Skip to content
AKIDAH.NET
AKIDAH.NET
AKIDAH.NET
AKIDAH.NET

ASAL USUL PERKATAAN YANG MENYATAKAN AL-QUR’AN ADALAH MAKHLUK. BAGIAN 4

Supriyadi Yusuf Boni, 29 September 2026

Sumber: Kitab Ma`arij al-Qabul Bisyarhi Sullami al-Wushul Ila Ilmi al-Ushul Fii at-Tauhid

Penulis:  Syeikh Hafidz bin Ahmad al-Hakami

Penerjemah: Ust. Supriyadi Yoesof Boni

Editor: Idrus Abidin

            Dari Jarir bin Abdillah r.a, ia berkata, kami pernah duduk bersama Nabi Saw. lalu tetiba beliau memandangi bulan di malam ke empat belas lalu bersabda: “Kalian akan melihat Rabb kalian dengan mata kepala sebagaiman kalian melihat bulan itu tanpa terhalangi pandangan kalian, jika kalian sanggup tidak ketinggalan shalat sebelum terbitnya matahari dan shalat sebelum matahari terbenam, maka lakukanlah.”[1]

            Disebutkan dalam shahih Muslim dari Shuhaib r.a, ia berkata: Rasulullah Saw. bersabda:

إِذَا دَخَلَ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: تُرِيدُونَ شَيْئًا أَزِيدُكُمْ؟ قَالُوا: أَلَمْ تُبَيِّضْ وُجُوهَنَا، أَلَمْ تُدْخِلْنَا الْجَنَّةَ وَتُنَجِّنَا مِنَ النَّارِ؟ قَالَ: فَيَكْشِفُ الْحِجَابَ، فَمَا أُعْطُوا شَيْئًا أَحَبَّ إِلَيْهِمْ مِنَ النَّظَرِ إِلَى رَبِّهِمْ

“Ketika penduduk surga masuk ke surga, Allah Swt. berfirman: adakah keinginan kalian agar Aku tambahkan untuk kalian? Mereka berkata, bukankah wajah kami telah Engkau jadikan bersinar? Bukankah Engaku telah masukkan kami ke surga dan selamatkan kami dari neraka? Lalu Allah Swt. menyingkap hijab dan mereka tidak memeroleh kenikmatan melebihi kenikmatan melihat Allah Swt. Kemudian beliau membaca firman Allah Swt. yang terjemahannya: (bagi orang-orang yang berbuat baik diberikan balasan baik dan tambahan.”[2]

            Al-Thabarani meriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud r.a. dari Rasulullah Saw., beliau bersabda:

يَجْمَعُ اللَّهُ الْأَوَّلِينَ وَالْآخِرِينَ لِمِيقَاتِ يَوْمٍ مَعْلُومٍ أَرْبَعِينَ سَنَةً، شَاخِصَةً أَبْصَارُهُمْ إِلَى السَّمَاءِ، يَنْتَظِرُونَ فَصْلَ الْقَضَاءِ، وَيَنْزِلُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فِي ظُلَلٍ مِنَ الْغَمَامِ مِنَ الْعَرْشِ إِلَى الْكُرْسِيِّ، ثُمَّ يُنَادِي مُنَادٍ: أَيُّهَا النَّاسُ، أَلَمْ تَرْضَوْا مِنْ رَبِّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَرَزَقَكُمْ وَأَمَرَكُمْ أَنْ تَعْبُدُوهُ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا أَنْ يَوَلِّيَ كُلَّ أُنَاسٍ مِنْكُمْ مَا كَانُوا يَتَوَلَّوْنَ وَيَعْبُدُونَ فِي الدُّنْيَا؟ قَالُوا: بَلَى».قَالَ: فَيَنْطَلِقُ كُلُّ قَوْمٍ إِلَى مَا كَانُوا يَعْبُدُونَ وَيَتَوَلَّوْنَ فِي الدُّنْيَا، قَالَ: فَيَنْطَلِقُونَ وَيَمْثُلُ لَهُمْ أَشْبَاهُ مَا كَانُوا يَعْبُدُونَ؛ فَمِنْهُمْ مَنْ يَنْطَلِقُ إِلَى الشَّمْسِ، وَمِنْهُمْ مَنْ يَنْطَلِقُ إِلَى الْقَمَرِ، وَإِلَى الْأَوْثَانِ مِنَ الْحِجَارَةِ وَأَشْبَاهِ مَا كَانُوا يَعْبُدُونَ، قَالَ: وَيُمَثَّلُ لِمَنْ كَانَ يَعْبُدُ عِيسَى شَيْطَانُ عِيسَى، وَيُمَثَّلُ لِمَنْ كَانَ يَعْبُدُ عَزِيزًا شَيْطَانٌ عَزِيزٌ، وَيَبْقَى مُحَمَّدٌ ﷺ وَأُمَّتُهُ، فَيَأْتِيهِمُ الرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ فَيَقُولُ: مَا بِكُمْ لَا تَنْطَلِقُونَ كَمَا انْطَلَقَ النَّاسُ؟ قَالُوا: إِنَّ لَنَا إِلَهًا مَا رَأَيْنَاهُ بَعْدُ. فَيَقُولُ: هَلْ تَعْرِفُونَهُ إِنْ رَأَيْتُمُوهُ؟ فَيَقُولُونَ: إِنْ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُ عَلَامَةً إِذَا رَأَيْنَاهَا عَرَفْنَاهُ. فَيَقُولُ: فَمَا هِيَ؟ فَيَقُولُونَ: يَكْشِفُ عَنْ سَاقٍ، فَعِنْدَ ذَلِكَ يَكْشِفُ عَنْ سَاقٍ فَيَخِرُّونَ لَهُ سُجَّدًا، وَيَبْقَى قَوْمٌ ظُهُورُهُمْ كَصَيَاصِي الْبَقَرِ يُرِيدُونَ السُّجُودَ فَلَا يَسْتَطِيعُونَ، وَقَدْ كَانُوا يَدْعُونَ إِلَى السُّجُودِ وَهُمْ سَالِمُونَ.

ثُمَّ يَقُولُ: ارْفَعُوا رُؤُوسَكُمْ، فَيَرْفَعُونَ رُؤُوسَهُمْ فَيُعْطِيهِمْ نُورَهُمْ عَلَى قَدْرِ أَعْمَالِهِمْ، فَمِنْهُمْ مَنْ يُعْطِيهِ نُورَهُ عَلَى قَدْرِ الْجَبَلِ الْعَظِيمِ يَسْعَى بَيْنَ أَيْدِيهِمْ، وَمِنْهُمْ مَنْ يُعْطَى نُورًا أَصْغَرَ مِنْ ذَلِكَ، وَمِنْهُمْ مَنْ يُعْطَى نُورًا مِثْلَ النَّخْلَةِ بِيَمِينِهِ، وَمِنْهُمْ مَنْ يُعْطَى نُورًا أَصْغَرَ مِنْ ذَلِكَ حَتَّى يَكُونَ آخِرُهُمْ رَجُلًا يُعْطَى نُورَهُ عَلَى إِبْهَامِ قَدَمِهِ، يَضِيءُ مَرَّةً وَيُطْفَأُ مَرَّةً، فَإِذَا أَضَاءَ قَدَمُهُ مَشَى، وَإِذَا طَفَئَ قَامَ، وَالرَّبُّ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَمَامَهُمْ حَتَّى يَمُرَّ فِي النَّارِ، فَيَقُولُ: مُرُّوا، فَيَمُرُّونَ عَلَى قَدْرِ نُورِهِمْ؛ مِنْهُمْ مَنْ يَمُرُّ كَطَرْفِ الْعَيْنِ، وَمِنْهُمْ مَنْ يَمُرُّ كَالْبَرْقِ، وَمِنْهُمْ مَنْ يَمُرُّ كَالسَّحَابِ، وَمِنْهُمْ مَنْ يَمُرُّ كَالرِّيحِ، وَمِنْهُمْ مَنْ يَمُرُّ كَانْقِضَاضِ الْكَوْكَبِ، وَمِنْهُمْ مَنْ يَمُرُّ كَالْفَرَسِ، وَمِنْهُمْ مَنْ يَمُرُّ كَشَدِّ الرَّجُلِ، حَتَّى يَمُرَّ الَّذِي أُعْطِيَ نُورَهُ عَلَى قَدْرِ إِبْهَامِ قَدَمِهِ يَحْبُو عَلَى وَجْهِهِ وَيَدَيْهِ وَرِجْلَيْهِ، تَجُرُّ يَدٌ وَتَعْلَقُ يَدٌ وَتَعْلَقُ رِجْلٌ وَتَصِيبُ جَوَانِبَهُ النَّارُ، فَلَا يَزَالُ كَذَلِكَ حَتَّى يَخْلُصَ، فَإِذَا خَلَصَ قَالَ: الْحَمْدُ لِلَّهِ لَقَدْ أَعْطَانِي اللَّهُ مَا لَمْ يُعْطِ أَحَدًا إِذْ نَجَّانِي مِنْهَا بَعْدَ أَنْ رَأَيْتُهَا، فَيَنْطَلِقُ إِلَى غُدَرٍ عِنْدَ بَابِ الْجَنَّةِ فَيَغْتَسِلُ فَيَعُودُ إِلَيْهِ رِيحُ أَهْلِ الْجَنَّةِ وَأَلْوَانُهُمْ، فَيَرَى مَا فِي الْجَنَّةِ مِنْ خِلَالِ الْبَابِ، فَيَقُولُ: رَبِّ أَدْخِلْنِي الْجَنَّةَ، فَيَقُولُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى لَهُ: أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَقَدْ نَجَّيْتُكَ مِنَ النَّارِ؟ فَيَقُولُ: يَا رَبِّ اجْعَلْ بَيْنِي وَبَيْنَهَا حِجَابًا لَا أَسْمَعُ حَسِيسَهَا. قَالَ: فَيُرَى أَوْ يُرْفَعُ لَهُ مَنْزِلٌ أَمَامَ ذَلِكَ كَأَنَّمَا هُوَ فِيهِ إِلَيْهِ حِلْمٌ لِيَدْخُلَهُ، فَيَقُولُ: رَبِّ أَعْطِنِي ذَلِكَ الْمَنْزِلَ، فَيَقُولُ: فَلَعَلَّكَ إِنْ أَعْطَيْتُكَ إِيَّاهُ تَسْأَلُ غَيْرَهُ، فَيَقُولُ: لَا وَعِزَّتِكَ لَا أَسْأَلُ غَيْرَهُ، وَأَيُّ مَنْزِلٍ يَكُونُ أَحْسَنَ مِنْهُ.قَالَ فَيُعْطَاهُ فَيَنْزِلُهُ، قَالَ وَيُرَى أَوْ يُرْفَعُ لَهُ أَمَامَ ذَلِكَ مَنْزِلٌ آخَرُ لِيَدْخُلَهُ…

أَيُّ رَبِّ أَعْطِنِي ذَلِكَ الْمَنْزِلَ، فَيَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: فَلَعَلَّكَ إِنْ أَعْطَيْتُكَ تَسْأَلُ غَيْرَهُ. قَالَ: لَا وَعِزَّتِكَ، لَا أَسْأَلُ غَيْرَهُ، وَأَيُّ مَنْزِلٍ يَكُونُ أَحْسَنَ مِنْهُ. قَالَ: فَيُعْطِيهِ فَيَنْزِلُهُ. قَالَ: وَيُرَى أَوْ يُرْفَعُ لَهُ أَمَامَ ذَلِكَ مَنْزِلٌ آخَرُ كَأَنَّمَا هُوَ فِيهِ إِلَيْهِ حِلْمٌ، فَيَقُولُ: رَبِّ أَعْطِنِي ذَلِكَ الْمَنْزِلَ. فَيَقُولُ اللَّهُ جَلَّ جَلَالُهُ: فَلَعَلَّكَ إِنْ أَعْطَيْتُكَ تَسْأَلُ غَيْرَهُ. قَالَ: لَا وَعِزَّتِكَ، لَا أَسْأَلُ غَيْرَهُ، وَأَيُّ مَنْزِلٍ يَكُونُ أَحْسَنَ مِنْهُ. قَالَ فَيُعْطَاهُ فَيَنْزِلُهُ. قَالَ: فَيَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: مَالَكَ لَا تَسْأَلُ؟ فَيَقُولُ: رَبِّ قَدْ سَأَلْتُكَ حَتَّى اسْتَحْيَيْتُكَ وَأَقْسَمْتُ لَكَ حَتَّى اسْتَحْيَيْتُكَ. فَيَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: أَلَا تَرْضَى أَنْ أُعْطِيَكَ مِثْلَ الدُّنْيَا مُنْذُ خَلَقْتُهَا إِلَى يَوْمِ أَفْنَيْتُهَا وَعَشَرَةَ أَضْعَافِهَا. فَيَقُولُ: أَتَسْتَهْزِئُ بِي وَأَنْتَ رَبُّ الْعِزَّةِ؟ فَيَضْحَكُ الرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ قَوْلِهِ.

“Allah mengumpulkan manusia sejak awal dan hingga akhir pada hari kiamat empat puluh tahun pandangan mereka menengok ke langit menanti penyelesaian perkara mereka. Lalu Allah Swt. turun disertai awan dari Arsy ke kursi. Lalu terdengar seruan, wahai manusia, belumkah kalian ridha kepada Rabb yang telah menciptakan kalian, memberikan rezeki kepada kalian, dan memerintahkan kalian untuk beribadah kepada-Nya dan tidak menyembah selain-Nya untuk membiarkan masing-masing orang dikendalikan dan dikuasai oleh sesembahan mereka di dunia, tidakkah itu merupakan bentuk keadilan?

            Mereka menjawab: kami yakini itu keadilan. Maka setiap kaum mencari dan mengikuti sembahan mereka di dunia. Lalu ditampilkan pulalah sembahan-sembahan mereka dalam bentuk yang mereka kenali di dunia. Sebagian mereka ada yang tunduk di bawah matahari, ada juga yang tunduk di bawah bulan, ada yang tunduk kepada patung dan berhala yang terbuat dari batu dan bentuknya persis sama dengan sembahan mereka di dunia. Beliau lanjutkan, orang yang sembah Isa diperlihatkan seperti setan berbentuk Isa, sebagaimana yang menyembah Uzair diperlihatkan setan berbentuk Uzair.

            Yang tersisa adalah Muhammad Saw. dan ummatnya, lalu didatangi oleh Allah Swt. seraya berseru; mengapa kalian tinggal dan tidak mencari sembahan kalian seperti mereka-mereka itu? Mereka menjawab: Tuhan (sembahan) kami belum pernah kami lihat. Allah bertanya lagi; adakah kalian tahu Dia jika Dia tampak di hadapan kalian? Mereka menjawab: kami hanya tahu tandanya yang dulu kami diberitahu. Allah bertanya: tanda apa itu? Mereka menjawab: Tuhan kami akan menyingkap betis-Nya. Di saat seperti itu, Allah singkap betis-Nya dan kaum muslimin pun serentak bersujud di hadapan-Nya.

            Ada diantara mereka yang tetap berdiri di mana punggung mereka seperti punuk-punuk sapi, mereka hendak ikut sujud namun tidak sanggup. Mereka sebelumnya enggan sujud kala mereka masih sehat. Lalu dikatakan kepada mereka; angkatlah kepala-kepala kalian. Mereka pun lantas mengangkat kepala mereka seraya diberi cahay sesuai bobot amal mereka masing-masing. Diantara mereka ada yang dikaruniai cahaya seperti pohon kurma di tangan kanannya, ada juga yang diberi cahaya lebih kecil dari itu hingga orang paling terakhir diberi cahaya di ibu jari kakinya. Kadang menyala kadang mati, apabila cahaya itu menyala, dia langkahkan kakinya dan apabila cahaya itu mati, ia berhenti. Sementara Allah Swt. berada di hadapan mereka.

            Mereka diminta untuk melintasi jembatan di atas neraka yang besarnya seperti bibir pisau seraya dikatakan: melintaslah kalian. Mereka pun berbondong-bondong berjalan bermodalkan cahaya mereka masing-masing. Ada yang melintas secepat kedipan mata, ada yang melintas secepat kilat, ada yang melintas seperti awan, ada yang melintas seperti bintang gemintang, ada yang melintas secepat angin, ada yang melintas secepat kuda perang, ada juga yang melintas seperti orang tua, hingga orang yang diberi cahaya di ibu jari kakinya merangkak menyeret wajah, tangan dan kakinya, satu tangannya diseret dan satu lagi digantung, satu kakinya diseret dan satu lagi digantung sedang kedua sisi tubuhnya dijilat api neraka. Dia terus seperti itu hingga sampai di akhir. Setelah berhasil melintas, dia berdiri seraya berucap: Alhamdulillah (segala puji bagi Allah), sungguh Allah karuniakan padaku nikmat yang belum pernah diberikan kepada siapapun khusunya ketika saya diselamatkan dari jurang yang mengerikan yang aku lihat.

            Orang itu diantar ke sungai dekat pintu surga lalu dia mandi kemudian dia mencium harumnya surga dan fasilitasnya lalu melihat ke dalam surga dari balik pintu. Orang itu berucap: ya Rab, masukkan aku ke dalam surga. Lantas Allah Swt. berkata kepadanya: engkau minta surga padahal aku telah selamatkan engkau dari neraka? Dia menajwab: ya Rabb, kalau begitu bentangkan saja hijab antara aku dengan surga hingga aku tidak mendengar riang gembira di dalamnya. Namun orang itu dimasukkan ke dalam surga. Kemudian diperlihatkanlah rumah kepadanya sementara dia seolah memimpikan untuk masuk ke dalamnya. Orang itu berucap: ya Rabb, berikan padaku rumah itu. Allah pun berkata: jangan sampai setelah rumah itu aku berikan, engkau minta lagi yang lain. Dia berkata: tidak akan, saya tidak minta lagi yang lain karena tiada rumah yang lebih indah dari itu.

            Rumah itu diberikan kepadanya untuk dia tinggali. Kemudian orang itu diperlihatkan lagi rumah yang lain. Orang itu berucap kembali: berikan rumah itu kepadaku wahai Rabb. Lantas Allah berkata kepadanya: jangan sampai kalau Aku berikan rumah itu kepadamu, engkau minta yang lain lagi. Orang itu jawab lagi: tidak ya Rabb. Rumah mana lagi yang lebih indah dari itu. Rumah itu pun diberikan kepadanya. Kemudian diperlihatkan lagi kepadanya rumah yang ketiga yang membuatnya makin bermimpi ingin menempatinya. Dia pun berkata lagi: ya Rabb, berikan rumah itu kapadaku. Allah kembali berkata: jangan sampai kalau rumah itu ku berikan padamu, engkau minta yang lain lagi. Orang itu berkata lagi: tidak wahai Rabb. Saya tidak akan minta yang lain. Adakah rumah yang lebih indah dari itu? Lalu rumah itu diberikan lagi kepadanya dan akhirnya orang itu terdiam.

            Allah bertanya kepadanya: kenapa engkau tidak minta lagi? Dia jawab: ya Allah, saya sudah minta banyak kepada-Mu hingga membuatku malu sebagaimana aku banyak bersumpah kepada-Mu hingga membuatku malu. Kemudian Allah berkata kepadanya: maukah engkau aku berikan nikmat yang lebih baik dari dunia dan segala isinya sejak diciptakannya hingga hari dihancurkannya, bahkan ditambah sepuluh kali lipat? Orang itu berkata: apakah Engkau mengejekku padahal Engaku maha mulia? Lalu Allah tertawa melihat orang itu.

            Saya melihat Abdullah bin Mas’ud selalu tertawa setelah baca hadits ini, lalu ada orang yang bertanya kepadanya, wahai Abu Abdirrahman, saya dengar engkau banyak menyampaikan hadits ini di mana setiap kali engkau sampai pada akhirnya engkau selalu tertawa. Beliau jawab: saya mendengar Rasulullah Saw. menyampaikan hadits ini berulang kali dan setiap sampai pada ujung hadits beliau terlihat selalu tertawa hingga tampak gigi gerahamnya.

قَالَ فَيَقُولُ الرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ: لَا وَلَكِنِّي عَلَى ذَلِكَ قَادِرٌ، سَلْ. فَيَقُولُ: الْحَقْنِي بِالنَّاسِ. قَالَ: فَيَنْطَلِقُ فَيَرْمُلُ فِي الْجَنَّةِ حَتَّى إِذَا دَنَا مِنَ النَّاسِ رُفِعَ لَهُ قَصْرٌ مِنْ دُرَّةٍ فَيَخِرُّ سَاجِدًا، فَيُقَالُ لَهُ: ارْفَعْ رَأْسَكَ مَالِكَ؟ فَيَقُولُ: رَأَيْتُ رَبِّي، أَوْ تَرَاءَى لِي رَبِّي. فَيُقَالُ: إِنَّمَا هُوَ مَنْزِلٌ مِنْ مَنَازِلِكَ. قَالَ: ثُمَّ يَلْقَى فِيهَا رَجُلًا لِلسُّجُودِ فَيَقَالُ لَهُ: رَأَيْتَ أَنَّكَ مَلَكٌ مِنَ الْمَلَائِكَةِ، فَيَقُولُ لَهُ: إِنَّمَا أَنَا خَازِنٌ مِنْ خَزَائِنِكَ، عَبْدٌ مِنْ عَبِيدِكَ، تَحْتَ يَدَيَّ أَلْفُ قَهْرَمَانٍ عَلَى مِثْلِ مَا أَنَا عَلَيْهِ. قَالَ: فَيَنْطَلِقُ أَمَامَهُ حَتَّى يُفْتَحَ لَهُ الْقَصْرُ، قَالَ: وَهُوَ فِي دُرَّةٍ مَجْوَّفَةٍ سَقْفُهَا وَأَبْوَابُهَا وَأَغْلَاقُهَا وَمَفَاتِيحُهَا مِنْهَا، تَسْتَقْبِلُهُ جَوْهَرَةٌ خَضْرَاءُ مُبَطَّنَةٌ بِحَمْرَاءَ كُلُّ جَوْهَرَةٍ تَفْضِي إِلَى جَوْهَرَةٍ عَلَى غَيْرِ لَوْنِ الْأُخْرَى، فِي كُلِّ جَوْهَرَةٍ سَرَرٌ وَأَزْوَاجٌ وَصَنَائِفُ حُورٍ عِينٍ عَلَيْهَا سَبْعُونَ حُلَّةً، يُرَى مُخُّ سَاقِهَا مِنْ وَرَاءِ حُلَلِهَا كَمَا يُرَى مُرْآتُهُ وَكَبِدُهَا مَرَآهَا، إِذَا أَعْرَضَ عَنْهَا إِعْرَاضَةً ازْدَادَتْ فِي عَيْنِهِ سَبْعِينَ ضِعْفًا عَمَّا كَانَتْ قَبْلَ ذَلِكَ، فَيَقُولُ لَهَا: وَاللَّهِ لَقَدْ ازْدَدْتِ فِي عَيْنِي سَبْعِينَ ضِعْفًا، فَيَقُولُ لَهُ: وَاللَّهِ وَأَنْتَ لَقَدْ ازْدَدْتَ فِي عَيْنِي سَبْعِينَ ضِعْفًا

Lantas Allah berkata kepada orang itu, sungguh saya mampu memberikan apapun kepadamu, maka mintalah sesuatu. Dia pun berkata: kumpulkan saya bersama orang lain, lalu dia dikumpulkan dengan manusia lainnya. Lalu orang itu berlari masuk ke dalam surga dan setelah mendekat, diperlihatkan kepadanya sebuah istana dari permata lalu dia bersujud. Dikatakan kepadanya: angkatlah kepalamu, ada apa denganmu? Lalu dia jawab; saya melihat Rabbku, atau Allah menampakkan diri-Nya padaku. Lalu dikatakan kepadanya: yang engkau lihat itu hanya rumah yang disediakan untukmu. Lalu dihadapkan kepadanya seseorang lantas dia pun hendak bersujud kepadanya, hanya saja segera dicegah lalu dia berakta, saya kira engkau seorang Malaikat. Sosok berbentuk orang itu pun berkata kepadanya: saya bukan malaikat, saya hanya pembantumu, hambamu, di bawah kendaliku ada seribu lagi yang sama denganku.

            Kemudian diantar dan dibukakan pintu istana yang ruangannya, atapnya, pintunya dan dindingnya hingga kunci-kuncinya dibalut permata. Dia disambut permata hijau berbalut warna merah, setiap permata mengarah ke permata lain yang berwarna berbeda, di setiap permata ada dipan, pasangan dan pengiring pengantin, paling rendahnya seorang bidadari mengenakan tujuh puluh perhiasan, isi betisnya tampak terlihat di balik perhiasannya, hati bidadari itu cermin bagi sang pria dan hati sang pria cermin bagi sang bidadari. Sekali berpaling, bertambah kecantikannya tujuh puluh kali lipat. Kemudian dia berkata kepadanya: sungguh kecantikanmu bertambah tujuh puluh kali lipat. Dan bidadari itupun berkata kepadanya, demi Allah, demi Allah, engkau juga bertambah ganteng tujuh puluh kali lipat. Dikatakan kepada orang itu; mendekatlah engaku kepadanya dan dia pun mendekat. Kerajaanmu ini seluas sepanjang seratus tahun pandangan matamu.”

            Umar berkata: tidakkah engkau dengar hadits yang disampaikan Ibnu Ummi Abdin wahai Ka’b tentang rumah terbawah bagi penduduk surga ini, lantas bagaimana rumah yang termewahnya? Ka’b berkata: wahai Amirul Mukminin, di dalamnya tiada pernah terlihat oleh mata, tak pernah terdengar gambaran persisnya oleh telinga. Sungguh Allah Swt. siapkan rumah yang memuat semuanya berupa istri, buah-buahan dan minuman. Kemudian Allah tutupi sementara hingga tak terlihat oleh hamba-Nya, termasuk Jibril dan juga malaikat lainnya. Kemudian Ka’b membaca firman Allah yang terjemahannya: “dan tiadalah seseorang mengetahui apa yang disimpan untuk mereka berupa bidadari sebagai balasan atas amal mereka.”

قَالَ: وَخَلَقَ دُونَ ذَلِكَ جَنَّتَيْنِ وَزَيَّنَهُمَا بِمَا شَاءَ وَأَرَاهُمَا مَنْ شَاءَ مِنْ خَلْقِهِ، ثُمَّ قَالَ: مَنْ كَانَ كِتَابُهُ فِي عِلِّيِّينَ نَزَلَ تِلْكَ الدَّارَ الَّتِي لَمْ يَرَهَا أَحَدٌ، حَتَّى إِنَّ الرَّجُلَ مِنْ أَهْلِ عِلِّيِّينَ لَيَخْرُجُ فَيَسِيرُ فِي مَلَكِهِ، فَلَا تَبْقَى خَيْمَةٌ مِنْ خِيَامِ الْجَنَّةِ إِلَّا دَخَلَهَا مِنْ ضَوْءِ وَجْهِهِ، فَيَسْتَبْشِرُونَ بَرِيحِهِ فَيَقُولُونَ: وَاهًا لَهَذَا الرِّيحِ، هَذَا رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ عِلِّيِّينَ قَدْ خَرَجَ يَسِيرُ فِي مَلَكِهِ. فَقَالَ: وَيَحَكَ يَا كَعْبُ، هَذِهِ الْقُلُوبُ قَدِ اسْتَرْسَلَتْ فَاقْبِضْهَا. فَقَالَ كَعْبٌ: وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنَّ لِجَهَنَّمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَزَفْرَةً مَا يَبْقَى مِنْ مَلَكٍ مُقَرَّبٍ وَلَا نَبِيٍّ مُرْسَلٍ إِلَّا يَخِرُّ لِرُكْبَتَيْهِ، حَتَّى إِنَّ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلَ اللَّهِ يَقُولُ: «رَبِّ نَفْسِي نَفْسِي» حَتَّى لَوْ كَانَ لَكَ عَمَلُ سَبْعِينَ نَبِيًّا إِلَى عَمَلِكَ لَظَنَنْتَ أَنَّكَ لَا تَنْجُو.

Beliau lanjutkan, dan diciptakan pula dua kebun yang dihias sesuai kehendak-Nya kemudian diperlihatkan kepada makhluk-Nya yang Dia kehendaki. Lalu orang yang kitabnya di tempat tertinggi singgah di rumah yang tak terlihat oleh siapapun hingga dia berjalan dan semua tenda-tenda di surga dimasuki cahaya wajahnya disertai aroma harum semerbak lalu mereka berkata: aroma harum apa ini? ini aroma seorang penduduk surga tertinggi yang lagi keluar mengelilingi kerajaannya.

            Kemudian beliau berkata: cukuplah wahai Ka’b, hati ini tak sanggup tahan godaan. Lalu Ka’b berkata: demi dzat yang jiwaku berada dalam kendali-Nya, sungguh neraka Jahannam pada hari kiamat memiliki hembusan yang dijauhi oleh para Malaikat dan semua Nabi. Sampai-sampai Nabi Ibrahim berucap: ya Rabb, selamatkan aku, selamatkan aku, bahkan andai engkau punya amal setara dengan amal tujuh puluh nabi, engkau masih merasa mustahil bisa selamat.”[3]

            Ibnu al-Qayyim menagatakan: hadits ini hasan, diriwayatkan para ulama dalam kitab al-Sunnah seperti Abdullah bin Ahmad, al-Thabarani, al-Daraquthni rahimahumullahu.

            Diriwayatkan oleh Ya’qub bin Sufyan dari Ali bin Abi Thalib r.a, ia berkata: Rasulullah Saw. bersabda:

يَزُورُ أَهْلُ الْجَنَّةِ الرَّبَّ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فِي كُلِّ جُمُعَةٍ» وَذَكَرَ مَا يُعْطَوْنَ، قَالَ: ثُمَّ يَقُولُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: اكْشِفُوا حِجَابًا، فَيَكْشِفُ حِجَابًا، ثُمَّ حِجَابًا، ثُمَّ يَتَجَلَّى لَهُمْ تَبَارَكَ وَتَعَالَى عَنْ وَجْهِهِ فَكَأَنَّهُمْ لَمْ يَرَوْا نِعْمَةً قَبْلَ ذَلِكَ»

“Penduduk surga akan menghadap Allah setiap hari Jumat” lalu menyebutkan apa yang diberikan seraya beliau bersabda: Allah tabaraka wa ta’ala berkata: singkaplah hijab lalu hijabpun disingkap satu per satu, kemudian Allah tampakkan wajah-Nya lalu menghilangkan semua nikmat yang telah dirasakan mereka. Inilah tafsir firman Allah yang terjemahannya: “Dan kami punya tambahan nikmat.”[4]

            Disebutkan dalam kitab shahihain dari Abu Musa r.a dari Nabi Saw., beliau bersabda:

جَنَّتَانِ مِنْ فِضَّةٍ آنِيَتُهُمَا وَمَا فِيهِمَا، وَجَنَّتَانِ مِنْ ذَهَبٍ آنِيَتُهُمَا وَمَا فِيهِمَا، وَمَا بَيْنَ الْقَوْمِ وَبَيْنَ أَنْ يَنْظُرُوا إِلَى رَبِّهِمْ إِلَّا رِدَاءُ الْكِبْرِيَاءِ عَلَى وَجْهِهِ فِي جَنَّةِ عَدْنٍ.

ada dua surga yang semua perabot di dalamnya terbuat dari perak, sebagaimana ada dua surga yang seluruh perlengkapannya juga terbuat dari emas. Penghalang antara hamba dengan Rab mereka hanya selendang yang terpasang di wajah-Nya di surga Adn.”[5]

            Ahmad meriwayatkan dari Abu Musa, Rasulullah Saw. bersabda:

يَجْمَعُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ الْأُمَمَ فِي صَعِيدٍ وَاحِدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَإِذَا بَدَا لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يَصْدَعَ بَيْنَ خَلْقِهِ مَثَلَ لَكُمْ قَوْمٌ مَا كَانُوا يَعْبُدُونَ فَيَتْبَعُونَهُمْ حَتَّى يُقْحِمُوهُمُ النَّارَ، ثُمَّ يَأْتِينَا رَبُّنَا عَزَّ وَجَلَّ وَنَحْنُ عَلَى مَكَانٍ رَفِيعٍ، فَيَقُولُ: مَنْ أَنْتُمْ؟ فَنَقُولُ: نَحْنُ الْمُسْلِمُونَ. فَيَقُولُ: فَمَا تَنْتَظِرُونَ؟ فَنَقُولُ: نَنْتَظِرُ رَبَّنَا عَزَّ وَجَلَّ. فَيَقُولُ: وَهَلْ تَعْرِفُونَهُ إِنْ رَأَيْتُمُوهُ؟ فَنَقُولُ: نَعَمْ، إِنَّهُ لَا عَدْلَ لَهُ، فَيَتَجَلَّى لَنَا ضَاحِكًا، فَيَقُولُ: أَبْشِرُوا يَا مَعْشَرَ الْمُسْلِمِينَ، فَإِنَّهُ لَيْسَ مِنْكُمْ أَحَدٌ إِلَّا جُعِلَتْ فِي النَّارِ مَكَانًا نَصِيرًا.

Allah Swt. mengumpulkan seluruh manusia di satu bukit pada hari kiamat, ketika Allah Swt. hendak membalas setiap hamba, Allah tampakkan sembahan mereka yang diikuti hingga menjerumuskan mereka ke neraka. Lalu Allah mendatangi kita (kaum muslimin) di tempat yang agak tinggi lalu berkata: siapa kalaian ini? kita menjawab: kami sekelompok orang-orang muslim. Lalu Allah bertanya: apa yang kalian tunggu? Kita menjawab, kami menunggu Rabb kami, Allah bertanya lagi: adakah kalian mengenal dia kalau kalian melihatnya? Kita jawab: iya, karena Allah tidak ada padanan-Nya. Lalu Allah tampakkan diri-Nya sembari tertawa seraya berkata: berbahagialah kalian wahai kaum muslimin. ‘Bergembiralah, wahai kaum Muslimin, karena tidak seorang pun dari kalian kecuali telah dijadikan baginya seorang penolong pengganti di dalam neraka.'”[6]

            Dalam riwayat lain disebutkan: “Allah menampakkan diri-Nya sembari tertawa pada hari kiamat” sementara al-Daraquthni menyebutkan dari Nabi Saw., beliau bersabda:

يَبْعَثُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مُنَادِيًا بِصَوْتٍ يُسْمِعُهُ أَوَّلَهُمْ وَآخِرَهُمْ: إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَعَدَكُمُ الْحُسْنَى وَزِيَادَةً، فَالْحُسْنَى الْجَنَّةُ وَالزِّيَادَةُ النَّظَرُ إِلَى وَجْهِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ.

 “Allah mengutus penyeru di hari kiamat dengan suara yang didengar semua makhluk seraya menyeru: Sungguh Allah janjikan kalian balasan yang baik dan juga balasan tambahan. Al-Husna adalah surga sedang nikmat tambahan adalah melihat wajah Allah Swt.”[7] Diriwayatkan pula oleh Ahmad dan Ibnu Wahb.

            Disebutkan dalam shahih al-Bukhari dari Adi bin Hatim r.a, ia berkata: ketika saya berada di dekat Nabi Saw. tetiba seseorang datang mengeluhkan tengkuknya. Kemudian orang yang datang mengeluhkan para perampok. Lalu beliau berkata: wahai Adi, sudahkah engkau kunjungi al-Hirah? Saya jawab: belum namun engkau telah sampaikan hal itu kepadaku. Beliau lanjutkan, andai usiamu masih panjang engkau akan lihat hamba sahaya berpindah dari al-Hirah hingga berthawaf di Ka’bah, dia hanya takut kepada Allah Swt. Lalu saya bergumam dalam hati, Di manakah para penguasa yang telah memakmurkan negeri-negeri?’. Andai engkau panjang umur maka kalian akan taklukkan kekaisaran? Saya bertanya, kerajaan bin Hurmuz, beliau bersabda: iya kekaisaran Hurmuz. Dan kalau usiamu panjang engkau akan lihat seseorang yang tangannya penuh emas atau perak hendak diberikan namun tiada yang sudi menerimanya. Sungguh kalian akan diperhadapkan kepada Allah tanpa ada penghalang dan tanpa penerjemah.

Kemudian Allah bertanya bukankah telah kuutus kepada kalian seorang rasul menyampaikan ayatku? Lalu orang itu menjawab, iya wahai Rab. Allah bertanya lagi, tidakkah engkau telah kuberikan harta padamu? Orang itu jawab, iya, kemudian orang itu menoleh ke kananya ternyata hanya melihat neraka Jahannam, demikian pula saat menoleh ke kiri.

Adi bin Hatim r.a berkata: “Saya mendengar Rasulullah Saw. bersabda:

اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ، فَمَنْ لَمْ يَجِدْ شِقَّ تَمْرَةٍ فَبِكَلِمَةٍ طَيِّبَةٍ

“Jauhilah oleh kalian api neraka walau bersedekah dengan sebelah kurma” kalau tidak punya maka hendaklah berucap yang baik. Adi berkata: saya lihat seorang wanita berjalan dari al-Hirah hingga berthawaf di ka’bah tak takut apapun, saya juga ikut dalam penaklukan kaisar Hurmuz dan kalau hidup kalian panjang maka akan kalian lihat apa yang disabdakan Rasulullah Saw.”[8]

Disebutkan dalam kitab shahihan dari Anas bin Malik r.a, ia berkata: Rasulullah Saw. bersabda: Allah kumpulkan seluruh manusia pada hari kiamat kemudian mereka berkata: andai ada yang mampu membantu kita agar Allah segera menenangkan kita dengan kondisi ini. Mereka pun menemui Adam sambil memohon: wahai Adam, engkau manusia pertama, Allah ciptakan engkau dengan tangan-Nya langsung, meniupkan ruh langsung ke dirimu bahkan memerintahkan Malaikat bersujud kepadamu, mohonlah kepada Allah agar membebaskan kami dari kondisi menyiksa ini. Lalu Adam berucap: saya tidak sanggup seraya menyebutkan kesalahannya yang membuatnya malu menghadap Allah. Pergilah kalian menemui Nuh karena dialah Rasul pertama yang diutus Allah azza wa jalla.

Merekapun menemui Nuh, akan tetapi Nuh pun berkata tidak sanggup sembari menyebutkan kesalahannya yang membuatnya malu berjumpa dengan Allah. Kemudian dia arahkan mereka temui Ibrahim karena dialah kekasih Allah. Namun Ibrahim juga menyatakan tidak sanggup seraya menyebutkan kesalahannya yang membuatnya malu berjumpa dengan Allah. Dia juga menyarankan kepada mereka untuk menemui Musa karena dialah yang diajak dialog langsung oleh Allah dan juga diberikan kitab Taurat. Setelah berjumpa, Musa juga berkata tidak sanggup. Dia juga menyebutkan kesalahannya yang membuatnya malu berjumpa dengan Allah. Beliau sarankan mereka temui Isa karena dialah ruh Allah dan juga firman-Nya. Akan tetapi, Isa juga menyatakan tidak sanggup seraya menyarankan mereka untuk menemui Muhammad Saw. karena dialah yang sudah diampuni seluruh dosanya.

Rasulullah bersabda; mereka pun mendatangiku lalu aku minta izin kepada Allah dan diizinkan, sesudah aku melihat-Nya saya menunduk sujud dan dibiarkan dalam keadaan sujud selama yang Dia kehendaki, kemudian dikatakan: wahai Muhammad, angkat kepalamu, sampaikanlah hajatmu maka akan Aku dengarkan, mintalah maka akan kuberikan, berilah syafaat maka akan Aku izin syafaatmu. Kemudian Muhammad mengangkat kepalanya lalu aku memuji Allah dengan kalimat tahmid yang Dia ajarkan kepadaku. Lalu aku memberikan syafaatku lalu mereka pun dikeluarkan dari nerakan dan dimasukkan ke dalam surga.

Kemudian aku kembali sujud dan dibiarkan selama yang Dia kehendaki lalu dikatakan kepadaku: angkat kepalamu, sampaikanlah hajatmu maka akan Aku dengarkan, mintalah maka akan kuberikan, berilah syafaat maka akan Aku izinkan syafaatmu. Kemudian Muhammad mengangkat kepalanya lalu aku memuji Allah dengan kalimat tahmid yang Dia ajarkan kepadaku. Lalu aku memberikan syafaatku lalu mereka pun dikeluarkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga. Lalu beliau berkata, saya tidak tahu yang terjadi pada yang ketiga dan keempat kalinya. Kemudian saya berucap: ya Rabb, tiada lagi yang tersisa di dalam neraka kecuali yang dibelenggu oleh al-Qur’an.”[9] Yakni orang yang memang ditakdirkan kekal di dalamnya.

            Riwayat Ibnu Khuzaimah menyebutkan; “seluruh mansuia dikumpulkan di sebuah tahanan yang dikehendaki Allah pada hari kiamat, lalu mereka pun saling mengajak menemui Adam untuk minta syafaat di hadapan Allah – seperti dalam hadits di atas – kemudian berakhir pada nabi Muhammad Saw., lalu aku berkata; saya akan meminta syafaat untuk kalian di hadapan Allah. Aku pun beranjak hingga dibukakan pintu surga lalu aku masuk menhadap Allah yang sedang duduk di atas kursi-Nya lantas aku tunduk dan sujud di hadapan-Nya.”[10]

            Riwayat lain menyebutkan: “Saya pun memohon izin kepada Allah dan setelah aku melihat-Nya akau tunduk sujud di hadapan-Nya.” [11] Riwayat lain lagi menyebutkan: “Saya langsung menghadap Allah yang sedang duduk di atas dipan-Nya – atau kursi-Nya – lalu aku tunduk sujud di hadapan-Nya.”[12] Ibnu Khuzaimah juga menyebutkannya secara panjang dan di dalamnya disebutkan: “Saya memohon izin dan saat aku melihat ke al-Rahman saya tunduk sujud di hadapan-Nya.”[13] Dalam riwayat Abu Hurairah disebutkan: ”Lalu aku mengambil bundaran pintu surga lalu aku diizinkan, aku masuk dan dihadapkan pada wajah al-Jabbar lantas aku tunduk sujud di hadapan-Nya.”[14]

            Al-Daraquthni meriwayatkan dari Abu Hurairah r.a, dari Nabi Saw., beliau bersabda menafsirkan firman Allah yang terjemahannya: ‘dan bagi orang berbuat baik diberi balasan yang baik dan tambahan kebaikan.” Beliau mengatakan: yakni, melihat wajah Azza wajalla.”[15]

            Al-Daraquthni juga meriwayatkan dari Abu Hurairah r.a, ia berkata: saya mendengar Rasulullah Saw. bersabda: “saya didatangi Jibril alaihissalam membawa sejenis cermin putih di telapaknya yang di dalamnya ada setitik noda hitam. Lalu aku tanyakan, apa yang engkau pegang ini wahai Jibril? Dia jawab: ini adalah al-Jum’ah. Aku tanya lagi: apa itu al-Jum’ah? Beliau jawab, padanya banyak kebaikan untuk kalian. Aku tanya lagi, bagaimana itu bisa kami peroleh? Beliau jawab: dia dijadikan hari ied untuk kalian dan untuk ummatmu sepeninggalmu. Sedangan kaum Yahudi dan Nashara hanya ikuti kalian. Saya Tanya lagi, bagaimana itu terjadi? Beliau jawab: padanya ada satu waktu di mana setiap permintaan hamba pasti dikabulkan. Atau semua permohonannya dijadikan tabungan kebaikan untuk dibalas dengan yang lebih baik pada hari kiamat.

            Saya Tanya lagi, lantas apa gerangan setitik noda hitam yang ada di dalamnya? Beliau jawab, itulah hari kiamat. Kami sebut itu hari balasan tambahan. Lalu aku tanya lagi, tambahan apa yang dimaksud itu wahai Jibril? Beliau jawab: sungguh Allah sediakan lembah di surga. Di dalamnya ada bukit pasir yang terbuat dari kasturi putih, setiap hari Jumat Allah turun dari tempat-Nya yang tinggi di atas kursi-Nya yang dikelilingi kursi-kursi dari cahaya lalu para nabi datang dan duduk di kursi-kursi itu. Kemudian kursi-kursi dikelilingi mimbar-mimbar yang terbuat dari cahaya dan emas bertahtakan permata, lalu orang-orang shiddiqin dan syuhada hadir dan duduk di atas mimbar-mimbar itu. Kemudian penghuni kamar-kamar keluar dari kamarnya lalu duduk di bukit pasir itu, kemudian Allah tampakkan diri-Nya seraya berseru: sayalah yang kalian imani janji-janji-Ku, dan telah ku cukupkan nikmat-Ku untuk kalian, inilah waktu Aku buktikan kepemurahan-Ku, maka mintalah kalian.

            Mereka pun berlomba meminta apa saja hingga tiada lagi keinginan mereka yang tersisa, kemudian dibukalah untuk kalian sesuatu yang tidak pernah terlihat oleh mata sebelumnya, tidak pernah terdengar gambaran hakikinya oleh telinga dan tidak pernah terlintas di hati siapa pun sebelumnya. Itu seluas tempat berkumpul kalian di hari jumat. Lalu Allah naik ke kursi-Nya diikuti oleh para nabi dan orang-orang shiddiqin sedang penghuni kamar masing-masing kembali ke kamarnya. Dia terbuat dari mutiara putih, aquamarine hijau dan rubi merah. Ruang kamar, pintu dan sungainya menarik sedang permasuri, pelayan dan buah-buahannya bergantungan. Mereka senantiasa menantikan al-Jumu’ah demi untuk melihat Allah dan menikmati tambahan karunia dari-Nya.” Hadits ini sungguh mulia diriwayatkan oleh para imam hadits dan diterima sebagaiman disebutkan oleh imam al-Syafi’i dalam kitab Musnadnya.[16]

            Riwayat ini juga disebutkan oleh Muhammad bin Ishaq[17] dan Amru bin Abi Qais di mana dikatakan: “Apabila hari Jumat tiba, Allah turun dari kursi-Nya lalu kursi-kursi dikelilingi minbar dari cahaya. Lalu para nabi dihadirkan dan duduk di atas mimbar-mimbar itu. Kemudian penghuni kamar di surga juga hadir dan duduk di bukit pasir. Beliau berkata: lalu Allah tampakkan diri-Nya hingga mereka melihat-Nya. Lalu Allah berseru: Sayalah yang janji-Nya kalian imani, dan telah aku sempurnakan nikmat-Ku untuk kalian, dan ini waktunya saya perlihatkan kepemurahan-Ku, maka mintalah kepada-Ku, kemudian mereka memohon Ridha-Nya, kemudian Allah berkata: bukti Ridha-Ku adalah izinkan kalian huni rumah-Ku dan kalian nikmati karunia-Ku. Mintalah kepadaku. Lalu mereka tetap minta ridha Allah. Kemudian Allah mempersaksikan kalau Ridha-Nya telah dilimpahkan kepada mereka. Lalu mereka terus meminta hingga tiada keinginan mereka yang tersisa.”[18]

            Ali bin Harb[19] dan al-Hasan bin Arfah[20] juga meriwayatkan hadits ini yang di dalamnya disebutkan: “kemudian Allah naik ke kursi-Nya diikuti oleh para nabi dan orang-orang shiddiq serta para syuhada’. Kemudian para penghuni kamar di surga kembali ke kamarnya masing-masing”. Diriwayatkan pula oleh al-Daraquthni dari jalur lain dari Anas .ra, ia berkata: ketika kami sedang duduk bersama Rasulullah tetiba beliau bersabda: “Saya didatangi oleh Jibril dengan membawa sejenis cermin putih di tangannya, di dalamnya ada titik hitam, lalu aku tanya, apa ini wahai Jibril? Beliau jawab: ini hari Jumat yang diberikan Allah kepadamu sebagai hari ied dan iednya ummatmu setelahmu. Lalu aku tanya, lantas titik hitam itu, apa wahai Jibril? Beliau jawab; itulah hari kiamat. Karena kiamat terjadi pada hari Jumat yang menjadi penghulunya segala hari, kami namakan dia hari tambahan kebaikan di surga. Saya tanya lagi; kenapa dia disebut hari tambahan? Beliau jawab: karena Allah ciptakan lembah di surga penuh dengan kasturi putih. Setiap hari Jumat, Allah turun dari kursi-Nya lalu kuris-kursi lainnya dikelilingi mimbar-mimbaryang terbuat dari emas bertahtakan permata, kemudian mimbar-mimbaritu dikelilingi kursi-kursi dari cahaya. Kemudian penghuni kamar-kamar dipanggil untuk menyelami bukit pasir kasturi setinggi lutut, mengenakan gelang emas dan perak serta pakaian sundus dan sutra hingga mencapai lembah itu.

            Ketika mereka duduk tenang, Allah hembuskan angina ke mereka yang disebut al-Mutsirah karena memercikkan mata-mata kasturi putih ke wajah-wajah dan pakaian mereka. Pada hari itu, mereka telanjang seolah berumur 33 tahun seperti Adam di awal penciptaannya. Kemudian Allah memanggil malaikat Ridwan…


[1] Al-Bukhari 13/419) dalam bahasan Tauhid, bab firman Allah وجوه يومئذ ناضرة dan Muslim (1/439/633) dalam bahasan masjid, bab keutamaan shalat subuh dan ashar dengan konsisten.

[2] Muslim (1/163/181) dalam bahasan iman, bab orang mukmin melihat Allah pada hari kiamat.

[3] Diriwayatkan oleh al-Thabarani dalam kitab al-Kabir (9/417/9763), Abdullah dalam kitab al-Sunnah (1203), al-Daraquthni dalam kitab al-Ru’yah (166/167), al-Hakim dalam kitab al-Mustadrak (4/589) dan berkata: sanadnya shahih. Al-Dzahabi mengatakan: saya tidak menyanggah kalau sanad hadits ini baik. Menurut saya sanadnya hasan karena di dalamnya ada al-Minhal bin Amru yang dianggap sekeadar menduga-duga.

[4] Disebutkan oleh al-Lalaka’i (852) namun sanadnya palsu karena adanya Umar bin Khalid al-Qurasyi yang ditengarai pendusta dan juga Suwaid bin Abdul Aziz yang dianggap lemah sekali.

[5] Al-Bukhari (8/623-624) dalam bahasan Tafsir, bab Surah al-Rahman و من دونهما جنتان dan bab حور مقصورات في الخيام dan Muslim 1/163/180 dalam bahasan iman, bab ungkapan sungguh Allah tidak tidur.

[6] Ahmad (4/407 dan 408), al-Ajurri dalam kitab al-Syari’ah (hal. 263), Ibnu Khuzaimah dalam kitab al-Tauhid secara ringkas (hal. 236) namun di antara perawinya ada Ali bin Zaid bin Judan yang ditengarai lemah. Hanya saja Abdullah meriwayatkannya dalam kitab al-Sunnah (no. 782) dengan perawi yang tsiqah.

[7] Disebutkan oleh Ibnu Jarir dalam tafsirnya (11/105), al-Daraquthni dalam kitab al-Ru’yah dan al-Lalaka’i (782) namun sanadnya lemah sekali karena adanya Aban bin Abu al-Abbas yang dianggap tertolak haditsnya.

[8] Al-Bukhari (6/610) dalam bahasan al-Manaqib, bab tanda-tanda kenabian dalam Islam dan Ahmad (4/257).

[9] Al-Bukhari (13/473-474) dalam bahasan Tauhid, bab dialog Allah pada hari kiamat dengan para malaikat dan selainnya. Muslim (1/180-181/193) dalam bahasan iman, bab orang terendah tempatnya di surga.

[10] Disebutkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam kitab al-Tauhid (300-301) dan sanadnya shahih.

[11] Disebutkan dalam riwayat al-Bukhari sebelumnya.

[12] Disebutkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam kitab al-Tauhid (253-254) dan sanadnya shahih.

[13] Disebutkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam kitab al-Tauhid (303) dan sanadnya shahih.

[14] Disebutkan Ibnu Khuzaimah dalam kitab al-Tauhid (243) dan sanadnya shahih.

[15] Al-Daraquthni dalam kitab al-Ru’yah (hadis al-Arwah hal. 353) namun ada perwai bernama Umar bin Said al-Anshari al-Abah (dalam cetakan al-Asyajj dan ini keliru) imam al-Bukhari menegaskan hadits ini munkar. Disebutkan pula oleh al-Hasan bin Arafah dalam kitab al-Juz (23) dari jalurnya juga disebutkan Ibnu Mandah dalam kitab al-Raddu ala al-Jahmiyah (85), al-Lalaka’i dalam kitab al-Sunnah (779), al-Khathib dalam kitab Tarikhnya (9/140) namun sanadnya lemah karena adanya Salam bin Salim al-Balkhi yang dilemnahkan oleh banyak ulama juga karena ada Nuh bin Abi Maryam yang ditengarai pendusta.

[16] Al-Daraquthni dalam kitab al-Ru’yah (Hadi al-Arwah hal. 353-354), Ibnu Abi Syaibah dalam kitab Mushannaf-nya (2/150-152), Ibnu Jarir (26/175) dan sanadnya lemah karena ada Laits bin Abi Salim yang dianggap lemah dan Utsman bin Abi Humaid, Baqqal bin Umair yang juga lemah, terganggu hafalannya bahkan termasuk mudallis. Diriwayatkan oleh al-Syafi’i dalam kitab Musnad-nya (1/126-127) dari jalur lain dari Anas namun sanadnya juga lemah sekali karena perawi Ibrahim bin Muhammad, guru al-Syafi’i namun diduga pendusta, juga Musa bin Ubaidah al-Rabadzi yang dianggap lemah.

[17] Muhammad bin Ishaq (Hadi al-Arwah hal. 354-355)

[18] Amru bin Abi Qais (Hadi al-Arwah hal. 355) namun sanadnya lemah karena diriwayatkan dari jalur Utsman bin Umair yang dianggap perawi lemah.

[19] Hadi al-Arwah hal. 355 dari jalur Utsman bin Umair

[20] Hadi al-Arwah hal. 355 dari jalur Laits bin Utsman.

Terjemahan Kitab Akidahalquranislamtauhid

Navigasi pos

Previous post

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recent Posts

  • ASAL USUL PERKATAAN YANG MENYATAKAN AL-QUR’AN ADALAH MAKHLUK. BAGIAN 4
  • ASAL USUL PERKATAAN YANG MENYATAKAN AL-QUR’AN ADALAH MAKHLUK. BAGIAN 3
  • ASAL USUL PERKATAAN YANG MENYATAKAN AL-QUR’AN ADALAH MAKHLUK. BAGIAN 2
  • ASAL USUL PERKATAAN YANG MENYATAKAN AL-QUR’AN ADALAH MAKHLUK – Bagian 2
  • ASAL USUL PERKATAAN YANG MENYATAKAN AL-QUR’AN ADALAH MAKHLUK
Oktober 2026
S S R K J S M
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  
« Sep    

ahli kitab (2) ahlussunnah (3) akal (4) Akidah (110) Al 'Uluw (2) Allah (7) alquran (36) budaya (4) dalil (2) evolusi (1) firqah (2) firqah najiyah (2) ghaib (2) hadits (2) hidayah (2) ibadah (3) ibnu taimiyah (4) ilmu (68) imam syafi'i (9) iman (3) islam (95) kalam (4) kenabian (4) kesesatan (2) kitab (2) kristologi (5) ma'rifah (2) manusia (2) meditasi (1) nubuwah (3) pengetahuan (16) rububiyah (1) sejarah (4) sunnah (4) syubhat (6) tabiin (1) tafsir (2) takdir (2) tauhid (82) taurat (3) teori (2) tsaqafah (3) ulama (2) uluw (2) wahyu (2)

©2026 AKIDAH.NET | WordPress Theme by SuperbThemes