PASAL XVII – KEKACAUAN PEMBELAJARAN Supriyadi Yusuf Boni, 31 Juli 2025 Sumber: Kitab Maraqy al-Wa’yi (Penanaman Kesadaran) Penulis: Prof. Dr. Shaleh bin Abdul Aziz Utsman Sindi Penerjemah: Supriyadi Yousef Boni Editor: Idrus Abidin Banyak persoalan yang dihadapi di masa sekarang ini dan persoalan tersebut tidak asing bagi mereka yang berpengalaman melihat realitas kehidupan. Diantaranya kekacauan berat pada pengetahuan akibat perubahan besar di alam raya ini yang diantaranya adalah klaim keterbukaan bahkan ledakan pengetahuan. Hasilnya, banyak pemuda dan pemudi yang jadi korban, rusak akidah dan agama mereka, tergiring penyimpangan dalam bentuk sikap berlebih-lebihan (al-guluw) atau malah melepaskan diri dari agama (al-inhilal). Saya yakin bahwa penyebab utama penyimpangan pemikiran di kalangan pemuda adalah kekacauan pengetahuan yang dihadapi ditambah lemahnya panduan keilmuan dan kebudayaan. Hari ini, semua orang bisa menulis, berpendapat, mendengar dan menyimak, maka terjadilah percampurbauran antara yang buruk dengan yang baik. Kondisi kita seolah berubah seperti lautan luas berombak, para pemuda dan pemudi asyik berenang mengikuti gelombang ombak menerpa, lalu ada tali yang dibentangkan, namun hanya sedikit yang memegangnya dan terselamatkan. Namun mayoritasnya jadi korban, siapapun yang menarik tangannya akan diikuti walau menuju jalan kesesatan. Tiada yang selamat kecuali yang dikasihi Allah Swt, dengan cara kemampuan memilih tali keselamatan diantara tali kehancuran. Perlu saya tegaskan di awal bahasan ini, bahwa ulasan tentang kekacauan pengetahuan dan kebudayaan kontemporer tidak dimaksudkan untuk wilayah tertentu, namun ulasan ini bersifat umum mencakup realitas kehidupan modern saat ini. Kedua, bahwa tidak penting menjelaskan panjang lebar tentang realitas kehidupan pengetahuan kontemporer, baik dari sisi positif maupun negatifnya. Di mana di antara positifnya adalah mudah mengakses pengetahuan, sehingga banyak waktu dan biaya yang bisa diminimalisir bila dibandingkan dengan kehidupan pengetahuan pada zaman dahulu. Paparan tentang negatifnya dimaksudkan untuk dihindari lalau mengoptimalkan sisi positif yang terkandung di dalamnya. Ciri-ciri Realitas Kehidupan Pengetahuan Kontemporer 1. Produksi Budaya Melimpah; Saat ini kita hidup dalam ledakan pengetahuan tanpa melihat bobot pengetahuannya sendiri, namun saya paparkan kuntitasnya dan bukan kualitasnya. Setiap satu detik ada 350.000 twits di media x Setiap satu detik ada 3.400.000 snabs diproduksi Setiap satu detik total durasi video yang diupload di youtube adalah 500 jam Setiap satu detik ada sekitar 7.500.000,- video ditonton di youtube Setiap satu detik ada 200.000.000,- email terkirim Setiap satu detik ada 41,000 tulisan dipost di facebook Setiap satu detik ada 43.000 gambar diposting di Instagram Data di atas hanya yang dipublish lewat media sosial, belum lagi kalau ditambah dengan materi yang diposting di website, buku-buku, majalah dan koran. Percetakaan hari ini – sekalipun ada sumber informasi di media sosial – masih melahirkan banyak produk setiap tahun. Perlu diketahui bahwa jumlah buku yang dicetak setiap tahun adalah sekitar 2.200.000 judul, dan sekitar 8.000 hingga 11.000 penerbit baru yang didirikan. Jadi, ciri utama kehidupan masa kini adalah ruang pengetahuan dan informasi yang sangat besar dan makin meluas. 2. Paltform pengetahuan dan saluran budaya yang beragam dan banyak. Selain saluran budaya konvensional seperti buku, majallah, koran, ceramah, seminar, program televisi, film dan sinetron dan sebagainya .. Hari ini banyak juga platform baru yang menyuguhkan pemikiran dan pandangan. Dengan begitu akal fikiran makin kenyang lebih cepat dan lebih mudah. Hari ini kita menikmati media sosial dengan segala suguhannya dalam bentuk tulisan atau audio bahkan audio visual. Ada juga situs-situs yang membuka kesempatan berbagi potongan video, motion grafis, info grafis, snabshorts, twit, postingan, podcast dan siaran live. Ada juga salon budaya, café budaya, program dokumenter, dialog dan diskusi interaktif, dan buku audio. Bahkan ada juga games online, tidak lagi dianggap hanya permainan belaka, namun sudah jadi platform budaya yang juga menyuguhkan pemikiran dan mengendalikannya. 3. Gerakan budaya tidak sistematis dan seruan keterbukaan budaya tak terkendali. 4. Banyaknya orang jahat yang memanfaatkan platform yang beragam ini untuk menyebarkan syubhat dan menebarkan racun pemikiran mereka. Dahulu seseorang di antara mereka memerlukan upaya keras untuk bisa menjangkau para pendengar apalagi untuk diterima, namun sekarang upaya yang diperlukan tidak besar. Begitu mudah pancing dilemparkan dan begitu mudah pula korban menangkap umpannya. 5. Manipulasi pengetahuan (informasi) marak terjadi. Banyak sekali pengetahuan buruk yang dikemas dengan kemasan palsu dan dipoles dengan hiasan indah menarik sebagaimana banyak juga kesalahan logika yang ditampilkan sebagai kebenaran ilmiyah. 6. Ketergesaan mengambil informasi kaleng. Bersamaan dengan melimpahnya informasi ada kecenderungan untuk memercayai informasi tercepat dan termudah diakses, masyarakat berebut seperti memperebutkan makanan cepat saji. Fenomena ini mengorbankan keharusan mengedepankan daya analitis untuk sampai pada informasi yang benar. Karena suguhan informasi yang benar memerlukan waktu dan upaya lebih besar. Namun tipikal masyarakat sekarang yang suka instan, membuatnya ingin mengetahui sesuatu secepat kedipan mata. Makanya cukup dengan searching di google lalu hasilnya terlihat dalam waktu satu atau dua detik. Namun apakah informasi itu benar atau salah? Hal ini tidak penting bagi sebagian orang. Fenomena ini sungguh menyedihkan. 7. Tiada Pemandu dan pembimbing. Di lautan informasi yang berseliweran, umumnya kaum mudah merenanginya sendirian, tanpa ada yang membantunya atau mengarahkannya dan membimbingnya. Karena itu, mereka dengan mudah jadi korban santapan orang-orang jahat. 8. Proses Tidak Bertahap Salah satu problem besar hari ini adalah tidak adanya proses bertahap. Setiap orang dapat mengakses informasi tentang pengetahuan dan budaya tanpa peduali apakah cocok dengan usianya atau tidak. Apakah dia menguasai ilmu yang semestinya dia ketahui sebelumnya atau belum dia kuasai. Proses instan sangat berdampak negatif pada bangunan kerangka berfikir dan budaya pada seseorang. Semua disiplin ilmu diketahui berlevel, ada yang ringan dan ada yang berat. Proses mempelajarinya pun berjenjang, ada tingkatan awal, medium dan tinggi. Tidak tepat orang di permulaan mempelajari materi untuk orang-orang level tinggi. Namun proses pembelajaran bertahap ini sudah tidak dikenal lagi hari ini. 9. Akses terbuka tanpa control dan tidak terfilter. Semua hal hari ini dapat diakses hingga persoalan-persoalan detailnya. Kalaupun ada yang dilarang untuk diakses secara syar’i namun itu hanya di ruang sangat terbatas. Dan hari ini semuanya jadi terbuka. Kitab-kitab aliran Khawarij, atheis disertai video, juga kitab-kitab sihir dan bagaimana hadirkan jin, kitab-kitab perdukunan, paranormal hingga video asusila sangat mudah diakses hari ini, bahkan oleh mereka yang masih anak-anak. Dampak Kekacaun Informasi Pengetahuan Banyak sekali dampak negatif yang ditimbulkan oleh kekacauan pengetahuan dan pembelajaran, diantaranya; 1. Kebisingan informasi ini mengakibatkan kekacauan berfikir. Banyak pertanyaan yang mucul hingga munculkan keraguan dalam hati termasuk pada prinsip-prinsip agama, apalagi persoalan turunannya. Kaum generasi muda hari ini ditimpa kemunduran budaya dan konflik pengetahuan ditambah kesempitan hati. Diantara sebabnya adalah; kontradiksi dalam proposisi dan masifnya saling bantah pendapat. Keberlimpahan produk budaya mengakibatkan terjadinya stagnasi hingga kita sering mendengar orang bertanya: ke mana kita menuju? Kadang kita sungguh-sungguh tidak kenal dengan siapa kita. Ini problem besar yang dilahirkan oleh realitas kekacauan informasi yang kita alami. 2. Adanya gempuran terhadap referensi yang kredibel, autentik dan terpercaya. Hari ini banyak seruan untuk giat membaca, akan tetapi bahan bacaan yang bermanfaat bagi perkembangan keagamaan dan kehidupan dunia pembaca sangat sedikit. Generasi muda atau kaum berwawasan sering jauh dari warisan ilmu yang sahih. Mereka punya semangat membaca ratusan twits, duduk lama mendengar celotehan tak berguna, bahkan bisa jadi keburukan lebih banyak, namun dia merasa berat untuk membaca tafsir Ibnu Katsir, Shahih al-Bukhari, kitab at-Tauhid, karya Ibnul-Qayyim, atau kitab lain tentang akidah, fiqih, tafsir, hadits atau pengetahuan duniawi yang bermanfaat lainnya. 3. Pengaruh besar kaum jahat terhadap fikiran generasi muda Islam. Orang yang mengebom masjid saat orang muslim sedang shalat di dalamnya, bagaimana dia bisa sampai pada penyimpangan berat seperti itu? Juga orang yang dengan alasan agama dia tega membunuh ibunya, ayahnya dan keluarganya, atau yang berani memproklamirkan pengingkarannya terhadap Allah Swt, atau yang berani siarkan kemurtadannya, atau yang berani menghina al-Qur’an dan sunnah. Dari mana mereka belajar? Jawabannya: dari buku, potongan video, twits, dari situs-situs internet yang mereka akses tanpa kontrol sehingga mereka berubah menjadi menyimpang membawa pengetahuan dan pemikiran sesat. Tiga dampak inilah yang tampaknya paling menonjol dihasilakn oleh kekacauan informasi dan pengetahuan hari ini. Pandauan Syariat dalam Belajar Tema ini terhitung berat nan luas namun saya ringkas dalam beberapa poin, yakni; 1. Ilmu itu adalah agama, maka perhatikan dari mana kalian belajar. Tidak dibenarkan seseorang belajar agama, budaya yang mengisi akal fikiran dan hatinya dari setiap orang, terutama hari ini yang diisi banyak orang jahat. Agama adalah modal paling berharga, maka mesti tahu dari mana seseorang menerima informasi dan pengetahuan agama dan akidah. 2. Dilarang Minta Diuji dan Dilarang Sebarkan Syubhat. Ketetapan syariat sudah menegaskan dua hal di atas, jangan uji diri dengan mendekati fitnah dan jangan ikut berperan dalam menyebarkan syubhat. Rasulullah Saw bersabda: “Siapa mendengar keberadaan Dajjal maka menjauhlah darinya, demi Allah seseorang yang mendekati dia dengan bermodal iman niscaya dia akan terpengaruh dengan syubhat yang dia tebarkan.” (HR. Abu Dawud, no. 4319) Yakni yang tertulis di antara dua matanya kata kafir. Hadits ini merupakan panduan utama dalam menghindari fitnah dan memutus rantainya, karena siapa yang mengembala di dekat pagar dikawatirkan akan melanggar batas. Jadi, kapan engkau berani serahkan dirimu ke fitnah maka engkau telah berspekulasi atas keselamatan dirimu sendiri yang ujungnya sulit diterka. Nabi Saw sendiri marah melihat Umar bin Khattab r. a. – sosok paling alim dari ummat ini setelah Abu Bakar r. a. – saat membaca kitab Yahudi (HR. al-Musnad, no. 15156). Lantas bagaimana lagi dengan orang jahil yang mencoba membaca buku-buku filsafat Ateisme, dan akidah penuh keraguan serta pemikiran sesat. 3. Jadikan Syariat sebagai Parameter Utama dan Tunggal Syariat adalah parameter semua hal Dan saksi bagi persoalan turunan dan prinsip Firman Allah Swt; فَاِنۡ تَنَازَعۡتُمۡ فِىۡ شَىۡءٍ فَرُدُّوۡهُ اِلَى اللّٰهِ وَالرَّسُوۡلِ اِنۡ كُنۡـتُمۡ تُؤۡمِنُوۡنَ بِاللّٰهِ وَالۡيَـوۡمِ الۡاٰخِرِ ؕ ذٰ لِكَ خَيۡرٌ وَّاَحۡسَنُ تَاۡوِيۡلًا Terjemahannya: “Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Alquran) dan Rasul (sunahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu, lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (Qs; al-Nisa’: 59) Akal, adat kebiasan, dan pendapat individual bukan rujukan. Karena rujukan dan referensi utama adalah syariat bagi segala sesuatu. 4. Manhaj Salaf Shaleh – yang merupakan generasi pilihan, generasi terbaik dan paling dekat dengan kebenaran dari ummat ini – adalah generasi paling jauh dari virus dan pencemaran akidah. Karena itu, para salaf berpesan untuk tidak mendengar kicauan orang-orang yang rusak agamanya dan menajdi penebar bid’ah dan kesesatan, menyebarkan keburukan dan kerusakan di tengah manusia. kenapa? Karena agama sangat mahal di hati mereka namun tidak punya daya menahannya dari hembusan angin kesesatan. Kalau engkau ikuti generasi salaf shaleh maka jauhilah mereka yang menyamarkan agama dan menebarkan virus akidah. 5. Fokus pada yang Bermanfaat Bagimu. Ini termasuk pesan Nabi Saw (dalam Shahih Muslim, no. 2665) maka camkan baik-baik. Fokus untuk tingkatkan kualitas agama dan kehidupan dunia, lalu sibukkan dirimu dengan sesuatu yang sarat guna kemudian abaikan yang selainnya. Hari ini kita sering mendengar orang berkata: Kita ini ummat Iqra’, namun Ummat Iqra’ yang tidak membaca.” Yang benar adalah kita adalah ummat: اِقۡرَاۡ بِاسۡمِ رَبِّكَ الَّذِىۡ خَلَقَ Terjemahannya: ‘Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan,” (Qs; al-Alaq: 1) Jadi tidak penting kita membaca, namun yang terpenting adalah bacaan kita itu bermanfaat. Jika tidak, maka tidak membaca jauh lebih baik bagi seseorang ketimbang membaca objek yang mendatangkan bencana. Bacalah yang bermanfaat di dunia dan yang membahagiakan di akhirat seperti dalam perintah: اِقۡرَاۡ كِتٰبَك َؕ كَفٰى بِنَفۡسِكَ الۡيَوۡمَ عَلَيۡكَ حَسِيۡبًا ؕ Terjemahannya: “”Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada hari ini sebagai penghitung atas amalmu.”” (Qs; al-Isra’: 14). Membaca sebagai sebuah tindakan bukan tujuan, namun membaca yang bermanfaat adalah sarana mewujudkan tujuan. Yakni untuk menjadi orang-orang bahagia. Kemudian diseru pada hari kiamat: فَاَمَّا مَنۡ اُوۡتِىَ كِتٰبَهٗ بِيَمِيۡنِهٖۙ فَيَقُوۡلُ هَآؤُمُ اقۡرَءُوۡا كِتٰبِيَهۡۚ اِنِّىۡ ظَنَنۡتُ اَنِّىۡ مُلٰقٍ حِسَابِيَهۡ Terjemahannya: “Adapun orang yang kitabnya1 diberikan di tangan kanannya, maka dia berkata, “Ambillah, bacalah kitabku (ini). Sesungguhnya aku yakin, bahwa (suatu saat) aku akan menerima perhitungan terhadap diriku.” (Qs; al-Haqqah: 19-20). Jangan sampai engkau termasuk yang: فَيَقُوۡلُ يٰلَيۡتَنِىۡ لَمۡ اُوۡتَ كِتٰبِيَهۡۚ Terjemahannya: “”Alangkah baiknya jika kitabku (ini) tidak diberikan kepadaku.” (Qs; al-Haqqah: 25). Bacalah bacaan yang mendekatkanmu ke syurga dan menjauhkanmu dari neraka. Bacalah sesuatu yang menjadikan timbangan amalmu lebih berat Bacalah semua yang berguna bagi kehidupan agama dan kehidupan duniamu. Bacalah dengan menyebut nama rabbmu yang menciptakanmu. Mereka bisa berdalih: agama itu kuat, maka silahkan baca apa saja. Di antara rayuan kontemporer adalah ajakan sebagian orang kepada generasi muda untuk terbuka membaca walau tanpa kontrol. Mereka berdasar pada syubhat murahan, dan termasuk kerusakan logika dan nalar disebut: “kesalahan mengelola emosi” mereka menyentuh emosi orang-orang kurang ilmu seraya berucap: apakah engkau selemah itu? Apakah karena argumenmu lemah? Jawabannya pasti akan berkata tidak. Lalu dia lanjutkan lagi dengan ajakan: kalau begitu bacalah apa saja, karena agama itu kuat, tak perlu engkau sampai sekawatir itu. Syubhat pada kalimat ini bukan persoalan ilmiyah, logis yang benar, namun hanya sekedar permainan kata-kata, untuk menarik rasa dan emoasi untuk mewujudkan tujuannya. Sanggahan terhadap kalimat tersebut adalah: a. Agama Allah Swt pasti kuat, yang dikawatirkan bukan agama, namun pada orang yang lemah sebagaimana disebutkan Allah Swt dalam ayat: وَخُلِقَ الۡاِنۡسَانُ ضَعِيۡفًا Terjemahannya: “karena manusia diciptakan (bersifat) lemah.” (Qs; al-Nisa’: 28). b. Coba tanyakan ke penebar syubhat ini: Apakah engkau yakin setiap pembaca punya daya tahan? Artinya: apakah penyimpangan pemikiran akidah dan etika mungki terjadi? Jawabannya pasti iya. Jika sudah diketahui demikian maka kita tahu dari mana sumber penyimpangan itu, sehingga kekhawatiran bukan sekedar imajinasi, namun sesuatu yang nyata. Oleh karena itu, kita bermohon kepada Allah Swt. Sebab diantara yang terkandung dalam doa’: اِهۡدِنَا الصِّرَاطَ الۡمُسۡتَقِيۡمَۙ Terjemahannya: “Tunjukilah kami jalan yang lurus,” (Qs; al-Fatihah: 6), adalah meminta agar Allah Swt istiqamahkan kita dalam mengikuti kebenaran. Nabi Saw yang sangat pengasih dan penyayang pernah mengingatkan kita tentang fitnah di akhir zaman, beliau bersabda; “Segeralah kalian beramal shaleh karena fitnah seperti potongan malam gelap, di pagi hari seseorang beriman namun sore hari menjadi kafir, di sore hari beriman namun di pagi hari dia kafir, dia jual agamanya dengan sekelumit dunia.” (HR. Muslim, no. 118) Artinya pada waktu yang sangat singkat hanya beberapa jam, seseorang bisa saja mengubah agamanya, semoga Allah Swt melindungi kita dari penyimpangan agama. c. Kaedah syariat menyebutkan bahwa semakin menyebar sebuah fitnah maka semestinya semakin dijauhi. Diantara dalilnya adalah do’a nabi Ibrahim a. s.: وَّاجۡنُبۡنِىۡ وَبَنِىَّ اَنۡ نَّـعۡبُدَ الۡاَصۡنَامَؕ Terjemahannya: ‘dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku agar tidak menyembah berhala.” (Qs: Ibrahim: 35) lalu dijelaskan sebabnya dalam ayat: رَبِّ اِنَّهُنَّ اَضۡلَلۡنَ كَثِيۡرًا مِّنَ النَّاسِ Terjemahannya: “Ya Tuhan, berhala-berhala itu telah menyesatkan banyak manusia.” (Qs; Ibrahim: 36). Perhatikan bahwa Ibrahim a. s. menyebutkan alasan yang mendasari doa’nya yang dibangun atas dasar kekawatiran: bahwa fitnah patung sudah merebak hingga banyak orang yang tersesat. Pertanyaannya: adakah yang lebih tahan godaan dari Ibrahim a. s.? Siapa yang berani menafikan fitnah yang merebak dan menerpa kita dari segala penjuru? d. Khawatir jadi korban fitnah penyimpangan termasuk tanda-tanda iman yang kuat, bukan tanda lemahnya iman. Makin kuat iman seseorang, makin kawatir dia tersesat lalu makin kuat menjauhi faktor yang melemahkannya. Karena itu, nabi Ibrahim a. s. berdo’a untuk tidak terjebak dalam kesyirikan karena dialah penghulu akidah lurus. Allah Swt menyebutkan do’anya orang-orang yang dalam ilmunya: رَبَّنَا لَا تُزِغۡ قُلُوۡبَنَا بَعۡدَ اِذۡ هَدَيۡتَنَا وَهَبۡ لَنَا مِنۡ لَّدُنۡكَ رَحۡمَةً ۚ اِنَّكَ اَنۡتَ الۡوَهَّابُ Terjemahannya: “(Mereka berdoa), “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi.”” (Qs; Ali Imran: 8). Disebutkan sebelumnya bahwa kaum salaf adalah orang paling takut menyimpang, paling menghindar dari orang-orang sesat, akibat iman dan akal fikiran mereka sangat kuat. Iman di hati mereka sangat berharga, dan tiada bandingannya, semua pintu kebathilan niscaya mereka tutup rapat-rapat. e. Menjauhi objek-objek Syubhat, dan upaya menjaganya bukan karena lemah agama tapi pengaruh kuatnya agama. Ditambah, itu termasuk upaya mengoptimalkan usia yang menjadi modal utama manusia. Menghabiskannya pada sesuatu yang bermanfaat seperti belajar ilmu bermanfaat atau keahlian tertentu pertanda sehat akal. Lantas adakah kepentingan kita untuk membaca sesuatu yang mudharat bagi kita? Seluruh waktu yang kita miliki, jika dihabiskan pada hal yang berguna niscaya hanya sedikit yang dapat diraih. Lantas bagaimana lagi jika digunakan pada hal yang merusak agama dan keyakinan kita? Pesan dalam Membaca dan Belajar. 1. Hindari tipuan pengetahuan, namun hiasilah diri dengan sifat tawadhu. Jangan sekali-kali anggap dirimu menguasai semua hal, dan mampu menjawab semua syubhat. Sungguh ini bahaya laten dan kesalahan besar. Sadari bahwa kemampuanmu terbatas, ingat dan jangan lampaui batas. Tidak tahu banyak hal bukan aib, namun yang aib jika engkau tertipu dan memaksa dirimu pada objek yang tidak engkau kuasai. Secerdas apapun engkau, pasti tak bisa jangkau segala sesuatu. Jika kemampuan fisikmu mengangkat beban terbatas, maka begitu pula kemampuan akalmu menjangkau sesuatu sangat terbatas. 2. Kenali akidah penulis buku yang engkau baca dan ketahui manhajnya. Karena siapa yang menulis pasti berkhidmat untuk akidahnya. 3. Optimalkan usiamu karena sangat berharga, jangan engkau habiskan sia-sia. 4. Kembangkan kemampuan menyanggah dan jangan hanya sebatas mendengar saja. Jika engkau menemukan sesuatu yang berbeda dengan yang diketahui tentang agamamu atau tentang persoalan akidah maka bacalah dengan penuh kehati-hatian, dan jangan menerimanya begitu saja. 5. Istiqamahi persoalan-persoalan prinsip yakni tentang rukun iman, panduan pembelajaran dan dasar syariat. Pegang teguh semua itu, terutama al-Qur’an dan sunnah karena itulah kebenaran, semua yang sumbernya dari Rasulullah Saw juga kebenaran, dan semua yang bertentangan dengannya adalah kebathilan, sama saja engkau tahu atau tidak. Camkan ini baik baik disaat engkau membaca atau mendengar sebuah objek dan jangan tergoncang. 6. Cari Pembimbing yang kredibel dan terpercaya menuntunmu memahami bacaanmu dengan benar, cari orang yang mendengar dengan apa engkau mulai, ulangi dan engkau akhiri. 7. Bertahaplah dalam membaca, ikuti metode yang tepat. Karena siapa yang salah memulai maka salah capaian. 8. Jangan tergesa-gesa. Engkau mungkin ingin menjadi intelektual dalam sehari, pasti mustahil terjadi. Ilmu itu bisa dikuasai dengan menghabiskan waktu yang panjang untuk belajar. 9. Perbanyak berdo’a kepada Allah Swt agar diberi hidayah dan ketekunan. Karena tujuan belajar dan membaca adalah untuk mendapatkan hidayah, maka mintalah hidayah itu dari pemiliknya. 10. Kualitas Lebih Penting Ketimbang Kuantitas. Bukan yang penting berapa banyak buku yang telah engkau baca, namun yang terpenting bagaimana engkau memahaminya. Jika tidak maka banyaknya buku yang engkau baca malah engkau bertambah bingung dan bodoh. 11. Paratemer pengetahuan itu adalah wahyu. Karena dialah sumber ilmu yang murni, dan standar untuk menilai semua pandangan, dia juga yang menyelamatkanmu dari kesalahan dan segala bentuk dugaan. 12. Membaca adalah sarana dan bukan tujuan, maka jangan sampai sarana berubah menjadi tujuan. 13. Lindungi dirimu dengan akidah yang benar. Tugas pertama dan utama saat ini adalah melindungi diri dengan akidah yang benar. 14. Agamamu adalah milikmu paling berharga, maka jangan berspekulasi. Jika engkau punya permata berharga, maka jangan engkau taruh di jalanan, sedang agamamu itu jauh lebih berharga ketimbang permta, maka jangan berspekulasi terhadap agamamu. 15. Jangan Jadikan Hatimu Tempat Sampah. Hari ini banyak sekali kaum muslimin yang menjadikan hatinya sebagai tempat sampah menampung beragama syubhat. Jadi, jika engkau mampu hanya membaca kebenaran maka lakukanlah, jika engkau bisa tidak membaca kecuali yang baik-baik maka lakukanlah, jika engkau diuji maka jadikan hatimu seperti kaca, dia tahu kebathilan namun tidak bisa meresap masuk ke dalamnya. 16. Orang Bahagia adalah yang Belajar dari Orang lain. Banyak orang yang gugur di tengah jalan, sebabnya; mendengar yang salah atau membaca materi yang salah. Maka waspada jangan sampai engkau orang yang terjatuh berikutnya. 17. Keselamatan tidak tertandingi, maka jangan berspekulasi dengan pengetahuan. Sikap kehati-hatian dan berjaga-jaga bukan pertanda pengecut, namun dia adalah keberanian logika yang benar. 18. Waspada jangan sampai tertipu oleh rayuan dan simbol-simbol. Perlu engkau teliti dan menelisik apa yang ada di balik setiap kata dan kalimat. 19. Hati itu Lemah, sedang Syubhat itu Mudah Menerkam. Jangan buang kalimat sekaligus realitas ini dari fikiranmu. 20. Ketenaran bukan Standar Keterpercayaan. Orang terkenal hari ini sangat banyak, namun ketenaran ini kadang bukan dipicu oleh keunggulan intelektual dan kepakaran. Waspada berinterkasi dengan orang-orang terkenal – utamanya di media komunikasi – yang kosong pengetahuan dan ilmu. Jangan jadikan ketenaran sebagai standarmu untuk tempat belajarmu. 21. Jadikan Bukumu Sahabatmu Maksudnya jadikan buku tersebut favorit bagimu, engkau baca setiap saat, mengulang-ulangi menelisik isinya, jika engkau tamatkan, engkau mengulang baca dari awal karena faedahnya yang besar bagimu. Saya Rekomendasikan Tiga Buku Untukmu; Kitab Tafsir al-Sa’di (Taisir al-Karimi al-Rahman fi Tafsiri Kalami al-Mannan) karya syekh Abdurrahman bin Nashir al-Sa’di. Ayat apapun yang musykil bagimu atau yang hendak engkau tahu maknanya maka jadikan kitab ini sebagai rujukan utama untukmu. Jika engkau sanggup membacanya dari awal hingga akhirnya maka saya jamin banyak faedah yang engkau dapatkan dengan izin Allah Swt. Jika engkau ingin tafsir yang lebih luas bahasannya maka baca kitaf tafsir Ibnu Katsir. Kitab “al-Da’u wa al-Dawa’” karya Ibnu al-Qayyim, kitab yang sangat bagus. Andai dikatakan buku itu ditulis dengan sumber mata air maka itu tidak berlebihan Kitab “al-Irsyad ila Shaihi al-I’tiqad” karya Syekh Shalih al-Fauzan, sebuah kitab akidah yang sangat bagus. Terjemahan Kitab Akidahilmuislampembelajarantauhid