PASAL X – HIKMAH ALLAH SWT YANG MULIA Supriyadi Yusuf Boni, 17 Juli 2025 Sumber: Kitab Maraqy al-Wa’yi (Penanaman Kesadaran) Penulis: Prof. Dr. Shaleh bin Abdul Aziz Utsman Sindi Penerjemah: Supriyadi Yousef Boni Editor: Idrus Abidin Hikmah adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya yang tepat agar tujuan mulia dapat terwujud. Hikmah merupakan salah satu diantara beberapa banyak sifat-sifat Allah Swt yang melekata pada diriNya dan selaras dengan dzatNya serta berbeda dengan hikmah pada seluruh makhluk. Salah satu nama Allah Swt adalah al-Hakim, disebutkan dalam Al-Qur’an sebanyak sekitar 70 kali, dimana maknanya adalah dzat yang memiliki kemahabijaksanaan (hikmah). Dalil-dalil yang menunjukkan hikmah Allah Swt sangat banyak. Ibnu al-Qayyim al-Jauziyah menyebutkan sebanyak 20 bentuk dalil dalam kitabnya “Syifa’u al-Alil”. Pada setiap jenis tercantum beberapa dalil syariat yang disebutkan. Bahkan beliau menyatakan, siapa yang mengamati tempat-tempat objek hikmah Allah Swt pada penciptaan dan agaman ini maka akan menemukan lebih dari 10.000 tempat. Semuanya menunjukkan kalau hikmah Allah Swt benar adanya dan terwujud di semua takdirNya, ketetapan hukumNya dan penciptaanNya. Allah Swt adalah dzat yang paling bijaksana, terluas ilmuNya sebagaimana Allah Swt juga paling tinggi kasih sayangNya. Allah Swt memiliki kebijaksanaan tak tertandingi dan kemulian tak terbandingi. Kebijaksanaan Allah memenuhi alam ini dan menakjubkan akal, sampai-sampai lebih terang ketimbang cahaya matahari. Semua ciptaan dan ajaranNya penanda kebijaksanaanNya yang tak tertandingi, kenikmatan mulia dan bukti nyata, juga menunjukkan bahwa Allah Swt sangat jauh dari tindakan zalim, gurauan dan kesia-siaan. Firman Allah Swt: اِنَّ رَبِّىۡ عَلٰى صِرَاطٍ مُّسۡتَقِيۡمٍ Terjemahannya: “Sungguh, Tuhanku di jalan yang lurus (adil).” (Qs; Huud: 56) Semua perbuatanNya, takdirNya, ketetapanNya terdapat tujuan mulia dan hasil menyenangkan. Untuk mewujudkan itu, Allah Swt turunkan kitab-kitabNya, mengutus para rasulNya, menetapkan syariatNya, ciptakan syurga dan neraka, lalu menyiapkan pahala dan siksa. Orang yang dimudahkan memahami al-Qur’an akan menemukan dari awal hingga akhirnya bahwa al-Qur’an menunjukkan akal berkesimpulan bahwa semua yang disebutkan di atas sumbernya dari kemahamuliaan dan kemahabijaksanaan Allah Swt. Oleh sebab itu, Allah Swt selalu menyandingkan nama al-Aziz dan al-Hakim dalam banyak ayatNya, baik dalam proses penetapan syariat, penciptaan dan pembalasan. Tujuannya, agar semua hamba menyadari dan meyakini kalau semua itu bersumber dari puncak hikmah dan izzah Allah Swt. Semua yang mata hatinya bersih dan logikannya sehat pasti meyakini itu sebagaimana yang dia tahu dan dia ketahui. Lalu menjadikan semua yang dia saksikan sebagai dalil untuk semua yang tidak dia ketahui. Karena, segala sesuatu adalah ciptaan dzat maha bijaksana (al-Hakim) dan maha Tahu (al-Alim). Cukup jadi bukti tentang hikmah, segala yang diketahui seseorang dalam penciptaan dirinya sendiri, anggota tubuhnya, sifatnya, bentuknya, kontribusinya, sungguh mengandung hikmah yang sangat sempurna. Coba perhatikan satu jari diantara jemari anda, bagaimana mengumpulkan kulit, daging, darah, kuku, saraf, persendian, sidik jari dan banyak hal lain sungguh menakjubkan. Semuanya dikumpulkan dan menyatu di anggota tubuh yang kecil mungil. Lantas bagaimana lagi dengan alam raya yang besar ini, minimal antara dataran rendah menyatu dengan dataran tingginya. Perhatikan semua ciptaan Allah Swt dengan seksama, maka engkau dapati dia ibarat sebuah lembaga yang tertata sangat rapi, dan sarat hikmah di semuah sisinya, seolah menyeru: ini semua ciptaan Allah Swt dzat yang maha mulia dan maha bijaksana, ketetapan dzat pencipta yang maha tahu. Di mana semua ciptaanNya sangat indah dan sempurna tiada sedikitpun kekurangan pada ciptaanNya. Saya berisitighfar karena terpaksa mengulas tema berat ini yang sulit dipaparkan secara sempurna dan menyeluruh. Semua gambaran hikmah yang mampu dipaparkan para penulis hanya seperti seseorang yang memasukkan jarinya ke dalam air laut lalu menariknya kembali. Lalu dia gambarkan laut tersebut sebatas jarinya yang basah. Lantas apakah itu sudah cukup menggambarkan laut? Mungkin saja ada pendengar yang sudah menganggap gambaran dimaksud, itulah laut. Padahal yang dia dengar hanya sebatas jari orang itu yang basah dengan air laut. Sungguh persoalan hikmah Allah Swt jauh lebih hebat dari itu semua. HIKMAH KADANG TAMPAK DAN KADANG PULA TIDAK Keberadaan hikmah tidak mengharuskan dia tampak terlihat jelas di setiap tempat dan pada setiap orang. Sebab, hikmah Allah mustahil bisa dijangkau seluruhnya oleh akal fikiran manusia. Artinya: bahwa Allah Swt tidak menciptakan sesuatu dan tidak tetapkan sebuah hukum melainkan ada hikmah di baliknya yang hendak diwujudkan. Namun hikmah itu terbagi menjadi tampak terlihat atau tersembunyi, kadang terlihat jelas dan kadang pula tidak terlihat, ada yang dapat mengetahuinya dan pula yang tidak dapat menjangkaunya, bahkan bisa saja ada hikmah yang tidak diketahui semua manusia. Yang mengtahui satu-satunya adalah Allah Swt: firman Allah Swt: قَالَ اِنِّىۡٓ اَعۡلَمُ مَا لَا تَعۡلَمُوۡنَ Terjemahannya: “Dia berfirman, “Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui.”” (Qs; al-Baqarah: 30). Tiada seorang pun yang sanggup dan diberi kesempatana mengetahui semua hikmah Allah Swt. Orang yang menyanggah ketentuan ini maka tanpa sengaja dia telah menyamakan makhluk dengan Allah Swt terutama dalam hal kesanggupan menjangkau kemaslahatan dan detail-detail hikmah. Lantas, bagaimana mungkin seorang makhluk yang tercipta dari tanah akan disamakan dengan sang khalik. Atau apakah pantas disamakan antara pelaku zalim yang jahil dengan dzat yang maha tahu? Orang-orang yang diberi hidayah tahu dan merasa cukup dengan apa yang dijangkau akal mereka, lalu mengembalikan semua persoalan yang mereka tidak tahu kepada Allah Swt. Mereka yakin semua yang diciptakan, ditetapkan, diberi ganjaran pahala, diberi sanksi mengandung hikmah yang belum dijangkau akal mereka. Allah Swt maha kaya dan maha terpuji, maha mengetahui dan maha bijaksana. Dan Allah Swt tidak ditanya apa yang diperbuat berkat kesempurnaan hikmahNya dan ilmuNya. Sedang para hambalah kelak yang akan ditanya. Mencari hikmah dibalik segala sesuatu, apakah dia termasuk jalan yang baik? Tidak disangkal bahwa menelusuri hikmah di balik segala sesuatu bukan jalan terbaik. Sebuah kesalahan terbesar jika seseorang merasa sanggup menguasai semua hikmah Allah Swt yang terkandung dalam semua ciptaanNya. Malah jalan seperti ini paling banyak menyesatkan manusia. Berapa banyak orang yang meniti jalan itu lalu ujungnya menyimpang dan sesat, bahkan terjatuh dalam kekufuran. Patut direnungi pernyataan Ibnu Taimiyah bahwa: Pangkal utama kesesatan manusia di semua sekte Menelusuri alasan pada semua perbuatan ilah Mereka pasti tidak faham hikmah Allah di dalamnya Mereka akhirnya kembali ke Jahiliyah. Orang yang meniti jalan ini seperti mencari sesuatu di atas batas kesanggupannya. Andai dikatakan kepada seseorang: hitunglah semua biji pasir atau jumlah ikan di laut atau jumlah bintang di langit, maka pasti dia akan menyerah. Sebab, kesanggupannya tidak mempu melakukannya. Kelemahannya di sini terletak pada pribadi orang yang diminta menghitung. Bukan karena biji pasir atau ikan atau bintang tidak terbilang. Hikmah Allah Swt itu pasti ada tanpa diragukan lagi. Namun akal fikiran tidak mampu mengetahui semua hikmah itu. Bahkan manusia tidak sanggup mengetahui hikmah di balik semua perbuatan orang semisalnya. Sebuah adigium yang terkenal menyatakan: seseorang yang berilmu jika memiliki keistimewaan dari yang semisalnya maka pasti banyak yang dia tidak tahu. Layak kita melirik kembali kisah antara Musa dan al-Khidir, betapa Musa – yang derajatnya lebih tinggi dan dianggap paling berilmu – ternyata tidak tahu sebagian hikmah di balik apa yang dilakukan al-Khidir sebagiaman dikisahkan Allah Swt dalam surah al-Kahfi dan dalam kitab Shahihain (al-Bukhari, no. 12 dan Muslim no. 2380) bahwa al-Khidir berkata keapda Musa: Wahai Musa Saya tahu sebagian ilmu Allah yang dia ajarkan kepadaku di mana engkau tidak mengetahuinya. Sebagaimana engkau tahu ilmu Allah yang diajarkan kepadamu di mana saya tidak mengetahuinya.” Perbedaan pengetahuan inilah yang mengakibatkan sebagian hikmah tersembunyi. Jika realitas ini terjadi antara sesama hamba, bahkan antara hamba yang tinggi derajatnya dengan hamba biasa, lantas bagaimana lagi antara hamba yang jahil dengan sang khalik yang maha tahu dan maha bijaksana. Sungguh indah pernyataan seseorang yang berkata: Perbedaan sesungguhnya hanya dipengaruhi oleh perbedaan Keilmuan, antara yang sempurna dengan yang kurang Maka sudah semestinya jika al-Ilahu Berbeda sepenuhnya dengan manusia Seandainya kita tidak jahil terhadap rahasia tentangnya Maka kita akan sampai bersama pada yang diinginkan. Patut juga memperhatikan kehidupan binatang dan hewan ternak di mana mereka saling memahami namun tidak mengetahui sikap arif orang-orang bijak, karya kaum cerdas dan pengetahuan kaum terpelajar. Demikian pula orang-orang bijak, mereka tidak mengetahui semua hikmah Allah Swt. Sebagai pendekatan saya gambarkan; andai ada seorang hamba yang mengetahui setengah saja dari hikmah Allah Swt, maka dipastikan setengah hikmah Allah Swt yang lain tidak diketahui. Lantas bagaimana mungkin diketahui semuanya padahal Allah Swt berfirman: وَمَاۤ اُوۡتِيۡتُمۡ مِّنَ الۡعِلۡمِ اِلَّا قَلِيۡلًا Terjemahannya: “sedangkan kamu diberi pengetahuan hanya sedikit.”” (Qs: al-Isra’: 85). Dalam kitab Shahihain (Bukhari, no. 4725 dan Muslim, no. 2380) disebutkan dari Nabi Saw ketika mengisahkan cerita Musa dan al-Khidir bersabda; “Lalu ada burung terbang dan hinggap di bibir perahu lalu mencebur diri di laut, lalu al-Khidir berkata: ilmumu dan ilmuku jika dibandingkan dengan ilmu Allah Swt tidak lebih dari sekedar jumlah air laut yang melekat pada burung itu.” Sungguh indah ungkapan sebagian orang bahwa perbandingan ilmu kita dengan ilmu Allah Swt seperti sesuatu yang tiada dibanding dengan sesuatu yang tiada batasnya. Jadi, semestinya setiap muslim cerdas memperhatikan semua ini, karena urgensinya. Dan mesti dikuasai dengan baik. Sebab, seseorang bisa tersesat akibat berburuk sangka kepada Allah Swt, dan ada pula yang dijerumuskan oleh lisannya dalam jurang akibat mengecam ketetapan Allah Swt. Sebagian orang juga terpengaruh oleh syubhat modern terutama yang dihembuskan oleh kaum atheis tak beragama. Seruan sesat mereka banyak bertemakan hikmah Allah Swt dan tema turunannya, apalagi persoalan keburukan yang telah dipaparkan pada bab sebelumnya. Oleh karena itu, guntinglah keinginanmu beburu untuk mengetahui hikmah Allah Swt di setiap ketetapan hukumNya, baik yang qadariyah maupun yang syar’iyah, dan yakinilah bahwa Allah Swt memiliki hikmah yang sangat mulia. Jika engkau percaya pada cinta seseorang pada dirimu dan tulusnya hatinya untukmu maka pasti engkau selalu menerima dan memaklumi apapun yang dia lakukan sekalipun engkau tidak tahu alasan dan hikmah di balik itu secara spesifik. Artinya; jika engkau percaya akal fikiran ayahmu, cintanya padamu dan sucinya hatinya untukmu maka kala engkau melihat tindakannya yang aneh, engkau tak akan bertanya kenapa engkau lakukan itu wahai ayahku? Malahan engkau akan serahkan semuanya pada keyakinanmu pada akalnya yang sehat dan berapologi bahwa pasti ayahku punya alasan dan hikmah dibalik tindakannya itu. Dan kalau pun sedang menjaga jarak denganku maka saya yakini itu karena rasa cintanya kepadaku, dan dia tidak ingin mencelakaiku, walau saya tidak tahu sebab di balik sikapnya itu. Kesimpulannya: Allah Swt pasti memiliki hikmah yang mulia. Persoalan hikmah itu tampak atau tidak, itu tidak penting. Sebab takdirNya ada yang tampak dan ada yang tidak tampak. Ada kaedah penting yang perlu dicamkan dengan baik, bahwa dua kata yang dilarang keras dan di dua bab terpisah, yakni: “bagaimana” pada bab ghaib dan “kenapa” pada bab takdir. Untuk apa dan mengapa merupakan dua kata tanya, jika disebutkan mempertanyakan perbuatan Allah Swt, ketetapannya yang qadariyah maka besar kemungkinan akan terjatuh dalam kehancuran, seperti berkata: kenapa Allah Swt melakukan ini? kenapa Allah Swt melapangkan rezeki orang ini sedang yang itu tidak? Kenapa orang ini diberi hidayah oleh Allah Swt dan yang itu tidak? Hati-hati dengan pertanyaan seperti ini karena bisa menjerumuskan pada jurang kesesatan. Yakin dan percayalah bahwa Allah Swt pasti punya hikmah di balik semua ini dan ketetapanNya menyembunyikan hikmah itu juga mengandung hikmah tersendiri. HUKUM MENOLAK HUKUM SYARIAT ATAU TAKDIR KARENA TIDAK TAHU HIKMAH. Ada dua kesalahan besar yang dilakukan sebagian orang: Pertama, Menelusuri hikmah di semua ketetapan Allah Swt. Kedua: Menggantungkan ketaatan dengan pengetahuan tentang hikmah hingga berucap: saya akan taat selama saya tahu hikmah di balik ketaatan itu. Mungkin ada yang tidak sampai seberani itu dalam bersikap, namun dia terlihat bermalas-malasan menjalani ketaatan dan dihinggapi keraguan. Karena dia merasa tidak tahu hikmah di balik sebuah perintah ketaatan. Tentu ini berbahaya. Perlu disadari bahwa landasan ubudiyah (penghambaan) adalah iman dan penyerahan diri sepenuhnya. Dan diantara konsekuensi penyerahan diri adalah tidak menghabiskan waktu untuk menelusuri hikmah di balik setiap perintah atau larangan serta catatan takdir. Apabila sebuah hikmah disebutkan syariat dan dapat dicerna oleh logika maka dapat menguatkan keyakinan dan ilmu. Namun jika tidak tampak, maka semestinya tersebunyinya hikmah tidak menghalangi seseorang tunduk dan patuh kepada Allah Swt, dan tidak punya alasan yang menghalanginya untuk beramal. Ketika anda tahu hikmah di balik haramnya minum khamar, lalu engkau tidak tahu hikmah di balik shalat maghrib yang tiga raka’at maka sikapmu wajib menerima kedua ketetapan hukum Allah Swt tersebut dan menjalankannya dengan baik. Para ulama menyatakan: tidak akan murni keberagamaan seseorang sebelum dia betul-betul berserah diri kepada Allah Swt dan kepada RasulNya, mengembalikan ilmu segala sesuatu yang tidak di ketahuinya kepada Allah Swt. Tidak pula kokoh keislaman seseorang kecual mesti berpijak pada penerimaan dan penyerahaan diri sepenuhnya. Siapa yang mencoba menelusuri ilmu yang dilarang diketahui dan tidak sudi menundukkan pemahamannya, maka obsesinya itu menghalanginya dari kemurnian tauhid, kejernihan pengetahuan dan iman yang shahih. Dia akan terus bimbang antara kekufuran dan keimanan. Oleh sebab itu, Allah Swt tidak mengisahkan cerita suatu ummat yang membenarkan nabinya dan mengimani syariat yang dia bawa bahwa mereka menanyakan detail hikmah di balik perintah dan larangan yang diterima dari Allah Swt. Sebaliknya, mereka tunduk dan patuh serta menerima sepenuhnya, sama saja apakah mereka tahu hikmah di baliknya dan yang tidak diketahuinya tidak menghalanginya tunduk dan patuh serta berserah diri sepenuhnya kepadanya. Mereka juga tidak sibuk mencari hikmah sebab nabi mereka sudah mulia dan agung dalam hati mereka, sekali-kali mereka tidak bertanya: kenapa Allah Swt perintahkan ini? namun mereka hanya bertanya: apa yang diperintahkan oleh Allah Swt? Jadi, yang mereka tanyakan adalah apa yang diperintahkan, apa yang diridhainya untuk mereka jalankan. Sementara orang yang mempertanyakan hikmah Allah Swt termasuk lemah iman dan lemah akal sehat. Coba perhatikan seorang inventor perangkat teknologi paling cerdas, dia sangat presisi merangkai perangkai temuannya beserta alasan dibuat begitu, lalu tetiba datang seseorang yang bodoh yang tidak punya keterkaitan langsung dengan sang inventor lantas menyanggah temuan sang inventor seraya berucap: andai perangkat ini dibuat besar dan yang ini dikecilkan, atau andai alat ini ditempatkan di sini dan yang itu diletakkan di sana.[1] Ibarat seseorang jahil tidak tahu apa-apa datang menantang Sibawaih untuk adu ilmu nahwu, atau menantang al-Khalil bertanding ilmu syair, atau menantang al-Khawarizmi tanding ilmu Jabar, atau menantang Newton tanding ilmu Gravitasi bumi, atau menantang Rouzford tanding ilmu fisika atom, atau informasi satelit NASA tentang pergerakan ruang angkasa. Tindakan seperti itu pasti dtertawakan oleh orang sehat akal dan orang jahil itu pasti dianggap idiot. Dan perlu dicatat, bahwa orang jahil tersebut masih berkesempatan untuk belajar dan mendalami ilmu yang dikuasai ulama dan ilmuwan yang dia tantang, dan bisa saja lebih pakar di masa mendatang. Jika penentangannya terhadap ulama dan ilmuwan saat itu masih ditolak dan ditertawakan oleh orang berakal sehat, lantas bagaimana lagi kalau orang jahil itu menentang dan menantang dzat yang tiada serikat dalam hikmahNya, tiada serupa dalam ilmuNya? Bahkan, semua Imu yang dimiliki makhluk sejak awal manusia hingga manusia terakhir, bila dibandingkan dengan ilmu Allah Swt hanya seperti setitik air di tengah lautan luas. Tidakkah mereka malu kala menolak penentangan orang jahil terhadap pendapat ulama atau ilmuwan lalu dia sendiri menentang hikmah Allah Swt, dzat yang maha bijaksana dan maha mengetahui. Sungguh aneh, orang yang menentang dengan mengandalkan fikirannya, padahal akalnya sendiri adalah ciptaan dan pemberian dari dzat yang dia tentang? Andai dia tidak mau mengangungkan Allah Swt, maka minimal punya rasa malu keapda Allah Swt. Sungguh benar firman Allah Swt: اِنَّهٗ كَانَ ظَلُوۡمًا جَهُوۡلًا ۙ Terjemahannya: “Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat bodoh,” (Qs: al-Ahzab: 72). PANDUAN SINGKAT MEMAHAMI HIKMAH Penulis memandang penting menuliskan beberapa panduan tepat bagaimana berinteraksi dengan tema hikmah Allah Swt pada ciptaanNya dan pada agamaNya. Berikut ini dipaparkan lima belas panduan, sebagiannya telah disinggung pada ulasan sebelumnya; yakni; Pertama, keberadaan hikmah secara umum cukup mewakili detail turunannya. Jawaban generalis bagi seorang muslim cukup mewakili jawaban detail spesifik. Para malaikat juga tidak mengetahui hikmah secara detail di balik kenapa manusia diposisikan sebagai khalifah di bumi. Padahal mereka pernah bertanya kepada Allah Swt. Firman Allah Swt: قَالُوۡٓا اَتَجۡعَلُ فِيۡهَا مَنۡ يُّفۡسِدُ فِيۡهَا وَيَسۡفِكُ الدِّمَآءَۚ وَنَحۡنُ نُسَبِّحُ بِحَمۡدِكَ وَنُقَدِّسُ لَـكَ Terjemahannya: “Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?”” (Qs: al-Baqarah: 30) Allah Swt tidak menjelaskan secara detail hikmah di balik itu, melainkan Allah Swt menjawab secara general dalam firmannya: قَالَ اِنِّىۡٓ اَعۡلَمُ مَا لَا تَعۡلَمُوۡنَ Terjemanhannya: “Dia berfirman, “Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui.”” (Qs: al-Baqarah: 30). Jika jawaban tersebut dianggap cukup oleh para malaikat, maka demikian pula seharusnya bagi seorang mukmin. Dengan demikian, mesti diyakini bahwa semua yang samar diolah oleh akal fikiran terkait perbuatan Allah Swt dan ketetapanNya tidak pernah nir manfaat, nir hikmah dan apalagi nir tujuan mulia. Itu dapat diketahui dari firman Allah Swt: قَالَ اِنِّىۡٓ اَعۡلَمُ مَا لَا تَعۡلَمُوۡنَ Terjemanhannya: “Dia berfirman, “Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui.”” (Qs: al-Baqarah: 30). Andai tidak ada hikmah di balik ketetapan Allah Swt menajdikan manusia sebagai khalifah, pasti para malaikat tidak menanyakan itu, dan andai jawaban generalis dianggap cukup bagi kaum mukminun, maka tidak akan dijawab dengan tegas bahwa ilmu Allah Swt sangat luas. Jadi, ikutilah jawaban generalis seperti dalam firman Allah Swt: وَاللّٰهُ يَعۡلَمُ وَاَنۡـتُمۡ لَا تَعۡلَمُوۡنَ Terjemahannya: “Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Qs: al-Baqarah: 216). Kedua, Kurang Ilmu Tidak Layak Menentang Jika manusia tidak sanggup menjangkau semua hikmah di balik sebagain perbuatannya, atau bahkan di bahagian terkecil dari perbuatannya, maka Allah Swt tetap memiliki hujjah kuat, hikmah mulia dan agung serta kesempurnaan yang mutlak. Kelemahan ilmu seorang hamba yang zalim dan jahil terutama untuk mengetahui bentuk-bentuk hikmah secara spesifik sejatinya tidak membuatnya menentang bukti-bukti nyata yang menunjukkan keberadaan hikmah dzat maha bijaksana dan maha penyayang. Semua hati yang disirami iman maka jawaban generalis sudah cukup baginya. Setiap orang yang berani menentang Allah Swt pada ketetapan hukumNya dan takdirNya maka penentangannya dipastikan tidak berbasis ilmu, namun sejatinya dia hanya ingin mempertontonkan kebodohan dan kejahilannya. Ketiga, Allah Swt Maha Adil, Mustahil Berlaku Zalim Dalil naqli dan dalil aqli banyak sekali menunjukkan Allah Swt tidak Zalim, berikut salah satunya: Allah Swt sang penguasa yang maha perkasa mustahil takut kepada siapapun. Dan andai Allah Swt mau, maka bisa saja dia menciptakan manusia di neraka sejak awal, dan tidak perlu menurunkan merkea ke bumi, membebankan syariat, menurunkan kitab suci, mengutus para rasul, menghidupkan kembali, melakukan pencatatan amal hingga menimbang amal manusia. Ketika Allah Swt tidak melakukan itu, maka kita sadar bahwa Allah Swt sangat adil dan sedikitpun tidak zalim. Tentu logika ini sangat tepat bagi orang berakal sehat. Maka yakinilah bahwa Allah Swt maha adil dan tidak zalim lalu tenanglah menjalani hidup. Keempat, Kroscek Pradugamu Pernyataan sebagian orang lemah kemampuan mengetahui hikmah Allah Swt di balik sebagian perbuatannya bahwa tidak ada hikmah di balik itu semua, bahwa menudingnya sebagai murni keburukan, seperti ibu bayi yang memandang bahwa hijamah (pengobatan dengan mengeluarkan dara dari tubuh) adalah murni keburukan, sehingga dia menjauh dan tidak dihijamah. Atau seperti orang idiot yang memandang pidana mati qishah adalah murni kejahatan, sebab hanya melihat hak korban terbunuh. Dia tidak tahu kebaikan umum yang dinikmati manusia secara keseluruhan. Dia tidak tahu kalau menggunakan keburukan untuk mewujudkan kemaslahatan umum adalah murni kebaikan, prinsip ini wajib diketahui dan diperpegangi oleh hakim. Olehnya, silah ragukan pradugamu sendiri. Kelima, bedakan Antara persoalan yang belum dijangkau akal dengan persoalan yang mustahil dijangkau akal. Maksudnya antara persoalan yang dipastikan keberadaannya oleh akal dengan persoalan yang diketahui akal ketiadaannya. Antara kebimbangan akal dengan kemustahilan logika. Pasalnya, para rasul sering mengabarkan informasi yang sulit dijangkau akal namun tidak mengabarkan hal yang mustahil dijangkau akal, yakni yang dipastikan mustahil keberadaannya oleh akal fikiran manusia. Persoalan seperti ini tidak mungkin ditemukan dalam syariat Islam. Keenam, Amati dengan Motif agar Mendapatkan Hidayah, Bukan Untuk Menyanggah Tiada yang mampu menyelami sebagian kecil hikmah yang terkandung dalam syariat kecuali oleh mereka yang dibukakan hatinya oleh Allah Swt karena tulus dalam mengamatinya dan jauh dari semangat penentangan. Mari amati ayat-ayat Allah Swt dengan motif berharap hidayah bukan untuk menentangnya. Siapa saja yang mempelajari syariat dengan maksud menentang maka pasti tidak akan dibuka pintu ma’rifah untuknya. Firman Allah Swt: اِنَّ الَّذِيۡنَ لَا يُؤۡمِنُوۡنَ بِاٰيٰتِ اللّٰهِۙ لَا يَهۡدِيۡهِمُ اللّٰهُ Terjemahannya: “Sesungguhnya orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah (Alquran), Allah tidak akan memberi petunjuk kepada mereka” (Qs: al-Nahl: 104). Berbeda dengan orang yang mempelajarinya untuk mendapatkan petunjuk maka pasti dibukakan pintu ma’rifah dan kemudahan, serta dikaruniai kemampuan mengetahui banyak hikmah syariat yang tidak diketahui oleh banyak orang. Maka prinsipnya: berimanlah maka engkau diberi petunjuk. Ketujuh, Ingat Kemahasepurnaan Allah Swt dan Kelemahan Makhluk. Hendaknya setiap individu sadar akan realitas dirinya sendiri berupa; kebodohannya, ilmunya yang sedikit, kebimbangannya dalam banyak hal, kebingungan menimpanya pada persoalan-persoalan sepele, kekeliruan yang sering berulang, kesadarannya setelah diterpa keputusasaan dan semisalnya. Sebab, kesadaran seseorang akan realitas dirinya sangat penting sekaligus menjadi bukti kelemahannya. Firman Allah Swt: بَلِ الۡاِنۡسَانُ عَلٰى نَفۡسِهٖ بَصِيۡرَةٌ Terjemahannya: “Bahkan manusia menjadi saksi atas dirinya sendiri,” (Qs: al-Qiyamah: 14). Allah Swt menyifati manusia dengan sebutan sangat zalim dan saangt bodoh. Sebagaimana setiap individu juga menyadari betapa besarnya perbedaan antara orang yang idiot dengan orang cerdas, termasuk dalam hal pengetahuan tentang hakikat sesuatu, dampak dari sesuatu. Lantas bagaimana lagi perbedaan antara sang khalik dengan makhlukNya, pasti sangat-sangat jauh. Kedelapan, Jadikan Pengetahuanmu Bukti akan Ketidaktahuanmu. Diantara ciri akal sehat adalah menjadikan semua yang diketahui tentang hikmah sebagai bukti kalau banyak hikmah yang tidak dia ketahui, lalu meyakini bahwa semua ciptaan Allah Swt mengandung banyak hikmah. Seorang pemimpin diantara kaum muslimin, jika telah dipercaya sikap bijaknya dan upayanya mewujudkan kemaslahatan bawahannya, maka keduanya sudah dianggap cukup dan tidak perlu diperiksa hikmah di setiap perilaku yang dilakukannya. Lantas bagaimana lagi dengan Allah Swt yang merupakan dzat maha tahu dan maha bijaksana. Jadi, keberadaan hikmah ilahiyah yang bersifat general sudah dianggap cukup dan tidak perlu mencari detail-detail hikmah di balik setiap perbautan. Kesembilan, Mengetahui Detail Hikmah Merupakan Sesuatu yang Berada di Luar Kesanggupan Manusia Olehnya, jika seseorang berkata; kenapa Allah Swt tidak mengabarkan setiap hambaNya alasan setiap perbuatanNya, memahamkan mereka setiap ketetapanNya dan mengajarkan hikmahNya di setiap syariatNya, baik yang skalanya kecil maupun yang besar? Jawabannya; bahwa apakah hal ini dilakukan antara individu yang satu dengan individu lainnya? Atau antara ayah dengan anaknya? Atau antara teman dengan sahabatnya? Lalu kenapa mesti diharuskan antara al-Rab dengan hambaNya? Kemudian: apakah manusia akan sanggup memikul semuanya? Jawabannya pasti dia tak sanggup. Dan ini menunjukkan kemahaperkasaan Allah Swt sekaligus kemahakasih sayangnya kepada para hambanya. Kesimpulannya: kekuatan manusia tidak disiapkan untuk mengetahui detail hikmah Allah Swt pada setiap ciptaanNya dan dalam agamaNya. Makanya, penjelasan tentang detail hikmahNya kepadanya hanya tindakan sia-sia. Kesepuluh, Hikmah Allah kadang Terlihat dan kadang tersebunyi, Keberadaannya tidak Mengharuskaannya Tampak di Semua Keadaan dan jUga Untuk Setiap Individu. Olehnya, seorang mukmin sudah cukup mengimani hikmah yang bersifat general. Mereka tidak tertarik mencari detail-detail hikmah itu terutama yang sengaja dirahasiakan oleh Allah Swt dari mereka. Kesebelas, Dunai Ini Tempat Ujian. Diantara Bentuknya Hikmah Dirahasiakan Allah Swt. Diantara bentuk ujian yang akan membedakan anatar orang mukmin dengan lainnya adalah bagaimana menyikapi hikmah yang dirahasiakan Allah Swt yang terkandung dalam ketetapan hukumNya, baik yang qadariyah maupun yang syar’iyah. Maka jangan menyanggah kenapa dirahasiakan. Keduabelas, Otak Disiapkan Untuk menerima Namun Bukan Untuk Menentang. Sikap paling mudah bagi setiap individu adalah menerima semua hikmah dari Allah Swt dan menjalankan perintahNya. Manusia tidak dibekali kekuatan untuk menentang ketetapan Allah Swt. Karena untuk menentang diperlukan ilmu yang setara dengan ilmu Allah Swt. Dan itu mustahil terjadi. Tugas manusia berarti hanya tunduk dan taat kepada Allah Swt, bukan melawan hikmah Allah Swt atau menentang ketetapan hukum Allah Swt. Sungguh berat kecelakaan menimpa seorang hamba yang berani menentang hukum Allah dan takdirNya hanya karena hikmah di baliknya tersembunyi baginya. Ketigabelas, Menelusuri Detail Hikmah adalah Jalan Kesesatan, dan Menggantungkan Iman pada Hikmah Adalah Bahaya Besar. Seseorang yang membebani dirinya dengan sesuatu di luar batas kesanggupannya akan menghancurkan dirinya sendiri, seperti seseorang yang terus memelototi sinar matahari, matanya akan buta selain tidak mendatangkan manfaat baginya. Lebih berbahaya lagi jika sesuatu itu di luar kesanggupan akalnya, dia akan sesat, dan fikirannya jadi gila. Ada banyak cerita orang menjadi gila karena membebani akalnya dengan sesuatu di laur kesanggupannya. Keempatbelas, Mengetahui Detail Sebagian Hikmah adalah Nikmat Sebagaimana Tidak Mengetahuinya Juga Nikmat. Disebutkan sebelumnya bahwa pada setiap ketetapan Allah Swt baik yang qadary maupun yang syar’i mengandung banyak hikmah yang hendak diwujudkan Allah Swt, hikmah tersebut diketahui sebagian orang dan sebagian orang lainnya tidak mengetahuinya. Jika hikmah tersebut diketahui oleh seseorang maka dia wajib bersyukur kepada Allah Swt, menguatkan keyakinannya terhadap hikmah Allah Swt, keagungan agama Allah Swt dan ketetapan Allah Swt. Jika tidak ditampakkan kepadanya maka dia juga wajib menguatkan imannya kepada Allah Swt dengan cara berserah diri sepenuhnya kepadaNya dan menerima semua yang tidak dijangkau akalnya karena semuanya berasal dari Allah Swt. Prinsipnya: Ketidakmampuan mengetahui suatu pengetahuan adalah termasuk pengetahuan juga. Jadi, ketidaktahuan terhadap suatu hikmah merupakan nikmat yang besar. Betapa banyak orang yang tidak tahu hikmah namun dikaruniai iman, kekuatan keyakinan, siraman hidayah. Siapa yang mengalaminya pasti mengetahui hakikatnya. Kelimabelas, Siapa Yang Tidak Sanggup Mengetahui Hikmah Setiap Sikap Seorang Hamba, Maka Mengetahui Hikmah Allah Pasti Lebih Tidak Sanggup lagi. Makanya setiap individu hendaknya bersikap tawadhu dan menanggalkan keangkuhan. Untuk mengetahui ulasan tambahan silahkan baca; Bab Kedua Puluh dalam Kitab Syifa’u al-Alil karya Ibnu al-Qayyim (2/115-156) cetakan Daru Alami al-Fawaid tentang Hikmah Allah Swt terutama mengenai dalil dan bukti Hikmah Allah Swt. [1] Permisalan ini dimaksudkan untuk mudah memahaminya; andai ada seseorang yang tidak tahu menahu sama sekali tentang ilmu penerbangan lalu setelah masuk ke cockpit atau flight deck, dia memandangi tombol-tombolnya, kunci-kuncinya dan perangkat lainnya kemudian terjadi diskusi dengan pilot berikut: Orang bodoh (jahil): ini tombol, ini kunci dan itu penanda. Ini semua tidak berguna dan tidak perlu digunakan. Pilot: apakah engkau ahli ilmu penerbangan Jahil: bukan Pilot: ucapanmu tiada guna, karena kamu jahil. Dan orang jahil dilarang ngoceh. Jahil: saya punya alasan, karena saya tidak tahu apa hikmah di balik keberadaannya dan tidak tahu kenapa ditaruh di sini. Pilot: alasanmu itu tidak receh, karena ketidaktahuanmu terhadap hikmahnya tidak berarti hikmah tersebut tiada. Dan kejahilanmu itu menggugurkan hakmu untuk berkomentar. Jahil: andai betul ada hikmahnya maka semestinya saya tahu, maka jelaskan padaku apa fungsi kunci itu dan kenapa ditaruh di sini dan bagaimana digunakan? Pilot: menjelaskan kenapa perangkat yang engkau komentari ditaruh di sini terlalu berat bagimu, dan agar engkau tahu mesti didahului oleh pelatihan dan percobaan, sedang engkau tidak layak untuk itu. Cukup saya jelaskan kepadamu secara umum yang selaras dengan kemampuanmu yang teramat terbatas. Namun perlu engkau lakukan tiga hal: jangan engkau bantah sesuatu yang tidak engkau ketahui, engkau percaya padaku dan apa yang aku lakukan, karena saya tahu semua perangkat ini, saya juga dididik untuk menerbangkan pesawat, dan saya hanya ingin engkau dan penumpang lainnya selamat. Lalu engkau taati kewajibanmu sebagai penumpang dan tidak perlu engkau menelusuri hikmah di baliknya yang bukan kewenanganmu. Sekali lagi engkau cukup ikuti instruksiku agar engkau selamat. Pertanyaannya, siapa dianatar dua orang ini yang layak diterima ucapannya? Pelajaran dari permisalan di atas adalah: apabila logika tidak terima sanggahan orang bodoh, lantas bagaimana lagi jika sanggahan tersebut menyasar hikmah Allah Swt yang maha mengetahui dan maha presisi ketetapanNya.? Terjemahan Kitab Akidahhikmahislamtauhid