Skip to content
AKIDAH.NET
AKIDAH.NET
AKIDAH.NET
AKIDAH.NET

ASAL USUL PERKATAAN YANG MENYATAKAN AL-QUR’AN ADALAH MAKHLUK. BAGIAN 2

Supriyadi Yusuf Boni, 31 Agustus 2026

Sumber: Kitab Ma`arij al-Qabul Bisyarhi Sullami al-Wushul Ila Ilmi al-Ushul Fii at-Tauhid

Penulis:  Syeikh Hafidz bin Ahmad al-Hakami

Penerjemah: Ust. Supriyadi Yoesof Boni

Editor: Idrus Abidin

Jadi semua aktifitas manusia merupakan ciptaan Allah Swt. tapi al-Qur’an yang didengar, dibaca dan ditulis adalah firman Allah Swt. dan bukan makhluk.

جلت صفات ربنا الرحمن                عن وصفها بالخلق و الحدثان

             Sungguh tak pantas sifat rabb maha Rahman

                        Untuk disifati makhluk dan baharu.

            Tiada satupun sifat Allah Swt. yang dianggap makhluk karena Allah terlalu mulia untuk menyatu dengan makhluk. Nama dan sifat-Nya maha awal ketimbang makhluk dan maha akhir dari segala sesuatu. Sifat-Nya tidak dimulai dengan ketiadaan dan mustahil akan punah. Maha suci Allah dari segala tudingan orang-orang dzalim dan para pendusta.

            (فالصوت / suara) ada yang terdengar dan yang tiada terdengar. (و الألحان / indah) yang didengar menarik dan semacamnya (صوت القاري لكنما المتلو / suara hamba namun yang dibaca) yang didengar dari suara itu adalah (قول الباري / firman Allah) jalla wa ala.

وَفِي الصَّحِيحَيْنِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: لَمْ يَأْذَنِ اللَّهُ لِشَيْءٍ مَا أَذِنَ لِنَبِيٍّ ﷺ يَتَغَنَّى بِالْقُرْآنِ.

Dalam kitab shahihain (shahih Bukhari dan Muslim) diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa beliau pernah berkata: Rasulullah Saw. bersabda: “Allah Swt. perintahkan Nabi Saw. untuk melantunkan al-Qur’an dengan irama indah.”[1]

وَلِابْنِ مَاجَهْ بِإِسْنَادٍ جَيِّدٍ عَنْ فَضَالَةَ بْنِ عُبَيْدٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: اللَّهُ أَشَدُّ أَذَنًا إِلَى الرَّجُلِ الْحَسَنِ الصَّوْتِ بِالْقُرْآنِ مِنْ صَاحِبِ الْقَيْنَةِ إِلَى قَيْنَتِهِ

Dalam riwayat Ibnu Majah dengan sanad yang jayyid/baik dari Fudhalah bin Ubaid berkata: Rasulullah Saw. bersabda: “Sungguh Allah lebih tertarik dengar indahnya suara orang yang baca al-Qur’an ketimbang ketertarikan sang biduan pada nyanyiannya.”[2]

وَعَنْ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:زَيِّنُوا الْقُرْآنَ بِأَصْوَاتِكُمْ، فَإِنْ لَمْ تَقْدِرُوا عَلَى الْبُكَاءِ فَتَبَاكَوْا           

Diriwayatkan dari Sa’d bin Abi Waqqash r.a. berkata, Rasulullah Saw. bersabda: “Iramakanlah bacaan al-Qur’an karena bukan golongan kami yang bacaan al-Qur’annya datar, dan menangislah saat baca al-Qur’an, jika tidak mampu maka pura-puralah menangis.” Diriwayatkan oleh al-Baghawi dan Abu Dawud.[3]

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَتَغَنَّ بِالْقُرْآنِ.

Riwayat lain dari Abu Uamamh r.a. berkata, saya dengar Rasulullah Saw. bersabda: “Bukan pengikutku kalu tidak mengiramakan bacaan al-Qur’an,”[4]

وَلِلنَّسَائِيِّ وَابْنِ مَاجَهْ بِإِسْنَادٍ جَيِّدٍ عَنِ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: زَيِّنُوا الْقُرْآنَ بِأَصْوَاتِكُمْ».

Riwayat lain oleh al-Nasa’i dan Ibnu Majah dengan sanad jayyid dari al-Bara’ bin Azib r.a. berkata, Rasulullah Saw. bersabda: “Indahkan bacaan al-Qur’an lewat suara-suara kalian.”[5]

وَفِي الصَّحِيحَيْنِ عَنْ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ:سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقْرَأُ فِي الْمَغْرِبِ بِالطُّورِ، فَلَمَّا سَمِعْتُ أَحْلَى صَوْتًا – أَوْ قِرَاءَةً – مِنْه

Dalam kitab shahihain dari Jubair bin Muth’im r.a berkata, saya dengar Rasulullah Saw. membaca suarah al-Thur di shalat Maghrib, dan tiada orang yang lebih indah bacaannya dari beliau.”[6]

وَلِابْنِ مَاجَهْ عَنْ جَابِرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: إِنَّ مِنْ أَحْسَنِ النَّاسِ صَوْتًا بِالْقُرْآنِ الَّذِي إِذَا سَمِعْتُمُوهُ يَقْرَأُ حَسِبْتُمُوهُ يَخْشَى اللَّهَ

Ibnu Majah meriwayatkan dari Jabir ra berkata, Rasulullah Saw. bersabda: di antara tanda orang paling baik bacaan al-Qur’annya adalah yang bacaannya mengisyaratkan ia takut kepada Allah Swt.,”[7]

وَلِأَبِي عُبَيْدٍ عَنْ حُذَيْفَةَ بْنِ الْيَمَانِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:اقْرَؤُوا الْقُرْآنَ بِلُحُونِ الْعَرَبِ وَأَصْوَاتِهَا، وَإِيَّاكُمْ وَلُحُونَ أَهْلِ الْفِسْقِ وَأَهْلِ الْكِتَابَيْنِ. وَسَيَجِيءُ قَوْمٌ مِنْ بَعْدِي يُرَجِّعُونَ بِالْقُرْآنِ تَرْجِيعَ الْغِنَاءِ وَالرَّهْبَانِيَّةِ وَالنَّوْحِ، لَا يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ، مَفْتُونَةٌ قُلُوبُهُمْ وَقُلُوبُ الَّذِينَ يُعْجِبُهُمْ شَأْنُهُمْ

Abu Ubaid meriwayatkan dari Hudzaifah bin al-Yaman berkata, Rasulullah Saw. bersabda: Bacalah al-Qur’an dengan dialek Arab, dan jauhilah oleh kalian dialek orang fasik dan pengikut dua kitab. Akan datang suatu kaum setelahku yang melagukan al-Qur’an laiknya para rabi, bacaannya sebatas kerongkongan dan merusak hati merekia dan hati orang yang takjub dengan dialek mereka.”[8]

وَفِي الصَّحِيحَيْنِ عَنْ أَبِي مُوسَى رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ: يَا أَبَا مُوسَى، لَقَدْ أُوتِيتَ مِزْمَارًا مِنْ مَزَامِيرِ آلِ …»

Dalam kitab shahihain disebutkan riwayat dari Abu Musa r.a bahwasanya Rasulullah Saw. berkata: Wahai Abu Musa, engkau dikaruniai seruling keluarga Dawud.”[9]

            Seluruh hadits ini menunjukkan mengindahkan, mengiramakan dan melagukan al-Qur’an disandarkan kepada hamba karena dialah yang melakukannya. Sementara al-Qur’an yang dibaca merupakan firman Allah Swt. yang hakiki. Termasuk bacaan yang lancar atau terbata-bata juga merupakan perbuatan hamba sebagaimana disebutkan dalam kitab shahih dari Aisyah ra berkata, Rasulullah Saw. bersabda: Orang lancar baca al-Qur’an akan bersama dengan para malaikat, sedang orang yang terbata-bata dan merasa sulit membaca al-Qur’an diberi dua pahala.”[10]

            Membedakan antara bacaan dengan yang dibaca sangat jelas disebutkan para ulama seperti Ahmad bin Hanbal, Abu Abdillah Muhammad bin Ismail al-Bukhari dan selain keduanya. Andai disamakan antara suara dan yang dibaca adalah satu kesatuan seperti keyakinan kaum sesat maka semua yang dengar al-Qur’an dari siapapun dianggap kalimurrahman dan tiada keistimewaan bagi Musa alaihissalam. Sungguh segala puji bagimu Rabbana, jangan engkau sestakan hati kami setelah engkau karuniai hidayahmu dan karuniakanlah rahmatmu kepada kami, sungguh engkau maha pemberi karunia.

            (مسألة/ kasus) sebagian ulama salaf seperti Ahmad bin Hanbal, Harun al-Farawi dan beberapa ulama hadits lainnya mengatakan, kelompok al-Lafzhiyah adalah sempalan kaum Jahamiyah. Sedang kaum al-Lafzhiyah sendiri adalah kelompok yang meyakini bahwa lafalku baca al-Qur’an adalah makhluk. Ulama salaf mengatakan barangsiapa yang mengatakan bahwa lafalku baca al-Qur’an bukan makhluk maka dia termasuk ahli bid’ah. Maksudnya kelompok jahamiyah. Sebab kata lafal sendiri diidentikkan kepada dua makna yakni:

            Pertama: Objek yang dilafalkan yakni al-Qur’an yang merupakan firman Allah Swt., bukan perbuatan hamba dan tidak pula ia sanggup membuatnya. Kedua: yakni lafal/bacaan yang merupakan aktifitas, upaya dan perbuatan hamba. Apabila kata makhluk ditujukan pada makna kedua lalu makna pertama dimasukkan ke dalamnya maka itulah keyakinan Jahamiyah. Dan apabila dibalik, bahwa lafal saya baca al-Qur’an bukan makhluk yang juga mencakup makna yang kedua maka itu juga bid’ah faham ittihaiyah (kesatuan hamba dnegan pencipta).

            Misal ada seseorang baca (قل هو الله أحد) maka orang lain boleh mengatakan ini lafal surah al-Ikhlas atau orang itu melafalkan surah al-Ikhlas. Jadi kata lafal merupakan kata yang bermakna ganda antara malafalkan yang merupakan perbuatan hamba dengan objek yang dilafalkan yang merupakan firman Allah Swt.[11]

            Berbeda dengan penjelasan kaum salaf yang mengatakan: suara bacaan adalah milik hamba sedang yang dibaca adalah firman Allah Swt. Sebab, suara itu memiliki makna tersendiri yang hanya mencakup perbuatan hamba. Suara tidak mencakup apa yang dibaca hingga mengeluarkan suara. Seseorang mustahil berkata ini suara kul huwallahu ahad atau ayat lainnya. Betul, bahwa firman Allah Swt. tidak disertai suara dari Allah Swt. seperti saat Musa menerima firman dari Allah, atau saat Jibril dan juga penduduk syurga menerima firman Allah Swt. Ini menunjukkan bahwa antara bacaan dengan yang dibaca merupakan satu kesatuan dan termasuk sifat Allah Swt. Tiada sedikit pun darinya yang termasuk makhluk.

            (ما قاله لا يقبل التبديل / firmannya mustahil diubah) firman Allah Swt. yang terjemahannya: “Keputusan di sisi-Ku tidak dapat diubah dan Aku sekali-kali tidak menganiaya hamba-hamba-Ku.” (Qs: Qaaf: 29).

Firman Allah Swt. yang terjemahannya: “Dan bacakanlah apa yang diwahyukan kepadamu, yaitu kitab Tuhanmu (Al Quran). Tidak ada (seorangpun) yang dapat merubah kalimat-kalimat-Nya. Dan kamu tidak akan dapat menemukan tempat berlindung selain dari pada-Nya.” (Qs; al-Kahfi: 27)

            Firman Allah yang terjemahannya: “Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (Al-Quran) sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat merubah rubah kalimat-kalimat-Nya dan Dialah yang Maha Mendenyar lagi Maha Mengetahui.” (Qs: al-An-‘am: 115)

            Firman Allah yang terjemahannya: “Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan} di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar.” (Qs: Yunus: 64).

            (كلا/ sungguh tidak) artinya tidak akan terjadi (و لا أصدق منه / tiada paling benar) dari Allah Swt. (قيلا/ucapan) perkataan. Maksudnya tiada perkataan melebihi firman allah Swt. Firman Allah Swt. yang terjemahannya: “Dan siapakah orang yang lebih benar perkataan(nya) dari pada Allah?” (Qs: al-Nisa’: 87). Firman Allah Swt. lainnya yang terjemahannya: “Dan siapakah yang lebih benar perkataannya dari pada Allah?“ (Qs: al-Nisa: 122).

            Maksudnya, mustahil ditemukan ada ucapan, khabar, janji dan ancaman yang lebih benar dari firman Allah Swt. Persis seperti yang ditegaskan Rasulullah Saw. dalam khutbahnya bahwa: sebaik-baik perkataan adalah firman Allah Swt. dan sebaik-baik teladan adalah teladan Rasulullah Saw.”[12]

و قد روى الثقات عن خير الملا                                 بأنه عز و جل و علا

في ثلث الليل الأخير ينزل                                          يقول هل من تائب فيقبل

هل من مسيئ طالب المغفرة                                                يجد كريما قابلا للمعذرة

يمن بالخيرات و الفضائل                                        و يستر العيب و يعطي السائل

            Tealh dikhabarkan ulama dari orang terbaik

                        Bahwa Allah Swt. maha perkasa, maha mulia dan maha tinggi

            Setiap setengah malam terakhir Dia turun

                        Menunggu orang taubat untuk diampuni

            Menanti pelaku maksita mohon ampun

                        Sungguh Dia maha pemurah suka memaafkan

            Senantiasa anugerahkan karunia dan rahmat ke hambanya

                        Selalu menutupi kesalahan dan memberi para pemohon

            Diantara yang wajib diimani, diyakini dan difahami apa adanya adalah sifat turun bagi Allah Swt. ke langit dunia sebagaimana ditegaskan banyak hadits shahih yang diriwayatkan para shahabat yang mulia seperti Abu Bakar al-Shiddiq, Ali bin Abu Thalib, Abu Hurairah, Abu Sa’id, Jubair bin Muth’im, Jabir bin Abdullah, Abdullah bin Mas’ud, Amdru bin Abasah, Rifa’ah al-Juhani, Utsman bin Abu al-Ash al-Tsaqafi, Abu al-Darda’ Ibnu Abbas, Ubadah bin al-Shamit, Abu al-Khattab, Umar bin Amir al-Sulami dan selainnya.

فَعَنْ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ:يَنْزِلُ اللَّهُ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِكُلِّ نَفْسٍ إِلَّا إِنْسَانًا فِي قَلْبِهِ شَحْنَاءُ أَوْ شِرْكٌ.

Dari Abu Bakar al-Shiddiq r.a. dari Nabi Saw. beliau bersabda: “Allah turun pada malam nishfu sya’ban (pertengahan sya’ban) untuk mengampuni setiap jiwa selain yang dipenuhi dengki dan syirik.” [13] Diriwayatkan beberapa ulama dari Ibnu Wahb.

وَعَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:لَوْلَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي لَأَخَّرْتُ الْعِشَاءَ الْآخِرَةَ إِلَى ثُلُثِ اللَّيْلِ، فَإِنَّهُ إِذَا مَضَى ثُلُثُ اللَّيْلِ هَبَطَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا، فَلَمْ يَزَلْ بِهَا حَتَّى يَطْلُعَ الْفَجْرُ، فَيَقُولُ: أَلَا سَائِلٌ فَأُعْطِيَهُ، أَلَا دَاعٍ فَأُجِيبَهُ، أَلَا مُذْنِبٌ يَسْتَغْفِرُ لَهُ، أَلَا سَقِيمٌ يَسْتَشْفِي فَيُشْفَى.

Dari Ali bin Abu Thalib r.a. beliau berkata, Rasulullah Saw. bersabda: “Andai tidak memberatkan ummatku niscaya aku ta’khirkan shalat isya hingga sepertiga malam. Karena setelah sepertiga malam berlalu, maka Allah Swt. turun ke langit dunia hingga terbit fajar sembari berfirman: siapa yang meminta niscaya diberi, siapa yang berdo’a pasti dikabulkan, setiap pendos yang memohon ampun akan diampuni dan setiap yang sakit akan disembuhkan.”[14] Diriwayatkan oleh al-Thabarni dalam kitab al-Sunnah.

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ:يَنْزِلُ رَبُّنَا كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ، فَيَقُولُ: مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ، مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ، مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ

Dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi Saw. beliau bersabda: Allah Swt. turun setiap malam ke langit dunia saat tersisa sepertiga malam lalu berfirman, siapa yang berdo’a kepadaku niscaya aku kabulkan, siapa yang meminta kepadaku niscaya aku berikan dan siapa yang memohon ampun kepadaku niscaya aku ampuni.’ Diriwayatkan dalam kitab shahihain.[15]

وَفِي رِوَايَةٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ وَأَبِي سَعِيدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّهُمَا شَهِدَا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ أَنَّهُ قَالَ:إِنَّ اللَّهَ يُمْهِلُ، حَتَّى إِذَا كَانَ ثُلُثُ اللَّيْلِ هَبَطَ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا، فَنَادَى: هَلْ مِنْ مُذْنِبٍ يَتُوبُ، هَلْ مِنْ مُسْتَغْفِرٍ، هَلْ مِنْ سَائِلٍ

Riwayat lain dari Abu Hurairah dan Abu Sa’id r.a. bahwa keduanya bersaksi pernah mendegar Rasulullah Saw. bersabda: “Sungguh Allah Swt. memberi jedah waktu hingga ketika tersisa sepertiga malam, Dia turun ke langit dunia seraya berfirman: adakah pendos yang bertaubat, adakah hamba yang memohon ampun, adakah hamba yang ingin bermohon dan minta sesuatu.”[16]

وَفِي مُسْنَدِ أَحْمَدَ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ:يَنْزِلُ اللَّهُ كُلَّ لَيْلَةٍ إِذَا مَضَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْأَوَّلُ، فَيَقُولُ: أَنَا الْمَلِكُ، مَنْ ذَا الَّذِي يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ

Dalam kitab Musnad Ahmad disebutkan dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi Saw. bersabda: “Allah turun setiap malam jika telah berlalu sepertiga malam pertama seraya berfirman: Sayalah al-Malik, siapa yang memohon ampun pada-Ku niscaya aku ampuni.”[17]

Hadit Abu Hurairah r.a. tentang nuzul disebutkan melalui banyak jalur dalam shahihain. Bahkan disebutkan oleh Abu Bakr Muhammad bin Ishak bin Khuzaimah dalam kitab tauhid lebih dari 30 jalur dari Abu Hurairah dari nabi Saw.”[18]

وَفِي رِوَايَةِ عَبْدِ الرَّزَّاقِ عَنْ مَعْمَرٍ عَنِ الزُّهْرِيِّ عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيِّبِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: إِنَّ اللَّهَ يَنْزِلُ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا وَلَهُ فِي كُلِّ سَمَاءٍ كُرْسِيٌّ، فَإِذَا نَزَلَ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا جَلَسَ عَلَى كُرْسِيِّهِ، ثُمَّ مَدَّ سَاعِدَيْهِ، فَيَقُولُ: مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ غَيْرَ عَدِيمٍ وَلَا مَظْلُومٍ، مَنْ ذَا الَّذِي يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ، مَنْ ذَا الَّذِي يَتُوبُ فَأَتُوبَ عَلَيْهِ. فَإِذَا كَانَ عِنْدَ الصُّبْحِ ارْتَفَعَ فَجَلَسَ عَلَى كُرْسِيِّهِ

Dalam riwayat Aburrazzaq dari Ma’mar dari al-Zuhri dari Sa’id bin al-Musayyib dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi Saw. beliau bersabda: “sesungguhnya Allah Swt. turun ke langit dunia dan di setiap langit ada kursinya, jika Dia turun ke langit dunia, dia bersemayam di kursinya seraya berfirman: “Siapa gerangan yang mengutangi tanpa kehabisan dan zalim, siapa gerangan yang mohon ampun untuk aku ampuni, siapa gerangan yang bertaubat lalu aku terima taubatnya, ketika tiba waktu subuh, Dia beranjak lalu bersemayam di kursi-Nya.”[19] Diriwayatkan Ibnu Mandah sembari mengklaim kalau aslinya mursal.

وَعَنْ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ:يَنْزِلُ اللَّهُ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا كُلَّ لَيْلَةٍ، فَيَقُولُ جَلَّ جَلَالُهُ: هَلْ مِنْ سَائِلٍ فَأُعْطِيَهُ، هَلْ مِنْ مُسْتَغْفِرٍ فَأَغْفِرَ لَهُ

Dari Jubair bin Muth’im r.a. dari Nabi Saw. beliau bersabda: “Allah turun ke langit dunia setiap malam seraya berfirman: adakah yang memohon maka akan aku berikan, adakah yang memohon ampun maka aku ampuni dia.” Hadits shahih diriwayatkan oleh al-Nasa’i dan Abu al-Walid al-Thayalisi.[20]

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:إِنَّ اللَّهَ يَنْزِلُ كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا لِثُلُثِ اللَّيْلِ، فَيَقُولُ: أَلَا عَبْدٌ مِنْ عِبَادِي يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ، أَوْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ يَدْعُونِي فَأَغْفِرَ لَهُ، أَلَا مُقْتَرِضٌ عَلَيْهِ رِزْقٌ، أَلَا مَظْلُومٌ يَسْتَنْصِرُنِي فَأَنْصُرَهُ، أَلَا عَانٍ يَدْعُونِي فَأَفُكَّ عَنْهُ، فَيَكُونُ ذَلِكَ مَكَانَهُ حَتَّى يَنْفَجِرَ الْفَجْرُ، ثُمَّ يَعْلُو رَبُّنَا عَزَّ وَجَلَّ إِلَى السَّمَاءِ الْعُلْيَا عَلَى كُرْسِيِّهِ

Dari Jabir r.a. bahwasanya Rasulullah Saw. bersabda: “Sesungguhnya Allah Swt. turun setiap malam ke langit dunia di sepertiga malam seraya berfirman: “siapakah diantara hamba-Ku yang memohon kepada-Ku untuk Aku berikan permohonannya, atau hamba yang dzalim pada dirinya memohon ampun untuk aku ampuni, adakah yang merasa sempit rezekinya, atau seorang terdzalimi untuk Aku tolong dia, atau orang yang sulit untuk Aku hilangkan kesulitannya, hal itu berlangsung hingga terbit fajar. Kemudian Allah naik ke langit yang tertinggi dan bersemayam di atas kursi-Nya.” Diriwayatkan oleh al-Daraquthni.[21]

وَعَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ:إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى إِذَا كَانَ ثُلُثُ اللَّيْلِ الْآخِرُ نَزَلَ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا، ثُمَّ بَسَطَ يَدَهُ فَقَالَ: مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ، حَتَّى يَطْلُعَ الْفَجْرُ

Dari Ibnu Mas’ud r.a. dari Nabi Saw. beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah ta’ala turun ke langit dunia di saat sepertiga malam terakhir untuk membuka kedua tangannya seraya berseru: siapa yang memohon kepadaku pasti aku beri hingga terbit fajar.” Hadits hasan diriwayatkan oleh Ahmad dalam kitab Musnadnya dan semua perawinya tsiqah.[22]

«إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَفْتَحُ أَبْوَابَ السَّمَاءِ، ثُمَّ يَهْبِطُ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا، ثُمَّ يَبْسُطُ يَدَهُ، فَيَقُولُ: أَلَا عَبْدٌ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ، حَتَّى يَطْلُعَ الْفَجْرُ».

Dalam riwayat Abu Mu’awiyah disebutkan: “Sesungguhnya Allah Swt. membuka pintu langit lalu turun ke langit dunia dan membuka kedua tangan-Nya searya menyeru: siapa hamba-Ku yang bermohon pasti aku kabulkan hingga terbit fajar.”

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:إِذَا مَضَى نِصْفُ اللَّيْلِ أَوْ ثُلُثُ اللَّيْلِ نَزَلَ اللَّهُ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا، فَقَالَ: لَا أَسْأَلُ عَنْ عِبَادِي غَيْرِي، مَنْ ذَا الَّذِي يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ، مَنْ ذَا الَّذِي يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ، مَنْ ذَا الَّذِي يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ، حَتَّى يَنْفَجِرَ الْفَجْرُ

Dari Rifa’ah al-Juhani berkata, Rasulullah Saw. bersabda: Apabila telah berlalu seperdua atau sepertiga malam, Allah Swt. turun ke langit dunia seraya berseru: saya tidak menanyakan hamba-Ku selain-Ku, siapa yang mohon ampun pada-Ku pasti ku ampuni, siapa yang berdo’a kepada-Ku pasti ku ijabah, siapa yang meminta pada-Ku pasti ku beri hingga terbit fajar.” Hadits shahih diriwayatkan oleh Ahmad dalam kitab Musnadnya.[23]

وَعَنْ عُثْمَانَ بْنِ أَبِي الْعَاصِ الثَّقَفِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ:يَنْزِلُ اللَّهُ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا كُلَّ لَيْلَةٍ، فَيَقُولُ: هَلْ مِنْ دَاعٍ فَأَسْتَجِيبَ لَهُ، هَلْ مِنْ سَائِلٍ فَأُعْطِيَهُ، هَلْ مِنْ مُسْتَغْفِرٍ فَأَغْفِرَ لَهُ.

Dari Utsman bin Abi al-Ash al-Tsqafi r.a. dari Nabi Saw. bersabda: “Allah turun ke langit dunia setiap malam seraya berseru: “adakah ahmba yang berdo’a untuk aku kabulkan, adakah yang meminta untuk aku beri, adakah yang mohon ampun untuk aku ampuni. Sungguh Dawud pernah keluar di suatu malam lalu berkata: tiadaklah Allah dimintai sesuatu melainkan Dia berikan kecuali bagi tukang sihir atau asysyar.[24]  Diriwayatkan oleh imam Ahmad.

عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:يَنْزِلُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فِي آخِرِ ثَلَاثِ سَاعَاتٍ بَقِينَ مِنَ اللَّيْلِ، يَنْظُرُ فِي السَّاعَةِ الْأُولَى مِنْهُنَّ فِي الْكِتَابِ الَّذِي لَا يَنْظُرُ فِيهِ غَيْرُهُ، فَيَمْحُو مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ. ثُمَّ يَنْظُرُ فِي السَّاعَةِ الثَّانِيَةِ فِي جَنَّةِ عَدْنٍ، وَهِيَ مَسْكَنُهُ الَّذِي يَسْكُنُ، لَا يَكُونُ مَعَهُ فِيهَا إِلَّا الْأَنْبِيَاءُ وَالشُّهَدَاءُ وَالصِّدِّيقُونَ، وَفِيهَا مَا لَمْ يَرَ أَحَدٌ وَلَمْ يَخْطُرْ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ. ثُمَّ يَهْبِطُ فِي آخِرِ سَاعَةٍ مِنَ اللَّيْلِ، يَقُولُ: أَلَا مُسْتَغْفِرٌ فَأَغْفِرَ لَهُ، أَلَا سَائِلٌ فَأُعْطِيَهُ، أَلَا دَاعٍ فَأَسْتَجِيبَ لَهُ».

Dari Abu al-Darda’ r.a. berkata: Rasulullah Saw. bersabda: “Allah tabarak wa ta’ala turun di setiap tiga jam terakhir dari malam hari menatap kitab di jam pertama lalu Allah menghapus dan menetapkan yang dikehendaki. Kemudian menatap kitab pada jam kedua ke surga Adn tempatnya bersemayam. Tempat para nabi, syuhada’, dan al-shiddiqin. Di dalamnya fasilitas yang tidak pernah terlihat oleh siapapun bahkan tak pernah terlintas di fikiran siapapun. Kamudian turun di jam ketiga sembari berfirman: siapa yang mohon ampun Aku ampuni, siapa yang minta aku beri dan siapa yang berdo’a aku kabulkan.” Diriwayatkan oleh Utsman bin Sa’id al-Darimi.[25]

وَرُوِيَ مُوسَى بْنُ عُقْبَةَ عَنْ إِسْحَاقَ بْنِ يَحْيَى بْنِ الْوَلِيدِ، عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:يَنْزِلُ اللَّهُ كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْآخِرُ، فَيَقُولُ: أَلَا عَبْدٌ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ، أَلَا ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ يَدْعُونِي فَأُقْبِلَ عَلَيْهِ، فَيَكُونُ كَذَلِكَ إِلَى مَطْلَعِ الصُّبْحِ، وَيَعْلُو عَلَى كُرْسِيِّهِ

Musa bin Uqbah meriwayatkan dari Ishak bin Yahya bin al-Walid dari Ubadah bin al-Shamit r.a berkata, Rasulullah Saw. bersabda: “Allah Swt. turun setiap malam ke langit dunia hingga tersisa sepertiga malam terakhir seraya menyeru: siapa pun hamba yang berdo’a maka pasti aku kabiulkan, siapapun pelaku zalim yang berdo’a pasti aku ampuni. Hal ini berlangsung hingga terbitnya fajar lalu Dia naik kekursinya.”[26]

وَعَنْ أَبِي الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ سُئِلَ عَنِ الْوِتْرِ، قَالَ: أُحِبُّ أَنْ أُوتِرَ نِصْفَ اللَّيْلِ، فَإِنَّ اللَّهَ يَهْبِطُ مِنَ السَّمَاءِ السَّابِعَةِ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا، فَيَقُولُ: هَلْ مِنْ مُذْنِبٍ، هَلْ مِنْ مُسْتَغْفِرٍ، هَلْ مِنْ دَاعٍ، حَتَّى إِذَا طَلَعَ الْفَجْرُ ارْتَفَعَ

Dari Abu al-Khattab r.a bahwasanya dia berkata saat ditanya tentang shalat witir, beliau jawab: saya suka shalat witir pada pertengahan malam. Karena Allah Swt. turun dari langit ketujuh ke langit dunia seraya berfirman: adakah pelaku dosa, adakahn yang berisitighfar, adalah yang bermohon hingga terbit fajar.” Diriwayatkan oleh Muhammad bin Sa’d dalam kitab Thabaqatnya.[27]

يَنْزِلُ اللَّهُ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا فَيَقُولُ: هَلْ مِنْ عَانٍ فَأُفَكِّكَهُ، هَلْ مِنْ سَائِلٍ فَأُعْطِيَهُ، هَلْ مِنْ دَاعٍ فَأَسْتَجِيبَ لَهُ، هَلْ مِنْ مُسْتَغْفِرٍ فَأَغْفِرَ لَهُ.

Dari Amru bin Amir al-Sulami r.a ia berkata, Rasulullah Saw. bersabda: ketika sepertiga malam telah berlalu – atau pertengahan malam – Allah turun ke langit dunia seraya menyeru: adakah yang sedang sulit lalu aku hilangkan kesulitannya, adakah yang meminta lalu aku berikan permintaannya, adakah yang berdo’a lalu aku kabulkan dan adakah yang mohon ampun lalu aku ampuni.” Diriwayatkan oleh Ibnu Mandah.[28]

يَنْزِلُ رَبُّنَا مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ فَيُنَادِي مُنَادٍ فِي السَّمَاءِ الْعُلْيَا: أَلَا نَزَلَ الْخَالِقُ الْعَلِيمُ. فَيَخْرُجُ أَهْلُ السَّمَاءِ وَيُنَادِي فِيهِمْ مُنَادٍ بِذَلِكَ، فَلَا يَمُرُّ بِأَهْلِ سَمَاءٍ إِلَّا وَهُمْ سُجُودٌ.

Dari Ubaid bin al-Sabbaq bahwa telah sampai padanya sabda Rasulullah Saw.: Allah turun di akhir malam lalu ada yang meneyru dari langit yang tinggi: telah turunmsang pencipta yang maha mengetahui. Lalu penduduk llangit dan berserulah diantara mereka sang penyeru dan tiadalah Allah melewati setiap tingkatan lengit melainkan semua penduduknya bersujud. Diriwayatkan oleh Abu Dawud.[29]

Abu al-Yaman, Yahya bin Abi Katsir, Abdul Shamad bin al-Nu’man dan Yazid bin Harun juga meriwayatkan hadits ini dengan redaksi yang sama, kami dikabari Jarir bin Utsman berkata kami dikabari Salim bin Amir dari Amru bin Abasah berkata; saya pernah temui Rasulullah Saw. seraya berkata,

يَا رَسُولَ اللَّهِ، جَعَلَنِي اللَّهُ فِدَاكَ، شَيْءٌ تَعْلَمُهُ وَأَجْهَلُهُ يَنْفَعُنِي وَلَا يَضُرُّكَ، مَا سَاعَةٌ مِنْ سَاعَةٍ أَقْرَبُ وَمَا سَاعَةٌ تَبْقَى فِيهَا؟ يَا عَمْرُو بْنَ عَبْسَةَ، لَقَدْ سَأَلْتَنِي عَنْ شَيْءٍ مَا سَأَلَنِي عَنْهُ أَحَدٌ قَبْلَكَ. إِنَّ الرَّبَّ تَعَالَى يَتَدَلَّى مِنْ جَوْفِ اللَّيْلِ فَيَغْفِرُ، إِلَّا مَا كَانَ مِنَ الشِّرْكِ وَالْبَغْيِ، وَالصَّلَاةُ مَشْهُودَةٌ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ، فَإِنَّهَا تَطْلُعُ عَلَى قَرْنِ الشَّيْطَانِ وَهِيَ صَلَاةُ الْكُفَّارِ، فَاقْصُرْ عَنِ الصَّلَاةِ حَتَّى تَرْتَفِعَ الشَّمْسُ، فَإِذَا اسْتَعْلَتِ الشَّمْسُ فَالصَّلَاةُ مَشْهُودَةٌ حَتَّى يَعْتَدِلَ النَّهَارُ، فَإِذَا اعْتَدَلَ النَّهَارُ فَأَخِّرِ الصَّلَاةَ، فَإِنَّهَا حِينَئِذٍ تَسْجُرُ جَهَنَّمُ، فَإِذَا فَاءَ الْفَيْءُ فَالصَّلَاةُ مَشْهُودَةٌ حَتَّى تَدْلُوَ لِلْغُرُوبِ، فَإِنَّهَا تَغِيبُ بَيْنَ قَرْنَيْ الشَّيْطَانِ فَاقْصُرْ عَنِ الصَّلَاةِ حَتَّى تَغِيبَ الشَّمْسُ.

Semoga Allah jadikan aku tebusan untukmu, banyak yang anda tahu sedang aku tak tahu dimana dia bermanfaat abgiku dan tidak mengganggumu, setiap waktu tidak sama, di waktu mana engkau paling sukai? Untuk shalat. Beliau bersabda: Wahai Amru bin Abasah. Sungguh baru engkau yang sampaikan pertanyaan ini kepadaku. Sungguh Allah Swt. turun di setiap tengah malam untuk memberi ampunan kecuali dosa syirik dan pemberontakan, shalat di waktu itu disaksikan hingga terbit matahari, karena dia terbit di antara dua tanduk setan olehnya disebut shalatnya orang kafir. Maka pendekkanlah shalatmu hingga matahari meninggi. Setelah itu, shalatlah hingga matahari berada di pertengahan. Lalau tunggu hingga tergelincir agar tidak bertepatan dengan waktu berkobarnya neraka Jahannam, jika matahri sudah menjelang sore maka shalatlah hingga sesaat sebelum terbenam, di mana dia terbenam di anatar dua tanduk setan. Kemudian shalatlah hingga mentari betul-betul sudah hilang.”[30] Redaksi hadits ini disebutkan lebih panjang dalam riwayat Muslim.

            Menurut saya, hadits ini merupakan tafsiran dari firman Allah Swt. yang terjemahannya: “Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat). Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.“ (Qs: al-Isra’: 78-79).

            Disebutkan dalam kitab al-Sunnah karya al-Khallal

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ:يَنْزِلُ اللَّهُ كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا ثُلُثَ اللَّيْلِ الْأَوْسَطِ، فَيَقُولُ: مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ، وَمَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ، وَيَتْرُكُ أَهْلَ الْحِقْدِ لِحَقْدِهِمْ.

dari Ibnu Abbas r.a ia berkata: Allah Swt. turun setiap malam ke langit dunia di sepertiga malam kedua seraya berseru: siapa yang berdo’a kepadaku maka aku kabulkan do’anya, siapa yang meminta kepadaku maka aku penuhi permintaannya lalau Dia biarkan para pendengki termakan oleh dengki mereka.”[31]

وَعَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ قَالَ:إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَنْزِلُ فِي ثَلَاثِ سَاعَاتٍ بَقِينَ مِنَ اللَّيْلِ، فَيُفْتَحُ الذِّكْرُ فِي السَّاعَةِ الْأُولَى لَمْ يَرَهُ أَحَدٌ غَيْرُهُ، فَيَمْحُو مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ، ثُمَّ يَنْزِلُ فِي السَّاعَةِ الثَّانِيَةِ إِلَى جَنَّةِ عَدْنٍ الَّتِي لَمْ تَرَهَا عَيْنٌ وَلَمْ تَخْطُرْ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ، وَيَسْكُنُهَا مِنْ بَنِي آدَمَ غَيْرُ ثَلَاثَةٍ: النَّبِيُّونَ وَالصِّدِّيقُونَ وَالشُّهَدَاءُ، ثُمَّ يَقُولُ: طُوبَى لِمَنْ دَخَلَكَ. ثُمَّ يَنْزِلُ فِي السَّاعَةِ الثَّالِثَةِ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا بِرُوحِهِ وَمَلَائِكَتِهِ فَيَنْتَقِضُ فَيَقُولُ: قُومِي بِعِزَّتِي. ثُمَّ يَطْلُعُ إِلَى عِبَادِهِ فَيَقُولُ: هَلْ مِنْ مُسْتَغْفِرٍ أَغْفِرْ لَهُ، هَلْ مِنْ دَاعٍ أُجِيبُهُ، حَتَّى تَكُونَ صَلَاةُ الْفَجْرِ».وَقُرْآنُ الْفَجْرِ إِنَّ قُرْآنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا.

Dari Abu al-Darda’ r.a dari Rasulullah Saw. beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah turun di tiga jam tersisa dari setiap malam di mana Dia membuka dzikir di jam pertama untuk dia hapus atau tetapkan catatan yang ada seseuai yang dikehendaki, kemudian turun di jam kedua ke surga Adn yang tiada pernah tampak oleh mata dan tiada pula terbayang di fikiran serta hanya ditinggali oleh tiga kelompok anak cucu Adam, yakni; para-Nabi, syuhada dan al-Shiddiqin, sungguh keberuntungan besar bagi yang memasukinya. Kemudian turun di jam ketiga ke langit dunia bersama malaikat jibril dan malaikat lainnya seraya berseru; tegaklah dengan kemuliaan-Ku, lalu menyeru hamba: adakah orang yang memohon ampun lalu aku ampuni, adakah yang mau berdo’a lalu aku kabulkan hingga terbitnya fajar.” Begitulah makna firman Allah (و قرأن الفجر إن قرأن الفجر كان مشهودا / dan bacalah al-Qur’an di waktu fajar karena sungguh bacaan al-Qur’an di waktu fajar disaksikan) yakni disaksikan para Malaikat malam dan siang.” Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam kitab al-Tauhid.[32] Dan telah disebutkan sebelumnya dengan redaksi yang lain.

وَلَهُ عَنِ الْقَاسِمِ بْنِ مُحَمَّدٍ، عَنْ أَبِيهِ، أَوْ عَمِّهِ، عَنْ جَدِّهِ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ أَنَّهُ قَالَ:يَنْزِلُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَيْلَةَ النِّصْفِ فَيَغْفِرُ لِلْمُؤْمِنِينَ

Riwayat lain dari al-Qasim bin Muhammad dari ayahnya – atau pamannya – dari kakeknya dari Rasulullah Saw. bahwasanya beliau bersabda: “Allah azza wa jalla turun di tengah malam untuk mengampuni orang mukmin.”[33] Diriwayatkan oleh Ibnu Zanjawaih.

وَعَنْ أَبِي أُمَامَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:إِذَا كَانَ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ هَبَطَ اللَّهُ تَعَالَى إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا فَيَغْفِرُ لِأَهْلِ الْأَرْضِ إِلَّا لِفَاجِرٍ أَوْ مُشَاحِنٍ

Dari Abu Umamah r.a berkata, Rasulullah Saw. bersabda: jika tersisa separoh malam terakhir di bulan Sya’ban, Allah Swt. turun ke langit dunia untuk mengampuni penduduk bumi kecuali orang yang bersengketa.”[34] Diriwayatkan oleh Muhammad bin al-Fadhal al-Bukhari.

Dari Abu Musa al-Asy’ari r.a ia berkata, saya pernah dengar Rasulullah Saw. bersabda: Allah Swt. turun ke langit dunia di tengah malam bulan Sya’ban untuk mengampuni penduduk bumi kecuali orang kafir dan yang sedang bersengketa.”[35] Menurut saya, hadits ini tidak kontradiktif dengan antara hadits-hadits tentang turunnya Allah di tengah malam pertengahan bulan Sya’ban dengan hadits-hadits yang menunjukkan Allah turun setiap malam. Sebab turunnya di malam pertengahan Sya’ban bersifat mutlak (umum) sementara turunnya Allah di setiap malam terikat oleh waktu tengah malam atau sepertiga malam terakhir.”[36] Dengan catatan bahwa pengkhususan pertenagahan bulan Sya’ban tidak menafikan yang lain. Apalagi, hadits tentang turunnya Allah Swt. di setiap malam jauh lebih banyak dan lebih masyhur bahkan lebih shahih.

            Turunnya Allah Swt. juga disebutkan terjadi di malam Arafah sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari hadits Abu al-Zubair

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ:إِذَا كَانَ يَوْمُ عَرَفَةَ فَإِنَّ اللَّهَ يَنْزِلُ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا فَيُبَاهِي بِهِمُ الْمَلَائِكَةَ، فَيَقُولُ: انْظُرُوا إِلَى عِبَادِي، أَتَوْنِي شُعْثًا غُبْرًا، أُشْهِدُكُمْ أَنِّي قَدْ غَفَرْتُ لَهُمْ

dari Jabir bin Abdillah ra dari Nabi Saw. bahwa: apabila tiba hari Arafah, Allah turun ke langit dunia lalu berbangga di hadapan para Malaikat seraya berfirman: lihatlah para hambaku itu, mereka datang menghadapku dalam keadaan lusu berdebu, saksikanlah bahwa aku telah ampuni mereka semua.”[37]

وَرَوَاهُ الْخَلَالُ فِي السُّنَّةِ مِنْ حَدِيثِ أَبِي النَّضْرِ عَنْ أَيُّوبَ عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ عَنْ أَبِي أَيُّوبَ يَرْفَعُهُ:أَفْضَلُ الدُّنْيَا أَيَّامُ الْعَشْرِ».قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَلَا مِثْلُهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ؟قَالَ: «إِلَّا مَنْ عَفَّرَ وَجْهَهُ فِي التُّرَابِ

Hadits yang serupa diriwayatkan juga oleh al-Khallal dalam kita al-Sunnah dari hadits Abu al-Nadhar dari Ayyub dari Abu al-Zubair dari Jabir bin Abdillah r.a dengan jalan marfu’ bahwa: Hari-hari paling baik adalah hari yang sepuluh”, para sahabat bertanya: apakah ia juga mengalahkan jihad di jalan Allah? Beliau bersabda: kecuali seseorang yang menyungkur wajahnya di tanah, sungguh di malam hari Arafah, Allah turun ke kangit dunia lalu berseru kepada para Malaikat: “Lihatlah kepada hamba-Ku, mereka lusuh berdebu datang dari berbagai penjuru yang jauh, mengorbankan semua yang dimiliki demi untuk mengharap Rahmat-Ku. Maka jumlah orang yang dibebaskan dari dosa terbanyak pada hari itu.[38]

Diriwayatkan pula oleh Khallad bin Yahya berkata kami diberitahu oleh Abdul Wahhab dari Mujahid dari Ibnu Umar r.a, ia berkata: saya pernah duduk bersama Nabi Saw. tetiba datang dua orang yang salah satunya dari kaum anshar dan yang lain Tsaqafi lalu menyebutkan hadits ini. di mana di dalam redaksinya disebutkan:

إِنَّ عَشِيَّةَ عَرَفَةَ يَنْزِلُ اللَّهُ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا، فَيَقُولُ لِلْمَلَائِكَةِ:انْظُرُوا إِلَى عِبَادِي، هَؤُلَاءِ جَاءُونِي شُعْثًا غُبْرًا مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ، ضَاحِينَ يَسْأَلُونِي رَحْمَتِي، فَلَا يُرَى يَوْمًا أَكْثَرَ عَتِيقًا وَلَا عَتِيقَةً».

“Sesungguhnya Allah Swt. turun ke langit dunia lalu berseru kepada Malaikat, mereka itu adalah hamba-Ku yang datang menghadap-Ku dalam keadaan lusu dan berdebu, mereka datang dari segala penjuru nan jauh. saksikanlah sungguh aku telah ampuni semua dosa-dosa mereka.”[39] Diriwayatkan oleh Thalhah bin Musharrif dari Mujahid dengan redaksi yang sama.   


[1] Diriwayatkan oleh al-Bukhari (9/68) dalam Fadhail al-Qur’an, Bab wasiat membaca kitabullah dan dalam kitab tauhid, bab firman Allah swt (و لا تنفع الشفاعة عنده إلا لمن أذن له / dan tiada bermanfaat syafaat di sisi-Nya melainkan untuk orang yang dizinkan-Nya) (13/453) dan Muslim (1/545/792) dalam bahasan Shalat Musafir bab anjuran indahkan suara membaca al-Qur’an.

[2] Sudah disebutkan tkharij/riwayat haditsnya pada lembara sebelumnya.

[3] Al-Baghawi (keutamaan al-Qur’an karya Ibnu Katsir, 7/480). Diriwayatkan juga oleh Ibnu Majah (1/424/1337) dalam bahasan mendirikan shalat, bab mengindahkan suara bacaan al-Qur’an dan al-Baihaqi dalam kitab al-Sunan (10/231) namun di dalam riwayatnya ada perawi bernama Abu Rafi’ yang berstatus matruk (riwayatnya ditolak). Dalam riwayat Abu Dawud disebuitkan secara ringkas bahwa bukan golongan kami yang tidak mengiramakan bacaan al-Qur’annya.” Dari hadir Sa’d (2/74/1469) dalam bahasan Shalat, bab anjuran mengindahkan tilawah al-Qur’an. Juga oleh Ahmad (1476 dalam tulisan Ahmad Syakir) dan al-Hakim (1/570) dengan sanad shahih.

[4] Abu Dawud (2/74/1471) di bahasan shalat bab anjuran membaca secara tartil, sanadnya shahih.

[5] Abu Dawud (2/74/1468) dalan bahasan shalat, bab anjuran membaca secara tartil. Al-Nasa’i (2/179-180) dalam bahasan Shalat bab indahkan suara saat baca al-Qur’an. Ibnu Majah (1/426/1342) dalam bahasan mendirikan shalat, bab anjuran mengiramakan bacaan al-Qur’an.Ahmad (4/283, 285 dan 304. Al-Darimi (2/474) Ibnu Hibban (kitab al-Ihsan, 2/65) dan al-Hakim (1/571) dengan sanad shahih.

[6] Telah disebutkan sebelumnya

[7] Ibnu Majah (1/425/1339) dalam bahasan mendirikan shalat, bab mengindahkan bacaan al-Qur’an. Dalam riwayat ini terdapat Ibrahim bin Ismail bin Mujamma’ dan Abdullah bin Ja’far al-Rawi yakni Walid Ibnu al-Madini, kedua perawi ini dianggap lemah. Hanya saja, ada penguat hadits ini dari riwayat Ibnu Umar oleh al-Thabarani dalam kitab al-Ausath (al-Mujamma 7/173). Al-Haitsami menyatakan; dalam riwayat ini terdapat Humaid bin Hammad bin Abu al-Khuwar yang dianggap tsiqah (terpercaya) oleh Ibnu Hibban walau dianggap keliru. Namun perawi lainnya dianggap shahih. Riwayat ini juga disebutkan oleh al-Bazzar dalam kitab Musnadnya (Kasyfu al-Astaar, 3/98) dan Abu Nuaim dalam kitab Tarikhu Ashfahan (2/102). Diriwayatkan pula oleh al-Darimi secara mursal dari Thawus (2/471) dan semua perawinya tsiqah. Jadi hadits ini derajatnya hasan.

[8] Dalam kitab Fadhail al-Qur’an (Ibnu Katsir, 7/483) diriwayatkan juga oleh al-Thabarani dalam kitab al-Ausath (al-Mujamma’, 7/172), al-Baihaqi dalam kitab Syuabu al-Iman (al-Misykah 1/676), Razin (Jami al-Ushul 2/459) dan Ibnu al-Jauzi dalam kitab al-Ilal al-Mutanahiyah (1/118). Sanad hadits ini tergolong lemah sekali sebab ada perawinya yang tidak disebutkan namanya juga karena perawi bernama Baqiyyah bin al-Walid yang meriwayatkan dari Hushain bin Malik al-Fazzari dimana dia sendiri yang meriwayatkan darinya (Mizanu al-I’tidal 1/553).

[9] Al-Bukhari (9/92) dalam bahasan keutamaan al-Qur’an, bab mengindahkan bacaan al-Qur’an dan Muslim (1/546/793) dalam bahasan shalat musafir, bab anjuran mengindahkan bacaan al-Qur’an.

[10] Al-Bukhari (8/691) dalam bahasan Tafsir, bab surah Abasa, dan Muslim (1/549-550/798) dalam bahasan shalat musafir, bab keutamaan orang yang lancar baca al-Qur’an dan yang terbata-bata.

[11] Lihat penjelasan detailnya dalam dua kitab berjudul: Khalqu Af’ali al-Ibad karangan al-Bukhari dan kitab al-Ikhtilafu fi al-Lafdzi karya Ibnu Qutaibah al-Dainuri.

[12] Sudah disebutkan takhrijnya sebelumnya.

[13] Diriwayatkan oleh Ibnu Abu Ashim dalam kitab al-Sunnah (509), Ibnu Khuzaimah dalam kitab al-Tauhid (hal 136), al-Darimi dalam kitab al-Raddu ala al-Jahamiyah (136), Ibnu Adi dalam kitab al-Kamil (5/1946), al-Uqaili dalam kitab al-Dhu’afa’ (3/29), Abu Nuaim dalam kitab Tarikh Ashbahan (2/2) dan al-Bazzar (Kasyfu al-Astar 2/435). Sanad hadits ini tergolong lemah karena ada Abdul Malik bin Abdil Malik yang diragukan riwayatnya oleh al-Bukhari. Ibnu Hibban berkata; tidak diambil haditsnya. Mus’ab bin Abi Dzi’b berkata: dia termasuk majhul. Hanya saja hadits ini banyak riwayat lain yang mengutakannya hingga derajatnya menjadi hasan.

[14] Diriwayatkan oleh al-Darimi dalam kitab al-Raddu ala al-Jahamiyah (133) dan al-Lalaka’i (749) dengan sanad hasan.

[15] Telah disebutkan takhrijnya sebelumnya.

[16] Diriwayatkan oleh Muslim (1/533/757) dalam bahasan shalat musafir, bab motivasi untuk berdo’a dan dzikir di akhir malam.

[17] Diriwayatkan oleh Ahmad (2/419) dengan sanad yang memenuhi kriteria shahihain. Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim tanpa kalimat ana al-malik.

[18] Lihat selengkapnya di kitab Tauhid (hal. 126-131) dan dalam kitab Amalu al-Yaum wa al-Lailah karya al-Nasa’I, khususnya pada bab waktu terbaik untuk istighfar dan dalam kitab al-Nuzul karya al-Daruquthni.

[19] Diriwayatkan oleh Ibnu Mandah dalam kitab al-Raddu ala al-Jahmiyah (56) dan sanadnya lemah karena adanya Mahfudz bin Abi Tubuh yang dilemahkan oleh Ahmad. Ibnu Mandah berkata: ada riwayat mursal yang asalnya dari Sa’id bin al-Musayyib. Menurut saya: perkataan Ibnu Mandah ini isyaratkan bahwa riwayat maushulnya lemah.

[20] Diriwayatkan oleh anl-Nasa’I dalam kitab Amalu al-Yaumi wa al-Lailah (487), Ahmad dalam kitab al-Musnad (4/81), Abu ya’la dalam kitab Musnadnya (1/349), al-Thabarani dalam kitab al-Kabir (2/134/1566), al-Bazzar (Kasyfu al-Astar 4/43) dan al-Baihaqi dalam kitab al-Asma’ wa al-Shifaat (hal 451). Al-Hatsami mengatakan: semua perawinya adalah perawi shahih (al-Mujamma’ 10/157).

[21] Lihat kitab al-Nuzul karya al-Daruquthni (7) namun dalam sanadnya ada perawi yang tidak saya temukan penjelasannya.

[22] Diriwayatkan oleh Ahmad (1/388 dan 403) dan semua perawinya tsiqah. Hanya saja Abu Ishaq al-Hamadani tergolong mudallis dan telah meriwayatkan hadits ini dengan ‘an’anah sekalipun ada jalur lain dari hadits Mu’awiyah bin Amru dari Zaidah dari Ibrahim al-Hijri dari Abu al-Ahwash. Sedang al-Hijri diperdebatkan para ulama dia adalah Ibrahim bin Muslim dan disebutkan dalam kitab al-Taqrib bahwa dia layyinu al-hadits. Hadits ini derajatnya hasan in sya Allah. Lihat riwayat Abu Mua’wiyah di al-Daruquthni dalam kitab al-Nuzul (9 dan 10).

[23] Diriwayatkan oleh Ahmad (4/16), al-Thayalisi (1261 dan semua perawinya tsiqah. Di dalamnya ada Yahya bin Abi Katsir yang dikenal mudallis namun beliau menegaskan periwayatannya dalam jalur Ibnu Khuzaimah dan di riwayat al-Daruquthni dalam kitab al-Nuzul (69) jadi teratasi keraguan tadlisnya.

[24] Tidak ditemukan redaksi ini dalam riwayat Ahmad. Yang ada adalah redaksi: sesungguhnya di setiap malam ada waktu dibuka pintu langit dimana ada seruan bahwa siapa yang meminta kepadaku niscaya aku beri dan seorang yang berdo’a akan dikbulkan,…kitab al-Musnad (4/218) namun dalam riwayat Ibnu Khuzaimah disebutakn al-Nuzul (al-tauhid hal 135. Dalam sanadnya terdapat Ali bin Zaid bin Jud’an yang dikenal lemah. Diriwayatkan pula tanpa menyebutkan Dawud alaihissalam (al-Musnad 4/22), al-Daruquthni dalam kitab al-Nuzul (72) dari jalur Ali bin Zaid. Hadits ini shahih karena riwayat penguat lainnya.

[25] Diriwayatkan al-Darimi dalam ktab al-Raddu ala al-Jahamiyah (128), Ibnu Jarir dalam kitab Tafsirnya (13/170, dan 15/139), Ibnu Khuzaimah dalam kitab al-Tauhid (hal 135-136), al-lalaka’I (756), al-Daruquthni dalam kitab al-Nuzul (73). Sandanya lemah karena ada Ziyadah bin Muhammad yang dianggap munkar haditsnya. Al-Dzahabi berkata: redaksi hadits ini munkar tidak disebutkan melainkan dari jalur Ziyadah (al-Mizan 2/98).

[26] Sanadnya lemah karena Ishak bin Yahya bin al-Walid bin Ubadah bin al-Shamith dianggap majhul. Selain itu dia juga meriwayatkannya secara mursal dari Ubadah (al-Taqrib 392).

[27] Ibnu Sa’d dalam kitab al-Thabaqat (6/57), disebutkan oleh al-Thabarani (22/370/927), Ibnu al-Sakan dan Ibnu Abi Khaitsumah, al-Baghawi dan Abdullah dalam kitab al-Sunan (al-Ishabah 4/53). Sanadnya lemah karena adanya Tsauban bin Abi Fakhitah yang dianggap perawi lemah.

[28] Diriwayatkan oleh al-Daruquthni dalam kitab al-Sunnah dari jalur Utsman al-Bitti (disebutkan dalam kitab Mukhtashar al-Shawaiq al-Taimi (dari Abdul Hamid bin Salamah dari Ayahnya dari Amru bin Amir al-Sulami. Imam al-Daruquthni berkata, Abdul Hamid dan ayahnya perawi yang tidak dikenal. Lihat kitab Tahdzibu al-Tahdzib (6/105) jadi sanadnya lemah.

[29] Lihat kitab al-Marasil karya Abu Dawud (74) para perawinya tsiqah. Hadits ini termasuk mursal karena Ubaid bin al-Sabbaq adalah seorang tabi’i tsiqah. Saya tidak temukan hadits di kitab Sunan Abi Dawud. (lihat kitab Mukhtashar al-Shawaiq 2/233) Diriwayatkan pula oleh Ibnu Abi Ashim dalam kitab al-Sunnah (506). Al-Allamah al-Albani berkata: sanadnya lemah karena statusnya mursal. Hadits dengan redaksi ini termasuk munkar.

[30] Ahmad (4/385) dari Yazid bin Harun dengan redaksi ini dan diriwayatkan pula dari jalur ini oleh al-Daruquthni dalam kitab al-Nuzul (66), dan al-Lalaka’I (761). Sandanya munqathi’ (terputus) karena Salim bin Amir (sebenarnya adalah Sulaiman bin Amir menukil dari kitab Mukhtashar al-Shawiq 2/235 di mana keduanya dianggap salah) tidak pernah meriwayatkan hadits dari Amru bin Abasah. Dalam cetakan tertulis Yahya bin Abi Bakar dan Jarir bin Utsman juga dianggap salah. Yang benar, bahwa hadits ini tidak diriwayatkan oleh Muslim.

[31] Diriwayatkan oleh al-Darimi dalam kitab al-Raddu ala al-Jahamiyah (134) dan sanadnya hasan.

[32] Telah disebutkan sebelumnya di mana sanadnya dianggap lemah sebagaimana disebutkan Ibnu Khuzaimah dalam kitab al-Tauhid (hal 135-136) diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir al-Thabari (15/139) juga oleh al-Daruquthni dalam kitab al-Nuzul.

[33] Disebutkan Ibnu Khuzaimah dalam kitab al-Tauhid (hal 136) dan al-Lalaka’I (no. 750). Disebutkan sebelumnya bahwa sanadnya lemah namun naik derajat menjadi hasan karena banyaknya riwayat penguat. Diriwayatkan pula oleh al-Daruquthni dalam kitab al-Nuzul (75 dan 76) juga oleh Ibnu Abi Ashim dalam kitab al-Sunnah (509).

[34] Sanadnya palsu karena Hamd bin al-Fadhal al-Bukhari tertuduk pendusta sedang Ja’far bin al-Zubair tertolak haditsnya. (lihat kitab Mukhtahsar al-Shawaiq 2/247).

[35] Diriwayatkan oleh Ibnu Majah (1/445/1390), Ibnu Abi Ashim dalam kitab al-Sunnah (510) dan al-Lalaka’i (763) namun sanadnya lemah karena perawi Ibnu Lahi’ah dan Abdurrahman bin Arzab yang tidak diketahui sosoknya.

[36] Imam al-Tirmidzi mengatakan: hadits ini diriwayatkan dari banyak jalur dari Abu Hurairah r.a dari Nabi Saw. bahwasanya beliau bersabda: Allah Swt. turun ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Redaksi ini yang paling kuat (446).

[37] Diriwayatkan oleh al-Daruquthni dalam kitab al-Sunnah (al-fathu 3/30) dan al-Lalaka’i (751) dari jalur Ibnu Abi Hatim dan sanadnya hasan.

[38] Disebutkan oleh Ibnu al-Qayyim dalam kitab al-Shawaiq al-Mursalah (al-Mukhtashar 2/244-245) redaksi yang sama disebutkan dalam al-Lalaka’i (751) dan telah disebutkan bahwa sanadnya hasan.

[39] Disebutkan oleh Ibnu al-Qayyim dalam kitab Mukhtashar al-Shawaiq (2/244-245) dan semua perawinya tsiqah.

Artikel Akidahalquranislamtauhid

Navigasi pos

Previous post

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recent Posts

  • ASAL USUL PERKATAAN YANG MENYATAKAN AL-QUR’AN ADALAH MAKHLUK. BAGIAN 2
  • ASAL USUL PERKATAAN YANG MENYATAKAN AL-QUR’AN ADALAH MAKHLUK – Bagian 2
  • ASAL USUL PERKATAAN YANG MENYATAKAN AL-QUR’AN ADALAH MAKHLUK
  • FIRMAN ALLAH YANG TERTULIS DALAM KITAB-NYA ADALAH KALAM-NYA YANG HAKIKI, BUKAN MAKHLUK
  • Perkataan Ulama Ahlussunnah Waljama`ah Terkait Sifat “ilmullah” (Pengetahuan Allah) dan Kekayaan serta Kalam-Nya. Bag. 2
September 2026
S S R K J S M
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  
« Agu    

ahli kitab (2) ahlussunnah (3) akal (4) Akidah (108) Al 'Uluw (2) Allah (7) alquran (34) budaya (4) dalil (2) evolusi (1) firqah (2) firqah najiyah (2) ghaib (2) hadits (2) hidayah (2) ibadah (3) ibnu taimiyah (4) ilmu (67) imam syafi'i (9) iman (3) islam (93) kalam (4) kenabian (4) kesesatan (2) kitab (2) kristologi (5) ma'rifah (2) manusia (2) meditasi (1) nubuwah (3) pengetahuan (16) rububiyah (1) sejarah (4) sunnah (4) syubhat (5) tabiin (1) tafsir (2) takdir (2) tauhid (80) taurat (3) teori (2) tsaqafah (3) ulama (2) uluw (2) wahyu (2)

©2026 AKIDAH.NET | WordPress Theme by SuperbThemes