Skip to content
AKIDAH.NET
AKIDAH.NET

Keyakinan Pangkal Penghayatan

AKIDAH.NET
AKIDAH.NET

Keyakinan Pangkal Penghayatan

FIRMAN ALLAH YANG TERTULIS DALAM KITAB-NYA ADALAH KALAM-NYA YANG HAKIKI, BUKAN MAKHLUK

Lalu Heri Aprizal, 11 Juli 2026

Sumber: Kitab Ma’ârij al-QabûlBisyarhi Sullami al-Wushul Ila Ilmi al-Ushul Fii at-Tauhid

Penulis:  Syeikh Hafidz bin Ahmad al-Hakami

Penerjemah: Lalu Hery Aprizal.

Editor: Idrus Abidin

وَالْقَوْلُ فِي كِتَابِهِ الْمُفَصَّلِ بِأَنَّهُ كَلَامُهُ الْمُنَزَّلُ

عَلَى الرَّسُولِ الْمُصْطَفَى خَيْرِ الْوَرَى، لَيْسَ بِمَخْلُوقٍ وَلَا بِمُفْتَرًى.

Adapun pernyataan dalam kitab Al-Mufaṣṣal bahwa Al-Qur’an merupakan kalam Allah yang diturunkan kepada Rasul pilihan, manusia terbaik, maka kalam tersebut bukanlah makhluk dan bukan pula sesuatu yang diada-adakan (dinisbatkan secara dusta kepada Allah).

Adapun pernyataan dalam kitab Al-Mufaṣṣal bahwa kalam Allah yang diturunkan kepada Rasul pilihan, penutup para nabi, bukanlah makhluk dan bukan pula sesuatu yang diciptakan, maka yang dimaksud dengan pernyataan tersebut adalah keyakinan yang dianut dan dijadikan sebagai agama oleh Ahlus Sunnah mengenai Al-Kitab al-Mufaṣṣal, yaitu Al-Qur’an. Al-Qur’an merupakan salah satu sifat Allah Ta’ala. Hal ini ditegaskan oleh firman Allah Ta’ala: “Suatu Kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi, kemudian dijelaskan secara terperinci, yang diturunkan dari sisi (Allah) Yang Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui.” (QS. Hūd [11]: 1)

Allah Ta’ala juga berfirman: “Suatu Kitab yang ayat-ayatnya dijelaskan secara terperinci sebagai bacaan dalam bahasa Arab bagi kaum yang mengetahui.” (QS. Fuṣṣilat [41]: 3) Demikian pula firman-Nya: “Maka apakah aku akan mencari hakim selain Allah, padahal Dialah yang telah menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu secara terperinci?” (QS. Al-An‘ām [6]: 114) Dan masih banyak ayat lain yang menunjukkan bahwa Al-Qur’an adalah kalam Allah.

Ungkapan “bahwa Al-Qur’an adalah kalam-Nya” menunjukkan hakikat bahwa Al-Qur’an terdiri atas lafaz (huruf-huruf) sekaligus makna-maknanya. Dengan demikian, kalam Allah bukanlah makna semata tanpa lafaz, dan bukan pula lafaz tanpa makna. Keduanya merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dalam hakikat Al-Qur’an sebagai kalam Allah. Allah SWT berfirman: “Dan jika seorang dari kalangan kaum musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ketempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui.” [QS. At-Taubah: 6], “Orang-orang Badwi yang enggan ikut itu akan berkata apabila kalian berangkat untuk mengambil barang rampasan: ‘Biarkanlah kami, niscaya kami mengikuti kalian’. Mereka hendak merubah janji Allah. Katakanlah: ‘Kamu sekali-kali tidak (boleh) mengikuti kami; demikian Allah telah menetapkan sebelumnya’.” [QS. Al-Fath: 15].

وَعَنْ أَبِي ذَرٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: إِنَّكُمْ لَا تَرْجِعُونَ إِلَى اللَّهِ بِشَيْءٍ أَفْضَلَ مِمَّا خَرَجَ مِنْهُ». يَعْنِي الْقُرْآنَ. رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ، وَالْحَاكِمُ، وَصَحَّحَهُ

Diriwayatkan dari Abu Dzarr RA, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya kalian tidak kembali kepada Allah dengan sesuatu yang lebih utama daripada apa yang keluar dari-Nya”, yaitu Al-Quran. [HR. Abû Dâwûd dan Al-Hâkim dan beliau mensahihkannya.[1]

وَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: يَقُولُ الرَّبُّ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: مَنْ شَغَلَهُ الْقُرْآنُ عَنْ مَسْأَلَتِي أَعْطَيْتُهُ أَفْضَلَ مَا أُعْطِي السَّائِلِينَ، وَفَضْلُ كَلَامِ اللَّهِ عَلَى سَائِرِ الْكَلَامِ كَفَضْلِ اللَّهِ عَلَى خَلْقِهِ.

Dan diriwayatkan dari Abû Sa`îd Al-Khudry RA ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Sang Rabb—Tabâraka wa ta`âlâ—berfirman: ‘Siapa yang disibukkan oleh Al-Quran dari memohon kepada-Ku, Aku akan berikan kepadanya sesuatu yang paling baik yang telah Kuberikan kepada orang-orang yang memohon.’ Dan keutamaan kalam Allah atas kalam seluruh kalam adalah seperti keutamaan Allah atas seluruh makhluk-Nya.” [HR. At-Tirmidzi, dan berliau berkata: Hadis hasan-gharîb[2]]

Ibnu Khuzaimah meriwayatkan dari Niyâr bin Mukrim Al-Aslamy, sahabat Rasulullah SAW semoga Allah meridhainya, ia berkata: “Ketika turun (firman Allah): ‘Alif Lâm Mîm. Telah dikalahkan bangsa Romawi. Di negeri yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang. Dalam beberapa tahun lagi. Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang). Dan di hari (kemenangan bangsa Romawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman.’ [QS. Ar-Rûm: 1-2], maka para pemimpin kaum Musyrik Mekah berkata: Wahai Ibnu Abî Quhâfah, apakah ini adalah sesuatu yang dibawa oleh sahabatnmu? Beliaupun menjawab: ‘Tidak, demi Allah. Tetapi ia adalah kalam dan firman Allah.”[3]

Ibnu Mas`ûd RA mencium Mushaf dan berkata: “Kalam Tuhanku, kalam Tuhanku.”[4] Diriwayatkan dari Umar RA ia berkata: “Sungguh Al-Quran ini adalah kalam Allah, maka letakkanlah ia pada tempat-tempatnya.”[5] Khabbâb, sahabat Rasulullah SAW, pernah berkata: “Mendekatlah kepada Allah sekuat kemampuanmu. Sungguh engkau tidak akan mendekat kepada Allah dengan sesuatu yang lebih Dia sukai dari kalam-Nya.”[6] Abdullah bin Mas`ûd RA juga berkata: “Al-Quran adalah kalam Allah. Siapa yang menentang sesuatu darinya maka ia telah menentang Allah.”[7] Diriwayatkan darinya juga, ia berkata: “Sesungguhnya sebaik-baik kalam adalah kalam Allah.”[8] Dan diriwayatkan pula perkataan ini secara marfû` dari Nabi SAW dan ia adalah hadis sahih, terdapat dalam kitab Sahih.[9]

Utsmân bin `Affân RA: “Aku tidak suka ada siang dan malam hari yang mendatangiku sementara aku tidak memandang kepada kalam Allah.”[10] Yakni membaca Al-Quran di mushaf. Ibnu Mas`ûd RA berkata: “Siapa yang ingin mengetahui bahwa dirinya mencintai Allah maka hadapkanlah dirinya kepada Al-Quran, jika ia mencintai Al-Quran maka ia mencintai Allah, karena Al-Quran adalah kalam Allah.”[11] Nas-nas dari Al-Quran, Sunnah dan Ijmak Umat bahwa Al-Quran adalah kalam Allah yang Dia ucapkan dengan sebenarnya, dan bahwa Dialah Allah SWT yang telah berfirman: “Alif Lâm Mîm, Alif Lâm Mîm Shâd, Alif Lâm Râ, Alif Lâm Mîm Râ, Kâf Hâ Yâ `Ain Shâd, Thâhâ, Thâ Sîn, Thâ Sîn Mîm, Hâ Mîm `Ain Sîn Qâf”, dan kalam Allah itu bukanlah hanya sekedar makna tanpa huruf, dan bukan pula hanya huruf-huruf saja tanpa makna, tetapi huruf dan maknanya adalah kalam Allah itu sendiri.

(Yang diturunkan) dari sisi Allah—‘Azza wajalla—(Kepada Rasul yang terpilih, sebaik-baik manusia) Muhammad SAW. Allah SWT berfirman: “Katakanlah (hai orang-orang mukmin): ‘Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismâ`îl, Ishâq, Ya’qûb dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun diantara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.” [QS. Al-Baqarah: 136]. Dan berfirman: “Dialah yang menurunkan Al-Kitab (Al Quran) kepada kamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok isi Al-Quran dan yang lain (ayat-ayat) mutasyâbihât. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: ‘Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami’…”  [QS. Âli `Imrân: 7]. Dan berfirman: “Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu…” [QS. An-Nisâ’: 105].

Dan berfirman: “Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thâghût, padahal mereka telah diperintah mengingkari thâghût itu…” [QS. An-Nisâ’: 60]. Dan berfirman: “Wahai orang-orang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya.

Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya..” [QS. An-Nisâ’: 136]. Dan berfirman: “Rasul telah beriman kepada Al-Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya…” [QS. Al-Baqarah: 285]. Dan berfirman: “Katakanlah: ‘Barangsiapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (Al-Quran) ke dalam hatimu dengan seizin Allah; membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman.” [QS. Al-Baqarah: 97]. Dan berfirman: “Hai orang-orang yang telah diberi Al-Kitab, berimanlah kalian kepada apa yang telah Kami turunkan (Al-Quran) yang membenarkan Kitab yang ada pada kamu sebelum Kami mengubah muka(mu), lalu Kami putarkan ke belakang…” [QS. An-Nisâ’: 47]. Dan berfirman: “Dan sesungguhnya diantara ahli kitab ada orang yang beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kamu dan yang diturunkan kepada mereka sedang mereka khusyuk kepada Allah…” [QS. Âli `Imrân: 199]. Dan berfirman: “Tetapi orang-orang yang mendalam ilmunya di antara mereka dan orang-orang mukmin, mereka beriman kepada apa yang telah diturunkan kepadamu (Al Quran) dan apa yang telah diturunkan sebelum kamu…” [QS. An-Nisâ’: 162]. Dan berfirman: “Tetapi Allah menjadi saksi atas Al-Quran yang diturunkan-Nya kepadamu. Allah menurunkannya dengan ilmu-Nya; dan malaikat-malaikat pun menjadi saksi (pula). Cukuplah Allah yang menjadi saksi.” [QS. An-Nisâ’: 166]. Dan berfirman: “Hai manusia, sungguh telah datang kepada kalian bukti kebenaran dari Tuhanmu. Dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (Al-Quran).” [QS. An-Nisâ’: 174]. Dan berfirman: “..Dan ingatlah nikmat Allah padamu, dan apa yang telah diturunkan Allah kepadamu yaitu Al-Kitab dan Al-Hikmah (Sunnah). Allah memberi pengajaran kepadamu dengan apa yang diturunkan-Nya itu…” [QS. Al-Baqarah: 231]. Dan berfirman: “Dan Kami telah turunkan kepadamu Al-Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu…” [QS. Al-Mâ’idah: 48]. Dan berfirman: “Katakanlah: ‘Hai Ahli Kitab, apakah kamu memandang kami salah, hanya lantaran kami beriman kepada Allah, dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan kepada apa yang diturunkan sebelumnya…” [QS. Al-Mâ’idah: 59]. Dan berfirman: “Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia…” [QS. Al-Mâ’idah: 67]. Dan berfirman: “Dan ini (Al-Quran) adalah kitab yang telah Kami turunkan yang diberkahi; membenarkan kitab-kitab yang (diturunkan) sebelumnya dan agar kamu memberi peringatan kepada (penduduk) Ummul Qura (Mekah) dan orang-orang yang di luar lingkungannya…” [QS. Al-An`âm: 92]. Dan berfirman: “Maka patutkah aku mencari hakim selain daripada Allah, padahal Dialah yang telah menurunkan kitab (Al-Quran) kepadamu dengan terperinci? Orang-orang yang telah Kami datangkan kitab kepada mereka, mereka mengetahui bahwa Al-Quran itu diturunkan dari Tuhanmu dengan sebenarnya. Maka janganlah kamu sekali-kali termasuk orang yang ragu-ragu.” [QS. Al-An`âm: 114]. Dan berfirman: “Dan Al-Quran itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka ikutilah dia…” [QS. Al-An`âm: 155]. Dan berfirman: “Alif lâm mîm shâd. Ini adalah sebuah kitab yang diturunkan kepadamu, maka janganlah ada kesempitan di dalam dadamu karenanya, supaya kamu memberi peringatan dengan kitab itu (kepada orang kafir), dan menjadi pelajaran bagi orang-orang beriman. Ikutilah apa yang diturunkan kepada kalian dari Tuhan kalian dan janganlah kalian mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikitlah kalian mengambil pelajaran (daripadanya)..” [QS. Al-A`râf: 1-3].

Dan berfirman: “Dan jika kalian masih ragu tentang Al-Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), datangkanlah satu surat saja yang semisal Al-Quran itu dan ajaklah penolong-penolong kalian selain Allah jika kalian orang-orang yang benar.” [QS. Al-Baqarah: 23]. Dan berfirman: “Dan apabila diturunkan suatu surat (yang memerintahkan kepada orang munafik itu): ‘Berimanlah kalian kepada Allah dan berjihadlah beserta Rasul-Nya’, niscaya mereka yang (sebenarnya) memiliki kesanggupan akan meminta izin kepadamu (untuk tidak ikut berjihad)…” [QS. At-Taubah: 86]. Dan berfirman: “Dan apabila diturunkan suatu surat maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata: ‘Siapakah di antara kalian yang bertambah imannya dengan (turannya) surat ini?’ Adapun orang-orang yang beriman maka surat ini menambah keimanan mereka…” [QS. At-Taubah: 124]. Dan berfirman: “Dan apabila diturunkan satu surat, sebagian mereka memandang kepada yang lain (sambil berkata): ‘Adakah seseorang (dari orang-orang muslimin) yang melihat kalian?’ Sesudah itu merekapun berlalu…” [QS. At-Taubah: 127]. Dan berfirman: “Jika mereka yang kamu seru itu tidak menerima seruanmu itu maka ketahuilah sesungguhnya Al-Quran itu diturunkan dengan ilmu Allah…” [QS. Hûd: 14]. Dan berfirman: “Alif, lâm râ. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya yang terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.” [QS. Ibrâhîm: 1]. Dan berfirman: “Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al-Quran dengan berbahasa Arab agar kalian memahaminya.” [QS. Yûsuf: 2]. Dan berfirman: “Alif lâm mîm râ. Ini adalah ayat-ayat Al-Kitab (Al Quran), dan Kitab yang diturunkan kepadamu daripada Tuhanmu itu adalah kebenaran…” [QS. Ar-Ra`d: 1]. Dan berfirman: “Dan demikianlah Kami telah menurunkan Al-Quran itu sebagai hukum (yang benar) dalam bahasa Arab…” [QS. Ar-Ra`d: 37]. Dan berfirman: “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Quran dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” [QS. Al-Hijr: 9]. Dan berfirman: “Dia menurunkan para malaikat dengan (membawa) wahyu dengan perintah-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya, yaitu: ‘Peringatkanlah olehmu sekalian, bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka hendaklah kamu bertakwa kepada-Ku.” [QS. An-Nahl: 2]. Dan berfirman: “Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu…” [QS. An-Nahl: 89]. Dan berfirman: “Dan tidaklah Kami menurunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Quran) ini melainkan agar engkau dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu..” [QS. An-Nahl: 64]. Dan berfirman: “Dan Kami turunkan kepadamu Al-Quran agar engkau menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka…” [QS. An-Nahl: 44]. Dan berfirman: “Dan apabila Kami letakkan suatu ayat di tempat ayat yang lain sebagai penggantinya padahal Allah lebih mengetahui apa yang diturunkan-Nya, mereka berkata: ‘Sesungguhnya kamu adalah orang yang mengada-adakan saja’. Bahkan kebanyakan mereka tiada mengetahui. Katakanlah: ‘Rûhul Qudus (Jibril) menurunkan Al-Quran itu dari Tuhanmu dengan benar untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang telah beriman dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).” [QS. An-Nahl: 101-102]. Dan berfirman: “Dan Kami turunkan (Al-Quran) itu dengan sebenar-benarnya dan Al-Quran itu telah turun dengan (membawa) kebenaran. Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. Dan Al-Quran itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian.” [QS. Al-Isrâ’: 105-106]. Dan berfirman: “Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al-Kitab (Al-Quran) dan Dia tidak mengadakan kebengkokan di dalamnya.” [QS. Al-Kahf: 1].

Dan berfirman: “Sesungguhnya telah Kami turunkan kepada kalian sebuah kitab yang di dalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagi kalian. Maka apakah kalian tiada memahaminya?” [QS. Al-Anbiyâ’: 10]. Dan berfirman: “Dan Al-Quran ini adalah suatu kitab (peringatan) yang mempunyai berkah yang telah Kami turunkan. Maka mengapakah kalian mengingkarinya?” [QS. Al-Anbiya’: 50]. Dan berfirman: “Dan demikianlah Kami telah menurunkan Al-Quran yang merupakan ayat-ayat yang nyata, dan bahwasanya Allah memberikan petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki.” [QS. Al-Hajj: 16]. Dan berfirman: “Dan demikianlah Kami menurunkan Al-Quran dalam bahasa Arab, dan Kami telah menerangkan di dalamnya sebagian dari ancaman…” [QS. Thâhâ: 113]. Dan berfirman: “Dan sungguh Kami telah menurunkan kepada kalian ayat-ayat yang memberi penerangan, dan contoh-contoh dari orang-orang yang terdahulu sebelum kalian dan pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.” [QS. An-Nûr: 34]. Dan berfirman: “Sesungguhnya Kami telah menurunkan ayat-ayat yang menjelaskan. Dan Allah memimpin siapa yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.” [QS. An-Nûr: 46]. Dan berfirman: “Mahasuci Allah yang telah menurunkan Al-Furqân (Al-Quran) kepada hamba-Nya agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.” [QS. Al-Furqân: 1]. Dan berfirman: “Katakanlah: ‘Al-Quran itu diturunkan oleh (Allah) yang mengetahui rahasia di langit dan di bumi. Sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [QS. Al-Furqân: 6]. Dan berfirman: “Dan sungguh Al-Quran ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam. Dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril).  Ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan. Dengan bahasa Arab yang jelas.” [QS. Asy-Syu`arâ’: 192-195]. Dan berfirman: “Dan sesungguhnya kamu benar-benar diberi Al-Quran dari sisi (Allah) Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” [QS. An-Naml: 6]. Dan berfirman: “Thâ Sîn Mîm. Ini adalah ayat-ayat Al-Kitab (Al-Quran) yang nyata (dari Allah). Kami membacakan kepadamu sebagian dari kisah Musa dan Fir`aun dengan benar untuk orang-orang yang beriman.” [QS. Al-Qashash: 1-3]. Dan berfirman: “Dan apabila dikatakan kepada mereka: ‘Ikutilah apa yang diturunkan Allah’. Mereka menjawab: ‘(Tidak), tapi kami (hanya) mengikuti apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya’…” [QS. Luqmân: 21]. Dan berfirman: “Alif Lâm Mâm. Turunnya Al-Quran yang tidak ada keraguan di dalamnya, (adalah) dari Tuhan semesta alam.” [QS. As-Sajdah: 1-2]. Dan berfirman: “Dan ikutilah apa yang diwahyukan Tuhan kepadamu. Sungguh Allah adalah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” [QS. Al-Ahzâb: 2]. Dan berfirman: “Dan orang-orang yang diberi ilmu (Ahli Kitab) berpendapat bahwa wahyu yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itulah yang benar dan menunjuki (manusia) kepada jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.” [QS. Saba’: 6]. Dan berfirman: “(Sebagai wahyu) yang diturunkan oleh Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.” [QS. Yâsîn: 5]. Dan berfirman: “Kitab (ini) diturunkan dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” [QS. Al-Jâtsiyah: 2]. Dan berfirman: “Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan membawa kebenaran…” [QS. An-Nisâ’: 105]. Dan berfirman: “Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Al-Kitab (Al Quran) untuk manusia dengan membawa kebenaran…” [QS. Az-Zumar: 41]. Dan berfirman: “Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepada kalian dari Tuhan kalian…” [QS. Az-Zumar: 55]. Dan berfirman: “Hâ Mîm. Diturunkan Kitab ini (Al-Quran) dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.” [QS. Ghâfir: 1-2]. Dan berfirman: “Hâ Mîm. Diturunkan dari Tuhan Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” [QS. Fushshilat: 1-2]. Dan berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari Al-Quran ketika Al-Quran itu datang kepada mereka, (mereka itu pasti akan celaka), dan sesungguhnya Al-Quran itu adalah kitab yang mulia. Yang tidak datang kepadanya (Al-Quran) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Rabb Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji.” [QS. Fushshilat: 41-42].

Dan berfirman: “Dan Al-Quran itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka ikutilah dia…” [QS. Al-An`âm: 155]. Dan berfirman: “Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.” [QS. Shâd: 29]. Dan berfirman: “Hâ mîm. Demi Kitab (Al-Quran) yang menjelaskan. Sungguh Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi…” [QS. Ad-Dukhân: 1-3]. Dan berfirman: “Maka Aku bersumpah dengan masa turunnya bagian-bagian Al-Quran.  Sungguh sumpah itu adalah sumpah yang besar jika kalian mengetahui.  Sungguh Al-Quran ini adalah bacaan yang sangat mulia. Pada kitab yang terpelihara (Lauhul Mahfuzh). Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan. Diturunkan dari Rabbul ‘âlamîn.” [QS. Al-Wâqi`ah: 75-80]. Dan berfirman: “Sungguh Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al-Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan…” [QS. Al-Hadîd: 25]. Dan berfirman: “Dialah yang menurunkan kepada hamba-Nya ayat-ayat yang terang (Al-Quran)…” [QS. Al-Hadîd: 9]. Dan berfirman: “Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada cahaya (Al-Quran) yang telah Kami turunkan…” [QS. At-Taghâbun: 8]. Dan berfirman: “Dan sesungguhnya orang-orang kafir itu benar-benar hampir menggelincirkan kamu dengan pandangan mereka, tatkala mereka mendengar Al-Quran dan mereka berkata: ‘Sesungguhnya ia (Muhammad) benar-benar orang yang gila’. Dan Al-Quran itu tidak lain hanyalah peringatan bagi seluruh umat.” [QS. Al-Qalam: 51-52].

Dan berfirman: “Maka Aku bersumpah dengan apa yang kalian lihat.  Dan dengan apa yang tidak kalian lihat. Sungguh Al-Quran itu adalah benar-benar perkataan Rasul yang mulia.  Dan Al-Quran itu bukanlah perkataan seorang penyair. Sedikit sekali kalian beriman kepadanya. Dan bukan pula perkataan tukang tenung. Sedikit sekali kalian mengambil pelajaran daripadanya. Ia adalah wahyu yang diturunkan dari Tuhan semesta alam.” [QS. Al-Hâqah: 38-43]. Firman Allah SWT dalam ayat ini: “Sungguh Al-Quran itu adalah benar-benar perkataan Rasul yang mulia”, maksudnya rasul tersebut ialah Muhammad SAW. Sementara di dalam surat At-Takwîr (pada ayat yang serupa) maksud ‘rasul’ di sana adalah Jibril. Namun penisbatan Al-Quran (kepada Muhammad dan Jibril) dalam kedua ayat tersebut ialah nisbat penyampaian, karena merupakan tugas rasul (baik Muhammad maupun Jibril) adalah menyampaikan firman Tuhan yang mengutus mereka. Bukan berarti bahwa Al-Quran adalah kalam malaikat utusan atau manusia utusan. Hal ini dijelaskan oleh ayat berikutnya: “Ia adalah wahyu yang diturunkan dari Tuhan semesta alam”. Allah SWT juga berfirman: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Quran) pada malam kemuliaan (Lailatul Qadr).” [QS. Al-Qadr: 1]. Dan berfirman: “(Tuhan) Yang Maha Pemurah.  Yang telah mengajarkan Al-Quran.” [QS. Ar-Rahmân: 1-2]. Dan berfirman: “Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al-Quran ini kepadamu…” [QS. Yûsuf: 3]. Dan berfirman: “Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Quran) dengan perintah Kami.” [QS. Asy-Syûrâ: 52].

Ayat-ayat seputar hal ini sangat banyak sekali. Bahkan Al-Quran seluruhnya dari pembukaannya hingga penutupnya menjadi bukti bahwa ia adalah kalam Allah dan wahyu yang Dia turunkan. Kisah-kisahnya, ajaran-ajarannya, lafaz-lafaznya, makna-maknanya, kalimat-kalimatnya yang singat lagi pada serta kemukjizatannya, semuanya menunjukkan bahwa dia adalah kalam Sang Pencipta dan sifat-Nya.

Dan bahwa manusia seluruhnya tidak akan mampu mendatangkan meskipun hanya satu surat sepertinya. Hal ini telah diakui oleh segenap orang berakal bahkan oleh kaum musyrik sekalipun, sebagaimana dikatakan oleh seorang yang paling kafir dari kalangan Quraisy, yaitu Al-Walîd bin Al-Mughîrah, ketika Rasulullah SAW membacakan kepadanya Al-Quran. Iapun segera berbalik menunju kaumnya. Lalu Abu Jahal berkata: “Katakanlah (hai Walîd), kepada kaummu sebuah perkataan yang dapat membuat mereka mengingkari Al-Quran!” Al-Walîd menjadab: “Apa yang harus ku katakan tentangnya?! Karena demi Allah, tidak ada seorangpun dari kalian yang lebih tahu dariku tentang syair, tidak pula ada yang lebih paham dariku tentang rajaz dan qashîd-nya, bahkan syair-syair jin sekalipun. Demi Allah, apa yang dia (Muhammad) ucapkan itu tidak menyerupai sedikitpun dari gaya-gaya syair tersebut. Demi Allah, sungguh apa yang dia ucapkan itu sangat manis, sungguh ia memiliki keindahan, sungguh puncaknya berbuah (agung maknanya), akarnya menghujam kuat (merenggut segenap hati), sungguh dia tinggi dan tiada dapat dilampaui, dan sungguh ia menghancurkan ungkapan-ungkapan lain dibawahnya.” Abu Jahal kembali berkata: “Tetapi kaummu tidak sudi kepadamu (karena pujianmu terhadap Al-Quran), sampai engkau mengatakan hal buruk tentangnya.” Al-Mugîrah menjawab: “Biarkanlah aku berpikir tentangnya.” Setelah berpikir ia berkata: “Ini tidak lain hanyalah sihir yang mempengaruhi.” Lalu turunlah firman Allah: “Biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang Aku telah ciptakan ia sendirian.   Dan Aku jadikan baginya harta benda yang banyak.” [QS. Al-Muddatstsir: 11-12]. [HR. Al-Baihaqî, dan lain-lain].[12]

Diriwayatkan pula (hadis ini) dari `Utbah ketika Rasulullah SAW membacakan kepadanya surat Hâ Mîm As-Sajdah, mirip dengan redaksi riwayat di atas.[13] Demikian pula Abu Jahal—semoga Allah memburukkannya. Dengan demikian jelaslah bahwa perkataan mereka: Al-Quran adalah sihir, syair, perdukunan dan sebagainya hanyalah kebohongan mereka semata-mata. Mereka berkata demikian lantaran sikap keras kepala dan pengingkaran mereka, karena sebenarnya mereka yakin bahwa Al-Quran bukanlah sesuatu yang berada di bawah kemampuan manusia.

Adapun kami dan seluruh Ahlussunnah wal Jamâ`ah bersaksi kepada Allah yang telah menurunkan Al-Quran dengan ilmu-Nya dan Dia sendiri menyaksikan hal itu, dan kami bersaksi kepada para malaikat-Nya yang juga menyaksikan hal itu, dan kami bersaksi kepada Rasul-Nya yang kepadanya Al-Quran diturunkan dan beliau telah menyampaikannya kepada umat, dan kami bersaksi kepada seluruh kaum Mukminin yang meyakini dan mengimani Al-Quran, bahwasanya kami beriman dan percaya serta bersaksi bahwa Al-Quran itu adalah kalam Allah—`Azza wajalla—dan wahyu-Nya, dan bahwa Dia memfirmankannya secara ucapan dan menurunkannya kepada Rasul-Nya sebagai wahyu. Kami tidak mengatakan bahwa Al-Quran adalah hikayat atau ibarat tentang kalam Allah—`Azza wajalla—(yakni tidak difirmankan dalam bentuk ucapan). Tetapi huruf-huruf dan makna-makna Al-Quran itu adalah kalam Allah itu sendiri, dibawa turun dari sisi-Nya oleh Ar-Rûh Al-Amîn (Jibril AS), kepada Muhammad penutup para rasul, dan keduanya hanya menyampaikan dari Allah—`Azza wajalla. Dan tentu saja kalam itu adalah milik pengucapnya pertama kali, bukan milik penyampainya. Allah SWT berfirman: “Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika kamu tidak mengerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia…” [QS. Al-Mâ’idah: 67]. Dan berfirman: “Dan taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul-Nya, jika kalian berpaling sesungguhnya kewajiban Rasul Kami hanyalah menyampaikan (kalam Allah) dengan terang.” [QS. At-Taghâbun: 12]. Dan berfirman: “Dan jika kalian berpaling maka sesungguhnya kewajiban rasul itu adalah menyampaikan apa yang dibebankan kepadanya, dan kewajiban kalian sekalian adalah apa yang dibebankan kepada kalian. Dan jika kalian taat kepadanya niscaya kalian mendapat petunjuk, dan tidak lain kewajiban rasul itu melainkan menyampaikan (kalam Allah) dengan terang.” [QS. An-Nûr: 54]. Dan berfirman: “Jika mereka berpaling maka Kami tidak mengutus kamu sebagai pengawas bagi mereka. Kewajibanmu tidak lain hanyalah menyampaikan (kalam Allah)…” [QS. Asy-Syûrâ: 48]. Dan berfirman: “Katakanlah: ‘Sungguh aku sekali-kali tiada seorangpun dapat melindungiku dari (azab) Allah dan sekali-kali aku tiada akan memperoleh tempat berlindung selain daripada-Nya. Akan tetapi (aku hanya) menyampaikan (firman) dari Allah dan risalah-Nya…” [QS. Al-Jin: 22-23]. Ayat-ayat tentang hal ini sangatlah banyak. Allah SWT mengabarkan tentang Rasul-Nya bahwa dia hanyalah penyampai dari-Nya, menunaikan apa yang menjadi risalahnya. Hal ini juga diketahui oleh semua orang dari kata “rasul (utuasn)” itu sendiri, karena seorang yang disebut rasul/utusan tentu karena ada yang mengutusnya. Yang mengutus adalah Allah SWT, risalah yang dibawa adalah Al-Quran dan yang diutus adalah Muhammad SAW yang menyampaikan risalah Tuhannya.

Anas berkata: “Nabi SAW pernah mengutus khâlah (saudara ibu) beliau, Harâm, kepada kaumnya, lantas ia berkata: ‘Apakah kalian mempercayaiku menyampaikan pesan Rasulullah SAW?’ Lalu ia berbicara (menyampaikan pesan Nabi) kepada mereka.”[14] Al-Mughîrah RA berkata: “Telah mengabarkan kepada kami Nabi kami tentang risalah Tuhannya bahwa siapa yang terbunuh di antara kami ia akan menjadi penduduk Surga.”[15] Diriwayatkan pula dari `Âisyah RA, ia berkata: “Siapa orang yang mengatakan kepadamu bahwa Nabi SAW menyembunyikan sesuatu dari wahyu maka janganlah engkau percaya kepadanya. Sungguh Allah—Ta`âlâ—berfirman: ‘Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika kamu tidak mengerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya’.”[16] Dan dalam khutbah beliau di tempat wukuf Haji Akbar, beliau bersabda: “Kalian akan ditanya tentangku, dan apakah jawaban kalian? Mereka menjawab: Kami bersaksi bahwa Anda telah menyampaikan, menunaikan dan memberi nasihat”,dan dalam riwayat ini beliau mengisyaratkan tangannya ke langit sambil bersabda: “Ya Allah, bukankah Aku telah sampaikan? Ya Allah, saksikanlah.” Beliau mengucapkannya berkali-kali.[17]

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَامَ فِينَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ ذَاتَ يَوْمٍ، فَذَكَرَ الْغُلُولَ، فَعَظَّمَهُ وَعَظَّمَ أَمْرَهُ، ثُمَّ قَالَ: لَا أُلْفِيَنَّ أَحَدَكُمْ يَجِيءُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى رَقَبَتِهِ بَعِيرٌ لَهُ رُغَاءٌ، يَقُولُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَغِثْنِي، فَأَقُولُ: لَا أَمْلِكُ لَكَ شَيْئًا، قَدْ أَبْلَغْتُكَ. لَا أُلْفِيَنَّ أَحَدَكُمْ يَجِيءُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى رَقَبَتِهِ فَرَسٌ لَهُ حَمْحَمَةٌ، فَيَقُولُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَغِثْنِي، فَأَقُولُ: لَا أَمْلِكُ لَكَ شَيْئًا، قَدْ أَبْلَغْتُكَ. لَا أُلْفِيَنَّ أَحَدَكُمْ يَجِيءُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى رَقَبَتِهِ شَاةٌ لَهَا ثُغَاءٌ، يَقُولُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَغِثْنِي، فَأَقُولُ: لَا أَمْلِكُ لَكَ شَيْئًا، قَدْ أَبْلَغْتُكَ. لَا أُلْفِيَنَّ أَحَدَكُمْ يَجِيءُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى رَقَبَتِهِ نَفْسٌ لَهَا صِيَاحٌ، فَيَقُولُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَغِثْنِي، فَأَقُولُ: لَا أَمْلِكُ لَكَ شَيْئًا، قَدْ أَبْلَغْتُكَ. لَا أُلْفِيَنَّ أَحَدَكُمْ يَجِيءُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى رَقَبَتِهِ رِقَاعٌ تَخْفِقُ، فَيَقُولُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَغِثْنِي، فَأَقُولُ: لَا أَمْلِكُ لَكَ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا، قَدْ أَبْلَغْتُكَ.لَا أُلْفِيَنَّ أَحَدَكُمْ يَجِيءُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى رَقَبَتِهِ صَامِتٌ، فَيَقُولُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَغِثْنِي، فَأَقُولُ: لَا أَمْلِكُ لَكَ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا، قَدْ أَبْلَغْتُكَ». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

Dan diriwayatkan dari Abû Hurairah RA, ia berkata: “Suatu hari Rasulullah berdiri di tengah kami dan bersabda tentang ghulûl (harta rampasan perang yang diambil tanpa sepengetahuan pemimpin), membesarkan urusan (kesalahan)-nya, kemudian bersabda: ‘Janganlah aku temukan seorang di antara kalian datang pada hari Kiamat sementara di atas lehernya (ia memikul) unta yang bersuara. Ia berkata: Wahai Rasulullah, tolonglah aku! Akupun menjawab: Aku tidak bisa menolongmu. Aku telah sampaikan (keharaman mengambil ghulûl).’ Janganlah aku temukan seorang di antara kalian datang pada hari Kiamat sementara di atas lehernya (ia memikul) kuda yang meringkik. Ia berkata: Wahai Rasulullah, tolonglah aku! Akupun menjawab: Aku tidak bisa menolongmu. Aku telah sampaikan. Janganlah aku temukan seorang di antara kalian datang pada hari Kiamat sementara di atas lehernya (ia memikul) kambing yang mengembek. Ia berkata: Wahai Rasulullah, tolonglah aku! Akupun menjawab: Aku tidak bisa menolongmu. Aku telah sampaikan. Janganlah aku temukan seorang di antara kalian datang pada hari Kiamat sementara di atas lehernya (ia memikul) budak yang berteriak. Ia berkata: Wahai Rasulullah, tolonglah aku! Akupun menjawab: Aku tidak bisa menolongmu. Aku telah sampaikan. Janganlah aku temukan seorang di antara kalian datang pada hari Kiamat sementara di atas lehernya (ia memikul) pakaian yang bersuara (seperti tertiup angin). Ia berkata: Wahai Rasulullah, tolonglah aku! Akupun menjawab: Aku tidak bisa menolongmu. Aku telah sampaikan. Janganlah aku temukan seorang di antara kalian datang pada hari Kiamat sementara di atas lehernya (ia memikul tumpukan) emas. Ia berkata: Wahai Rasulullah, tolonglah aku! Akupun menjawab: Aku tidak bisa menolongmu. Aku telah sampaikan.” [HR. Al-Bukhârî dan Muslim].[18]

وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَعْرِضُ نَفْسَهُ عَلَى الْقَبَائِلِ فِي الْمَوَاسِمِ، وَيَقُولُ: إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ، تَمْنَعُونِي حَتَّى أُبَلِّغَ رِسَالَةَ رَبِّي

Nabi SAW juga menawarkan dirinya kepada kabilah-kailah pada musim haji dan bersabda: “Sungguh aku adalah utusan Allah,  dan aku mendatangi kalian agar kalian melindungiku untuk menyampakan risalah Tuhanku”[19], dan hadits-hadits lainnya. Nabi SAW mengabarkan bahwa dirinya hanyalah pembawa berita penyampai risalah Tuhannya, dan bahwa segala yang beliau perintahkan, segala yang beliau larang dan segala yang beliau kabarkan adalah tablig (penyampaian) daripada perintah, larangan dan berita dari Allah. Beliau tidak mengatakan sesuatu dari dirinya sendiri lalu mengatakan: itu dari Allah. Siapa yang meyakini hal itu maka dia telah kafir, tergolong ke dalam kelompok Abu Jahal dan Al-Walîd bin Al-Mughîrah serta para pengikut mereka. Allah SWT berfirman: “Seandainya dia (Muhammad) mengadakan sebagian perkataan atas (nama) Kami. Niscaya benar-benar Kami pegang dia pada tangan kanannya. Lalu benar-benar Kami potong urat tali jantungnya. Maka sekali-kali tidak ada seorangpun dari kalian yang dapat menghalangi (Kami), dari pemotongan urat nadi itu. Dan sungguh Al-Quran itu benar-benar suatu pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. Dan sungguh Kami benar-benar mengetahui bahwa di antara kalian ada orang yang mendustakan(nya). Dan sungguh Al-Quran itu benar-benar menjadi penyesalan bagi orang-orang kafir (di akhirat). Dan sungguh Al-Quran itu benar-benar kebenaran yang diyakini. Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Maha Besar.” [QS. Al-Hâqqah: 44-52].

(Bukan makhluk) sebagimana pendapat kaum Zindik dari kalangan Hulûliyyah, Ittihâdiyyah[20], Jahmiyyah, Muktazilah, dan lain-lain; mahasuci Allah SWT bahwa sifat-sifat-Nya adalah makhluk. Allah SWT berfirman: “Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al-Quran) dengan perintah Kami…” [QS. Asy-Syûrâ: 52]. Dan berfirman: “Ingatlah, menciptakan dan memerintah (firman) hanyalah hak Allah…” [QS. Al-A‘râf: 54]. Dan berfirman: “Sungguh perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: ‘Jadilah!’ maka terjadilah ia.” [QS. Yâsîn: 83]. Allah SWT mengabarkan bahwa penciptaan berbeda dengan perintah (firman), dan bahwa Al-Quran adalah bagian dari perintahnya bukan ciptaan-Nya. Dia berfirman: “Sungguh perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya: ‘kun (jadilah)’, maka jadilah ia.” [QS. An-Nahl: 40]. Maka kata “Kun (jadilah)” adalah kalam-Nya yang merupakan sifat-Nya, bukan makhluk, tetapi sesuatu yang dikehendaki dan dikatakan kepadanya kata “Kun” itulah yang makhluk. Dan berfirman: “Sesungguhnya perumpamaan (penciptaan) Isa di sisi Allah adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: ‘Jadilah’ (seorang manusia), maka jadilah dia.” [QS. Âli ‘Imrân: 59]. Maka Isa dan Adam adalah dua makhluk yang diciptakan dengan ungkapan “Kun”, dan “Kun” adalah kalam Allah, sifat di antara sifat-sifat-Nya. “Makhluk” bukanlah “Kun” itu sendiri, tetapi “makhluk” itu terjadi dengan ucapan Allah: “Kun”.

Dan telah terjadi ijmak dari generasi Salaf Umat ini—yang memfatwakan kebenaran dan dengan kebenaran mereka berfatwa—tentang kafirnya seorang yang mengatakan Al-Quran adalah makhluk. Karena perkataan mereka ini tidak terlepas dari tiga hal yaitu: mereka berkata bahwa Tuhan menciptakan kalam pada zat-Nya, atau (menciptakannya) pada zat yang lain, atau (menciptakannya) terpisah sendiri (tidak melekat pada zat apapun), dan ketiga hal tersebut adalah kekufuran yang nyata. Sebab jika ia mengatakan: Tuhan menciptakan kalam pada zatnya maka ia telah menjadikan Zat Tuhan sebagai tempat bagi makhluk-makhluk. Jika ia mengatakan: Tuhan menciptakan kalam-Nya pada zat yang lain maka kalam itu adalah kalam milik zat yang lain tersebut, sehingga atas dasar ini Al-Quran adalah kalam bagi siapa saja yang membacanya. Ini adalah pendapat Al-Walîd bin Al-Mughîrah yang dihikayatkan oleh Allah SWT dalam firman-Nya: “Sesungguhnya dia telah memikirkan dan menetapkan (apa yang ditetapkannya).  Maka celakalah ia! Bagaimana bisa ia menetapkan itu. Kemudian celakalah ia! Bagaimana bisa da menetapkan itu. Kemudian ia memikirkan. Sesudah itu ia bermuka masam dan merengut. Lalu ia berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri. Kemudian ia berkata: ‘(Al-Quran) ini tak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu). Ini tidak lain hanyalah perkataan manusia’. Aku akan memasukkannya ke dalam (neraka) Saqar. Tahukah kamu apakah (neraka) Saqar itu. Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan. (Neraka Saqar) adalah pembakar kulit manusia.” [QS. Al-Muddatstsir: 18-29 ].

Jika ia mengatakan: Tuhan menciptakan kalam secara tersendiri dan terpisah (dari zat) maka ini adalah pengingkaran terhadap wujud kalam Tuhan itu sendiri, sebab mustahil dan tidak masuk akal adanya ucapan saja tanpa pengucapnya, sebagaimana tidak masuk akal adanya sifat mendengar saja tanpa zat yang mendengar, sifat melihat saja tanpa zat yang melihat, sifat ilmu saja tanpa zat yang berilmu, sifat ingin saja tanpa zat yang menginginkan, sifat hidup saja tanpa ada zat yang hidup, dan seterusnya. Mahatinggi Allah setinggi-tingginya dari apa-apa yang dikatakan oleh orang-orang zalim dan ingkar itu. Ketiga hal ini tidak dapat dipungkiri oleh seorang zindik dan tidak ada jawaban baginya. Maka bungkamlah orang-orang yang kafir itu, dan Allah tidak memberi hidayah kepada orang-orang yang zalim. Maka dimusnahkan orang-orang yang zalim itu sampai ke akar-akarnya, dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.


[1] Sahih. Diriwayatkan oleh Abû Dâwûd dalam Al-Marâsîl (3/103); dan oleh At-Tirmidziy (5/177/no.2912) dan kitâb Fadhâ’il al-Qur’ân, bâb: Mâ jâ’a fî man qora’a harfan min al-Qur’ân mâ lahû min al-ajr; dan oleh Ahmad dalam kitab Az-Zuhd (h.35) tentang kezuhudan Yunus AS. Semua riwayat tersebut dari jalur Abdurrahmân bin Mahdi, dari Mu`âwiyah bin Shâlih, dari Al-`Alâ’ bin Al-Hârits, dari Zaid bin Artha’ah, dari Jubair bin Nufair secara marfû’. Hadis ini adalah hadis mursal, karena Jubair bin Nufair adalah seorang Tâbi`î yang terpercaya. Namun hadis ini diriwayatkan pula secara bersambung dari jalur Ibnu Mahdi dalam kitab Al-Hâkim (1/555); dan Al-Baihaqy dalam kitab Al-Asmâ’ wa Ash-Shifât (h.236), dari Abu Dzarr. Al-Hakim berkomentar (tentang hadis ini): “Sahih, tapi tidak dikeluarkan oleh Al-Bukhâri dan Muslim.” Dan penilaian Al-Hâkim ini disetujui oleh Adz-Dzahaby.

Dikeluarkan pula oleh Al-Hâkim dari jalur Abdullâh bin Shâlih, dari Mu`âwiyah dengan redaksi yang sama, tetapi dari jalur `Uqbah bin `Âmir (2/441), namun Abdullâh bin Shâlih banyak kelirunya. 

Hadis ini memiliki syahid dari riwayat Abû Umâmah RA, dan di dalamnya disebutkan: “Tiadalah para hamba mendekatkan diri kepada Allah dengan sesuatu (yang lebih bagus) dari apa yang keluar dari-Nya.” Dikeluarkan oleh Ahmad dalam Musnadnya (5/268); At-Tirmidzi (5/176/no.2911); Abdullâh Al-Khathîb (7/88, dan 121/220, dalam Târîkh-nya). Tetapi di dalam sanadnya terdapat Bakr bin Khunais: ia seorang yang jujur tetapi memiliki beberapa kekeliruan riwayat. Laits bin Abû Sulaim juga seorang yang jujur tetapi kabur hafalannya sehingga hadisnya tidak jelas, maka riwayatnya ditinggalkan.

[2] Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (5/184/no.2926), dalam Fadhâ’il Al-Qur’ân, bâb: 25; Abdullâh dalam As-Sunnah (no.128); Ad-Dârimy dalam Ar-Radd `âl al-Jahmiyyah (no.285); Ibnu Abî Hâtim dalam Al-`Ilal (2/82); Ibnu Hibbân dalam Adh-Dhu`afâ’ (2/277); dan Al-Baihaqy dalam Al-I`tiqâd (h. 101-102) dan Al-Asmâ’ wa Ash-Shifât (h.238). Sanad hadis ini daif, karena di dalamnya terdapat Muhammad bin Al-Hasan bin Abî Yazîd Al-Hamadzâniy dan ia seorang yang daif. Dan juga `Athiyyah Al-`Aufy, ia seorang yang banyak kelirunya, sering menyampaikan riwayat secara irsâl dan `an`anah.

[3] Ibnu Khuzaimah dalam At-Tauhîd (h.166). Diriwayatkan pula oleh Al-Bukhâry dalam Khalq Af`âl al-`Ibâd (no.92); Abdullah dalam As-Sunnah (no.116); Al-Baihaqy dalam Al-I`tiqâd (h.37) dan dalam Al-Asmâ’ wa Ash-Shifât (h.239); serta Ibnu Al-Atsîr dalam Usd al-Ghâbah (4/598). Ibnu Hajar bekata: “Sanad hadis ini adalah orang-orang yang terpercaya.” (Al-Ishâbah 3/579).

[4] Diriwayatkan oleh Abdullah dalam As-Sunnah (no.110) dan sanadnya adalah orang-orang yang terpercaya.

[5] Dikeluarkan oleh Abdullah dalam As-Sunnah (no.118); Al-Âjurry dalam Asy-Syarî`ah (h.77); serta Al-Baihaqy dalam Al-Asmâ’ wa Ash-Shifât (h.312), dan di dalam sanadnya terdapat Laits bin Abî Sulaim, dia seorang yang daif.

[6] Dikeluarkan oleh Ibnu Abî Syaibah dalam Mushannaf-nya (10/510); Abdullah dalam As-Sunnah (no.96, 111); Al-Âjurry dalam Asy-Syarî`ah (h.77); serta Al-Baihaqy dalam Al-Asmâ’ wa Ash-Shifât (h.311) dan beliau berkata: “Ini adalah sanad yang sahih.” Komentar saya: Memang demikian.

[7] Dikeluarkan oleh Ad-Darimiy dalam Ar-Radd `ala al-Jahmiyyah (no.360); Abdullah dalam As-Sunnah (no.119); Al-Baihaqy dalam Al-Asmâ’ wa Ash-Shifât (h.241), dan di dalam sanadnya terdapat Mujâlid bin Sa`îd bin `Umair Al-Hamdzâniy, ia seorang yang tidak terlalu kuat (hafalannya), dan di akhir umuarnya banyak berubah (hafalannya).

[8] Dikeluarkan oleh Abdullâh dalam As-Sunnah (h.121); Al-Baihaqy dalam Al-Asmâ’ wa Ash-Shifât (h.241) dan sanadnya sahih. Diriwayatkan pula oleh Al-Bukhary dengan redaksi: “Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitab Allah”, dalam Al-Adab Al-Mufrad, Bâb Al-Hadyu Ash-Shâlih (10/509).

[9] Telah disebutkan sebelumnya khutbah beliau ini.

[10] Dikeluarkan oleh Abdullâh dalam As-Sunnah (no.122), dari hadis riwayat Ma`mar, ia berkata: “Telah menyampaikan hadis kepada kami Sufyân, ia berkata: Telah berkata `Utsmân.” Sanad hadis ini munqathi` (terputus). Dan diriwayatkan oleh Al-Baihaqy dalam Al-Asmâ’ wa Ash-Shifât (h.313) dari jalur Sufyân, dari Al-Hasan, dari `Utsmân. Tetapi Al-Hasan tidak pernah mendengar langsung dari `Utsmân.

[11] Dikeluarkan oleh Abdullâh dalam As-Sunnah (no.125), dan di dalam sanadnya terdapat Ibrâhîm bin Ismâ`îl bin Kuhail Abû Ishâq Al-Kûfy, dan dia seorang yang daif.

[12] Dikeluarkan oleh Al-Hâkim (2/506) dan beliau berkata: “Ini adalah hadis yang sahih sanadnya sesuai syarat Al-Bukhârî, tetapi beliau berdua (Al-Bukhârî dan Muslim) tidak mengeluarkannya.” Penilainya Al-Hâkim ini disetujui oleh Adz-Dzahabi, dan demikianlah adanya seperti yang beliau katakan. Dan diriwayatkan pula oleh Al-Baihaqî dalam kitab Dalâ’il An-Nubuwwah (2/198-199), dari jalur Al-Hâkim seperti riwayat di atas.

[13] Diriwayatkan oleh `Abd bin Humaid dalam Musnad-nya, (Al-Bidâyah wa An-Nihâyah, 3/62), dari jalur `Alî bin Mushir dari Al-Ajlah, dari Adz-Dzayyâl bin Harmalah, dari Jâbir dengan redaksi tersebut. Dan `Alî bin Mushir seorang yang tsiqah, tetapi memiliki beberapa riwayat aneh, setelah tua. Adapun Adz-Dzayyâl bin Harmalah: dia tidak di-tsiqah-kan kecuali oleh Ibnu Hibbân (Ats-Tsiqât, 4/222). Dan dari jalur Al-Ajlah, dan dari jalurnya dengan redaksi yang sama diriwayatkan oleh Al-Baihaqî dalam Dalâ’il An-Nubuwwah (2/202). 

[14] Al-Bukhârî (7/385) dalam Al-Maghâzî, Bâb: Gazwah ar-Rajî`, Ra`l, Dzakwan, Bi’r Ma`ûnah; dan Ahmad (3/210).

[15] Al-Bukhârî (13/258) dalam “Al-Jizyah, Bâb Al-Jizyah wa al-Muwâda`ah ma`a Ahlidzdzimmah, dan dalam At-Tauhîd Bâb Qaulullâhi Ta`âlâ: Yâ ayyuhar-Rasûlu ballig mâ unzila ilaika min Rabbik.” (13/503)

[16] Al-Bukhârî (13/258) dalam At-Tauhîd Bâb Qaulullâhi Ta`âlâ: Yâ ayyuhar-Rasûlu ballig mâ unzila ilaika min Rabbik.” Dan Muslim (1/159/no.177) dalam Al-Îmân, Bâb: Ma`nâ qaulillâhi—`Azza wajalla: ‘Dan sungguh Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupa aslinya) pada waktu yang lain’ [QS. An-Najm: 14]

[17] Redaksi hadits ini adalah riwayat Abû Dâwûd (2/182/no. 1905), dalam Al-Manâsik, Bâb: Sifat hajjatin-Nabi SAW. Dan diriwayatan pula oleh Ibnu Mâjah (2/1022/no. 3074) dalam Al-Manâsik, Bâb: Sifat Hajjati Rasûlillâh SAW, dengan sanad sahih.

[18]  Al-Bukhârî (6/185) dalam Al-Jihâd, Bâb: Al-Ghulûl; dan Muslim (3/1461/no. 1831) dalam Al-Imârah, Bâb: Ghilazh al-Ghulûl.

[19] Diriwayatkan oleh At-Tirmidzî (5/183/no.2925), dalam Fadhâ’il al-Qur’ân, Bâb: 24, dan beliau berkomentar: “Hadis ini gharîb-shahîh; dan diriwayatkan oleh Abû Dâwûd (4/234/4734) dalam As-Sunnah, Bâb: Fî al-Qur’ân, dan hadis ini sesuai syarat hadis sahih menurut Al-Bukhârî.

[20] Hulûliyyah adalah sekte yang mengatakan bahwa Tuhan menitis pada makhluk, Ittihâdiyyah adalah sekte yang mengatakan bahwa makhluk menyatu dengan Tuhan. Yang lebih ekstrem adalah sekte Wahdat al-Wujûd/Pantheisme yang mengatakan: tidak ada dualitas wujud: “wujud makhluk” dan “wujud Tuhan”, tetapi wujud makhluk adalah wujud Tuhan itu sendiri, dengan kata lain makhluk adalah tampilan (manifestasi) wujud Tuhan. [Penerjemah]

Terjemahan Kitab Akidahfirmankalamkitab

Navigasi pos

Previous post

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recent Posts

  • FIRMAN ALLAH YANG TERTULIS DALAM KITAB-NYA ADALAH KALAM-NYA YANG HAKIKI, BUKAN MAKHLUK
  • Perkataan Ulama Ahlussunnah Waljama`ah Terkait Sifat “ilmullah” (Pengetahuan Allah) dan Kekayaan serta Kalam-Nya. Bag. 2
  • Perkataan Ulama Ahlussunnah Waljama`ah Terkait Sifat “ilmullah” (Pengetahuan Allah) dan Kekayaan serta Kalam-Nya
  • Perkataan Ulama Ahlussunnah Waljama`ah Terkait Sifat “Al-`Uluw” (Kemahatinggian Allah) (Bagian 5)
  • Perkataan Ulama Ahlussunnah Waljama`ah Terkait Sifat “Al-`Uluw” (Kemahatinggian Allah) (Bagian 4)
Juli 2026
S S R K J S M
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  
« Jun    

ahli kitab (2) ahlussunnah (3) akal (4) Akidah (106) Al 'Uluw (2) Allah (7) alquran (32) budaya (4) dalil (2) firqah (2) firqah najiyah (2) ghaib (2) hadits (2) hidayah (2) ibadah (3) ibnu taimiyah (4) IHKAM (1) ilmu (67) imam syafi'i (9) iman (3) islam (91) kalam (4) kenabian (4) kesesatan (2) kitab (2) kristologi (5) ma'rifah (2) manusia (2) muhammad (1) muslim (1) nubuwah (3) pengetahuan (16) sejarah (4) sunnah (4) syubhat (5) tafsir (2) takdir (2) tauhid (79) taurat (3) teori (2) tsaqafah (3) ulama (2) uluw (2) wahyu (2) yesus (1)

©2026 AKIDAH.NET | WordPress Theme by SuperbThemes