Skip to content
AKIDAH.NET
AKIDAH.NET
AKIDAH.NET
AKIDAH.NET

ASAL USUL PERKATAAN YANG MENYATAKAN AL-QUR’AN ADALAH MAKHLUK

Muhammad Atim, 12 Agustus 2026

Sumber: Kitab Ma’ârij al-QabûlBisyarhi Sullami al-Wushul Ila Ilmi al-Ushul Fii at-Tauhid

Penulis:  Syeikh Hafidz bin Ahmad al-Hakami

Penerjemah: Muhammad Atim

Editor: Idrus Abidin

Awal mula tersebarnya perkataan Al-Qu’an adalah makhluk adalah pada akhir masa tabi’in ketika muncul Jahm bin Shafwan.[1] Saudara kandungnya Iblis, semoga Allah melaknat keduanya. Ia adalah seorang atheis pembangkang, zindiq, menyimpang dan mencari selain jalan orang-orang beriman. Ia tidak menetapkan bahwa di langit ada Rabb, tidak mensifati Allah ta’ala dengan sesuatu yang Allah telah mensifati diri-Nya, dan perkataannya sampai kepada menentang Sang Khaliq ﷻ. Ia meninggalkan shalat selama 40 hari, ia mengaku murtad dari agama, dan ketika didebat oleh salah seorang pengikut Samniyyah tentang tuhan yang disembahnya, ia berkata -semoga Allah memburukkannya- : “Ini adalah udara di setiap tempat”. Suatu kali ia memulai membaca surat Thaha, ketika sampai kepada ayat ini, “Arrahman ‘alal Arsyistawa” (QS. Thaha : 5), ia berkata, “Kalaulah aku menemukan cara untuk menghapusnya niscaya aku menghapusnya”. Kemudian ia membaca hingga sampai pada ayat yang lain, ia berkata, “Tidaklah Muhammad sadar ketika membacanya”. Kemudian ia memulai membaca surat Al-Qashash, ketika sampai pada penyebutan nabi Musa ﷺ, ia mengumpulkan kedua tangan dan kedua kakinya, kemudian mengangkat mushaf, kemudian berkata, “Apa apaan ini, ia menyebutkannya di sini tetapi tidak menyempurnakan penyebutannya, dan menyebutkannya di sini tetapi tidak menyempurnakannya”. Dan telah diriwayatkan darinya beragam kekufuran selain ini. Dan dia lebih rendah dan lebih hina daripada kita sibuk dengan biografinya. Dan sungguh Allah ta’ala telah memudahkan untuk menyembelihnya di tangan Salim bin Ahwaz di Asfahan, ada juga yang mengatakan di Marwa, dan dia ketika itu adalah pemimpinnya rahimahullah ta’ala dan semoga Allah membalas kebaikannya atas nama kaum muslimin.

Sungguh, ia telah menerima perkataan ini dari Ja’d bin Dirham[2]. Tetapi perkataan tersebut belum terkenal pada masa Ja’d sebagaimana terkenal dari Jahm. Karena Ja’d ketika ia menampakkan perkataan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk, Bani Umayyah mencarinya lalu ia kabur dari mereka, lalu ia tinggal di Kufah, maka bertemulah Jahm bin Shafwan dengannya di sana, maka ia pun mengikuti perkataan ini darinya, dan ia belum memiliki banyak pengikut selainnya. Kemudian Allah ta’ala memudahkan untuk membunuh Ja’d oleh tangan Khalid bin Abdillah Al-Qasri, sang amir. Ia membunuhnya pada hari Idul Adha di Kufah. Dan itu karena Khalid berkutbah di hadapan manusia lalu berkata dalam khutbahnya itu, “Wahai manusia, sembelihlah kurban kalian, semoga Allah menerima sembelihan qurban kalian. Sesungguhnya aku hendak menyembelih Ja’d bin Dirham, sesungguhnya ia mengklaim bahwa Allah tidak menjadikan Ibrahim sebagai kekasih dan tidak berbicara kepada Musa dengan sebenarnya. Allah Maha Tinggi dari apa yang dikatakan oleh Ja’d dengan ketinggian yang besar. Kemudian ia turun lalu menyembelih di bawah mimbar. Itu diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam kitabnya, Khalq Af’alil ‘Ibad[3], dan diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dalam kitab As-Sunnah, dan selain keduanya, dan dia masyhur dalam kitab-kitab tarikh. Dan itu terjadi pada tahun 124 H.

Ja’d telah mengambil kebid’ahannya ini dari Bayan bin Sam’an, Bayan mengambilnya dari Thalun, ia anak saudari (keponakan) Labid bin Al-A’sham, dan Thalun mengambil dari pamannya tersebut, Labid bin Al-A’sham seorang Yahudi yang telah menyihir Rasulullah ﷺ dan Allah telah menurunkan tentang hal itu dua surat mu’awwidzatain (memohon perlindungan).[4] Kemudian mengikuti/taqlid kepada madzhab yang hina ini dari Jahm, Bisyr bin Ghiyats bin Abi Karimah Al-Mirrisi, seorang ahli kalam,[5] syaikh dari Mu’tazilah dan salah seorang yang telah menyesatkan al-Ma’mun dan memperbaharui perkataan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk. Ada yang mengatakan, sungguh ayahnya adalah seorang Yahudi, seorang tukang celup di Kufah. Dan diriwayatkan darinya perkataan-perkataan yang sangat buruk dalam agama dari tajahhum dan yang lainnya. Ia meninggal pada tahun 218 H.

Kemudian Bisyr madzhab yang terlaknat itu diikuti oleh seorang Qadhi dalam mihnah, yaitu Ahmad bin Abi Dawud.[6] Ia mengumumkan dirinya bermadzhab Jahmiyyah dan membawa kesultanannya untuk menguji manusia dengan perkataan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk dan bahwa Allah tidak dilihat di akhirat. Disebabkan olehnyalah apa yang menimpa beberapa ahli hadits dan sunnah, mulai dari pemenjaraan, cambukan, pembunuhan dan yang lainnya. Sungguh Allah ta’ala telah mengujinya dengan penyakit struk sebelum kematiannya selama empat tahun hingga Allah ta’ala mematikannya pada tahun 240 H. Siapa yang ingin menelaah tentang hal itu dan rincian-rinciannya, silahkan baca buku-buku sejarah, maka ia akan melihat keanehannya.

Penyebutan tentang Apa yang Dikatakan oleh Para Imam Sunnah

tentang Masalah Al-Qur’an dan Hukum Jahmiyyah

Imam Sunnah, Ahmad bin Hanbal rahimahullah  berkata, “Siapa yang berkata Al-Qur’an adalah makhluk, maka ia menurut kami sudah kafir. Karena Al-Qur’an termasuk ilmu Allah dan di dalamnya terdapat nama-nama Allah.” Dan ia berkata, “Apabila seseorang berkata, “Ilmu itu adalah makhluk, maka ia kafir. Karena ia menyangka bahwa Allah tidak memiliki ilmu hingga Ia menciptakannya.” Ia rahimahullah berkata, “Siapa yang berkata Al-Qur’an adalah makhluk, maka menurut kami ia kafir, karena Al-Qur’an termasuk ilmu Allah. Allah ta’ala berfirman:

فَمَنْ حَاجَّكَ فِيهِ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ

  “Maka siapa yang mendepatmu tentangnya setelah datang kepadamu ilmu.” (QS. Ali Imran : 61).

Dan Dia berfirman:

وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 120).

Dan Dia berfirman:

وَلَئِنْ أَتَيْتَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ بِكُلِّ آيَةٍ مَا تَبِعُوا قِبْلَتَكَ وَمَا أَنْتِ بِتَابِعٍ قِبْلَتَهُمْ وَمَا بَعْضُهُمْ بِتَابِعٍ قِبْلَةَ بَعْضٍ وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ إِنَّكَ إِذًا لَمِنَ الظَّالِمِينَ

“Dan sesungguhnya jika kamu mendatangkan kepada orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al-Kitab (Taurat dan Injil), semua ayat (keterangan), mereka tidak akan mengikuti kiblatmu, dan kamupun tidak akan mengikuti kiblat mereka, dan sebahagian merekapun tidak akan mengikuti kiblat sebahagian yang lain. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti keinginan mereka setelah datang ilmu kepadamu, sesungguhnya kamu -kalau begitu- termasuk golongan orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Baqarah: 145).

Dan Dia berfirman:

أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ

“Ketahuilah, milik-Nya penciptaan dan perintah.” (QS. Al-A’raf: 54).

Dan Dia berfirman:

وَمَنْ يَكْفُرْ بِهِ مِنَ الْأَحْزَابِ

“Dan barangsiapa di antara kelompok-kelompok itu yang kafir kepada Al-Quran …” (QS. Hud: 17).

Imam Ahmad berkata, Sa’id bin Jubair berkata, “Dan ahzab (sekutu) adalah kelompok-kelompok seluruhnya.” “Maka neraka adalah tempat kembalinya”.

Dan Dia berfirman:

وَمِنَ الْأَحْزَابِ مَنْ يَنْكِرُ بَعْضَهُ قُلْ إِنَّمَا أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ اللَّهَ وَلَا أُشْرِكَ بِهِ إِلَيْهِ أَدْعُو وَإِلَيْهِ مَآبِ

“Dan di antara golongan-golongan (Yahudi dan Nasrani) yang bersekutu, ada yang mengingkari sebahagiannya. Katakanlah “Sesungguhnya aku hanya diperintah untuk menyembah Allah dan tidak mempersekutukan sesuatupun dengan Dia. Hanya kepada-Nya aku seru (manusia) dan hanya kepada-Nya aku kembali”. (QS. Ar-Ra’du: 36).

Dan Allah berfirman:

وَكَذَلِكَ أَنْزَلْنَاهُ حُكْمًا عَرَبِيًّا وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ مَا جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا وَاقٍ

“Dan demikianlah, Kami telah menurunkan Al-Quran itu sebagai peraturan (yang benar) dalam bahasa Arab. Dan seandainya kamu mengikuti hawa nafsu mereka setelah datang pengetahuan kepadamu, maka sekali-kali tidak ada pelindung dan pemelihara bagimu terhadap (siksa) Allah.” (QS. Ar-Ra’du: 37).

Beliau (imam Ahmad) rahimahullah ta’ala berkata. “Siapa yang mengatakan perkataan tersebut, maka tidak shalat jum’at di belakangnya dan tidak pula shalat yang lainnya. Jika shalat di belakangnya, maka ia mengulangi shalatnya.” Yakni, siapa yang mengatakan Al-Qur’an adalah makhluk.

Dan beliau rahimahullah berkata, “Apabila seorang qadhi adalah seorang jahmi, maka janganlah bersaksi di sisinya.” Ibrahim bin Thaman berkata, “Jahmiyyah adalah orang-orang kafir, dan qadariyyah adalah orang-orang kafir. Sulaiman At-Tamimi rahimahullah berkata, “Tidak ada kaum yang lebih parah kebenciannya kepada Islam daripada Jahmiyyah dan Qadariyyah. Adapun Jahmiyyah, sungguh mereka telah menentang Allah. Dan adapun Qadariyyah, sesungguhnya mereka telah mengada-adakan perkataan tentang Allah.” Sallam bin Abi Muthi’ berkata, “Jahmiyyah adalah orang-orang kafir, tidak boleh shalat di belakang mereka.” Kharijah berkata, “Jahmiyyah adalah orang-orang kafir, sampaikanlah kepada istri-istri mereka, bahwa mereka telah menjadi wanita yang dicerai, dan bahwa mereka tidak halal bagi suami-suaminya. Janganlah kalian menjenguk yang sakit dari mereka dan jangan pula melayat jenazah-jenazah mereka.” Kemudian ia membaca :

طه، مَا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لِتَشْقَى، إِلَّا تَذْكِرَةً لِمَنْ يَخْشَى -إِلَى قَوْلِهِ- الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

“Thaha. Kami tidak menurunkan Al Quran ini kepadamu agar kamu menjadi susah; tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah), -sampai firman-Nya- (Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas ‘Arsy. (QS. Thaha: 1-5).

Dan Malik rahimahullah berkata, “Siapa yang berkata Al-Qur’an adalah makhluk, ia pantas disakiti dengan pukulan dan dipenjara sampai mati.” Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah berkata, “Siapa yang menyangka bahwa firman Allah, “Wahai Musa, sesungguhnya Aku adalah Allah, Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana” adalah makhluk, maka dia kafir zindiq, halal darahnya.” Ia juga berkata, “Siapa yang berkata, “Sesungguhnya, “Katakanlah Dia adalah Allah Yang Esa, Allah tempat bergantung seluruh makhluk-Nya.” adalah makhluk maka dia kafir.”

Abu Yusuf Al-Qadhi berkata, “Ada dua kelompok di atas muka bumi yang paling buruk, yaitu Jahmiyyah dan Muqatiliyyah.” Aku katakan, “Aku mengira yang dimaksud dengan Muqatiliyyah adalah para pengikut Muqatil bin Sulaiman al-Balkhi, sungguh ia dituduh oleh imam Abu Hanifah dengan tasybih. Ia berkata, “Jahm berlebihan dalam menafikan tasybih, hingga ia berkata, sesungguhnya Allah Ta’ala bukanlah sesuatu apapun. Dan Muqatil berlebihan dalam makna itsbat sampai ia menjadikannya seperti makhluk-Nya. Dan mengikuti Abu Hanifah atas hal itu sekelompok dari para imam Jarh dan Ta’dil dari sahabat-sahabatnya seperti Abu Yusuf dan yang lainnya dan orang yang setelah mereka. Sampai Ibnu Hibban berkata, “Ia mengambil dari Yahudi dan Nashrani dari ilmu Al-Qur’an yang ia sepakat dengan kitab-kitab mereka, ia menyerupakan Rabb dengan makhluk, dan didustakan oleh Waki’ dan yang lainnya. Allah Maha Mengetahui dengan keadaannya. Waki’ berkata, “Muqatil bin Sulaiman meninggal tahun 150 H”.

Abdullah bin Mubarok berkata, “Jahmiyyah adalah kafir.” Dan ia berkata, “Ibadahnya kelompok Jahmiyyah tidak berarti apa-apa.” Ia berkata, “Siapa yang berkata Al-Qur’an adalah makhluk, maka ia zindiq.” Ia berkata, “Sesungguhnya kami membolehkan untuk menceritakan perkataan Yahudi dan Nasrani, dan tidak membolehkan menceritakan perkataan Jahmiyyah.”

Sufyan bin Uyainah berkata, “Al-Qur’an adalah firman Allah, siapa yang berkata makhluk, maka ia kafir, dan siapa yang ragu dengan kekafirannya maka ia kafir.” Dan ia berkata, “Siapa yang berkata Al-Qur’an adalah makhluk, perlu untuk disalib di atas dziyab, yakni gunung.”

Abdullah bin Idris rahimahullah berkata, dan sungguh beliau telah ditanya, “Apa pendapatmu tentang Jahmiyyah apakah boleh shalat di belakang meraka? Maka ia menjawab, “Apakah mereka orang-orang muslim, apakah mereka orang-orang muslim? Tidak, tidak ada kemuliaan, tidak boleh shalat di belakang mereka.” Seorang lelaki berkata kepadanya, “Wahai Abu Muhammad, sesungguhnya di hadapan kita ada orang-orang yang mengatakan Al-Qur’an adalah makhluk, apakah berkata seperti itu dari orang Yahudi? Ia berkata, “tidak”. Ia berkata, “Apakah dari Nasrani?” Ia berkata, “tidak”. Ia berkata, “Apakah dari Majusi?” Ia berkata, “tidak”. Ia berkata, “Lalu siapa?” Ia berkata, “Dari kalangan ahli tauhid.” Ia berkata, “Mereka dusta, mereka bukanlah ahli tauhid, mereka adalah zindiq, mereka adalah zindiq.”

Ibnu Yunus membaca, “Bismillahirrahmanirrahim”, lalu ia berkata, “Allah makhluk? Ar-Rahman makhluk? Ar-Rahim makhluk? Mereka adalah zindiq. Dan ia ditanya tentang suatu kaum yang mengatakan Al-Qur’an adalah makhluk, maka ia menganggap buruk hal itu. Dan ia berkata, “Subhanallah, ada sesuatu darinya yang merupakan makhluk!”. Waki’ berkata, “Sesungguhnya aku memintanya bertaubat, jika ia bertaubat, jika tidak maka aku membunuhnya.” Dan ia berkata, “Siapa yang menyangka bahwa Al-Qur’an adalah makhluk maka sungguh ia telah menyangka bahwa ia muhdats (diadakan secara baru), dan siapa yang menyangka bahwa ia muhdats, maka sungguh ia telah kafir.” Dan dikatakan kepadanya, “Sesungguhnya seseorang berkata bahwa Al-Qur’an adalah muhdats.” Maka ia berkata, “Subhanallah, ini adalah kekufuran.”

As-Suwaidi berkata, “Dan aku bertanya kepada Waki’ tentang shalat di belakang Jahmiyyah”. Maka ia berkata, “Janganlah shalat di belakang mereka.” Dan ia berkata, “Siapa yang menyangka bahwa Al-Qur’an adalah makhluk, maka sungguh ia telah menyangka bahwa ia muhdats, ia dimintai taubat, jika bertaubat, dan jika tidak ia dipenggal lehernya.”

Zuhair bin Harb berkata, “Aku berselisih dengan Mutsanna. Mutsanna berkata, “Al-Qur’an adalah makhluk.” Dan aku katakan, “Kalamullah”. Waki’ berkata, dan saya mendengarnya, “ini adalah kekufuran”. Dan ia berkata, “Siapa yang berkata Al-Qur’an adalah makhluk, ini adalah kekufuran.” Lalu Mutsanna berkata, “Wahai Abu Sufyan, Allah berfirman, “Tidaklah datang kepada mereka peringatan dari Rabb mereka yang muhdats.” (QS. Al-Anbiya : 2), lalu apa ini?  Maka Waki’ berkata, “Siapa yang mengatakan Al-Qur’an adalah makhluk, ini adalah kekufuran.” Dan ia berkata, “Siapa yang mengatakan Al-Qur’an adalah makhluk, maka ia kafir.” Dan ia rahimahullah berkata, “Al-Qur’an adalah kalamullah, yang diturunkan oleh Malaikat Jibril kepada Muhammad ﷺ, setiap pengikut hawa nafsu mengenal Allah dan mengenal siapa yang ia sembah, kecuali Jahmiyyah, mereka tidak mengetahui siapa yang mereka sembah, yaitu Bisyr dan para sahabatnya.” Ditanyakan kepada Waki’ tentang sembelihan Jahmiyyah, ia berkata, “Tidak boleh dimakan, mereka adalah orang-orang murtad.” Dan ia berkata, “Siapa yang berkata sesungguhnya firman-Nya bukan dari-Nya maka sungguh ia telah kafir.” Dan ia berkata, “Siapa yang berkata sesungguhnya dari-Nya ada suatu makhluk, maka sungguh ia telah kafir.”

Fithr bin Hammad berkata, “Aku bertanya kepada Mu’tamar bin Sulaiman, maka aku berkata, “Wahai Abu Muhammad, ada satu imam bagi suatu kaum yang berkata Al-Qur’an adalah makhluk, apakah aku shalat di belakangnya?” Maka ia menjawab, “Engkau semestinya memenggal lehernya.” Fithr berkata, “Dan aku bertanya kepada Hammad bin Zaid, aku berkata, “Wahai Abu Ismail, ada satu imam bagi kami yang berkata Al-Qur’an adalah makhluk, apakah aku shalat di belakangnya?” Maka ia berkata, “Shalatlah di belakang seorang muslim, itu lebih aku sukai.” Dan aku bertanya kepada Yazid bin Zura’i, aku berkata, “Wahai Abu Mu’awiyah, ada satu imam bagi suatu kaum yang berkata Al-Qur’an adalah makhluk, apakah aku shalat di belakangnya?” Ia berkata, “Tidak, tidak ada kemuliaan.” Dan Abdurrahman bin Mahdi berkata, “Siapa yang menyangka bahwa Allah tidak berbicara kepada Musa, maka ia dimintai bertaubat, maka jika ia bertaubat, dan jika tidak maka dipenggal lehernya.” Pada satu ketika ia berkata, “Aku tidak memandang untuk meminta taubat kepada Jahmiyyah.” Ia rahimahullah berkata, “Kalaulah aku memiliki suatu wewenang, maka aku akan berdiri di atas jembatan, maka tidak ada seorang pun dari Jahmiyyah yang melewatiku kecuali aku bertanya kepadanya tentang Al-Qur’an, jika ia berkata adalah makhluk maka aku penggal kepalanya dan aku lemparkan ke air.”

Abu Bakar Al-Aswad berkata, “Kalaulah seorang Jahmiyyah meninggal dan aku adalah salah satu ahli warisnya, aku tidak menganggap halal untuk mengambil sedikit pun dari warisannya.”

Abu Yusuf Al-Qadhi berkata, “Datangkanlah kepadaku dua orang saksi yang bersaksi atas Marisi, demi Allah aku akan penuhi punggung dan perutnya dengan cambukan, ia berkata tentang Al-Qur’an, yakni makhluk.”

Yazid bin Harun berkata dan menyebutkan tentang Jahmiyyah, ia berkata, “Mereka, demi Allah, adalah para zindiq, semoga laknat Allah ditimpakan kepada mereka.” Dan ia rahimahullah berkata, “Demi Allah Yang tiada tuhan selain Dia, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nampak, siapa yang berkata Al-Qur’an adalah makhluk maka ia termasuk zindiq.” Dan ia ditanya tentang shalat di belakang mereka, ia berkata, “tidak boleh.”

Mu’adz bin Mu’adz berkata, “Siapa yang mengatakan Al-Qur’an adalah makhluk maka ia kafir.”

Syababah bin Sawwar berkata, “Telah sepakat pandanganku dan pandangan Abu Nadhr Hasyim bin Al-Qasim dan sekelompok dari kalangan ahli fiqih bahwa Marisi itu kafir dan penentang, kita memandang agar ia dimintai bertaubat, jika bertaubat, dan jika tidak maka dipenggal lehernya.”

Abu Taubah al-Halabi, Nu’aim bin Hammad dan Ibrahim bin Mahdi mengkafirkan Jahmiyyah. Bisyr bin Harits berkata, “Janganlah bermajlis dengan mereka dan jangan berbicara dengan mereka. Jika mereka sakit, jangan menjenguk mereka, dan jika mereka mati, maka janganlah menghadiri jenazah mereka. Bagaimana mereka akan kembali sedangkan kalian memperlakukan mereka seperti ini? Yakni Jahmiyyah.”

Ibnu Abi Hatim berkata, “Siapa yang menyangka bahwa Al-Qur’an adalah makhluk, maka ia kafir.” Abul Aswad an-Nadhr bin Abdul Jabbar berkata, “Al-Qur’an adalah kalamullah, siapa yang menyangka bahwa ia adalah makhluk maka ia kafir, ini adalah perkataan para zindiq.” Abbad bin al-‘Awwam berkata, “Aku berbicara dengan Biysr al-Marisi dan para sahabatnya, maka aku melihat akhir perkataan mereka berujung pada mengatakan, “Di langit di ada sesuatu apapun.” Amr bin ar-Rabi’ bin Thariq berkata, “Al-Qur’an adalah kalamullah, siapa yang menyangka bahwa ia adalah makhluk, maka ia kafir.”

Harun Amirul Mukminin berkata, “Telah sampai kepadaku bahwa Bisyr al-Marisi mengklaim bahwa Al-Qur’an adalah makhluk. Demi Allah atasku, jika Allah memenangkanku dengannya, jika tidak maka aku akan membunuhnya dengan cara yang belum pernah aku bunuh seorang pun sama sekali.”

Harun bin Ma’ruf berkata, “Siapa yang berkata Al-Qur’an adalah makhluk maka ia menyembah berhala.” Yahya bin Ma’in rahimahullah berkata, “Siapa yang berkata Al-Qur’an adalah makhluk maka ia kafir.” Seorang lelaki berkata kepada Hasyim, “Sesungguhnya si fulan berkata Al-Qur’an adalah makhluk”, maka ia berkata, “Pergilah kepadanya dan bacakan awal surat Al-Hadid dan akhir surat Al-Hasyr, maka jika ia menyangka bahwa keduanya adalah makhluk maka penggal lehernya.” Abu Hasyim al-Ghassani berkata semisal dengannya. Abu Ubaid berkata, “Siapa yang berkata Al-Qur’an adalah makhluk maka sungguh ia telah mengada-ngada atas nama Allah, dan ia mengatakan apa yang tidak dikatakan oleh Yahudi dan Nasrani sekalipun.”

Ishaq bin Al-Buhlul berkata kepada Anas bin ‘Iyadh Abi Dhamrah, “Bolehkah ku shalat di belakang Jahmiyyah? Ia berkata, “tidak”. “Dan siapa yang mencari agama selain Islam, maka tidak akan diterima darinya, dan ia di akhirat termasuk orang yang rugi.” (QS. Ali Imran : 85). Isa bin Yunus rahimahullah ditanya tentang orang yang mengatakan Al-Qur’an adalah makhluk, maka ia berkata, “Ia adalah orang kafir, atau ia telah kafir.” Ditanyakan kepadanya, “Engkau mengkafirkan mereka dengan kalimat ini?” Ia berkata, “Sesungguhnya ini adalah yang paling mudah dan paling baik yang mereka tampakkan.”

Yahya bin Ma’in rahimahullah pernah mengulang shalat Jum’at sejak Abdullah bin Harum Al-Ma’mun menampakkan apa yang ia tampakkan, yakni perkataan Al-Qur’an adalah makhluk. Husain bin Ibrahim bin Asykab dan ‘Ashim bin Ali bin Ashim, Harun Al-Farwi, Abdul Wahhab Al-Warraq dan Sufyan bin Waki’ berkata, “Al-Qur’an adalah kalamullah dan bukan makhluk.” Ja’far bin Muhammad rahimahullah ditanya tentang Al-Qur’an, maka ia berkata, “Ia bukan Khaliq dan bukan pula makhluk, tetapi ia adalah kalamullah.” Dan diriwayatkan dari ayahnya yaitu Ali bin Husain bahwa ia berkata tentang Al-Qur’an, “Ia bukan khaliq dan bukan pula makhluk, tetapi ia adalah kalamullah.” Az-Zuhri berkata, “Aku bertanya kepada Ali bin Husain tentang Al-Qur’an, lalu ia berkata, “Ia adalah kitab Allah dan firman-Nya.”       

Dari Ibrahim bin Sa’ad, Sa’id bin Abdirrahman Al-Jumahi, Wahb bin Jarir, Abu Nadhr Hasyim bin Al-Qasim dan Sulaiman bin Harb, mereka berkata, “Al-Qur’an adalah kalamullah, bukan makhluk.” Sufyan bin Uyainah berkata, “Kami tidak melakukan yang lebih baik dari ini, yaitu Al-Qur’an adalah kalamullah.” “Maka berilah ia perlidungan hingga ia mendengar firman Allah.” (QS. At-Taubah : 6). “Mereka menginginkan untuk mengganti firman Allah.” (QS. Al-Fath : 15). Imam Malik bin Anas dan sekelompok ulama di Madinah menyebut tentang Al-Qur’an, mereka berkata. “Kalamullah, dan ia adalah bagian dari-Nya, dan tidak ada sesuatu pun yang merupakan bagian dari Allah adalah makhluk.”

Hammad bin Zaid rahimahullah berkata, “Al-Qur’an adalah kalamullah, yang diturunkan oleh Jibril dari sisi Rabb semesta alam. Abu Bakar bin Ayyasy berkata, “Siapa yang menyangka bahwa Al-Qur’an adalah makhluk, maka sungguh ia telah berdusta kepada Allah. Waki’ berkata, “Al-Qur’an adalah dari Allah, darinya keluar dan kepadanya kembali.” Yahya bin Sa’id berkata, “Bagaimana mereka memperlakukan ayat “Katakan, Dialah Allah Yang Maha Esa”, bagaimana mereka memperlakukan ayat ini, “Sesungguhnya Aku adalah Allah.” Apakah ia menjadi makhluk?

Wahb bin Jarir, Muhammad bin Yazid Al-Wasithi, Ibnu Abi Idris, Abu Bakar bin Syaibah, saudaranya yaitu Utsman bin Abi Syaibah, Abu Umar Asy-Syaibani, Yahya bin Ayyub, Abul Walid, Hajjaj Al-Anmathi, Yahya bin Ma’in, Abu Khaitsamah, Ishaq bin Abi Israil, dan Abu Ma’mar berkata, “Al-Qur’an adalah firman Allah, bukan makhluk”. Abu Amr Asy-Syaibani berkata kepada Ismail bin Hammad bin Abi Hanifah -yang ia berkata Al-Qur’an adalah makhuk- Asy-Syaibani berkata, “Dia menciptakannya sebelum Ia membicarakannya ataukah setelah Ia membicarakannya.” Ia berkata, “Maka ia diam”. Hasan bin Musa Al-Asyab berkata,

أَعُوذُ بِاللَّهِ السَّمِيعِ الْعَلِيمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ، بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ، ﴿إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ﴾

Maka Hasan berkata, apakah ini makhluk?”

Muhammad bin Sulaiman Luwain berkata, “Al-Qur’an adalah firman Allah, bukan makhluk. Aku tidak melihat seorang pun yang mengatakan Al-Qur’an adalah makhluk, kecuali aku mengatakan, “Aku berlindung kepada Allah.” Dikutip dari kitab As-Sunnah.[7]

Asy-Syafi’i rahimahullah berkata dalam wasiatnya, “Al-Qur’an adalah firman Allah, bukan makhluk.” ‘Affan bin Muslim berkata, “Aku berlindung kepada Allah dari syetan yang terkutuk, “Mereka hendak mengganti firman Allah.” “Tidak ada tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup, Maha Terus menerus Mengurus makhluk-Nya.” “Katakanlah, Dialah Allah Yang Esa.” Apakah ini semua adalah makhluk?

Aku bertemu dengan Syu’bah, Hammad bin Salamah dan para sahabat Hasan, mereka berkata, “Al-Qur’an adalah firman Allah bukan makhluk.” Yahya bin Yahya berkata, “Siapa yang menyangka bahwa dari Al-Qur’an, awal sampai akhirnya ada ayat yang diciptakan, maka ia kafir.” Hisyam bin Ubaidillah berkata. “Al-Qur’an adalah firman Allah, bukan makhluk.” Ada seorang lelaki bertanya kepadanya, “Bukankah Allah berfirman,

مَا يَأْتِيهِمْ مِنْ ذِكْرٍ مِنْ رَبِّهِمْ مُحْدَثٍ

“Tidak datang kepada mereka suatu ayat Al-Quran pun yang baru (di-turunkan) dari Tuhan mereka…” (QS. Al-Anbiya: 2).

Ishaq bin Ibrahim Al-Hanzhali rahimahullah berkata, “Tidak ada pertentangan di antara para ahli ilmu bahwa Al-Qur’an adalah firman Allah, bukan makhluk. Maka bagaimana ada sesuatu yang keluar dari Rabb ﷻ sebagai makhluk? Abu Ja’far An-Nufaili berkata, “Siapa yang mengatakan, sesungguhnya Al-Qur’an adalah makhluk, maka ia kafir.” Lalu ditanyakan kepadanya, “Wahai Abu Ja’far, kufur itu ada dua kekufuran; kufur nikmat dan kufur kepada Rabb ﷻ.” Ia berkata, “Tidak, tapi kufur kepada Rabb ﷻ. Apa yang kamu katakan tentang orang yang mengatakan. “Allahu Ahad, Allahus Shamad” adalah makhluk, bukankah ia telah menjadi kafir?

Abdullah bin Muhammad Al-‘Aisyi berkata, “Mustahil pada sifat Allah Yang Maha Bijaksana untuk menciptakan perkataan yang mengaku ketuhanan. Yakni firman Allah ta’ala, “Seungguhnya Aku adalah Allah.” Dan firman-Nya, “Aku Tuhanmu”. Aku katakan, “Muktazilah berkata, “Sesungguhnya firman Allah kepada Musa, adalah Ia menciptakannya di pohon.” Maka berdasarkan pernyataan ini, pohon itulah yang mengatakan, “Sesungguhnya Aku adalah Allah, tidak ada tuhan selain Aku, maka beribadahlah kepada-Ku.” Semoga Allah memburukkan mereka di dunia dan akhirat.

Muhammad bin Yahya Adz-Dzuhali berkata, “Iman itu adalah perkataan dan perbuatan yang dapat bertambah dan berkurang. Al-Qur’an adalah firman Allah, bukan makhluk dengan semua sifat-sifatnya, dan Dimana pun ia berada.”

Adapun perkataan Bukhari rahimahullah dan kekokohannya dalam permasalahan ini, makai a telah masyhur, tidak perlu lagi penjelasan. Dalam hal itu ia memiliki kitab Khalq Af’alil ‘Ibad. Dan sungguh ia telah membuat bab di dalam shahihnya yang sudah memadai yang menunjukkan keluasan ilmunya dan kemuliaan kedudukannya.

Abu Hatim dan Abu Zur’ah berkata. “Kami telah menemui para ulama di semua negeri, maka di antara madzhab mereka adalah bahwa iman itu perkataan dan perbuatan, bertambah dan berkurang, dan Al-Qur’an adalah firman Allah bukan makhluk dalam semua seginya, dan takdir, baik buruknya dari Allah ta’ala, dan bahwa Allah ta’ala di atas arsy-Nya, terpisah dari makhluk-Nya, sebagaimana Ia mensifati diri-Nya dalam kitab-Nya dan dengan lisan rasul-Nya, tanpa kaif, ilmu-Nya meliputi segala sesuatu, tidak ada yang serupa dengan-Nya sesuatu apapun, dan Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.”

Muhammad bin Aslam Ath-Thusi berkata, “Al-Qur’an adalah firman Allah, bukan makhluk di manapun ia dibaca dan di manapun ia ditulis, ia tidak berubah, tidak berpindah dan tidak berganti.” Dikutip dari kitab Al-‘Uluw.[8]      

Imamnya para imam, Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah rahimahullah dalam kitab Tauhid setelah beliau membuat bab “Pembicaraan Allah kepada Musa ‘alaihissalam”, beliau berkata, “Pembicaraan Allah dengan wahyu dan sifat turunnya wahyu, pembicaraan Allah kepada para hamba-Nya di hari kiamat, dan pembahasan tentang hal itu.” Kemudian ia berkata, “Bab penyebutan penjelasan dalam kitab Rabb kita yang diturunkan kepada nab-Nya yang terpilih ﷺ, dan dari sunnah nabi kita Muhammad ﷺ, atas perbedaan antara firman Allah ﷻ yang demgannya terciptalah makhluk-Nya, dan antara makhluk-Nya yang tercipta dengan firman dan perkataan-Nya. Dalil untuk menyingkirkan perkataan Jahmiyyah yang mengklaim bahwa firman Allah itu makhluk, Maha Suci dan Maha Perkasa Rabb kita dari hal itu, yaitu :

أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

“Ketahuilah, milik-Nya penciptaan dan perintah, Maha Suci Allah, Rabb semesta alam.” (QS. Al-A’raf : 54).

Maka Allah membedakan antara makhluk dan perintah yang dengannya Dia menciptakan makhluk, dengan wawu isti’naf. Dan Allah ﷻ telah mengajarkan kita dalam kitab yang diturunkan oleh-Nya, yang muhkam/sangat apik, bahwa Dia menciptakan makhluk dengan firman dan perkataan-Nya :

إِنَّمَا قَوْلُنَا لِشَيْءٍ إِذَا أَرَدْنَاهُ أَنْ نَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

“Tiada lain perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami berkata kepadanya, “Jadilah! Maka terjadilah ia.” (QS. An-Nahl : 40).

Maka Dia ﷻ mengajarkan kepada kita bahwa Dia membentuk setiap yang dibentuk dari ciptaan-Nya dengan perkataan-Nya, “Jadilah! Maka terjadilah.” Dan firman-Nya, “Jadilah!” adalah firman-Nya yang dengannya terciptalah makhluk. Dan firman-Nya ﷻ yang dengannya tercipta makhluk adalah bukan makhluk yang dibentuk dengan firman-Nya. Pahamilah, jangan keliru dan jangan membuat terjatuh pada kekeliruan. Siapa yang memahami dari Allah, pesan-Nya, ia mengetahui bahwa Allah ketika mengajarkan kepada para hamba-Nya yang beriman, sesuatu itu ada dengan firman-Nya, “Jadilah!”. Bahwa firman yang berupa “Kun/jadilah!” bukanlah yang dibentuk dengan “Kun” yang dikatakan kepadanya, “Kun”. Dan ia akan paham dari Allah bahwa firman-Nya, “Kun” kalaulah ia merupakan makhluk, sebagaimana klaim Jahmiyyah sang pendusta atas nama Allah, bahwa Ia tiada lain menciptakan makhluk dan membentuknya dengan makhluk. Kalaulah firman-Nya, “Kun” adalah makhluk, maka dikatakan kepada mereka, “Wahai orang-orang bodoh! Firman-Nya yang dengannya tercipta makhluk, sebagaimana klaim kalian, kalaulah ia makhluk, dengan apa lagi ia tercipta?  Bukankah pegangan perkataan kalian yang kalian klaim bahwa firman-Nya, “Kun”, tiada lain Ia menciptakannya dengan perkataan sebelumnya, dan ia menurut kalian adalah makhluk-Nya. Perkataan tersebut Allah ciptakan dengan perkataan sebelumnya, dan ia adalah makhluk, hingga sampai kepada perkara yang tidak ada batasnya, tidak ada bilangan dan tidak ada awal. Dan dalam hal ini terdapat pembatalan terhadap penciptaan makhluk, pembentukan makhluk dan mengadakan yang sebelumnya belum ada, dengan penciptaan dari Allah terhadap sesuatu dan pembentukannya.[9] Perkataan ini tidak akan dibayangkan oleh orang yang memiliki akal, kalaulah ia memikirkannya dan diberi taufik untuk mengetahui kebenaran dan petunjuk. Allah ﷻ berfirman :

وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ

“Dan matahari, bulan dan bintang-bintang ditundukkan dengan perintah-Nya.” (QS. Al-A’raf : 54).

Maka apakah terbersit dalam pikiran seorang muslim bahwa Allah ta’ala menundukkan matahari, bulan dan bintang-bintang yang ditundukkan dengan makhluknya, bukankah dipahami -bagi orang yang memahami pesan dari Allah- bahwa perintah yang Ia menundukkan dengannya bukanlah yang ditundukkan juga dengan perintah, dan bahwa perkataan adalah bukan penerima perkataan ? Maka pahamilah wahai yang memiliki akal untuk memahami pesan dari Allah, dan penjelasan dari Nabi Al-Mushtafa ﷺ. Janganlah menghalangi dari jalan yang lurus, maka kalian akan tersesat, sebagaimana telah tersesat Jahmiyyah, semoga laknat-laknat Allah ditimpakan kepada mereka. Maka dengarkanlah sekarang dalil yang jelas dan terang tidak rancu dari sunnah Nabi ﷺ, dengan periwayatan yang adil dari yang adil yang sampai kepada beliau, yang menyatakan adanya perbedaan antara makhluk Allah dan kalamullah ta’ala.[10]

Kemudian ia menuturkan hadits-hadits dalam penyebutkan kalimat-kalimat Allah ta’ala, sampai kepada hadits :

أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ

“Aku berlindung kepada kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk yang telah Ia ciptakan.”[11]

Kemudian ia berkata, “Bukankah ilmunya telah diketahui, wahai orang-orang yang berakal, bahwa tidak boleh Nabi ﷺ memerintahkan untuk memohon perlindungan kepada makhluk Allah dari kejahatan makhluk-Nya. Apakah engkau mendengar seorang alim membolehkan untuk mengatakan, “Aku berlindung dengan Ka’bah dari kejahatan makhluk Allah”, atau membolehkan untuk mengatakan, “Aku berlindung dengan Shafa dan Marwah”, atau “Aku berlindung dengan Arafah, atau Mina, dari kejahatan makhluk yang telah diciptakan oleh Allah.” Ini tidak dikatakan dan tidak diperbolehkan untuk mengatakannya oleh seorang muslim pun yang mengenal agama Allah. Mustahil seorang muslim memohon perlindungan kepada makhluk Allah dari kejahatan makhluk-Nya.” [12] Kemudian ia menuturkan pembahasan yang panjang, maka rujuklah darinya.

Abu Mu’awiyah bin Khazim, seorang yang buta, rahimahullah berkata, “Membicarakan hal itu adalah bid’ah dan kesesatan, tidaklah Nabi ﷺ membicarakannya, tidak pula para sahabat radhiyallahu ‘anhum, tidak juga para tabi’in dan orang-orang shalih rahimahullah, yakni mengatakan Al-Qur’an adalah makhluk.

Dan disebutkan di sisi Abu Nu’aim, dan dia adalah Al-Fadhl bin Dukain, orang yang mengatakan Al-Qur’an adalah makhluk. Maka ia berkata, “Demi Allah, demi Allah, aku tidak mendengar sesuatu pun dari ini, hingga keluar orang yang buruk itu, yaitu Jahm.”

Perkataan para imam sunnah dalam bab ini panjang penyebutannya. Kalaulah kami hendak menyebutkan secara menyeluruh, niscaya makin panjang fasal ini.


[1] Lihat biografi dan aqidahnya pada Tarikh Ath-Thabari, 7/330, Maqalat Al-Islamiyyin, 1/338, Mizan Al-I’tidal, 1/426, Al-Fashl, 2/111, 2/126, 3/188, 3/2, 3/22, 2/149.

[2] Lihat bigorafi dan aqidahnya dalam Al-Mizan, 1/399, Lisanul Mizan, 2/105, Al-Fashl, 4/202

[3] Al-Bukhari dalam Khalq Af’alil ‘Ibah, hal. 3, dan diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam tarikhnya, 1/64, Abu Sa’id Ad-Darimi, 13/288, Al-Ajurri dalam Asy-Syari’ah, hal. 97 dan 328, Al-Baihaqi dalam sunannya, 10/205-206, dan dalam Al-Asma, hal. 254. Dan dalam sanadnya terdapat Muhammad bin Habib, ia majhul, dan Abdurrahman bin Muhammad Habib, Ibnu Hajar berkata tentangnya, “Diterima apabila ada tabi’, jika tidak ada maka layyin.”

[4] Akan datang penyebutan hadits menyihir Nabi ﷺ dan penjelasannya

[5] Lihat biografinya dalam Tarikh Baghdad, 7/56, Al-Mizan, 1/322, Al-Fashl, 3/22

[6] Lihat biografinya dalam Tarikh Ath-Thabari, 9/197, Tarikh Baghdad, 4/141 dan 156, Al-Mizan, 1/97, Lisanul Mizan, 1/171, dan Siyar A’lam An-Nubala, 11/169

[7] As-Sunnah karya imam Abdullah bin Ahmad bin Hanbal, 1/102-161, di dalamnya ada biografi para ulama yang istimewa, maka lihatlah, dengan pilihan tahqiq Dr. Muhammad bin Sa’id bin Salim Al-Qahthani 

[8] Al-‘Uluw karya Adz-Dzahabi, hal. 120-141, di dalamnya ada perkatan selain mereka, maka lihatlah. Dan lihat ringkasannya karya Al-Albani, hal. 176-210, dan komentar beliau terhadapnya.

[9] Kata wabilkhalqihi (dan dengan ciptaan-Nya) hilang

[10] Kitab Tauhid karya Ibnu Khuzaimah, hal. 161-162

[11] Telah terdahulu penyebutannya dan ia terdapat di dalam shahih Muslim

[12] Kitab Tauhid karya Ibnu Khuzaimah, hal. 165-166

Terjemahan Kitab Akidahalquranislammakhluq

Navigasi pos

Previous post

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recent Posts

  • ASAL USUL PERKATAAN YANG MENYATAKAN AL-QUR’AN ADALAH MAKHLUK
  • FIRMAN ALLAH YANG TERTULIS DALAM KITAB-NYA ADALAH KALAM-NYA YANG HAKIKI, BUKAN MAKHLUK
  • Perkataan Ulama Ahlussunnah Waljama`ah Terkait Sifat “ilmullah” (Pengetahuan Allah) dan Kekayaan serta Kalam-Nya. Bag. 2
  • Perkataan Ulama Ahlussunnah Waljama`ah Terkait Sifat “ilmullah” (Pengetahuan Allah) dan Kekayaan serta Kalam-Nya
  • Perkataan Ulama Ahlussunnah Waljama`ah Terkait Sifat “Al-`Uluw” (Kemahatinggian Allah) (Bagian 5)
Agustus 2026
S S R K J S M
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  
« Jul    

ahli kitab (2) ahlussunnah (3) akal (4) Akidah (107) Al 'Uluw (2) Allah (7) alquran (33) budaya (4) dalil (2) evolusi (1) firqah (2) firqah najiyah (2) ghaib (2) hadits (2) hidayah (2) ibadah (3) ibnu taimiyah (4) ilmu (67) imam syafi'i (9) iman (3) islam (92) kalam (4) kenabian (4) kesesatan (2) kitab (2) kristologi (5) ma'rifah (2) manusia (2) meditasi (1) nubuwah (3) pengetahuan (16) rububiyah (1) sejarah (4) sunnah (4) syubhat (5) tabiin (1) tafsir (2) takdir (2) tauhid (79) taurat (3) teori (2) tsaqafah (3) ulama (2) uluw (2) wahyu (2)

©2026 AKIDAH.NET | WordPress Theme by SuperbThemes