Skip to content
AKIDAH.NET
AKIDAH.NET

Keyakinan Pangkal Penghayatan

AKIDAH.NET
AKIDAH.NET

Keyakinan Pangkal Penghayatan

PASAL XXV – ILMU ALAM (EMPIRIK)

Supriyadi Yusuf Boni, 8 Agustus 2025

Sumber: Kitab Maraqy al-Wa’yi (Penanaman Kesadaran)

Penulis:  Prof. Dr. Shaleh bin Abdul Aziz Utsman Sindi

Penerjemah: Supriyadi Yousef Boni

Editor: Idrus Abidin

            Ilmu Alam adalah ilmu tentang alam dan fenomena alam. Maksudnya cara tertentu memahami kodrat kemanusiaan. Berusaha mengungkap alam melalui ragam fenomena, spesifikasi dan aturan-aturan yang mengendalikannya. Dengan demikian, ilmu ini hanya terbatas pada alam fisik yang diindra, berdasarkan fakta empiris yang diperoleh dari pengalaman indrawi. Ini perlu difahami dengan baik.

            Tidak diragukan bahwa ilmu ini sangat berguna pada bidangnya. Masyarakat juga merasakan manfaatnya yang besar, bahkan ikut andil menciptakan kemewahan hidup. Hanya saja, problem muncul kala ilmu tersebut dipaksa melampaui batasannya, apalagi jika memasuki bidang ilmu lain, lalu berani menguatkan atau menafikan, padahal bukan bidangnya. Ilmu empirik punya batasan yang tidak boleh dilampaui, juga tidak mampu menghukumi sesuatu yang di luar kewenangannya, yakni alam materi indrawi.

            Saya coba jelaskan dengan contoh; seumpama ada seorang pekerja mencari benda logam di bawah pasir pantai menggunakan alat tertentu, kemudian dia takjub dengan alat tersebut karena kemampuannya mendeteksi semua yang tertimbun di bawah pasir. Kemudian dia membeli alat semisal untuk digunakan mencari benda-benda plastik, atau benda berbahan kayu di balik timbunan tanah. Setelah tidak temukan apa-apa dia berkata: tidak ada benda-benda plastik atau benda berbahan baku kayu di pinggir laut ini, karena saya sudah gunakan alat yang mampu mendeteksi barang apa saja yang tertimbun, namun tidak dia temukan. Jelas dan dapat dipastikan bahwa orang itu sudah melakukan kesalahan besar dalam menggunakan alat tersebut.

            Coba bayangkan, akibat takjubnya dengan alat tersebut, dia pun menggunakannya pada lingkaran terjauh, lalu dia berkata; tidak ada benda kayu atau benda plastik di tempat ini, sebab setiap saya gunakan alat ini, saya tetap tidak temukan benda-benda yang saya cari, sementara saya tidak percaya alat selainnya.

            Kesalahan fatalnya kali ini bukan karena dia percaya kepada alat ini secara mutlak berkat kemampaunnya menemukan benda logam. Akan tetapi, kesalahan fatalnya adalah ketika membatasi sumber ilmu dan kebenaran hanya pada alat tersebut yang dia jadikan sumber ilmu satu-satunya.

            Alat detektor benda logam – sekalipun punya kemampuan mengagumkan di bidang peruntukkannya – namun mustahil dia mampu mendeteksi semua hal. Sebagian orang – karena dorongan semangat belajar ilmu empirik – melakukan banyak kesalahan fatal. Dia berkata; tidak percaya apapun kecuali yang dilihat kedua matanya, dan atau ilmu empirik adalah media satu-satunya untuk mengungkap kebenaran apapun. Sikapnya yang demikian sebenarnya telah menzalimi ilmu empirik itu sendiri, dan salah faham dengan penggunaan walau dia menganggap telah melakukan pembelaan.

LARANGAN OVER ACTING SIKAPI ILMU EMPIRIK

            Over menyikapi ilmu empirik betul-betul terjadi dan tak mungkin dipungkiri, bahkan sebagian orang menyebutnya; al-Ilmawiyah (Saintifikisme). Maksudnya, metodologi ilmiyah yang membatasi pengetahuan dan metode berargumen hanya pada ilmu-ilmu empirik berdasar pengetahuan indrawi. Menurutnya, inilah tingkatan ilmu tertinggi dan satu-satunya serta tak tertandingi.

            Sikap mereka yang berlebihan beranggapan bahwa ilmu hanya terbatas pada ilmu empirik, dan satu-satunya yang layak dirujuk semua bidang kehidupan. Seolah menganggap bahwa ilmu selainnya atau metodologi pengetahuan lainnya tidak dianggap ilmu dan tidak memberikan pengetahuan apapun.

            Aliran atheis kontemporer seolah menemukan harta berharga melalui ilmu empirik, mereka pun menggunakannya secara optimal. Makanya kaum atheis kontemporer sangat mengangungkan ilmu-ilmu empirik dan mendudukkannya secara berlebihan. Sungguh tepat ucapan sebagian orang; andai alam ini tuhannya orang atheisme maka ilmu empirik adalah kitab sucinya yang dianggap tidak mengandung kebathilan sama sekali.

            Hasilnya, mereka anggap bahwa ilmu empirik mematahkan semua alasan untuk imani adanya Tuhan sebagi pencipta. Sebab argumen ilmiyah hanya terbatas pada fakta-fakta ilmiyah empiris. Semua yang tidak didukung oleh fakta empiris maka bukan ilmu. Dan oleh karena agama ini tidak ditopang oleh fakta-fakta empiris maka agama sebatas imajinasi.

            Yang penting bagi kita saat ini adalah; menelisik klaim sesat mereka. Apakah betul ilmu itu sebatas ilmu empirik dan menjadi satu-satunya media menemukan ilmu yang hakiki? Pasti klaim itu tidak benar sama sekali bahkan termasuk kesalahan besar nan fatal, berikut lima bantahannya, yakni;

  1. Ilmu-ilmu empirik memiliki keterbatasan, tidak mungkin dilampaui. Aksiomatik ketuhanan dan kebenarana agama serta persoalan ghaib berada di luar jangkauan ilmu empirik. Maka ilmu empirik tidak berwenang untuk dijadikan parameter penilaian apalagi sampai menafikannya.

Saya ulangi bahwa ilmu empirik hanya bisa bekerja pada ruangnya, haram digunakan di luar batas jangkauannya. Jika dia keluar dari cakupan jangkauannya maka pasti lemah seperti diketahui dengan benar oleh para pakar ilmu-ilmu empirik.

Saya berikan contoh; seumpama kita temukan ada sepiring makanan di hadapan rumah, lalu diambil untuk diteliti oleh sekelompok ilmuwan paling kaliber di dunia, maka ahli gizi akan menyebutkan jumlah kalori di makanan itu. Ahli kimia akan menyebutkan kandungannya dan bagaimana keterkaitan antara bahan makanan tersebut, ahli fisika akan mengurai unsur-unsur utamanya, lalu ahli matematika akan menyebutkan jumlahnya.

Kemudian anggaplah saya bertanya kepada mereka; siapa yang buat makanan ini? kenapa dia membuatnya? Apa tujuannya sehingga diletakkan di depan pintu rumah? Apakah tindakannya itu benar atau salah? Maka pasti mereka tidak akan mampu menjawabnya. Sebab, keahlian mereka hanya berfokus pada entitas makanan itu sendiri. Artinya, keahlian mereka hanya untuk menjawab “bagaimana”. Mereka dipastikan tidak mampu menjawab pertanyaan “kenapa.”

Jadi, ilmu empirik hanya mampu menjawab bagaimana hukum alam bekerja. Ilmu empirik tidak mampu menjawab pertanyaan; kenapa hukum alam itu bekerja? Sebab pertanyaan ini di luar batas jangkauan dan kemampuan ilmu empirik.

Oleh sebab itu, sangat tampak jelas ketidakmampuan ilmu empirik menjelaskan semua fenomena yang muncul, sebagaimana terbukti pula bahwa ilmu empirik masih sangat membutuhkan keterlibatan ilmu lain untuk menyempurnakannya. Dan yang terpenting adalah; ilmu empirik sangat membutuhkan wahyu yang diturunkan oleh dzat yang maha mengetahui segala sesuatu.

Mari perhatikan beberapa contoh realitas ilmu empirik dan keterbatasannya untuk tahu segala hal;

  1. Ilmu empirik gagal menyuguhkan hukum-hukum etik dan moralitas, misal apa saja hak-hak individu? Hak hewan? Apakah aborsi, membunuh janin, pemerkosaan, tipu-tipu dan gratifikasi boleh atau dilarang? Ilmu empirik gagal menjawab itu.

Ilmu empirik berperan menggambarkan bagaimana alam bergerak, namun ilmu empirik tidak mampu menentukan ini benar atau salah, ini baik atau buruk. Oleh sebab itu, menjadikan metodologi empirik sebagai satu-satunya sarana mengetahui kebenaran dan mengingkari cara lain berkonsekuensi pada hilangnya hukum etik dan moralitas. Lantas apa yang diharapkan dari ilmu yang tanpa hukum etik dan moralitas?!

  • Ilmu empirik tidak sanggup menyuguhkan keindahan dan ilmu rasa; apakah bilboard itu menarik atau tidak? Apakah kicauan burung merpati merdu atau tidak? Apakah qashidah al-Mutanabbi sastrawi atau tidak? Ilmu empirik tidak akan mampu menjawabnya. Ilmu empirik hanya mampu mengajarkan kita memahami bagaimana bunyi-bunyian sampai ke kita dan bagaimana pandangan kita terhadap warna-warni, namun ilmu empirik gagal sugukan keindahan.
  • Ilmu empirik tidak sanggup mengajarkan bagaimana menggunakan pengetahuan dan intelektualitas.

Contoh Ilmu empirik mampu menjelaskan bagaimana cara hibridisasi DNA, namun ilmu empirik tidak mampu menjelaskan cara menggunakan ilmu tersebut, apakah digunakan untuk mengobati penyakit genetik? Atau digunakan untuk membuat senjata biologis? Pasti ilmu empirik tidak akan mampu lakukan itu.

Ilmu empirik menggambarkan bagaimana alam bekerja, namun kitalah yang akan menentukan bagaimana ilmu yang diperoleh digunakan. Dengan kalimat lain; ilmu empirik tidak akan mengajarkan etika dan moralitas yang mesti dipilih untuk hiasi kehidupan dunia ini.

Ilmu empirik hanya mampu menganalisa sesuatu yang sudah ada namun tidak bisa mengajarkan bagaimana yang seharusnya terjadi.

  • Ilmu empirik tidak mampu menjelaskan apa yang ada di balik alam –  alam ghaib dan metafisika – seperti adanya malaikat, jin dan kehidupan akhirat, ilmu empiris tidak berperan dalam persoalan seperti ini. sebab, semua itu berada di luar alam fisik yang manjadi ruang ilmu empirik.

Semua bentuk ilmu empirik tidak mampu menguak persoalan ghaib, karena jangkauan fakta empiris yang terindera tidak mampu melewati batas alam sehingga dia buta apalagi untuk menguatkan atau menafikan sesuatu di luar alam nyata.

  • Klaim bahwa pengetahuan hanya terbatas pada ilmu-ilmu empiris sebenarnya mematahkan dirinya sendiri. Sebab, klaim ini didasarkan pada sikap filosofis yang sejatinya tidak dimiliki ilmu empirik. Lantas bagaimana mungkin diyakini bahwa kebenaran tidak diketahui kecuali melalui ilmu empirik, sementara klaim ini sendiri tidak menggunakan fakta empiris untuk sampai pada kesimpulan itu.

Artinya; pernyataan bahwa ilmu empirik adalah sarana satu-satunya untuk mengetahui kebenaran kesalahan berfikir yang besar, karena tidak dihasilkan dari fakta empiris. Jika pernyataan ini dianggap benar, maka sejatinya ilmu empiris juga adalah kesalahan besar.

  • Kaum atheis mengakui bahwa ilmu empirik tidak seperti yang digambarkan untuk menipu kaum awam. Bahkan hingga Steven Howking – seorang fisikawan atheis yang terkenal – mengatakan: semua teori fisika selalu bersifat temporary, artinya hanya bersifat asumtif semata, engkau tak mampu menjelaskannya secara tegas. Berapa kalipun uji coba menghasilkan kesimpulan yang sama dengan teori tertentu, maka engkau tetap tidak yakin bahwa uji coba berikutnya pasti tidak berbeda dengan teori dasarnya.” Jadi, klaim bahwa teori ilmiyah selalu membuahkan keyakinan adalah salah besar.

Diantara penjelasan tambahan bahwa teori ilmiyah tidak selamanya membuahkan keyakinan adalah bahwa; teori tersebut seringkali berubah-ubah. Lantas siapa yang bisa menjamin bahwa teori ilmiyah yang ada saat ini merupakan kebenaran mutlak, padahal bisa saja ditinggalkan satu atau dua tahun kemudian?

Ilmuwan eksak menegaskan bahwa pengetahun ilmiyah selalu berubah-ubah, hanya sedikit yang dinyatakan membuahkan keyakinan bersifat tetap. Pengetahun ilmiyah yang dijalankan saat ini bisa dianggap pengetahuan basi esok hari. Kitab-kitab ilmiyah di masa lalu umumnya tidak berguna. Sampai-sampai banyak perpustakaan yang enggan membeli buku-buku ilmiyah praktis empirik. Banyak penerbit-penerbit kampus yang memilih menerbitkan buku baru yang mengulas hasil penelitian ilmiyah setiap tiga tahun. Lalu mereka berlomba melakukan penemuan ilmiyah yang mampu mengubah pengetahuan kita terhadap ilmu alam secara mendasar selama beberapa tahun.

  • Ilmu-ilmu alam tidak satu level namun ada yang kuat dan ada pula yang lemah.

Ilmu-ilmu alam sering disebut ilmu eksakta (solid/pasti) namun sesungguhnya banyak jenis ilmu alam yang sangat lentur terutama dari sisi historikalnya. Teori-teori yang dihasilakn ilmu alam untuk menjelaskan fenomena-fenomena alam (seperti Dinosaurus, gua dan planet) lebih kental historikalnya ketimbang fakta empirisnya. Sebabnya, karena peristiwanya terjadi hanya satu kali sehingga sulit dilakukan uji coba dan tidak bisa dibedah dalam ruang laboratorium.

Jadi, diantara kesalahan besar dan fatal adalah imajinasi mereka yang dihembuskan ke orang awam bahwa ilmu alam berada dalam level kekuatan yang sama. Padahal faktanya, ilmu alam bertingkat-tingkat, sebagiannya hanya berbasis asumtif ilmiyah belaka, ada yang berubah dalam bentuk teori, ada pula yang menggambarkan fakta riil, sebagaimana sebagiannya sangat tergantung pada fakta empiris berbasis indrawi, dan ada juga yang termasuk penafsiran asumtif terhadap fenomena alam.

  • Cara mengetahui eksistensi di luar sesuatu tidak mesti melalui pendekatan inderawi, atau melalui uji laboratorium atau fakta empiris. Namun bisa juga melalui dampak dan hasil dari sesuatu. Faktanya, banyak hal yang diyakini ilmuwan empirik didasarkan pada penemuan mereka; tidak didasarkan pada pendekatan inderawi atau berdasarkan fakta empiris. Mereka meyakini kebenaran sebagian asumsi yang tidak didahului oleh pendalaman inderawi. Tidak ada yang bisa mengklaim bahwa mereka pernah melihat proton atau electron namun mereka yakini keberadaannya karena melihat dampaknya.

Demikian pula dengan struktur atom dan spesifikasinya, atau gugusan planet langit yang jauh, dengan diantarai jarak yang sangat-sangat jauh, semua itu tidak diyakini berdasarkan uji coba dan fakta empiris, atau berdasarkan bukti-bukti nyata yang menyimpulkan kebenaran teori dan asumsi yang ada.

Jadi, banyak sekali hukum alam yang diyakini kebenarannya hari ini tidak didasarkan pada fakta empiris, namun hanya berdasar pada dampaknya yang terlihat dalam kehidupan kita.

Selain itu, orang yang banyak memperhatikan pandangan-pandangan ilmiyah rupanya hanya penafsiran terhadap fenomena dan bukan hasil dari fakta empiris atau hasil uji coba laboratorium. Seorang ilmuwan melihat perilaku tertentu di alam raya, lalu dia mencoba menjabarkannya secara spesifik. Tafsiran tersebut bukan didasarkan pada fakta teruji, namun hanya berupa hasil pengamatan. Setiap kali banyak fenomena pendukung maka tafsirannya juga dianggap makin kuat, hingga disimpulkan dalam bentuk teori atau kebenaran ilmiyah. Akan tetapi, bisa juga tetap dalam statusnya sebatas asumtif. Sebaliknya, jika bukti pendukung berkurang maka tafsirannya juga makin lemah.

Berdasarkan lima poin di atas, tampak bahwa ilmu empirik hanya salah satu cara mengetahui sebuah hakikat atau kebenaran, dia bukan satu-satunya cara untuk sampai pada kebenaran. Kemudian teori-teori ilmiah berbasis empiris tidak bisa dikategorikan kebenaran pasti, karena mayoritasnya hanya bersifat asumtif.

APAKAH ILMU EMPIRIS BERTENTANGAN DENGAN IMAN KEPADA ALLAH SWT.

            Jawabannya, pasti tidak. Klaim itu hanya dinyatakan oleh kaum atheis namun tanpa dasar. Merekalah yang mengatakan ada pertentangan antara keduanya. Jadi, pilihannya, apakah berpihak ke ilmu empirik atau memilih iman kepada Allah Swt.

            Klaim kaum atheis tersebut dapat disanggah dengan empat argumen, yakni;

  1. Perlu ditekankan lebih awal bahwa pakar ilmu empirik adalah manusia biasa, tidak selamanya bersikap objektif, bahkan seringkali dipengaruhi oleh lingkungan sekitar mereka, budaya, politik dan kondisi ekonomi serta lainnya.

Jadi, budaya yang mengitarinya sangat mempengaruhi hasil dan pandangan ilmuwan terhadap teori ilmiyah.

Sementara budaya yang mengitari para ilmuwan hari ini mengarah ke budaya sekuler atheis. Sangat menyanjung teori-teori ilmiyah yang bertentangan dengan agama, seperti teori evolusi. Sebagian ilmuwan menerima teori ini dan menampakkannya sebagai sebuah kebenaran, padahal nuansa psikologis dan sosial jauh lebih terasa ketimbang nuansa ilmiyahnya.

Seorang pakar hewan dari Inggris yang atheis, Dr. Watson mengatakan; teori evolusi dapat diterima secara umum, bukan karena teori tersebut dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya berdasarkan fakta dan argumentasi logis. Namun karena sebagai teori alternatif satu-satunya, sebab sangat jelas bahwa penciptaan spesifik sulit dibenarkan.”

  • Tidak semua pakar dan spesialis ilmu empirik berfaham atheis, tidak pula jumlah mereka mayoritas, namun hanya sedikit yang atheis. Sebab, mayoritas mereka percaya adanya sang pencipta.

Andai betul terjadi perselisihan antara ilmu empirik dengan iman kepada sang pencipta, maka logika sederhana dapat menyimpulkan bahwa semua pakar dan ilmuwan ilmu empirik adalah atheis, sedang selain mereka itulah yang dianggap orang beriman. Namun realitasnya berbeda. Ilmuwan kaliber ilmu empirik sepanjang masa mengimani adanya sang pencipta dan mereka bukan atheis. Seperti, Bacon, Galileo, Kiblar, Newton, Maksel, Faradaei, mereka semua mengimani adanya sang pencipta yang bijaksana menciptakan alam indah ini.

Mereka para penemu ilmu-ilmu empirik tidak mendudukkan ilmu empirik bertentangan dengan iman kepada sang pencipta. Bahkan sebagian mereka menganggap bahwa iman kepada Allah Swt menjadi spirit utama untuk terus melakukan penelitian ilmiyah.

Seorang peneliti barat bernama Syalf telah menulis sebuah buku yang diterbitkan di Amerika tahun 2005 berjudul; “100 Tahun Hadiah Nobel” di dalamnya menyebutkan ilmuwan penerima hadiah Nobel pada abad ke 20 Masehi dan menyimpulkan bahwa jumlah penerima Nobel yang atheis hanya sekitar 7 dari 100 orang.

  • Kaum atheis berusaha keras mempengaruhi manusia bahwa ilmu empirik selalu bertentangan dengan agama sepanjang masa dan baru berhenti kala ilmu empirik mampu mengalahkan agama. Akan tetapi klaim ini tidak benar sama sekali.

Tidak dipungkiri bahwa banyak tokoh agama Nashrani membantah teori-teori ilmiyah di zaman renaisance, namun serangan sebagian tokoh agama yang imani Tuhan tersebut tidak bisa diartikan bahwa ilmu bertentangan dengan keimanan kepada Allah.

Andai pernah terjadi noda hitam dalam sejarah gereja Katolik di masa tertentu, maka itu tidak bisa diberlakukan para sejarah Islam. Sebab kitabullah (al-Qur’an) memerintahkan untuk mentafakkuri dan mentadabburi semua yang ada di langit dan bumi menggunakan akal sehat. Lalu kaum muslimin di abad-abad silam memberikan perhatian besar terhadap ilmu-ilmu empirik tanpa dicegah oleh para ulama pakar syariat.

  • Ilmu-ilmu empirik sesungguhnya menunjukkan bahwa sang pencipta itu ada dan tidak mengingkarinya. Faktanya, diantara bukti dan dalil logika kuat menunjukkan adanya Allah Swt adalah alam raya ini atau penciptaan alam, juga argumen teleologis dan semua itu berdasar ilmu empirik.

Kesimpulan: Klaim kaum atheis bahwa ilmu empirik bertentangan dengan iman kepada sang pencipta tidak berdasar sama sekali. Yang benar adalah bahwa keduanya bisa sejalan.

RELASI ANTARA ISLAM DENGAN ILMU ALAM (EMPIRIK/ EKSPERIMENTAL)

            Saya mencoba merangkum relasi antara Islam dengan ilmu alam melalui lima pertanyaan mendasar, yakni;

  1. Apakah Islam bertentangan dengan ilmu empirik?

Jawabnya: tidak sama sekali. Tidak pernah ada pertentangan yang diklaim ini kecuali sebatas di fikiran para pencetusnya.

Jangan lupa bahwa kaum muslimin pernah menjadi rujukan utama dalam penemuan dan perkembangan ilmu empirik, di mana barat bersafar dan belajar dari kaum muslimin. Islam hanya menentang ilmu empirik yang salah atau yang mengakibatkan kerusakan dan mudharat. Sebaliknya, Islam menganjurkan mempelajari semua ilmu selama mendatangkan manfaat dan maslahat.

  • Apakah Islam mengakui semua yang dihasilkan oleh ilmu empirik?

Jawabnya: tidak. Wahyu tidak berfungsi sebagai penguat ilmu fisika atau geologi. Wahyu lebih mulia dari sekedar itu. Walaupun telah ditemukan beberapa petunjuk yang menandakan klaim tersebut salah, sedang yang lain didiamkan dan disikapi netral.

  • Apakah ilmu empirik menunjukkan kebenaran Islam?

Jawabnya: tidak semuanya. Namun sebagian penemuannya menguatkan wahyu dan membuktikan kebenaran wahyu.

  • Apakah Islam menetapkan hukum atas ilmu empirik?

Jawabnya: semestinya iya. Sebab, setiap hasil penelitian ilmiyah mesti tunduk pada satu diantara lima hukum taklifi.

Diantara konsekuensi akidah kita adalah bahwa wahyu selalu menjadi parameter menilai apapun, wahyu menjadi pusat dan panduan utama dalam berinteraksi dengan apapun, juga sebagai rujukan utama dan terakhir untuk menilai semua pengetahuan dan realitas yang ada.

  • Apakah ilmu empirik dapat menghukumi Islam?

Jawabnya: tidak sama sekali. Karena Islam sumbernya adalah wahyu, sedang wahyu bukan fisik bersumber dari bumi, namun dia diturunkan dari langit dari sisi dzat yang maha bijaksana dan maha mengetahui. Jadi ilmu empirik tidak punya kemampuan untuk menjadi penilai agama Islam.

Untuk ualasan tambahan silahkan baca;

            Kitab Lathif Mati’ berjudul “alfu Ikhtira’ wa Ikhtira’, buku ini menjelaskan tentang penemuan kaum muslimin dalam ilmu pengetahuan.

Terjemahan Kitab Akidahalamempirikilmuislamtauhid

Navigasi pos

Previous post
Next post

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recent Posts

  • Perkataan Ulama Ahlussunnah Waljama`ah Terkait Sifat “ilmullah” (Pengetahuan Allah) dan Kekayaan serta Kalam-Nya. Bag. 2
  • Perkataan Ulama Ahlussunnah Waljama`ah Terkait Sifat “ilmullah” (Pengetahuan Allah) dan Kekayaan serta Kalam-Nya
  • Perkataan Ulama Ahlussunnah Waljama`ah Terkait Sifat “Al-`Uluw” (Kemahatinggian Allah) (Bagian 5)
  • Perkataan Ulama Ahlussunnah Waljama`ah Terkait Sifat “Al-`Uluw” (Kemahatinggian Allah) (Bagian 4)
  • INFORMASI ALAM GHAIB
Juni 2026
S S R K J S M
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  
« Mei    

ahli kitab (2) ahlussunnah (3) akal (4) Akidah (105) Al 'Uluw (2) Allah (7) alquran (32) budaya (4) dalil (2) evolusi (1) firqah (2) firqah najiyah (2) ghaib (2) hadits (2) hidayah (2) ibadah (3) ibnu taimiyah (4) ilmu (67) imam syafi'i (9) iman (3) islam (91) kalam (3) kenabian (4) kesesatan (2) kristologi (5) ma'rifah (2) manusia (2) meditasi (1) nubuwah (3) pengetahuan (16) perdebatan (1) rububiyah (1) sejarah (4) sunnah (4) syubhat (5) tafsir (2) takdir (2) tauhid (79) taurat (3) teori (2) tsaqafah (3) turats (1) ulama (2) uluw (2) wahyu (2)

©2026 AKIDAH.NET | WordPress Theme by SuperbThemes