ASAL USUL PERKATAAN YANG MENYATAKAN AL-QUR’AN ADALAH MAKHLUK. BAGIAN 3 Supriyadi Yusuf Boni, 14 September 2026 Sumber: Kitab Ma`arij al-Qabul Bisyarhi Sullami al-Wushul Ila Ilmi al-Ushul Fii at-Tauhid Penulis: Syeikh Hafidz bin Ahmad al-Hakami Penerjemah: Ust. Supriyadi Yoesof Boni Editor: Idrus Abidin Diriwayatkan pula bahwa Allah turun di bulan Ramadhan dan tidak menafikan waktu-waktu lainnya. Ali bin Ma’bad meriwayatkan dari Abdullah bin Amru bin Zaid bin Abi Salamh dari Thariq dari Sa’id bin Jubair berkata saya mendengar Ibnu Abbas r.a berkata: sesungguhnya Allah turun ke langit dunia di bulan Ramadhan saat sepertiga malam pertama telah berlalu kemudian meneyru: siapa yang meminta kepada-Ku pasti aku beri, siapa yang mohon ampun pasti aku ampuni dan siapa tang beraubat niscaya Aku terima taubatnya.”[1] Diriwayatkan pula oleh Ubaidullah bin Musa, ia berkata Ibnu Abi Laila meriwayatkan dari al-Minhal dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas r.a, ia menafsirkan firman Allah Swt. yang terjemahannya: (Qs: Ibrahim: 27) bahwa Allah Swt. turun ke langit dunia di bulan Ramadhan menata semua persoalatahun itu lalu Allah menghapus apa yang dikehendaki selain kesedihan, kebahagiaan, kematian dan kehidupan.”[2] Dan, sanadnya hasan. Hadits mauquf ini disepadankan dengan hadits marfu’; oleh sebagian ulama hadits karena mustahil lahir dari fikiran sendiri. Juga karena sudah ditegaskan bahwa turunnya Allah Swt. adalah untuk menuntaskan semua persoalan dan menampakkan diri bagi penduduk surga seperti yang akan diungkap oleh riwayat-riwayat selanjutnya. Kita meyakini dan mengimani semua yang ditegaskan dalam riwayt-riwayat bahwa Allah Swt. turun ke langit dunia tanpa harus mereka-reka bagaimana caranya. Sebab Nabi Saw. tidak menyebutkan cara turunnya ke langit dunia padahal beliau ajarkan bahwa Allah Swt. turun. Sementara itu, mustahil Allah Swt. dan juga Rasulullah Swt. abai tanpa menjelaskan persoalan-persoalan penting untuk diketahui kaum muslimin. Jadi kita imani dan yakini bahwa Allah Swt. turun dengan cara yang dikehendaki dan sepadan dengan kemuliaan dan keagungan-Nya. Kita juga tidak perlu memaksakan diri mencari tahu bagaimana cara turun Allah Swt. karena Rasulullah Saw. sendiri mendiamkannya. Cukuplah bagi kita memahami dan mengimani kandungan nash tanpa harus mengurangi atau menambahinya. Sebagian kelompok mutakallimin memaksakan akal fikiran mereka hingga menebak-nebak cara Allah Swt. turun, bagaimana kursi Allah Swt. yang kosong karena ditinggalkan. Mereka tidak sadar telah masuk pada ruang gelap yang tidak berfaedah bagi mereka. Bahkan termasuk perilaku takyiif yang tidak disebutkan dalam riwayat dan tidak pula dipertanyakan oleh para sahabat Nabi di saat mendengar hadits tentang turunnya Allah ini. Kita mengimani dan meyakininya seperti halnya para sahabat yang mengimani dan meyakininya. Andai seorang berkata: kita mesti menetapkan bahagian-bahagian penting terkait sifat Allah Swt., maka menyangghanya cukup dengan berkata anda tidak berhak memaksa kami mengikuti alur berfikirmu namun paksakanlah itu kepada Rasulullah Saw. Apabila hal itu merupakan konsekuensi dari ucapan Rasulullah Saw. maka wajib diimani dan diyakini karena sebuah sebuah konsekuensi kebenaran adalah kebenaran pula. Namun apabila bukan konsewensi dari ucapan Rasulullah Saw. maka anda melawan sabda Rasulullah Saw. dan anda layak dilabeli pendusta. Al-Baihaqi meriwayatkan dari al-Hakim dari Muhammad bin Shalih bin Hani’ bahwa beliau mendengar Ahmad bin Salamah berkata, saya mendengar Ishak bin Rahawaih berkata, saya pernah bersama dengan ahli bid’ah ini – yakni Ibrahim bin Abi Shalih – di majlisnya al-amir Abdullah bin Thahir, lalu sang Amir bertanya padaku tentang hadits-hadits mengenai turunnya Allah Swt. dan akupun menyebutkan satu per satu. Tetiba Ibnu Abi Shalih nyeletuk, saya mengingkari Tuhan yang turun dari langit ke langit. Lalu aku tegaskan, saya imani Allah yang berhak melakukan apapun yang Dia kehendaki.”[3] Ishak menceritakan, saya pernah menemuai Ibnu Thahir lalu beliau bertanya, bagaimana anda menyikapi hadits-hadits yang menyebutkan Allah Swt. turun ke langit dunia? Saya jawab: para perawinya termasuk tsiqah (terpercaya) yang juga meriwayatkan hadits-hadits tentang hukum syariat. Beliau bertanya: jadi Allah Swt. turun dan meninggalkan Arsy-Nya? Saya jawab: apakah Allah maha bisa untuk turun namun tidak meninggalkan Arsy-Nya? Dia jawab: iya, saya pun bertanya, lantas kenapa engkau meragukan hal itu.[4] Ishak juga menceritakan bahwa Ibnu Thahir pernah bertanya kepadaku: wahai Abu Ya’qub, hadits yang kalian riwayatkan yang berbunyi: Allah turun setiap malam, bagaimana caranya Allah turun? Saya jawab: semoga Allah Swt. senantiasa menjagamu wahai amir. Tidak pantas ditanyakan bagaimana caranya, karena Allah Swt. turun tanpa menjelaskan bagaimana caranya.”[5] Ahmad bin Said al-Ribathi mengatakan: saya pernah hadir di majlisnya Ibnu Thahir yang juga dihadiri Ishak, lalu Ishak ditanya tentang hadits nuzul, apakah statusnya shahih? Ishak menjawab: iya shahih. Lalu sebagian pejabat bertanya, bagaimana caranya turun? Ishak menjawab: saya lihat dulu di atas saya lalu saya ceritakan kepadamu bagaiamna Allah turun. Orang itu berkata, gimana caranya saya pastikan itu, Ishak menjawab; Allah Swt. berfirman yang terjemahannya: (Qs: al-Fajr; 22). Ibnu Thahir berkata: peristiwa dalam ayat ini terjadi di akhirat kelak wahai Abu Ya’qub. Beliau menyanggah, kalau Allah Swt. boleh hadir di hari kiamat, lantas kenapa mustahil hadir hari ini?.[6] dinukil dari kitab al-Uluw. Penjelasan Ishak di atas merupakan keyakinan Ahlussunnah wal Jama’ah seperti yang telah disebutkan sebelumnya. Mereka meyakini keshahihan hadits-hadits tersebut dan memahaminya seperti apa adanya tanpa harus menduga-duga bagaimana caranya. و أنه يجيئ يوم الفصل كما يشاء للقضاء العدل Dan sungguh Dia akan hadir di hari kiamat Untuk memutus semua perkara secara adil. Allah Swt. berfirman yang terjemahannya: Tiada yang mereka nanti-nantikan melainkan datangnya Allah dan malaikat (pada hari kiamat) dalam naungan awan, dan diputuskanlah perkaranya. Dan hanya kepada Allah dikembalikan segala urusan. (Qs: al-Baqarah: 90) Allah Swt. berfirman yang terjemahannya: Yang mereka nanti-nanti tidak lain hanyalah kedatangan malaikat kepada mereka (untuk mencabut nyawa mereka) atau kedatangan (siksa) Tuhanmu atau kedatangan beberapa ayat Tuhanmu. (Qs: al-An’am: 158) Allah Swt. berfirman yang terjemahannya: Dan (ingatlah) hari (ketika) langit pecah belah mengeluarkan kabut putih dan diturunkanlah malaikat bergelombang-gelombang. (Qs: al-Furqan: 25). Allah Swt. berfirman yang terjemahannya: Jangan (berbuat demikian). Apabila bumi digoncangkan berturut-turut, dan datanglah Tuhanmu; sedang malaikat berbaris-baris. (Qs: al-Fajr: 21-22). Allah Swt. berfirman yang terjemahannya: Dan terang benderanglah bumi (padang mahsyar) dengan cahaya (keadilan) Tuhannya (Qs: al-Zumar: 69). Dalam hadits tentang gambaran peristiwa hari kiamat yang diriwayatkan dalam banyak kitab al-masanid (musnad) dan selainnya عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ قَالَ: إِنَّ النَّاسَ إِذَا اشْتَدَّ مَوْقِفُهُمْ فِي الْعَرَصَاتِ، تَشَفَّعُوا إِلَى رَبِّهِمْ بِالْأَنْبِيَاءِ وَاحِدًا وَاحِدًا مِنْ آدَمَ فَمَنْ بَعْدَهُ، فَكُلُّهُمْ يَحِيدُ عَنْهَا حَتَّى يَنْتَهُوا إِلَى مُحَمَّدٍ ﷺ، فَإِذَا جَاءُوا إِلَيْهِ قَالَ: أَنَا لَهَا، أَنَا لَهَا، فَيَنْصَبُّ فَيَسْجُدُ لِلَّهِ تَعَالَى تَحْتَ الْعَرْشِ، وَيَشْفَعُ عِنْدَ اللَّهِ فِي أَنْ يَأْتِيَ لِفَصْلِ الْقَضَاءِ بَيْنَ الْعِبَادِ، فَيَشْفَعُهُ اللَّهُ، وَيَأْتِي فِي ظُلَلٍ مِنَ الْغَمَامِ بَعْدَمَا تَنْشَقُّ السَّمَاءُ الدُّنْيَا، وَيَنْزِلُ مَنْ فِيهَا مِنَ الْمَلَائِكَةِ، ثُمَّ الثَّانِيَةُ، ثُمَّ الثَّالِثَةُ إِلَى السَّابِعَةِ، وَيَنْزِلُ حَمَلَةُ الْعَرْشِ وَالْكَرُوبِيُّونَ. قَالَ: وَيَنْزِلُ الْجَبَّارُ عَزَّ وَجَلَّ فِي ظُلَلٍ مِنَ الْغَمَامِ، وَلَهُمْ زَجَلٌ مِنْ تَسْبِيحِهِمْ يَقُولُونَ: سُبْحَانَ ذِي الْعِزَّةِ سُبْحَانَ ذِي الْجَبَرُوتِ، سُبْحَانَ الْحَيِّ الَّذِي لَا يَمُوتُ، سُبْحَانَ الَّذِي يَمُوتُ بَيْتُ الْخَلَائِقِ وَلَا يَمُوتُ، سُبُّوحٌ قُدُّوسٌ رَبُّ الْمَلَائِكَةِ وَالرُّوحِ، سُبْحَانَ رَبِّنَا الْأَعْلَى، سُبْحَانَ ذِي السُّلْطَانِ وَالْعَظَمَةِ، سُبْحَانَهُ سُبْحَانَهُ أَبَدًا أَبَدًا Dari Abu Hurairah r.a dari Rasulullah Saw. beliau bersbada: “Ketika manusia sudah galau dengan kondisi mereka, berlombahlah mereka meminta syafaat para nabi di hadapan Allah Swt., dimulai dari Adam namun semuanya mengelak dan menaglihkannya kepada Rasulullah Saw. Ketika mereka sampai, beliau Saw. berkata: sayalah yang akan melakukannya, lalu Rasulullah bersujud kepada Allah di bawah Arsy lalu memohon agar turun memutus semua perkara hamba dan Allah Swt. mengabulkan permohonannya. Lalu hadirlah Allah Swt. diselimuti awan setelah langit dunia terbelah. Allah Swt. turun bersama para Malaikat ke langit pertama, kedua hingga ketujuh kemudian para penopang Arsy. Beliau bersabda: Allah Swt. turun diselimuti awan dan mereka melantunkan tasbih: maha suci sang raja diraja, maha suci pemilik kemuliaan dan kekuatan, maha suci Allah yang terus hidup tak pernah mati, maha suci Allah yang mematikan makhluk sedang dia sendiri tidak mati, sungguh maha suci dan disucikan rabbnya para Malaikat dan Jibril, maha suci Allah yang maha tinggi, maha suci Allah pemilik kekuasaan dan keagungan, maha suci Allah selama-lamanya.”[7] وَعَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: يَجْمَعُ اللَّهُ الْأَوَّلِينَ وَالْآخِرِينَ لِمِيقَاتِ يَوْمٍ مَعْلُومٍ، أَرْبَعِينَ سَنَةً، شَاخِصَةً أَبْصَارُهُمْ إِلَى السَّمَاءِ، يَنْتَظِرُونَ فَصْلَ الْقَضَاءِ، وَيَنْزِلُ اللَّهُ فِي ظُلَلٍ مِنَ الْغَمَامِ مِنَ الْعَرْشِ إِلَى الْكُرْسِيِّ Dari Ibnu Mas’ud r.a dari Nabi Saw. bersabda: Allah Swt. mengumpulkan semua manusia dari awal hingga manusia terakhir pada hari kiamat selama empat puluh tahun mereka mendonga ke langit menunggu keputusan Allah Swt., kamudian Allah Swt. turun diselimuti awan dari Arsy ke kursinya.” Diriwayatkan oleh Ibnu Mandah. Al-Dzahabi berkata sanadnya hasan.[8] وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ نَزَلَ الرَّبُّ إِلَى الْعِبَادِ Dari Abu Hurairah r.a dari Nabi Saw. bersabda: di hari kiamat, Allah Swt. turun untuk memutus semua persoalan manusia.”[9] وَعَنْ أَسْمَاءَ بِنْتِ يَزِيدَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، قَالَتْ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ: يَهْبِطُ الرَّبُّ تَعَالَى مِنَ السَّمَاءِ السَّابِعَةِ إِلَى الْمَقَامِ الَّذِي هُوَ قَائِمُهُ، ثُمَّ يَخْرُجُ عَنْقٌ مِنَ النَّارِ فَيَظِلُّ الْخَلَائِقَ كُلَّهُمْ، فَيَقُولُ: أَمَرْتُ بِكُلِّ جَبَّارٍ عَنِيدٍ، وَمَنْ زَعَمَ أَنَّهُ عَزِيزٌ كَرِيمٌ، وَمَنْ دَاعَى مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ Dari Asma’ binti Yazid r.a, ia berkata, saya mendengar Rasulullah Saw. bersabda: Allah Swt. turun dari langit yang ketujuh ke tempat lain lalu keluarlah sebuah leher dari nereka menaungi semua makhluk seraya berkata: saya diperintahkan memangsa semua orang pongah dan pembangkang, juga yang merasa diri penguasa atau yang suka berdo’a kepada selain Allah Swt.” Diriwayatkan oleh Abu Ahmad al-Assal dalam kitab al-Sunnah.[10] Disebutkan dalam kitab shahihain hadits syafa’ah dari Abu Hurairah r.a di mana ditegaskan: يَجْمَعُ اللَّهُ النَّاسَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَيَقُولُ: مَنْ كَانَ يَعْبُدُ شَيْئًا فَلْيَتَّبِعْهُ، فَيَتَّبِعُ مَنْ كَانَ يَعْبُدُ الشَّمْسَ الشَّمْسَ، وَيَتَّبِعُ مَنْ كَانَ يَعْبُدُ الْقَمَرَ الْقَمَرَ، وَيَتَّبِعُ مَنْ كَانَ يَعْبُدُ الطَّوَاغِيتَ الطَّوَاغِيتَ، وَتَبْقَى هَذِهِ الْأُمَّةُ فِيهَا شَافِعُوهَا – أَوْ مُنَافِقُوهَا، شَكَّ إِبْرَاهِيمُ – يَعْنِي ابْنَ سَعْدٍ الرَّاوِيَ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ – فَيَأْتِيهِمُ اللَّهُ فَيَقُولُ: أَنَا رَبُّكُمْ. فَيَقُولُونَ: هَذَا مَكَانُنَا حَتَّى يَأْتِيَنَا رَبُّنَا، فَإِذَا جَاءَ رَبُّنَا عَرَفْنَاهُ، فَيَأْتِيهِمُ اللَّهُ فِي صُورَتِهِ الَّتِي يَعْرِفُونَ، فَيَقُولُ: أَنَا رَبُّكُمْ، فَيَقُولُونَ: أَنْتَ رَبُّنَا، فَيَتَّبِعُونَهُ، وَيُضْرَبُ الصِّرَاطُ بَيْنَ ظَهْرَيْ جَهَنَّمَ. Allah Swt. mengumpulkan manusia pada hari kiamat lalu berfirman: Barang siapa yang menyembah seuatu maka hendaklah ia ikuti sembahannya itu, maka para penyembah matahari mengikuti matahari, para penyembah bulan mengikuti bulan, para penyembah penguasa thagut mengikuti penguasa thagut, hingga tersisalah ummat ini dan para pemberi syafaat – atau orang munafiknya – tampaknya Ibrahim ragu yakni Ibnu Sa’d al-Rawi dari Ibnu Syihab – lalu Allah mendatangi mereka dan berseru: sayalah Tuhan kalian. Mereka bersuara, disini lah kami berdiri hingga Allah Swt. mendatangi kami yang otomatis kami ketahui. Lalu Allah Swt. hadir di tengah mereka dalam bentuknya yang mereka kenal, lalu berkata: sayalah Tuhan kalian, lalu mereka berkata, engkau adalah Tuhan kami dan mereka pun mengikutinya. Lalu membelah jembatan yang berada di atas neraka Jahannam.”[11] Beliau sebutkan hadits ini secara sempurna. Keduanya juga meriwayatkan hadits serupa dari Abu Sa’id di mana disebutkan: حَتَّى يَبْقَى مَنْ كَانَ يَعْبُدُ اللَّهَ مِنْ بَرٍّ أَوْ فَاجِرٍ، فَيُقَالُ لَهُمْ: مَا يَحْبِسُكُمْ وَقَدْ ذَهَبَ النَّاسُ؟ فَيَقُولُونَ: فَارَقْنَاهُمْ وَنَحْنُ أَحْوَجُ مِنَّا إِلَيْهِمُ الْيَوْمَ، وَإِنَّا سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُنَادِي: لِيَلْحَقْ كُلُّ قَوْمٍ بِمَا كَانُوا يَعْبُدُونَ، وَإِنَّمَا نَنْتَظِرُ رَبَّنَا. قَالَ: فَيَأْتِيهِمُ الْجَبَّارُ فِي صُورَتِهِ غَيْرَ الصُّورَةِ الَّتِي رَأَوْهُ فِيهَا أَوَّلَ مَرَّةٍ، فَيَقُولُ: أَنَا رَبُّكُمْ، فَيَقُولُونَ: أَنْتَ رَبُّنَا. فَلَا يُكَلِّمُهُ إِلَّا الْأَنْبِيَاءُ، فَيَقُولُ: هَلْ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُ آيَةٌ تَعْرِفُونَهُ؟ فَيَقُولُونَ: السَّاقُ، فَيَكْشِفُ عَنْ سَاقِهِ، فَيَسْجُدُ لَهُ كُلُّ مُؤْمِنٍ. وَيَبْقَى مَنْ كَانَ يَسْجُدُ لِلَّهِ رِيَاءً وَسُمْعَةً، فَيَذْهَبُ كَيْمَا يَسْجُدَ، فَيَعُودُ ظَهْرُهُ طَبَقًا وَاحِدًا. “Hingga tersisa orang-orang yang menyembah Allah Swt. baik yang baik-baik maupun yang penuh dosa lalu dikatakan ke mereka: bagaiman kalian sedang yang lain sudah berpencar? Mereka jawab: kami tinggalkan mereka, lalu kamu dengar suara yang menyeru agar setiap orang mengikuti sesembahannya sedang kami menunggu Allah Swt. Kemudian Allah Swt. mendatangi mereka dalam bentuk yang berbeda dengan yang mereka lihat sebelumnya, seraya berkata: sayalah rabb kalian, mereka pun jawab, engkaulah rabb kami. Hanya para malaikat yang bercakap denganya, lalu berkata; adakah tanda yang kalian tahu padanya? Mereka jawab: betis, lalu Allah Swt. singkap betis-Nya lantas bersujudlah setiap mukmin kepada-Nya. Kamudian tertinggallah mereka yang sebelumnya sujud kepada Allah namun dipenuhi riya dan sum’ah lalu beranjak sebagaimana sujudnya di satu tingkatan.”[12] Hadits-hadits semacam ini sangatlah banyak. Al-Dzahabi berkata: hadits-hadits mengenai turunnya Allah Swt. sampai pada derajat mutawatir dan telah saya sebutkan jalurnya dan telah aku jelaskan secara detail.”[13] Orang Mukmin memandang Allah di Hari Kiamat و أنه يرى بلا إنكار في جنة الفردوس بالأبصار كل يراه رؤية العيان كما اتى في محكم القرأن و في حديث سيد الأنام من غير ما شك و لا إيهام رؤية حق ليس يمترونها كالشمس صحوا لا سحاب دونها و خص بالرؤية أولياؤه فضيلة و حجبوا أعداؤه Sungguh Dia terlihat jelas Di surga firdaus dengan mata kepala Semua akan melihatnya dengan terang Seperti ditegaskan al-Qur’an Dan di hadits manusia terbaik Tanpa ragu dan bukan berangan Pandangan hakiki tak terhalang Seperti matahari di terik tiada berawan Khusus bagi orang mukmin Sebagai karunia namun musuh Allah terhalang. Allah Swt. berfirman yang terjemahannya: Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat. Dan wajah-wajah (orang kafir) pada hari itu muram, (Qs: al-Qiyamah: 23-24) Firman Allah yang terjemahannya: Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya. (Qs: Yunus: 26) Firman Allah Swt. yang terjemahannya: Mereka di dalamnya memperoleh apa yang mereka kehendaki; dan pada sisi Kami ada tambahannya. (Qs: Qaaf: 35) Firman Allah tentang orang kafir yang terjemahannya: Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar tertutup dari (rahmat) Tuhan mereka. (Qs: al-Muthaffifin: 15). Andai orang mukmin juga terhalang dari melihat Allah maka tiada lagi kelebihan bagi mereka. Firman Allah Swt. yang terjemahannya: Sesungguhnya penghuni surga pada hari itu bersenang-senang dalam kesibukan (mereka). Mereka dan isteri-isteri mereka berada dalam tempat yang teduh, bertelekan di atas dipan-dipan. Di surga itu mereka memperoleh buah-buahan dan memperoleh apa yang mereka minta. (Kepada mereka dikatakan): “Salam”, sebagai ucapan selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang. (Qs: Yasin: 55-58). Firman Allah Swt. yang terjemahannya: mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang. (Qs: al-Mutahffifin: 23). Ayat-ayat ini sangat tegas menunjukkan bahwa orang-orang mukmin akan melihat Allah Swt. di hari kiamat tanpa harus ditakwilkan dan dialihkan maknanya. Hanya orang congkak yang berani membantah kandungan ayat-ayat di atas dan semoga Allah tutup pendengaran dan hati mereka sebagaimana pengelihatan mereka semoga tertutup gelap. Hadits-hadits Rasulullah Saw. juga telah banyak diriwayatkan secara mutawatir oleh para ulama hadits yang maknanya sejalan dengan ayat-ayat di atas seperti Abu Bakar al-Shiddiq, Abu Hurairah, Abu Sa’id, Jarir bin Abdillah, Suhaib, Ibnu Mas’ud, Ali bin Abi Thalib, Abu Musa, Anas, Buraidah bin al-Hushaib, Abu Razin, Jabir bin Abdillah, Abu Umamah, Zaid bin Tsabit, Ammar bin Yasir, Aisyah, Abdullah bin Umar, Ammar bin Raubah, Salman al-Farisi, Hudzaifah bin al-Yaman, Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Amru bin al-Ash, Ubadah bin al-Shamit, Ubay bin Ka’b, Ka’b bin Ujrah, Abu al-Darda’, Fudhalah bin Ubaid, Adi bin Artha’ah, Abu Musa la-Asy’ari dan selainnya. Ini hanya sebagain yang telah disebutkan maka perhatikanlah baik-baik dan camkan dengan hati yang jernih serta renungkanlah dengan seksama. Bergabunglah dengan orang-orang yang arif dan bijak mengikuti kebenaran. Jauhilah prasangka buruk kepada Allah Swt. dan terhadap firman Allah Swt. dan sabda Rasulullah Saw. Karena akan berujung kehancuran. Ketahuilah bahwa prasangka buruk terhadap firman Allah dan sunnah merupakan sebab utama orang tersesat dan celaka. Hanya kepada Allah kita berlindung dan bertawakkal, tiada daya upaya melainkan dari Allah Swt. Dari Abu Bakar al-Shiddiq r.a, ia berkata; di suatu pagi Rasulullah Saw. shalat fajar lalu duduk hingga tiba waktu dhuha, tetiba beliau tertawa lalu diam di tempatnya kemudian shalat dzuhur, ashar dan maghrib tanpa menyelinginya dengan berbicara hingga tiba waktu isya’ lantas kembali ke keluarganya. Para sahabat beratnya kepada Abu Bakar r.a; tidakkah engkau Tanya Rasulullah, ada apa gerangan? Tindakan beliau hari ini berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Abu Bakar pun bertanya kepadanya dan beliau menjawab: عُرِضَ عَلَيَّ مَا هُوَ كَائِنٌ مِنْ أَمْرِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، فَجُمِعَ الْأَوَّلُونَ وَالْآخِرُونَ فِي صَعِيدٍ وَاحِدٍ، فَفَزِعَ النَّاسُ بِذَلِكَ حَتَّى انْطَلَقُوا إِلَى آدَمَ، وَالْعَرَقُ يَكَادُ يُلْجِمُهُمْ، فَقَالُوا: يَا آدَمُ، أَنْتَ أَبُو الْبَشَرِ، وَأَنْتَ اصْطَفَاكَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ، اشْفَعْ لَنَا إِلَى رَبِّكَ عَزَّ وَجَلَّ. قَالَ: لَقَدْ لَقِيتُ مِثْلَ الَّذِي لَقِيتُمْ، انْطَلِقُوا إِلَى أَبِيكُمْ، انْطَلِقُوا إِلَى نُوحٍ. ﴿إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى آدَمَ وَنُوحًا وَآلَ إِبْرَاهِيمَ وَآلَ عِمْرَانَ عَلَى الْعَالَمِينَ﴾ فَيَنْطَلِقُونَ إِلَى نُوحٍ ﷺ، فَيَقُولُونَ: اشْفَعْ لَنَا إِلَى رَبِّكَ، فَأَنْتَ اصْطَفَاكَ اللَّهُ وَاسْتَجَابَ لَكَ فِي دُعَائِكَ، وَلَمْ يَدَعْ عَلَى الْأَرْضِ مِنَ الْكَافِرِينَ دَيَّارًا. فَيَقُولُ: لَيْسَ ذَلِكُمْ عِنْدِي، انْطَلِقُوا إِلَى إِبْرَاهِيمَ، فَإِنَّ اللَّهَ اتَّخَذَهُ خَلِيلًا. فَيَنْطَلِقُونَ إِلَى إِبْرَاهِيمَ ﷺ، فَيَقُولُ: لَيْسَ ذَلِكُمْ عِنْدِي، انْطَلِقُوا إِلَى مُوسَى، فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ كَلَّمَهُ تَكْلِيمًا. فَيَقُولُ مُوسَى ﷺ: لَيْسَ ذَلِكُمْ عِنْدِي، انْطَلِقُوا إِلَى عِيسَى بْنِ مَرْيَمَ ﷺ، فَإِنَّهُ كَانَ يُبْرِئُ الْأَكْمَهَ وَالْأَبْرَصَ، وَيُحْيِي الْمَوْتَى، فَيَقُولُ عِيسَى: لَيْسَ ذَلِكُمْ عِنْدِي، انْطَلِقُوا إِلَى سَيِّدِ وَلَدِ آدَمَ، انْطَلِقُوا إِلَى مُحَمَّدٍ ﷺ، فَلْيَشْفَعْ لَكُمْ إِلَى رَبِّكُمْ عَزَّ وَجَلَّ. قَالَ: فَيَنْطَلِقُ، فَيَأْتِي جِبْرِيلُ رَبَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى، فَيَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: ائْذَنْ لَهُ وَبَشِّرْهُ بِالْجَنَّةِ، فَيَنْطَلِقُ بِهِ جِبْرِيلُ ﷺ، فَيَخِرُّ سَاجِدًا قَدْرَ جُمُعَةٍ، وَيَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: ارْفَعْ رَأْسَكَ وَقُلْ تُسْمَعْ، وَاشْفَعْ تُشَفَّعْ. قَالَ فَيَرْفَعُ رَأْسَهُ، فَإِذَا نَظَرَ إِلَى وَجْهِ رَبِّهِ عَزَّ وَجَلَّ خَرَّ سَاجِدًا قَدْرَ جُمُعَةٍ أُخْرَى، فَيَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: ارْفَعْ رَأْسَكَ وَقُلْ تُسْمَعْ، وَاشْفَعْ تُشَفَّعْ.قَالَ: فَيَذْهَبُ لِيَضَعَ سَاجِدًا، فَيَأْخُذُ جِبْرِيلُ بِضَبْعَيْهِ، فَيَفْتَحُ اللَّهُ عَلَيْهِ مِنَ الدُّعَاءِ شَيْئًا لَمْ يَفْتَحْهُ عَلَى بَشَرٍ قَطُّ، فَيَقُولُ: أَيَا رَبِّ خَلَقْتَنِي سَيِّدَ وَلَدِ آدَمَ وَلَا فَخْرَ، وَأَوَّلَ مَنْ تَنْشَقُّ عَنْهُ الْأَرْضُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَا فَخْرَ، حَتَّى إِنَّهُ يَرِدُ عَلَى الْحَوْضِ أَكْثَرَ مِمَّا بَيْنَ صَنْعَاءَ وَأَيْلَةَ. ثُمَّ يُقَالُ: ادْعُوا الصِّدِّيقِينَ فَيَشْفَعُونَ، ثُمَّ يُقَالُ: ادْعُوا الْأَنْبِيَاءَ، قَالَ: فَيَجِيءُ النَّبِيُّ وَمَعَهُ الْعُصَابَةُ، وَالنَّبِيُّ وَمَعَهُ الْخَمْسَةُ وَالسِّتَّةُ، وَالنَّبِيُّ وَلَيْسَ مَعَهُ أَحَدٌ، ثُمَّ يُقَالُ: ادْعُوا الشُّهَدَاءَ فَيَشْفَعُونَ لِمَنْ أَرَادُوا، قَالَ: فَإِذَا فَعَلَتِ الشُّهَدَاءُ ذَلِكَ قَالَ فَيَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: أَنَا أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ، أَدْخِلُوا جَنَّتِي مَنْ كَانَ لَا يُشْرِكُ بِي شَيْئًا. قَالَ: فَيَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ. قَالَ: ثُمَّ يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: انْظُرُوا فِي أَهْلِ النَّارِ هَلْ تَلْقَوْنَ مِنْ عَمِلَ خَيْرًا قَطُّ؟ قَالَ: فَيَجِدُونَ فِي النَّارِ رِجَالًا، فَيَقُولُونَ لَهُ: هَلْ عَمِلْتَ خَيْرًا قَطُّ؟ فَيَقُولُ: لَا، غَيْرَ أَنِّي كُنْتُ أَسْمَحَ النَّاسِ فِي الْبَيْعِ، فَيَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: اسْمَحُوا لِعَبْدِي بِسَمَاحَتِي إِلَى عَبِيدِي.ثُمَّ يَخْرُجُونَ مِنَ النَّارِ رِجَالًا فَيَقُولُونَ لَهُ: هَلْ عَمِلْتَ خَيْرًا قَطُّ؟ فَيَقُولُ: لَا، غَيْرَ أَنِّي أَمَرْتُ وَلَدِي إِذَا مِتُّ فَأَحْرِقُونِي فِي النَّارِ، ثُمَّ اطْحَنُونِي حَتَّى إِذَا كُنْتُ مِثْلَ الْكُحْلِ فَاذْهَبُوا بِي إِلَى الْبَحْرِ فَاذْرُونِي فِي الرِّيحِ، فَوَاللَّهِ لَا يَقْدِرُ عَلَيَّ رَبُّ الْعَالَمِينَ أَبَدًا.فَقَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُ: لِمَ فَعَلْتَ ذَلِكَ؟ قَالَ: مِنْ مَخَافَتِكَ.قَالَ: فَيَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: انْظُرْ إِلَى مُلْكِي أَعْظَمُ مُلْكِكَ، فَإِنَّ لَكَ مِثْلَهُ وَعَشَرَةَ أَمْثَالِهِ.قَالَ: فَيَقُولُ: أَتَسْخَرُ بِي وَأَنْتَ الْمَلِكُ؟ قَالَ: وَالَّذِي ضَحِكَتْ مِنْهُ الضُّحَى. Betul, hari ini diperlihatkan kepadaku peristiwa yang akan terjadi di dunia dan diakhirat. Manusia akan dikumpulkan di satu bukit dalam ketakutan hingga mereka mendatangi Adam sedang keringat hampir menenggelamkan mereka. Mereka berseru: wahai Adam engaku adalah manusia pertama dan engaku adalah manusia pilihan Allah Swt., tolonglah kami di hadapan Allah Swt. Adam pun berkata, saya sendiri mengalami ketakutan seperti kalian. Pergilah kalian meneui moyang kalian yakni Nuh (ayat yang terjemahannya: Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga ‘Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing), (Qs: Ali Imran: 33). Mereka pun beranjak menemui Nuh alaihissalam lalau berkata: tolonglah kami di hadapan Allah Swt. karena engkau pilihan Allah Swt. dan telah dikabulkan do’amu sebelumnya hingga tiada seorang kafir pun yang berjalan bebas di bumi. Nuh berkata: saya tidak bisa tolong kalian. Pergilah kalian temuai Ibrahim karena dia adalah kekasih Allah Swt., dan mereka pun pergi menemui Ibrahim. Namun Ibrahim juga menajwab: saya tidak punya kewenangan untuk tolong kalian di hadapan Allah Swt. Kata Ibrahim, pergilah kalian menemui Musa ‘alaihissalam karena dialah hamba yang diajak berdialog langsung oleh Allah Swt., namun Musa juga menjawab tidak mampu bantu kalian. Lalu Musa berkata: pergilah kalian menemui Isa bin Maryam ‘alaihissalam karena dia yang pernah meneymbuhkan orang sakit kusta dan menghidupkan orang mati. Namun isa menjawab: saya tidak mampu bantu kalian di hadapan Allah Swt. Isa melanjutkan: pergilah kalian menemui Muhammad Saw. karena dialah yang akan memberi syafaat bagi kalian di hadapan Allah Swt. Beliau berkata: mereka pun datang dan pergilah Jibril mengantarnya menghadap Allah Swt. dan Allah Swt. menjawab: izinkalah dia memberi syafaat dan gembirakan dia dengan surga. Kemudian Jibril mengantarnya seraya tunduk bersujud, kemudian Allah Swt. berfirman: angkat kepalamu, dan mintalah niscaya didengar serta berilah syafaat niscaya akan diterima. Kemudian beliau angkat kepalanya tetiba beliau memandangi wajah Allah Swt. dan langsung sujud sepanjang satu jumat lalu Allah Swt. berseru lagi: angkat kepalamu, bicaralah dan berilah syafat maka akan dikabulkan. Beliau berkata, beliau hendak beranjak bersujud namun Jibril memegang kedua tangannya lalu Allah bukakan pintu do’a yang tiada pernah dibuka sebelumnya kepada siapapun, kemudian beliau berucap: wahai rabbku, Engkau ciptakan aku sebagai penghulunya anak cucu Adam namun itu bukan untuk menyombongkan diri, juga engkau jadikan aku orang yang dibangkitkan pertama kali, hingga engkau berikan telaga yang didatangi oleh banyak orang, lalu dikatakan kepadanya: bedo’alah untuk orang al-shiddiqin maka mereka akan memberi syafaat, lalu dikatakan lagi kepadanya, panggillah para nabi lalu hadirlah para nabi di mana ada seorang nabi yang punya ummat banyak, ada juga yang hanya ditemani lima atau enam ummatnya. Bahkan ada nabi yang tiada pengikut sama sekali. Lalu dikatakan lagi, panggillah para syuhada untuk mereka memberi syafaat untuk siapa yang dia tunjuk kemudian Allah berfirman: Saya adalah dzat maha pemurah, masuklah ke dalam surga-Ku wahai yang tidak pernah syirik kepada-Ku. Mereka pun masuk dalam surga. Beliau lanjutkan, kemudian Allah Swt. berfirman: lihatlah penduduk neraka, adakah di antara mereka yang pernah berbuat baik? Mereka pun bertanya pada seseorang, adakah engkau pernah berbuat baik? Dia jawab: tidak pernah. Hanya saja saya pernah memaafkan orang lain saat berjual beli. Allah Swt. berseru: maafkan hamba-Ku itu seperti ia maafkan hamba-Ku yang lain. Kemudian mereka juga keluarkan seseorang dari neraka seraya menanyainya: adakah engkau pernah berbuat baik? Dia jawab: tidak, hanya saja saya pernah pesankan ke anakku, kalau saya mati maka bakarlah aku lalu tumbuk aku hingga lebur dan buanglah debuku ke laut atau biarkan aku diterbangkan oleh angina karena Allah Swt. tidak mampu kembalikan aku selamanya. Kemudian Allah Swt. bertanya kepada orang itu: mengapa engkau lakukan itu? Ia jawab: karena aku takut kepada-Mu. Allah Swt. berseru, carilah kerajaan terbesar karena aku berikan kepadamu sepuluh kali lipat. Orang itu berucap, adakah engkau mengejekku wahai Allah, karena Engkau Maharaja diraja? Rasulullah pun bergumam, itulah yang membuatku tertawa sejak waktu dhuha tadi. Diriwayatkan oleh Ahmad.[14] Disebutkan dalam kitab shahihain hadits Abu Hurairah bahwa sebagian orang bertanya kepada Rasulullah Saw.: wahai Rasulullah, apakah kita akan melihat Allah? Rasulullah menjawab: adakah kalian terhalang melihat bulan itu di malam purnama. Mereka jawab: tidak wahai Rasulullah. Beliau bertanya lagi: adakah kalian terhalang melihat matahari di siang hari tak berawan? Mereka jawab: tidak wahai Rasulullah. Beliau bersabda: kalian akan melihat Allah seperti itu. Allah Swt. akan kumpulkan manusia di hari kiamat lalu berseru: setiap orang hendaknya mengikuti sembahannya. Penyembah matahari mengikuti matahari, penyembah bulan mengikuti bulan, penyembah tahgut mengikuti thagut, lalu tersisalah kaum munafik dari kalangan ummat ini. Lalu Allah mendatangi mereka dalam bentuk yang berbeda dengan yang mereka tahu, lalu berseru: Sayalah Tuhan kalian. Mereka menjawab, kami berlindung kapada Allah darimu. Kami akan tetap di sini hingga Tuhan kami datang ke kami, karena kami tahu kalau Dia sudah datang. Kemudian Allah mendatangi mereka dalam rupa yang mereka tahu seraya berseru; sayalah Tuhan kalian. Mereka pun menjawab, iya Engkaulah Tuhan kami. Mereka pun mengikuti-Nya dan memukul jembatan yang terbentang di atas nerakan Jahannam. Lalu aku dan ummatku yang pernah diberi pilihan, dan tiada yang boleh berbicara hari itu kecuali para rasul. Adapau do’a para rasul hari itu adalah: ya Allah selamatkanlah selamatkanlah. Sementara di dalam Jahannam ada besi yang ujungnya bengkok seperti duri sa’dan (tumbuhan yang berduri tajam), pernahkah kalian melihat duri Sa’dan? Mereka menjawab: iya pernah. Beliau lanjutkan, sungguh dia seperti duri Sa’dan, hanya saja tidak ada yang mengetahui ukuran besarnya duri tersebut kecuali Allah Swt. Duri itu akan menusuk-nusuk manusia berdasarkan amal-amal mereka. Diantara mereka ada yang dikoyak-koyak hingga binasa dan ada pula yang dipotong-potong hingga selamat melewatinya. Setelah Allah selesai mengadili manusia dan hendak memberikan Rahmat-Nya kepada siapa yang dikehendakinya dari kalangan penduduk neraka maka Allah menyuruh Malaikat mengeluarkan mereka khususnya mereka yang tidak pernah berbuat syirik di antara mereka yang masih bersyahadat. Mereka diketahui melalui bekas-bekas sujud mereka, karena api neraka akan membakar tubuh manusia kecuali bekas sujudnya, Allah haramkan bekas sujud dijilat api neraka. Mereka dikeluarkan dari neraka dalam keadaan gosong terpanggang lalu mereka disiram air kehidupan lantas mereka seolah tumbuh seperti tumbuhnya tanaman di tepian sungai. Setelah Allah selesai memutus perkara antar sesama manusia hingga tersisa seseorang yang hendak dijebloskan ke dalam neraka sehingga dia menajdi orang terkahir masuk ke dalam surga dia berkata: ya Rabb jauhkan wajahku dari api neraka, sungguh angin neraka telah meracuniku dan baranya telah memanggangku. Lalu dia berdo’a kepada Allah dalam waktu lama lalu Allah Swt. berfirman: apakah seandainya Aku berikan kesempatan lain kepadamu, adakah engaku meminta kepada selainnya? Dia menajwab, tidak sama sekalai, saya tidak akan memaintak kepada selainnya. Kemudian Allah Swt. berikan kepadanya janji dan ikatan perjanjian yang dikehendaki Allah lalu Allah palingkan muka orang itu dari neraka. Ketika dia dihadapkan ke surga dan telah memandanginya dia diam terperangah. Lalu dia berucap, ya Rabb dekatkan aku ke pintu surga, lalu Allah berfirman: bukankah engkau telah berikan janji dan ikatan perjanjian bahwa engkau tidak akan meminta selain dari yang telah ku berikan kepadamu? Sungguh serakah engkau dan betapa engkau penipu. Diapun kembali memangil Allah seraya Allah berseru kembali: apakah kalau aku berikan kesempatan lain engkau tidak meminta yang lain lagi? Dia jawab, iya dan demi kagungan-Mu. Lalu Allah serahkan perjanjian kepadanya lalu dia didekatkan ke pintu surga. Ketika dia berdiri di pintu surga lalu dia melihat keindahan surga yang penuh fasilitas menggiurkan, dia kembali terdiam terperangah lalu berucap, wahai Rabb, masukkan aku ke dalam surga. Lalu Allah Swt. berfirman: bukankah engkau telah berjanji tidak akan meminta selain dari yang telah aku berikan kepadamu? Sungguh serakah dan penipu engkau wahai manusia. Kemudian orang itu berkata, ya Rabb jangan Engkau jadikan aku hamba-Mu yang paling celaka. Orang itu terus berdo’a dan meminta hingga Allah Swt. tersenyum melihatnya. Lalu di saat itu Allah berseru kepadanya: masuklah sengkau ke dalam surga. Setelah di dalam, Allah berkata kepadanya, berangan-anganlah, lalu dia hanyut dalan angan-angan yang ini dan itu. Dan ketika sampai pada penghujung angan-angannya Allah berkata, engkau mendapatkan semuanya.” Abu Said berkata orang itu diberi sepuluh kali lipat dari yang dia angankan. Atha bin Yazid menagatakan, Abu Said dan Abu Hurairah tidak menolak hadits ini. Abu Hurairah juga mengatakan: sesungguhnya Allah mengatakan seperti itu kepada orang tersebut. Abu Said berkata, adakah dia diberi sepuluh kali lipat wahai Abu Hurairah. Abu Hurairah menjawab, saya lupa kecuali sabdanya: itu untukmu ditambah yang serupa lagi.” Abu Said berkata, sungguh saya hafal betul sabda Rasulullah yang mengatakan: itu untukmu ditambah sepuluh kali lipat. Abu Hurairah berkata, itu balasan orang terakhir masuk surga.[15] Keduanya juga meriwayatkan dari Abu Said al-Khudri r.a ia berkata, sebagian orang datang menemui Rasulullah seraya bertanya: wahai Rasulullah, adakah kita akan melihat Allah Swt. di hari kiamat? Rasulullah jawab: iya, adakah kalian terhalang melihat matahari di tengah hari dalam keadaan langit tak berawan? Mereka jawab; tidak wahai Rasulullah. Beliau bersabda: kalian tidak akan terhalang melihat Rabb tabaraka wa ta’ala pada hari kiamat sebagaimana kalian saling melihat satu sama lain. Pada hari kiamat akan ada yang berseru, hendaklah setiap orang mengikuti sembahannya. Setiap orang yang pernah menyembah selain Allah seperti patung, atau berhala melainkan akan berjatuhan masuk ke dalam neraka, hingga tiada tersisa melainkan orang yang menyembah Allah, baik yang baik atau yang pendosa dan sebagian sisa-sisa kaum ahli kitab. Lalu kaum Yahudi dipanggil dan ditanya: apa yang kalian sembah dahulu? Mereka jawab: kami menyembah Uzair putra Allah. Lalu dikatakan, kalian pendusta. Allah Swt. tidak pernah punya anak dan tak punya pasangan. Apa yang kalian inginkan. Mereka jawab: kami kehausan wahai Tuhan kami, berilah kami air. Lalu mereka ditunjuki dan diperintah untuk masuk. Merekapun dijebloskan ke neraka seperti dedaunan yang saling bertabrakan satu sama lain hingga masuk ke dalamnya. Kaum Nashara juga dipanggil dan ditanya; siapa yang kalian sembah dahulu? Mereka jawab: kami menyembah al-masih putra Allah. Lalu dikatakan ke mereka, kalian pendusta, Allah tidak punya pasanagn dan tidak pula beranak. Mereka ditanya, apa yang kalian butuhkan Mereka jawab: kami kehausan wahai tuhan kami, berilah kami air. Lalu mereka ditunjuki dan diperintah untuk masuk. Merekapun dijebloskan ke neraka seperti dedaunan yang saling bertabrakan satu sama lain hingga masuk ke dalamnya. Tersisalah mereka yang dahulu menyembah Allah, baik orang yang baik maupun yang pendosa, mereka didatangi oleh Allah Swt. dengan bentuk yang paling minim mereka ketahui. Lalu mereka ditanya, apa yang kalian tunggu, hndaklah setiap kalian mengikuti sembahannya. Mereka jawab: wahai rabb, kami berpisah dengan manusia di dunia dan kami sangat membutuhkan mereka namun kami tidak menemaninya. Lalu Allah berkata: sayalah Tuhan kalian. Mereka menjawab: kami berlindung kepada Allah darimu dan kami tidak pernah ragu terhadap Allah sampai-sampai sebagaian mereka hampir terjatuh. Lalu mereka ditanya, adakah tanda Allah yang kalian tahu? Mereka jawab: iya, lalau Allah singkap betisnya, maka semua orang yang pernah menyembah Allah dengan tulus diizinkan untuk bersujud. Dan semua orang yang bersujud karena riya diajdikan punggungnya rata, setiap kali mau sujud maka jatuhlah tengkuknya. Kamudian mereka angkat kepala mereka dan melihat bentuk yang sudah berubah dari yang mereka lihat sebelumnya seraya dikatakan ke mereka: sayalah rabb kalian. Mereka juga berkata, iya engakulah tuhan kami. Lalu dibentangkanlah jembatan untuk mereka di atas nerakan Jahannam dan mereka diberi syafaat. Rasulullah ditanya, jembatan apa itu? Jawab Rasulullah: ia tempat licin menggelincirkan, di sana ada penyambar-penyambar, penggaet-penggaet, duri-duri bagaikan tumbuhan berduri, pada duri itu ada cucuk-cucuk kecil yang disebut kayu Sa’dan. Lalu orang-orang mukmin melintasinya secepat kedipan mata, seperti kilat, seperti angin, seperti burung yang terbang, secepat kuda atau unta. Maka ada yang selamat dan diselamatkan, ada juga yang digaruk dan diselamatkan dan ada yang dijbeloskan di dalam neraka Jahannam. Ketika semua orang mukmin telah habis ditarik dari neraka, demi Allah tiada seorang pun yang lebih menuntut haknya dari sesama kaum muslimin yang melebihi keinginan kaum muslimin menyelamatkan saudaranya dari neraka. Mereka berkata: wahai Rabb kami, mereka itu berpuasa bersama kami, shalat bersama kami, dan juga berhaji. Lalu dikatakan kepada mereka; keluarkanlah dari neraka siapa yang kalian kenal lalu selamatlah mereka dari neraka. Maka keluarkan jumlah yang banyak dan telah terbakar betis hingga lutut mereka. Mereka berkata: ya Allah tidak ada lagi yang tersisa. Allah kembali berseru: kembalilah kalian ke sana dan lihatlah siapa diantara mereka yang masih ada di hatinya iman walau seberat dzarrah dan keluarkanlah mereka. Lalu keluarlah jumlah yang banyak dari neraka. Lalu mereka berkata: wahai rabb, tiada lagi yang tersisa. Kemudian Allah berkata: kembalilah kalian ke sana dan lihatlah siapapun yang di hatinya ada sekelumit kebaikan maka keluarkanlah. Lalu dikeluarkanlah jumlah banyak dari penduduk neraka. Lalu mereka berucap; ya Rabb, tiada lagi yang kami sisakan di dalam. Abu Said berkata: jika kalian tidak mempercayai hadits ini maka bacalah firman Allah Swt. yang terjemahannya: Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebajikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipat gandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar. (Qs: an-Nisa: 40). Allah Swt. berfirman: para malaikat telah memberi syafaat, para nabi juga telah memberi syafaat, orang-orang mukmin pun telah memberi syafaat, tinggallah dzat yang maha pemurah, kemudian Allah menggenggam neraka lalu keluarkan dari neraka sekelompok kaum yang tidak pernah berbuat baik, mereka hitam legam terpanggang lantas dilemparkan ke dalam sungai di pinggir surga yang disebut sungai kehidupan. Kemudian mereka tumbuh seperti tumbuhan tanaman di pinggir sungai. Mereka terlihat seperti pepohonan yang hijau dan kunig. Mereka lebih putih daripada bayangan? Mereka pun bertanya, wahai Rasulullah, kelihatannya engkau pernah mengembala di pengunungan. Beliau melanjutkan, mereka keluar seperti intan yang di leher mereka ada kalung yang diketahui penduduk surga. Penduduk surga lantas berkata: mereka itu orang yang dibebaskan Allah dan dimasukkan ke dalam surga tanpa amal kebaikan sedikit pun. Kemudian Allah berseru: masuklah kalian ke dalam surga, apapun yang kalian lihat maka itu untuk kalian. Mereka lantas berucap, waha Rabb, Engkau berikan kami apa yang belum Engkau berikan kepada selain kami di dunia. Lalu Allah berfirman: kalian akan Ku beri yang lebih baik dari ini semua. Mereka lantas berkata: waha Rabb, adakah sesuatu yang lebih baik dari semua ini? Allah menjawab: iya, Ridha-Ku hingga aku tak akan murka kepada kalian selam-lamanya.”[16] [1] Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Ashim dalam kitab al-Sunnah (513), al-Lalaka’i (766). Syekh al-Albani mengatakan: sanadnya shahih. [2] Al-Suyuthi menyandarkannya kepada Ibnu Jarir dalam tafsirnya (walaupun saya tidak temukan redaksi ini atau yang mirip dengannya dari Mujahid) al al-Faryabi, Ibnu al-Mundzir, Ibnu Abi Hatim dalam kitab al-Syu’ab (al-Durru al-Mantsur 4/659), Ibnu Abi Laila adalah Muhammad bin Abdirrahman bin Abi Laila dikenal lemah hafalannya. Sedang al-Minhal tampaknya hanya wahm (dugaan) sehingga sanad hadits ini lemah. Adapun klaimnya bahwa derajatnya hasan itu diambil dari statemen Ibnu al-Qayyim dalam kitab Mukhtashar al-Shawaiq (2/245). Atsar ini tidak ditemukan dalam kitab tafsir: “dan Allah teguhkan orang-orang mukmin” namun yang ada adalah “Allah menghapus apa yang dikehendaki dan menetapkan yang dikehendaki.”…(QS: al-Ra’du: 39). [3] Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam kitab al-Asma’ wa al-Shifat (hal. 568). [4] Diriwayatkan oleh A-Baihaqi dalam kitab al-Asma’ wa al-Shifat (hal. 568). [5] Al-Baihaqi dalam kitab al-Asma’ wa al-Shifat (hal 568), sebelumnya juga disebutkan oleh al-Lalaka’i (774). Silahkan lihat penjelasan hadits tentang nuzul karya syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (hal 41) dan dalam kitab Fatwa al-Hamawiyah (hal 41). [6] Kitab al-Uluw (hal 133), lihat pula keterangan syekh al-Albani terhadap nash-nash ini dalam kitab Mukhtasharnya (hal 191-193). [7] Akan disebutkan pada lembaran berikutnya potongan riwayat yang kedua disertai pandangan ulama tentangnya, termasuk beberapa redaksi yang tampak munkar. [8] Disebutkan al-Dzahabi dalam kitab al-Uluw (hal 73 dan 74) dari jalur Ibnu Mandah lalu berkata, sanadnya hasan. [9] Disebutkan potongannya dalam kitab al-Uluw karya al-Dzahabi (hal 73) sedang redaksi ini tidak tertuang dalam shahih Muslim dari hadits Ibnu Juraij berkata, kami diberitahu Yunus bin Yusuf dari Sulaiman bin Yasar dari Abu Hurairah secara marfu’ sebagaimana disebutkan al-Dzahabi bahwa tidak ada redaksi seperti ini di riwayat Muslim dari jalur ini kecuali hanya satu hadits yakni: pertama yang diputus pada hari kiamat adalah tiga perkara….Akan tetapi redaksi ini tidak ada (Muslim 1905), lihat Tuhfatu al-Asyraf (13482) di mana hadits ini disebutkan dengan tambahan redaksi. Di lain sisi redaksi ini disebutkan dalam riwayat al-Tirmidzi (2382 lalu beliau berkata, hadits ini hasan gharib akibat perawi bernama al-Walib bin Abi al-Walid yang ditengarai lemah. [10] Disebutkan oleh Ibnu al-Qayyim dalam kitab al-Shawaiq (Mukhtashar 2/246) dan disandarkan juga kepadanya oleh Syahr bin Husyab sekalipun telah dilemahkan haditsnya oleh Aban bin Abi Ayyasy yang dianggap tertolak haditsnya. [11] Al-Bukhari (2/292-293) dalam bahasan al-Adzan bab keutamaan sujud, dan Muslim (1/163-166/182) dalam bahasan al-Iman bab mengetahui cara ru’yah. [12] Al-Bukhari (13/420-422) dalam bahasan Tauhid bab firman Allah وجوه يومئذ ناضرة إلى ربها ناظرة dan Muslim (1/167-171) dalam bahasan iman, bab mengetahui tata cara ru’yah. [13] Kitab al-Uluw (hal. 730). [14] Ahmad dalam kitab Musnadnya (1/4-5), Ibnu Abi Ashim dalam kitab al-Sunnah (816), Abu Ya’la (56 dan 57), Ibnu Khuzaimah dalam kitab al-Tauhid (hal 202-203), Abu Uwanah (1/175-178), Ibnu Hibban Mawarid (2589), al-Bazzar dalam kitab Sanadnya (kasyfu al-Astar, 4/168/3465), al-Daulabi dalam kitab al-Kuna (2/155-156). Semuanya dari jalur al-Bara’ bin Naufal dari Walan al-Adawi dari Hudzaifah dari Abu Bakar secara marfu’. Ibnu Hibban mengatakan: Ishak (bin Rahawih) mengatakan: ini salah hadits mulia yang diriwayatkan oleh banyak sahabat Rasulullah Saw. diantaranya: Hudzaifah, Abu Mas’ud, Abu Hurairah dan selainnya. Menurut saya hadits ini dishahihkan oleh sebagian ulama diantaranya, Ishak bin Rahawaih, Ibnu hibban, al-Haitsami, Ahmad Syakir dan Nashiruddin al-Albani. [15] Al-Bukhari 2/292-293 dalam bahasan al-Adzan bab keutamaan sujud, dan Muslim (1/163-166/182) dalam bahasan iman bab mengetahui tata cara ru’yah. [16] Al-Bukhari 13/420-422) dalam bahasan Tauhid bab firman Allah وجوه يومئذ ناضرة إلى ربها ناظرة dan Muslim 1/167-171 dalam bahasan iman bab mengetahui cara melihat Allah. Terjemahan Kitab Akidahalquranilmuislamsyubhattauhid