PASAL VII – BUKTI KENABIAN MUHAMMAD SAW bag 4 Supriyadi Yusuf Boni, 13 Juli 2025 Sumber: Kitab Maraqy al-Wa’yi (Penanaman Kesadaran) Penulis: Prof. Dr. Shaleh bin Abdul Aziz Utsman Sindi Penerjemah: Supriyadi Yousef Boni Editor: Idrus Abidin BUKTI KETUJUH: AL-QUR’AN AL-KARIM Al-Qur’an al-Karim al-Azhim dan al-Kitab al-Aziz al-Hakim merupakan bukti kuat kenabian dan kerasulan Muhammad bin Abdillah Saw. Firman Allah Swt: اَوَلَمۡ يَكۡفِهِمۡ اَنَّاۤ اَنۡزَلۡنَا عَلَيۡكَ الۡكِتٰبَ يُتۡلٰى عَلَيۡهِمۡ. اِنَّ فِىۡ ذٰلِكَ لَرَحۡمَةً وَّذِكۡرٰى لِقَوۡمٍ يُّؤۡمِنُوۡنَ Terjemahannya: “Apakah tidak cukup bagi mereka bahwa Kami telah menurunkan kepadamu Kitab (Alquran) yang dibacakan kepada mereka? Sungguh, dalam (Alquran) itu terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman.” (Qs: al-Ankabut: 51) Al-Qur’an sudah lebih dari cukup menjadi bekal dakwah dan penjelasan, juga menjadi dalil dan argumen. Bagaimana tidak, sedang al-Qur’an kekal sepanjang masa, tiada habis keajaibannya, tidak punah walau diterpa penolakan, tidak akan bosan para ulama mempelajarinya. Al-Qur’an penengah segala persoalan, bukan mainan. Siapa yang menjauhinya karena sombong, maka Allah Swt akan menghinakan dia, dan siapa yang mencari petunjuk selain al-Qur’an, maka akan sesat jalan. Bahkan al-Qur’an bukti paling kuat tentang para nabi, dan paling kekal serta paling luas penyebarannya. Rasulullah Saw bersabda: “Tiada seorang nabi melainkan diberi wahyu yang semisal al-Qur’an yang diimani ummat manusia, namun yang dikaruniakan kepadaku adalah wahyu yang diwahyukan Allah Swt kepadaku, maka saya berharap menjadi nabi terbanyak pengikutnya di hari kiamat kelak. (Muttafaqun alaihi, al-Bukhari, no. 4981 dan Muslim, no. 152). Cakupan tema ini sangat luas dan mustahil dikuasai keseluruhannya. Al-Qur’an adalah mukjizat, semua yang terkait dengan al-Qur’an adalah mukjizat, kata dan lafadznya, jenis bacaannya, susunan kalimatnya, makna kandungannya, kisah-kisahnya, ketetapan hukumnya, surahnya hingga ayatnya. Ibarat lautan yang tidak dijangkau dalamnya, tidak terukur luasnya, lafadznya adalah mukjizat, susunan kalimatnya adalah mukjizat, informasinya tentang persoalan ghaib adalah mukjizat, perintah dan larangannya adalah mukjizat, janji dan ancamannya juga mukjizat, dia mulia, dan dapat menguasai hati manusia. Saya cukupkan beberapa ulasan singkat karena sebuah ungkapan menyatakan cukup memandangi beberapa bunga di taman. BENTUK KEMUKJIZATAN AL-QUR’AN Pertama: Lafadznya bernuansa sastrawi, maknanya sempurna dan indah susunan kalimatnya, tiada bandingan. Firman Allah Swt: كِتٰبٌ فُصِّلَتۡ اٰيٰتُهٗ قُرۡاٰنًا عَرَبِيًّا لِّقَوۡمٍ يَّعۡلَمُوۡنَۙ Terjemahannya: “Kitab yang ayat-ayatnya djelaskan, bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui,” (Qs: Fussilat: 3). Ulasan terkait ini sangat luas mustahil dapat dipaparkan seluruhnya. Cukup indah gambaran al-Qur’an dalam ungkapan: “Sungguh al-Qur’an itu manis, dan sangat sarat kenikmatan, baik dan cocok di jiwa, bahagian atasnya berbuah sedang bahagian bawahnya begitu subur, perkataan itu teramat tinggi tiada yang mengunggulinya, dan menghancurkan semua yang ada di bawah derajatnya.” Al-Qur’an al-Karim sedari surah pembukanya hingga surah terakhirnya, setiap ayatnya penuh hikmah amat bermanfaat, penjelasan meyakinkan, kalimatnya menggugah fikiran, membuat akal takjub akan keindahan dan nilai sastrawinya. Susunan dan gaya bahasa Al-Qur’an sungguh sangat menakjubkan dan sangat apik, dia jauh dari kesrupaan dengan perkataan pada umumnya, belum ada yang mampu menandinginya, karena al-Qur’an bukan sekelas syair, bukan pula bahan ceramah atau surat cinta, susunannya bukan disusun oleh manusia, baik oleh orang Arab atau pun selainnya. Al-Qur’an adalah kalamullah dan mustahil berasal dari selain Allah Swt, sedang manusia sangat beda dengan Allah Swt, maka perkataan Allah Swt sangat beda pula dengan perkataan manusia. Kedua: Maknanya sempurna walau dengan kalimat pendek. Al-Qur’an menggabungkan antara keindahan redaksi dengan makna kandungan yang sempurna. Mari cermati firman Allah Swt: وَفِيۡهَا مَا تَشۡتَهِيۡهِ الۡاَنۡفُسُ وَتَلَذُّ الۡاَعۡيُنُ Terjemahannya: “dan di dalam surga itu terdapat apa yang diingini oleh hati dan segala yang sedap (dipandang) mata.” (Qs: al-Zukhruf: 71) Sebagian ulama menyatakan: dua kalimat indah tersusun ini sangat sempurna. Andai semua manusia berkumpul bekerjasama menggambarkan kenikmatan surga secara detail maka pasti mereka tak akan sanggup melakukannya. Renungi pula firman Allah Swt: وَاَوۡحَيۡنَاۤ اِلٰٓى اُمِّ مُوۡسٰٓى اَنۡ اَرۡضِعِيۡهِ فَاِذَا خِفۡتِ عَلَيۡهِ فَاَ لۡقِيۡهِ فِى الۡيَمِّ وَلَا تَخَافِىۡ وَلَا تَحۡزَنِىۡۚ اِنَّا رَآدُّوۡهُ اِلَيۡكِ وَجٰعِلُوۡهُ مِنَ الۡمُرۡسَلِيۡنَ Terjemahannya: “Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa, “Susuilah dia (Musa), dan apabila engkau khawatir terhadapnya maka hanyutkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah engkau takut dan jangan (pula) bersedih hati, sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya salah seorang rasul.”” (Qs: al-Qashash: 7) Sungguh luar biasa, Allah Swt menggabungkan dalam satu ayat ini, dua perintah, dua larangan, dua informasi dan dua kabar gembira. Juga firman Allah Swt: وَ لَـكُمۡ فِى الۡقِصَاصِ حَيٰوةٌ Terjemahannya: “Dan dalam kisas itu ada (jaminan) kehidupan bagimu,” (Qs: al-Baqarah: 179) dimana mengandung banyak makna dengan kalimat sangat pendek. Disebutkan bahwa ada seorang Arab Badui mendengar seseorang membaca firman Allah Swt: فَاصۡدَعۡ بِمَا تُؤۡمَرُ Terjemahannya: “Maka sampaikanlah (Muhammad) secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu)” (Qs: al-Hijr: 94), lantas dia tidak mampu mengendalikan dirinya hingga terduduk dan sujud. Lalu dia ditanya kenapa dia sujud seperti itu? Dia jawab: saya tetiba bersujud karena pernyataan ini sungguh teramat dalam. Ada juga seseorang yang mendengar orang lain membaca firman Allah Swt: فَلَمَّا اسۡتَايۡــَٔسُوۡا مِنۡهُ خَلَصُوۡا نَجِيًّا Terjemahannya: “Maka ketika mereka berputus asa darinya (putusan Yusuf) mereka menyendiri (sambil berunding) dengan berbisik-bisik.” (Qs: Yusuf: 80) lalu dia berucap: saya sangat yakin tidak mungkin ada orang mampu menyusun kalimat seperti ini. Kisah-kisah serupa lainnya sangat banyak dijumpai. Ketiga: Kandungan argumen dan bukti di dalamnya. Di dalam al-Qur’an terdapat bukti faktual yang mustahil dibantah, lalu argumen logis kuat, semua dalil dan argumen lain dipatahkan, dan mampu menundukkan siapapun hingga musuh terkasar sekalipun. Sungguh benar firman Allah Swt: وَلَقَدۡ ضَرَبۡنَا لِلنَّاسِ فِىۡ هٰذَا الۡقُرۡاٰنِ مِنۡ كُلِّ مَثَلٍ لَّعَلَّهُمۡ يَتَذَكَّرُوۡنَ. قُرۡاٰنًا عَرَبِيًّا غَيۡرَ ذِىۡ عِوَجٍ لَّعَلَّهُمۡ يَتَّقُوۡنَ Terjemahannya: “Dan sungguh, telah Kami buatkan dalam Alquran ini segala macam perumpamaan bagi manusia agar mereka dapat pelajaran. (Yaitu) Alquran dalam bahasa Arab, tidak ada kebengkokan (di dalamnya) agar mereka bertakwa.” (Qs: al-Zumar: 27-28). Keempat: Kisah-kisah masa lampau dan ummat terdahulu yang termuat di dalamnya. Coba perhatikan dengan baik, tantangan al-Qur’an kepada ahli kitab pada kisah ashabul kahfi, kisah Musa dan Khidhir, kisah Dzulqarnain, semua itu merupakan kisah nabi mereka dan tertuang dalam kitab mereka. Kelima: Persoalan-persoalan ghaib yang termuat dalam al-Qur’an. Al-Qur’an sering menginformasikan akan sesuatu yang akan terjadi lalu benar-benar terbukti. Misal, permintaan Allah Swt kepada orang Yahudi untuk: فَتَمَنَّوُا الۡمَوۡتَ اِنۡ كُنۡتُمۡ صٰدِقِيۡنَ Terjemahannya: “maka harapkanlah kematianmu, jika kamu orang yang benar.” (Qs: al-Jumu’ah: 6) kemudian Allah Swt berfirman: وَ لَنۡ يَّتَمَنَّوۡهُ اَبَدًاۢ بِمَا قَدَّمَتۡ اَيۡدِيۡهِمۡ Terjemahannya: “Tetapi mereka tidak akan menginginkan kematian itu sama sekali, karena dosa-dosa yang telah dilakukan tangan-tangan mereka.” (Qs: al-Baqarah: 95), terbukti tiada seorang pun dari mereka yang menghendaki kematian. Contoh lainnya, Allah Swt menetapkan bahwa Abu Lahab dan istrinya menjadi penduduk neraka semasa keduanya masih hidup, lalu keduanya meninggal dalam keadaan kafir. Juga firman Allah Swt: سَيُهۡزَمُ الۡجَمۡعُ وَيُوَلُّوۡنَ الدُّبُرَ Terjemahannya: “Golongan itu pasti akan dikalahkan dan mereka akan mundur ke belakang.” (Qs: al-Qamar: 45) yang terjadi di perang Badar. Juga Firman Allah Swt tentang bangsa Romawi: وَهُمۡ مِّنۡۢ بَعۡدِ غَلَبِهِمۡ سَيَغۡلِبُوۡنَۙ فِىۡ بِضۡعِ سِنِيۡنَ Terjemahannya: “dan mereka setelah kekalahannya itu akan menang, dalam beberapa tahun (lagi).” (Qs: al-Ruum: 3-4), faktanya, apa yang disebutkan benar-benar terjadi. Dan masih banyak ayat-ayat yang serupa dengan yang telah disebutkan sebagiannya ini. Semua bukti di atas secara otomatis menuntun akal sehat bahwa al-Qur’an ini berasal dari Allah Swt dzat Maha Mengetahui. Firman Allah Swt: وَمَا كَانَ هٰذَا الۡقُرۡاٰنُ اَنۡ يُّفۡتَـرٰى مِنۡ دُوۡنِ اللّٰهِ Terjemahannya: “Dan tidak mungkin Alquran ini dibuat-buat oleh selain Allah;” (Qs: Yunus: 37) Keenam: Informasi tentang bisikan dan gumaman hati yang mustahil dijangkau kecuali oleh dzat yang maha Tahu. Perhatikan firman Allah Swt: وَتَوَدُّوۡنَ اَنَّ غَيۡرَ ذَاتِ الشَّوۡكَةِ تَكُوۡنُ لَـكُمۡ Terjemahannya: “sedang kamu menginginkan bahwa yang tidak mempunyai kekuatan senjatalah untukmu” (Qs: al-Anfal: 7) atau firman Allah Swt: اِذۡ هَمَّتۡ طَّآٮِٕفَتٰنِ مِنۡكُمۡ اَنۡ تَفۡشَلَا Terjemahannya: “ketika dua golongan dari pihak kamu ingin (mundur) karena takut,” (Qs: Ali Imran: 122), ini faktual dan benar terjadi walau tanpa diucapkan secara verbal oleh mereka. Ketujuh: Kalimat Al-Qur’an menggabungkan antara diksi yang tegas dan diksi yang mudah, antara gaya bahasa yang tinggi dengan makna yang jelas dan mudah dimengerti, antara ketinggian sastrawi dengan nuansa keindahan. Kekuatan bahasanya tidak menyulitkan dan kemudahannya tidak diremehkan, dan jika dipadukan terasa serasi dan tidak bertentangan. Sepanjang masa, tidak akan pernah kita temukan perkataan yang lebih sastrawi, lebih kuat, lebih indah dari al-Qur’an, sebagaimana mustahil akan ditemukan kalimat yang paling menarik, paling kuat pengaruhnya dan paling beragam gaya bahasanya melebihi al-Qur’an. Termasuk makna al-Qur’an; setiap orang berakal sehat pasti mengerti dalamnya setiap tema al-Qur’an dan di tingkat paling tinggi. Al-Qur’an menggunakan kata-kata paling fasih, susunan paling baik dan makna paling benar. Ketiganya hanya tergabung dalam firman dzat Maha Mengetahui dan maha bijaksana. Kedelapan: bahwa tilawahnya tidak ditemukan di perkataan lainnya, di mana makhrajnya renyah, kemegahannya yang indah, susunannya yang mudah sehingga enak diterima, orang membacanya tidak lelah dan yang mendengarnya tidak bosan. Semua itu tidak dirasakan pada perkataan lainnya. Berapa kali seorang muslim mendengarkan al-Qur’an? Yakni setiap hari. Bahkan terkadang potongan ayat tertentu didengar berulang-ulang kali tanpa merasa bosan sedikit pun, dan andai ditambah dengan sedikit perhatian tadabbur maka setiap ulangan bacaan akan menemukan pelajaran dan hikmah baru yang tidak dia temukan pada bacaan sebelumnya, bahkan sampai terasa baru pertama kali ia membacanya. Betapa tepat ungkapan; Semua kitab pembacanya diterpa Rasa bosan, malas atau lelah Kecuali kitabullah, karena di dalamnya Banyak keindahan, mustahil dibosani hingga kiamat. Kesembilan: redaksinya dihafal dan maknanya senantiasa melekat. Kaum muslimun menghafal al-Qur’an dalam dada mereka, mereka menuliskannya dalam lembaran mushaf, maka mustahil akan luput walau satu kata, atau maknanya menyimpang, atau susunannya berubah, apalagi kesalahannya akan dibiarkan dan perubahannya dihafal. Bentuk aslinya akan terus terjaga oleh lisan kaum muslimin dari berbagai latar belakang bahasa, tidak akan berubah walau masa berganti dan tempat berjauhan serta bahasa beragam. Sungguh benar firman Allah Swt: اِنَّا نَحۡنُ نَزَّلۡنَا الذِّكۡرَ وَاِنَّا لَهٗ لَحٰـفِظُوۡنَ Terjemahannya: “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Alquran, dan pasti Kami (pula) yang memeliharanya.” (Qs: al-Hijr: 9) Kesepuluh: Al-Qur’an mudah dibaca oleh lisan semua orang termasuk mudah dihafalkan selain orang Arab, tak akan ada satu bukupun yang dihafal seperti al-Qur’an, dan tidak ada kitab yang mudah dibaca oleh lisan seperti al-Qur’an. Al-Qur’an mudah dibaca orang tak berpendidikan, orang tua renta yang mana mungkin tertatih-tatih membaca buku yang lain. Semua itu menunjukkan keistimewaan ilahiyah pada al-Qur’an.[1] Kesebelas: Makna berbeda dapat berdampingan harmonis dalam satu ayat. Dalam satu surah ada banyak tema, mulai dari janji dan ancaman, dari motivasi hingga peringatan, dari kejadian masa lampau hingga masa mendatang, dari kisah dan peristiwa serta perumpamaan, dari ketetapan hukum hingga dialog. Semua itu tidak ditemukan kontradiktif. Keduabelas: Al-Qur’an sering mengulang sebagian kisah dan peristiwa dengan lafal berbeda dan redaksi beragam, jika ditadabburi akan diketahui di balik pertentangan selalu tersirat rahasia, pelajaran dan hikmah yang mengangumkan akal fikrian. Ketigabelas: Semua Ummat tidak mampu menandingi al-Qur’an. Allah Swt menantang manusia seluruhnya untuk membuat karya seperti al-Qur’an, atau sekedar sepuluh surah, atau bahkan cukup satu surah semisal al-Qur’an. Faktanya, manusia tidak sanggup menandinginya dan tak mampu mendatangkan yang semisal dengan al-Qur’an. Mereka dipaksa mengakui kelemahan walau dikenal paling keras sikap defensifnya, paling kuat kecerdasan bahasa mereka. Padahal bahasa al-Qur’an serupa dengan bahasa mereka namun mereka tetap gagal total. Mereka hanya mampu menipu diri mereka melalui sikap mendustakan al-Qur’an. Firman Allah Swt: وَقَالُوۡۤا اَسَاطِيۡرُ الۡاَوَّلِيۡنَ اكۡتَتَبَهَا فَهِىَ تُمۡلٰى عَلَيۡهِ بُكۡرَةً وَّاَصِيۡلًا Terjemahannya: “Dan mereka berkata, “(Itu hanya) dongeng-dongeng orang-orang terdahulu, yang diminta agar dituliskan, lalu dibacakanlah dongeng itu kepadanya setiap pagi dan petang.”” (Qs: al-Furqan: 5) Mereka juga sangat faham, bahwa Muhammad Saw adalah seorang ummi, beliau juga tidak didikte oleh orang lain untuk dia tulis. Namun pembangkangan, kebodohan dan kelemahan menguasai mereka. Andai mereka mampu menandingi kefasihan dan sastrawi al-Qur’an maka pasti mereka lakukan. Namun mustahil hal itu terjadi, karena jalinan al-Qur’an telah menguat, hakikatnya sudah terang, dan telah kokoh temanya. Firman Allah Swt: اَمۡ يَقُوۡلُوۡنَ تَقَوَّلَهٗ ۚ بَلْ لَّا يُؤۡمِنُوۡنَ . فَلۡيَاۡتُوۡا بِحَدِيۡثٍ مِّثۡلِهٖۤ اِنۡ كَانُوۡا صٰدِقِيۡنَؕ Terjemahannya: “Ataukah mereka berkata, “Dia (Muhammad) mereka-rekanya.” Tidak! Merekalah yang tidak beriman. Maka cobalah mereka membuat yang semisal dengannya (Alquran) jika mereka orang-orang yang benar.” (Qs: al-Thur: 33-34) Mustahil ada seseorang yang menyusun perkataan lalu menantang penduduk bumi untuk menandinginya walau hanya potongan pendek dari perkataannya, yang setara dengan tiga ayat saja, lantas semua orang menyerah dan tak sanggup melakukannya. Sungguh hanya wahyu Allah Swt yang tak bisa ditandingi. Jika ada orang yang berkata: bahwa sudah banyak ditemukan orang-orang yang menyusun perkataan sebagai tandingan al-Qur’an. Jawabannya; benar, sudah ada segelintir orang yang melakukannya namun hasilnya gagal total. Suatu hal yang tidak disangkal, bahwa jika ada kebenaran terang yang telah disepakati semua manusia, lantas ada satu, dua, tiga diantara milyaran orang yang tampil menantangnya lalu apakah penentangannya itu dianggap keunggulan dan kemenangan. Maksudnya; tantangan yang ada yakni hendaknya ada yang menghadirkam kitab semisal al-Qur’an belum pernah terjawab dan tidak akan pernah terjawab hingga kiamat. Orang-orang yang dimaksud telah sanggup mendatangkan tandingan al-Qur’an malah menjadi bukti kebenaran al-Qur’an. Sebab, kitab tandingan yang dihasilkan sesungguhnya sangat memalukan bagi orang berakal sehat, bahkan mereka melihatnya sangat remeh dan cetek. Seperti orang yang menampilkan parfum yang belum pernah tercium aromanya oleh siapapun, lalu menantang orang lain menghadirkan bibit parfum tersebut, lantas orang sehat akal yang ditantang sadari ketidaksanggupan mereka. Kemudian ada dua orang bodoh datang membawa bibit parfum beraroma busuk seraya berkata: kami sudah membuat semisal yang engkau bawa. Lalu apakah yang dia bawa itu sama mulianya, sama agungnya dan sama kekuatannya dengan yang dibawa oleh orang pertama? Disebutkan bahwa Musailamah al-Kadzdzab pernah menyusun kalimat tandingan al-Qur’an, bahwa; wahai katak, bersihkan, betapa banyak engkau bersihkan, air tidak engkau keruhkan dan minum tak bisa engkau tahan. Disebutkan pula bahwa dia pernah berkata: dan para perempuan pembuat jagung jadi gandum, para penggilingnya menjadikannya tepung, dan perempuan pembuat adonan, perempuan pembuat roti, dan perempuan tukang makan itu adalah potongan lemak dan lemak. Disebutkan pula dia berkata: gajah dan apa itu gajah, dia hewan berekor tebal, berbelalai panjang, sungguh itu makhluk Rabb hanya kecil.” Mahasuci Allah Swt, apakah perkataan yang cetek dan remeh ini dipandang tandingan firman Allah Swt yang mulia yang sangat tinggi kebahasaannya? Di mana diletakkan permata dan pekerja permata, dan mana yang murni dari yang kotor? Sungguh benar firman Allah Swt: قُلْ لَّٮِٕنِ اجۡتَمَعَتِ الۡاِنۡسُ وَالۡجِنُّ عَلٰٓى اَنۡ يَّاۡتُوۡا بِمِثۡلِ هٰذَا الۡقُرۡاٰنِ لَا يَاۡتُوۡنَ بِمِثۡلِهٖ وَلَوۡ كَانَ بَعۡضُهُمۡ لِبَعۡضٍ ظَهِيۡرًا Terjemahannya: “Katakanlah, “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa (dengan) Alquran ini, mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya, sekali pun mereka saling membantu satu sama lain.” (Qs: al-Isra’: 88) Kesimpulan ulasan di atas adalah bahwa sejak awal Rasulullah Saw sudah menantang untuk mendatangkan yang serupa dengan al-Qur’an, namun hingga kini tiada yang sanggup mengerjakannya: firman Allah Swt: فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا وَلَنْ تَفْعَلُوا Terjemahannya: “Maka jika kamu tidak dapat membuat(nya) — dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya)” (Qs: al-Baqarah: 24), seorang pendusta jauh lebih lemah ketimbang akan menjawab tantangan ini. Tantangan seperti ini tidak akan dilakukan kecuali karena dasar ilmu meyakinkan dan tidak tercampuri oleh keraguan, bersandar pada wahyu dari Allah Swt, jika tidak maka ilmu dan kemampuannya sangat lemah untuk sebuah tantangan seperti itu. Keempatbelas: al-Qur’an adalah kitab saling serupa, antara sebagian ayat mirip dengan ayat lainnya, juga saling menguatkan antara sebagian ayat dengan lainnya. Namun hebatnya, al-Qur’an bebas dari kesalahan dan kekurangan, pertentangan dan kontradiksi antar ayat. Firman Allah Swt: لَّا يَاۡتِيۡهِ الۡبَاطِلُ مِنۡۢ بَيۡنِ يَدَيۡهِ وَلَا مِنۡ خَلۡفِهٖؕ تَنۡزِيۡلٌ مِّنۡ حَكِيۡمٍ حَمِيۡدٍ Terjemahannya: “(yang) tidak akan didatangi oleh kebatilan baik dari depan maupun dari belakang (pada masa lalu dan yang akan datang), yang diturunkan dari Tuhan Yang Mahabijaksana, Maha Terpuji.” (Qs: Fussilat: 42). Tiada seorang pun dari sekian banyak orang yang memusuhi Islam yang mampu menemukan satu kesalahan dalam al-Qur’an, atau pengetahuan yang dianggap kurang sempurna, atau satu pertentangan dan kontradiksi. Firman Allah Swt: وَلَوۡ كَانَ مِنۡ عِنۡدِ غَيۡرِ اللّٰهِ لَوَجَدُوۡا فِيۡهِ اخۡتِلَافًا كَثِيۡرًا Terjemahannya: “Sekiranya (Alquran) itu bukan dari Allah, pastilah mereka menemukan banyak hal yang bertentangan di dalamnya.” (Qs: al-Nisa’: 82). Kelimabelas: Ayat sebelumnya dengan sendirinya jadi mukjizat. Pola tantangannya di luar kebiasaan dan tabi’at manusia sebagaimana disebutkan sebagian orang bahwa: pola ayat tersebut seperti seorang mahasiswa yang ikut ujian lalu menulis pesan ke penguji di akhir kertas jawabannya bahwa: saya menantangmu untuk menemukan satu jawaban saya yang salah. Pasti, tiada yang sanggup melakukan hal tersebut. Lalu penguji begadang semalaman untuk menemukan satu saja kesalahan. Beginilah cara al-Qur’an menantang para pembangkang. Keenambelas: Al-Qur’an memuat beragam ilmu pengetahuan alam yang benar dan banyak yang baru diketahui di era sekarang ini. Inilah yang disebut dengan istilah mukjizat keilmuan. Perlu ditekankan bahwa pertama: al-Qur’an diturunkan bukan untuk dijadikan buku kimia, atau fisika, atau meteorologi. Al-Qur’an adalah kitab hidayah dan panduan perbaikan. Bersama dengan itu, al-Qur’an juga memuat ragam bukti dan tanda-tanda yang memandu akal dan jiwa untuk meyakini bahwa dia benar kalamullah. Firman Allah Swt: سَنُرِيۡهِمۡ اٰيٰتِنَا فِى الۡاٰفَاقِ وَفِىۡۤ اَنۡفُسِهِمۡ حَتّٰى يَتَبَيَّنَ لَهُمۡ اَنَّهُ الۡحَـقُّ Terjemahannya: “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kebesaran) Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Alquran itu adalah benar.” (Qs: Fussilat: 53) Diantara hikmah kenapa al-Qur’an memuat sebagian tanda-tanda ilmu pengetahuan tersebut adalah untuk meyakinkan orang-orang yang fokusnya pada penelitian ilmiyah berbasis empiris agar mereka dapat menyaksikan keajaiban al-Qur’an. Al-Qur’an ini memuat banyak fakta ilmiyah yang baru diketahui manusia beberapa tahun terakhir, lantas bagaimana mungkin al-Qur’an berasal dari selain Allah Swt yang maha Tahu dan Maha berkuasa? Kandungan al-Qur’an yang terdiri dari fakta ilmu pengetahuan yang disampaikan oleh orang yang sebelumnya tidak berkecimpung di disiplin tersebut dan di masa ilmu pengetahuan masih belum berkembang pesat, merupakan bukti kuat kalau al-Qur’an dia terima dari dzat yang maha mengetahui dan maha menguasai. Firman Allah Swt: قُلۡ اَنۡزَلَهُ الَّذِىۡ يَعۡلَمُ السِّرَّ فِى السَّمٰوٰتِ وَالۡاَرۡضِ Terjemahannya: “Katakanlah (Muhammad), “(Alquran) itu diturunkan oleh (Allah) yang mengetahui rahasia di langit dan di bumi.” (Qs: al-Furqan: 6). Jika tidak demikian adanya, maka coba beritahukan kepada saya: Bagaimana nabi Saw mengetahui sejak empat belas abad yang lalu bahwa ada ombak besar di bawah laut? Dan bahwa kegelapan di dalam laut betul-betul sangat gelap, padahal Beliau Saw tidak pernah melintasi laut. Firman Allah Swt: اَوۡ كَظُلُمٰتٍ فِىۡ بَحۡرٍ لُّـجّـِىٍّ يَّغۡشٰٮهُ مَوۡجٌ مِّنۡ فَوۡقِهٖ مَوۡجٌ مِّنۡ فَوۡقِهٖ سَحَابٌؕ ظُلُمٰتٌۢ بَعۡضُهَا فَوۡقَ بَعۡضٍؕ اِذَاۤ اَخۡرَجَ يَدَهٗ لَمۡ يَكَدۡ يَرٰٮهَا Terjemahannya: “atau (keadaan orang-orang kafir) seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh gelombang demi gelombang, di atasnya ada (lagi) awan gelap. Itulah gelap gulita yang berlapis-lapis. Apabila dia mengeluarkan tangannya hampir tidak dapat melihatnya.” (Qs: al-Nur: 40) Gelombang laut di dasar mulai pada kedalaman tujuh puluh meter; ilmu ini belum diketahui manusia kecuali sekitar seratus tahun terakhir, dan pada kedalaman enam ratus meter di dasar laut suasana gelap gulita, sampai-sampai jika seseorang menjulurkan tangannya tidak akan terlihat. Siapakah yang pernah menyelam ke dasar laut pada kedalaman seperti itu di 1400 tahun yang lalu? Padahal, manusia tidak mampu menyelam lebih dari kedalaman tiga puluh meter karena fisiknya tidak sanggup. Menarik disebutkan cerita yang dinyatakan Gary Miller seorang pendeta yang masuk Islam dalam bukunya berjudul “Mukjizat al-Qur’an” tentang para pelaut yang membaca al-Qur’an dan tertarik pada gambaran ombak laut yang detail. Namun setelah tahu bahwa yang dia baca adalah al-Qur’an, maka orang itu putuskan untuk hidup di padang pasir dan tidak lagi melaut; lalu berislam. Dari mana nabi Saw mengetahui proses penciptaan manusia yang melalui tiga fase kegelapan? Padahal Beliau Saw tidak pernah belajar ilmu kedokteran dan ilmu bedah. Firman Allah Swt: يَخْلُقُكُمْ فِي بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ خَلْقًا مِنْ بَعْدِ خَلْقٍ فِي ظُلُمَاتٍ ثَلَاثٍ Terjemahannya: “Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan.” (Qs: al-Zumar: 6) Cerita menarik lain disebutkan Dr. Miller dari Dr. Keits Moore, ilmuwan opgyn di Universitas Toronto yang pernah diundang ke Riyadh beberapa puluh tahun silam. Lalu kaum muslimin memperlihatkan ayat-ayat yang menjelaskan proses perkembangan janin. Kemudian Dr Miller mengakui bahwa pengetahuan tentang proses penciptaan dan perkembangan janin baru diketahui sekitar tiga puluh tahun terakhir. Bahkan dia mengubah sebagian ulasannya dalam bukunya “sebelum kita dilahirkan” menyesuaikan dengan ulasan al-Qur’an. Dari mana Nabi Saw yang ummi mengetahui tentang benteng pembatas antara dua lautan? Firman Allah Swt: وَهُوَ الَّذِىۡ مَرَجَ الۡبَحۡرَيۡنِ هٰذَا عَذۡبٌ فُرَاتٌ وَّهٰذَا مِلۡحٌ اُجَاجٌ ۚ وَجَعَلَ بَيۡنَهُمَا بَرۡزَخًا وَّحِجۡرًا مَّحۡجُوۡرًا Terjemahannya: “Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan); yang ini tawar dan segar dan yang lain sangat asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang tidak tembus.” (Qs: al-Furqan: 53) Pembatas air tersebut adalah antara air asin dengan air tawar yang baru diketahui di era modern ini. Contoh-contoh di atas hanya sebagian dari banyak ilmu pengetahuan dimana semuanya menunjukkan bahwa al-Qur’an adalah firman Allah Swt dan yang Muhammad Saw adalah utusan Allah Swt. Ketujuhbelas: Al-Qur’an memuat syariat yang mulia, ketetapan hukum yang sempurna, mencakup semua sektor kehidupan, menghadirkan kemaslahatan dan mematikan kemudharatan, disertai aturan etik dan moralitas unik, konsep pendidikan yang luar biasa seperti telah dijelaskan pada bahasan sebelumnya. Tidak diragukan lagi bahwa kemukjizatan pada makna kandungan al-Qur’an jauh lebih banyak ketimbang kemukjizatan pada lafaznya. Dan dipastikan pula semua orang pintar bangsa Arab tidak sanggup menghadirkan makna yang serupa jauh lebih besar ketimbang ketidakmampuan mereka menyusun kalimat yang serupa dengan al-Qur’an. Kedelapanbelas: Semua kebutuhan setiap individu dapat ditemukan dalam al-Qur’an dengan paparan yang menakjubkan. Setiap orang dimungkinkan untuk larut pada ilmu yang dikandung al-Qur’an, dimana dokter atau fisikawan dapat menemukan banyak ilmu menakjubkan dalam al-Qur’an, ahli bahasa demikian pula, termasuk para satrawan, psikolog, sosiolog, kaum pendidik, ahli meterologi dan sebagainya. Ilmu yang bermanfaat terkumpul dalam al-Qur’an, juga ketetapan hukum yang tinggi sangat sempurna. Firman Allah Swt: وَتَمَّتۡ كَلِمَتُ رَبِّكَ صِدۡقًا وَّعَدۡلاً Terjemahannya: “Dan telah sempurna firman Tuhanmu (Alquran) dengan benar dan adil.” (Qs: al-An’am: 115) Kesembilanbelas: Al-Qur’an selalu selaras dengan akal logika dan fitrah. Makanya, tiada seorang pun berakal sehat yang mendengar al-Qur’an kecuali akan menerima dan meyakini kandungan makna al-Qur’an sangat logis dan mudah dicerna. Sebab, tidak ada sedikitpun dalam al-Qur’an yang pelik dan sulit difahami apalagi akan bertentangan dengan fitrah. Keduapuluh: Al-Qur’an mengumpulkan semua hukum-hukum secara generalis lalu secara detail pada persoalan-persoalan penting. Sungguh benar firman Allah Swt: تِبۡيَانًا لِّـكُلِّ شَىۡءٍ Terjemahannya: “untuk menjelaskan segala sesuatu,” (Qs: al-Nahl: 89) Keduapuluh satu: pengaruh al-Qur’an pada jiwa terasa sangat dahsyat. Firman Allah Swt: لَوۡ اَنۡزَلۡنَا هٰذَا الۡقُرۡاٰنَ عَلٰى جَبَلٍ لَّرَاَيۡتَهٗ خَاشِعًا مُّتَصَدِّعًا مِّنۡ خَشۡيَةِ اللّٰهِ Terjemahannya: “Sekiranya Kami turunkan Alquran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah.” (Qs: al-Hasyr: 21) dan Firman Allah Swt: اَللّٰهُ نَزَّلَ اَحۡسَنَ الۡحَدِيۡثِ كِتٰبًا مُّتَشَابِهًا مَّثَانِىَ تَقۡشَعِرُّ مِنۡهُ جُلُوۡدُ الَّذِيۡنَ يَخۡشَوۡنَ رَبَّهُمۡ. ثُمَّ تَلِيۡنُ جُلُوۡدُهُمۡ وَقُلُوۡبُهُمۡ اِلٰى ذِكۡرِ اللّٰهِ Terjemahannya: “Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Alquran yang serupa (ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka ketika mengingat Allah.” (Qs: al-Zumar: 23) Setiap kali seseorang mendengarnya dengan sungguh-sungguh disertai perhatian penuh melainkan akan merasakan pengaruh dahsyat dalam dirinya. Sesering apapun al-Qur’an dibaca pasti tidak terasa membosankan, pengaruhnya pun terbaharui dalam jiwa, sungguh mahasuci Allah Swt. Sungguh al-Qur’an seperti hujan yang menghidupkan hati, menumbuhkan buah kebajikan berupa akhlak mulia dan amal shaleh. Firman Allah Swt: اِنَّ هٰذَا الۡقُرۡاٰنَ يَهۡدِىۡ لِلَّتِىۡ هِىَ اَقۡوَمُ Terjemahannya: “Sungguh, Alquran ini memberi petunjuk ke (jalan) yang paling lurus” (Qs: al-Isra’: 9). Belum lagi al-Qur’an berfungsi sebagai obat bagi segala penyakit medis dan non medis. Semua yang disebutkan di atas adalah sebagian bukti yang menunjukkan bahwa al-Qur’an adalah benar-benar firman Allah Swt. Sungguh benar firman Allah Swt: وَمَا كَانَ هٰذَا الۡقُرۡاٰنُ اَنۡ يُّفۡتَـرٰى مِنۡ دُوۡنِ اللّٰهِ Terjemahannya: “Dan tidak mungkin Alquran ini dibuat-buat oleh selain Allah;” (Qs: Yunus: 37) dan firman Allah Swt: وَمَا تَنَزَّلَتۡ بِهِ الشَّيٰطِيۡنُ وَمَا يَنۡۢبَغِىۡ لَهُمۡ وَمَا يَسۡتَطِيۡعُوۡنَؕ Terjemahannya: “Dan (Alquran) itu tidaklah dibawa turun oleh setan-setan. Dan tidaklah pantas bagi mereka (Alquran itu), dan mereka pun tidak akan sanggup.” (Qs: al-Syuara’; 210-211). Juga firman Allah Swt: وَبِالۡحَـقِّ اَنۡزَلۡنٰهُ وَبِالۡحَـقِّ نَزَلَ ؕ Terjemahannya: “Dan Kami turunkan (Alquran) itu dengan sebenarnya dan (Alquran) itu turun dengan (membawa) kebenaran.” (Qs: al-Isra’: 105). Atas dasar itu, al-Qur’an merupakan dalil terkuat menunjukkan kenabian Muhammad Saw. SIAPA YANG DIUNTUNGKAN DENGAN PETUNJUK AL-QUR’AN? Semua makna yang terkandung dalam al-Qur’an berupa ilmu dan iman mustahil dinikmati kecuali oleh mereka yang membacanya dengan motif utama mencari kebenaran. Dapat pula dituangkan dalam bentuk kaedah bahwa: setiap kali engkau serahkan dirimu untuk mentadabburi al-Qur’an dengan maksud mencari kebenaran, maka pasti engkau dikarunia keberkahan al-Qur’an. Kaedah ini juga termasuk bentuk kemukjizatan al-Qur’an. Betapa al-Qur’an merupakan perkataan tunggal namun dapat memberi hidayah kepada semua manusia sekaligus penyebab kesengsaarn sebagian orang. Firman Allah Swt: قُلۡ هُوَ لِلَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا هُدًى وَشِفَآءٌ وَ الَّذِيۡنَ لَا يُؤۡمِنُوۡنَ فِىۡۤ اٰذَانِهِمۡ وَقۡرٌ وَّهُوَ عَلَيۡهِمۡ عَمًى Terjemahannya: “Katakanlah, “Alquran adalah petunjuk dan penyembuh bagi orang-orang yang beriman. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, dan (Alquran) itu merupakan kegelapan bagi mereka.” (Qs: Fussilat: 44) Sungguh benar Allah Swt melalui firmannya: وَاِنَّهٗ لَـكِتٰبٌ عَزِيۡزٌۙ Terjemahannya: “dan sesungguhnya (Alquran) itu adalah Kitab yang mulia,” (Qs: Fussilat: 41). Diantara kemuliaannya bahwa tiada yang dapat menikmati kebaikan dalam al-Qur’an kecuali bagi mereka yang membacanya penuh tawadhu dan keinginan mencari kebajikan. Segala pancaran ilmu, hidayah dan iman akan selalu terpancar dari al-Qur’an. Sebaliknya, orang yang congkak, sombong dan cuek, maka al-Qur’an menambah kebutaannya. Firman Allah Swt: جَزَآءً وِّفَاقًا ؕ Terjemahannya: “sebagai pembalasan yang setimpal.” (Qs: al-Naba’: 26) Saya berdoa’ kepada Allah agar menjadikan kita sebagai ahli al-Qur’an, lalu menjadikannya penerang hati kita, cahaya jiwa kita, penawar kesedihan kita, obat kegundahan kita lalu menjadikannya sebagai penolong bagi kita dan bukan malah penghambat keselamatan kita. Sungguh Allah maha mendengar semua permohonan. Untuk ulasan tambahan silahkan baca; Kitab ‘an-Naba’u al-Azhim’ karya Doktor Muhammad Abdullah Diraaz, suguhan dahsyat terutama terkait al-Qur’an sebagai sumber ilmu dan rujukan utama dan bahwa al-Qur’an adalah kalamullah. Kitab “al-Qur’anu al-Mu’jiz’ karya Doktor Gaary Miller. [1] Saya mengenal seorang wanita tua renta dan tidak berpendidikan, dia ikut di sekolah tahfidz di usia tuanya, kemudian dimudahkan Allah Swt belajar baca al-Qur’an dan menghafalnya. Lantas dia mampu membaca halaman mana saja yang dia buka, sementara jika diberikan buku lain, sama sekali dia tidak mampu membaca walau satu huruf sekalipun. Saya juga pernah menjumpai seseorang di salah satu negara yang hafal al-Qur’an. Tilawahnya sangat indah dan ditunjuk sebagai imam. Sementara, saya berkomunikasi dengannya harus menggunakan penerjemah karena buta sama sekali dengan bahasa Arab. Sungguh benar firman Allah swt: وَلَقَدۡ يَسَّرۡنَا الۡقُرۡاٰنَ لِلذِّكۡرِ فَهَلۡ مِنۡ مُّدَّكِرٍ Terjemahannya: “Dan sungguh, telah Kami mudahkan Alquran untuk peringatan, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?” (Qs: al-Qamar: 17) Terjemahan Kitab Akidahilmuislamkenabiannubuwahtauhid