PASAL XI – HIDAYAH DAN KESESATAN Supriyadi Yusuf Boni, 17 Juli 2025 Sumber: Kitab Maraqy al-Wa’yi (Penanaman Kesadaran) Penulis: Prof. Dr. Shaleh bin Abdul Aziz Utsman Sindi Penerjemah: Supriyadi Yousef Boni Editor: Idrus Abidin Persoalan hidayah dan kesesatan termasuk persoalan takdir yang sangat urgen, sangat detail dan dalam serta memunculkan banyak problematika berfikir sebagian orang. Maka sudah sepatutnya kita perlu mendudukkannya pada dasarnya yang tepat, jika tidak maka dipastikan muncul kesalahan fatal. Namun sebelum masuk lebih dalam, terlebih dahulu disebutkan beberapa kaedah penting yang mampu menuntun memahaminya dengan tepat. Kaedah yang dimaksud adalah: Pertama: Ada Takdir yang Diketahui dan Ada Pula yang Dirahasiakan. Seorang hamba wajib membatasi dirinya pada sesuatu yang diketahui seperti yang disebutkan dalam dalil-dalil syariat dan tidak melampaui batasan tersebut. Kita wajib mengimani takdir, berpegang pada prinsip penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah Swt, dan tidak memaksakan diri menyelami persoalan takdir yang berada di luar jangkauan akal kita. Saya tekankan; takdir termasuk salah satu diantara rahasia yang dibungkus oleh tirai, maka tidak pantas seorang hamba menyelaminya karena tidak akan berhasil sama sekali, bahkan akan membuatnya tersesat. Oleh sebab itu, kaum salaf mengatakan; takdir itu adalah rahasia Allah Swt, mustahil kita bisa mengungkapnya. Maksudnya, akal fikiran manusia sangat lemah untuk memahami tujuan utama dari semua perbuatan Allah Swt, sebagaimana akal mustahil dapat menjangkau hakikat dzat Allah Swt. Para ahli ilmu menyatakan: dasar takdir adalah rahasia Allah Swt yang ada pada makhlukNya, tidak diketahui oleh para malaikat dan juga para rasul. Mendalaminya dan memikirkannya adalah jalan kehinaan, tangga kesesatan, titian kaum sesat. Makanya berhati-hatilah menyelaminya, memikirkannya termasuk bisikan keraguannya. Karena Allah sudah merahasiakan ilmu takdir dari hambaNya dan melarang mereka mencarinya. Al-Ajurri meriwayatkan dari Ibnu Umar r. a. bahwa beliau pernah berkata tentang takdir: “Takdir adalah sesuatu yang diinginkan Allah Swt yang dirahasiakan dari mereka, maka jangan kalian meminta diberikan Allah Swt sesuatu yang tidak disenangi untuk kalian.” (al-Syari’ah, 2/936). Takdir yang dirahasiakan ini adalah objek larangan Rasulullah Saw untuk diselami melalui sabdanya: “Jika takdir sedang dibicarakan maka diamlah kalian.” (HR. al-Thabarani, no. 1427). Kesimpulannya: tema ini perlu diperhatikan dengan baik bahwa: diantara takdir ada yang dirahasiakan ilmunya untuk kita.” Kedua: Allah Swt Maha Adil dan Tidak Pernah Zhalim. Setiap individu muslim wajib meyakini kaedah ini, Allah Swt disifati maha Adil. Sabda Rasulullah Saw: “Siapa lagi yang akan adil kalau Allah Swt dan Rasulnya dituding tidak adil.” (Muttafaqun alaihi, al-Bukhari, no. 3150 dan Muslim, no. 1062). Allah Swt suci dari sifat zhalim, bahkan Allah Swt sendiri mengharamkan kezhaliman untuk diriNya. Ini adalah keyakinan yang wajib dipegang kuat-kuat. Seperti disebutkan sebelumnya bahwa Allah Swt tidak takut kepada siapa pun, andai Allah Swt kehendaki maka Allah Swt masukkan semua makhluk ke dalam neraka, dan tidak perlu karuniakan mereka akal fikiran dan membebani mereka dengan syariat, menurukan kitab dan mengutus para rasul, juga tidak perlu ada hari kebangkitan, pencatatan amal, penghitungan amal dan penimbangan amal. Namun ketika itu tidak dia lakukan, maka kita ketahui dan yakini bahwa Allah Swt disifati maha adil, bersih dari tindakan zhalim. Firman Allah Swt: فَمَا كَانَ اللّٰهُ لِيَظۡلِمَهُمۡ وَلٰـكِنۡ كَانُوۡۤا اَنۡفُسَهُمۡ يَظۡلِمُوۡنَ Terjemahannya: “Allah tidak menzalimi mereka, tetapi merekalah yang menzalimi diri mereka sendiri.” (Qs: al-Taubah: 70). Jadi, setiap kali setan merayu hatimu maka ingatlah kaedah ini. Bahwa Allah Swt maha adil dan tidak zhalim, dan tanamkan prinsip ini dalam dirimu sekokoh gunung tertinggi. Dan jika persoalan takdir mengganggu fikiranmu maka bentengi akidahmu dengan meyakini bahwa Allah Swt maha adil dan tidak akan mungkin berbuat zhalim. Ketiga: Allah Swt selalu memiliki hikmah yang mulia. Jika Allah Swt karuniai hidayah kepada seseorang maka di baliknya ada hikmah, juga ketika menyesatkan seseorang maka itu pun karena hikmah di baliknya. Namun adanya hikmah tidak mesti harus diketahui. Namun kita cukup menjadikan keilmuan kita sebagai bukti akan ketidaktahuan kita seperti yang dipaparkan sebelumnya. Allah Swt menetapkan diriNya memiliki hikmah di balik semua perbuatanNya dalam banyak ayat, lalu menjelaskan sebagian secara detail. Fakta ini cukup sebagai bukti keberadaan hikmah bagi Allah Swt. Lalu menjadikannya dalil atas ketidaktahuan kita. Jadi; Allah Swt memiliki kebijaksanaan yang mulia, karuni hidayah atau sesatkan orang-orang tertentu berpusat pada kebijaksanaan Allah Swt. Keempat: Akal manusia Sangat Lemah. Berdasarkan kaedah ini, berarti akal fikiran sangat lemah untuk mampu menjangkau persoalan takdir yang sangat pelik dan rumit. Allah Swt menciptakan manusia dalam keadaan lemah. Firman Allah Swt: وَخُلِقَ الۡاِنۡسَانُ ضَعِيۡفًا Terjemahannya: “karena manusia diciptakan (bersifat) lemah.” (Qs; al-Nisa’: 28) Kaedah ini pasti diterima setiap individu muslim. Sebagaimana Allah Swt mentakdirkan penglihatan itu terbatas dan tidak menjangkau semua hal, juga pendengaran terbatas dan tidak mencapai semua hal, dan sebagaimana Allah menciptakan kuasa terbatas untuk anda, maka begitu pula akal fikiranmu, dia terbatas dan tidak sanggup menjangkau semua hal. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas r. a. bahwa: sebagaimana Allah menjadikan pandangan mata terbatas tidak bisa menembus tirai, maka Allah Swt juga menjadikan pandangan hati memiliki jangkauan tidak terlampaui, dan batas yang tidak mungkin terlewati.” (Kitab al-Inabah Karya Ibnu Baththah, 1/422). Olehnya itu, semua bab takdir yang dirahasiakan dan tidak kita ilmui berada di luar jangkau akal. Akal tidak mampu mengetahuinya dan jika pun dipaksakan hanya melahirkan kebimbangan. Karenanya, kaum salaf mengatakan: perumpamaan persoalan takdir dengan orang yang menyelaminya seperti matahari dan orang yang memandangnya, setiap kali dia memandangnya makin bertambah bingung orangnya.” Pandangan mata sangat lemah untuk terus memandangi matahari, jika dia paksakan maka matanya pasti rusak. Demikian pula dengan takdir, jika engkau sibukkan dirimu, menyelaminya dan melampaui batasan yang ditetapkan syariat maka engkau akan sesat dan menderita. Setiap individu sendiri sangat sadar tidak sanggup menjangkau banyak hal yang terjadi dalam relasi antar sesama manusia, bahkan sekedar memahami sebagian pernyataan dan ungkapan sering terkendala – misal ketika bicara tentang satu disiplin atau sektor tertentu – lantas bagaimana mungkin seseorang meminta akalnya menguasai semua ilmu Allah Swt, dzat maha mengetahui dan maha bijaksana. Sedang hikmah Allah Swt sangat besar dan luas. Jadi, sadarilah kemampuan maksimal anda lalu jangan melampaui batasnya, bukan karena takdir mengandung kezaliamn atau karena berada di luar hikmah, akan tetapi karena akal anda sangat lemah untuk bisa menjangkau detail-detail ilmu yang telah ditakdirkan Allah Swt. Kelima: Hujjah Allah Swt Tegas dan Jelas, Sedang Seorang Hamba Haram Menantang Allah Swt. Sadari dan yakinilah kaedah ini lalu kembalikan semua yang samar kepada Allah Swt. Firman Allah Swt: قُلۡ فَلِلّٰهِ الۡحُجَّةُ الۡبَالِغَةُ ۚ Terjemahannya: “Katakanlah (Muhammad), “Alasan yang kuat hanya pada Allah.” (Qs: al-An’am: 149) Maksudnya, hujjah yang menghunjam di lubuk hati merasuk ke dalam akal manusia. Orang yang sehat hati dan akalnya tidak kuasa menolak hujjah Allah Swt. Saya tekankan lagi bahwa Hujjah Allah Swt sangat tegas dan jelas dan seorang hamba tak miliki hujjah terhadap Allah Swt. Sebab Allah Swt yang karuniakan hidayahnya kepada hambanya. Firman Allah Swt: اِنَّا هَدَيۡنٰهُ السَّبِيۡلَ اِمَّا شَاكِرًا وَّاِمَّا كَفُوۡرًا Terjemahannya: “Sungguh, Kami telah menunjukkan kepadanya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kufur.” (Qs; al-Insan: 3) Allah Swt tanamkan hidayah padanya, dengan cara dicerahkan akalnya, pendengarannya, penglihatannya, lalu mengutus para rasul, menurunkan kitab suci, menggerakkan ayat-ayat Allah Swt, lalu membuat terang dalil dan bukti-bukti. Jadi, Allah Swt berhujjah kepada hambaNya dan tidak sebaliknya. Keenam: Orang yang Ditahan Karunianya Bukan Berarti Dizalimi. Hidayah adalah murni karunia dari Allah Swt, kalau ada yang tidak dikaruniai hidayah bukan berarti Allah Swt zhalim. Karena hanya orang yang menahan hak orang yang disebut zhalim, sementara tidak ada kewajiban Allah Swt kepada makhlukNya. Allah Swt Maha Kaya, sebab seorang hamba sangat lemah untuk mewajibkan sesuatu kepada Allah Swt. Ketujuh: Allah Swt Tidak Ditanya PerbuatanNya. Firman Allah Swt: لَا يُسۡــَٔـلُ عَمَّا يَفۡعَلُ وَهُمۡ يُسۡـَٔــلُوۡنَ Terjemahannya: “Dia (Allah) tidak ditanya tentang apa yang dikerjakan, tetapi merekalah yang akan ditanya.” (Qs: al-Anbiya’: 23). Oleh sebab itu, tidak pantas seorang hamba mempertanyakan apalagi menentang ketetapan Allah Swt. Allah Swt Maha Kuasa melakukan apapun yang dikehendaki, karena Allah Swt maha kuasa atas segala sesuatu. Lalu diantara bukti kesempurnaan hikmah Allah Swt adalah dengan tidak mempertanyakannya. Tidak ada perbuatan Allah Swt yang sia-sia, dan tidak ada pula ciptaannya yang percuma. Yang bisa dipertanyakan perbuatannya adalah mereka yang menyimpang dari kebenaran, atau yang perbuatannya tidak bermanfaat dan tidak berfaedah. Sebagian orang salah menduga, bahwa Allah Swt tidak dipertanyakan perbuatanNya karena semua hal tergantung pada kehendakNya dan tidak terkait dengan hikmah. Padahal dugaan ini keliru. Sebab, Allah Swt tidak dipertanyakan perbuatanNya akibat sifatNya yang maha sempurna. Artinya, karena sempurna kemuliaanNya, ilmuNya, hikmahNya dan rahmatNya makanya tidak dipertanyakan perbuatanNya. Andai sedikitpun ada keraguan pada ilmu Allah Swt atau pada hikmahNya maka bisa saja ditanya: wahai Allah Swt kenapa engkau melakukan itu? Namun faktanya Allah Swt sangat bersih dari segala bentuk kekurangan. Allah Swt memiliki kemuliaan yang sempurna, ilmu yang tak terbatas, hikmah yang agung. Sehingga tidak pantas ditanya apa yang dilakukan Allah Swt. Jika engkau meyakini kaedah ini maka engkau termasuk berserah diri kepada Allah Swt, engkau tidak akan pertanyakan perbuatan Allah Swt dan tidak pula merasa berat dengan kewajibanmu. Kedelapan: Jagalah Adab Kepada Allah Swt. Apabila engkau masuk dalam pembicaraan mengenai tema ini maka ingatlah bahwa engkau sedang membicarakan perbedaan antara al-Rabb dengan hamba. Tentang al-rabb yang maha agung, sang penguasa yang memiliki segala sesuatu, lalu tentang hamba yang diciptakan, dikendalikan dan diatur oleh Allah Swt, sangat tergantung kepada Allah Swt dalam segala urusannya. Maka jangan sampai godaan nafsumu membuatmu melampaui batasmu gingga engkau berburuk adab kepada Allah Swt seperti yang banyak disaksikan selama ini. Ingatlah, buruk adab kepada Allah Swt akan menjerumuskan ke dalam banyak jurang kehancuran. Ini beberapa kaedah dasar dan prinsip-prinsip pernting maka pedomanilah ia lalu jadikan rujukan selesaikan semua persoalanmu. SIKAP TEPAT BERINTERAKSI DENGAN HIDAYAH DAN KESESATAN Keyakinan yang benar dalam tema ini adalah bahwa hidayah dan kesesatan berada di tangan Allah Swt sepenuhnya. Allah Swt memberi hidayah kepada siapa yang dikehendaki sebagai karunia dariNya dan juga membuat sesat orang yang dikehendaki karena hikmah dan sikap adil dariNya. Jadi, di sini ada dua tema penting; pertama; hidayah dan kedua; kesesatan. Masing-masing dari dua tema tersebut memiliki aturan yang mesti dipatuhi. Pertama: Tema Hidayah (Taufiq Dari Allah Swt) Aturannya ada empat, yakni; Pertama, Hidayah sepenuhnya dari Allah Swt dan diberikan kepada siapa saja yang dikehendaki; Seseorang yang tidak diberi hidayah oleh Allah Swt maka tiada yang bisa memberinya hidayah. Firman Allah Swt: وَقَالُوا الۡحَمۡدُ لِلّٰهِ الَّذِىۡ هَدٰٮنَا لِهٰذَا وَمَا كُنَّا لِنَهۡتَدِىَ لَوۡلَاۤ اَنۡ هَدٰٮنَا اللّٰهُ Terjemahannya: “Mereka berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah menunjukan kami ke (surga) ini. Kami tidak akan mendapat petunjuk sekiranya Allah tidak menunjukan kami.” (Qs; al-A’raf: 43). Disebutkan dalam kitab Shahihain (al-Bukhari, no. 4104 dan Muslim, no. 1802) bahwa Nabi Saw pada perang Khandaq bersabda: “Demi Allah, andai bukan karena Allah, maka pasti kita tidak dapat hidayah, tidak pula kita bersedekah juga shalat.” Seseorang tidak akan dapat hidayah kecuali dari Allah Swt, jika Allah Swt tidak kehendaki maka pasti tidak akan mendapatkan hidayah. Kesadaran orang atas kaedah ini mendorongnya untuk selalu memohon kepada Allah Swt agar diberi hidayah secara terus menerus. Kedua, Hidayah Murni Karunia Allah Swt. Tidak ada hak seorang hamba untuk menuntut diberi hidayah oleh Allah Swt, karena ini bukan relasi transaksional di mana seorang hamba membayar sesuatu lalu Allah Swt wajib memberinya hidayah. Tidak begitu relasi antara Allah Swt dengan hamba. Karena hidayah murni karunia dari Allah Swt. Siapapun hamba tidak punya hak memaksa Allah Swt memberinya hidayah. Firman Allah Swt: وَاَنَّ الۡفَضۡلَ بِيَدِ اللّٰهِ يُؤۡتِيۡهِ مَنۡ يَّشَآءُ ؕ Terjemahannya: “dan bahwa karunia itu ada di tangan Allah, Dia memberikannya kepada siapa yang Dia kehendaki.” (Qs; al-Hadid: 29). Juga firman Allah Swt: وَاللّٰهُ يَخۡتَصُّ بِرَحۡمَتِهٖ مَنۡ يَّشَآءُ وَاللّٰهُ ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِيۡمِ Terjemahannya: “Tetapi secara khusus Allah memberikan rahmat-Nya kepada orang yang Dia kehendaki. Dan Allah pemilik karunia yang besar.” (Qs; al-Baqarah: 105) Disebutkan dalam hadits Qudsi bahwa Allah Swt berfirman: “Wahai hambaKu, kalian semua dahulu tersesat kecuali yang aku beri hidayah.” (HR. Muslim, no. 2577). Jadi, hidayah adalah murni karunia Allah Swt. Dan hamba tidak kuasa memaksa Allah Swt karuniakan hidayah kepadanya dan mereka juga tidak punya hak dasar atas hidayah tersebut, kecuali yang Allah Swt tetapkan pada diriNya sendiri. Ketiga, Karunia Hidayah Berdasarkan Ilmu dan Hikmah Allah Swt. Maksudnya Allah Swt memberikan hidayah berkat ilmuNya. Allah Swt lebih tahu siapa yang cocok diberi karunia hidayah itu. Oleh karena itu, Allah Swt berfirman tentang orang kafir yang mengecam para sahabat: اَهٰٓؤُلَآءِ مَنَّ اللّٰهُ عَلَيۡهِمۡ مِّنۡۢ بَيۡنِنَا ؕ Terjemahannya: ‘”Orang-orang semacam inikah di antara kita yang diberi anugerah oleh Allah?” (Qs: al-An’am: 53) dan firman Allah Swt: اَلَـيۡسَ اللّٰهُ بِاَعۡلَمَ بِالشّٰكِرِيۡنَ Terjemahannya: “(Allah berfirman), “Tidakkah Allah lebih mengetahui tentang mereka yang bersyukur (kepada-Nya)?”” (Qs: al-An’am: 53). Jadi Allah Swt memberi hidayah berkat ilmu dan hikmahNya, di mana Allah Swt sangat tahu siapa yang cocok menerima hidayah, lalu sikap bijaksanaNya berupa menempatkan hidayah itu pada tempatnya yang cocok. Ini sejalan dengan makna hikmah yang diartikan menempatkan sesuatu pada tempatnya yang tepat. Tempat yang disiapkan untuk tempat buang air kecil dan kotoran tidak cocok untuk dijadikan tempat menyimpan parfum dan minyak wangi, sebagaimana kalung berlian mahal tidak cocok dikalungkan di leher babi atau anjing. Oleh sebab itu, siapa yang diberi hidayah oleh Allah Swt berarti Allah Swt maha tahu bahwa orang itu pantas mendapatkan hidayah. Dan hidayah yang diberikan kepadanya memang cocok untuknya dan inilah hikmah Allah Swt itu. Tiga aturan ini disebutkan secara bersama-sama dalam firman Allah Swt: وَلٰـكِنَّ اللّٰهَ حَبَّبَ اِلَيۡكُمُ الۡاِيۡمَانَ وَزَيَّنَهٗ فِىۡ قُلُوۡبِكُمۡ وَكَرَّهَ اِلَيۡكُمُ الۡكُفۡرَ وَالۡفُسُوۡقَ وَالۡعِصۡيَانَ اُولٰٓٮِٕكَ هُمُ الرّٰشِدُوۡنَۙ. فَضۡلًا مِّنَ اللّٰهِ وَنِعۡمَةً وَاللّٰهُ عَلِيۡمٌ حَكِيۡمٌ Terjemahannya: “Tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan, dan menjadikan (iman) itu indah dalam hatimu, serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus, sebagai karunia dan nikmat dari Allah. Dan Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana.” (Qs; al-Hujurat: 7-8) Keempat, Hidayah yang dikaruniakan Allah Swt kepada seseorang memiliki dua sisi, yakni: a. Allah Swt yang awalnya memberikan hidayah kepada seseorang yang dikehendaki. Allah Swt berfirman dalam hadits Qudsi: “Wahai Hambaku, semua kalian sesat kecuali yang aku beri hidayah” (HR. Muslim, no. 2577). Firman Allah Swt: اَوَمَنۡ كَانَ مَيۡتًا فَاَحۡيَيۡنٰهُ وَجَعَلۡنَا لَهٗ نُوۡرًا يَّمۡشِىۡ بِهٖ فِى النَّاسِ Terjemahannya: ‘Dan apakah orang yang sudah mati lalu Kami hidupkan dan Kami beri dia cahaya yang membuatnya dapat berjalan di tengah-tengah orang banyak,” (Qs; al-An’am: 122). Manusia diciptakan menjadi pelaku zhalim dan sangat bodoh, jika dia dibiarkan tanpa diberi karunia hidayah oleh Allah Swt maka dipastikan akan terus tersesat. Jadi, bentuk kasih sayang Allah Swt untuk seseorang adalah dengan diberi hidayah. Dia ditanamkan di hati orang yang dicintaiNya, di mana sebelumnya hati tersebut lalai lalu diingatkan, menyimpang lantas diluruskan. Andai bukan karena karunia Allah Swt maka dia akan tetap sesat selamanya. b. Hidayah Susulan; maksudnya seseorang yang dikarunia hidayah untuk berbuat baik lalu diikuti dengan perbuatan baik berikutnya, kemudian setelah kebaikan yang kedua diikuti oleh perbuatan baik yang ketiga, begitulah seterusnya. Atas dasar ini, maka hidayah bukan hanya yang pertama kali dikaruniakan kepada seseorang, karena semua amal shaleh yang dilakukan seseorang hanya bisa terjadi berkat hidayah Allah Swt, hanya sebatas satu kali tasbih, atau tilawah satu ayat atau shalat dua rakaat atau semisalanya, andai bukan karena hidayah Allah Swt maka seorang hamba tak mampu melakukannya. Hal ini menuntun seorang muslim memahami agungnya karunia Allah Swt dan besarnya nikmat Allah Swt. Pasalanya, Allah Saw membalas kebaikan dengan kabaikan dan membalas hidayah perbuatan baik dengan hidayah selanjutnya. Firman Allah Swt: وَالَّذِيۡنَ اهۡتَدَوۡا زَادَهُمۡ هُدًى وَّاٰتٰٮهُمۡ تَقۡوٰٮهُمۡ Terjemahannya: “Dan orang-orang yang mendapat petunjuk, Allah akan menambah petunjuk kepada mereka dan menganugerahi ketakwaan pada mereka.” (Qs; Muhammad: 17). Dan firman Allah Swt: فَاَمَّا مَنۡ اَعۡطٰى وَاتَّقٰىۙ. وَصَدَّقَ بِالۡحُسۡنٰىۙ. فَسَنُيَسِّرُهٗ لِلۡيُسۡرٰىؕ Terjemahannya: “Maka barangsiapa memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan (adanya pahala) yang terbaik (surga), maka akan Kami mudahkan baginya jalan menuju kemudahan (kebahagiaan).” (Qs: al-Lail: 5-7). Dan banyak dalil lainnya yang selaras. Jadi, perlu unutk memperhatikan persoalan ini dengan seksama akibatnya banyaknya orang yang abai, dimana banyak orang yang membaca firman Allah Swt: اِهۡدِنَا الصِّرَاطَ الۡمُسۡتَقِيۡمَۙ Terjemahannya: “Tunjukilah kami jalan yang lurus,” (Qs: al-Fatihah: 6), mereka hanya mengingat hidayah yang pertama lalu melupakan hidayah-hidayah susulan yang jumlahnya jauh lebih banyak. Teramat penting setiap kita diberi hidayah mengikuti jalan yang lurus sebagaimana penting pula kita diberi hidayah meniti jalan yang lurus, dan semua itu berasal dari Allah Swt, dialah Dzat yang memebri di awal dan memelihara hidayah pada diri kita. Kedua: Tema Kesesatan. Tema ini penting dan sangat dalam, makanya perlu kehatian-hatian ekstra saat mengulasnya dan menyertakan delapan kaedah dasar yang disebutkan sebelumnya. Tema ini juga memiliki empat aturan mendasar; yakni; 1. Allah Swt yang mentakdirkan kesesatan dan menghendakinya. Andai Allah Swt menghendaki seseorang tidak sesat maka pasti dia tidak sesat, setiap hamba tidak berdaya untuk bermaksiat kepada Allah Swt dengan sendirinya, karena Allah Swt maha kuasa. Jadi siapa saja yang bermaksiat kepada Allah Swt maka atas kehendakNya dengan motif hikmah yang ada di baliknya. Olehnya itu, semua brntuk kemaksiatan yang terjadi adalah atas kehendakNya secara kauniyah (realitas) namun tidak berdasar syar’iyah (keridhaannya) tentu karena hikmah yang ada di baliknya. Diantara dalilnya adalah firman Allah Swt: فَاِنَّ اللّٰهَ يُضِلُّ مَنۡ يَّشَآءُ Terjemahannya: “Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki” (Qs; Fathir: 8) dan firman Allah Swt: مَنۡ يَّشَاِ اللّٰهُ يُضۡلِلۡهُ ؕ وَمَنۡ يَّشَاۡ يَجۡعَلۡهُ عَلٰى صِرَاطٍ مُّسۡتَقِيۡمٍ Terjemahannya: “Barang siapa yang dikehendaki Allah (dalam kesesatan), niscaya disesatkan-Nya. Dan barang siapa dikehendaki Allah (untuk diberi petunjuk), niscaya Dia menjadikannya berada di atas jalan yang lurus.” (Qs; al-An’am: 39). Diketahuinya prinsip ini oleh manusia akan menanamkan rasa khauf (takut) yang besar kepada Allah Swt lalu dia berharap kepadanya agar dilindungi dari kesesatan, karena semua persoalan kehidupan berada di tanganNya. 2. Kesesatan Murni Menunjukkan Allah Swt Maha Adil. Ketika Allah Swt takdirkan seseorang sesat merupakan sebauh keadilan karena berfungsi sebagai sanksi. Sedang memberikan sanksi kepada mereka yang berhak sesuai porsinya adalah sebuah tindakan adil. Lalu sikap adil adalah kebaikan dan subjeknya berhak dipuji. Dasarnya adalah bahwa Allah Swt telah menjelaskan hujjahNya, dan menafikan semua alasan pembenaran di mana Allah Swt berikan kesempatan mendapat hidayah, juga karuniakan akal, pendengaran, pengelihatan, menurunkan kitab, mengutus para rasul, lalu menjelaskan ayat-ayatNya, menampakkan permisalan hingga tidak ada alasan bagi siapa pun. Firman Allah Swt: رُسُلًا مُّبَشِّرِيۡنَ وَمُنۡذِرِيۡنَ لِئَلَّا يَكُوۡنَ لِلنَّاسِ عَلَى اللّٰهِ حُجَّةٌ ۢ بَعۡدَ الرُّسُلِ ؕ Terjemahannya: “Rasul-rasul itu adalah sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, agar tidak ada alasan bagi manusia untuk membantah Allah setelah Rasul-rasul itu diutus.” (Qs; al-Nisa’: 165). Rasulullah Saw bersabda: ‘Tiada yang paling suka memaafkan melebihi Allah Swt, olehnya Allah Swt mengutus para pemberi berita gembira dan peringatan.” (Muttafaqun Alaihi, al-Bukhari, no. 7416, dan Muslim, no. 1499). Dalam sabdanya yang lain disebutkan: “Tiada yang paling suka memaafkan melebihi Allah Swt, makanya Allah Swt menurunkan kitab dan mengutus para rasul.” (HR. Muslim, no. 2760). Jika demikian adanya, lalu sang hamba masih berpaling dari kebenaran dan tidak menyambut seruan Allah Swt, maka tidakkah dia termasuk zhalim dan pantas disanksi? Jawabannya pasti iya. Ketika Allah Swt telah memberikan kesempatan meraih hidayah, lalu menyuruh hambaNya, mengutus para rasul membawa berita gembira disertai peringatan, lalu menampakkan tanda-tanda yang dicerna oleh akal, lalu hamba tersebut menolak semuanya, tidakkah dia termasuk bersalah dan zhalim? Jawabannya pasti iya. Oleh sebab itu, setiap orang yang bersalah dan zhalim layak untuk disanksi Allah Swt dengan menyesatkannya. Firman Allah Swt: وَاَمَّا ثَمُوۡدُ فَهَدَيۡنٰهُمۡ Terjemahannya: “Dan adapun kaum Samud, mereka telah Kami beri petunjuk” (Qs: Fussilat: 17). Maksudnya hidayah berupa tuntunan dan panduan, lantas apa yang terjadi? Firman Allah Swt: فَهَدَيۡنٰهُمۡ فَاسۡتَحَبُّوا الۡعَمٰى عَلَى الۡهُدٰى Terjemahannya: “tetapi mereka lebih menyukai kebutaan (kesesatan) daripada petunjuk itu,” (Qs: Fussilat: 17) Mereka disesatkan Allah Swt dan mereka memang layak untuk disesatkan. Jadi, Allah Swt pasti tidak menyanksi seseorang dalam bentuk disesatkan melainkan setelah hujjah Allah Swt disampaikan kepadanya. Firman Allah Swt: وَمَا كَانَ اللّٰهُ لِيُـضِلَّ قَوۡمًۢا بَعۡدَ اِذۡ هَدٰٮهُمۡ حَتّٰى يُبَيِّنَ لَهُمۡ مَّا يَتَّقُوۡنَ Terjemahannya: “Dan Allah sekali-kali tidak akan menyesatkan suatu kaum, setelah mereka diberi-Nya petunjuk, sehingga dapat dijelaskan kepada mereka apa yang harus mereka jauhi.” (Qs: al-Taubah: 115). Disesatkannya itu merupakan sanksi baginya, ketika kebenaran telah dijelaskan namun mereka tolak, makanya disanksi dengan cara disesatkan. Jadi, Allah Swt tidak menyesatkan seorang pun melainkan setelah disampaikan kebenaran kepadanya. Kalau ini difahami dengan tepat maka semua kebimbangan fikiran akan terobati, dan akhirnya mengerti bahwa seseorang disesatkan menyimpan hikmah di baliknya. Al-Qur’an telah mengaskan persoalan ini di banyak tempat. firman Allahs wt: فَلَمَّا زَاغُوۡۤا اَزَاغَ اللّٰهُ قُلُوۡبَهُمۡ Terjemahannya: “Maka ketika mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka.” (Qs; al-Shaff: 5). Firman Allah Swt: بَلۡ طَبَعَ اللّٰهُ عَلَيۡهَا بِكُفۡرِهِمۡ Terjemahannya: “Sebenarnya, Allah telah mengunci hati mereka karena kekafirannya,” (Qs; al-Nisa’; 155). Firman Allah Swt: وَاللّٰهُ اَرۡكَسَهُمۡ بِمَا كَسَبُوۡا Terjemahannya: “padahal Allah telah mengembalikan mereka (kepada kekafiran), disebabkan usaha mereka sendiri” (Qs; al-Nisa: 88). Berbeda apabila kesesatan seseorang akibat tidak tahu kebenaran karena risalah Islam belum sampai kepadanya atau karena terhalang untuk mengetahuinya, maka dia dipelakukan berbeda. Ancaman yang tertuang dalam al-Qur’an hanya ditujukan kepada orang yang sesat jenis pertama. Adapun orang sesat jenis yang kedua, maka Allah Swt tidak akan mengadzab seseorang sebelum dia mengetahui kebenaran dan faham landasannya. Firman Allah Swt: وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِيۡنَ حَتّٰى نَبۡعَثَ رَسُوۡلًا Terjemahannya: “tetapi Kami tidak akan menyiksa sebelum Kami mengutus seorang rasul.” (Qs: al-Isra’: 15). Juga firman Allah Swt: رُسُلًا مُّبَشِّرِيۡنَ وَمُنۡذِرِيۡنَ لِئَلَّا يَكُوۡنَ لِلنَّاسِ عَلَى اللّٰهِ حُجَّةٌ ۢ بَعۡدَ الرُّسُلِ ؕ Terjemahannya: “Rasul-rasul itu adalah sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, agar tidak ada alasan bagi manusia untuk membantah Allah setelah Rasul-rasul itu diutus.” (Qs: al-Nisa’: 165). Kesimpulannya: bahwa seseorang disesatkan adalah sebagai sanksi, dan memberlakukan sanksi pada orang yang patut disanski adalah tindakan adil, lalu Allah Swt dipuji karena tindakan adilnya. 3. Sanksi berupa disesatkan semuanya bermuara pada ilmu dan hikmah Allah Swt. Allah Swt sangat tahu kalau orang-orang sesat tersebut tidak layak menerima hidayah, tidak pantas bagi mereka, mereka tidak berhak dihidayahi. Sebab, Allah Swt hanya memberikan karunia kepada objek yang sejalan dengan hikmahNya, lalu menahan karuniaNya dari objek yang selaras dengan hikmahNya. Saya coba berikan permisalan: jika seseorang sudah sampai pada puncak kejahatan, lalu diperhadapkan ke hakim, di mana pilihannya bisa dipidana atau dibebaskan, sedang kita memprediksikan berdasarkan beberapa indikator bahwa jika dibebaskan, orang ini akan menyakiti atau bahkan membunuh orang pertama yang berpapasan dengannya, sehingga dia menebarkan ketakutan di tengah masyarakat, maka apakah pertanda hikmah bila dia dibebaskan? Atau tindakan membebaskan tersebut termasuk kebijakan bodoh dan jauh dari sikap bijak, dan sebaliknya menjatuhkan pidana untuknya malah menandakan tindakah bijak? Jawabannya sudah jelas yang mana. Jadi, karunia itu mesti diberikan kepada orang yang cocok dan tepat, jika tidak maka tindakan tersebut termasuk kebodohan sedang Allah Swt sangat jauh dari tindakan sia-sia. Sangat jelas bahwa jika Allah Swt menyesatkan seseorang maka itu berdasar pada ilmu Allah Swt bahwa dia tidak layak menerima hidayah, tidak cocok untuknya. Seperti babi yang tidak layak dikalungkan permata yang mahal, sedang hidayah itu jauh lebih mulia dan lebih mahal nilainya. Jika negkau fahami ini dengan baik, maka dipastikan engkau tidak akan bingung. Untuk memudahkan memahami coba perhatikan orang-orang kafir yang sesat di akhirat; Allah Swt mengabarkan keadaan mereka setelah melihat neraka dengan mata kepala. Mereka meminta untuk dikembalikan ke dunia untuk beramal shaleh yang berbeda dengan amalan mereka sebelumnya. Lalu jawaban apa yang disampaikan Allah Swt kepada mereka? Firman Allah Swt: وَلَوۡ رُدُّوۡا لَعَادُوۡا لِمَا نُهُوۡا عَنۡهُ وَاِنَّهُمۡ لَـكٰذِبُوۡنَ Terjemahannya: “Seandainya mereka dikembalikan ke dunia, tentu mereka akan mengulang kembali apa yang telah dilarang mengerjakannya. Mereka itu sungguh pendusta.” (Qs; al-An’am: 28). Lantas betapa busuknya hati mereka itu? Apakah setelah hati mereka sudah sampai pada puncak kebusukan, masihkah layak mereka dikaruniai oleh Allah Swt? Mereka sudah melihat siksa Allah Swt, namun hati mereka masih ragu akan kebenaran Allah Swt dan rasulNya Saw. Namun demikian, jikapun mereka dihidupkan kembali maka mereka akan kembali melakukan larangan berupa kekufuran dan kemaksiatan. Jadi, sungguh sebuah hikmah yang sangat mulia jika mereka itu disesatkan. 4. Sanski Allah Swt berupa penyesatan terbagi dalam dua bentuk; sanksi karena meninggalkan perintah Allah Swt, dan sanksi karena melakukan larangan Allah Swt. Bentuk pertama: mereka disanksi karena meniggalkan perintah. Penjelasannya bahwa: ketika mereka telah mengetahui hujjah Allah Swt dan telah sampai ke mereka risalah Allah Swt, maka semestinya mereka tunduk, patuh dan menyambut hidayah Allah Swt, namun mereka tidak lakukan, maka layak kalau mereka disesatkan Allah Swt: firman Allah Swt: وَنُقَلِّبُ اَفۡـــِٕدَتَهُمۡ وَاَبۡصَارَهُمۡ كَمَا لَمۡ يُؤۡمِنُوۡا بِهٖۤ اَوَّلَ مَرَّةٍ Terjemahannya: “Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti pertama kali mereka tidak beriman kepadanya (Alquran),” (Qs; al-An’am: 110). Makna awwalu marratin adalah ketika mereka telah menerima penjelasan hujjah Allah Swt di mana semestinya mereka menyambutnya namun tidak dilakukan, maka pantas jika Allah Swt sesatkan hati mereka. Kondisi ini pula yang dimaksud oleh ayat: ثُمَّ انْصَرَفُوۡا ؕ صَرَفَ اللّٰهُ قُلُوۡبَهُمۡ Terjemahannya: “Setelah itu mereka pun pergi. Allah memalingkan hati mereka”, (Qs: al-Taubah: 127). Bentuk kedua: sanksi karena perbuatan melanggar. Yakni yang dilakukan berupa kekufuran, kemaksiatan dan menjauhi kebenaran serta menentang perintah Allah Swt, maka Allah Swt menyanksi mereka dengan membuat mereka makin sesat. Jadi, setiap maksiat yang dilakukan adalah bentuk sanksi atas kemaksiatan yang dilakukan sebelumnya, setiap penyimpangan adalah bentuk sanksi atas penyimpangan sebelumnya. Firman Allah Swt: وَاَمَّا مَنۡۢ بَخِلَ وَاسۡتَغۡنٰىۙ. وَكَذَّبَ بِالۡحُسۡنٰىۙ. فَسَنُيَسِّرُهٗ لِلۡعُسۡرٰىؕ Terjemahannya: “Dan adapun orang yang kikir dan merasa dirinya cukup (tidak perlu pertolongan Allah), serta mendustakan (pahala) yang terbaik, maka akan Kami mudahkan baginya jalan menuju kesukaran (kesengsaraan).” (Qs: al-Lail: 8-10). Firman Allah Swt: وَاللّٰهُ اَرۡكَسَهُمۡ بِمَا كَسَبُوۡا Terjemahannya: “padahal Allah telah mengembalikan mereka (kepada kekafiran), disebabkan usaha mereka sendiri” (Qs: al-Nisa’: 88). Juga firman Allah Swt: فِىۡ قُلُوۡبِهِمۡ مَّرَضٌۙ فَزَادَهُمُ اللّٰهُ مَرَضًا Terjemahannya: “Dalam hati mereka terdapat penyakit,1 lalu Allah menambah penyakitnya itu;” (Qs; al-Baqarah: 10). Dan dalil lain yang selaras yang jumlahnya sangat banyak. Kesimpulan: kemaksiatan yang dilakukan adalah bentuk sanksi atas kemaksiatan yang dilakukan sebelumnya, demikian pula dosa sebelumnya adalah bentuk sanksi atas dosa yang sebelumnya lagi, dan begitulah seterusnya hingga sampai pada dosa yang paling awal, yakni berpaling dari kebenaran setelah diketahui dan telah diingatkan. Dari semua paparan di atas ditegaskan bahwa hanya sebatas inilah jangkauan ilmu manusia tentang takdir. Lebih dari itu, maka semuanya dirahasiakan ilmunya dari kita. Maksudnya, hanya sebatas ini yang bisa dijangkau oleh ilmu manusia mengenai hidayah dan kesesatan. Lalu selebihnya disikapi dengan diam dan menyerahkan ilmunya kepada Allah Swt, dzat yang maha mengetahui segala sesuatu. Berarti ada batas bergaris merah yang haram dilampaui. Hindarilah menyelami tema ini lebih dari batas jangkauan kita. Sebab, syetan akan menyimpangkan kita melalui beberapa pertanyaan, beberapa persoalan atau semacamnya. Semua itu tidak patut dan tidak tepat. Maka potong keserakahan nafsumu, karena mustahil mengetahui apa yang telah berlalu. Untuk mengetahui ulasan tambahan silahkan baca: Kitab Syifa’u al-Alil fi Masaili al-Qadha’ wa al-Qadar, wa al-hikmah wa al-ta’lil. Kitab ini semua bahasannya tentang takdir. Namun bagi yang ingin ulasan ringkasnya silahkan merujuk ke (1/267-271) cetakan Dar alamu al-Fawaid. Terjemahan Kitab Akidahhidayahilmuislamkesesatantauhid