي، إِنَّمَا هِيَ أَعْمَالُكُمْ أُحْصِيهَا لَكُمْ، ثُمَّ أُوَفِّيكُمْ إِيَّاهَا، فَمَنْ وَجَدَ خَيْرًا فَلْيَحْمَدِ اللَّهَ، وَمَنْ وَجَدَ غَيْرَ ذَلِكَ فَلَا يَلُومَنَّ إِلَّا نَفْسَهُ.

“Wahai sekalian hamba-Ku, sungguh Aku telah haramkan kezaliman atas diri-Ku, dan aku jadikan ia haram di antara kalian, maka janganlah kalian saling menzalimi. Hai sekalian hamba-Ku, kalian semua adalah sesat kecuali siapa yang Aku beri hidayah, maka mintalah hidyah kepada-Ku niscaya Aku beri hidayah kepada kalian. Hai sekalian hamba-Ku, kalian semuanya telanjang kecuali siapa yang aku berikan kepadanya pakaian, maka mintalah pakaian kepada-Ku niscaya Aku berikan kalian pakaian. Wahai hamba-Ku kalian semuanya melakukan kesalahan pada malam dan siang hari dan Aku mengampuni dosa semuanya, maka mintalah ampun kepada-Ku niscaya akan Aku ampuni. Hai sekalian hamba-Ku sungguh tidak ada kemudharatan yang dapat kalian lakukan kepada-Ku sebagaimana tidak ada kemanfaatan yang kalian berikan kepada-Ku. Hai seklaian hamba-Ku seandainya sejak orang pertama di antara kalian sampai orang terakhir, dari kalangan manusia dan jin, semuanya berada dalam tingkatan seorang yang paling bertakwa di antara kalian, niscaya hal itu tidak menambah kerajaan-Ku sedikitpun. Hai sekalian hamba-Ku seandainya sejak orang pertama di antara kalian sampai orang terakhir, dari golongan manusia dan jin di, semuanya seperti orang yang paling durhaka diantara kalian, niscaya hal itu tidak mengurangi kerajaan-Ku sedikitpun juga. Hai sekalian hamba-Ku, seandainya sejak orang pertama di antara kalian sampai orang terakhir semunya berdiri di sebuah bukit lalu kalian meminta kepada-Ku, lalu setiap orang yang meminta Aku penuhi, niscaya hal itu tidak mengurangi perbendharaan yang ada pada-Ku kecuali seperti yang dikurangi oleh jarum yang dicelupkan di tengah lautan. Hai sekalian hamba-Ku, seandainya sejak orang pertama di antara kalian sampai orang terakhir, yang hidup maupun yang mati, yang basah maupun yang kering, mereka semua seperti hati seorang hamba-Ku yang paling bertakwa, niscaya hal itu tidak akan menambahkan pada kekuasaan-Ku meski seberat sayap nyamuk. Hai sekalian hamba-Ku, sesungguhnya semua perbuatan kalian Aku perhitungkan untuk kalian, kemudian Aku penuhi balasannya. Maka siapa yang mendapatkan kebaikan hendaklah ia bersyukur kepada Allah dan siapa yang mendapatkan selain itu janganlah mencela selain dirinya sendiri.” Diriwayatkan oleh Muslim, dari Abu Dzar, dari Nabi SAW, dari Tuhan-Nya.[8]

Dalam riwayat At-Tirmidzi: “Allah `Azza wa Jalla berfirman:

يَا عِبَادِي، كُلُّكُمْ ضَالٌّ إِلَّا مَنْ هَدَيْتُ، فَسَلُونِي الْهُدَى أَهْدِكُمْ، وَكُلُّكُمْ فَقِيرٌ إِلَّا مَنْ أَغْنَيْتُ، فَسَلُونِي أَرْزُقْكُمْ، وَكُلُّكُمْ مُذْنِبٌ إِلَّا مَنْ عَافَيْتُ، فَمَنْ عَلِمَ مِنْكُمْ أَنِّي ذُو قُدْرَةٍ عَلَى الْمَغْفِرَةِ فَاسْتَغْفَرَنِي غَفَرْتُ لَهُ وَلَا أُبَالِي. وَلَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَحَيَّكُمْ وَمَيِّتَكُمْ وَرَطْبَكُمْ وَيَابِسَكُمْ اجْتَمَعُوا عَلَى أَشْقَى قَلْبِ عَبْدٍ مِنْ عِبَادِي مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِي جَنَاحَ بَعُوضَةٍ. وَلَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَحَيَّكُمْ وَمَيِّتَكُمْ وَرَطْبَكُمْ وَيَابِسَكُمْ اجْتَمَعُوا فِي صَعِيدٍ وَاحِدٍ فَسَأَلَ كُلُّ إِنْسَانٍ مِنْكُمْ مَا بَلَغَ أُمْنِيَّتَهُ فَأَعْطَيْتُ كُلَّ سَائِلٍ مِنْكُمْ مَا سَأَلَ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِي إِلَّا كَمَا لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ مَرَّ بِالْبَحْرِ فَغَمَسَ فِيهِ إِبْرَةً ثُمَّ رَفَعَهَا إِلَيْهِ.ذَلِكَ بِأَنِّي جَوَادٌ وَاجِدٌ، أَفْعَلُ مَا أُرِيدُ، عَطَائِي كَلَامٌ وَعَذَابِي كَلَامٌ، إِنَّمَا أَمْرِي لِشَيْءٍ إِذَا أَرَدْتُهُ أَنْ أَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

“Wahai hamba-hamba-Ku, semua kalian adalah tersesat kecuali yang Aku beri hidayah, maka mohonlah hidayah kepada-Ku niscaya Aku akan memberi kalian hidayah. Dan seluruh kalian adalah fakir kecuali yang Aku berikan kecukupan, maka mintalah rezeki kepada-Ku niscaya Aku akan memberi kalian rezeki. Dan seluruh kalian adalah melakukan dosa kecuali yang Aku berikan keafiatan, maka siapa di antara kalian yang mengetahui bahwa Aku Mahakuasa memberi ampun lalu memohon ampunan kepada-Ku maka Aku ampuni ia dan Aku tidak peduli (terhadap dosa-dosa itu). Seandainya sejak orang pertama di antara kalian sampai orang terakhir, dari kalangan yang hidup maupun yang mati, yang basah maupun yang kering, hati mereka semua seperti hati salah seorang hamba-Ku yang paling buruk, niscaya hal itu tidak mengurangi kerajaan-Ku sedikitpun meskipun seberat sayap nyamuk. Seandainya sejak orang pertama di antara kalian sampai orang terakhir, dari kalangan yang hidup maupun yang mati, yang basah maupun yang kering, mereka semua berkumpul di sebuah bukit, lalu setiap orang dari kalian meminta sepenuh apa yang ada dalam angan-angannya, lalu Aku penuhi permintaan setiap orang yang meminta, niscaya hal itu tidak akan mengurangi kepunyaan-Ku sedikitpun kecuali seperti salah seorang dari kalian lewat di sebuah lautan lalu ia mencelupkan jarum ke dalamnya kemudian mengangkatnya. Hal itu karena Aku adalah Sang Maha Pemberi, Yang Maha Memiliki dan Maha Mulia, Aku melakukan apa saja yang Aku kehendaki. Pemberian-Ku adalah sekedar ucapan, dan azab-Ku pun sekedar ucapan. Sesungguhnya perintah-Ku terhadap sesuatu jika Aku menghendakinya hanyalah Aku mengatakan: Jadi! maka jadilah ia.”[9]

Di dalam Shahîhain, diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, dari Nabi SAW, beliau bersabda:

يَدُ اللَّهِ مَلْأَى لَا تَغِيضُهَا نَفَقَةٌ، سَحَّاءُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ، أَرَأَيْتُمْ مَا أَنْفَقَ رَبُّكُمْ مُنْذُ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ، فَإِنَّهُ لَمْ يَغِضْ مَا فِي يَمِينِهِ.

“Tangan Allah selalu penuh, tidak berkurang (karunia-Nya) oleh karena pemberian(Nya). Dia senantiasa memberi sepanjang malam dan siang. Tahukan kalian seberapa banyak yang telah Tuhan kalian berikan sejak ia menciptakan langit dan bumi?! Sungguh tidak berkurang karunia yang ada di tangan kanan-Nya.”[10]

Abû Dâwûd juga meriwayatkan sebuah hadis dengan sanad jayyid, dari `Âisyah RA, tentang shalat Istisqâ’, bahwa Rasulullah Saw. bersabda:

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ، مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ يَفْعَلُ مَا يُرِيدُ، اللَّهُمَّ أَنْتَ اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَنْتَ الْغَنِيُّ وَنَحْنُ الْفُقَرَاءُ، أَنْزِلْ عَلَيْنَا الْغَيْثَ، وَاجْعَلْ مَا أَنْزَلْتَ عَلَيْنَا قُوَّةً وَبَلَاغًا إِلَى حِينٍ.

“Segala puji hanya milik Allah. Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Penguasa Hari Pembalasan. Tiada Ilah selain Allah, Dia melakukan apa saja yang Dia kehendaki. Ya Allah, Engkaulah Allah, tiada Ilah selain Engkau. Engkaulah Yang Mahakaya dan kami fakir kepada-Mu. Turunkanlah hujan untuk kami, dan jadikanlah apa yang Engkau turunkan kepada kami sebagai kekuatan dan kemampuan sampai waktunya (yang telah ditentukan).”[11]

Dalam beberapa riwayat Isrâ’îliyyât disebutkan bahwa Allah Ta’alaa berfirman: “Apakah dimohon (pertolongan) kepada selain-Ku dalam musibah, padahal musibah itu berada di tangan-Ku?! Apakah diharapkan (pemberian) kepada selain-Ku dan diketuk pintunya di setiap pagi, padahal di tangan-Ku lah kunci-kunci perbendaharaan, dan pintu-ku selalu terbuka bagi siapa yang memohon kepada-Ku?! Padahal siapakah yang pernah memohon (pertolongan) kepada-Ku dalam sebuah musibah lantas aku memutus permohonannya? Atau siapakah yang pernah berharap (karunia) kepada-Ku lantas aku memutus harapannya? Atau siapakah yang pernah mengetuk pintu-Ku lantas aku tidak membukakan untuknya? Akulah puncak cita-cita, bagaimana mungkin cita-cita akan terputus dari-Ku. Bakhilkah Aku sehingga hamba-Ku bakhil (memohon) kepada-Ku? Bukankah dunia dan akhirat, kedermawanan dan karunia, seluruhnya adalah milik-Ku? Lantas apakah yang menghalangi para pengharap untuk berharap kepada-Ku? Kalaulah seluruh penduduk langit dan bumi Aku kumpulkan, kemudian Aku berikan kepada setiap orang dari mereka apa yang Ku berikan kepada seluruh mereka, dan Aku capaikan setiap orang dari mereka segala cita-citanya, sungguh hal itu tidak mengurangi kekuasaan-Ku meski sebesar kaki semut! Bagaimana mungkin akan berkurang kekuasaan yang Akulah pengaturnya?! Maka, sungguh malang orang-orang yang berputus asa dari rahmat-Ku. Dan sungguh malang orang-orang yang bermaksiat kepada-Ku dan berani melanggar hal-hal Aku haramkan.”

Disebutkan pula dalam sebagian redaksi hadis nuzûl (hadis turunnya Allah ke langit terdekat):

مَنْ يُقْرِضُ غَيْرَ عَدِيمٍ وَلَا ظَلُومٍ

“Siapakah yang mau memberi pinjaman (ketaatan) kepada Sang Mahakaya (yang tiada kekurangan untuk mengembalikan pinjaman) dan tiada zalim (tiada menunda mengembalikan pinjaman/ membalas ketaatan).”[12]

Hadis-hadis seputar hal ini (kekayaan Allah Ta’alaa) sangat banyak sekali. Kalaulah kami hendak menelusuri keseluruhannya tentu saja akan terlalu panjang. Oleh karena itu, apa yang telah kami sebutkan sudah cukup mewakili. Mahasuci Allah yang kekayaan-Nya meliputi seluruh makhluknya, dan segenap makhluk senantiasa butuh kepada-Nya, dan Dia Mahakaya dari segala sesuatu. “Barangsiapa bersyukur maka ia telah bersyukur untuk dirinya, dan barangsiapa kufur (terhadap nikmat) maka sesungguhnya Allah Mahakaya lagi Maha Terpuji.” [QS. Luqmân: 12].

Kalâm Allah ‘Azza wa Jalla

Dia berbicara langsung dengan Musa, hamba-Nya

Dan Dia senantiasa maha mengetahui makhluk-Nya

Yakni, diantara yang Tuhan kita tetapkan untuk diri-Nya dan ditetapkan pula oleh Rasul-Nya, bahwa Dia berbicara secara langsung kepada hamba dan rasul-Nya, Musa bin `Imrân, tanpa perantara rasul antara Dia dan Musa. Melainkan memperdengarkan secara langsung kalam-Nya yang merupakan sifat-Nya yang selayaknya bagi Dzat-Nya, dengan cara yang Dia kehendaki dan inginkan. Allah Ta’alaa berfirman di dalam surat Al-Baqarah: “Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian (dari) mereka atas sebagian yang lain. Di antara mereka ada yang Allah berbicara (langsung dengan dia) dan sebagian lagi Allah meninggikan mereka beberapa derajat.” [QS. Al-Baqarah: 253]. Dia juga berfirman dalam surat An-Nisâ’: “Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung.” [QS. An-Nisâ’: 164]. Ungkapan “dengan langsung” adalah untuk memberikan penekanan makna dan penjelasan.

Allah Ta’alaa juga berfirman dalam surat Al-A`raf: “Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhannya telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: ‘Ya Tuhanku, tampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau.’ Tuhan berfirman: ‘Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke gunung itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku.’ Lalu tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, ia berkata: ‘Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman’.

Allah berfirman: ‘Hai Musa, sungguh Aku memilih kamu (sebagai rasul) untuk manusia (di masamu) untuk membawa risalah-Ku dan untuk berbicara langsung dengan-Ku, sebab itu berpegang teguhlah kepada apa yang Aku berikan kepadamu dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur.’

Dan telah Kami tuliskan untuk Musa pada luh-luh (Taurat) segala sesuatu sebagai pelajaran dan penjelasan bagi segala sesuatu; maka (Kami berfirman): ‘Berpeganglah kepadanya dengan teguh dan suruhlah kaummu berpegang kepada (perintah-perintahnya) dengan sebaik-baiknya, nanti Aku akan memperlihatkan kepadamu negeri orang-orang yang fasik.” [QS. Al-A`râf: 143-145].

Dia juga berfirman dalam surat Maryam: “Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka), kisah Musa di dalam Al-Kitab (Al Quran) ini. Sungguh ia adalah seorang yang dipilih dan seorang rasul dan nabi. Dan Kami telah memanggilnya dari sebelah kanan gunung Thur dan Kami telah mendekatkannya kepada Kami di waktu dia munajat (kepada Kami). Dan Kami telah menganugerahkan kepadanya sebagian rahmat Kami, yaitu saudaranya, Harun menjadi seorang nabi.” [QS. Maryam: 51-53].

Dan berfirman dalam surat Thâhâ: “Apakah telah sampai kepadamu kisah Musa? Ketika ia melihat api, lalu berkatalah ia kepada keluarganya: ‘Tinggallah kalian (di sini), sungguh aku melihat api, mudah-mudahan aku dapat membawa sedikit daripadanya kepadamu atau aku akan mendapat petunjuk di tempat api itu.’ Maka ketika ia datang ke tempat api itu ia dipanggil: ‘Hai Musa. Sungguh Aku inilah Tuhanmu, maka tanggalkanlah kedua terompahmu; sungguh kamu berada di lembah yang suci, Thuwâ. Dan Aku telah memilih kamu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu).  Sungguh Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku. Segungguhnya hari kiamat itu akan datang Aku merahasiakan (waktunya) agar supaya tiap-tiap diri itu dibalas dengan apa yang ia usahakan. Maka janganlah sekali-kali kamu dipalingkan daripadanya oleh orang yang tidak beriman kepadanya dan oleh orang yang mengikuti hawa nafsunya, yang menyebabkan kamu jadi binasa. Dan apakah itu yang di tangan kananmu itu, hai Musa?—Hingga firman-Nya—‘Lemparkanlah ia, hai Musa!’—dan firman-Nya—‘Peganglah ia dan jangan takut, Kami akan mengembalikan ia kepada keadaannya semula.” [QS. Thâhâ: 9-21], dan seterusnya.

Allah TA’ALAA juga berfirman dalam surat An-Naml: “ (Ingatlah) ketika Musa berkata kepada keluarganya: ‘Sungguh aku melihat api. Aku nanti akan membawa kepada kalian khabar daripadanya, atau aku membawa kepada kalian suluh api supaya kalian dapat berdiang’.   Maka tatkala ia tiba di (tempat) api itu, diserulah ia: ‘Bahwa telah diberkati orang-orang yang berada di dekat api itu, dan orang-orang yang berada di sekitarnya. Dan Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam’. (Allah berfirman): ‘Hai Musa, sungguh, Akulah Allah, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Dan lemparkanlah tongkatmu’. Maka tatkala Musa melihatnya bergerak-gerak seperti seekor ular yang gesit, larilah ia berbalik ke belakang tanpa menoleh. ‘Hai Musa, janganlah kamu takut. Sungguh orang yang dijadikan rasul, tidak takut di hadapan-Ku. Kecuali orang yang berlaku zalim, kemudian ditukarnya kezalimannya dengan kebaikan (Allah akan mengampuninya); maka sungguh Aku Maha Pangampun lagi Maha Penyayang. Dan masukkanlah tanganmu ke leher bajumu, niscaya ia akan ke luar putih (bersinar) bukan karena penyakit. (Kedua mukjizat ini) termasuk sembilan buah mukjizat (yang akan dikemukakan) kepada Fir’aun dan kaumnya..” [QS. An-Naml: 7-12].

Dalam surat Al-Qashash, Allah Ta’alaa berfirman: “Maka tatkala Musa telah menyelesaikan waktu yang ditentukan dan dia berangkat dengan keluarganya, dilihatnyalah api di lereng gunung ia berkata kepada keluarganya: ‘Tunggulah (di sini), sungguh aku melihat api mudah-mudahan aku dapat membawa suatu berita kepadamu dari (tempat) api itu atau (membawa) sesuluh api, agar kamu dapat menghangatkan badan.’

Maka tatkala Musa sampai ke (tempat) api itu, diserulah dia dari (arah) pinggir lembah yang sebelah kanan(nya) pada tempat yang diberkahi, dari sebatang pohon kayu, yaitu: ‘Ya Musa, sesungguhnya Aku adalah Allah, Tuhan semesta alam. Dan lemparkanlah tongkatmu. Maka tatkala (tongkat itu menjadi ular dan) Musa melihatnya bergerak-gerak seolah-olah dia seekor ular yang gesit, larilah ia berbalik ke belakang tanpa menoleh. (Kemudian Musa diseru): ‘Hai Musa datanglah kepada-Ku dan janganlah kamu takut. Sungguh kamu termasuk orang-orang yang aman. Masukkanlah tanganmu ke saku bajumu, niscaya ia keluar putih tidak bercacat bukan karena penyakit, dan dekapkanlah kedua tanganmu (ke dada)mu bila ketakutan, maka yang demikian itu adalah dua mukjizat dari Tuhanmu (yang akan kamu hadapkan kepada Fir`aun dan pembesar-pembesarnya). Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang fasik.” [QS. Al-Qashash: 29-32]. Dan Al-Quran penuh dengan ayat-ayat seperti ini.


[1] Telah disebutkan sebelumnya.

[2] Sahih Al-Bukhâri (2/33), dalam kitab Mawâqît ash-Shalâh, Bab: Fadhlu Shalât al-`Ashr; dan Sahih Muslim (1/439/no.632), dalam Kitab Al-Masâjid, Bâb: Fadhl Shalâtai Ash-Shubh wa al-`Ashr wa al-muhâfazhah `alaihâ.”

[3] Telah disebutkan sebelumnya.

[4] Sahih Al-Bukhâri (6/514-515) dalam Kitab Ahâdîts Al-Anbiyâ’, Bab: 54. (Min Ahâdîts Banî Isrâ’îl; dan Sahih Muslim(4/2109-2110/no. 2756), dalam Kitab At-Taubah, Bab: Fî Sa`ati rahmatillâh wa annahâ sabaqat ghadhabah.

[5] Sahih Al-Bukhâri (1/217-218) dalam Kitab Al-`Ilm, Bâb: Mâ yustahabbu lil `âlim idza su’ila ayyunnâsi a`lam fayakilu al-`ilma ilâ Allâh. Dan juga dalam Tafsîr Surat Al-Kahf, Bâb: (Wa idz qâla mûsâ li fatâhu lâ abrahu hattâ ablugha majma`al bahrain), dan Bâb: (Falammâ balaghâ majma`a bainihimâ);  danjuga dalam Sahih Muslim(4/1847/no. 2380), dalam Kitab Al-Fadhâ’il, Bab: Fî Fadhl Al-Khadhir `alihissalâm.

[6] Diriwayatkan oleh Al-Bukhâri saja, tidak oleh Muslim. Sahih Al-Bukhâri (8/515-516) dalam Tafsîr Sûrat Luqmân, Bâb qaulihi: (Innallâh `indahû `ilmussâ`ah); dan dalam Al-Istisqâ’, Bâb: Lâ yadrî matâ yajî’u al-matharu illallâh; dan di dalam Tafsîr Surat Ar-Ra`d, Bâb: (Allâhu ya`lamu mâ tahmilu kullu untsâ); dan dalam Kitâb At-Tauhîd, Bâb: qaulullâhi ta`âla: (`Âlimul ghaibi falâ yuzhiru `alâ ghaibihi ahadan). Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ahmad (2/23, 52, 58, 122).

[7] Sahih Al-Bukhâri (11/196-197) dalam Kitâb Ad-Da`awât, Bâb Qaul An-Nabi SAW: Allâhummagfirlî mâ qaddamtu wamâ akhkhartu. Dan Sahih Muslim (4/2087/no.2719), dalam Kitab Adz-Dzikr wa Ad-Du`â’, Bâb: At-Ta`awwudz min syarri mâ `amila wa min syarri mâ lam ya`mal.

[8] Sahih Muslim (4/656/no. 2577), Kitab Al-Birr wa Ash-Shilah, Bâb: Tahrîm Azh-Zhulm.

[9] Sunan At-TIrmidzi (3/656/no.2495) dalam Sifat Al-Al-Qiyâmah, Bâb: Raqm 48. Dalam sanad hadis ini terdapat Syahr bin Hausyab dan Laits bin Abî Sulaim, dan ia adalah dha’if.

[10] Sahih Al-Bukhâri (8/352) dalam Kitâb Tafsir Surat Hud, Bâb: Qaulihi: “Wakâna `arsyuhû `ala al-mâ’”; dan dalam Kitâb An-Nafaqât dalam pembukaannya, dan dalam Kitab At-Tauhîd, Bâb: “Wakâna `arsyuhû `ala al-mâ’.”; dan Sahih Muslim (2/690-691/no.993), dalam Kitâb Az-Zakâh, Bâb: Al-Hatstsu `ala an-nafaqah wa tabsyîr al-munfiq bil khalaf. Dan redaksi riwayat Muslim berbunyi: “Yamînullâh (Tangan kanan Allah)…”

[11] Sunan Abû Dâwûd (1/304/no.1173), dalam Kitab Ash-Shalât, Bâb Raf`ul Yadaini fil Istisqâ’. Beliau berkata: “Ini adalah hadis gharîb, sanadnya jayyid.”

[12] Sahih Muslim (1/522/no.758), dalam Kitab Shalât al-Musâfirîn, Bâb: At-Targhîb fi ad-Du`â’ wa adz-Dzikr fî Âkhir al-Lail wa al-Ijâbah fîhi, no. (171).

Terjemahan Kitab AkidahAllahilmukalam

Navigasi pos

Previous post

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recent Posts

  • Perkataan Ulama Ahlussunnah Waljama`ah Terkait Sifat “ilmullah” (Pengetahuan Allah) dan Kekayaan serta Kalam-Nya
  • Perkataan Ulama Ahlussunnah Waljama`ah Terkait Sifat “Al-`Uluw” (Kemahatinggian Allah) (Bagian 5)
  • Perkataan Ulama Ahlussunnah Waljama`ah Terkait Sifat “Al-`Uluw” (Kemahatinggian Allah) (Bagian 4)
  • INFORMASI ALAM GHAIB
  • PERTAMA – BUKTI ADANYA ALLAH SWT.
Juni 2026
S S R K J S M
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  
« Mei    

ahli kitab (2) ahlussunnah (2) akal (4) Akidah (105) Al 'Uluw (2) Allah (6) alquran (32) budaya (4) dalil (2) evolusi (1) firqah (2) firqah najiyah (2) ghaib (2) hadits (2) hidayah (2) ibadah (3) ibnu taimiyah (4) ilmu (66) imam syafi'i (9) iman (3) islam (91) kalam (3) kebenaran (1) kenabian (4) kesesatan (2) kristologi (5) ma'rifah (2) manusia (2) meditasi (1) nubuwah (3) pengetahuan (16) perdebatan (1) rububiyah (1) sejarah (4) sunnah (4) syubhat (5) tabiin (1) tafsir (2) takdir (2) tauhid (79) taurat (3) teori (2) tsaqafah (3) uluw (2) wahyu (2)

©2026 AKIDAH.NET | WordPress Theme by SuperbThemes