PASAL XIII – RELATIVITAS KEBENARAN Supriyadi Yusuf Boni, 28 Juli 2025 Sumber: Kitab Maraqy al-Wa’yi (Penanaman Kesadaran) Penulis: Prof. Dr. Shaleh bin Abdul Aziz Utsman Sindi Penerjemah: Supriyadi Yousef Boni Editor: Idrus Abidin Kebenaran secara bahasa menunjukkan sesuatu yang presisi dan benar, diambil dari kata haqqa al-sya’i, yahiqqu jika sudah tetap dan wajib statusnya. Kebenaran dan hakikat artinya sesuatu yang wajud yang mustahil dipungkiri, atau ketetapan yang sejalan dengan realitas. Lawan katanya adalah bathil. Allah Swt adalah benar, kepemurahanNya adalah benar, rububiyahNya uluhiyah dan kesempurnaanNya adalah benar, perkataan dan perbuatanNya adalah beanr, janjiNya benar, perjumpaan denganNya benar, para rasulNya benar, kitab-kitabNya benar, agama Islam adalah benar, dan semua yang disandarkan kepadaNya adalah benar. Firman Allah Swt: ذٰ لِكَ بِاَنَّ اللّٰهَ هُوَ الۡحَـقُّ وَاَنَّ مَا يَدۡعُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِهٖ هُوَ الۡبَاطِلُ Terjemahannya: “Demikianlah (kebesaran Allah) karena Allah, Dialah (Tuhan) Yang Hak. Dan apa saja yang mereka seru selain Dia, itulah yang batil,” (Qs: al-Hajj: 62). Nabi Muhammad Saw adalah benar, kenabiannya benar, syariatnya benar, semua wahyu untuknya adalah benar, tidak bicara kecuali kebenaran. Firman Allah Swt: هُوَ الَّذِىۡۤ اَرۡسَلَ رَسُوۡلَهٗ بِالۡهُدٰى وَدِيۡنِ الۡحَـقِّ لِيُظۡهِرَهٗ عَلَى الدِّيۡنِ كُلِّهٖؕ وَكَفٰى بِاللّٰهِ شَهِيۡدًا ؕ Terjemahannya: “Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar, agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi.” (Qs; al-Fathu: 28). Disebutkan dalam kitab shahihain (al-Bukhari, no. 1120 dan Muslim, no. 769) bahwa Nabi Saw pernah berdo’a dalam tahajjudnya: Engakulah kebenaran, janjimu benar, perjumpaan denganmu benar, perkataanmu benar, syurga benar, neraka juga benar, para nabi benar, Miuhammad adalah benar dan kiamat benar.” KEBENARAN MUTLAK. Kebenaran mutlak itu benar adanya, terbebas dari segala ketergantungan diri. Matahari yang sedang terbit misalnya adalah hakikat, sama saja diyakini atau tidak diyakini. Juga satu tambah satu sama dengan dua. Ini semua hakikat dan wujud serta tidak berkorelasi dengan yakin atau tidak. Demikian pula, membunuh orang tak bersalah adalah tindakan kriminalitas, munkar. Semua ini adalah hakikat dan benar adanya. Jadi, ada banyak hakikat yang independen keberadaannya, tidak tergantung positif maupun negatif dengan lintasan fikiran, apakah difahami sempurna atau tidak. Dapatkah Kebenaran Dijangkau? Iya, kebenaran itu bisa dicari dan dijangkau, kebenaran itu bukan sesuatu yang rumit dan samar, andai bukan karena itu, niscaya Allah Swt tidak perintahkan untuk diikuti, dan tidak pula diperintahkan untuk berpaling darinya, menyembunyikannya dan mengaburkannya dengan kebathilan. Firman Allah Swt: قُلۡ يٰۤاَيُّهَا النَّاسُ قَدۡ جَآءَكُمُ الۡحَـقُّ مِنۡ رَّبِّكُمۡۚ فَمَنِ اهۡتَدٰى فَاِنَّمَا يَهۡتَدِىۡ لِنَفۡسِهٖۚ وَمَنۡ ضَلَّ فَاِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيۡهَا Terjemahannya; “Katakanlah (Muhammad), “Wahai manusia! Telah datang kepadamu kebenaran (Alquran) dari Tuhanmu, sebab itu barang siapa mendapat petunjuk, maka sebenarnya (petunjuk itu) untuk (kebaikan) dirinya sendiri. Dan barang siapa sesat, sesungguhnya kesesatannya itu (mencelakakan) dirinya sendiri.” (Qs; Yunus: 108). Sumber Kebenaran. Kebenaran hakiki hanya berasal dari Allah Swt, karena hanya Allah Swt yang mampu menentapkan kebenarannya, sedang naluri manusia hanya mampu mengetahui dan mendeteksinya, lalu Allah Swt beri media pembelajarannya, mudahkan cara menjangkaunya, menurunkan dalil penanda kebenaran dan mengutus para rasul. Firman Allah Swt: اِنَّهُ الۡحَـقُّ مِنۡ رَّبِّكَ Terjemahannya: “Sungguh, Alquran itu benar-benar dari Tuhanmu,” (Qs; Huud: 17). Dan firman Allah Swt: وَيُحِقُّ اللّٰهُ الۡحَـقَّ بِكَلِمٰتِهٖ Terjemahannya: “Dan Allah akan mengokohkan yang benar dengan ketetapan-Nya,” (Qs; Yunus: 82). Hanya orang buta mata dan hati yang mengingkarinya. Firman Allah Swt: اَفَمَنۡ يَّعۡلَمُ اَنَّمَاۤ اُنۡزِلَ اِلَيۡكَ مِنۡ رَّبِّكَ الۡحَـقُّ كَمَنۡ هُوَ اَعۡمٰىؕ Terjemahannya: “Maka apakah orang yang mengetahui bahwa apa yang diturunkan Tuhan kepadamu adalah kebenaran, sama dengan orang yang buta?” (Qs: al-Ra’du: 19). Setelah Muhammad Saw diutus; hanya ummat Islam yang berada di pihak kebenaran. Firman Allah Swt: وَالَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَاٰمَنُوۡا بِمَا نُزِّلَ عَلٰى مُحَمَّدٍ وَّهُوَ الۡحَقُّ مِنۡ رَّبِّهِمۡۙ كَفَّرَ عَنۡهُمۡ سَيِّاٰتِهِمۡ وَاَصۡلَحَ بَالَهُمۡ. ذٰ لِكَ بِاَنَّ الَّذِيۡنَ كَفَرُوۡا اتَّبَعُوا الۡبَاطِلَ وَاَنَّ الَّذِيۡنَ اٰمَنُوا اتَّبَعُوا الۡحَقَّ مِنۡ رَّبِّهِمۡؕ كَذٰلِكَ يَضۡرِبُ اللّٰهُ لِلنَّاسِ اَمۡثَالَهُمۡ Terjemahannya: “Dan orang-orang yang beriman (kepada Allah) dan mengerjakan kebajikan serta beriman kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad, dan itulah kebenaran dari Tuhan mereka; Allah menghapus kesalahan-kesalahan mereka, dan memperbaiki keadaan mereka. Yang demikian itu, karena sesungguhnya orang-orang kafir mengikuti yang batil (sesat), dan sesungguhnya orang-orang yang beriman mengikuti kebenaran dari Tuhan mereka. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia.” (Qs: Muhammad: 2-3). Prinsip Dasar dan Metode Tepat Fahami Kebenaran Terdapat empat metode untuk memastikan tema ini; 1. Kebenaran itu benar dan ada, terlepas dari apakah kebenaran itu dipatuhi atau tidak dipatuhi. 2. kebenaran yang diperintahkan Allah Swt untuk diikuti sangat jelas tidak rumit dan tidak samar. 3. Manusia wajib mencari tahu kebenaran itu dan berusaha mengikutinya 4. kebenaran itu mudah dijangkau karena telah dimudahkan Allah Swt untuk diketahui. Firman Allah Swt: وَالَّذِيۡنَ جَاهَدُوۡا فِيۡنَا لَنَهۡدِيَنَّهُمۡ سُبُلَنَا وَاِنَّ اللّٰهَ لَمَعَ الۡمُحۡسِنِيۡنَ Terjemahannya: “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah bersama orang-orang yang berbuat baik.” (Qs; al-Ankabut: 69). Makna Relativitas Kebenaran Yang dimaksud dengan istilah relativitas kebenaran bahwa kebenaran itu dipandang berbeda antara satu orang dengan orang lain, dari satu waktu ke waktu yang lain. Dengan begitu, kebanaran itu relatif. Ini adalah makna yang diakui oleh para pengikut pemikiran yang kacau. Mereka menyatakan; kebenaran itu terbagi kepada semua manusia dari sisi potensi, bukan hanya ditujukan pada satu objek tertentu. Seringkali kalimat ini didengar dalam debat-debat persoalan syariat demi menghindari taat dan patuh pada sesuatu yang berbeda dengan kehendak nafsu. Bahkan bagi sebagian orang bisa dikembangkan lebih jauh di mana dimaksudkan terciptanya kesemerawutan pemikiran. Mereka mengklaim bahwa kebenaran menurut seseorang dipandang menyalahi kebenaran oleh orang lain, sekalipun itu berupa agama lain, aliran sesat, atau fikiran munkar. Maka anda tidak dibenarkan mengklaim kebenaran tunggal, atau menyalahkan orang lain apalagi menentang fikirannya. Mereka berkata: perhatikanlah madu, orang sehat merasakan manisnya sedang orang sakit merasakan pahit padahal objeknya satu. Demikian pula kebenaran itu. Cara berfikir seperti ini termasuk kekeliruan besar dan disebut kekeliruan pemikiran analogis, atau analogis semu. Sebab, madu itu dzatnya memang sudah manis, dicicipi atau tidak dicicipi, orang sakit merasakannya pahit karena ganguan di perasaanya, bukan karena madu itu rasanya pahit. Seperti orang yang memasang tirai melindunginya dari sengatan matahari, klaimnya bahwa matahari tidak terbit mesti ditolak. Jadi relativitas kebenaran itu seolah prinsip yang mentoleransi banyak jenis syubuhat, penyimpangan bahkan kekufuran. Kadang mereka memolesnya dengan polesan kemajuan dan modernitas atau dengan dalih toleransi dan keterbukaan. Dasar Filosofis Prinsip Relativitas Kebenaran. Boleh dikatakan bahwa dasar relativitas kebenaran dikreasikan oleh filsafat Sofistik sekte al-indiyah yang merupakan satu diantara tiga sekte filsafat sofistik, yakni; al-inadiyah, al-indiyah dan al-laadriyah. Al-indiyah merupakan sekte dalam aliran filsafat, sekalipun sebenarnya tidak mewakili sistem berfikir yang konprehensif. Tidak lain dari sekedar aktivitas kesia-siaan yang meniti pola fikir filsafat yang meyakini bahwa kebenaran itu dihasilkan dari proses meragukan keyakinan. Sesuatu yang diyakini di masa lampau maka realitasnya juga masa lampau, dan apa yang diyakini di masa kontemporer juga realitasnya kekiniaan, apa yang diyakini ada berarti ada, dan apa yang diyakini tiada berarti ia juga tiada. Ketika saya menyatakan; dia itu tiada bukan pada tataran keyakinan, namun mereka mengkalim bahwa dia itu ada. Jadi manusia itu cerminan segala sesuatu, lantas sumber utama pengetahuan yang diakui hanya keberadaan di alam fikiran, sedang pengetahuan tidak terkait dengan objeknya namun pada subjek yang mengetahui. Filsafat ini disebutkan dicetuskan oleh seorang filosof Yunani bernama Protagoras yang meninggal tahun 410 SM. Ralativitas Kebenaran Kontemporer Proses berfikir klasik ini didominasi oleh aliran pemikiran kontemporer beragam, atheisme dan non atheisme, mereka temukan obsesinya dan wujudkan tujuan mereka, sekalipun mereka tidak satu level. Penting untuk dipaparkan lebih detail tema ini karena banyak pemuda menggaungkan pernyataan sedang dia sendiri tidak sadar dampak dan hasilnya, dan tidak pula tentang irisannya dengan sekte-sekte dan pemikiran. Aliran dan sekte filsafat yang paling tegas menyebarkan konsep relativitas kebenaran yang berlebihan dan memoles sekte al-indiyah klasik dengan kemasan baru adalah filsafat posmodernisme.[1] Sekte tersebut termasuk aliran pemikiran yang konsepnya meragukan kebenaran, akal, eksistensi, dan objektivitas, dia membawa misi filsafat random unlogis. Dimana mendudukkan segala sesuatu tidak tetap, tidak punya landasan, dan tiada kebenaran mutlak. Konsep pemikiran utamanya adalah relativitas yang sia-sia, tiada kebenaran tetap dan baku yang dicetuskan oleh akal, dan tidak pula ada kesalahan yang dapat dibuka dan mesti diluruskan, serta tiada parameter pemilah antara yang benar dan salah. Sekte ini sesungguhnya mengandung sikap menafikan etika sekaligus ketetapan syariat, di mana satu-satunya prinsip yang dirujuk adalah bahwa semua hal dapat diterima. Sekte filsafat ini berdasar pada keraguan dan keragaman berlebih, yang menghilangkan identitas diri, menafikan semua kebenaran yang diajarkan semua agama, meleburkan semua kebenaran universal yang diakui semua orang. Kebenaran bagi mereka sangat relatif, dia dibentuk oleh setiap orang secara individual, tidak ditentukan oleh faktor eksternal, tidak terbuka ruang sedikitpun untuk mengatakan ini benar atau salah, karena semua yang ada dalam hidup sifatnya relatif, tidak mengenal sentralisasi sebab semua hal selevel. Sekte ini berupaya menghilangkan konsep kontradiktif, antara kebaikan dan keburukan, benar dan salah, indah dan buruk, Semuanya mesti dihilangkan. Demikian pula semua produksi budaya menurut mereka sama saja, karenanya mustahil sebuah pemikiran mengakar dan tidak pula berpihak hanya pada satu keyakinan, karena hakikatnya tidak ada. Menurut mereka tiada entitas yang memiliki pijakan eksistensialnya, karena tiada dasar sebagai landasan pijakannya. Pola pikir seperti ini sejatinya penghinaan terhadap akal dan logika. Tujuan utama yang hendak mereka capai seperti tertuang tegas dalam kitab rujukan mereka adalah ingin sampai pada ujung keyakinan dan pudarnya prinsip, sehingga alam berjalan dengan sendirinya, sehingga tiada lagi keyakinan, makna atau tujuan. Di mana manusia menjadi hilang identitas, tidak berakidah dan tiada batasan berperilaku. Titik Kritis Filsafat Aliran Ini Andai bukan karena bahaya laten yang dihembuskan filsafat aliran ini terutama pada kualitas komitmen kaum muslimin pada keyakinan mereka maka persoalan ini cukup dianggap sepele. Namun faktanya berbeda, filsafat aliran ini merusak agama dengan cara mengaburkannya, mempermainkan prinsip-prinsipnya serta mencekoki ummatnya dengan berbagai syubhat. Secara ringkas disebutkan dua sasaran utama yang hendak mereka wujudkan; yakni’ Pertama: Menjadikan keyakinan itu tergantung pada level kesadaran berfikir, berubah seiring dengan perkembangan masa, termasuk dalam keyakinan kepada Allah Swt yang – menurut mereka – ditentukan oleh kualitas logika setiap individu serta jangkauan akal dan jiwanya. Jika dia meyakininya sebagai Rabb yang maha sempurna maka tidak mengapa, dan jika dia meyakininya dzat penuh kekurangan maka tidak mengapa, bahkan seandainya dia meyakininya sebatas imajinasi yang hakikatnya tidak ada maka tidak mengapa juga. Jadi, setiap orang bebas meyakini tentang Allah Swt sesuka hatinya. Sungguh besar kekufuran keyakinan seperti ini Kedua: Mengoyak perintah syariat melalui pola pikir simbolistik atau takwil bathil. Artinya, menafikan kandungan dalil syariat atau menggantungkan makna dalil pada kehendak masing-masing individu. Dalil syariat berupa ayat al-Qur’an dan hadist mengandung ragam makna yang difahami setiap yang membacanya, sehingga ruang untuk diselaraskan pada nafsu masing-masing individu sangat terbuka luas. Jadi setiap orang seolah bebas memahami perintah ibadah dalam ayat: وَاعۡبُدُوا اللّٰهَ Terjemahannya: “Dan sembahlah Allah” (Qs: an-Nisa’: 36) sekehendaknya. Juga seolah berhak menafsirkan makna shalat dan zakat dalam ayat: وَاَقِيۡمُوا الصَّلٰوةَ وَاٰ تُوا الزَّكٰوةَ ۚ Terjemahannya: “laksanakanlah salat dan tunaikanlah zakat!” (Qs: al-Nisa: 77) menurut nafsunya akibat tidak adanya parameter logis juga sensitivitas syar’i. Hakikatnya, cara menyikapi dalil syariat seperti ini sama dengan membuang syariat dan penyimpangan berat terhadap ayat-ayat Allah Swt, padahal firman Allah Swt menegaskan: اِنَّ الَّذِيۡنَ يُلۡحِدُوۡنَ فِىۡۤ اٰيٰتِنَا لَا يَخۡفَوۡنَ عَلَيۡنَا ؕ Terjemahannya: “Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari tanda-tanda (kebesaran) Kami, mereka tidak tersembunyi dari Kami.” (Qs: Fussilat: 40). Mereka itu persis seperti kaum yang dinyatakan Allah Swt dalam ayat: وَقَالَ الَّذِيۡنَ كَفَرُوۡا لَا تَسۡمَعُوۡا لِهٰذَا الۡقُرۡاٰنِ وَالۡغَوۡا فِيۡهِ لَعَلَّكُمۡ تَغۡلِبُوۡنَ Terjemahannya: “Dan orang-orang yang kafir berkata, “Janganlah kamu mendengarkan (bacaan) Alquran ini dan buatlah kegaduhan terhadapnya, agar kamu dapat mengalahkan (mereka).”” (Qs Fussilat: 26). Bantahan Terhadap Teori Relativitas Kebenaran. 1. Filsafat aliran ini racun berbisa bagi prinsip agama dan moralitas serta semua konsensus sosial. Aliran ini tidak mengakui eksistensi agama, kehidupan tidak berjalan baik dan tidak pula penting keberadaan negara. Kesimpulan ini terlihat jelas setelah melirik akar pemikiran ini. 2. Filsafat aliran ini menutup ruang afiliasi ke madzhab tertentu. Karena semuanya berjalan semerawut dan penuh perselisihan, keberpihakan hanya sekedar memenuhi hasrat personal. Mustahil ada orang yang memiliki konsistensi pada setiap masa dan pada setiap persoalan, kalaupun ada yang mengaku konsisten maka itu sebatas klaim semata. Sebaliknya sikap inkonsistensi bahkan kontradiktif mesti diperlihatkan seperti disuguhkan oleh realitas empiris. Di mana statement mereka seringkali berulang namun tidak memiliki basis pijakan uang kuat, bahwa tidak ada seorang pun yang boleh mengklaim kebenaran mutlak. Mereka tidak sadar bahwa kalimat tersebut sesungguhnya menandakan klaim kebenaran mutlak juga, di mana mereka terus mengkampanyekannya. Bukti lainnya, bahwa mereka menuding dan mengejek orang-orang yang komitmen menjalankan ajara agama, bahkan distigma terbelakang atau fundamentalis. Lantas di mana teori relativitas itu? Teori relativitas semestinya menuntut posisi netral, tidak menuding pihak lain dengan label negatif atau positif di semua persoalan. Dengan demikian teori ralativitas tidak ilmiyah namun hanya tameng untuk menutupi tujuan busuk yang disembunyikan. 3. Orang yang menafikan kebenaran mutlak dapat ditanya: apakah ucapannya itu sendiri termasuk kebenaran mutlak? Jika dia jawab: iya, maka dia gugurkan teorinya sendiri, karena dia mengakui ada kebenaram mutlak. Jika dia jawab: pernyataanku bukan kebenaran mutlak, maka dikatakan kepadanya: itu berarti anda tidak wajid berpedoman pada pernyataanmu itu, dan tidak benar adan meminta pengakuan dari orang lain. Jadi, apapun jawabannya akan menggugurkan klaimnya bahwa tidak ada kebenaran mutlak. 4. Konsekuensi dari padangan aliran mereka itu adalah bahwa semua pendapat yang ada adalah benar. Sikap kita yang menyatakan aliran berfikir mereka itu adalah salah besar, semestinya mereka setujui dan benarkan pula. Artinya, mereka juga membenarkan sikap kita yang menyatakan aliran mereka itu bathil. Dan pola pikir ini sudah lebih dari cukup membantah teori raltivitas mereka itu. Sebab, siapa saja yang mengakui pendapatnya salah, maka itu bukti cukup menandakan pandangannya salah. 5. Aliran filsafat ini – seperti ungkapan para ulama – bahwa permulaannya menyesatkan dan akhirnya kezindiqan. Sebab, teori awalanya menyatakan sesuatu bersama lawannya adalah kebenaran, lalu ujungnya memberikan pilihan kepada seseorang untuk memilih mana yang sejalan dengan nafsunya, lalu menyepadankan anatar perbuatan baik dan perbuatan buruk, dan tentu pemikiran seperti ini adalah kezindiqan. 6. Kehidupan mustahil berjalan baik kalau berdasar pada teori aliran filsafat ini. Sebaliknya kehidupan akan semerawut bahkan rusak parah. Sebab, teorinya didasarkan pada keyakinan menafikan kebenaran mutlak lalu memberikan kesempatan kepada setiap individu melakukan apapun karena sekedar ingin melakukannya. Termasuk dia boleh membunuh orang lain, memutilasi siapapun, memerkosa wanita yang dia sukai, merampas harta orang lain dan sebagainya. Jika disanksi karena dianggap kriminalitas oleh orang lain, maka dia bisa berdalih bahwa apa yang kalian pandang kriminalitas, menurut saya baik, sebab kebenaran itu bersifat relatif. Tampaknya kaum Khawarij termasuk kelompok yang paling diuntungkan dengan teori relativitas ini, termasuk untuk memerangi kaum muslimin dan para penerima suaka. Sebab, mereka bisa berdalih bahwa apa yang dipandang buruk oleh orang lain, mereka pandang itu sebagai jihad, akibat kebenaran itu bersifat relatif. Tampak sekali kerusakan sosial yang dapat ditimbulkan oleh filsafat aliran teori relativitas kebenaran ini. 7. Teori relativtias kebenaran ini tidak berbasis dalil dan argument, dan ini cukup kuat menggugurkan teori ini. Penjelasannya bahwa, orang yang beraliran teori ini cukup ditanya: apa dalil yang menegaskan teori relativitas kebenaran ini? jika dia menyebutkan dalil dan argumen, berarti teorinya itu gugur dengan sendirinya. Sebab, mereka berkata aliran teori relativitas ini tidak berbasis pada prinsip dasar yang tetap yang dijadikan rujukan utama. Namun jika dia berkata, teori relativitas memang tidak berdasar atas dalil, maka teorinya itu juga gugur dengan sendirinya. Sebab, pernyataan yang tidak berdasar pada dalil dan argumen adalah salah dan mesti ditolak. Akibat merujuk kepada dalil merupakan satu-satunya cara menentukan sebuah kebenaran atau kesalahan. 8. Teori relativitas ini dinyatakan bathil oleh indera, realitas dan konsensus bersama. Sebab, semua orang – muslim atau kafir – sepakat meyakini adanya kebenaran mutlak, seperti zalim itu tindakan buruk, bakti kepada orang tua adalah baik, berbagi dengan orang fakir termasuk perilaku terpuji, menerima upah atas pekerjaan adalah hak, setiap sesuatu pasti ada kreatornya dan sebagainya. Konsensus bersama ini merupakan bukti kuat adanya kebenaran mutlak itu sekaligus menandakan teori relativitas kebenaran adalah teori yang bathil. 9. Pertanyaan lain yang dapat diajukan ke pengikut aliran ini bahwa, andai anaknya ditakdirkan sakit, lalu dua dokter beda hasil diagnosa, yang satu berkata tindakan medis bisa mengancam hidupnya, lalu yang lain berkata; tindakan medis tidak mengancam hidupnya sama sekali, lantas apa yang hendak dia pilih? Apabila dia komitmen dengan teori relativitasnya maka bagaimana dia akan bersikap? Orang yang berakal sehat dipastikan tidak akan memilih keduanya sacara bersamaan. Sebab, taruhannya adalah nyawa sang anak. Artinya sang ayah dipaksa memilih salah satu yang terkuat dari dua pandangan dokter yang berbeda itu. Hasilnya, pasti dia dipaksa menyatakan yang ini benar dan yang itu salah. Pada saat itu gugurlah teori relativitasnya itu. Saat seperti itu, dapat dinyatakan kepadanya; mengapa engkau tidak bingung dalam persoalan fisik lalu engkau bingung dalam persoalan agama? 10. Kesalahan fatal mereka adalah terperangkap dalam kesalahan over generalisasi. Mereka menyatakan: kebenaran itu relatif seperti lukisan seni, seseorang melihatnya indah namun yang lain berkata tidak. Untuk membuktikan kesalahan fatal tersebut, maka cukup ditanyakan: apakah segala sesuatu itu dapat diserupakan dengan lukisan seni? Permisalannya seperti orang yang menggunakan obat tetes mata, lalu dia sembuh. Setelahnya dia menyuruh semua orang untuk menggunakan obat tetes mata yang sama. Tentu cara seperti ini adalah kekeliruan besar. Sebab kalau obat tetes mata tersebut mujarrab baginya, maka apakah obat tetes mata tersebut cocok untuk semua orang yang sakit? Yang tepat adalah bahwa kebenaran itu ada yang bersifat mutlak seperti disebutkan sebelumnya, yakni; kebenaran yang dibangun berdasarkan dalil dan argumen yang benar dan tepat, atau aksioma logis dan semisalnya. Kebenaran-kebenaran ini bersifat mutlak, tetap dan tidak dipengaruhi oleh kecenderungan personal. Ada juga kebenaran yang bersifat relatif, yakni; kebenaran prediktif atas perubahan-perubahan atau rasa. Pengalaman pada sebuah peristiwa atau sesuatu akan berubah mengikuti indikator dan parameternya. Demikian pula dengan persoalan rasa yang sangat relatif. Dibenarkan jika seseorang menilai sebuah karya seni menarik namun dinilai pihak lain tidak menarik. Karena penilaian seperti ini bersifat relatif maka kebenarannya pun bersifat relatif. Jelaslah bahwa kesalahan fatal kaum pengusung teori relativitas kebenaran karena mereka menjadikan semua kebenaran itu bersifat relatif seraya menafikan kebenaran mutlak. Muncul pertanyaan: bisa saja ada yang berdalih, bahwa kaum muslimin yang mengakui teori kebenaran relatif bukan seperti itu yang dimaksudkan, tetapi yang mereka maksudkan adalah persoalan ijtihad dalam syariat. Faktanya banyak pendapat berbeda di kalangan ulama, sehingga tiada seorang pun yang berani mengklaim kebenaran padanya dan kesalahan di pihak lain, bagaimana menyanggahnya? Ada lima jawaban atas pernyataan ini, yakni; 1. Pernyataan mereka sebelumnya bersifat general. Kalau seperti itu yang mereka inginkan maka semestinya mereka batasi teori relativitas dalam persoalan-persoalan ijtihad tanpa menggeneralisir hal-hal yang memungkinkan terjadinya kekeliruan faham. 2. Ketika dikatakan bahwa ada kebenaran mutlak, tidak berarti diketahui semua orang. Bisa saja sebagian orang mengetahuinya sementara yang lain tidak mengetahuinya dengan berbagai faktor penyebabnya. 3. Semua persoalan itu tidak satu level dan satu bobot. Ada persoalan-persoalan aksiomatik yang diterima semua orang berakal sehat, namun ada pula persoalan-persoalan yang tampak jelas didasari oleh dalil yang jelas dan tegas serta mudah difahami orang yang motifnya mencari kebenaran, seperti kebenaran Islam bila dibandingkan dengan agama lainnya. Kebenaran seperti ini sulit dibantah dan disanggah. Ada lagi persoalan-persoalan yang bobotnya lebih rendah seperti persoalan-persoalan ijtihadiyah yang dasarnya tidak selalu tampak jelas dan tegas serta mudah difahami. Pada persoalan seperti ini, perbedaan pendapat dapat dimaklumi dengan tetap meyakini bahwa hanya satu kebenaran menurut Allah Swt. Jika ijtihad orang tertentu benar dan sejalan dengan kebenaran menurut Allah Swt maka baginya dua pahala. Jika kebetulan tidak sejalan maka baginya satu pahala. Jadi, realtivitas kebenaran dengan keonsekuensinya adalah satu hal, sedang pola interaksi menyikapi perbedaan dan pandangan berbeda dalam persoalan-persoalan ijtihadiyah adalah hal yang lain. 4. Pada persoalan-persoalan ijtihadiyah pun tidak dibenarkan berdasarkan pada kecenderungan pribadi. Akan tetapi, wajib mengikuti kaedah dan panduan berijtihad, juga dalam berinteraksi dengan pandangan, dalil dan bagaimana menetapkan pendapat yang kuat. 5. Persoalan mendasar pada sebagian orang adalah mereka berani berpendapat pada persoalan syariat atau bidang lain yang berada di luar jangkauan kompetensi mereka. Mereka memaksakan diri menela’ah persoalan-persoalan pelik lagi spesifik yang tidak mudah difahami oleh setiap orang, apalagi menetapkan hukumnya dan menentukan pendapat yang kuat. Selain itu, mereka tidak menguasai ilmu-ilmu pendukung yang wajib ada. Akhirnya mereka diterpa kebimbangan dan kegoncangan mental, hingga berkata: persoalan ini relatif dan mustahil bisa ditarik satu kesimpulan yang benar. Dasar utamanya hanya karena dia sendiri tidak menguasai. Berbeda sikapnya pada persoalan-persoalan yang berada dalam kompetensinya sekaligus dia kuasai. Sebagai penutup Ada tiga pesan penting, yakni: 1. Allah Swt berfirman: الۡحَـقُّ ۚ فَمَاذَا بَعۡدَ الۡحَـقِّ اِلَّا الضَّلٰلُ ۚ Terjemahannya: “maka tidak ada setelah kebenaran itu melainkan kesesatan.” (Qs: Yunus: 32). Seseorang yang tahu kebenaran dilarang berpaling darinya betapapun gangguan dan godaan menimpanya. 2. Hendaklah bersikap penuh hati-hati terhadap segala kaedah dan prinsip yang keliru juga ungkapan-ungkapan manis mematikan, karena bisa saja di dalamnya ada racun yang menumpuk sekaligus mematikan. 3. Menghargai perbedaan yang layak dan patut dihargai, memupuk diskusi produktif, mematuhi etika dan moralitas adalah satu hal. Sedang memudarkan prinsip, membuang akidah yang kuat dan mengabaikan etika dan nilai adalah hal lain. lalu mencampurbaurkan dua hal ini termasuk kesalahan fatal. Wallahu a’lam. Untuk mengetahui ulasan tambahan silahkan baca ayat-ayat tentang kebenaran dalam al-Qur’an yang disebutkan lebih dari seratus kali. Camkan baik-baik sembari berharap petunjuk dari Allah Swt. [1] Maksdunya masa setelah masa moderenisme yang berhetni saat berakhirnya perang dunia kedua. Terjemahan Kitab Akidahilmuislamkebenarantauhid