ASAL USUL PERKATAAN YANG MENYATAKAN AL-QUR’AN ADALAH MAKHLUK – Bagian 2 Supriyadi Yusuf Boni, 22 Agustus 2026 Sumber: Kitab Ma`arij al-Qabul Bisyarhi Sullami al-Wushul Ila Ilmi al-Ushul Fii at-Tauhid Penulis: Syeikh Hafidz bin Ahmad al-Hakami Penerjemah: Ust. Supriyadi Yoesof Boni Editor: Idrus Abidin Sudah berulang disebutkan ijma ulama tentang kewajiban menetapkan semua sifat yang ditetapkan Allah Swt. pada dirinya dan yang ditetapkan Rasulullah Saw. pada Allah Swt., tanpa takyiif apalagi sifat al-uluw, persoalan al-Qur’an dan dialog Allah dengan Musa. Sebab, persoalan-persoalan ini yang paling ditentang kaum zindiq sejak awal. Para ulama sepakat bahwa al-Qur’an adalah kalamullah dan bukan makhluk, dia bersumber dari Allah dan akan dikembalikan kepada Allah Swt. Orang yang berkata al-Qur’an adalah makhluk dihukumi kufur, tidak boleh menjadi makmumnya, bahkan semestinya dipidana mati dengan ditebas lehernya, tidak saling mewarisi, sembelihannya haram dimakan karena mereka dianggap murtad. Oleh karena itu, dianjurkan untuk selalu mengukur dan menilai pernyataan mereka dengan nash-nash al-Qur’an dan sunnah. Mustahil ditemukan diantara ulama salaf ada yang berani menentang al-Kitab dan sunnah dan tidak pula ada yang lebih kedepankan perkataan seseorang ketimbang wahyu. Mereka semua hanya menigkuti al-Qur’an dan sunnah, berharap sinaran cahayanya, akhirnya mereka diberi petunjuk di tengah perbedaan yang tajam. هذا مقال المؤمنين جميعهم و عصابة التوحيد أعلام الهدى الكاشفين عوار كل مشبه و القامعين لك من قد ألحدا زن قولهم بالوحي، و انظر هل ترى ميلا لهم عما إليه أرشدا حاشاهم عن أن يميلوا خطوة عما إليه الله إياهم هدى بل أثبتوا لله ما صد أثبتت آي الكتاب و كل نص أسندا و من النفاة تبراوا و كذاك من قول الممثل إذ تغالى و اعتدى جعلوا إمامهم الكتاب و سنة المختار يا كوبى لمن بهما اهتدى و لذاك أعلى الله جل منارهم و الماحدون بناءهم قد هددا و أتم نورهم الإله و غيرهم في ظلمة إذ لم يكن بهم اقتدى يا رب ألحقنا بهم واحعل لنا نورا نميز به الضلال من الهدى Ini pernyataan kaum muslimin seluruhnya Dan gelombang tauhid pembela petunjuk Yang menyingkap kelemahan setiap musyabbih Dan mematahkan semua pendapat menyimpang Ukur pernyataan mereka dengan wahyu dan lihat Kecenderungan ke mana mereka dibimbing Mustahil mereka melenceng selangkah Dari jalan yang ditunjuki Allah untuk mereka Mereka menetapkan untuk Allah semua yang ditetapkan Ayat al-Qur’an dan semua nash yang tegas Mereka berlepas diri dari kaum nufah dan juga Dari kaum mumatstsil yang ghuluw dan sesat Mereka hanya berimam ke kitab dan sunnah rasul Sungguh keberuntungan bagi yang ikuti petunjuknya Karenanya Allah tinggikan kedudukan mereka Sedang orang mulhid runtuhkan bangunan mereka Disempurnakan cahaya mereka sedang lainnya Dalam gelap jika tidak ikuti mereka Wahai rabb kumpulkan kami dengan mereka dan terangi kami Dengan cahaya panduan pisahkan kesesatan dengan hidayah. Ulama salaf berhasil mematahkan dan mematikan faham sesat yang mengatakan: kami tidak mengatakan al-Qur’an itu makhluk atau bukan makhluk, sebagian mereka ada dialognya terasa baik dan ringan seperti Jahmiyah namun ada juga yang dialognya kurang baik sehingga perlu diberi penjelasan lebih. Jika mereka bertaubat dan beriman bahwa al-Qur’an adalah firman Allah Swt. maka diterima, namun jika tidak maka mereka lebih buruk dari kaum Jahmiyah. Penjelasan tentang madzhab dalam bahasan al-Qur’an akan dijelaskan lebih lengkap pada lembaran berikutnya. (ولابمفترى/ dan tidak ciptakan dusta) artinya dalam al-Qur’an tidak ditemukan sedikitpun kedustaan seperti tudingan kaum Quraisy dan selainnya dari kalangan musuh-musuh Allah Swt. seperti disebutkan dalam firman Allah: “ini hanyalah sihir yang berpengaruh” (Qs: al-Mudatstsir: 24), firman Allah: “sungguh ini adalah kedustaan yang dia buat-buat” (Qs: al-Furqan: 4), firman Allah: “dan mereka berkata ini adalah cerita dongeng orang-orang terdahulu yang dia nukil” (Qs: al-Furqan: 5). firman Allah: “mereka mengatakan, bahwa itu hanya ucapan yang diajarkan manusia kepadanya” (Qs: an-Nahl: 103), artinya sya’ir bahkan mereka sebut al-Qur’an sebagai jampi-jampi, firman Allah: “ini hanya buatannya semata” (Qs: Shad: 7), firman Allah: “andai kami mau maka kami pun bisa mengatakan perkataan serupa dengannya ini” (Qs: al-Anfaal; 31), dan tudingan dan tuduhan lainnya. Semua itu mereka sebutkan karena kesombongan dan keangkuhan mereka, firman Allah: “mereka membantahanya namun hati mereka meyakininya, hanya karena mereka zhalim dan sombong” (Qs: an-Naml: 14). Allah Swt. telah menyingkap syubhat yang mereka lemparkan dan mematahkan semua argumen mereka, mematikan logika mereka, membongkar kebusukan mereka, menampakkan kelemahan mereka dan membuka aib dan kekurangan mereka di semua rekayasa mereka. Allah menjawab perkataan mereka: “Ini hanya sihir yang beri pengaruh dan ini hanya perkataan orang” melalui firmannya: “Kelak, Aku akan memasukkannya ke dalam (neraka) Saqar, Dan tahukah kamu apa (neraka) Saqar itu? Ia (Saqar itu) tidak meninggalkan dan tidak membiarkan yang menghanguskan kulit manusia. Di atasnya ada sembilan belas (malaikat penjaga). (Qs; al-mudatstir: 26-30) hingga akhir ayat. firman Allah: “Dan orang-orang kafir berkata, “(Alquran) ini tidak lain hanyalah kebohongan yang diada-adakan oleh dia (Muhammad), dibantu oleh orang-orang lain.” (Qs: al-Furqan: 4), dijawab dengan firman Allah: “Sungguh, mereka telah berbuat zalim dan dusta yang besar.” (Qs: al-Furqan: 4), mereka mengatakan dalam firman Allah: “Dan mereka berkata, “(Itu hanya) dongeng-dongeng orang-orang terdahulu, yang diminta agar dituliskan, lalu dibacakanlah dongeng itu kepadanya setiap pagi dan petang.” (Qs: al-Furqan: 5), dijawab dengan firman Allah Swt.: “Katakanlah (Muhammad), “(Alquran) itu diturunkan oleh (Allah) yang mengetahui rahasia di langit dan di bumi. Sungguh, Dia Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (Qs: al-Furqan: 6). Firman Allah Swt.: ‘Dan apabila Kami mengganti suatu ayat dengan ayat yang lain, dan Allah lebih mengetahui apa yang diturunkan-Nya, mereka berkata, “Sesungguhnya engkau (Muhammad) hanyalah mengada-ada saja.” Sebenarnya kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (Qs: an-Nahl: 101) dijawab dengan ayat: “Katakanlah, “Rohulkudus (Jibril) menurunkan Alquran itu dari Tuhanmu dengan kebenaran, untuk meneguhkan (hati) orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang yang berserah diri (kepada Allah). Dan sesungguhnya Kami mengetahui bahwa mereka berkata, “Sesungguhnya Alquran itu hanya diajarkan oleh seorang manusia kepadanya (Muhammad).” (Qs: an-nahl 102-103). Ulama tafsir mengatakan, yang dimaksud kaum musyrikin dalam ayat ini adalah seseorang a’jami yang pernah hidup di tengah mereka, yakni budak yang dimiliki pemuka Quraisy yang namanya Bal’am atau Ya’isy atau Aisy atau jabar atau Yasar atau namanya yang lain.”[1] Mungkin karena Rasulullah Saw. pernah bertemu dan berdialog dengannya lalu Allah Swt. membantah tudingan mereka itu melalui ayat: “Bahasa orang yang mereka tuduhkan (bahwa Muhammad belajar) kepadanya adalah bahasa ‘Ajam,1 padahal ini (Alquran) adalah dalam bahasa Arab yang jelas.” (Qs; an-Nahl: 103). Artinya bagaimana mungkin seseorang yang diberi al-Qur’an yang sangat fashih dan penuh nuansa sastra dengan kandungan yang sangat sempurna dan konfrehensif, bila dibandingkan dengan semua kitab yang diturunkan kepada bani Israil, bagaiamana mungkin dia belajar dari seorang a’jami? Sungguh logika ini tidak mungkin dicerna oleh orang berakal sehat. Lalu Allah Swt. membantah tudingan mereka bahwa al-Qur’an itu hanya syair atau mantra dengan ayat: ‘Dan Kami tidak mengajarkan syair kepadanya (Muhammad) dan bersyair itu tidaklah pantas baginya. Alquran itu tidak lain hanyalah pelajaran dan Kitab yang jelas. agar dia (Muhammad) memberi peringatan kepada orang-orang yang hidup (hatinya) dan agar pasti ketetapan (azab) terhadap orang-orang kafir.” (Qs; Yasin: 69-70). Juga melalui firman Allah Swt.: “Maka peringatkanlah, karena dengan nikmat Tuhanmu engkau (Muhammad) bukanlah seorang tukang tenung dan bukan pula orang gila. Bahkan mereka berkata, “Dia adalah seorang penyair yang kami tunggu-tunggu kecelakaan menimpanya. Katakanlah (Muhammad), “Tunggulah! Sesungguhnya aku pun termasuk orang yang sedang menunggu bersama kamu. Apakah mereka diperintah oleh pikiran-pikiran mereka untuk mengucapkan (tuduhan-tuduhan) ini ataukah mereka kaum yang melampaui batas? Ataukah mereka berkata, “Dia (Muhammad) mereka-rekanya.” Tidak! Merekalah yang tidak beriman.” (Qs: ath-Thur: 29-33). Juga melalui firman Allah Swt.: “dan ia (Alquran) bukanlah perkataan seorang penyair. Sedikit sekali kamu yang beriman kepadanya. Dan bukan pula perkataan tukang tenung. Sedikit sekali kamu yang mengambil pelajaran darinya.” (Qs: al-Haqqah: 41-42). Orang-orang yang mengatakan: ‘Kami tidak pernah mendengar hal ini dalam agama yang terakhir,1 ini (mengesakan Allah), tidak lain hanyalah (dusta) yang diada-adakan, mengapa Alquran itu diturunkan kepada Dia di antara kita?” Sebenarnya mereka ragu-ragu terhadap Alquran-Ku, tetapi mereka belum merasakan azab(-Ku)” (Qs: Shaad: 7-8) “mengapa Alquran itu diturunkan kepada Dia di antara kita?” Sebenarnya mereka ragu-ragu terhadap Alquran-Ku, tetapi mereka belum merasakan azab(-Ku) Atau apakah mereka itu mempunyai perbendaharaan rahmat Tuhanmu Yang Mahaperkasa, Maha Pemberi?” (Qs. Shad: 8-9) dijawab dengan ayat: “andai kami mau maka kami juga mengatakan semisalnya”, dan ayat: “Katakanlah, “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa (dengan) Alquran ini, mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya, sekali pun mereka saling membantu satu sama lain.” (Qs: al-Isra’: 88). Allah Swt. menantang mereka untuk menghadirkan kitab yang serupa dengan al-Qur’an walau hanya sebanyak sepuluh surah atau bahkan cukup satu surah namun mereka semua tidak sanggup melakukan itu, bahkan kedustaan mereka disingkap. Firman Allah Swt. yang terjemahannya: “Ataukah mereka berkata, “Dia (Muhammad) mereka-rekanya.” Tidak! Merekalah yang tidak beriman.” (Qs: ath-Thur: 33). Firman Allah Swt. yang terjemahannya: “Bahkan mereka mengatakan, “Dia (Muhammad) telah membuat-buat Alquran itu.” Katakanlah, “(Kalau demikian), datangkanlah sepuluh surah semisal dengannya (Alquran) yang dibuat-buat, dan ajaklah siapa saja di antara kamu yang sanggup selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. Maka jika mereka tidak memenuhi tantanganmu, maka (katakanlah), “Ketahuilah, bahwa (Alquran) itu diturunkan dengan ilmu Allah, dan bahwa tidak ada tuhan selain Dia, maka maukah kamu berserah diri (masuk Islam)?” (Qs: Huud: 13-14). Firman Allah Swt. yang terjemahannya: “Dan jika kamu meragukan (Alquran) yang kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad), maka buatlah satu surah semisal dengannya dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. Jika kamu tidak mampu membuatnya, dan (pasti) tidak akan mampu, maka takutlah kamu akan api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu yang disediakan bagi orang-orang kafir.” (Qs: al-Baqarah: 23-24). Kaum kuffar tidak mampu menerima tantangan tersebut dan tidak pernah menulis seperti al-Qur’an, padahal mereka terkenal dengan kekuatan kebahasaan, fasih, dan ahli menyusun syair-syair memukau, bahkan hebat menyusun ungkapan pujian dan hinaan yang tiada tandingan, ditambahan kebencian dan permusuhan terhadap Muhammad yang amat besar serta keinginan untuk melawannya dengan cara apapun. Namun demikian, mereka diberi tantangan yang tidak mereka sanggupi, yakni membuat tandingan terhadapa firman Allah Swt., yang maha penguasa, maha pengendali, maha mulia, maha agung, maha perkasa, maha tinggi, rabb langit dan bumi, Rabb kehidupan akhirat dan kehidupan dunia, dzat yang memiliki nama-nama yang baik dan sifat-sfiat yang mulia, dzat yang tiada setara dan tiada semisal dengan-Nya, dan dia Maha mendengar dan Maha melihat. Kala mereka membaca ayat-ayat al-Qur’an yang ringkas, spirit mukjizatnya, susunan kalimatnya, maknanya yang sangat konfrehensif, infirmasinya tentang kisah ummat-ummat terdahulu, informasinya tentang peristiwa mendatang, ketetapan hukum atas realitas hidup, tentang janji dan ancaman, motivasi dan warning, serta muatan lainnya yang sangat sempurna, sangat jelas dan tegas serta sangat gamblang, mereka sadar bahwa ayat-ayat tersebut bukan ucapan dan perkataan manusia, bahkan tidak menyerupai perkataan makhluk, mereka juga yakini bahwa ayat-ayat itu adalah kebenaran. Akhirnya mereka hanya menyerang sosok Rasulullah Saw., mereka menudingnya sebagai pendusta, seorang peramal, dukun, tukang sihir bahkan dituding gila serta tudingan buruk lainnya. Ini menunjukkan sikap kesombongan dan keangkuhan mereka, walau pengakuan kebenaran al-Qur’an mengalir sesama mereka, seperti cerita al-Walid, Urwah dan Abu Jahal serta selainnya. Andai benar, bahwa Rasulullah Saw. yang menyusun ayat-ayat al-Qur’an seperti tudingan mereka, maka mestinya mereka mampu menandinginya bahkan bisa menyusun yang lebih baik, sebab mereka terkenal dengan kemampuan sastrawi yang tinggi. Semestinya mereka tidak beralih dari tudingan lisan dan abaikan tantangan yang diberikan untuk hadirkan minimal satu ayat tandingan. Sikap mereka itu sejatinya makin menujukkan kalau ayat al-Qur’an itu adalah kalamullah yang dibawa oleh malaikat Jibril untuk disampaikan ke Muhammad Saw., penutup para rasul, dan tuan anak keturunan Adam seluruhnya sebagai petunjuk dan berita gembira bagi manusia, menjelaskan segala sesuatu dan pengingat untuk kaum mukminin. Firman Allah Swt. yang terjemahannya: “(yang) tidak akan didatangi oleh kebatilan baik dari depan maupun dari belakang (pada masa lalu dan yang akan datang), yang diturunkan dari Tuhan Yang Mahabijaksana, Maha Terpuji.” (Qs: Fushshilat: 42). Mustahil al-Qur’an bisa dipatahkan, bisa dikalahkan atau dicampuri oleh kebatilan, bahkan al-Qur’anlah yang memadamkan kebatilan, menyingkap semua syubhat dan mematahkan semua hujjah bathil sebagaiman diketahui dari realitas peristiwa turunnya ayat al-Qur’an. Firman Allah Swt. yang terjemahannya: “Dan mereka (orang-orang kafir itu) tidak datang kepadamu (membawa) sesuatu yang aneh, melainkan Kami datangkan kepadamu yang benar dan penjelasan yang paling baik.” (Qs: al-Furqan: 33). يحفظ بالقلب و باللسان يتلى كما يسمع بالآذان كذا بالأبصار إليه ينظر و بالأيادي خطه يسطر و كل ذي مخلوقة حقيقه دون كلام بارئ الخليقة جلت صفات ربنا الرحمن عن وصفها بالخلق و الحدثان فالصوت و الأاحان صوت القاري لكنما المتلو قول الباري ما قاله لا يقبل التبديلا كلا و لا أصدق منه قيلا Dihafalkan di hati sedang di lisan Dilafalkan seperti yang didengar di telinga Dilihat dengn mata kepala Dan ditulis dengan tangan Semua perkataan makhluk adalah hakikat Tidak dengan perkataan Allah sang pencipta Sunggu mulia sifat Rabbuna ar-Rahman Untuk disifati makhluk atau kebaharuan Suara dan irama adalah suarau pembaca Namun yang dibaca adalah perkataan pencipta Semua perkataannya mustahil bisa diganti Sungguh mustahil dan tiada perkataan benar selain kalamnya. (يحفظ/ dihafalkan) ayat al-Qur’an (بالقلب/ dengan hati) dalam hati seperti firman Allah Swt. yang terjemahannya: “Yang dibawa turun oleh Ar-Rūḥ Al-Amīn (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar engkau termasuk orang yang memberi peringatan,” (Qs: asy-Syu’ara: 193-194), firman Allah Swt. yang terjemahannya: “Sebenarnya, (Alquran) itu adalah ayat-ayat yang jelas di dalam dada orang-orang yang berilmu.1 Hanya orang-orang zalim yang mengingkari ayat-ayat Kami.” (Qs: al-Ankabut: 49), firman Allah Swt. yang terjemahannya: “Kami akan membacakan (Alquran) kepadamu (Muhammad) sehingga engkau tidak akan lupa,” (Qs: al-A’la: 6). عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: إِنَّ الَّذِي لَيْسَ فِي جَوْفِهِ شَيْءٌ مِنَ الْقُرْآنِ كَالْبَيْتِ الْخَرِبِ». قَالَ التِّرْمِذِيُّ: هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. ia berkata: Rasulullah Saw. bersabda: “Orang yang tidak hafal sedikitpun al-Qur’an seperti rumah kosong.” Imam at-Tirmidzi berkata hadits ini shahih.[2] وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: بَعَثَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ بَعْثًا، فَاسْتَقْرَأَهُمْ كُلَّ رَجُلٍ مِنْهُمْ، يَعْنِي مَا مَعَهُ مِنَ الْقُرْآنِ، فَأَتَى عَلَى رَجُلٍ مِنْ أَحْدَثِهِمْ سِنًّا، فَقَالَ: «مَا مَعَكَ يَا فُلَانُ؟» قَالَ: مَعِي كَذَا وَكَذَا، وَسُورَةُ الْبَقَرَةِ، فَقَالَ: «اذْهَبْ فَأَنْتَ أَمِيرُهُمْ».فَقَالَ رَجُلٌ مِنْ أَشْرَافِهِمْ: وَاللَّهِ مَا مَنَعَنِي أَنْ أَتَعَلَّمَ الْبَقَرَةَ إِلَّا خَشْيَةَ أَنْ لَا أَقُومَ بِهَا، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:تَعَلَّمُوا الْقُرْآنَ وَاقْرَؤُوهُ…» Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. ia berkata: Rasulullah Saw. pernah mengirim delegasi lalu meminta memperdengarkan hafalan al-Qur’an lalu majulah seorang paling muda di antara mereka, lalu Beliau bertanya: “berapa banyak hafalamnu”. Dia jawab: saya hafal sekian surah yakni termasuk ini dan ini juga surah al-Baqarah. Beliau bertanya lagi: engkau hafal surah al-Baqarah? Dia jawab: iya. Beliau lantas berkata: berangkatlah dan pimpin mereka. Kemudian seseorang berkata: demi Allah, saya tidak belajar al-Qur’an karena kawatir tidak bisa menjalankannya dalam keseharian.” Lalu Rasulullah Saw. bersabda: pelajarilah al-Qur’an dan bacalah. Karena permisalan al-Qur’an bagi orang yang mempelajarinya, membacanya dan menjalankannya adalah seperti timba yang berisi minyak wangi dan aromanya merebak ke sekitarnya. Dan permisalan bagi orang yang mempelajarinya namun tidak dijalankan seperti orang yang dilumuri minyak wangi.” At-Tirmidzi berkata hadits ini hasan.[3] وَفِي حَدِيثِ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ الْمُتَّفَقِ عَلَيْهِ فِي قِصَّةِ الرَّاهِبَةِ نَفْسِهَا، وَفِيهِ قَالَ: مَا مَعَكَ مِنَ الْقُرْآنِ؟»قَالَ: مَعِي سُورَةُ كَذَا وَسُورَةُ كَذَا عَدَدَهَا، فَقَالَ:تَقْرَؤُهُنَّ عَنْ ظَهْرِ قَلْبِكَ؟» قَالَ: نَعَمْ، قَالَ:اذْهَبْ فَقَدْ مَلَّكْتُكَهَا بِمَا مَعَكَ مِنَ الْقُرْآنِ Disebutkan dalam hadits Sahl bin Sa’d r.a. yang muttafaqun alaihi dalam kisah wanita yang hibahkan dirinya kepada Nabi Saw. bahwa: berapa banyak hafalan al-Qur’anmu? Dia jawab: surah ini, surah itu sembari menghitung hafalannya. Beliau Saw. bertanya lagi: engkau hafalankan dengan baik? Dia jawab: iya. Beliau Saw. bersabda: berangkatlah dan engkau saya tunjuk jadi ketua delegasi berkat hafalan al-Qur’anmu.”[4] »وَلِأَبِي دَاوُدَ قَالَ :قُمْ فَعَلِّمْهَا سُورَةَ الْبَقَرَةِ وَالَّتِي تَلِيهَا» .قَالَ: «قُمْ فَعَلِّمْهَا عِشْرِينَ آيَةً». Disebutkan dalam riwayat Abu Dawud, orang itu berkata: surah al-Baqarah dan surah setelahnya. Beliau bersabda” berangkatlah dan ajarkan mereka dua puluh ayat.”[5] وَفِي الصَّحِيحَيْنِ عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:مَثَلُ الْقُرْآنِ إِذَا عَاهَدَ عَلَيْهِ صَاحِبُهُ قَرَأَهُ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ كَمَثَلِ رَجُلٍ لَهُ إِبِلٌ، فَإِنْ عَقَلَهَا حَفِظَهَا، وَإِنْ أَطْلَقَ عِقَالَهَا ذَهَبَتْ، فَكَذَلِكَ صَاحِبُ الْقُرْآنِ». Disebutkan dalam kitab shahihain dari ibnu Umar r.a. ia berkata: Rasulullah Saw. bersabda: Permisalan al-Qur’an yang terus dibaca seseorang di pagi dan sore hari seperti seseorang yang memiliki unta, jika dia ikat berarti dia menjaganya, jika dia lepaskan dari ikatan berarti unta itu akan pergi dan terlepas, demikianlah para penghafal al-Qur’an.”[6] وَلَهُمَا عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: سَمِعَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ رَجُلًا يَقْرَأُ فِي سُورَةٍ بِاللَّيْلِ، فَقَالَ: يَرْحَمُهُ اللَّهُ، لَقَدْ أَذْكَرَنِي كَذَا وَكَذَا آيَةً كُنْتُ أَنْسِيتُهَا مِنْ سُورَةِ كَذَا وَكَذَا». Imam al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Aisyah r.a. ia berkata: Rasulullah Saw. pernah mendengar seseorang membaca al-Qur’an di malam hari lalu bersabda: “Semoga Allah merahmatinya, dia telah ingatkan aku ayat ini dan ayat itu yang tadinya saya dilupakan dari surah ini dan surah itu.”[7] Hadits-hadits dalam bahasan ini sangat banyak. (و باللسان يتلى/dibacakn dengan lisan) firman Allah Swt. yang terjemahannya: “Dan bacakanlah (Muhammad) apa yang diwahyukan kepadamu, yaitu Kitab Tuhanmu (Alquran). Tidak ada yang dapat mengubah kalimat-kalimat-Nya. Dan engkau tidak akan dapat menemukan tempat berlindung selain kepada-Nya.” (Qs: al-kahfi: 27) Firman Allah Swt. yang terjemahannya: “Dan Alquran (kami turunkan) berangsur-angsur agar engkau (Muhammad) membacakannya kepada manusia perlahan-lahan dan Kami menurunkannya secara bertahap.” (Qs: al-Isra’: 106). Firman Allah Swt. yang terjemahannya: “Dan apabila engkau (Muhammad) membaca Alquran, Kami adakan suatu dinding yang tidak terlihat antara engkau dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat,” (Qs: al-Isra’: 45). Firman Allah Swt. yang terjemahannya: “Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah (Alquran) dan melaksanakan salat dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepadanya dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perdagangan yang tidak akan rugi,” (Qs: Fathir: 29). Firman Allah Swt. yang terjemahannya: “Jangan engkau (Muhammad) gerakkan lidahmu (untuk membaca Alquran) karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya. Sesungguhnya Kami yang akan mengumpulkannya (di dadamu) dan membacakannya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian sesungguhnya Kami yang akan menjelaskannya.” (Qs: al-Qiyamah: 16-19). Firman Allah Swt. yang terjemahannya: “atau lebih dari (seperdua) itu, dan bacalah Alquran itu dengan perlahan-lahan.” (Qs: al-Muzammil: 4). Firman Allah Swt. yang terjemahannya: “dan janganlah engkau mengeraskan suaramu dalam salat dan janganlah (pula) merendahkannya dan usahakan jalan tengah di antara kedua itu.”” (Qs: al-Isra’: 110). وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ: لَا حَسَدَ إِلَّا فِي اثْنَتَيْنِ: رَجُلٌ عَلَّمَهُ اللَّهُ الْقُرْآنَ فَهُوَ يَتْلُوهُ آنَاءَ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ، فَسَمِعَهُ جَارٌ لَهُ فَقَالَ: لَيْتَنِي أُوتِيتُ مِثْلَ مَا أُوتِيَ فُلَانٌ، فَعَمِلْتُ مِثْلَ مَا يَعْمَلُ». Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah Saw. bersabda: “Tidak dibenarkan sifat hasad kecuali pada dua hal; seseorang yang dikarunia Allah Swt. al-Qur’an lalu dia membacanya setiap pagi dan sore hari yang didengarkan oleh tetangganya.” Diriwayatkan oleh al-Bukhari.[8] وَأَخْرَجَ أَبُو الْقَاسِمِ عَبِيدُ الْقَاسِمِ بْنُ سَلَامٍ عَنْ فَضَالَةَ بْنِ عَبِيدٍ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: لَلَّهُ أَشَدُّ أَذَنًا إِلَى الرَّجُلِ الْحَسَنِ الصَّوْتِ بِالْقُرْآنِ مِنْ صَاحِبِ الْقَيْنَةِ إِلَى قَيْنَتِهِ». وَرَوَاهُ ابْنُ مَاجَهْ. Abu Ubaid al-Qasim bin Salam meriwayatkan dari Fudhalah bin Ubaid dari Nabi Saw. beliau bersabda: Allah Swt. senang mendengar seseorang yang indah suaranya membaca al-Qur’an ketimbang suara seorang penyanyi dengan nyanyiannya yang merdu.” Diriwayatkan oleh Ibnu Majah.[9] وَلَهُ عَنِ الْمُهَاجِرِ بْنِ حَبِيبٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: يَا أَهْلَ الْقُرْآنِ، لَا تَسْتَرْسِلُوا الْقُرْآنَ، وَاتْلُوهُ حَقَّ تِلَاوَتِهِ آنَاءَ اللَّيْلِ Diriwayatkan pula dari al-Muhajir bin Habib, ia berkata: Rasulullah Saw. bersabda: Wahai ahli al-Qur’an, jangan kalian berbantalkan al-Qur’an, bacalah al-Qur’an dengan sebenarnya di setiap malam dan siang hari, lantunkanlah bacaan kalian, iramakanlah dengan indah dan ingatlah isi kandungannya agar kalian beruntung.”[10] (كما يسمع بالآذان/didengarkan oleh telinga) Firman Allah Swt. yang terjemahannya: “Dan jika di antara kaum musyrikin ada yang meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah agar dia dapat mendengar firman Allah” (Qs: at-Taubah: 6). Firman Allah Swt. yang terjemahannya: “Dan apabila mereka mendengarkan apa (Alquran) yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri),” (Qs: al-Maidah: 83). Firman Allah Swt. yang terjemahannya: “Dan apabila dibacakan Alquran, maka dengarkanlah dan diamlah, agar kamu mendapat rahmat.”” (Qs: al-A’raf: 204). Firman Allah Swt. yang terjemahannya: “Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan kepadamu (Muhammad) serombongan jin yang mendengarkan (bacaan) Alquran, maka ketika mereka menghadiri (pembacaan)nya mereka berkata, “Diamlah kamu! (untuk mendengarkannya)” Maka ketika telah selesai, mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan. Mereka berkata, “Wahai kaum kami! Sungguh, kami telah mendengarkan Kitab (Alquran) yang diturunkan setelah Musa, membenarkan (kitab-kitab) yang datang sebelumnya, membimbing kepada kebenaran, dan kepada jalan yang lurus.” (Qs: al-Ahqaaf: 29-30). Firman Allah Swt. yang terjemahannya: “Katakanlah (Muhammad), “Telah diwahyukan kepadaku bahwa sekumpulan jin telah mendengarkan (bacaan),” lalu mereka berkata, “Kami telah mendengarkan bacaan yang menakjubkan (Alquran), (yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan sesuatu pun dengan Tuhan kami, dan sesungguhnya Mahatinggi keagungan Tuhan kami, Dia tidak beristri dan tidak beranak. Dan sesungguhnya orang yang bodoh di antara kami dahulu selalu mengucapkan (perkataan) yang melampaui batas terhadap Allah dan sesungguhnya kami mengira, bahwa manusia dan jin itu tidak akan mengatakan perkataan yang dusta terhadap Allah, dan sesungguhnya ada beberapa orang laki-laki dari kalangan manusia yang meminta perlindungan1 kepada beberapa laki-laki dari jin, tetapi mereka (jin) menjadikan mereka (manusia) bertambah sesat. Dan sesungguhnya mereka (jin) mengira seperti kamu (orang musyrik Mekkah) yang juga mengira bahwa Allah tidak akan membangkitkan kembali siapa pun (pada hari Kiamat). Dan sesungguhnya kami (jin) telah mencoba mengetahui (rahasia) langit, maka kami mendapatinya penuh dengan penjagaan yang kuat dan panah-panah api, dan sesungguhnya kami (jin) dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mencuri dengar (berita-beritanya). Tetapi sekarang1 siapa (mencoba) mencuri dengar (seperti itu) pasti akan menjumpai panah-panah api yang mengintai (untuk membakarnya). Dan sesungguhnya kami (jin) tidak mengetahui (adanya penjagaan itu) apakah keburukan yang dikehendaki orang yang di bumi ataukah Tuhan mereka menghendaki kebaikan baginya. Dan sesungguhnya di antara kami (jin) ada yang saleh dan ada (pula) kebalikannya. Kami menempuh jalan yang berbeda-beda. Dan sesungguhnya kami (jin) telah menduga, bahwa kami tidak akan mampu melepaskan diri (dari kekuasaan) Allah di bumi dan tidak (pula) dapat lari melepaskan diri (dari)-Nya.” (Qs: al-Jin: 1-12). Firman Allah Swt. yang terjemahannya: “(yaitu) mereka yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya.1 Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal sehat.” (Qs: az-Zumar; 18). وَعَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ:قَالَ لِيَ النَّبِيُّ ﷺ:اقْرَأْ عَلَيَّ الْقُرْآنَ».قُلْتُ: أَقْرَأُ عَلَيْكَ وَعَلَيْكَ أُنْزِلَ؟قَالَ: «إِنِّي أُحِبُّ أَنْ أَسْمَعَهُ مِنْ غَيْرِي». الْحَدِيثُ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud r.a. ia berkata: Rasulullah Saw. pernah berkata kepadaku: “Bacakan al-Qur’an kepadaku” lalu saya berkata: saya bacakan kepadamu padahal kepadamulah al-Qur’an diturunkan? Beliau Saw. berkata: saya senang mendengar bacaan orang lain.” hadits ini muttafaqun alaihi.[11] وَعَنْ أَبِي مُوسَى رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ: يَا أَبَا مُوسَى، لَوْ رَأَيْتَنِي وَأَنَا أَسْتَمِعُ لِقِرَاءَتِكَ الْبَارِحَةَ». قَالَ: أَمَا وَاللَّهِ لَوْ أَعْلَمُ أَنَّكَ تَسْمَعُ قِرَاءَتِي لَحَبَّرْتُهَا لَكَ تَحْبِيرًا Diriwayatkan dari Abu Musa r.a. bahwa Rasulullah Saw. bersabda: Wahai Abu Musa, engkau mungkin tidak ketahui kalau saya dengarkan bacaanmu semalam. Dia berkata: demi Allah, andai saya tahu engkau dengarkan bacaanku maka akan aku merdukan untukmu semerdu-merdunya.” Diriwayatkan oleh Muslim.[12] Abu Ubaid meriwayatkan dari Aisyah r.a. ia berkata: saya sempat terlambat menemani Rasulullah Saw. suatu malam lalu saya menemuinya, beliau berkata; dari mana engkau? Saya jawab: saya mendengar bacaan al-Qur’an seseorang dari sahabatmu yang tiada bandingannya dan suaranya tiada tandingan. Kemudian Rasulullah Saw. beranjak dan saya mengikutinya untuk mendengar bacaan itu. Beliau menoleh kepadaku seraya berkata: ini suara Salim maula Abu Hudzaifah, segala puji bagi Allah yang menghadirkan di kalangan ummat Islam ini orang seperti dia. Sanadnya jayyid.[13] (كذا بالأبصار إليه/ jiga dilihat dengan mata) ini sama dengan (ينظر/ dilihat) artinya mushaf al-Qur’an dapat dilihat dan termasuk ibadah paling mulia. Abu Ubaid meriwayatkan melalui ragam sanad yang tampak lemah dari sebagian sahabat Nabi Saw. dengan berkata, Nabi Saw. bersabda: perbedaan antara membaca al-Qur’an sambil melihat mushaf dengan membacanya dari hafalan seperti perbedaan antara ibadah fardhu dengan ibadah sunnah.”[14] Ibnu Mas’ud r.a. berkata: perbanyaklah memandangi al-Qur’an.”[15] Diriwayatkan juga dari Ibnu Abbas r.a. bahwasanya setiap kali beliau masuk menemuinya dia membuka mushaf lalu membacanya.”[16] Disebutkan setiap kali Ibnu Mas’ud r.a. berkumpul dengan para sahabatnya, mereka membuka mushaf dan membacanya lalu ditafsirkan oleh Ibnu Mas’ud.”[17] Ibnu Umar r.a. berkata: Jika seseorang pulang dari pasar maka hendaklah dia buka mushafnya lalu membacanya.”[18] Ulama salaf berpendapat bahwa membaca al-Qur’an sambil melihat mushaf lebih baik dari membacanya berdasarkan hafalan. Sebab, membaca dan melihat mushaf masing-masing diberi pahala. Bahkan mereka memakruhkan melewatkan dua hari tanpa melihat mushaf. (و بالأيادي خطه يسطر/ditulis dengan tangan) Firman Allah Swt. yang terjemahannya: “dan (ini) sesungguhnya Alquran yang sangat mulia, dalam Kitab yang terpelihara (Lauḥ Maḥfūẓ), tidak ada yang menyentuhnya selain hamba-hamba yang disucikan.” (Qs: al-Waqi’ah: 77-79). Firman Allah Swt. yang terjemahannya: “(yaitu) seorang Rasul dari Allah (Muhammad) yang membacakan lembaran-lembaran yang suci (Alquran), di dalamnya terdapat (isi) kitab-kitab yang lurus (benar).” (Qs: al-Bayyinah: 2-3). Firman Allah Swt. yang terjemahannya: “Sekali-kali jangan (begitu)! Sungguh, (ajaran-ajaran Allah) itu suatu peringatan, maka barangsiapa menghendaki, tentulah dia akan memperhatikannya, di dalam kitab-kitab yang dimuliakan (di sisi Allah), yang ditinggikan (dan) disucikan,” (Qs: Abasa: 11-14). Para sahabat menulis al-Qur’an atas perintah Rasulullah Saw. semasa Rasulullah Saw., lalu pada khilafah Abu Bakar dan Utsman dan hingga saat ini, al-Qur’an masih terus ditulis oleh kaum muslimin. Ibnu Abbas r.a. berkata: Rasulullah Saw. tidak meninggalkan sesuatu kecuali yang ada antara dua sampul.”[19] Ali bin Abi Thalib dan Abu Bakar juga mengatakan demikian di hadapan para sahabat dan tidak ada seorang pun yang menyanggahnya. Andai yang ditulis dalam mushaf bukan kalamullah maka semestinya tidak dilarang disentuh oleh orang yang tidak suci sebagaimana firman Allah: “dan janganlah menyentuh mushaf kecuali orang yang suci” juga mesti tidak dilarang dijadikan bantal. Sekalipun perbuatan itu dibolehkan kaum zindiq. (و كل ذي/dan semua yang) disebutkan dalam hati, dihafalkan olehnya, disebutkan oleh lisan, didengarkan oleh telinga, dilihat oleh mata, dan ditulis oleh tangan menggunakan alat tulis berupa pena dan kertas disertai tinta adalah (مخلوقة حقيقه/makhluk) tanpa perlu diragukan (دون/bukan) selain al-Qur’an yang merupakan (كلام/perkataan) Allah Swt. (بارئ الخليقة/ sang pencipta makhluk). Imam Ahmad mengatakan: seorang hamba mengabdi kepada Allah Swt. melalui al-Qur’an dengan mengaktifkan lima hal; hafalan hati, tilawah lisan, pendengaran telinga, penglihatan mata dan tulisan tangan. Hati adalah makhluk namun al-Qur’an yang dihafal bukan makhluk, bacaan itu makhluk namun al-Qur’an yang dibaca bukan makhluk, pendengaran itu makhluk namun al-Qur’an yang didengar itu bukan makhluk, penglihatan itu makhluk namun al-Qur’an yang dilihat bukan makhluk, tulisan itu makhluk namun al-Qur’an yang ditulis itu bukan makhluk. Jadi perbuatan hamba itu termasuk makhluk namun al-Qur’an yang dinteraksii kapan, dimana dan dengan apapun dibaca, ditulis bukan makhluk. [1] Lihat kitab Tafsir Ibnu Katsir (2/608) dan al-Baghawi dalam kitab Ma’alim at-tanzil (3/448). [2] HR. At-Tirmidzi (5/177/2913) dalam bahasan keutamaan al-Qur’an, bab 18 dan berkata ini adalah hadits hasan shahih, Ahmad (1/332), ad-Darimi (2/429) dalam bahasan keutamaan al-Qur’an, bab keutamaan orang yang membaca al-Qur’an, al-Hakim (1/554), Ibnu Adi dalam kitab al-Kamil (6/2072) dan al-Hakim berkata: hadits ini shahih namun tidak disetujui oleh adz-Dzhahabi. Karena dalam sanadnya ada Qabus bin Abi Sufyan yang dianggap lentur haditsnya. [3] HR. t-Tirmidzi (5/156/2876) dalam bahasan pahala baca al-Qur’an, bab tentang keutamaan surah al-Baqarah dan ayat kursi lalu berkata hadits ini hasan. Ibnu Majah (1/78/217) dalam pendahuluan (kitab mukhtashar tanpa menyebutkan kisahnya), an-Nasa’i dalam kitab al-Kubra (Tuhfatu al-Asyraf 10/280) dan di dalam sanadnya ada Atha’ maula Abu Ahmad namun tidak dikenal. Hadits ini punya riwayat penguat namun lemah sekali dari hadits Utsman r.a. diriwayatkan oleh at-Thabarani dalam kitab al-Ausath (al-Majma’ 7/164), ad-Daruquthni dalam kitab al-Afrad (kanzul Ummal 4020) dan di dalam sanadnya ada Yahya bin Salamah bin Kahil seorang syi’ah matruk. Jadi hadits ini lemah dan tidak layak menguatkan hadits sebelumnya. [4] HR. al-Bukhari (9/131) dalam bahasan nikah, bab menikahkan orang miskin dan bab kalau pelamar mengatakan kepada wali nikahkan saya (9/198). Muslim (2/1040/1425) dalam bahasan nikah, bab mahar dan bolehnya berbentuk hafalan al-Qur’an. [5] HR. Abu Dawud (2/236/2112) dalam bahasan nikah, bab menikahkan dengan pekerjaan berdasar hadits Abu Hurairah r.a. dengan sanad Asl at-Taimi yang dikenal lemah namun haidts ini dianggap shahih karena riwayat penguatnya yang sebelumnya. [6] HR. al-Bukhari (9/131) dalam bahasan keutamaan al-Qur’an, bab mengulang al-Qur’an dan membacanya. Muslim (1/543/789) dalam bahasan shalat musafir, bab anjuran membaca al-Qur’an. [7] HR. al-Bukhari (9/95) dalam bahasan keutamaan al-Qur’an, bab bahaya lupakan al-Qur’an dan bab tidak mengapa menyebut surah al-Baqarah dengan cuapan surah ini atau itu (9/87). Muslim (1/543/788) dalam bahasan shalat musafir, bab anjuran membaca al-Qur’an. [8] HR. al-Bukhari (9/73) dalam bahasan keutamaan al-Qur’an, bab iri tehadap sahabat al-Qur’an, dan dalam bahasan angan-angan, bab angankan kuasai al-Qur’an dan ilmu (13/220), dan dalam bahasan tauhid, bab sabda Nabi Saw seseorang yang diberi kemuliaan al-Qur’an (13/502). [9] HR. Ahmad (6/19), al-Hakim (1/571) al-Baihaqi (as-Sunan 10/230). Al-Hakim berkata: hadits ini shahih berdasarkan kriteria al-Bukhari dan Muslim namun tidak disetujui oleh adz-Dzahabi, bahkan menuruntya hadits ini munqathi’. Meunurt saya, letak inqitha’nya antara Ismail bin Ubaidillah dengan Fudhalah bin Ubaid. Namun Imam Ahmad meriwayatkan secara maushul (6/20), Ibnu Majah (1/425/1340) dalam bahasan dirikan shalat, bab anjuran indahkan bacaan al-Qur’an, Ibnu Hibban (al-Ihsan 2/66), ath-Thabarani dalam kitab al-Kabir (18/301/772), al-Baihaqi dalam kitab as-Sunan (10/230). Antara Ismail dan Fudhalah disebutkan ada Maisarah maula Fudhalah yang disebutkan oleh al-Hafizh sebagai maqbul (jika diikuti namun jika tidak maka layyin haditsnya) hadits ini hasan seperti yang dikatakan al-Bushairi. [10] HR. al-Bukhari dalam kitab tarikhnya (3/2/83), Abu Ubaid dalam kitab Fadhail al-Qur’an (Fadhail al-Qur’an karya Ibnu Katsir 7/48), ath-Thabarani dalam kitab al-Kabir (al-Majma’ 2/555), al-Baihaqi dalam kitab asy-Syu’ab (al-kanzu 2803), Ibnu al-Atsir dalam kitab Usdu al-Ghabah (3/446) namun dalam sanadnya ada Abu Bakar bin Abi Maryam yang dikenal lemah. [11] HR. al-Bukhari (al-Fathu 9/93) dalam bahasan keutamaan al-Qur’an, bab orang yang ingin dengar al-Qur’an dari orang lain dan bab minta berhenti membaca (9/94) dan bab menangis membaca al-Qur’an. Muslim (1/551/800) dalam bahasan shalat musafir, bab anjuran dengar bacaan al-Qur’an. [12] Hadits ini tidak diriwayatkan oleh Muslim dengan redaksi seperti ini, yang ada adalah: andai aku tahu engkau dengar bacaanku maka saya akan merdukan untukmu.” Muslim (1/546/793) dalam bahasan shalat musafir, bab anjuran memperindah suara bacaan al-Qur’an. Redakasi: “adapun saya wahai Rasulullah andai aku tahu …” diriwayatkan oleh Abu Ya’la dalam kitab Musnadnya namun dalam sanadnya ada Khalid bin Nafi’ al-Asy’ari yang diketahui lemah (al-Majma’ 7/174). Ibnu Jarir berkata: ar-Rauyani meriwayatkan dari jalur Malik bin Maghul dari Abdullah bin Buraidah dari ayahnya berkata andai saya tahu …” menurutku perawinya tsiqah jika diterima perawi setelah Malik. Diriwayatkan oleh Baqiy bin Mukhallid (Fadhail al-Qur’an karya Ibnu Katsir 7/461) dengan sanad hasan. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Sa’d dalam kitab ath-Thabaqat dari Anas bahwa Abu Musa pernah bangun shalat malam lalu suaranya didengar istri-istri nabi Saw. dan memang dikenal merdu suaranya lantas mereka larut mendengarnya hingga di pagi hari disampaikan kalau istri-istri nabi saw mendengarkan bacaannya lalu berkata: andai saya tahu maka aku merdukan untuk kalian semerdu-merdunya.’ (ath-Thabaqat: 2/345). Ibnu Hajar berkata; sanadnya memenuhi kriteria Muslim (al-Fathu 9/93). [13] HR. Abu Ubaid dalam kitab Fadahail al-Qur’an (Fadhail al-Qur’an karya Ibnu Katsir 7/480), dan Ibnu Majah 91/425/1338) dalam bahasan dirikan shalat, bab anjuran indahkan suara bacaan al-Qur’an, al-Hakim (3/225-226) dan berkata hadits shahih memenuhi kriteria al-Bukhari dan Muslim namun tidak disebutkan keduanya dan disetujui oleh adz-Dzahabi. [14] Kitab Fadhail al-Qur’an karya Abu Ubaid (Ibnu katsir kitab fadhail al-Qur’an 7/489) sandanya lemah, dilemahkan oleh al-hafizh (al-Fathu 9/78). Menurut saya dalam sanandnya ada Mu’awiyah ash-Shadafi yang dikenal lemah juga selainnya karena diriwayatkan dengan an’anah. [15] Diriwayatkan oleh Abdurrazzaq dalam kitab Mushannafnya (5988) dari jalur ath-Thabarani dalam kitab al-Kabir (8696) dan disandarkan oleh penulis kitab al-Kanzu ke Ibnu Abi Dawud dalam kitab al-Mashahif (4136) namun saya tidak temukan dalam cetakan, al-hafiz berkata sanadnya shahih (al-Fathu 9/78). [16] Yang saya temukan adalah pernyataan Ibnu Abbas bahwa Umar bin Khattab pernah masuk ….. (al-Kanzu 4108) dan disandarkan ke Ibnu Abi Dawud namun tidak saya temukan dalam cetakan. [17] Disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam kitab Fadhail al-Qur’an namun dalam sanadnya ada Ibnu Abi Laila yang dilemahkan. [18] Penulis kitab al-Kanzu menisbahkannya ke Ibnu Abi dawud dalam kitab al-Mashahif (4034) namun tidak saya temukan dalam cetakan, dan dalam sanandnya ada Tsawir maula Ja’dah bin Hubairah yang dikenal sebagai pentolan pendusta. Disebutkn oleh Ibnu Katsir dalam kitab Fadhail al-Qur’an. [19] HR. al-Bukhari (9/64-65) dalam bahasan fadhail al-Qur’an, bab orang yang ingkari bahwa Nabi Saw. tinggalkan mushaf. Terjemahan Kitab