PASAL XII – BERMAKSIAT DENGAN ALASAN TAKDIR Supriyadi Yusuf Boni, 28 Juli 2025 Sumber: Kitab Maraqy al-Wa’yi (Penanaman Kesadaran) Penulis: Prof. Dr. Shaleh bin Abdul Aziz Utsman Sindi Penerjemah: Supriyadi Yousef Boni Editor: Idrus Abidin Orang mukmin sejati adalah mereka yang bertakwa kepada Allah Swt, menjalankan perintah, meninggalkan larangan, bersabar menghadapi semua yang ditakdirkan menimpanya, senantiasa meminta pertolongan Allah Swt. Firman Allah Swt: اِيَّاكَ نَعۡبُدُ وَاِيَّاكَ نَسۡتَعِيۡنُؕ Terjemahannya: “Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.” (Qs: al-Fatihah: 5). Jika berdosa dia segara bertaubat, dia tidak beralasan dengan takdir atas segala kesalahan yang dia lakukan, karena menurutnya tidak layak seorang makhluk berhujjah di hadapan sang pencipta alam semesta. Dia betul-betul mengimani takdir, namun tidak menjadikannya sebagai alasan pembenaran atas dosa dan kesalahannya, sebagaimana disebutkan dalam hadits sayyidul istighfar: “Saya berlindung kepadaMu dari segala keburukan yang saya lakukan, saya mengkaui semua nikmatMu untukku, saya mengkaui segala dosaku, maka ampunilah aku, karena tiada pengampun dosa kecuali Engkau.” (HR. al-Bukhari, no. 6306). Hamba sejati selalau mengkaui nikmat Allah Swt kepadanya berupa kebajikan, meyakini bahwa hanya Allah Swt yang memberinya hidayah dan memudahkannya untuknya, mengkaui semua dosanya lalu bertaubat meninggalkannya. Sikap dan ungkapannya menyatakan: saya menaatiMu atas karuniaMu, semua sanjungan hanya untukMu, saya bermaksiat kepadaMu sedang Engkau tahu, dan hujjah hanya milikMu, maka saya mohon maafMu dan ampunanMu. Disebutkan dalam sebuah hadits qudsi bahwa: Wahai hambaKu, sungguh itu semua hanya amalmu yang aku catat untukmu, lalu Aku penuhi balasannya, maka siapa yang menerima kabikan maka hendaklah ia memuji Allah Swt, namun siapa yang menemukan selain itu maka jangan sesali kecuali dirinya sendiri.” (HR. Muslim, no. 2577). KAPAN BOLEH BERALASAN DENGAN TAKDIR DAN KAPAN TIDAK Takdir wajib diimani, dijadikan alasan pada musibah dan bencana yang menimpa, namun bukan pada kemaksiatan dan dosa. Karena wajib bagi setiap orang bertaubat dari semua dosa lalu bersabar menghadapi musibah. Seorang hamba semestinya tidak berdosa, jika berdosa maka wajib segera istighfar dan bertaubat. Adapaun musibah yang menimpa maka disikapi dengan menerimanya dengan sabar sebagai bukti ketulusan dan ridha kepada Allah Swt sebagai al-Rabb. Penjelasannya: bahwa seorang mukmin selalu ditenangkan oleh takdir Ketika menghadapi musibah. Jika dia ditimpa musibah yang sulit dia hindari, maka dia tenang dengan takdir Allah Swt itu lalu menenangkan dirinya. Sehingga musibah terasa ringan baginya, lalu mencapai ketenangan, kenyamanan dan penyerahan diri sepenuhnya. Sebab, dia tahu bahwa takdir Allah Swt selalu membawa kebaikan untuknya, seraya berkata: Allah Swt mentakdirkannya dan apapun yang dikehendaki maka dia lakukan. Kemudian selalu mengingat sabda Rasulullah Saw: “Sangat adil ketetapanMu untukku.” (HR. Ahmad, no. 3712). Dia mengkaui bahwa takdir Allah Swt selalu baik untuknya. Dengan begitu dia tenang seraya berharap menjadi penghapus kesalahan-kesalahannya, dan mengangkat derajatnya. Firman Allah Swt: مَاۤ اَصَابَ مِنۡ مُّصِيۡبَةٍ اِلَّا بِاِذۡنِ اللّٰهِ وَمَنۡ يُّؤۡمِنۡۢ بِاللّٰهِ يَهۡدِ قَلۡبَهٗؕ Terjemahannya: “Tidak ada suatu musibah yang menimpa (seseorang), kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa beriman kepada Allah, niscaya Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya.” (Qs: al-Taghabun: 11). Alqamah bin Qais r. a. – seroang tabi’in – berkata menafsirkan ayat ini bahwa: dia adalah seorang tertimpa musibah lalu dia yakin bersumber dari Allah Swt sehingga dia menerima dengan tulus dan ridha. Maksudnya, siapa yang ridha menerimanya, lalu berserah diri pada takdirnya maka Allah Swt karuniai hidayah di hatinya, dia tenang dan tidak gundah, dikaruniai ketabahan, kesabaran dan taufiq. Dia dapatkan balasan cepat lalu ditambah pahala yang disiapkan oleh Allah Swt untuknya di hari kiamat. Kesimpulannya; menjadikan takdir sebagai alasan hanya dibolehkan pada musibah dan bukan pada dosa. Makanya, orang bahagia adalah yang beristighfar dari dosanya, sabar menjalani musibah. Firman Allah Swt: فَاصۡبِرۡ اِنَّ وَعۡدَ اللّٰهِ حَقٌّ وَّاسۡتَغۡفِرۡ لِذَنۡۢبِكَ Terjemahannya: “Maka bersabarlah kamu, sesungguhnya janji Allah itu benar, dan mohonlah ampun untuk dosamu” (Qs; Ghafir; 55). Sedang orang sengsara adalah yang berkeluh kesah menjalani musibah lalu beralasan dengan takdir saat melakukan dosa. HUKUM BERALASAN DENGAN TAKDIR KALA MELAKUKAN DOSA. Sungguh termasuk kehancuran dan kurang taufiq serta buruk adab kepada Allah Swt, jika seseorang beralasan dengan takdir kala melakukan dosa. Dia menyangka takdir dapat jadi alasan untuk tidak menjalankan perintah atau kala melakukan perbuatan haram seraya berucap: segala sesuatu telah ditakdirkan oleh Allah Swt, saya tidak punya kehendak dan kuasa untuk mengubah takdir Allah Swt padaku. Dia mengklaim dia terpaksa melakukan sesuatu yang tidak sanggup dia hindari. Jika dikatakan kepadanya; jalankan perintah Allah Swt, dia jawab; saya tidak akan melakukannya hingga Allah Swt menciptakan perbuatan itu dalam diriku. Jika dikatakan: berhentilah melakukan yang haram, dia jawab; saya tidak lakukan itu sampai Allah Swt menciptakan taubat dalam hatiku. Andai takdir boleh dijadikan alasan pembenaran melakukan maksiat, maka seharusnya tidak ada yang pantas dikecam karena melakukan kekufuran atau kemaksiatan. Jadi, Iblis mestinya tidak dikecam, Fir’aun tidak dikecam, Namrud juga tidak dikecam, tidak pula kaumnya Nuh, kaumnya Hud, atau orang-orang musyrik Arab, dan ini tentu kebatilan fatal. Orang yang beralasan dengan takdir dalam perbuatan maksiatnya sama persis dengan kelakuan Iblis – makhluk pertama yang beralasan dengan takdir terhadap Allah Swt, lalu menyalahkan takdir – padahal Allah Swt berfirman: قَالَ فَاهۡبِطۡ مِنۡهَا فَمَا يَكُوۡنُ لَـكَ اَنۡ تَتَكَبَّرَ فِيۡهَا فَاخۡرُجۡ اِنَّكَ مِنَ الصّٰغِرِيۡنَ Terjemahannya: “(Allah) berfirman, “Maka turunlah kamu darinya (surga); karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya. Keluarlah! Sesungguhnya kamu termasuk makhluk yang hina.”” (Qs: al-A’raf: 13). Sedang jawabannya berkata; قَالَ فَبِمَاۤ اَغۡوَيۡتَنِىۡ لَاَقۡعُدَنَّ لَهُمۡ صِرَاطَكَ الۡمُسۡتَقِيۡمَۙ Terjemahannya: “(Iblis) menjawab, “Karena Engkau telah menyesatkan aku, pasti aku akan selalu menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus,” (Qs; al-A’raf: 16). Ketimbang dia mengatakan: wahai rabb, saya menzhalimi diriku dan telah berbuat salah maka ampunilah aku, malahan dia berkata; wahai rabb, karena Engkaulah yang telah simpangkan aku, dan Engkaulah yang sesatkan aku. Betapa buruknya adabnya kepada Allah Swt. Jadi, alasan seperti ini adalah alasan iblisiyah, sekalipun menjadi alasan banyak kaum pelanggar agama yang di antaranya kaum musyrikin di zaman nabi Saw. Firman Allah Swt: سَيَـقُوۡلُ الَّذِيۡنَ اَشۡرَكُوۡا لَوۡ شَآءَ اللّٰهُ مَاۤ اَشۡرَكۡنَا وَلَاۤ اٰبَآؤُنَا وَلَا حَرَّمۡنَا مِنۡ شَىۡءٍ ؕ كَذٰلِكَ كَذَّبَ الَّذِيۡنَ مِنۡ قَبۡلِهِمۡ حَتّٰى ذَاقُوۡا بَاۡسَنَا ؕ قُلۡ هَلۡ عِنۡدَكُمۡ مِّنۡ عِلۡمٍ فَتُخۡرِجُوۡهُ لَـنَا ؕ اِنۡ تَتَّبِعُوۡنَ اِلَّا الظَّنَّ وَاِنۡ اَنۡـتُمۡ اِلَّا تَخۡرُصُوۡنَ Terjemahannya; “Orang-orang musyrik akan berkata, “Jika Allah menghendaki, tentu kami tidak akan mempersekutukan-Nya, begitu pula nenek moyang kami, dan kami tidak akan mengharamkan apa pun.” Demikian pula orang-orang sebelum mereka yang telah mendustakan (para Rasul) sampai mereka merasakan azab Kami. Katakanlah (Muhammad), “Apakah kamu mempunyai pengetahuan yang dapat kamu kemukakan kepada kami? Yang kamu ikuti hanya persangkaan belaka, dan kamu hanya mengira.” (Qs; al-A’am: 148). Dan firman Allah Swt; قُلۡ فَلِلّٰهِ الۡحُجَّةُ الۡبَالِغَةُ ۚ فَلَوۡ شَآءَ لَهَدٰٮكُمۡ اَجۡمَعِيۡنَ Terjemahannya: “Katakanlah (Muhammad), “Alasan yang kuat hanya pada Allah. Maka kalau Dia menghendaki, niscaya kamu semua mendapat petunjuk.” (Qs; al-An’am: 149). Dua ayat dalam surah al-An’am ini sarat pelajaran penting, di antaranya; 1. Bahwa beralasan dengan takdir kala melakukan maksiat termasuk perilaku kaum musyrikin. Firman Allah Swt: لَوۡ شَآءَ اللّٰهُ مَاۤ اَشۡرَكۡنَا وَلَاۤ اٰبَآؤُنَا وَلَا حَرَّمۡنَا مِنۡ شَىۡءٍ ؕ Terjemahannya: “”Jika Allah menghendaki, tentu kami tidak akan mempersekutukan-Nya, begitu pula nenek moyang kami, dan kami tidak akan mengharamkan apa pun.” (Qs; al-An’am; 148). Siapa yang berlasan dengan takdir untuk berbuat maksiat maka dia meniti jalannya kaum musyrikin, jauh dari jalannya orang-orang mukmin. 2. Allah Swt menggabungkan dalam ayat ini antara hujjah syar’iyah dengan kehendak qadari. Di mana keduanya milik Allah Swt. Dan inilah kebenaran yang wajib diimani. Firman Allah Swt: قُلۡ فَلِلّٰهِ الۡحُجَّةُ الۡبَالِغَةُ ۚ Terjemahannya: “Katakanlah (Muhammad), “Alasan yang kuat hanya pada Allah.” (Qs; al-An’am: 149) lalu berfirman: فَلَوۡ شَآءَ لَهَدٰٮكُمۡ اَجۡمَعِيۡنَ Terjemahannya: “Maka kalau Dia menghendaki, niscaya kamu semua mendapat petunjuk.”” (Qs; al-An’am: 149). Hujjah balighah yang dimaksud adalah hujjah syar’iyah yang sudah menghunjam dalam hati dan telah dinalar oleh akal, jadi tiada alasan lagi. Sebab, Allah Swt telah mengutus para rasul, menurunkan kitab suci, menampakkan ayat-ayatNya, membuat permisalan. Dengan semua itu hujjah telah ditegakkan kepada semua manusia, dan sudah terang jalan hidayah serta patah semua pembenaran. Firman Allah Swt: رُسُلًا مُّبَشِّرِيۡنَ وَمُنۡذِرِيۡنَ لِئَلَّا يَكُوۡنَ لِلنَّاسِ عَلَى اللّٰهِ حُجَّةٌ ۢ بَعۡدَ الرُّسُلِ ؕ Terjemahannya: “Rasul-rasul itu adalah sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, agar tidak ada alasan bagi manusia untuk membantah Allah setelah Rasul-rasul itu diutus.” (Qs: al-Nisa’: 165). Sungguh Allah Swt maha penyayang dan maha bijaksana, mustahil memberi sanksi kepada hamba yang punya alasan tepat. Kamudian Allah Swt menjelaskan takdirNya dalam firmanNya: فَلَوۡ شَآءَ لَهَدٰٮكُمۡ اَجۡمَعِيۡنَ Terjemahannya: “Maka kalau Dia menghendaki, niscaya kamu semua mendapat petunjuk.”” (Qs; al-An’am: 149). Oleh sebab itu, setiap hamba wajib menggabungkan antara hujjah syar’iyah dengan kehendak qadari. Jadi, semua bentuk kesyirikan dan maksiat yang dilakukan oleh kaum musyrikin menandakan kehendak mereka sendiri dan kuasa mereka walau tidak pula terlepas dari kehendak dan takdir Allah Swt. Realitas ini sudah cukup untuk memaksa mereka bertanggung jawab atas segala pelanggaran mereka, lalu mereka dibalas atas segala amalan mereka di akhirat kelak. Dan Allah Swt pasti adil dan tidak akan berlaku zhalim. 3. Ayat menunjukkan bahwa menjadikan takdir sebagai alasan bermaksiat adalah lemah, di mana Allah Swt berfirman: قُلۡ فَلِلّٰهِ الۡحُجَّةُ الۡبَالِغَةُ ۚ Terjemahannya: “Katakanlah (Muhammad), “Alasan yang kuat hanya pada Allah.” (Qs; al-An’am: 149) Huruf fa’ dalam ayat ini disebut fa’ al-fashihah sebagai penanda adanya kalimat tak terucap. Artinya: jika alasan orang-orang musyrik itu hanya sekedar mengikuti praduga mereka dan hanya sekedar mengira-ngira maka sungguh Allah Swt memiliki hujjah yang lebih kuat. Perhatikan pula khabar (predikat) yang mendahului mubtada’ (subjek)nya yang di antara fungsinya adalah menunjukkan kekhususan. Artinya, hujjah yang kuat itu hanya milik Allah Swt sedang kalian tidak punya. Makanya, setiap orang yang beralasan dengan takdir, maka hujjahnya sangat cetek. Jadi hujjah Allah Swt kuat mematahkan hujjah mereka sedang mereka tidak punya hujjah yang bisa mematahkan hujjah Allah Swt. 4. Pertanyaan: apakah yang dikatakan kaum musyrikin bahwa: سَيَـقُوۡلُ الَّذِيۡنَ اَشۡرَكُوۡا لَوۡ شَآءَ اللّٰهُ مَاۤ اَشۡرَكۡنَا وَلَاۤ اٰبَآؤُنَا وَلَا حَرَّمۡنَا مِنۡ شَىۡءٍ ؕ Terjemahannya: ‘Orang-orang musyrik akan berkata, “Jika Allah menghendaki, tentu kami tidak akan mempersekutukan-Nya, begitu pula nenek moyang kami, dan kami tidak akan mengharamkan apa pun.”” (Qs: al-An’am; 148) adalah benar atau bathil? Jawabannya: benar. Akan tetapi titik pengingkarannya karena mereka gunakan perkataan itu untuk maksud yang bathil. Mereka tidak menyatakan itu untuk menegaskan kepatuhan dan ketundukan mereka terhadapNya, melainkan sebagai bentuk pembangkangan dan penentangan terhadap perintah Allah Swt dengan alasan takdir, sekaligus untuk membenarkan perilaku syirik mereka. Dan ini adalah bentuk kesesatan yang nyata. Jadi, kalimat tersebut benar namun dimaksudkan untuk membenarkan kebathilan, maka wajar jika diingkari. Yang pasti dan patut diyakini bahwa orang-orang musyrik itu hamba nafsu dan hanya mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak mengikuti kebenaran. Faktanya, mereka tidak berdalil dengan takdir di semua ayat dalam bentuk seperti ini. Ditambah lagi, jika seseorang menghina mereka dan tuhan-tuhan mereka, mereka lantas bereaksi negatif, lantas di mana letaknya mereka mengkaui takdir dengan sebenarnya? Perhatikan bagaimana sikap mereka terhadap Nabi Saw dan para sahabatnya. Bagaimana orang musyrikin memusuhi dan memereangi mereka. Kenapa mereka tidak berkata: andai Allah Swt kehendaki, maka Rasulullah Saw tidak hadir mendakwahi kami, maka tidak perlu kita musuhi dia, karena kalau itu terjadi maka berarti kita menentang kehendak Allah Swt. Sungguh jelas bahwa mereka beralasan dengan takdir hanya untuk membenarkan penghambaan mereka kepada hawa nafsu mereka semata. JAWABAN TERHADAP ALASAN TAKDIR UNTUK BERMAKSIAT Seseorang yang beralasan dengan takdir untuk membenarkan kemaksiatan dan dosa mereka adalah hujjah bathil dan alasan yang cetek. Sedikitpun tidak layak dimaklumi atau boleh beralasan demikian, hal ini ditunjukkan oleh delapan sisi, yakni; Pertama. Hujjah ini bathil karena tidak konsisten. Maksudnya; jika betul takdir ini adalah alasannya, maka seharusnya mereka konsisten. Artinya setiap kali ada alasan ini maka hukumnya juga ada, setiap kali takdir ada maka kemaafan itu juga mesti ada, namun faktanya tidak demikian. Sanggahan sederhananya adalah coba tanyakan ke pelaku maksiat karena alasan takdir; kenapa takdir engkau jadikan alasan untuk menghindari tuntutan agama, lalu tidak engkau gunakan untuk tuntutan kehidupan dunia? Kenapa engkau semangat dan mau bercapek-cepak mencari tuntutan kehidupan duniamu, mengerahkan semua energimu, namun tidak engkau lakukan hal yang sama untuk kehidupan agamamu? Kenapa engkau sigap menyambut ajakan hawa nafsumu sedang bermalas-malasan menyambut perintah Allah Swt? Bukankah itu menunjukkan kalau sikapmu murni berdasar nafsu? Tanyakan pula kepadanya: jika klaimmu itu benar; maka tidak perlu engkau makan, minum, mengenakan pakaian, lalu kala engkau tertimpa sesuatu yang buruk maka kembalikan saja ke takdir. Jangan makan kalau engkau lapar, jangan minum kalau engkau haus. Jika engkau sakit yang merupakan takdir Allah Swt juga, maka cukup engkau tunggu takdir untuk sembuh dari penyakitmu, jangan berobat. Jika engkau terbakar, maka cukup engkau lihat api menjalar ke tubuhmu yang lain, jangan dipadamkan karena itu adalah takdir Allah Swt. Sebab, engkau mesti komitmen untuk tidak melakukan apa-apa dan cukup menyerah pada takdir. Kapanpun seseorang menyakitimu, maka engkau mesti tetap tersenyum seraya berkata; ini adalah takdir Allah Swt yang harus saya terima. Jika seseorang berutang kepadamu dan menolak membayarnya, atau kala orang membeli barang daganganmu lalu tidak membayarnya, maka sekali-kali engkau jangan menagihnya karena semua itu adalah takdir Allah Swt yang wajib engkau terima. Pertanyaannya, akankah engkau konsisiten melakukan itu? Engkau sangat sadar, bahwa sikpamu terhadap semua itu sangat berbeda seratus persen. Faktanya, kala engkau sakit fisik, ternyata engkau kunjungi dokter untuk berobat, engkau sabar minum obat yang pahit karena berharap sehat, lalu kenapa engkau tidak melakukan hal yang sama untuk sembuhkan sakit hatimu dari maksiat? Faktanya kala engkau sakit dan diminta minum obat, ternyata engkau minum obat itu sekalipun nafsumu tidak suka, atau engkau dilarang makan sesuatu, ternyata engkau ikuti sekalipun sebenarnya engkau sangat ingin makan makanan itu. Semua itu engkau lakukan karena ingin sehat. Lalu kenapa engkau tidak menolak minum obat dan menahan diri dari makan tertentu yang mengganggu kesehatanmu lalu cukup menunggu takdir, lantas kenapa engkau tinggalkan perintah syariat dan engkau tidak tinggalkan larangan syariat sembari beralasan takdir? Faktanya, jika engkau diberi pilihan dua jenis pekerjaan; ternyata engkau pilih pekerjaan yang gajinya besar lalu tinggalkan yang gajinya kecil. Lalu kenapa engkau pilih amalan kecil untuk kehidupan akhiratmu dengan alasan takdir? Kesimpulannya: menjadikan takdir sebagai alasan dalam persoalan seperti ini adalah bathil, jika kita konsisten berlakukan alasan takdir ini maka tidak ada kehidupan ini. Karenanya, beralasan dengan takdir adalah sikap bathil. 2. Beralasan dengan takdir adalah hujjah bathil secara otomatis karena bertentangan dengan fitrah yang dikaruniakan Allah Swt, yakni; semangat beroleh manfaat dan menjauhi mudharat. Olehnya itui, bila ada orang yang berdiri di atas gunung lalu berteriak mengingatkan bahwa ada musuh yang akan menyerang, atau ada serumpun binatang buas akan menyerang, atau ada banjir bandang menuju pemukiman, lantas apakah fitrah manusia – baik yang muslim atau kafir, atau yang imani takdir dan yang ingkari takdir – akan berkata; tidakkah ini adalah takdir Allah Swt, berarti kita cukup menyerahkan diri, jika Allah Swt takdirkan kita selamat maka pasti kita selamat. Apakah sikap ini yang akan diambil? Mustahil itu dilakukan oleh siapapun, sebab sanagt bertentangan dengan fitrah dan naluri kemanusiaan yang dikaruniakan Allah Swt. Rasulullah Saw adalah seorang pemberi peringatan dan pembawa berita gembira, di mana beliau telah mengingatkan akan adzab Allah Swt. Firman Allah Swt: اِنۡ هُوَ اِلَّا نَذِيۡرٌ لَّـكُمۡ بَيۡنَ يَدَىۡ عَذَابٍ شَدِيۡدٍ Terjemahannya: “Dia tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan bagi kamu sebelum (menghadapi) azab yang keras.”” (Qs; Saba’: 46). Apabila beliau telah ingatkan tentang adzab Allah Swt, maka bukti keimanan kepadanya adalah dengan mengikutinya dan menghindari segala perbuatan yang berakibat buruk. Jika tidka demikian maka itu bukti lemah iman kepadanya atau lemah semangat, bukan karena tidak ditakdirkan untuk menyambut seruannya. Ini bukti bahwa beralasan dengan takdir sangat lemah. 3. Menjadikan takdir sebagai alasan bermaksiat hanya sebatas pembenaran dan sikap ngeles. Bukan alasan ilmiyah. Alasan seperti itu hanya diungkapkan oleh orang yang terganggu perasanya atau sakit jiwanya. Artinya; orang yang beralasan dengan takdir untuk bermaksiat, meninggalkan perintah Allah Swt adalah yang pertama kali sadar bahwa sikapnya itu hanya sekedar pembenaran atau untuk pembangkanagn semata. Alasan itu tidak muncul setelah difikirkan, dianalisa berdasar ilmu yang benar. Saya tegaskan: beralasan dengan takdir untuk bermaksiat termasuk dalam istilah modern: “Seni lari dan menghindar dari tanggungjawab” Artinya, itu adalah cara termudah bagi siapapun untuk menyelamatkan diri dengan menyalahkan orang lain agar tidak dikecam sekaligus membebaskan diri dari rasa bersalah yang meresahkan. 4. Secara umum, setiap orang itu punya semangat untuk taat atau tidak. Orang yang memilih taat kepada Allah Swt pasti tidak beralasan dengan takdir, namun hanya akan taat. Sebab, gabungan antara keinginan dan kemampuan akan melahirkan amal dengan izin Allah Swt, kemudian Allah Swt sudah mudahkan setiap orang beribadah, dan memudahkan perintahnya kepada hambaNya tanpa ada penghalang. Sebaliknya, orang yang malas taat berarti dia sesungguhnya menolak untuk taat, karena tiada penghalang baginya untuk taat. Kalau dia beralasan dengan takdir maka itu penanda dia dusta dan tiada maaf untuknya. Jadi, tidak usah berdalih dengan apapun karena pada dasarnya engkau memang tidak mau taat. Jujurlah dan katakanlah yang sebenarnya. 5. Tanyakan ke mereka yang beralasan denga takdir untuk bermaksiat; siapa yang menginformasikan kalau Allah Swt sudah takdirkan engkau bermaksiat atau tidak bermaksiat? Sebab, kita semua hanya bisa berkesimpulan dengan takdir setelah semuanya telah terjadi. Adapun sebelum terjadi, maka kita tidak pernah tahu, apa yang akan menimpa. Jadi, apakah engkau ketahui bahwa maksiat tersebut ditakdirkan untukmu sebelum engkau lakukan? Jawabannya: pasti tidak. Lantas, kenapa engkau tidak beralih bahwa sebenarnya Allah Swt takdirkan untukmu ketaatan lalu engkau melakukannya? Maksudnya; jika saya katakan kepadamu; shalatlah dan taubatlah kepada Allah Swt, lalu engkau jawab: Allah Swt tidak takdirkan saya shalat, andai saya ditakdirkan shalat maka saya akan shalat. Pertanyaannya; bagaimana engkau tahu kalau Allah Swt tidak takdirkan engkau shalat? Bahkan engkau tidak tahu apa yang akan terjadi pada detik berikutnya. Nah, kenapa engkau tidak menegaskan pada dirimu bahwa Allah Swt takdirkan engkau shalat lantas engkau segera menunaikannya. Jelaslah bahwa alasan seseorang yang diungkapkan setelah melakukan sesuatu adalah alasan bathil. Karena semestinya alasan itu ada sebelum melakukan sesuatu. Kaedahnya alasan selalu mendahului objeknya. Maksudnya: engkau – wahai yang sering berdalih dengan takdir -, sudah menetapkan bahwa Allah Swt tidak takdirkan engkau taat lalu dengan alasan itu engkau diam tidak melakukan ketaatan. Lantas, kenapa engkau tidak berkeyakinan bahwa Allah Swt takdirkan engkau untuk taat lalu dengan alasan itu engkau segera melakukan ketaatan. Bukankah takdir itu adalah rahasia, hanya Allah Swt yang mengetahuinya, sedang kita taidak tahu ketentuan takdir dan ketetapan qadha kecuali setelah terjadi. Jika engkau bermalas-malasan melakukan ketaatan karena alasan berserah diri pada takdir, maka mengapa engkau tidak balik dan berkata; Allah Swt takdirkan untukmu taat lalu engkau berserah diri kepada takdir? Bukankah ketika dikatakan kepadamu bahwa ada dua jalan menuju kota yang engkau tuju, yang satu mudah dan aman dan yang kedua sulit dan penuh ancaman, tidakkah engkau pilih jalan yang mudah dan aman? Jawabanmu pasti iya. Kalau begitu, kenapa engkau memilih jalan penuh ketakutan dan bahaya dalam berinteraksi kepada Allah Swt, lalu engkau tinggalkan jalan aman dan telah dijamin Allah Swt. Firman Allah Swt; اَلَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا وَلَمۡ يَلۡبِسُوۡۤا اِيۡمَانَهُمۡ بِظُلۡمٍ اُولٰۤٮِٕكَ لَهُمُ الۡاَمۡنُ وَهُمۡ مُّهۡتَدُوۡنَ Terjemahannya: “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan syirik, mereka itulah orang-orang yang mendapat rasa aman dan mereka mendapat petunjuk.” (Qs: al-An’am: 82). 6. Cara beralasan seperti ini dilarang syariat. Jika engkau beriman kepada Allah Swt, maka engkau wajib menyambut syariat, sama saja engkau faham tema ini atau belum faham. Beralasan dengan takdir untuk menentang perintah sangat dilarang syariat. Disebutkan dalam kitab shahihain (al-Bukahri, no. 6605, dan Muslim, no. 2647), dari hadits Ali r. a. Beliau berkata: Kami pernah duduk bersama Nabi Saw di lembah al-Gharqad mengantar jenazah, lalu Beliau Saw bersabda: “Tiada seorang dari kalian melainkan telah ditentukan tempat duduknya di neraka atau di syurga.” Kemudian seseorang bertanya: Tidakkah kita menyerahkan kepada catat itu wahai Rasulullah? Dalam riwayat Msulim disebutkan; wahai Rasulullah tidakkah kita menuggu catatan saja dan tinggalkan amal? Orang tersebut menanyai Rasulullah Saw; bolehkah mereka beralasan dengan takdir sesuai catatan mereka, lalu meninggalkan amal shaleh dan hanya bersandar kepada takdir? Lalu Rasulullah Saw bersabda: “Tidak, beramallah kalian karena setiap orang dimudahkan sesuai ketetapan takdirnya. Orang yang dicatat untuk bahagia maka akan dimudahkan beramal dengan amalan kaum bahagia, sedang kaum yang dicatat celaka, akan dimudahkan amalkan amalan kaum celaka. Firman Allah Swt: فَاَمَّا مَنۡ اَعۡطٰى وَاتَّقٰىۙ. وَصَدَّقَ بِالۡحُسۡنٰىۙ. فَسَنُيَسِّرُهٗ لِلۡيُسۡرٰىؕ. وَاَمَّا مَنۡۢ بَخِلَ وَاسۡتَغۡنٰىۙ. وَكَذَّبَ بِالۡحُسۡنٰىۙ. فَسَنُيَسِّرُهٗ لِلۡعُسۡرٰىؕ Terjemahannya: “Maka barangsiapa memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan (adanya pahala) yang terbaik (surga), maka akan Kami mudahkan baginya jalan menuju kemudahan (kebahagiaan). Dan adapun orang yang kikir dan merasa dirinya cukup (tidak perlu pertolongan Allah), serta mendustakan (pahala) yang terbaik, maka akan Kami mudahkan baginya jalan menuju kesukaran (kesengsaraan).” (Qs: al-Lail: 5-10). Jadi, beralasan dengan takdir untuk bermaksiat termasuk larangan syariat berdasarkan teks hadits: “tidak /jangan” Artinya jangan lakukan. Seorang muslim sejati wajib menjauhi semua larangan. 7. Beralasan dengan takdir untuk bermaksiat, selain dilarang, juga tidak bermanfaat. Artinya tidak bermanfaat bagi orang yang beralasan dengan itu, bahkan hanya sekedar menyia-nyiakan umurnya dan membuang kasempatan berharganya. Permisalannya seperti orang yang rumahnya ditimpa percikan api, lalu percikan api itu mulai membakar rumahnya lantas dikatakan: selamatkan rumahmu dan padamkan api itu. Kemudian dia jawab: tunggulah, tidakkah percikan apai itu adalah takdir Allah Swt? Jadi; wajib saya terima, biar saya menunggu takdir sampai Allah Swt memadamkannya. Lalu dia sendiri duduk sembari memandangi rumahnya yang dilalap api. Pertanyaannya: adakah orang berakal sehat bersikap seperti itu? Bahkan realitas orang yang beralasan dengan takdir jauh lebih buruk dari itu. Karena kebakaran akibat percikan api yang menimpa rumahnya, bukan akibat perbuatannya sendiri, namun orang yang beralasan dengan takdir untuk bermaksiat itu telah menjerumuskan dirinya dalam maksiat sehingga dia layak menerima sanksi. Jadi, sebaiknya bagi orang yang membuang kesempatannya dan beralasan dengan tiada hujjah untuk segera beralih menjadi taat kepada Allah Swt, menjalankan perintahNya, meninggalkan yang diharamkan. Dengan begitu, engkau sudah tolak takdir menggunakan takdir, dan menjauh dari takdir menuju takdir yang lain. Patut kiranya disebutkan kisah yang diceritakan dalam kitab shahiahin (al-Bukahri, no. 5729 dan Muslim, no. 2219) bahwa katika Umar r. a. sebelum sampai di Syam, beliau menerima informasi tentang wabah Tha’un yang menyebar. Lalu beliau putuskan untuk kembali, lantas Abu Ubaidah bin al-Jarrah menyanggah dengan berkata: apakah engkau lari dari takdir Allah Swt? Umar menyela: saya berharap bukan engkau yang bilang begitu wahai Abu Ubadiah. Iya, kita hindari takdir Allah Swt menuju takdir Allah Swt yang lain. Tidakkah engkau perhatikan andai engkau menggembala unta, dan di hadapanmu ada dua lembah. Yang satu hijau subur dan yang lain kering tandus, bukankah jika engkau mengembala di lembah yang tandus adalah menjalani takdir, dan jika engkau taruh di lembah yang tandus, juga menjalani takdir? 8. Layak ditanyakan kepada mereka yang beralasan dengan takdir untuk maksiat bahwa: engkau, selain korban atas tindakan dosamu yang pertama, dan korban akibat mengerjakan sesuatu yang tidak bermanfaat, juga terjebak dalam dosa yang kedua, karena engkau ingin melawan perintah dan takdir Allah Swt, hendak mempertentangkan antara takdir dengan syariat dan ini perlikau melanggar syariat, juga mengandung buruk adab kepada Allah Swt, kondisi seperti ini hanya berlaku bagi iblis. Firman Allah Swt: قَالَ رَبِّ بِمَاۤ اَغۡوَيۡتَنِىۡ لَاُزَيِّنَنَّ لَهُمۡ فِى الۡاَرۡضِ وَلَاُغۡوِيَـنَّهُمۡ اَجۡمَعِيۡنَۙ Terjemahannya: “Ia (Iblis) berkata, “Tuhanku, oleh karena Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, aku pasti akan jadikan (kejahatan) tampak indah bagi mereka di bumi, dan aku akan menyesatkan mereka semuanya,” (Qs; al-Hijr: 39). Oleh sebab itu, siapa yang ingin bahagiakan dirinya, jika terjatuh dalam dosa dan pelanggaran dia segera mengulang ucapa Adam dan Hawa’: قَالَا رَبَّنَا ظَلَمۡنَاۤ اَنۡفُسَنَا وَاِنۡ لَّمۡ تَغۡفِرۡ لَـنَا وَتَرۡحَمۡنَا لَـنَكُوۡنَنَّ مِنَ الۡخٰسِرِيۡنَ Terjemahannya: “Keduanya berkata, “Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.”” (Qs: al-A’raf: 23). Sedang orang sesat dan celaka akan selalu menggunakan alasan Iblis; بِمَاۤ اَغۡوَيۡتَنِىۡ Terjemahannya: “oleh karena Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat,” (Qs; al-Hijr: 39). Maka, masing-masing kita diminta cermati diri, siapa yang diqudwahi dan dengan siapa engkau digabungkan. Untuk mengetahui ulasan tambahan, silahkan baca: Kitab al-Ihtijaju bi al-Qadar karya Syaikhu al-islam Ibnu Taimiyah r. a. Dicetak terbatas dan juga dituangkan dalam kitab Majmu al-Fatawa (8/303-307). Terjemahan Kitab Akidahilmuislamtakdirtauhid