Skip to content
AKIDAH.NET
AKIDAH.NET

Keyakinan Pangkal Penghayatan

AKIDAH.NET
AKIDAH.NET

Keyakinan Pangkal Penghayatan

Perkataan Ulama Ahlussunnah Waljama`ah Terkait Sifat “ilmullah” (Pengetahuan Allah) dan Kekayaan serta Kalam-Nya. Bag. 2

Supriyadi Yusuf Boni, 15 Juni 2026

Sumber: Kitab Ma`arij al-Qabul Bisyarhi Sullami al-Wushul Ila Ilmi al-Ushul Fii at-Tauhid

Penulis:  Syeikh Hafidz bin Ahmad al-Hakami

Penerjemah: Ust. Supriyadi Yoesof Boni

Editor: Idrus Abidin

Disebutkan dalam kitab shahihain hadits tentang debat Adam dan Musa di hadapan Rabb. Adam berkata:

أَنْتَ مُوسَى الَّذِي اصْطَفَاكَ اللَّهُ تَعَالَى بِرِسَالَتِهِ وَبِكَلَامِهِ.

‘Engkau wahai Musa telah dipilih Allah Swt. membawa risalah dan kalam-Nya.”[1] Disebutkan pula di dalam kitab Shahihain tentang hadits syafaat di mana nabiyullah Ibrahim berkata:

وَلَكِنْ عَلَيْكُمْ بِمُوسَى فَإِنَّهُ كَلِيمُ اللَّهِ.

“Namun pergilah kalian temui Musa karena dia itu kalimullah (orang yang diajak bicara langsung oleh Allah).”[2]

Dalam riwayat lain disebutkan:

وَلَكِنِ ائْتُوا مُوسَى عَبْدًا آتَاهُ اللَّهُ التَّوْرَاةَ وَكَلَّمَهُ تَكْلِيمًا».

“Namun temuilah Musa, seorang hamba yang diberikan kitab Taurah dan dibicarai Allah secara langsung.”[3] Dan diriwayat lain disebutkan:

وَلَكِنِ ائْتُوا مُوسَى عَبْدًا آتَاهُ اللَّهُ التَّوْرَاةَ وَكَلَّمَهُ وَقَرَّبَهُ نَجِيًّا».

“Namun temuilah Musa seorang hamba yang diberi kitab Taurah dan telah diselamatkan (dari musuh).”[4]

            Allah Swt. menegaskan bahwa Dia telah memilih hamba-Nya bernama Musa alaihissalam untuk diajak berbicara langsung secara khusus tanpa ada perantara, dan Allah Swt. memanggilnya langsung, menyelamatkannya dan berbicara langsung dengannya. Allah Swt. juga mengabarkan apa yang dibicarakan, di mana tempatnya dan waktu beliau dibicarai Allah Swt. Rasulullah Saw. juga menegaskannya melalui riwayat-riwayat yang shahih. Lantas adakah pernyataan yang lebih benar ketimbang pernyataan Allah Swt. dan pernyataan Rasulullah Saw.? Dan keterangan mana lagi yang dapat dipercaya selain keduanya?

            Firman Allah Swt. yang terjemahannya: ‘maka dengan perkataan mana lagi mereka akan beriman setelah Allah dan ayat-ayat-Nya.” (Qs: al-Jatsiyah: 6). Semua itu merupakan dalil yang sangat tegas menunjukkan sifat kalam bagi Allah Swt. dan bahwa Allah Swt. akan berbicara jika dikehendaki, dengan apa yang dikehendaki, melalui cara yang dikehendaki, diperdengarkan kepada siapa yang dikehendaki. Allah Swt. perdengarkan kepada Musa dengan cara yang dikehendaki dan yang diinginkan.

            Ditegaskan dalam kitabullah dan sunnah tentang seruan Allah Swt. kepada Adam dan Hawa bahwa; “Tuhan menyeru mereka, “Bukankah Aku telah melarang kamu dari pohon itu dan Aku telah mengatakan bahwa sesungguhnya setan adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?” (Qs; al-A’raf; 22). Dan bahwa Malaikat mendengar kalamullah sebagaimana dalam ayat: “Sehingga apabila telah dihilangkan ketakutan dari hati mereka, mereka berkata, “Apakah yang telah difirmankan oleh Tuhanmu?” Mereka menjawab, “(Perkataan) yang benar,” dan Dialah Yang Mahatinggi, Mahabesar.” (Qs: Saba’: 23)

            Disebutkan dalam kitab shahihain dari Abu Hurairah r.a., ia berkata: Sesungguhnya Nabi Saw. bersabda;

«إِذَا قَضَى اللَّهُ الْأَمْرَ فِي السَّمَاءِ ضَرَبَتِ الْمَلَائِكَةُ بِأَجْنِحَتِهَا خُضْعَانًا لِقَوْلِهِ، كَأَنَّهُ سِلْسِلَةٌ عَلَى صَفْوَانٍ، فَإِذَا فُزِّعَ عَنْ قُلُوبِهِمْ قَالُوا: مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ؟ قَالُوا: الْحَقَّ، وَهُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ

Setelah Allah Swt. tetapkan semua ketentuan di langit, para malaikat mengepakkan sayap-sayap mereka karena tunduk kepada firman-Nya, seakan-akan rantai yang berada di atas batu besar. Apabila hati mereka telah menjadi stabil, mereka berkata; ‘Apa yang difirmankan Rabb kalian?’ mereka menjawab; ‘Al Haq, dan Dia Maha Tinggi lagi Maha Besar.”[5]

            Disebutkan pula dari Abu Hurairah r.a., ia berkata: Rasulullah Saw. bersabda:

إِنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى إِذَا أَحَبَّ عَبْدًا نَادَى جِبْرِيلَ: إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَبَّ فُلَانًا فَأَحِبَّهُ، فَيُحِبُّهُ جِبْرِيلُ، ثُمَّ يُنَادِي جِبْرِيلُ فِي السَّمَاءِ: إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَبَّ فُلَانًا فَأَحِبُّوهُ، فَيُحِبُّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ، وَيُوضَعُ لَهُ الْقَبُولُ فِي الْأَرْضِ».

Sesungguhnya Allah Swt. jika mencintai seorang hamba maka Jibril dipanggil bahwa; Allah Swt. cintai Fulan maka cintailah dia, lalu orang itu pun dicintai Jibril, lalu Jibril menyeru di langit: sesungguhnya Allah Swt. mencintai Fulan maka cintailah dia oleh kalian, lantas orang itu pun dicintai penduduk langit lalu keberadaannya diterima di bumi.”[6]

            Ditegaskan pula dalam kitabullah dan sunnah tentang perkataan Allah Swt. kepada para rasul, malaikat dan selainnya pada hari kiamat bahwa: “(Ingatlah), pada hari ketika Allah mengumpulkan para rasul, lalu Dia bertanya (kepada mereka), “Apa jawaban (kaummu) terhadap (seruan)mu?” Mereka (para rasul) menjawab, “Kami tidak tahu (tentang itu). Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui segala yang gaib.” (Qs; al-Maidah: 109).

            Firman Allah Swt. yang terjemahannya: “Dan (ingatlah) pada hari (ketika) Allah mengumpulkan mereka semuanya kemudian Dia berfirman kepada para malaikat, “Apakah kepadamu mereka ini dahulu menyembah? Para malaikat itu menjawab, “Mahasuci Engkau. Engkaulah pelindung kami, bukan mereka; bahkan mereka telah menyembah jin; kebanyakan mereka beriman kepada jin.” (Qs; Saba’: 40-41)

            Firman Allah Swt. yang terjemahannya: “Dan (ingatlah) pada hari (ketika) Kami mengumpulkan dari setiap umat, segolongan orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, lalu mereka dibagi-bagi (dalam kelompok-kelompok). Hingga apabila mereka datang, Dia (Allah) berfirman, “Mengapa kamu dulu mendustakan ayat-ayat-Ku, padahal kamu tidak mempunyai pengetahuan tentang itu,1 atau apakah yang telah kamu kerjakan? Dan berlakulah perkataan (janji azab) atas mereka karena kezaliman mereka, maka mereka tidak dapat berkata.” (Qs: an-Naml: 83-83).

            Firman Allah Swt. yang terjemahannya: “Dan (ingatlah) pada hari ketika Dia (Allah) menyeru mereka dan berfirman, “Di manakah sekutu-sekutu-Ku yang dahulu kamu klaim” (Qs: al-Qashash: 62).

            Firman Allah Swt. yang terjemahannya: “Dan (Ingatlah) pada hari ketika Dia (Allah) menyeru mereka, dan berfirman, “Apakah jawabanmu terhadap para rasul?” (Qs: al-Qashash: 65).

            Disebutkan juga bahwa Allah Swt. memberikan selamat kepada penduduk syurga: “(Kepada mereka dikatakan), “Salām,” sebagai ucapan selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang.” (Qs; Yasin: 58) dan berkata kepada penduduk neraka: “Dia (Allah) berfirman, “Tinggallah dengan hina di dalamnya, dan janganlah kamu berbicara dengan Aku.” (Qs: al-Mukminun: 108).

            Disebutkan dalam kitab shahih dari Adi bin Hatim r.a., ia berkata: Rasulullah Saw. bersabda:

مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا سَيُكَلِّمُهُ رَبُّهُ، لَيْسَ بَيْنَهُ وَبَيْنَهُ تُرْجُمَانٌ.

Setiap orang dari kalian pasti akan diajak berbicara oleh Rabbnya secara langsung tanpa ada penerjemah.”[7]  Disebutkan pula dari Abu Sa’id al-Khudriy r.a., ia berkata: Rasulullah Saw. bersabda: Allah Swt. berfirman:

يَا آدَمُ. فَيَقُولُ: لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ. فَيُنَادِي بِصَوْتٍ: إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكَ أَنْ تُخْرِجَ مِنْ ذُرِّيَّتِكَ بَعْثًا إِلَى النَّارِ

“Wahai Adam, beliau jawab: labbaika wa sa’daika (saya penuhi panggilanmu); Allah menyeru: sesungguhnya Allah perintahkan kepadamu untuk keluarkan sebagian keturunanmu menuju neraka.”[8]

Disebutkan pula secara muallaq dari Jabir bin Abdillah bin Anis r.a., ia berkata: saya mendengar Rasulullah Saw. bersabda:

يَحْشُرُ اللَّهُ الْعِبَادَ، فَيُنَادِيهِمْ بِصَوْتٍ يَسْمَعُهُ مَنْ بَعُدَ كَمَا يَسْمَعُهُ مَنْ قَرُبَ: أَنَا الْمَلِكُ، أَنَا الدَّيَّانُ»

“Semua hamba akan dikumpulkan lalu mereka diseru dengan suara yang didengar oleh orang jaub seperti yang didengar orang dekat; saya adalah penguasa dan saya maha membalas amalan.”[9]

            Disebutkan pula dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi Saw. bersabda: Allah Swt. berfirman:

أَعْدَدْتُ لِعِبَادِيَ الصَّالِحِينَ مَا لَا عَيْنٌ رَأَتْ، وَلَا أُذُنٌ سَمِعَتْ، وَلَا خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ

“Saya siapakan untuk para hambaku yang shaleh apa yang tidak pernah terlihat mata, tidak terdengar telinga dan tidak pernah terbersit di hati seseorang.”[10]

Disebutkan pula dari Abu Hurairah ra berkata: Allah Swt. berfirman:

مَا لِعَبْدِيَ الْمُؤْمِنِ عِنْدِي جَزَاءٌ إِذَا قَبَضْتُ صَفِيَّهُ مِنْ أَهْلِ الدُّنْيَا، ثُمَّ احْتَسَبَهُ، إِلَّا الْجَنَّةُ

tiada balasan ku siapkan bagi hambaku yang mukmin yang saya cabut kecintaannya dari penduduk dunia lalu dia menaruh harapan besar kepada Allah kecuali dikaruniai syurga.”[11]

            Disebutkan pula di dalamnya hadits syafaat bahwa: Allah Swt. berfirman:

مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ حَبَّةٍ مِنْ إِيمَانٍ فَأَخْرِجُوهُ»

“Siapa saja yang punya iman di hatinya walau sebesar biji, maka keluarkan dia dari neraka.”[12]

Disebutkan pula hadits lain tentang penduduk syurga yang masuk ke syurga bahwa: Allah Swt. berfirman:

اذْهَبْ فَادْخُلِ الْجَنَّةَ، فَإِنَّ لَكَ مِثْلَ الدُّنْيَا وَعَشَرَةَ أَمْثَالِهَا

“Beranjaklah dan masuklah ke syurga karena di dalamnya disiapkan untukmu sebesar dunia bahkan sepuluh kali lipat.”[13]

Juga disebutkan perkataan Allah kepada manusia di mahsyar bahwa:

لِتَتْبَعْ كُلُّ أُمَّةٍ مَا كَانَتْ تَعْبُدُ.

“Hendaknya setiap orang mengikuti tuhannya di dunia dahulu.”[14] Juga perkataan Allah kepada orang-orang mukmin bahwa: “Sayalah rabb kalian.”

            Disebutkan pula perkataan Allah Swt. bersama penduduk syurga dari riwayat Abu Sa’id al-Khudriy r.a., ia berkata: Nabi Saw. bersabda: “Sesungguhnya Allah Swt. berkata kepada penduduk syurga.

إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَقُولُ لِأَهْلِ الْجَنَّةِ: يَا أَهْلَ الْجَنَّةِ. فَيَقُولُونَ: لَبَّيْكَ رَبَّنَا وَسَعْدَيْكَ، وَالْخَيْرُ فِي يَدَيْكَ. فَيَقُولُ: هَلْ رَضِيتُمْ؟ فَيَقُولُونَ: وَمَا لَنَا لَا نَرْضَى يَا رَبِّ، وَقَدْ أَعْطَيْتَنَا مَا لَمْ تُعْطِ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ؟ فَيَقُولُ: أَلَا أُعْطِيكُمْ أَفْضَلَ مِنْ ذَلِكَ؟ فَيَقُولُونَ: يَا رَبِّ، وَأَيُّ شَيْءٍ أَفْضَلُ مِنْ ذَلِكَ؟ فَيَقُولُ: أُحِلُّ عَلَيْكُمْ رِضْوَانِي فَلَا أَسْخَطُ عَلَيْكُمْ بَعْدَهُ أَبَدًا.

Wahai penduduk syurga: mereka jawab; kami penuhi panggilanmu wahai Rabb dan semua kebajikan di tanganmu, Allah Swt. bertanya: apakah kalian sudah senang? Mereka jawab: bagaimana bisa kami tidak bahagian sedang engkau karuniakan ke kami apa yang tidak engkau berikan kepada orang lain, lalu Allah Swt. berfirman: maukah kalian saya berikan yang lebih baik dari ini? mereka bertanya: wahai Rabb, karunia apa lagi yang lebih baik dari ini? Allah Swt. jawab: saya sudah ridha kepada kalian sepenuhnya dan saya tidak akan murka ke kalian selamanya.”[15]

            Disebutkan dari Abu Hurairah ra berkata: Allah Swt. berfirman:

«أَنَا مَعَ عَبْدِي حَيْثُمَا ذَكَرَنِي وَتَحَرَّكَتْ بِي شَفَتَاهُ

“Saya akan selalu bersama Rabbku selama dia mengingatku dan bibirnya bergerak menyebutku.”[16]

Disebutkan dari hadits Abu Hurairah ra berkata: Allah Swt. berfirman:

إِذَا أَرَادَ عَبْدِي أَنْ يَعْمَلَ سَيِّئَةً فَلَا تَكْتُبُوهَا عَلَيْهِ حَتَّى يَعْمَلَهَا».

“Apabila seorang hambaku hendak melakukan amla buruk maka tidak dicatat untuknya hingga dia betul-betul lakukan.”[17]

Disebutkan lagi dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Saw. bersabda:

خَلَقَ اللَّهُ الْخَلْقَ، فَلَمَّا فَرَغَ مِنْهُ قَامَتِ الرَّحِمُ، فَقَالَتْ: هَذَا مَقَامُ الْعَائِذِ بِكَ مِنَ الْقَطِيعَةِ، فَقَالَ: أَلَا تَرْضَيْنَ أَنْ أَصِلَ مَنْ وَصَلَكِ وَأَقْطَعَ مَنْ قَطَعَكِ؟

“Allah ciptakan makhluk, setelah usai, ar-rahim berdiri seraya berkata apa itu? Dia berkata; dia tempat orang yang berlindung darimu, lalu idjawab; tidakkah kalian senang saya sambungkan hubungan dengan orang yang sambung hubungan dengan kalian dan memusuhi orang yang putuskan hubungan dengan kalian.”[18]

            Disebutkan pula dari hadits Abu Hurairah bahwa Rasulullah Saw. bersabda: Allah Swt. berfirman:

إِذَا أَحَبَّ عَبْدِي لِقَائِي أَحْبَبْتُ لِقَاءَهُ، وَإِذَا كَرِهَ لِقَائِي كَرِهْتُ لِقَاءَهُ

Apabila hambaku rindu jumpa denganKu maka aku juga rindu jumpa dengannya, dan jika dia takuit ketemu denganKu maka saya juga benci ketemu dengannya.”[19]

Disebutkan lagi dari hadits Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah Saw. bersabda: Allah Swt. berfirman:

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي

“Saya akan selalu mengikuti persangkaan hambaku terhadapku.”[20]

Juga disebutkan tentang cerita pendosa yang beristighfar bahwa Rabbnya berkata:

عَلِمَ عَبْدِي أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِهِ، غَفَرْتُ لِعَبْدِي

“Hamba-Ku tahu kalau dia punya Rabb yang kana ampuni dosanya, maka aku ampuni dosanya.”[21]

            Disebutkan pula hadits Abdullah bin Zaid r.a., ia berkata: Rasulullah Saw. pernah terkena hujan lalu berkata: Allah Swt. berfirman:

أَصْبَحَ مِنْ عِبَادِي كَافِرٌ بِي وَمُؤْمِنٌ بِي

“Diantara hambaku ada yang kafir kepadaku dan ada pula yang beriman kepadaku.”[22] Disebutkan dari hadits Abdullah bin Mas’ud r.a., ia menyebutkan tentang bagaimana Allah menggulung langit dan bumi bahwa:

ثُمَّ يَهُزُّهُنَّ ثُمَّ يَقُولُ: أَنَا الْمَلِكُ، أَنَا الْمَلِكُ

“Kemudian Allah menggoyangnya lalu berkata; sayalah sang penguasa, sayalah sang penguasa.”[23]

            Disebutkan pula dari hadits Abdullah bin Umar r.a. bahwa ada seseorang pernah bertanya kepadanya bagaimana engkau mendengar sabda Rasulullah mengenai an-Najwa (berbisik)? Beliau jawab:

يَدْنُو أَحَدُكُمْ مِنْ رَبِّهِ حَتَّى يَضَعَ عَلَيْهِ كَنَفَهُ، فَيَقُولُ: أَعَمِلْتَ كَذَا وَكَذَا؟ فَيَقُولُ: نَعَمْ. وَيَقُولُ: أَعَمِلْتَ كَذَا وَكَذَا؟ فَيَقُولُ: نَعَمْ. فَيُقَرِّرُهُ، ثُمَّ يَقُولُ: إِنِّي سَتَرْتُهَا عَلَيْكَ فِي الدُّنْيَا وَأَنَا أَغْفِرُهَا لَكَ الْيَوْمَ».

“Seseorang dari kalian mendekat kepada Rabbnya lalu meletakkan pada punuknya lalu berkata: apakah engkau lakukan ini dan itu? Dia jawab: iya, lalu bertanya lagi, apakah engkau lakukan ini dan itu? Dia jawab lagi; iya. Dia mengakuinya lalu berkata: saya sudah tutupi kesalahanmu itu di dunia maka hari ini aku ampuni itu.”[24]

            Disebutkan dalam kitab shahih Muslim dari hadits Anas bin Malik r.a. dari Nabi Saw., beliau bersabda:

لَوْ كَانَتْ لَكَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا أَكُنْتَ مُفْتَدِيًا بِهَا؟ فَيَقُولُ: نَعَمْ. فَيَقُولُ: قَدْ أَرَدْتُ مِنْكَ أَهْوَنَ مِنْ هَذَا وَأَنْتَ فِي صُلْبِ آدَمَ أَنْ لَا تُشْرِكَ، فَأَبَيْتَ إِلَّا الشِّرْكَ

“Allah tabarak wa ta’ala bertanya kepada penduduk neraka paling ringan siksanya; andai dunia seisinya adalah milikmu, maukah engkau jadikan dia tebusanmu? Dia jawab; iya. Allah berkata: dahulu saya minta dari lebih ringan dari itu sejak engkau di tulang belakang Adam untuk tidak syirik – atau tidak saya masukkan engkau ke neraka – namun engkau tolak dan tetap lakukan syirik.”[25]

            Diriwayatkan pula dari Abu Hurairah r.a. dan Abu Sa’id al-Khudriy r.a., ia berkata; Rasulullah Saw. bersabda:

يُؤْتَى بِالْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَيَقُولُ لَهُ: أَلَمْ أَجْعَلْ لَكَ سَمْعًا وَبَصَرًا وَمَالًا وَوَلَدًا، وَسَخَّرْتُ لَكَ الْأَنْعَامَ وَالْحَرْثَ، وَتَرَكْتُكَ تَرْأَسُ وَتَرْبَعُ، فَكُنْتَ تَظُنُّ أَنَّكَ مُلَاقِيَّ يَوْمَكَ هَذَا؟ فَيَقُولُ: لَا. فَيَقُولُ لَهُ: الْيَوْمَ أَنْسَاكَ كَمَا نَسِيتَنِي».

“Setiap hamba dihadirkan pada hari kiamat lalu dikatakan kepadanya: tidakkah telah saya karuniakan kepadamu pendengaran, penglihatan, harta, anak keturunan, dan telah saya tundukkan hewan dan tanah lalu aku izinkan engkau tumbuh dan berkembang, apakah engkau pernah yakini akan hari perjumpaan ini? dia jawab: tidak. Dikatakan kepadanya; kalau begitu, engkau saya lupakan hari ini seperti dahulu engkau lupakan aku.” Diriwayatkan oleh Muslim dan at-Tirmidzi dan berkata hadits ini hadits shahih gharib. Pernyataan: “engkau saya lupakan hari ini seperti dahulu engkau lupakan aku” artinya saya tinggalkan engkau merasakan nikmat.”[26]

            Disebutkan dalam kitab shahihain dari Aisyah r.a. di cerita seputar peristiwa penuh kebohongan (hadits al-ifki) berkata:

وَاللَّهِ مَا كُنْتُ أَظُنُّ أَنَّ اللَّهَ يُنْزِلُ فِي بَرَاءَتِي وَحْيًا يُتْلَى، وَلَشَأْنِي فِي نَفْسِي كَانَ أَحْقَرَ مِنْ أَنْ يَتَكَلَّمَ اللَّهُ فِي أَمْرِي بِأَمْرٍ يُتْلَى، وَلَكِنِّي كُنْتُ أَرْجُو أَنْ يَرَى رَسُولُ اللَّهِ ﷺ فِي النَّوْمِ رُؤْيَا يُبَرِّئُنِي اللَّهُ بِهَا، فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى ﴿إِنَّ الَّذِينَ جَاءُوا بِالْإِفْكِ﴾

“Demi Allah, saya tidak pernah bayangkan Allah turunkan ayat yang membelaku dan membantah tuduhan terhadapku, dan saya yakin persoalan yang menimpaku terlalu rendah untuk diturunkan ayat yang dibaca hingga hari kiamat. Namun saya hanya berharap Allah membebaskanmu dari tuduhan itu melalui mimpi, lalu Allah Swt. turunkan ayat: “Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu” (Qs: an-Nuur: 11), sebanyak sepuluh ayat.[27]

            Ayat-ayat dan hadits-hadits, baik yang telah disebutkan atau yang belum menunjukkan bahwa akan terus berfirman sesuai kehendaknya. Allah firmankan apa yang dikehendaki, dengan cara yang dikehendaki dan pada wkatu yang dikehendaki dengan perkataan yang didengar oleh makhluknya yang dikehendaki, atau perkataan Allah adalah benar dan sejalan dengan keagungannya. Firman Allah: “Dan Allah mengatakan kebenaran”, “salam adalah perkataan dari Rabb yang maha penyayang”, “sungguh dia adalah perkataan tegas dan bukan candaan”.

            Al-Qur’an adalah perkataan Allah Swt. mulai dari al-Fatihah hingga surah terakhir sebagaimana akan dijelaskan pada bahasan berikutnya. Perkataan Allah Swt. adalah salah satu dari sekian banyak sifat Allah Swt. yang melekat pada dzat-Nya, sejak awal dan akan tetap serta berlangsung sepanjang dikehendaki Allah Swt. Tidak ada sifat baru bagi Allah yang sebelumnya tidak dia sifati dirinya, dan tiada sifatnya yang terhapus dan dianulir. Bahkan Allah adalah dzat maha awal, maha akhir, maha zhahir dan bathin dan Allah maha mengetahui segala sesuatu.

            كلامه جل عن الإحصاء                   و الحصر و النفاد و الفناء

            لو صار أقلاما جميع الشجر             و البحر تلقى فيه سبعة أبحر

            و الخلق تكتبه بكل آن                    فنت و ليس القول منه فان

            Firman Allah Swt. musthail dihitung

                        Dibatasi, berkurang atau malah hilang terhapus

            Andai seluruh pohon dijadikan pena

                        Dan laut jadi tinta bahkan dilipatkan tujuh kali

            Lalu dipakai menulis semua setiap makhluk

                        Akan habis sedang kalam Allah tidak pernah habis.

            Firman Allah Swt. yang terjemahannya: “Katakanlah (Muhammad), “Seandainya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, maka pasti habislah lautan itu sebelum selesai (penulisan) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).” (Qs: al-Kahfi: 109).

            Firman Allah Swt. yang terjemahannya: “Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan lautan (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh lautan (lagi) setelah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat-kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana.” (Qs: Luqman: 27).

            Ibnu Katsir mengatakan: Allah Swt. berfirman mengabarkan tentang keagungan, kekuatann, kemuliaan, nama-nama-Nya yang baik, sifat-sifat–Nya yang mulia, kalam-Nya yang sempurna yang tidak mampu diketahui semuanya oleh siapa pun sebagaiman disabdakan penghulu manusia dan penutup para nabi: “Saya tidak mampu hitung semua pujian untukmu seperti yang engkau puji dirimu.”[28]

            Firman Allah Swt. yang terjemahannya: “Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan lautan (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh lautan (lagi) setelah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat-kalimat Allah” (Qs; Luqman: 27)

Artinya andai semua pohon-pohon di bumi dijadikan pena lalu lautan dijadikan tinta serta ditambah tujuh kali lipat untuk digunakan menulis firman-firman Allah Swt. yang menunjukkan keagungan dan kebesarana Allah, juga sifat-sifat-Nya maka pena tersebut habis beserta tintanya walau ditambah tujuh kali lipat. Kata tujuh kali lipat disebutkan hanya sekedar menggambarkan betapa banyaknya tanda keagungan Allah Swt., dan bukan berate kata tujuh kali lipat dijadikan batasan maksimal. Selain itu, bahwa menurut cerita israiliyat menyatakan bahwa ada tujuh laut yang mengelilingi alam ini, sehingga bukan dimaksudkan sebagai pembatasan maksimal.

            Bahkan yang dimaksud tertuang di dalam ayat: “Katakanlah (Muhammad), “Seandainya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, maka pasti habislah lautan itu sebelum selesai (penulisan) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).” (Qs: al-Kahfi: 109).

Kata “dengan semisalnya” bukan berarti penambahan sebab mustahil ayat-ayat Allah dapat dibatasi. Al-Hasan al-Bashri mengatakan, andai semua pohon di bumi dibuat pena dan laut dibuat tinta maka akan habis pena dan tinta sedang ayat Allah belum habis tertulis. Qatadah mengatakan, orang-orang musyrik berkata, hampir saja ayat Allah terlupakan yakni: “Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan lautan (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh lautan (lagi) setelah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat-kalimat Allah” (Qs; Luqman: 27) Artinya andai semua pohon di alam dijadikan pena lalu tujuh laut dijadikan tinta maka tidak cukup untuk menulis semua tanda dan firman Allah Swt., keajaiban, kebijaksanaan, makhluk dan ilmu Allah Swt.

             Ar-Rabi’ bin Anas r.a. berkata: permisalan ilmu hamba seluruhnya dibanding ilmu Allah seperti setetes air dibanding air laut, dan Allah Swt. turunkan ayat: “Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan lautan (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh lautan (lagi) setelah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat-kalimat Allah” (Qs: Luqman: 27) Artinya bahwaandai laut dijadikan tinta untuk menulis firman Allah dan pohon-pohon sebagai penanya maka semua pena dan tinta akan habis sedang firman Allah Swt. tidak akan habis tertulis. Sebab, tiada seorang pun yang mampu menjangkau kuasa Allah Swt. dan tak mampu memenuhi pujian yang layak bagi Allah Swt. Allah Swt. jauh lebih mulia dari semua pujian yang diucapkan seluruh hambanya.

            Disebutkan riwayat ini diturunkan sebagai jawaban terhadap kaum Yahudi, Ibnu Ishak berkata: saya diberitahu Muhammad bin Abi Muhammad dari Sa’id bin Jubair – atau Ikrimah – dari Ibnu Abbas r.a. bahwa para pendeta Yahudi berkata kepada Rasulullah Saw. di Madinah:

يَا مُحَمَّدُ، أَرَأَيْتَ قَوْلَكَ: ﴿وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا﴾، إِيَّانَا تُرِيدُ أَمْ قَوْمَكَ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «كِلَاكُمَا». قَالُوا: أَلَسْتَ تَتْلُو فِيمَا جَاءَكَ أَنَّا قَدْ أُوتِينَا التَّوْرَاةَ فِيهَا تِبْيَانٌ لِكُلِّ شَيْءٍ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: إِنَّهَا فِي عِلْمِ اللَّهِ قَلِيلٌ، وَعِنْدَكُمْ مِنْ ذَلِكَ مَا يَكْفِيكُمْ». فَأَنْزَلَ اللَّهُ فِيمَا سَأَلُوهُ عَنْهُ مِنْ ذَلِكَ: ﴿وَلَوْ أَنَّمَا فِي الْأَرْضِ مِنْ شَجَرَةٍ أَقْلَامٌ﴾ الآيَةَ

wahai Muhammad, bagaimana maksud firman Allah Swt.: “dan tidaklah kalian diberi ilmu kecuali hanya sedikit saja” (Qs: al-Isra’: 85) apakah ayat ini ditujukan ke kami atau ke ummatmu? Rasulullah Saw. bersabda: keduanya. Mereka berkata: tidakkkah engkau ketahui kalau kami diberikan kitab Taurah yang memuat penjelasan segala hal? Rasulullah Saw. menjawab: “Sungguh bagi Allah itu hanya bahagian sangat sedikit namun bagi kalian sudah sangat cukup.”[29] Allah Swt. juga menjawab pertanyaan Yahudi dengan menurunkan ayat: “Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan lautan (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh lautan (lagi) setelah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat-kalimat Allah” (Qs: Luqman: 27), ini yang diriwayatkan dari Ikrimah dan Atha’ bin Yasar.[30]   Hal ini menunjukkan bahwa ayat ini termasuk Madaniah dan bukan Makkiyah sekalipun yang dikenal ayat ini termasuk Makkiyah,

            Firman Allah Swt.: “Sesungguhnya Allah maha Perkasa dan maha Bijaksana” (Qs: Luqman: 27) Artinya bahwa Allah maha perkasa, dzat maha mulia di atas segala sesuatu, tiada yang dapat menolak dan menentang serta menghalangi segala kehendak dan hikmahnya, maha bijak pada penciptaannya, perintahnya, perkataan, perbuatan, syariat dan semua yang terkait dengannya.”[31]

            Diriwayatkan dari Juwairiyah r.a. bahwa Nabi Saw. pernah keluar dari rumahnya dan kembali setelah dhuha sedang Juwairiyah masih dalam posisi duduknya, lantas Rasulullah Saw. bertanya: “Engkau masih duduk seperti saat saya tinggalkan engkau tadi? Beliau jawab: iya. Nabi Saw. berkata: sejak saya tinggalkan engkau, sungguh saya sudah ucapkan empat kalimat yang andai dibandingkan dengan semua ucapanku hari ini maka niscaya keempatnya lebih berat timbangannya; yakni subhanallah wa bihamdihi adada khalqihi, wa ridha nafsihi, wa zinata arsyihi wa midada kalimatihi.” (maha suci Allah dengan segala pujian untuknya, sejumlah makhluknya, kerdihaan dirinya, seberat asrynya dan sebanyak firmannya.” Diriwayatkan oleh Muslim dan empat imam lainnya.[32]

            Diriwayatkan pula dari Abu Hurairah r.a., ia berkata: seseorang datang menemui Nabi Saw. lalu berkata: wahai Rasulullah, apakah engkau tidak melihat kalajengking yang menyengatku semalam? Beliau berkata: sebaiknya engkau ucapkan di setiap sore: audzu bikalimatillahi at-tammati allati la yujawizuhunna jabbarun wa la mutakabbirun.” (Saya berlindung dengan kalimat Allah yang sempurna yang tidak dilemahkan oleh seorang penguasa dan orang sombong.”[33]

            Hadits-hadits terkait bahasan ini sangat banyak, namun yang diinginkan bahwa kalam Allah Swt. akan terus ada, tidak akan pernah berakhir dan tidak pula berkurang. Sebab, kalam Allah Swt. merupakan sifatnya sedang semua sifatnya tidak akan pernah berakhir. Oleh sebab itu, Allah Swt. mengabarkan kalau semua pohon di bumi dijadikan pena dan laut dijadikan tintanya untuk menulis semua tanda dan ayat-ayat Allah Swt. maka semua pena dan tinta habis sedang ayat-ayat Allah tidak akan tetap tidak tertulis.

            Alasan utamanya karena pohon dan air laut adalah makhluk yang sifat dasarnya adalah fana’ (memiliki masa akhir) sedang firman dan ayat-ayat Allah Swt. merupakan sifat Allah yang sifat dasarnya adalah kekal. Firman Allah Swt.; “Segala sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. Segala keputusan menjadi wewenang-Nya, dan hanya kepada-Nya kamu dikembalikan.” (Qs: al-Qashash: 88).


[1] Akan disebutkan secara lengkap pada lembaran berikutnya.

[2] Akan disebutkan secara lengkap pada lembaran berikutnya.

[3] Akan disebutkan secara lengkap pada lembaran berikutnya.

[4] Akan disebutkan secara lengkap pada lembaran berikutnya.

[5] HR. Bukhari (13/453) dalam bahasan tauhid, bab firman Allah Swt: dan tidak bermanfaat syafaat di sisi-Nya kecuali dengan izin-Nya. Imam muslim tidak meriwayatkan hadits ini.

[6] HR. Bukhari (13/460) dalam bahasan tauhid, bab perkataan Allah kepada Jibril dan seruan Allah kepada malaikat, dan dalam bahasan adab, bab tentang cinta karena Allah. Muslim (4/2030/2637) dalam bahasan kebajikan dan silaturrahim, bab jika Allah cintai seorang hamba, semua hamba dibuat cinta kepadanya.

[7] HR. Bukhari (13/474) dalam bahasan tauhid, bab perkataan Allah Swt. Muslim (2/703-704/1016) dalam bahasan zakat, bab anjurna sedekah sekalipun sekedar satu biji kurma.

[8] HR. Bukhari (13/453) dalam bahasan tauhid, bab firman Allah: tiada bermanfaat syafaat disisi-Nya kecuali dengan izin-Nya. HR. Muslim (1/201-202/222) dalam bahasan iman, bab Sabda Rasulullah: Allah berfirman kepada Adam keluarkankanlah dari neraka sebagian keturunanmu.

[9] HR. Bukhari secara muallaq (13/453) dalam bahasan tauhid, bab firman Allah tiada bermanfaat syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya, diriwayatkan juga secara masuhul oleh al-Bukahri dalam bahasan Penciptaan perilaku semua hamba (463) dan dalam kitab al-Adabu al-Mufrad (970). Diriwayatkan juga oleh Ahmad dalam kitab Musnadnya (3/495) juga oleh al-Hakim (2/437-438 dan 4/574-575) dan disahihkan olehnya dan disepakati oleh adz-Dzahabi, dan al-Baihaqi dalam kitab al-Asma’ (78). Dalam rangkaian sanadnya terdapat Abdullah bin Muhammad bin Aqil yang dikatakan al-Hafizh: shaduuq namun dikahir haditsnya tegolong lentur. Ibnu hajar mengeaskan bahwa sanadnya shalih seperti disebutkan dalam kitab Fathu al-Bari (1/174) berkata: hadits ini ada jalur lain disebutkan oleh ath-Thabarani dalam kitab asy-Syamiyyin dan lengkapnya disebutkan dalam kitab fawaid dan sanadnya shalih.

[10] HR. Bukhari (8/515-516) dalam bahasan tafsir surah as-Sajadah, bab firman Allah dan setiap jiwa tidak tahu apa yang disimpan untuknya berupa kesenangan. Muslim (4/2174/2824 dalam bahasan gambaran tentang syurga dan kenikmatannya.

[11] HR. Bukhari (11/241-242) dalam bahasan riqaq, bab perbuatan untuk mencari ridha Allah.

[12] Akan disebutkan selengkapnya pada lembaran berikutnya

[13] HR. Bukhari (11/418) dalam bahasan riqaq, bab ganbaran tentang syurga dan kenikmatannya, dan dalam bahasan tauhid, bab perkataan Allah pada hari kiamat kepada para nabi dan selainnya. HR. Muslim (1/173/186) dalam bahasan iman, bab orang terakhir keluar neraka dari hadits Abdullah bin Mas’ud r.a.

[14] HR. Bukhari (13/419-420) dalam bahasan tauhid, bab firman Allah hari itu wajah mereka berseri karena memandang ke Rabbnya. HR. Muslim (1/163-167/182) dalam bahasan iman, bab tentang cara melihat Allah yang berasala dari hadits Abu Hurairah r.a.

[15] HR. Bukhari (11/415) dalam bahasan riqaq, bab ganbaran tentang syurga dan neraka, dan dalam bahasan tauhid, bab perkataan Allah kepada penduduk syurga (13/487). HR. Muslim (4/2176/2829) dalam bahasan gambaran syurga dan kenikmatannya, bab ridha Allah.

[16] HR. Bukhari (13/499) dalam bahasan tauhid, bab firman Allah Swt jangan engkau gerakkan lisanmu dari hadits Abu Hurairah r.a. HR. Ahmad (2/540) Ibnu Majah (2/1246/3792) dalam bahasan Adab, bab keutamaan dzikir, juga oleh al-Baghawi dalam kitab Syarhu as-Sunnah (5/13/1242). Semuanya dari jalur al-Auza’i dari Ismail bin Ubaidillah bin Abi al-Muhajir dari Ummu ad-Darda’ dari Abu Hurairah secara marfu’.

Diriwayatkan lagi oleh al-Bukhari dalam kitab Khalqu A’fal al-ibad (436), Ibnu Hibban (Mawarid 2316) dari jalur al-Auza’i dari Ismail dari Karimah binti al-Hashas dari Abu Hurairah secara marfu’. Karimah dianggap majhul dan klaim periwayatan Ismail dari Karimah dan Ummu ad-Darda’ ash-Shughra benar adanya dan karimah meriwayatkan hadits ini dari Abu Hurairah di rumah Ummu ad-Darda’ seperti yang diriwayatkan Ahmad. Karimah berkata: kami diberitahu Abu Hurairah sedang kami di rumah Ummu ad-Darda’ (2/540), dan termasuk riwayat Abdurrahman bin Yazid bin Jabir dari ismail seperti juga disebutkan Ibnu Hibban (mawarid 576). Diantara yang menguatkan riwayat Abdurrahman karena selaras dengan Rabi’ah bin Yazid ad-Dimasyqi seperti disebutkan al-Baihaqi dalam kitab ad-Da’waat (Taghliq at-ta’liq 5/363-364). Al-hafizh berkata bisa saja hadits ini disampaikan oleh Ummu ad-Darda’ seperti beliau sampaikan ke karimah sehingga tertutup ruang sangkaan seperti dalam kitab (at-taghliq 5/363). Diriwayatkan pula oleh al-hakim dari jalur Bisyr bin Bakar dari al-Auza’I dari Ismail dari ummu ad-Darda’ dari Abu ad-Darda’ secara marfu’ (1/496). Al-Mizzi mengatakan dalam kitab Tuhfatu al-Asyraf (11/109) namun tidak terlalu dikenal.

[17] HR. Bukhari (13/465) dalam bahasan tauhid, bab firman Allah Swt mereka ingin mengganti kalam Allah. HR. Muslim (1/117/128) dalam bahasan iman, bab jika seseorang niatkan berbuat baik akan dicatat namun niat buruk belum dicatat.

[18] HR. Bukhari (8/579-580) dalam bahasan tafsir, bab hubungan kalian akan terputus. Muslim (4/1980-1981/2554) dalam bahasan kebajikan dan silaturrahmi, bab haram putuskan hubugan kekeluargaan.

[19] HR. Bukhari (13/465) dalam bahasan tauhid, bab firman Allah Swt mereka ingin mengganti kalam Allah. HR. Muslim (4/2066/2685) dalam bahasan dzikir dan do’a, bab siapa yang rindu jumpa Allah, Allah rindu jumpa dengannya.

[20] Telah disebutkan sebelumnya.

[21] HR. Bukhari (13/466) dalam bahasan tauhid, bab firman Allah Swt mereka ingin mengganti kalam Allah. HR. Muslim (4/2112/2758) dalam bahasan taubat, bab taubat diterima sekalipun dosa dan taubat berulang-ulang.

[22] HR. Bukhari (2/333) dalam bahasan Adzan, bab imam menghadap ke makmum setelah salam, dan dalam bahasan tauhid, bab firman Allah Swt mereka ingin mengganti kalam Allah. HR. Muslim (1/83/71) dalam bahasan iman, bab orang berkata hujan turun karena bintang ini dikawatirkan jadi kafir.

[23] Telah disebutkan sebelumnya.

[24] HR. Bukhari (13/475) dalam bahasan tauhid, bab perkataan Allah kepada para nabi dan selainnya di hari kiamat. HR. Muslim (4/2120/2768) dalam bahasan taubat. Taubat pembunuh diterima walau banyak korbannya.

[25] Telah disebutkan sebelumnya.

[26] HR. Muslim (4/2279/2968) dalam bahasan Zuhud dan raqaiq, at-Tirmidzi (4/619/2428) dalam bahasan gambaran kiamat, bab tentang tampilan amal.

[27] HR. Bukhari (5/269-272) dalam bahasan persaksian, bab kaum wanita saling menasehati. HR. Muslim (4/2129-2136/2770) dalam bahasan taubat, bab peristiwa tuduhan zina dan taubat penuduh diterima.

[28] HR. Muslim (1/352/486) dalam bahasan Shalat, bab bacaan ruku’ dan sujud dari hadits Aisyah r.a.

[29] Sanadnya lemah karena Muhammad bin Abu Muhammad yang majhul, hanya Ibnu Ishaq yang meriwayatkan darinya, adz-Dzahabi berkata tidak dikenal (at-tahdzib 9/384). Dari jalur Ibnu Ishaq dari seseorang dari penduduk Makkah dari Sa’id dan diriwayatkan oleh Ibnu Jarir ath-Thabari (21/81) dan dinisbatkan oleh asy-Syuthi kepada Ibnu Abi Hatim (ad-Durru al-Mantsur 6/526-527).

[30] Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir (21/81-82) secara mursal dan dalam sanad hadits Atha ada perawi majhul.

[31] Ibnu Katsir (tafsirnya 3/460-461),

[32] HR. Muslim (4/2090/2726) dalam bahasan dzikir dan do’a, bab bertasbih di pagi dan sore hari. HR. At-Tirmidzi (5/556/3555) dalam bahasan do’a, bab tentang do’a Nabi Saw. HR. Abu Dawud (12/81/1503) dalam bahasan Witir, bab bertasbih menggunakan batu. HR. an-Nasa’i (3/77) dalam bahasan sahwu, bab jumlah tasbih dalam kitab Amalu al-yaumi wa al-lailah (162). HR. Ibnu Majah (2/1251/3808) dalam bahasan adzab, bab keutamaan tasbih HR. Ahmad (1/258, 353 dan 6/325 dan 430. HR. Ibnu Hibban (al-Ihsan 2/99).

[33] Redaksi ini tidak dijumpai dalam kitab shahih dan juga kitab sunan. Redaksi yang tertulis dalam kitab shahih dan kitab sunan adalah: audzu bi kalimatillahi at-tammat min syarri ma khalaq (saya berlindung dengan kalimat Allah yang sempurna dari semua keburukan makhluk). HR. Muslim (4/2081/2709) dalam bahasan dzikir dan do’a, bab tentang berlindung dari keburukan qadha’ dan selainnya, HR. Abu Dawud (4/13/3899) dalam bahasan kesehatan, bab cara ruqyah. HR. an-Nasa’i dalam kitab amalu al-Yaumi wa al-lailah (585). HR. Malik dalam kitab al-Muwaththa’ (2/951) dalam bahasan syi’r bab perintah berlindung. Riwayat yang serupa disebutkan oleh Ahmad dalam kitab Musnadnya dengan redaksi: yang tidak dilampaui oleh orang baik dan juga orang pendosa dari hadits permintaan jin di malam isra kepada Nabi Saw (al-Musnad 2/419) dengan sanad hasan.

Terjemahan Kitab ahlussunnahAllahilmuulama

Navigasi pos

Previous post

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recent Posts

  • Perkataan Ulama Ahlussunnah Waljama`ah Terkait Sifat “ilmullah” (Pengetahuan Allah) dan Kekayaan serta Kalam-Nya. Bag. 2
  • Perkataan Ulama Ahlussunnah Waljama`ah Terkait Sifat “ilmullah” (Pengetahuan Allah) dan Kekayaan serta Kalam-Nya
  • Perkataan Ulama Ahlussunnah Waljama`ah Terkait Sifat “Al-`Uluw” (Kemahatinggian Allah) (Bagian 5)
  • Perkataan Ulama Ahlussunnah Waljama`ah Terkait Sifat “Al-`Uluw” (Kemahatinggian Allah) (Bagian 4)
  • INFORMASI ALAM GHAIB
Juni 2026
S S R K J S M
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  
« Mei    

ahli kitab (2) ahlussunnah (3) akal (4) Akidah (105) Al 'Uluw (2) Allah (7) alquran (32) budaya (4) dalil (2) evolusi (1) firqah (2) firqah najiyah (2) ghaib (2) hadits (2) hidayah (2) ibadah (3) ibnu taimiyah (4) ilmu (67) imam syafi'i (9) iman (3) islam (91) kalam (3) kenabian (4) kesesatan (2) kristologi (5) ma'rifah (2) manusia (2) meditasi (1) nubuwah (3) pengetahuan (16) perdebatan (1) rububiyah (1) sejarah (4) sunnah (4) syubhat (5) tafsir (2) takdir (2) tauhid (79) taurat (3) teori (2) tsaqafah (3) turats (1) ulama (2) uluw (2) wahyu (2)

©2026 AKIDAH.NET | WordPress Theme by SuperbThemes