Skip to content
AKIDAH.NET
AKIDAH.NET

Keyakinan Pangkal Penghayatan

AKIDAH.NET
AKIDAH.NET

Keyakinan Pangkal Penghayatan

PASAL XXIV – SYUBHAT-SYUBHAT MUSUH SUNNAH

Supriyadi Yusuf Boni, 8 Agustus 2025

Sumber: Kitab Maraqy al-Wa’yi (Penanaman Kesadaran)

Penulis:  Prof. Dr. Shaleh bin Abdul Aziz Utsman Sindi

Penerjemah: Supriyadi Yousef Boni

Editor: Idrus Abidin

            Sebelumnya sudah dipaparkan tentang kewajiban terhadap sunnah, hujjiyah sunnah dan bagaimana sunnah terjaga. Sedang tema ini tentang syubhat musuh sunnah. Setidaknya ada dua syubhat utama mereka yakni;

            Pertama; Bahwa hadits menyimpan banyak persoalan. Banyak hadits yang menyelisihi logika sehat yang menghilangkan kekuatan pendalilannya, atau minimal mendegradasi kepercayaan kita kepadanya. Syubhat ini paling kuat dan paling sering dihembuskan oleh mereka, baik diantara sesama musuh sunnah atau ke kelompok selain mereka. Padahal sebelumnya telah dipaparkan juga terkait relasi antara akal dan naql pada Pasal III, silahkan merujuk ke ulasan tersebut.

            Penting saya menguraikan beberapa premis pembuka yang dikutip dari paparan sebelumnya dengan sedikit tambahan, bahwa;

  1. Mustahil ayat atau hadits yang shahih akan bertentangan dengan akal yang sehat. Mustahil akan kontradiksi antara syariat berdasar dalil naqli dengan kebenaran logika. Prinsip ini semestinya mengakar di kalangan kaum muslimin. Klaim kontradiksi antara sunnah dengan akal tidak terbukti sama sekali.
  2. Prinsip akal sebagai pengendali utama dan wajib dikedepankan sedang dalil naqli mengikut ke akal – padahal naqli adalah wahyu tertulis atau tidak – adalah salah besar. Sebab, yang tepat adalah sebaliknya.
  3. Allah Swt menetapkan bahwa akal dijadikan sarana memahami naqli dan akal tidak difungsikan sebagai hakim terhadap naqli. Allah Swt menciptakan akal jadi jembatan sampai ke naqli dan bukan melepaskan diri dari naqli. Allah Swt karuniakan akal untuk tahu persoalan-persoalan yang terdekat dan bukan menyelami persoalan terjauh.
  4. Para sahabat adalah generasi paling tajam dan paling sehat logikanya, sementara tidak ditemukan diantara mereka yang mempertentangkan antara dalil naqli dengan ketetapan akal sehat.
  5. Semua klaim bahwa terjadi kontradiksi antara akal dengan naqli disebabkan oleh satu diantara tiga faktor, yakni;
    1. Hadits yang dimaksud tidak valid sampai kepada Rasulullah Saw.
    1. Kebenaran logis yang disebutkan tidak tepat dan tidak benar. Artinya bahwa hasil nalar yang dianggap kontra dengan hadits hanya sebatas logika teoritis yang salah, lalu diklaim sebagai logika dasar. Padahal logika terkadang salah, baik dari sisi penalarannya maupun dari sisi pembenarannya.
    1. Dia tidak memahami hadits dengan semestinya.
  6. Wajib dibedakan antara sesuatu yang mustahil menurut akal dengan yang kemungkinan terjadi. Titik ini yang paling banyak menimbulkan persoalan di banyak orang, atau paling tidak difahami dengan baik.

Penjelasan singkatnya; mereka sering mengatakan hal ini mustahil menurut akal. Maka dikatakan; mustahil itu adalah sesuatu yang diyakini akal tidak akan terjadi, seperti sesuatu dikatakan ada dan tiada dalam waktu bersamaan, atau sesuatu yang parsial lebih luas dari yang general, atau anak kandung lebih tua dari orang tua. Jadi, mereka ditantang untuk menyebutkan sunnah yang seperti contoh di atas.

Persoalan terbesar sebagian besar mereka adalah, menganggap segala yang berada di luar kebiasaan mereka seperti mukjizat nabi Saw yang keluarkan air dari jemarinya sebagai sesuatu yang mustahil menurut akal. Padahal sejatinya tidak. Kejadian seperti itu termasuk peristiwa aneh – artinya tidak biasa – namun logika sehat masih menganggapnya mungkin terjadi – sekalipun di luar kebiasaan bahkan di luar kesanggupan manusia biasa – karena Allah Swt yang mentakdirkan mukjizat seperti itu adalah sang maha kuasa atas segala sesuatu. Bahkan, jika Allah Swt bisa takdirkan jemari keluarkan darah, maka apa sulitnya Allah Swt takdirkan jemari keluarkan air.

  • Hakikat berIslam adalah menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah Swt dan kepada wahyuNya, diantaranya dalam bentuk meyakini bahwa al-Qur’an dan sunnah pusat ketetapan hukum dan senantiasa dikedepankan dari selain keduanya. Wahyu wajib dikedepankan dan selainnya mesti diikutkan ke wahyu.

KeIslaman seseorang tidak dianggap tanpa disertai kepatuhan tulus dan penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah Swt. Firman Allah Swt;

وَاُمِرۡنَا لِنُسۡلِمَ لِرَبِّ الۡعٰلَمِيۡنَۙ‏

Terjemahannya: “dan kita diperintahkan agar berserah diri kepada Tuhan seluruh alam,” (Qs; al-An’am: 71).

  • Abaikan wahyu dan mengedepankan selainnya adalah dampak buruk dari sifat nifak yang bercokol di hati, maka waspadalah selalu. Firman Allah Swt:

وَاِذَا قِيۡلَ لَهُمۡ تَعَالَوۡا اِلٰى مَاۤ اَنۡزَلَ اللّٰهُ وَاِلَى الرَّسُوۡلِ رَاَيۡتَ الۡمُنٰفِقِيۡنَ يَصُدُّوۡنَ عَنۡكَ صُدُوۡدًا​ ۚ‏

Terjemahannya: ‘Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Marilah (patuh) kepada apa yang diturunkan Allah dan (patuh) kepada Rasul,” (niscaya) engkau (Muhammad) melihat orang munafik menghalangi dengan keras darimu.” (Qs; al-Nisa’: 61).

  • Jangkauan akal sangat sempit dan ruangnya sangat terbatas, maka salah satu sikap bijak adalah mengaktifkan akal pada ruangnya dan tidak membebaninya dengan sesuatu di luar batas jangkauannya.
  • Berlebihan memfungsikan akal termasuk pangkal kesesatan.

            Setelah beberapa premis pengantar ini, patut disampaikan ke para musuh sunnah bahwa, modal terpenting bagi kita kaum muslimin adalah akidah. Persoalan ini tidak difahami betul oleh mereka. Sehingga betapapun mereka hendak mengutak-atik sunnah, pasti tidak akan pudarkan keyakinan dan pengagungan kita pada sunnah.

            Kenapa termasuk persoalan akidah? Jawabannya bahwa seorang muslim yang menerima satu ayat berarti dia meyakininya dan tunduk pada ketetapan hukum Allah Swt, juga ketika menerima sebuah hadits maka diapun segera tunduk pada ketetapan hukum yang terkadung di dalamnya, dan menjadi pertanda ketundukannya kepada Allah Swt.

            Apa makna tunduk kepada Allah Swt? Maknanya mencakup segala hal. Adakah engkau tahu siapa hakikat Allah Swt? Dia adalah Rabb sekalian alam, sang penguasa mutlak, paling tahu tentang alam seisinya, paling bijak ketetapan hukumNya dan paling penyayang.

            Dia adalah dzat yang maha mulia, ketetapan hukumNya terasa amat agung dalam hati, lalu engkau berani bilang hadits ini bertentangan dengan akal? Saya tegas nyatakan bahwa itu mustahil terjadi. Karena ketetapan hukum dalam hadits bersumber dari dzat yang menciptakan akal. Jadi, sumbernya satu sehingga mustahil akan terjadi kontradiksi antara keduanya. Ilmu Allah Swt jauh lebih luas dari kemampuan akalmu, sikap bijaksanaNya teramat agung, jadi tenangkan dirimu dan orang lain.

            Akal termasuk ciptaan Allah Swt, dan mustahil akal lebih berilmu ketimbang sang penciptanya. Mustahil akal dikedepankan yang diciptakan dari hukum Allah Swt, ini pasti tidak logis. Kemudian kami kaum muslimin bukan berakidah dengan taklid buta, namun berdasarkan ilmu dan akal serta kesadaran penuh. Semua keburukan yang kalian klaim sebagai nalar dan logis adalah remeh temeh berdasarkan penilaian akal dan logika kami.

            Saya berikan dua contoh sederhana;

  1. Disebutkan dalam hadits shahih bahwa matahari sujud kepada Allah Swt di bawah Arsy (Shahih al-Bukhari, no. 3199 dan shahih Muslim, no. 159) Lalu ada orang kurang nalar berkata; ini mustahil dicerna logika.

Cukup tanyakan padanya: adakah engkau percaya bahwa matahari diciptakan Allah Swt atau tidak? Jika dia jawab; iya, dia ditanya lagi; lantas apa masalahnya jika sebuah ciptaan sujud ke penciptanya? Apa masalahnya jika sang pencipta menjadi tempat khusus sang makhluk sujud kepada penciptanya, lalu menyembunyikan caranya dari makhluk yang lain?

Lalu; apakah engkau sudah menguasai semua hal yang terkait dengan matahari hingga seolah hanya seperti lingkaran piringan yang engkau tahu detailnya? Jawabannya; pasti tidak. Karena matahari ini ciptaan Allah Swt yang sangat besar, yang dapat memuat lebih dari sejuta bumi seukuran bumi yang kita pijak saat ini, dan masih sangat banyak hal terkait matahari yang tidak diketahui hingga kini, termasuk cara sujudnya kepada Allah Swt.

Kemudian, apa alasan kenapa sulit menerima matahari bersujud kepada sang pencipta? Apakah engkau kira dia sujud seperti sujudmu? Lalu engkau katakan itu mustahil? Apakah engkau kira kalau kata ‘engkau sujud ke matahari” berarti engkau sujud dengan tujuh anggota tubuhmu? Sadarilah, bahwa matahari bersujud sesuai yang ditakdirkan Allah Swt dan selaras dengan hakikat ciptaannya. Persis seperti orang yang sehat punya cara sujud sendiri, orang sakit juga punya cara sujud sendiri; apakah di atas kursi, berbaring, padahal dia orang yang sama. Lantas bagaimana lagi kalau antara makhluk yang berbeda sejak awal.

  • Para musuh sunnah kadang berucap: disebutkan dalam hadits bahwa setan kencingi telinga orang yang tertidur hingga lalai shalat subuh. (Shahih al-Bukhari, no. 1144 dan Shahih Muslim, no. 774). Ini bertentangan dengan akal, karena tidak ada bekas kencing yang terlihat pada orang tertidur itu.

Membantah hal ini sesungguhnya sangat lemah, karena kencing setan tidak sama dengan air kencing manusia, sebagai konsekuensi logis dari bentuk ciptaannya yang berbeda dengan bentuk kita. Siapa yang meyakini setan ada sedang tidak dia lihat, maka semestinya dia juga yakini kalau setan bisa kencing sekalipun tidak dia lihat juga. Sebab, yang kabarkan bahwa setan ada adalah dia juga yang kabarkan bahwa setan kencingi telinga orang yang tertidur dan tidak shalat fajar.

Bagaimana orang sikapi dirinya yang seolah mengira ada kontradiksi antara hadits dengan akal sehat? Sikapnya disimpulkan dalam empat bentuk, yakni;

  1. Kuatkan hatinya untuk kedepankan wahyu ketimbang akalnya bahkan atas segala sesuatu.
    1. Kuatkan hatinya bahwa mustahil akan terjadi kontradiksi antara hadits shahih dengan akal sehat
    1. Hendaknya motif utamanya adalah menemukan kebenaran
    1. Hendaknya segera menemui ulama yang dapat memberikan jawaban pasti dan menenangkan. Karena obat ketidaktahuan adalah bertanya.

            Kedua: salah satu syubhat para musuh sunnah bahwa hadits-hadits yang ada dan tersebar di kalangan manusia hari ini tidak dapat dipercaya, karena mayoritasnya hadits-hadits ahad. Sedang hadits-hadits ahad tidak dapat dipercaya, karena perawi kemungkinan salah, lupa atau berdusta, sebab mereka tidak maksum.

            Jika hadits-hadits diragukan maka semestinya tidak diperhatikan, atau minimal tidak diterima kecuali yang kita dapatkan ditunjukkan dalam al-Qur’an. Syubhat yang mereka sebutkan ini menambah kesalahan berat yang telah ada sebelumnya. Telah disebutkan sebelumnya beberapa pernyataan tentang bagaimana menjaga sunnah nabi Saw, dan bahwa hadits-hadits nabi telah melalui beberapa tahapan penelitian, pemilahan, dan kajian tajam untuk menyeleksi antara hadits shahih dan tidak shahih. Baiknya merujuk pada bahasan tersebut.

            Kesimpulan; syubhat mereka adalah terjebak dalam qiyas fasid di mana mereka mengklaim bahwa hadits shahih yang belum sampai derajat mutawatir dia diperlakukan seperti kabar biasa dari siapa saja, sehingga tidak layak dipercaya. Jadi, hadits nabi Saw mereka perlakukan dengan sangat rendah dan hina.

            Pernyataan mereka itu jelas termasuk qiyas fasid. Sebab semua hadits yang shahih dari Rasulullah Saw adalah hujjah dengan sendirinya sehingga wajib diterima dan dipedomani di semua lini dan sektor agama.

            Paparan di sini bukan untuk mengulas persoalan ini karena bahasannya sangat panjang dan dalam. Namun saya hanya ingin menekankan bahwa pernyataan mereka itu salah besar. Kita tidak sedang bicarakan perkataan orang biasa, namun kita bicarakan hadits Rasulullah Saw yang sangat berbeda dengan perkataan siapa pun.

            Hadits-hadits ahad yang diriwayatkan dari Rasulullah Saw yang telah dihukumi shahih para ulama dan dijamin validitasnya, dan telah diuji kepastiannya melalui empat sisi, yakni; al-mukhbir (sisi perawi), al-mukhbar anhu (matan), al-mukhbir bihi (wahyu Allah) dan al-mukhbar (para ulama hadits). Empat sisi ini menjadikan hadits-hadits Rasulullah Saw mengandung qath’iyah (kepastian dan ketetapan), yakni;

            Sisi al-mukhbir; siapa yang dimaksud? Mereka adalah para sahabat Rasulullah Saw, generasi terbaik dan termulia setelah masa kenabian, kemudian tabi’un, tabi’-tabi’in, lalu generasi setelahnya, generasi terbaik, paling takwa, paling wara’ dan paling berilmu. Mustahil mereka disamakan dengan orang biasa.

            Sisi al-mukhbar anhu; hadits-hadits ahad yang diriwayatkan dari Rasulullah Saw mengabarkan tentang Allah Swt, tentang agamaNya, tentang hukum-hukumNya. Hadits termasuk hujjah Allah Swt atas hambaNya, maka hujjah Allah Swt tersebut wajib dijaga. Firman Allah Swt:

اِنَّا نَحۡنُ نَزَّلۡنَا الذِّكۡرَ وَاِنَّا لَهٗ لَحٰـفِظُوۡنَ‏

            Terjemahannya: “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Alquran, dan pasti Kami (pula) yang memeliharanya.” (Qs; al-Hijr: 9).

            Sisi al-mukhbir bihi; yakni hadits-hadits yang mengabarkan perkataan Rasulullah Saw yang juga representasi dari perkataan Allah Swt. Selain itu, cahaya yang terkandung di dalamnya menjadikannya beda dengan perkataan orang biasa.

            Sisi al-mukhbar; artinya pihak yang kompeten menerima dan menghukumi sebuah hadits adalah para ulama hadits kaliber yang mengerahkan perhatian besarnya terhadap hadits Rasulullah Saw, menyeleksinya dan memilah yang shahih. Jadi, analogi mereka termasuk qiyas ma’a al-fariq karena adanya perbedaan antara perkataan nabi Saw dengan orang biasa.

            Yang mengherankan, karena para musuh sunnah sering mengklaim kebenaran pernyataan, nukilan dan syair-syair yang banyak, namun mereka tidak membantahnya karena alasan ahad seperti yang mereka lakukan terhadap sunnah. Demikian pula, dalam interaksi sosial mereka dan dalam tulisan-tulisan di media sosial atau selainnya, mereka menerima informasi apa saja yang disebar di sekelilingnya, baik mengenai pesta, kesedihan, persoalan politik atau selainnya. Padahal informasi yang mereka klaim benar itu, belum mereka periksa, teliti, telusuri dan semacamnya seperti yang mereka lakukan pada hadits Rasulullah Saw. Sementara hadits Rasulullah Saw mustahil akan disamakan dengan informasi apa saja.

  • Pesan Umum Cara Menyikapi Syubhat Tentang Sunnah.

            Berikut ini jawaban umum untuk setiap syubhat yang dilontarkan musuh-musuh sunnah, yakni;

  1. Apabila pihak yang melontarkan syubhat tentang sunnah adalah kelompok Qur’aniyyun maka cukup disanggah bahwa, pihak musuh-musuh Allah Swt telah melontarkan syubhat yang sama atau mirip dengan syubhat ini terhadap al-Qur’an. Lantas bagaimana kalian menyanggahnya? Jadi, sanggahan kalian terhadap mereka adalah sanggahan kami terhadap syubhat kalian.
    1. Setiap syubhat yang dilontarkan tentang sunnah sejatinya telah dipatahkan, bukan dari satu sisi saja, namun dari banyak sisi. Kaum muslimin berani menantang siapapun untuk membuktikan tuduhan mereka terhadap hadits shahih. Dan nyatanya, telah banyak kitab yang ditulis mengulas ini maka hendaklah dirujuk oleh siapapun yang hendak mencari kebenaran.
    1. Setiap orang yang menentang sunnah bisa karena dia jahil terhadap sunnah, atau terhadap maknanya, atau mana yang valid dan mana yang tidak. Dan umumnya kejahilan ini disertai motif buruk dan kendali hawa nafsu.
    1. Pantas untuk dikatakan kepada para penentang sunnah, coba bandingkan antara sunnah yang kalian ingkari dengan sunnah yang jumlahnya ribuan dan telah termaktub dalam kitab sunnah. Berapa yang kalian ingkari, satu, dua, sepuluh atau dua puluh? Bagaimana perbandingan angka ini dengan ribuan hadits yang tidak kalian tentang dan tidak pula kalian anggap bermasalah?

Pertanyaan ini menegaskan bahwa para penentang sunnah sesungguhnya terjatuh dalam kesalahan berfikir yakni generalisasi kesalahan. Di mana diantara mereka ada yang memandang – akibat nihilnya ilmunya atau sebab nafsunya – sangat sedikit jumlah hadits yang dianggap bermasalah, lalu menjadikannnya dasar mengeneralisasi tudingan kesalahan sunnah. Lalu di mana sikap netralitas dan proporsionalitas itu?

  • Menjelaskan sikap kontradiktif dan kesalahan yang menimpa para penentang sunnah.

Contoh; diantara syubhat yang dianggap kuat dan dihembuskan para musuh sunnah bahwa; Rasulullah Saw sendiri pernah melarang sahabat menulis haditsnya melalui sabdanya: “Jangan kalian tulis ucapanku, siapa yang menulis ucapanku selain al-Qur’an maka hendaklah dia hapus.” (Shahih Muslim, no. 3004) Dengan begitu semua hadits semestinya tidak diterima.

Jawabannya bahwa: Rasulullah Saw memang pernah melarang menulis sunnah, akan tetapi larangan tersebut dihapus dengan perintah yang ditegaskan setelahnya, bahkan disebutkan dalam banyak hadits. Hanya saja, hadits-hadits yang memuat perintah tidak mereka perhatikan bahkan mereka ditolak karena tidak sejalan dengan keinginan mereka. Mereka hanya menyebutkan hadits yang melarang lalu mengabaikan atau sengaja melupakan hadits-hadits yang mengizinkan haditsnya ditulis.

Diantaranya, bahwa Beliau Saw perintahkan untuk menulis ucapannya pada hari al-fathu seraya berkata: Tulislah untuk Abi Syah.” (HR. al-Bukhari, no. 2434 dan Muslim, no. 1355).

Diantaranya lagi; bahwa Beliau Saw berkata kepada Abdullah bin Amru r. a.; tulislah, demi dzat yang jiwaku berada di tangannya, tidak akan kuucapkan kecuali kebenaran.” Lalu beliau tunjuk bibirnya. (HR. Abu Dawud, no. 3647). Hadits-hadits yang mengizinkan ucapan nabi Saw ditulis sangat banyak dan shahih, lantas kenapa mereka tidak merujuk padanya? Tidakkah ini menunjukkan kalau mereka sesungguhnya hanya menikuti nafsu mereka semata?

Cara mensinergikan dan mengkompromikan antara hadits yang melarang menulis sunnah dengan hadits yang mengizinkan adalah bahwa hadits yang melarang disebutkan lebih dahulu kemudian larangan tersebut diganti dengan izin sunnah ditulis.

Larangan menulis sunnah disebutkan terlebih dahulu agar tidak tercampur dengan al-Qur’an, setelah dirasa cukup aman dan tidak akan tercampur baur maka dizinkanlah menulis sunnah sebagaimana pendapat jumhur ulama. Sebagian ulama lain menyatakan; larangan menulis sunnah tidak difahami mutlak, karena yang dilarang adalah al-Qur’an dan sunnah ditulis dalam satu lembar. Adapun jika keduanya ditulis dalam lembaran berbeda maka tidak dilarang.

Terlepas dari jawaban di atas, saya hanya ingin menunjukkan betapa pernyataan mereka penuh kontradiksi dan sarat kesalahan fatal, karena mereka menafikan sesuatu dengan dasar sesuatu yang dinafikan itu. Artinya: mereka mengingkari hadits akan tetapi mereka sendiri berdalilkan hadits. Jadi, pilihannya hanya ada dua bagi mereka; mengimani hadits yang dijadikan dalil sekalipun mematahkan keingkaran mereka sendiri, atau mereka ingkari namun jangan pula berdalilkan hadits.

Contoh lain; mereka hembuskan syubhat tentang sunnah, mereka menyatakan; hadits-hadits nabi ada yang lemah, bahkan yang tsiqah pun juga ada kelemahan. Ini pernyataan sangat lemah, bahkan jelas sebuah kesalahan. Faktanya, engkau bilang ada hadits yang lemah, lantas bagaimana engkau tahu kalau hadits itu lemah? Pasti engkau tahu itu melalui pernyataan ulama hadits bahwa hadits tersebut lemah. Jadi, kenapa engkau terima pernyataan mereka tentang hadits lemah sedang engkau tolak pernyataan mereka tentang hadits lain yang shahih? Tidakkah ini mempertegas kontradiksi kalian atau kendali nafsu atas kalian?

  • Fokus telisik syubhat yang mereka hembuskan karena terkadang mereka sendiri tidak faham syubhat yang mereka lontarkan.

Contoh: diantara syubhat paling popular dihembuskan adalah; syubhat yang disebutkan kaum orientalis bahwa hadits ini jumlahnya sangat banyak, maka mesti diragukan validitasnya. Bahkan imam al-Bukhari sendiri menyatakan bahwa hadits dalam shahihnya adalah hasil “sortiran” dari 600.000 hadits. Menurut mereka, mustahil ada orang yang mampu berucap sebanyak itu.

Hakikatnya, pernyataan mereka itu adalah bukti kejahilan mereka tentang hadits dan tidak punya gambaran baik tentang realitas riwayat.

Pertama: bahwa hadits-hadits nabi tidak hanya berbentuk perkataan semata. Namun juga mencakup perbuatan Nabi Saw dan persetujuannya. Kemudian para sahabat selalu memantau semua gerak gerik Rasulullah Saw. Lantas seorang dari pengingkar sunnah itu, andai dicatat semua perbuatan, gerakan, diamnya dan lainnya selama satu tahun penuh maka pasti hasilnya akan lahir ribuan catatan.

Kedua: hadits menurut ulama salaf dan ulama hadits adalah diriwayatkan bukan hanya lafadznya. Andai banyak sahabat yang mendengar satu hadits dari Rasulullah Saw lalu mereka semua meriwayatkannya maka riwayat setiap sahabat dianggap satu hadits tersendiri.

Contoh hadits: “Allah Swt senang melihat seseorang yang mendengar ucapanku lalu dia menghafalnya.” Ini adalah hadits nabi Saw yang diriwayatkan oleh 24 orang sahabat. Jadi dia dihitung 24 hadits dan tidak dihitung satu hadits.

Ketiga: sebagian ulama hadits memasukkan atsar sahabat dan tabi’in dalam kelompok hadits. Dengan demikian tidak mesti heran jika jumlahnya terdengar banyak.

  • Perhatikan akidah penentang sunnah tersebut. Sebab, kadang mendebat akidahnya jauh lebih prioritas ketimbang menyanggah syubhat yang dia lontarkan terhadap sunnah.

Contoh; andai ditemukan seorang atheis menolak hadits tentang mukjizat Nabi Saw, maka mungkin lebih maslahat bila dia diyakinkan tentang adanya Allah Swt terlebih dahulu. Sebab, jika dia telah yakini adanya Allah Swt maka syubhatnya akan hilang dengan sendirinya. Di mana mukjizat tersebut terjadi di luar batas kebiasaan manusia, namun ditakdirkan terjadi oleh dzat yang maha kuasa atas segala sesuatu dan maha melakukan apapun yang dia kehendaki.

Diantara cara penting patahkan syubhat mereka adalah dengan mengumpulkan semua riwayat terkait tema yang dipersoalkan. Lalu dianalisa apakah perlu disinergikan, atau ditarjih salah satunya atau menggunakan metode ilmiyah lainnya. Berapa banyak kaum pengingkar sunnah mempersoalkan satu hadits, sementara jawabannya terdapat pada riwayat atau pada riwayat-riwayat lainnya. Dengan demikian, syubhat tersebut hilang dengan sendirinya.

  • Perlu diperhatikan bahwa sebagian besar syubhat yang mereka hembuskan tidak berdalil sama sekali, bahkan dalil yang syubhat pun tidak ada. Syubhat itu hanya sebatas klaim semata atau hanya murni pengingkaran. Misal, ada yang berkata; hadits ini bertentangan dengan akal sehat. Lalu ditanya, apa buktinya? Dia sendiri tidak tahu dan tidak bisa membuktikan.
    • Memastikan validitas hadits merupakan syarat mutlak sebelum lebih jauh menelisik syubhat yang dihembuskan mengenai hadits tersebut. Faktanya, sangat banyak hadits yang mereka ingkari dan tentang, namun ternyata hadits tersebut lemah atau bahkan palsu.
  • Sebab Syubhat Menyebar Zaman Sekarang

            Ruang media ikut berperan menyebarkan syubhat para pengingkar sunnah. Mereka menyiapkan tempat untuk setiap kelompok pengingkar sunnah. Demikian pula media televisi yang menjadikan pengingkar sunnah sebagai narasumber ditambah dengan media komunikasi. Sekte Qur’aniyyun menulis dan bercuap-cuap, juga rasionalis, sekuler, atheis, nashara dan sebagainya.

            Adapula kaum muslimin yang mengikuti dan membantu mereka menyebarkan syubhat tanpa sadar. Mereka sering menulis di group-group whatsapp, atau di akun facebook dan media sosialnya bahwa; dengar apa yang dinyatakan fulan”. Mungkin tujuannya untuk membantah, akan tetapi dia telah ikut menyebarkan syubhat itu tanpa sadar dan tanpa sengaja. Namun hasilnya tidak dia duga sebelumnya.

            Oleh sebab itu, perlu kiranya untuk saling mengingatkan untuk giat memberangus kebathilan dan menutup ruang bagi pendakunya. Apabila engkau mendengar syubhat tentang al-Qur’an atau sunnah atau tentang hukum-hukum Islam, maka apa kepentingan untuk engkau sebar di kalangan masyarakat? Tidakkah engkau sudah jadi sebab sebagian orang awam terpedaya dengan syubhat itu? Tampaknya, lebih tepat engkau abaikan syubhat itu, engkau hapus dari postingan dan ingatkan orang yang sebarkan untuk menghentikannya.

  • Pesan-pesan Umum.

            Pesan pertama: Camkan bahwa kewajiban kita menyikapi syubhat yang dihembuskan musuh-musuh Islam adalah mengabaikannya, menanggalkannya. Firman Allah Swt;

وَالرُّجۡزَ فَاهۡجُرۡ

            Terjemahannya: “dan tinggalkanlah segala (perbuatan) yang keji,” (Qs; al-Mudatstsir: 5).

            Nabi Saw juga bersabda: “Orang yang berhijrah itu adalah yang meninggalkan larangan Allah Swt.” (Shahih al-Bukhari, no. 10). Firman Allah Swt:

وَاِذَا رَاَيۡتَ الَّذِيۡنَ يَخُوۡضُوۡنَ فِىۡۤ اٰيٰتِنَا فَاَعۡرِضۡ عَنۡهُمۡ

            Terjemahannya: “Apabila engkau (Muhammad) melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka” (Qs; al-An’am: 68).

            Kata a’ridh adalah kata perintah yang mengandung hukum wajib. Jadi wajib setiap muslim untuk mengabaikan semua bentuk syubhat, jangan sengaja mendengarnya, namun hendaklah menjauhi agar selamat.

            Nabi Saw mengingatkan sebagaimana disebutkan dalam kitab shahihain bahwa: Jika kalian melihat orang yang suka mengikuti ayat-ayat musytabihat maka mereka itulah yang dikatakan Allah waspadai mereka.” Kata fahzaruuhum adalah kata kerja yang bermakna wajib. Sengaja menengok syubhat adalah penyakit yang akan melemahkan hati dan merapuhkan iman maka waspadalah.

            Pesan kedua: Konsisten menggunakan jawaban global untuk membantah setiap syubhat yang dihembuskan. Mengetahui kebenaran merupakan senjata ampuh untuk tahu kebathilan. Firman Allah Swt:

فَمَاذَا بَعۡدَ الۡحَـقِّ اِلَّا الضَّلٰلُ​​ ۚ

            Terjemahannya: “maka tidak ada setelah kebenaran itu melainkan kesesatan.” (Qs: Yunus: 32).

            Untuk tahu syubhat tidak mesti mengetahui bantahannya secara detail. Sebab, syubhat tidak akan habis, maka cukup tahu kalau syubhat itu bertentangan dengan kebenaran makanya wajib dijauhi.

            Maksudnya; kebathilan itu dapat diketahui melalui dua cara, yakni; mengetahui titik lemah sekaligus bantahannya. Kemudian mengetahui kebenaran. Jadi, semua yang bertentangan dengan kebenaran dipastikan bathil. Jika seseorang yang terpedaya syubhat dalam hal rububiyah, atau nubuwah, atau al-Qur’an atau sunnah atau hukum-hukum Islam datang menemuimu, namun engkau tidak tahu bantahannya, maka katakan dengan tegas bahwa engkau membawa pertanyaan yang tidak saya tahu jawaban detailnya. Persoalan itu termasuk musytabihat dan tidak masalah tetap saya anggap musytabihat, namun saya tetap yakin syubhat itu bathil. Dasarnya adalah syubhat itu bertentangan dengan kebenaran. Dan semua yang bertentangan dengan kebenaran pasti kebathilan.

            Pesan ketiga; tanamkan dalam dirimu dua hal tentang al-Qur’an; yakni;

  1. Firman Allah Swt:

وَمَا كُنۡتَ تَرۡجُوۡۤا اَنۡ يُّلۡقٰٓى اِلَيۡكَ الۡكِتٰبُ اِلَّا رَحۡمَةً مِّنۡ رَّبِّكَ​ فَلَا تَكُوۡنَنَّ ظَهِيۡرًا لِّـلۡكٰفِرِيۡنَ‏ وَلَا يَصُدُّنَّكَ عَنۡ اٰيٰتِ اللّٰهِ بَعۡدَ اِذۡ اُنۡزِلَتۡ اِلَيۡكَ​

Terjemahannya: “Dan engkau (Muhammad) tidak pernah mengharap agar Kitab (Alquran) itu diturunkan kepadamu, tetapi ia (diturunkan) sebagai rahmat dari Tuhanmu, sebab itu janganlah sekali-kali engkau menjadi penolong bagi orang-orang kafir! dan jangan sampai mereka menghalang-halangi engkau (Muhammad) untuk (menyampaikan) ayat-ayat Allah, setelah ayat-ayat itu diturunkan kepadamu,” (Qs; al-Qashash: 86-87).

Jika engkau yakin bahwa Allah Swt turunkan al-Qur’an dan sunnah sebagai saudara kandungnya sebagai rahmat dari Allah Swt, maka engkau pasti tahu bahwa semua perintah dan larangan di dalamnya pasti mengandung rahmat dan karunia dari Allah Swt. Maka jangan sampai dadamu menyimpan ragu hingga menganggap bahwa mengingkarinya lebih baik dan lebih manfaat. Oleh sebab itu, jangan peduli dengan tipu muslihat musuh-musuh wahyu dan jangan sampai tertipu oleh mereka. Jangan pula mengikuti godaan nafsu mereka.

  • Firman Allah Swt:

وَلَقَدۡ ضَرَبۡنَا لِلنَّاسِ فِىۡ هٰذَا الۡقُرۡاٰنِ مِنۡ كُلِّ مَثَلٍ​ؕ وَلَٮِٕنۡ جِئۡتَهُمۡ بِاٰيَةٍ لَّيَقُوۡلَنَّ الَّذِيۡنَ كَفَرُوۡۤا اِنۡ اَنۡتُمۡ اِلَّا مُبۡطِلُوۡنَ‏ . كَذٰلِكَ يَطۡبَعُ اللّٰهُ عَلٰى قُلُوۡبِ الَّذِيۡنَ لَا يَعۡلَمُوۡنَ‏

Terjemahannya: “Dan sesungguhnya telah Kami jelaskan kepada manusia segala macam perumpamaan dalam Alquran ini. Dan jika engkau membawa suatu ayat kepada mereka, pastilah orang-orang kafir itu akan berkata, “Kamu hanyalah orang-orang yang membuat kepalsuan belaka. Demikianlah Allah mengunci hati orang-orang yang tidak (mau) memahami.” (Qs; al-Ruum: 58-59).

Allah Swt telah turunkan al-Qur’an ini membawa kebenaran yang mematahkan semua hujjah. Akan tetapi orang-orang zhalim senantiasa menentang kebenaran yang sudah jelas. Maka betapapun engkau temui mereka, menyebutkan ayat mendukung kebenaran yang engkau bawa, mereka tetap akan berkata; ayat itu bathil. Maka tetaplah engkau bersabar meniti jalan wahyu dan tetap agungkan wahyu. Sungguh janji Allah Swt akan engkau terima dan engkau beroleh pahala berlipat atas kesabaran dan komitmenmu.

Jangan sampai engkau diperdaya oleh mereka yang lemah keyakinannya kepada wahyu, karena setiap kali engkau abaikan mereka dan jauhi tipu muslihat mereka, maka mereka pun akan merendahkanmu dan menggodamu agar tinggalkan kebenaran.

Ayat-ayat ini diturunkan bukan permainan, maka wajib bagimu mentadabburinya dengan seksama. Dan sungguh kita sangat butuh kepadanya pada hari-hari belakangan ini.

            Untuk ulasan tambahan silahkan baca;

  1. Risalah “Syubhatun Haula al-Sunnah” karya Abdurrazzaq Afifi
  2. kitab “al-Anwaru al-Kasyifah” karya Sykeh Abdurrahman al-Mu’allimi.

Terjemahan Kitab Akidahislamsunnahsyubhattauhid

Navigasi pos

Previous post
Next post

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recent Posts

  • Perkataan Ulama Ahlussunnah Waljama`ah Terkait Sifat “ilmullah” (Pengetahuan Allah) dan Kekayaan serta Kalam-Nya. Bag. 2
  • Perkataan Ulama Ahlussunnah Waljama`ah Terkait Sifat “ilmullah” (Pengetahuan Allah) dan Kekayaan serta Kalam-Nya
  • Perkataan Ulama Ahlussunnah Waljama`ah Terkait Sifat “Al-`Uluw” (Kemahatinggian Allah) (Bagian 5)
  • Perkataan Ulama Ahlussunnah Waljama`ah Terkait Sifat “Al-`Uluw” (Kemahatinggian Allah) (Bagian 4)
  • INFORMASI ALAM GHAIB
Juni 2026
S S R K J S M
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  
« Mei    

ahli kitab (2) ahlussunnah (3) akal (4) Akidah (105) Al 'Uluw (2) Allah (7) alquran (32) budaya (4) dalil (2) evolusi (1) firqah (2) firqah najiyah (2) ghaib (2) hadits (2) hidayah (2) ibadah (3) ibnu taimiyah (4) ilmu (67) imam syafi'i (9) iman (3) islam (91) kalam (3) kenabian (4) kesesatan (2) kristologi (5) ma'rifah (2) manusia (2) meditasi (1) nubuwah (3) pengetahuan (16) perdebatan (1) rububiyah (1) sejarah (4) sunnah (4) syubhat (5) tafsir (2) takdir (2) tauhid (79) taurat (3) teori (2) tsaqafah (3) turats (1) ulama (2) uluw (2) wahyu (2)

©2026 AKIDAH.NET | WordPress Theme by SuperbThemes