Eksistensi Surga Rustang Arizal, 3 September 20231 Mei 2024 Oleh : Ust. Rustang, Lc., M.Pd Surga..ya, surga..!. Tentu kita semua sudah tidak asing lagi dengan kata yang satu ini. Kata yang di dalam bahasa Arab disebut jannah. Kata yang pastinya telah terpatri di dalam sanubari setiap insan beriman. Mendengarnya saja sudah tentu menggiring imajinasi kita melayang-layang dan berkeliling di dalam sebuah taman yang dipenuhi berbagai macam pesona keindahan yang tiada tara. Dan tentunya ia adalah obsesi tertinggi setiap Muslim. Surga merupakan bagian dari rukun Iman kepada Hari Akhir. Sehingga pembicaraan tentangnya merupakan topik yang patut untuk selalu dibahas dan seyogyanya untuk sering diulang-ulang dan dikaji, baik secara umum maupun secara spesifik. Tak ayal, hal ini agar semakin menambah dan memperkokoh keyakinan seorang hamba akan adanya hari akhirat. Sehingga diharapkan bisa melahirkan motivasi yang lebih besar di dalam jiwa agar terus istiqomah di atas jalan ketaatan demi mewujudkan cita-cita mulia nan agung ini. Yaitu memasuki surga Allah subhanahu wata’ala. Diskursus tentang surga dari dulu hingga sekarang telah banyak menghiasi lembaran-lembaran kitab para ulama Islam. Ada yang menuangkannya dalam bentuk karya ilmiyah tersendiri dan ada pula yang menyisipkannya di dalam bentuk sub pembahasan. Namun dari sekian banyak ulama yang menulis tentang surga, Ibnul Qayyim (w.751 H) rahimahullah termasuk di antara ulama yang paling menonjol dan paling spesifik membahas hal ini. Oleh karena itu, di dalam tulisan sederhana ini penulis – dengan memohon taufik dari Allah ta’ala – akan mencoba menyajikan kajian ilmiyah seputar surga dan keindahannya melalui bait-bait syair Ibnul Qayyim dari kitab Nuniyah beliau pada bab khusus tentang sifat-sifat surga. Penulis akan berupaya – dengan izin Allah – mengurai bait demi bait agar kesejukan makna-makna yang terkandung di dalamnya bisa merasuk ke dalam hati pembaca yang budiman. Sebelum mengawali bait syairnya, Ibnul Qayyim terlebih dahulu membuat satu pasal yg berjudul; فصل : فيما أعد الله تعالى في الجنة لأوليائه المتمسكين بالكتاب والسنة “Kenikmatan-kenikmatan yang disiapkan oleh Allah ta’ala di surga bagi wali-wali-Nya yang berpegang teguh kepada Al Qur’an dan Sunnah.” Sebagaimana telah kita ketahui bersama bahwa manusia diciptakan di atas muka bumi ini tujuannya adalah untuk menghambakan diri kepada Allah subhanahu wata’ala. Penghambaan diri ini diejawantahkan melalui ketundukan dan ketaatan terhadap segala aturan yang telah ditetapkan oleh Allah subhanahu wata’ala. Siapa yang melanggar dan keluar dari koridor aturan Allah ta’alaa maka akan mendapatkan hukuman berupa siksa yang pedih tak berperi. Sebaliknya siapa yang taat maka akan mendapatkan balasan kebaikan yang tak terhingga. Balasan kebaikan inilah yang Ibnul Qayyim maksud di dalam pasal di atas, yang beliau akan bahas satu persatu di dalam setiap untaian bait syair beliau. Kalau kita mencermati redaksi pasal yang disebutkan Ibnul Qayyim di atas, maka kita akan memahami secara implisit bahwa surga telah ada dan telah diciptakan oleh Allah ta’ala. Kesimpulan ini bukanlah kesimpulan satu atau dua orang kalangan ulama semata, melainkan ia merupakan kesimpulan yang disepakati oleh seluruh ulama Ahlussunnah waljamaah. Di antara ulama tersebut adalah Imam al-Bukhori (w. 256 H). Beliau di dalam kitab Shohihnya secara tegas menyatakan bahwa surga dan neraka telah diciptakan, lalu menyebutkan begitu banyak dalil-dalil yang menguatkan pernyataan tersebut. Pernyataan senada pun diungkapkan oleh Imam at-Thohawi (w. 321 H), beliau berkata : والجنة والنار مخلوقتان لا تفنيان أبدا ولا تبيدان “Surga dan neraka telah diciptakan dan tidak fana selamanya dan tidak akan hancur.”(al-‘Aqidah at-Thohawiyah hal. 26) Mengomentari pernyataaan Imam at-Thohawi di atas Ibnu Abil ‘Izz (w.792 H) berkata : فاتفق أهل السنة على أن الجنة والنار مخلوقتان موجودتان الآن ولم يزل أهل السنة على ذلك حتى نبغت نابغة من المعتزلة والقدرية فأنكرت ذلك “Maka telah sepakat ulama Ahlussunnah bahwasanya surga dan neraka telah diciptakan dan telah ada sekarang. Dan, Ahlussunnah senantiasa berpendapat demikian hingga munculnya kalangan Muktazilah dan kelompok Qadariyah yang mengingkari hal tersebut. (Syarh al-Aqidah at-Thohawiyah, hal. 614) Kesepakatan ulama di atas tentunya disebabkan karena begitu banyaknya dalil-dalil yang menjadi dasar argumentasi mereka baik dari al-Qur’an maupun dari Hadits-hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam. Di antaranya adalah sebagai berikut : Surat Ali ‘Imran ayat 33 : وَسَارِعُوٓا۟ إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa” (QS. Ali Imran : 33) Surat al-Hadid ayat 21 : سَابِقُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا كَعَرْضِ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أُعِدَّتْ لِلَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ. “Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya.” (QS. al-Hadid: 21) Dari kedua dalil di atas terdapat kata” أعدت” yang berarti “disediakan” menunjukkan bahwa surga telah ada karena kata disediakan secara logika menunjukkan sesuatu itu sudah ada. Surat an-Najm ayat 13-15 : وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَى عِندَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى عِندَهَا جَنَّةُ الْمَأْوَى “Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain. Di Sidratul Muntaha (yaitu pohon yang besar sekali berada di langit ketujuh). Di dekatnya ada surga tempat tinggal.” Ayat yang terakhir (ke-15) ini secara eksplisit menyatakan keberadaan surga. Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam : عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى أَعْدَدْتُ لِعِبَادِي الصَّالِحِينَ مَا لَا عَيْنٌ رَأَتْ وَلَا أُذُنٌ سَمِعَتْ وَلَا خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ ذُخْرًا بَلْهَ مَا أُطْلِعْتُمْ عَلَيْهِ ثُمَّ قَرَأَ { فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ Dari Abu Hurairah radiallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, Allah Ta’ala berfirman: “Aku telah menyiapkan bagi hamba-hambaKu yang shalih sesuatu yang belum pernah dilihat oleh mata. Belum pernah terdengar oleh telinga dan tidak pernah terlintas di benak manusia.” Sebagai simpanan, selain apa yang diperlihatkan Allah pada kalian.” Lalu beliau membaca ayat: “Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan.” (as-Sajdah: 17) (HR. Bukhori, no. 4407) Begitupula di dalam peristiwa Mi’raj disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkeliling melihat isi surga sebagaimana hadits panjang yang diriwayatkan oleh Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu di dalamnya disebutkan bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : ثم انطلق حتى أتى سدرة المنتهى فغشيها ألوان لا أدري ما هي. قال: ثم أدخلت الجنة فإذا فيها هي جنابذ اللؤلؤ وإذا ترابها المسك. “Lalu malaikat Jibril berangkat bersamaku hingga sampai ke Sidratul Muntaha, maka ia (Sidratul Muntaha) diliputi oleh aneka warna yang aku tidak ketahui. Beliau berkata : “Lalu aku dimasukkan kedalam surga, ternyata didalamnya terdapat kubah-kubah mutiara sedangkan tanahnya adalah misik.” (HR. Bukhori, no. 3342. Muslim, no. 163) Dan di dalam riwayat yang lain dari ‘Imron bin Hushain dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “ اطلعت في الجنة فرأيت أكثر أهلها الفقراء، واطلعت في النار فرأيت أكثر أهلها النساء “Aku melihat ke dalam surga maka aku menyaksikan mayoritas penghuninya adalah orang-orang miskin, dan aku melihat kedalam neraka maka aku menyaksikan mayoritas penghuninya adalah wanita.” (HR. Bukhori, no. 3241) Dalil-dalil yang tersebut di atas secara gamblang menunjukkan bahwa surga telah ada dan telah diciptakan oleh Allah subhanahu wata’ala. Bahkan menurut jumhur ulama Ahlussunnah bahwa surga yang ditempati oleh Adam dan Hawa sebelum diturunkan ke bumi adalah surga yang kelak akan dimasuki oleh orang-orang beriman. Sehingga pendapat ini semakin memperkuat bahwa surga memang telah ada. Lantas, bagaimana cara mengkompromikan antara hadits-hadits tersebut dengan hadits yang menyatakan bahwa surga belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah terdengar oleh telinga, dan belum pernah terlintas dalam benak pikiran manusia? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, hal paling pertama yang perlu kita ketahui adalah sebuah kaidah umum dalam menyikapi dalil-dalil yang secara zhohir bertentangan yang disebutkan oleh para ulama kita, yaitu : لا يعدل إلى الترجيح إلا إذا تعذر الجمع “Tidak boleh melakukan tarjih (menetapkan yang lebih kuat) kecuali jika kompromi atau penggabungan dalil-dalil tidak mungkin dilakukan.” Atau kaidah lain yang berbunyi : الجمع أولى من الترجيح “Kompromi atau penggabungan dalil-dalil lebih utama dilakukan daripada tarjih” Nah, dalam persoalan ini kita mendapatkan dua jenis dalil yang kelihatannya bertentangan satu sama lainnya. Sehingga berdasarkan kaidah di atas maka wajib bagi kita untuk menggabungkan keduanya dan dalam persoalan ini penggabungan adalah suatu hal yang sangat memungkinkan. Yang kedua, untuk menggabungkan dalil-dalil yang kelihatannya bertentangan, maka caranya adalah sebagai berikut : Pertama-tama, terlebih dahulu perlu kita mencermati makna firman Allah ta’ala dalam hadits Qudsiy yang telah disebutkan yaitu : يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى : أَعْدَدْتُ لِعِبَادِي الصَّالِحِينَ مَا لَا عَيْنٌ رَأَتْ وَلَا أُذُنٌ سَمِعَتْ وَلَا خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ ذُخْرًا بَلْهَ مَا أُطْلِعْتُمْ عَلَيْهِ. Allah Ta’ala berfirman: “Aku telah menyiapkan bagi hamba-hambaku yang shalih sesuatu yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga dan tidak pernah terlintas dibenak manusia.” Sebagai simpanan, selain apa yang diperlihatkan Allah kepada kalian.” Redaksi hadits di atas sama sekali tidak menyebutkan pembatasan bahwa yang akan disediakan bagi orang-orang sholih hanyalah sesuatu yang tidak pernah dilihat oleh mata dan tidak pernah didengar oleh telinga serta tidak pernah terlintas di benak manusia. Ini berarti bahwa di dalam surga ada beberapa kenikmatan-kenikmatan yang sudah pernah terlihat, terdengar dan terlintas dalam pikiran manusia seperti Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, Nabi Adam ‘alaihissalam ataupun malaikat Jibril ‘alaihissalam sebagaimana dalil-dalil yang menyatakan hal tersebut. Sehingga makna yang tepat untuk hadits di atas setelah disandingkan dengan dalil-dalil lain yang kelihatannya bertentangan adalah bahwa Allah menyediakan bagi orang-orang sholih kenikmatan-kenikmatan yang sudah pernah telihat, terdengar, dan terlintas di dalam hati manusia sekaligus juga Allah menyediakan kenikmatan yang lebih agung dari itu berupa kenikmatan-kenikmatan yang belum pernah dilihat, didengar ataupun terlintas di dalam hati manusia. Hal ini diperkuat oleh ujung redaksi hadits yang berbunyi “Sebagai simpanan, selain apa yang diperlihatkan Allah kepada kalian.” Imam Nawawi (w. 676 H) rahimahullah tatkala mengomentari penggalan terakhir dari hadits ini berkata : ومعناها : دع عنك ما أطلعكم عليه ؛ فالذي لم يطلعكم عليه أعظم “Biarkan (tidak usah dipikirkan) nikmat-nikmat yang telah diperlihatkan kepada kalian karena yang tidak diperlihatkan itu niainya jauh lebih hebat.” (Syarh Shohih Muslim, jilid 17, hal. 166) Artinya di sana ada kenikmatan lain selain yang telah diperlihatkan kepada manusia; yaitu kenikmatan yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. Sebagai penutup, berdasarkan dalil-dalil dan argumen-argumen di atas maka bisa disimpulkan bahwa surga adalah sebuah entitas yang tidak boleh diragukan eksistensinya di dalam Islam. Ia telah ada dan telah diciptakan oleh Allah ta’ala. Di dalamnya terdapat dua jenis kenikmatan : Pertama : Kenikmatan yang telah dilihat oleh mata dan telah didengar oleh telinga serta telah terlintas di dalam pikiran manusia. Kedua : Kenikmatan yang lebih besar dari yang pertama yaitu kenikmatan yang sama sekali belum pernah terlihat oleh mata dan belum pernah terdengar oleh telinga serta belum pernah terlintas dalam benak pikiran manusia. Oleh karena itu munculnya keyakinan bahwa Surga itu tidak ada atau belum diciptakaan maka bisa dipastikan bahwa keyakinan tersebut adalah keyakinan yang menyimpang dari ajaran Islam. Wallahu ta’ala a’lam Artikel Akidahalquranislamsurgatauhid