Skip to content
AKIDAH.NET
AKIDAH.NET

Keyakinan Pangkal Penghayatan

AKIDAH.NET
AKIDAH.NET

Keyakinan Pangkal Penghayatan

PASAL XVI – KEBEBASAN ANTARA LIAR DAN TERBATAS

Supriyadi Yusuf Boni, 31 Juli 2025

Sumber: Kitab Maraqy al-Wa’yi (Penanaman Kesadaran)

Penulis:  Prof. Dr. Shaleh bin Abdul Aziz Utsman Sindi

Penerjemah: Supriyadi Yousef Boni

Editor: Idrus Abidin

            Tema kebebasan yang difahami dewasa ini mengundang perdebatan panjang akibat perbedaan orang memahaminya dan implementasinya. Tidak disangkal bahwa kata kebebasan sangat selaras dengan kecenderungan nafsu, senang mendengarnya apalagi ditunjang oleh banyak bukti dalam warisan referensi sastra dan pujangga Arab klasik.

            Namun di masa sekarang terjadi perubahan besar, di mana kata kebebasan malah menjadi sumber masalah. Kata kebebasan didefiniskan beragam, digunakan menuntut hak namun dipakai pula untuk melakukan kebathilan, orang-orang baik dan zindiq ikut membicarakannya. Sungguh penting kata kebebasan diletakkan di bawah lensa mikroskop untuk ditetapkan batasannya dan diketahui aturannya, yang mana yang benar dan yang salah. Sebab semua orang memperalat kebebasan untuk kepentingannya sendiri, bahkan kekurangajaran dianggap sebagai kebebasan, orang boros juga beralasan kebebasan, orang menyimpang pun dianggap karena kebebasan.

            Betapa banyak kata ini menemui pelecehan, distorsi dan permainan, hingga ditunggangi oleh kaum pemberontak, dijadikan jembatan melanggar etik dan sarana meruntuhkan moralitas. Bukan bermaksud untuk menolak kebebasan secara mutlak, hanya yang dilarang adalah kebebasan palsu, atau menempatkan kebebasan untuk keburukan dan kejahatan seperti yang sudah menyebar di lingkungan sekitar.

            Ulasannya, bahwa ada dua metode menetapkan eksistensi kebebasan dan aturannya. Kebebasan yang proporsional dan berguna diakui oleh Islam yang mengajarkan keadilan, rahmat dan bijaksana. Kebebasan palsu digunakan oleh kaum pembangkang dari berbagai sekte untuk menentang syariat Allah Swt. Semuanya akan dipaparkan pada lembaran berikutnya.

  • Panduan Tepat Berinteraksi dengan Istilah-Istilah Glamor

            Seorang muslim yang berakal sehat senantiasa tidak reaktif menyikapi istilah-istilah yang ketetapannya antara diterima atau ditolak belum termaktub dalam al-Qur’an dan sunnah, terutama istilah-istilah yang liar dan bebas, atau yang dipengaruhi oleh masa. Seorang muslim mesti berhati-hati lalu menimbangnya berdasarkan parameter syariat sebelum dia menerima atau menolaknya.

            Syariat adalah parameter satu-satunya untuk semua hal

                        Saksi atas prinsip dan turunannya.

            Ada perang persepsi yang menggelora saat di alam raya, yakni perang istilah dan simbol. Sungguh banyak pemikiran sesat yang ditawarkan berlindung di balik istilah-istilah indah dan simbol-simbol menarik.

            Kata-kata indah nan manis namun membawa racun mematikan.

            Bukan main-main kala Rasulullah Saw mengkawatirkan ummatnya tergoda oleh kalimat indah menjebak dalam kebathilan. Disebutkan dalam kitab al-Musnad (no. 143) secara marfu’ dan riwayat lainnya secara mauquf, bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Sungguh yang paling saya takutkan menimpa ummatku adalah tipuan seorang munafik dengan lisannya yang manis.”

            Fakta menunjukkan bahwa orang-orang munafik dan pengusung maksiat hanya perlu memilih kata-kata menarik, memainkan istilah untuk membuat mereka tenggelam dalam pemikiran sesat, baik melalui pintu sikap berlebih-lebihan (guluw) atau pintu kebebasan. Yang menarik adalah kata-kata yang sulit diberi batasan maknanya secara detail malah memberi pengaruh lebih besar pada target, dan diperlukan waktu panjang dan upaya besar untuk menetralisir pengaruhnya dalam diri.

  • Definisi Kebebasan

            Tidak ada definisi kebebasan yang definitif dan disepakati semua orang. Makna kebebasan difahami berbeda akibat perbedaan pengetahuan, kecenderungan dan motif. Konflik antara kebaikan dan keburukan, sikap adil dan aniaya banyak dipengaruhi oleh perbedaan mengartikan kebebasan ini. Kebebasan termasuk istilah yang digunakan di banyak sektor, dan dipakai para ahli di bidang bermacam-macam, seperti fuqaha, filosof, pakar hukum, ahli legal, politikus, psikolog, sosiolog dan selainnya.

            Kamus filsafat modern memuat definisi umum tentang kebebasan seperti pernyataan bahwa; kebebasan adalah kemampuan merealisaikan sebuah tindakan atau penolakan terhadap sebuah tindakan tanpa ditekan oleh faktor eksternal.” Atau bahwa kebebasan adalah; independensi setiap individu dalam bertindak, dan tidak tunduk pada satu tekanan atau kekuatan tertentu.’ Secara ringkas mungkin definisi kebebasan dapat dituangkan melalui kalimat ringkas bahwa; memberikan keinginan kewenangan mutlak dalam memilih.

            Perhatikan, kalimat ringkas ini jika diuraikan di bidang berbeda tampaknya akan berjilid-jilid. Singkatnya, mungkin banyak definisi kebebasan secara teoritis yang serupa, namun untuk menetukan aturan-aturan aplikatifnya akan berbeda antara satu orang dengan orang lainnya.

  1. Apakah Istilah al-Hurriyah (Kebebasan) Disebutkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah?

            Kata al-hurriyah tidak disebutkan dalam al-Qur’an dan tidak juga dalam sunnah menurut maknanya yang disebutkan sebelumnya. Yang disebutkan adalah istilah al-hurriyah (orang merdeka) lawan dari kata al-riqqu (hamba sahaya), namun ini tema lain yang tidak berkorelasi dengan tema ini. Oleh sebab itu, mesti ditelisik makna yang terkandung dalam istilah ini, kita terima yang benar dan kita tolak yang salah.

  • Realitas Kebebasan Palsu dan Indikatornya.

            Kebebasan palsu adalah kebebasan liar tanpa batasan apapun, atau seolah bisa melakukan apapun tanpa aturan apapun. Kebebasan jenis inilah yang disemarakkan sekarang ini terutama di dunia barat. Kebebasan palsu ekstrim ini memiliki beberapa ciri, diantaranya;

  1. Dia mengajak bersikap individualisme. Artinya kepentingan pribadi berupa keinginan nafsu, kemaslahatan diri dan pribadi mesti diprioritaskan. Tidak peduli dengan kemaslahatan masyarakat.
  2. Setiap person wajib bebas pengawasan dan kontrol, bebas dari segala perintah atau larangan.
  3. Tidak ada parameter tetap untuk mengukur yang benar dan yang bathil, atau standar baik dan buruk atau aturan etis mulia dan moral rendah.

            Oleh karenanya, dia adalah kebebasan yang liar terlepas dari segala aturan, bahkan terlepas dari aturan values, dan value termulia yang dia lepaskan adalah agama yang benar. Kebebasan seperti ini tidak membedakan antara orang yang menyembah Allah Swt yang maha pengasih dan maha penyayang dengan orang yang menyembah batu, sapi atau bahkan setan.

            Terkait etiks dan moral, mereka hanya tahu kenikmatan dunia, kepentingan dan nafsu semata. Kebebasan seperti ini mengagungkan syahwat, atas nama kebebasan semua orang boleh menikmati semua penyimpangan dan kemaksiatan, juga bebas mengutarakan pendapatnya sekalipun menentang syariat, atau merusak moral atau melanggar adat kebiasaan. Sungguh kebebasan seperti ini adalah palsu, awalnya kesenangan namun ujungnya hanya kerusakan dan kehancduran. Sungguh benar-benar kehancuran … tiada yang disisakan kebebasan seperti ini bagi mereka kecuali kehancuran.

            Atau apakah kebebasan ini meninggalkan kebahagiaan? Jawabannya pasti tidak. Yang ada adalah kesulitan, kepedihan, dan kesengsaraan. Hidup sangat murah dan hina bagi mereka, hingga tidak segan-segan mereka bunuh diri hanya karena diputus kekasih, atau sekedar kesebelasan andalannya kalah.

            Nilai apa yang hendak dicari pada kebebasan yang malah merugikan? Nilai apa yang hendak digapai pada kebebasan yang mana seseorang tidak punya kendali atas dirinya atau korban emosinya? Adakah keterjajahan lebih buruk dari keterjajahan seperti ini?

            Namun yang sangat disayangkan adalah bahwa arti kebebasan sudah menyerang kita hingga ke rumah kita, tujuannya untuk menjadikan tumbuh kembang generasi Islam jauh dari agama dan sejarahnya, mereka mengajak pemuda dan pemudi Islam hidup sebebas-bebasnya sekalipun perahu tenggelam bersamanya.

            Kebebasan meneggelamkan mereka melalui syahwat dengan dalih kebebasan personal. Kemudian menenggelamkannya dalam keraguan lewat kebebasan berfikir. Kemudian membuangnya di lembah pembangkangan terhadap agamanya dengan dalih kebebasan berpendapat. Akhirnya, dia dihempaskan bersama ombak kekufuran dan atheisme hingga menjadi murtad dengan dalih kebebasan beragama.

            Kebebasan yang buruk rupa ini, ditampakkan sebagai rahmat namun di dalamnya penuh siksa, slogannya keterbukaan, walau hakikatnya ibarat rantai berat membelenggu. Setiap individunya dipenjara oleh kenikmatan, syahwat menuntunnya, nafsu mengendalikannya. Kondisinya ibarat ranting rapuh, tiupan angin sepoi menggoyangnya, kadang miring ke syahwat, kadang miring ke status, kadang diperbudak dinar atau dirham, hingga menajdikan nafsunya sebagai tuhannya, dia ikuti tanpa petunjuk dari Allah Swt, kecuali kalau Allah Swt sayang padanya.

            Mereka buta dan tuli hingga tidak sadar kalau manusia itu adalah hamba Allah Swt. Mereka sulit dipisahkan dari status kehambaan, apakah dia sebagai hamba Allah Swt dan dimerdekakan dari penghambaan kepada selainnya, atau dia menjadi hamba syahwat, atau kesohoran, atau harta benda. Bahkan bisa jadi dia menjadi hamba pakaiannya sendiri. Disebutkan oleh al-Bukhari, no. 2887 bahwa Rasulullah Saw bersbada: “Celakalah hamba dinar, dirham, baju qathi’ah dan baju khamishah.”[1]

            Kesimpulan; wajah buruk kebebasan terlihat ketika dimaknai – sedcara teoritis atau praktis – sebagai kemerdekaan dari ikatan agama Allah Swt. Dan ini sesuatu yang terburuk.

  • Kebebasan dalam Islam

            Sebelumnya saya sebutkan bahwa kebebasan seperti yang difahami saat ini tidak tertuang dalam al-Qur’an dan sunnah. Namun demikian, ada beberapa makna yang dapat jadi pertimbangan memaknai kebebasan dengan tepat dan disebutkan dalam Islam, yakni;

  1. Al-Hurriyah (orang merdeka) lawan dari kata al-riqqu (budak). Orang merdeka sejatinya hukum dasar yang berlaku bagi semua orang. Lalu status al-riqqu (budak) merupakan status yang dilekatkan kemudian pada orang-orang tertentu sesuai dengan aturan fiqih.
  2. Al-Hurriyah dimaknai marwah diri, etika mulia dan sehat fikiran. Di mana seorang hamba komitmen dan taat, jauh dari kebathilan dan segala tindakan remeh dan hina. Jenis al-hurriyah ini yang sering disebutkan para pujangga Arab di masa Jahiliyah, bahwa al-hurriyah adalah sosok teladan penuh etika dan moralitas. Orang al-hurr adalah sosok teladan tak punya kekurangan.

            Namun sosok hurr jangan tujukan padaku

                        Cacian kecuali kalau saya telah berubah

Al-Hurriyah dengan makna seperti ini termasuk yang ditegaskan dan dianjurkan oleh Islam.

  • Al-Hurriyah diartikan hak dan wewenang yang melekat pada setiap individu untuk bertindak sesuai kehendaknya lalu bertanggung jawab atas semua tindakannya itu.
  • Al-Hurriyah diartikan bolehnya seseorang menikmati semua persoalan mubah dengan mengikuti aturan syariat. Firman Allah Swt:

قُلۡ مَنۡ حَرَّمَ زِيۡنَةَ اللّٰهِ الَّتِىۡۤ اَخۡرَجَ لِعِبَادِهٖ وَالطَّيِّبٰتِ مِنَ الرِّزۡقِ قُلۡ هِىَ لِلَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا فِى الۡحَيٰوةِ الدُّنۡيَا خَالِصَةً يَّوۡمَ الۡقِيٰمَةِ

Terjemahannya: “Katakanlah (Muhammad), “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah disediakan untuk hamba-hamba-Nya dan rezeki yang baik-baik? Katakanlah, “Semua itu untuk orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, dan khusus (untuk mereka saja) pada hari kiamat.” (al-A’raf: 32).

  • Al-Hurriyah diartikan terbebas dari kungkungan akidah dan keyakinan yang bathil atau terbebas dari tekanan dan dominasi manusia lainnya. Jadi, Islam sesungguhnya mengajarkan al-hurriyah (kebebasan) yang memuliakan, tepat dan menggembirakan. Kebahagiaan manusia mustahil ditopang oleh kebebasan hewani. Namun kebebasan membahagiakan hanya yang terikat dan tunduk pada aturan Islam.

Berikut ini indikator al-hurriyah (kebebasan) yang diajarkan dalam Islam; yakni:

  1. Kebebasan pertama yang diajarkan Islam adalah kebebasan hati untuk tidak tergantung pada makhluk, terbebas dari segala keyakinan berbau khurafat, nafsu dan fanatisme buta. Di mana hati dan seluruh tubuh hanya terpaut dengan Allah Swt.
  2. Kebebasan yang diakui Islam merupakan hak dasar setiap individu. Mereka bebas melakukan kebaikan bahkan diberi ganjaran pahala, demikian pula, mereka bebas melakukan keburukan namun dibalas dengan sanksi, artinya manusia menjadi objek pembebanan hukum. Firman Allah Swt:

وَنَفۡسٍ وَّمَا سَوّٰٮهَا فَاَلۡهَمَهَا فُجُوۡرَهَا وَتَقۡوٰٮهَا قَدۡ اَفۡلَحَ مَنۡ زَكّٰٮهَا‏ وَقَدۡ خَابَ مَنۡ دَسّٰٮهَا

Terjemahannya; ‘demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)nya, maka Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya, sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu), dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.” (Qs; al-Syams: 7-10)

  • Landasan kebebasan dalam Islam adalah: setiap individu tahu diri dan tahu batas, tahu hak dan kewajiban, diharuskan besikap adil dan hanya tunduk pada kekuasaan kebenaran. Karena hanya kebenaran yang mesti diikuti, di manapun berada dan kapapun bertengger.”
  • Kebebasan dalam syariat adalah kesanggupan individu untuk berbuat selama tidak menimbulkan mudharat baik untuk dirinya sendiri maupun untuk orang lain. Perlu diperhatikan dua sisi ini dan bukan hanya satu sisi, tidak boleh berlaku menodai diri dan dilarang pula menodai orang lain. Kebebasan liar yang disebutkan pada lembaran sebelumnya hanya melihat satu sisi saja. Mereka berkata; jangan rusak orang lain. Akan tetapi untuk dirimu sendiri boleh melakukan apa saja. Pertanyaannya, mana diantara dua konsep kebebasan yang lebih logis dan lebih penuh kasih?
  • Syariat Islam mengajarkan sikap proporsional antara kebebasan dengan tanggungjawab. Sebagaimana kebebasan itu adalah hak individual maka tanggungjawab terhadap diri, agama dan orang lain juga merupakan kewajiban individual. Jika engkau melakukan hakmu maka penuhi pula kewajibanmu. Sebenarnya definisi tentang kebebasan yang benar sangat jelas, terlihat dalam ajaran Islam, yakni; setiap individu boleh menuntut hak namun dituntut juga memenuhi hak orang lain.
  • Islam mempertegas garis demarkasi antara kebebasan individual “melakukan apa yang dia kehendaki” dengan “melakukan apa yang seharusnya”. Bahagian kedua inilah yang benar bukan yang pertama.
  • Islam menegaskan perbedaan antara kebebasan dengan kekacauan. Semua orang meyakini bahwa kebebasan semestinya diikat dengan aturan, lantas Islam hadir menetapkan aturan itu agar hidup berjalan seimbang dan terhindar dari kezhaliman, baik yang menimpa diri sendiri atau menimpa orang lain. Jadi, kebebasan dalam Islam tidak mutlak dan liar, terukur dan tidak bias.
  • Islam mengajarkan:
  • Kebebasan yang tidak disertai sikap adil akan jatuh ke jurang kehinaan
  • Kebebasan dan akhlak mulia adalah dua sejoli yang mustahil dapat dipisahkan.
  • Kehinaan dan kebebasan dua hal yang kontradiksi dan tidak sejalan.
  • Melanggar syariat Allah Swt dan menyakiti orang muslim, baik agama mereka, kitab suci mereka, nabi mereka bukan kebebasan namun itu bentuk permusuhan dan pelanggaran terhadap prinsip keadilan dan moralitas. Olehnya itu:
  • Menghalangi seseorang menzhalimi orang lain bukan pelanggaran terhadap prinsip kebebasan.
  • Menentang orang yang menyakiti kaum muslimin dan mengganggu kehidupan mereka bukan pelanggaran terhadap kebebasan.
  • Melawan orang yang menghina Islam bukan pelanggaran terhadap kebebasan
  • Amar makruf dan nahi mungkar dengan panduan syariat bukan pelanggaran terhadap kebebasan.
  • Syariat Islam mengajarkan orang muslim bahwa engkau bebas berkata-kata, berfikir, berusaha selama kebebasanmu tidak melanggar aturan agama, atau mengancam keselamatan masyarakat, atau mengganggu kehidupan mereka, atau melanggar hak lebih penting atau selama tidak mudharat bagi dirimu sendiri atau orang lain. Engkau bebas selama tidak melanggar aturan Allah Swt, atau selama tidak jadi budak nafsumu, atau selama tidak zhalimi orang lain, atau melanggar hak-hak mereka.
  • Syariat Islam mengajarkan bahwa kebebasan itu realitas hidup dan bukan tujuan hidup. Siapapun yang melaksanakan aturan Islam maka sesungguhnya dia telah bebas, menikmati kebebasan hakiki, dan mewujudkan kebahagiaan dirinya.

            Sedang tujuan hidup adalah penghambaan totalitas kepada Allah Swt. Itulah tujuan satu-satunya kenapa engkau diciptakan, dan semestinya ini pulalah yang wajib mendapat perhatian besar untuk diwujudkan dalam hidup. Sejauh mana penghambaan kepada Allah Swt direalisasikan maka sebesar itu pula kadar kebebasan yang diraih.

            Sangat disayangkan, sebagian kaum muslimin dan muslimat kala dinasehati bahwa tunaikan kewajiban dan tinggalkan yang haram, mereka menjawab: saya bebas lakukan apap saja. Sungguh hina pernyataan seperti ini. Siapa yang mengatakan kepadamu bahwa engkau bebas sebebas-bebasnya?

            Siapa yang mengatakan padamu bahwa engkau bebas melanggar syariat Allah Swt? Siapa yang memberimu kewenangan untuk menjadikan kebebasan sebagai senjata menentang orang yang menasehatimu? Sadarilah bahwa engkau adalah hamba Allah Swt, diwajibkan menaatiNya, dan dilarang durhaka keapadaNya.

            Sungguh aneh, bagaimana bisa seorang muslim berkata seperti itu, sedang dia sadar kalau Allah Swt menunggunya dan akan mengadilinya lalu membalas amalannya. Kesimpulan: kebebasan itu hanya dalam penghambaan bukan di selainnya. Arti yang benar pada Firman Allah Swt:

فَمَنۡ شَآءَ فَلۡيُؤۡمِنۡ وَّمَنۡ شَآءَ فَلۡيَكۡفُرۡ

            Terjemahannya: “barang siapa menghendaki (beriman) hendaklah dia beriman, dan barang siapa menghendaki (kafir) biarlah dia kafir.” (Qs: al-Kahfi: 29). Dan Firman Allah Swt:

لَاۤ اِكۡرَاهَ فِى الدِّيۡنِ​

            Terjemahannya: “Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam),” (Qs: al-Baqarah: 256). Dan Firman Allah Swt:

لَـكُمۡ دِيۡنُكُمۡ وَلِىَ دِيۡنِ

            Terjemahannya: “Untukmu agamamu, dan untukku agamaku.” (Qs: al-Kafirun: 6).

            Bahwa sebagian orang mengaku bahwa kebebasan manusia dalam kendali manusia sepenuhnya, di mana dia bebas memilih keyakinan. Dia bebas beragama apapaun sesuai seleranya, atau memeluk agama yang dia kehendaki, atau meninggalkan agama yang dia inginkan, semua agama diperlakukan sama termasuk Islam.

            Mereka sedang menisbahkan kebebasan memeluk keyakinan yang bathil kepada Islam, mereka dengungkan kepada mereka yang awam yang tidak tahu bagaimana mendudukkannya berdasar dalil syariat. Jika diperhatikan, pernyataan mereka itu sarat persoalan akibat sebagain mereka bermental kaum terjajah, karenanya mereka menyesuaikan Islam pada keinginan orang barat, memaksanya melebur. Juga karena orang muslim tidak punya identitas plus eksistensi, semua karakter dan keistimewaan pudar dan punah.

            Mereka butuh cermin terbalik, seakan tugas orang muslim adalah berpenampilan sesuai keinginan orang barat atau orang timur, sekalipun harus melanggar aturan Allah Swt atau mengubah ketentuan syariat. Sungguh mereka itu salah besar. Karena Islam itu adalah agama yang hak yang diturunkan oleh Allah Swt, ditinggikan atas agama lainnya, punya kelas sendiri, hikmah dan hukumnya sendiri. Islam sama sekali tidak dituntut untuk menyesuaikan dengan selainnya atau kebiasaan masyarakat.

            Siapa yang imani seluruh aturannya maka pasti dia bahagia di dunia dan di akhirat. Sebaliknya, siapa yang ingkari Islam maka sebenarnya dia mencelakai dirinya sendiri dan tidak akan merusak Islam. Firman Allah Swt:

وَلَا يَحۡزُنۡكَ الَّذِيۡنَ يُسَارِعُوۡنَ فِى الۡكُفۡرِ​ اِنَّهُمۡ لَنۡ يَّضُرُّوا اللّٰهَ شَيۡـــًٔا يُرِيۡدُ اللّٰهُ اَلَّا يَجۡعَلَ لَهُمۡ حَظًّا فِىۡ الۡاٰخِرَةِ وَلَهُمۡ عَذَابٌ عَظِيۡمٌ‏

            Terjemahannya: “Dan janganlah engkau (Muhammad) dirisaukan oleh orang-orang yang dengan mudah kembali menjadi kafir; sesungguhnya sedikit pun mereka tidak merugikan Allah. Allah tidak akan memberi bagian (pahala) kepada mereka di akhirat, dan mereka akan mendapat azab yang besar. (Qs: Ali Imran: 176).

            Tidak diragukan lagi, bahwa siapa yang tahu benar tentang Islam pasti akan sadar bahwa kebebasan yang diklaim selama ini sarat kedustaan dan kesesatan nyata. Karena dalil-dalil syariat dan juga kesepakatan kaum muslimin bahwa Islam adalah agama yang benar dan satu-satunya yang diterima Allah Swt. Firman Allah Swt:

وَمَنۡ يَّبۡتَغِ غَيۡرَ الۡاِسۡلَامِ دِيۡنًا فَلَنۡ يُّقۡبَلَ مِنۡهُ​ وَهُوَ فِى الۡاٰخِرَةِ مِنَ الۡخٰسِرِيۡنَ‏

            Terjemahannya: “Dan barang siapa mencari agama selain Islam, dia tidak akan diterima, dan di akhirat dia termasuk orang yang rugi.” (Qs: Ali Imran: 85). Juga firman Allah Swt;

اِنَّ الدِّيۡنَ عِنۡدَ اللّٰهِ الۡاِسۡلَامُ

            Terjemahannya: “Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam.” (Qs: Ali Imran: 19).

            Setiap orang tidak bebas untuk memilih memeluk Islam atau mengingkarinya atau keluar dari Islam. Setiap individu diharuskan memeluk Islam. Bila tidak, maka dia diancam kekal di neraka. Firman Allah Swt:

وَمَنۡ لَّمۡ يُؤۡمِنۡۢ بِاللّٰهِ وَرَسُوۡلِهٖ فَاِنَّاۤ اَعۡتَدۡنَا لِلۡكٰفِرِيۡنَ سَعِيۡرًا‏

            Terjemahannya: “Dan barangsiapa tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir itu neraka yang menyala-nyala.” (Qs: al-Fath: 13).

            Adapun dalih mereka menggunakan Firman Allah Swt:

فَمَنۡ شَآءَ فَلۡيُؤۡمِنۡ وَّمَنۡ شَآءَ فَلۡيَكۡفُرۡ ​

            Terjemahannya: “barang siapa menghendaki (beriman) hendaklah dia beriman, dan barang siapa menghendaki (kafir) biarlah dia kafir.” (Qs: al-Kahfi: 29). Maka ini termasuk kekeliruan besar. Karena ayat ini tidak memberikan pilihan antara berimana atau kufur. Ayat ini mengandung ancaman dan peringatan keras seperti diketahui dalam tata bahasa Arab. Bukti bahwa ayat ini hanya mengandung ancama adalah potongan ayat setelahnya. Firman Allah Swt:

اِنَّاۤ اَعۡتَدۡنَا لِلظّٰلِمِيۡنَ نَارًا ۙ اَحَاطَ بِهِمۡ سُرَادِقُهَا​ ؕ

            Terjemahannya: “Sesungguhnya Kami telah menyediakan neraka bagi orang zalim, yang gejolaknya mengepung mereka.” (Qs: al-Kahfi: 29).

            Jadi ayat ini berisi ancaman bagi mereka yang memilih kufur setelah tahu tentang Islam., sebagaimana di dalamnya disebutkan kemahakayaan Allah Swt. Artinya ini adalah kebenaran dari Allah Swt, jika kalian beriman maka iman akan memberi manfaat untuk kalian, namun jika kalian kufur maka kekufuran kalian tidak berefek pada Allah Swt. Jadi ayat ini bukan dalil terhadap klaim kebebasan menurut mereka.

            Adapun Firman Allah Swt:

لَاۤ اِكۡرَاهَ فِى الدِّيۡنِ​ 

            Terjemahannya: “Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam),” (Qs: al-Baqarah: 256). Maka ayat ini terlalu banyak dipolitisir.

            Kata “la” dalam ayat ini bisa dimaknai “nafyu” penafian atau “nahyun” larangan. Jika dimaknai penafian maka ayat ini memuat ketetapan dari Allah Swt bahwa kalian wahai manusia tidak berhak memaksa orang lain memeluk Islam. Karena beragama yang baik adalah yang didasari oleh ketulusan hati, dan itu tidak bisa dipaksakan.

            Jika dimaknai larangan, maka seseorang yang bayar jizyah tidak dipaksa masuk Islam. Sekalipun jizyah tidak menolongnya di sisi Allah Swt kelak, jika dia mati tidak beragama Islam, maka dia termasuk penduduk neraka dan mendapat laknat dari Allah Swt.

            Jadi, kata tidak ada paksaan dalam ayat ini hanya bermakna tidak boleh memaksa orang memeluk Islam, bukan boleh keluar Islam. Kemudian Firman Allah Swt:

لَـكُمۡ دِيۡنُكُمۡ وَلِىَ دِيۡنِ

            Terjemahannya: “Untukmu agamamu, dan untukku agamaku.”” (Qs: al-Kafirun: 6). Ayat ini hanya menunjukkan pelepasan diri dan bukan penetapan; artinya kita berlepas diri dari kekufuran dan orang-orang kafir. Isi surah ini semuanya tentang pelepasan diri dan bukan berarti pengakuan terhadap agama mereka, bahkan Allah Swt sendiri menamai mereka sebagai orang kafir. Firman Allah Swt:

قُلۡ يٰۤاَيُّهَا الۡكٰفِرُوۡنَۙ‏

            Terjemahannya: ‘Katakanlah (Muhammad), “Wahai orang-orang kafir!’ (Qs; al-Kafirun: 1) lalu Allah sebutkan pelepasan diri dari mereka, seolah berkata: saya tidak sembah sembahan kalian karena sembahan itu bathil, lalu jika kalian tetap menyembah sembahan kalian maka itu artinya bagi kalian agama kalian dan bagiku agamaku.

            Ayat ini juga memuat perintah Allah Swt kepada nabinya Saw dalam Firman Allah Swt:

اَنۡـتُمۡ بَرِيۡٓــُٔوۡنَ مِمَّاۤ اَعۡمَلُ وَاَنَا بَرِىۡٓءٌ مِّمَّا تَعۡمَلُوۡنَ‏

            Terjemahannya: ‘Kamu tidak bertanggung jawab terhadap apa yang aku kerjakan dan aku pun tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu kerjakan.”” (Qs: Yunus: 41) Juga seperti kandungan pernyataan Huud dalam Firman Allah Swt:

اِنۡ نَّقُوۡلُ اِلَّا اعۡتَـرٰٮكَ بَعۡضُ اٰلِهَتِنَا بِسُوۡٓءٍ​ ؕ قَالَ اِنِّىۡۤ اُشۡهِدُ اللّٰهَ وَاشۡهَدُوۡۤا اَنِّىۡ بَرِىۡٓءٌ مِّمَّا تُشۡرِكُوۡنَ ۙ‏ مِنۡ دُوۡنِهٖ​

            Terjemahannya; ‘kami hanya mengatakan bahwa sebagian sesembahan kami telah menimpakan penyakit gila atas dirimu.” Dia (Hud) menjawab, “Sesungguhnya aku bersaksi kepada Allah dan saksikanlah bahwa aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan, dengan selain-Nya, (Qs; Hud: 54-55). Wallahu a’lam.

Untuk tambahan penjelasan silahkan baca:

            Kitab al-Ubudiyah karya syekh Ibnu Taimiyah. Sungguh penjelasannya sangat bernas.


[1] Qathi’ah dan kahmishah adalah dua jenis baju.

Terjemahan Kitab Akidahilmuislamkebebasantauhid

Navigasi pos

Previous post
Next post

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recent Posts

  • Perkataan Ulama Ahlussunnah Waljama`ah Terkait Sifat “Al-`Uluw” (Kemahatinggian Allah) (Bagian 5)
  • Perkataan Ulama Ahlussunnah Waljama`ah Terkait Sifat “Al-`Uluw” (Kemahatinggian Allah) (Bagian 4)
  • INFORMASI ALAM GHAIB
  • PERTAMA – BUKTI ADANYA ALLAH SWT.
  • SYUBHAT KETIGA: PIDANA MATI ORANG MURTAD
Mei 2026
S S R K J S M
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031
« Jan    

ahli kitab (2) ahlussunnah (2) akal (4) Akidah (104) Al 'Uluw (2) Allah (5) alquran (32) budaya (4) dalil (2) evolusi (1) firqah (2) firqah najiyah (2) ghaib (2) hadits (2) hidayah (2) ibadah (3) ibnu taimiyah (4) ilmu (65) imam syafi'i (9) iman (3) islam (91) kalam (2) kenabian (4) kesesatan (2) keyakinan (1) kristologi (5) ma'rifah (2) manusia (2) meditasi (1) nubuwah (3) pengetahuan (16) perdebatan (1) rububiyah (1) sejarah (4) sunnah (4) syubhat (5) tabiin (1) tafsir (2) takdir (2) tauhid (79) taurat (3) teori (2) tsaqafah (3) uluw (2) wahyu (2)

©2026 AKIDAH.NET | WordPress Theme by SuperbThemes