Skip to content
AKIDAH.NET
AKIDAH.NET

Keyakinan Pangkal Penghayatan

AKIDAH.NET
AKIDAH.NET

Keyakinan Pangkal Penghayatan

MENETAPKAN RUBUBIYAH ALLAH TA’ALA (Bag. 2)

Supriyadi Yusuf Boni, 26 Maret 202526 Maret 2025

Sumber: Kitab Ma`arij al-Qabul Bisyarhi Sullami al-Wushul Ila Ilmi al-Ushul Fii at-Tauhid

Penulis:  Syeikh Hafidz bin Ahmad al-Hakami

Penerjemah: Supriyadi Yousep Boni.

Editor: Idrus Abidin

Sejatinya, semua ayat-ayat yang tampak maupun yang tersembunyi serta semua makhluk, baik yang di langit maupun yang di bumi menjadi bukti konkrit kuasa Allah Swt. yang paripurna yang meliputi segala sesuatu sekecil apapun, tanpa mampu keluar dari pantauan dan kendali Allah Swt. Uraian kata dan kalimat tak mampu mewakili menggambarkan kekuasaan Allah Swt.

Sebenarnya, cukup bagi seorang hamba memperhatikan dirinya sendiri, bagaimana Allah Swt. menciptakan dirinya, membentuknya dengan indah dan sangat presisi, memolesnya menjadi sesepurna bentuk, melengkapinya dengan pendengaran, penglihatan, lisan untuk berbicara, naluri, jiwa dan hati hingga mampu berfikir jernih dan sebagainya.

Bagaimana hatinya tidak terkagum-kagum melihat alam semesta yang penuh keajaiban, melihat indahnya kehidupan ciptaan yang Maha Hidup dan tak kan pernah mati, menyaksikan tanda-tanda kuasa Allah Swt. yang sangat mengagumkan dan bukti-bukti yang menandakan sempurnanya kuasa dan kekuatan Allah Swt., dzat Maha Agung, Maha Perkasa. Firman Allah Swt.:

أَوَلَمْ يَنْظُرُوا فِي مَلَكُوتِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا خَلَقَ اللَّهُ مِنْ شَيْءٍ وَأَنْ عَسَىٰ أَنْ يَكُونَ قَدِ اقْتَرَبَ أَجَلُهُمْ ۖ فَبِأَيِّ حَدِيثٍ بَعْدَهُ يُؤْمِنُونَ

“Dan apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi dan segala sesuatu yang diciptakan Allah, dan kemungkinan telah dekatnya kebinasaan mereka? Maka kepada berita manakah lagi mereka akan beriman sesudah Al Quran itu?” (QS. al-A’raaf: 185).

Dalam sebuah hadits tentang doa’ istikharah disebutkan:

اللهم إني أستخيرك بعلمك، و أستقدرك بقدرتك، و أسألك من فضلك العظيم، فإنك تقدر و لا أقدر، و تعلم و لا أعلم.

“Ya Allah saya beristikharah kepada-Mu melalui luasnya ilmu-Mu, dan aku mohon takdir dan kekuatan-Mu, aku bermohon karunia-Mu yang agung, karena Engkaulah satu-satunya yang mampu sedang aku tak punya kemampuan, juga Engkaulah yang paling tahu sedang aku tak mengetahui.”[1]

الأزلي (Maha Awal) artinya dzat Allah Swt., nama-nama dan sifat-sifat-Nya yang tidak ada permulaan sifat awal-Nya dan tidak berujung sifat akhir-Nya, tiada pula di antara nama-nama dan sifat-sifat-Nya yang tergolong baru dan tercipta kemudian yang sebelumnya tiada. Demikian pula paripurnanya rububiyah Allah Swt. Allah Swt. Maha Mengetahui sejak sebelum menciptakan makhluk, Maha Mendengar sejak sebelum menciptakan semua objek yang didengar, Maha Melihat sejak sebelum menciptakan seluruh objek yang dilihat.

Nama-nama dan sifat-sifat Allah Swt. demikian pula. Semuanya bersifat azali seperti halnya dzat-Nya yang bersifat azali. Nama-nama dan sifat-sifat-Nya akan kekal melekat pada dzat-Nya. Allah Swt. telah menyifati diri-Nya Azali sejak awal dan akan terus bersifat Azali tanpa batas waktu. Nama al-Khaliq tidak disematkan setelah Dia mencipta, nama-al-Baari tidak disematkan karena sifat kebaharuan makhluk. Akan tetapi, Allah Swt. telah menjadi al-Khaliq sebelum menciptakan makhluk, juga al-Razzaq (Maha Pemberi Rezeki) sebelum diciptakannya makhluk penerima rezeki, demikian halnya dengan al-Muhyi (Maha Menghidupkan) dan al-Mumit (Maha Mematikan) sebelum Dia ciptakan hidup dan mati. Termasuk nama-nama dan sifat-sifat lainnya seperti yang Allah Swt. firmankan: وكان الله عليما قديرا (Dan Allah Maha Mengetahui dan Maha Kuasa), و كان الله غفورا رحيما (Dan Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang), و كان الله عزيزا حكيما (Dan Allah Maha Perkasa dan Maha Bijaksana), و كان الله سميعا بصيرا (Dan Allah Maha Mendengar dan Maha Melihat), و كان الله لطيفا خبيرا (Dan Allah Maha Lembut dan Maha Menegtahui), إن الله كان عليا كبيرا (Dan sesungguhnya Allah Maha Tinggi dan Maha Besar). Dan ayat-ayat lain yang senada.

Ibnu Abbas mengatakan: nama-nama tersebut akan terus melekat pada diri Allah Swt. Setiap orang dilarang menyifati Allah Swt. dengan sifat-sifat yang tidak disematkan Allah Swt. pada diri-Nya. Sebab, semua sifat Allah Swt. peripurna dan hilangnya sifat tersebut sebelumnya apda Allah Swt. merupakan kekurangan. Mustahil sifat kesempurnaan Allah Swt. itu muncul setelah sebelumnya dianggap lemah dan penuh kekurangan. Hal ini telah disebutkan oleh hadits Imran bin Hushain ra pada persoalan sifat Azaliyah persisnya pada awal penciptaan, di mana disebutkan:

كانَ اللَّهُ ولَمْ يَكُنْ شيءٌ قَبْلَهُ، وكانَ عَرْشُهُ علَى المَاءِ،

            Artinya: “Allah Swt. sudah ada sebelu segala sesuatu ada dan Arsy Allah Swt. berada di atas air.”[2]

            الصمد (Maha Tempat Bergantung). Ikrimah meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa makna al-Shamad adalah tempat bergantungnya semua makhluk dalam memenuhi segala kebutuhan dan penyelesaian persoalan mereka.”[3]

            Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa al-Shamad adalah tuan yang ketokohannya, yang dimuliakan dan telah sempurna kemuliannya, yang diagungkan dan telah sempurna keagungannya, yang maha pengayom dan sempurna dalam mengayomi, yang mengetahui dan telah sempurna ilmunya, yang bijak dan telah sempurna sifat bijaksannya. Jadi, telah paripurna kemuliaan dan ketuanannya, dan itu hanyalah Allah Swt. Keparipurnaan hanyalah milik Allah Swt. tiada lain. Tiada yang serupa dengan Allah Swt., maha suci Allah Swt. yang Maha Esa dan Maha Kuasa.”[4]

 Dari Wail disebutkan al-Shamad adalah puncak kekuasaan sebagaimana beliau riwayatkan dari Ibnu Mas’ud ra.[5] Diriwayatkan dari Zaid bin Aslam bahwa al-Shamad artinya adalah al-Sayyid (tuan).[6] Al-Hasan dan Qatadah menyatakan; al-Shamad adalah dzat yang kekal setelah diciptakan.[7] Al-Hasan menyatakan juga bahwa al-Shamad adalah yang Maha Hidup dan Kekal yang tak kan pernah fana.”[8] Ikrimah menyatakan al-Shamad adalah sesuatu yang tidak penah terciptakan dan tidak pernah makan.[9]

Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Sa’id bin al-Musayyib, Mujahid, Abdullah bin Buraidah, Ikrimah, Sa’id bin Jubair, Atha bin Abi Rabah, Athiyyah al-‘Aufa, al-Dhahhak dan al-Suddi mengatakan, al-Shamad adalah dzat yang tidak berjiwa.[10] Al-Syafi’i mengatakan, al-Shamad adalah dzat yang tidak makan dan tidak pula minum.[11] Abdullah bin Buraidah mengatakan, al-Shamad adalah cahaya yang berkilauan dan menerangi.[12]

Ibnu Katsir mengatakan, semua makna itu diriwayatkan dan disebutkan oleh Ibnu Abi Hatim, al-Baihaqi dan al-Thabarani. Demikian pula oleh Abu Ja’far bin Jarir telah menyebutkannya dengan sanad beragam. Al-Thabari mengatakan dalam kitab al-Sunnah setelah menyebutkan banyak makna al-Shamad, semua riwayat dan makna tersebut benar adanya. Dan al-Shamad termasuk salah satu sifat-sifat Allah Swt., yakni tempat bertumpunya segala kebutuhan, yang paripurna ketuanannya, yang tidak berjiwa, tidak makan dan tidak minum dan tetap kekal setelah mencipta dan Imam al-Baihaqi juga menyebutkan hal yang sama.[13]

Al-Tirmidzi mengatakan, Ahmad bin Mani’ mengabarkan ke kami berkata Abu Sa’ad (al-Shan’ani) mengabarkan ke kami dari Abu Ja’far al-Razi dari al-Rabi’ bin Anas dari Abu al-‘Aliyah dari Ubay bin Ka’ab bahwasanya orang-orang musyrik pernah meminta kepada Rasulullah Saw. tolong gambarkan ke kami siapa rabbmu itu. Lalu Allah Swt. turunkan firman-Nya: قل هو الله أحد، الله الصمد (Katakanlah bahwa Dialah Allah yang Maha Esa, Allah adalah al-Shamad) al-Shamad adalah yang tidak pernah melahirkan dan tidak pernah pula dilahirkan, sebab tiada sesuatu yang dilahirkan melainkan dipastikan akan mati, dan tiada yang mati melainkan akan diwarisi, sementara Allah Swt. tidak mati dan tidak diwarisi. ولم يكن له كفوا أحد  (Tiada yang serupa dengan-Nya) Artinya tiada yang serupa dan tiada yang sepadan bahwa tiada suatu pun yang semisal dengan Allah Swt..[14]

Abdullah bin Humaid mengabarkan kepada kami, berkata Ubaidullah bin Musa mengabarkan ke kami dari Abu Ja’far al-Razi dari al-Rabi’ dari Abu al-Aliyah bahwasanya Nabi Saw. menyebutkan tuhan-tuhan (orang musyrik) lalu mereka menimpali: gambarkan ke kami siapa Rabbmu itu Muahmmad. Lantas Jibril mendatanginya membawa surah ini قل هو الله أحد (Katakanlah Dialah Allah yang Maha Esa), beliau menyebutkan riwayat serupa namun tanpa menyebut Ubay bin Ka’ab. Dan riwayat ini yang paling shahih dari hadits Abu Sa’id.[15]

Menurut saya, surah yang mulia ini telah disebutkan keutamaannya oleh Rasulullah Saw. bahwa:

إنها تعدل ثلث القرآن

Artinya: surah ini setara dengan sepertiga al-Qur’an.”[16] Kandungan surah ini berisi tauhid uluhiyah, rububiyah, asma dan sifat. Ia menggabungkan antara mengimani sifat-sifat kesempurnaan Allah Swt. dan meniadakan keserupaan dan kesetaraan dengan Allah Swt., mengandung bantahan terhadap keyakinan semua sekte kekafiran seperti kaum al-Dahriyah, al-Watsaniyah, juga orang-orang menyimpang seperti al-Musyabbihah, al-Mu’attilah, termasuk keyakinan penyatuan Allah Swt. dengan makhluk-Nya, atau mengklaim Allah Swt. beristri dan beranak. Sungguh Maha Tinggi Allah Swt. dari segala yang mereka katakan itu. Wallahu a’lam.

البر (Maha Baik) selain menjadi sifat juga menjadi fakta rububiyah Allah Swt.. Ibnu Abbas berkata: artinya adalah Maha Lembut.[17] Sementara al-Dhahhak mengatakan, artinya adalah yang selalu benar dalam setiap janjinya.[18]

المهيمن (Maha Mengawasi). Ibnu Abbas, Mujahid, Qatadah, al-Suddi dan Muqatil berkata: al-Muhaimin adalah yang menyaksikan segala amalan hamba[19]. Disebutakan kata هيمن-يهيمن-فهو مهيمن apabila selalu mengawasi sesuatu sebagaimana firman Allah Swt.:

الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ وَاللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ

“Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu.” (QS. al-Buruuj: 9). Firman Allah Swt.:

ثُمَّ اللَّهُ شَهِيدٌ عَلَىٰ مَا يَفْعَلُونَ

“Dan Allah menjadi saksi atas apa yang mereka kerjakan.” (QS. Yunus: 46). Firman Allah Swt.:

أَفَمَنْ هُوَ قَائِمٌ عَلَىٰ كُلِّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ

“Maka apakah Tuhan yang menjaga setiap diri terhadap apa yang diperbuatnya (sama dengan yang tidak demikian sifatnya)?” (QS. al-Ra’du: 33).

Al-Hasan mengatakan, al-Muhaimin artinya al-Amiin (Maha Dipercaya).[20] Al-Khalil mengatakan: artinya Maha Mengawasi dan Menjaga.[21] Ibnu Zaid mengatakan: yakni Maha Dibenarkan.[22] Sa’id bin al-Musayyib dan al-Dhahhak mengatakan: yakni dzat penentu.[23] Ibnu Kaisan mengatakan; yakni salah satu nama Allah Swt. yang disebutkan dalam al-Qur’an.[24] Allah yang lebih tahu makna sesungguhnya.

العلي (Maha Tinggi). Semua makna ketinggian merupakan hak mutlak Allah Swt. علو فهر (Tinggi Perkasa) artinya tiada yang dapat mengalahkan atau menentangnya. Sebab, segala sesuatu berada dalam kuasa dan kendali Allah Swt. Firman Allah Swt.:

قُلْ إِنَّمَا أَنَا مُنْذِرٌ ۖ وَمَا مِنْ إِلَٰهٍ إِلَّا اللَّهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ

“Katakanlah (ya Muhammad): “Sesungguhnya aku hanya seorang pemberi peringatan, dan sekali-kali tidak ada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa dan Maha Mengalahkan.” (QS. Shaad: 65). Firman Allah Swt.;

لَوْ أَرَادَ اللَّهُ أَنْ يَتَّخِذَ وَلَدًا لَاصْطَفَىٰ مِمَّا يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ ۚ سُبْحَانَهُ ۖ هُوَ اللَّهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ

 “Kalau sekiranya Allah hendak mengambil anak, tentu Dia akan memilih apa yang dikehendaki-Nya di antara ciptaan-ciptaan yang telah diciptakan-Nya. Maha Suci Allah. Dialah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan.” (QS. al-Zumar: 4). Kemudian Allah Swt. menggabungkan antara ketinggian kuasa-Nya dengan ketinggian dzat-Nya dalam firman-Nya;

وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ ۚ

“Dan Dialah yang berkuasa atas sekalian hamba-hamba-Nya.” (QS. al-An’aam: 18).

Maksudnya, bahwa Allah Swt. yang mengendalikan segala sesuatu hingga semuanya tunduk pada keagungan-Nya, segala sesuatu menjadi rendah di hadapan keagungan-Nya. Dzat Allah Swt. juga berada di Arsy yang berada di atas segala sesuatu.

علو الشأن (Maha Mulia). Allah Swt. teramat jauh dari kekurangan dan cacat yang mengurangi status uluhiyah-Nya, rububiyah-Nya, nama-nama-Nya yang terbaik dan sifat-sifat-nya yang mulia. Maha tinggi keesaan Allah Swt. dari segala serikat, pembantu, penjaga dan penolong. Maha tinggi kemuliaan dan keangungan Allah Swt. dari segala pendukung. Maha tinggi Allah Swt. sebagai tempat bergantung dari segala kerabat dan keturunan berupa istri, anak, ayah, atau dari keserupaan dan kesetaraan denga sesuatu. Maha tinggi Allah Swt. dalam sifat hidup, qayyumiyah dan kuasa dari segala bentuk kematian, rasa kantuk, tidur, capai atau kelemahan. Maha tinggi sifat ilmu Allah Swt. dari segala bentuk kealpaan, lupa atau lepasnya sesuatu dari pantau Allah Swt., baik yang di bumi maupuin yang di langit.

Maha tinggi sifat bijaksana dan keterpujian Allah Swt. dari segala bentuk kesisa-siaan, atau bairkan makhluk hidup tanpa makna, tanpa perintah dan larangan, tanpa kebangkitan dan tanpa balasan. Maha tinggi sifat adil Allah Swt. dari segala bentuk kezaliman, atau menghilangkan catatan kebajikan makhluk. Maha tinggi sifat kaya Allah Swt. dari segala bentuk kebutuhan hidup seperti makan, rezeki, atau dari membutuhkan makhluk-nya. Maha tinggi sifat-sifat kemuliaan Allah Swt. dari segala bentuk penegasian atau penyepadanan. Firman Allah Swt. و ما من إله إلا الله (Dan tiada Ilah selain Allah). Firman Allah Swt.:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ

“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, tuhan) selain Allah” (QS. Muhammad: 19). Firman Allah Swt.:

قُلْ أَرَأَيْتُمْ مَا تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَرُونِي مَاذَا خَلَقُوا مِنَ الْأَرْضِ أَمْ لَهُمْ شِرْكٌ فِي السَّمَاوَاتِ

“Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu sembah selain Allah; perlihatkan kepada-Ku apakah yang telah mereka ciptakan dari bumi ini atau adakah mereka berserikat (dengan Allah) dalam (penciptaan) langit?” (QS. al-Ahqaaf: 4). Firman Allah Swt.:

لَوْ كَانَ فِيهِمَا آلِهَةٌ إِلَّا اللَّهُ لَفَسَدَتَا ۚ فَسُبْحَانَ اللَّهِ رَبِّ الْعَرْشِ عَمَّا يَصِفُونَ

“Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai ‘Arsy daripada apa yang mereka sifatkan.” (QS. al-Anbiya’: 22). Firman Allah Swt.:

قُلِ ادْعُوا الَّذِينَ زَعَمْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ ۖ لَا يَمْلِكُونَ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ وَمَا لَهُمْ فِيهِمَا مِنْ شِرْكٍ وَمَا لَهُ مِنْهُمْ مِنْ ظَهِيرٍ

“Katakanlah: “Serulah mereka yang kamu anggap (sebagai tuhan) selain Allah, mereka tidak memiliki (kekuasaan) seberat zarrahpun di langit dan di bumi, dan mereka tidak mempunyai suatu sahampun dalam (penciptaan) langit dan bumi dan sekali-kali tidak ada di antara mereka yang menjadi pembantu bagi-Nya.” (QS. Saba’: 22). Firman Allah Swt.:

وَلَمْ يَكُنْ لَهُ شَرِيكٌ فِي الْمُلْكِ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ وَلِيٌّ مِنَ الذُّلِّ ۖ

“Dan tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya dan Dia bukan pula hina yang memerlukan penolong” (QS. al-Isra’: 111). Firman Allah Swt.:

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ. اللَّهُ الصَّمَدُ. لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ. وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

“Katakanlah: “Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia”. (QS. al-Ikhlash: 1-4). Firman Allah Swt.:

وَأَنَّهُ تَعَالَىٰ جَدُّ رَبِّنَا مَا اتَّخَذَ صَاحِبَةً وَلَا وَلَدًا

“Dan bahwasanya Maha Tinggi kebesaran Tuhan kami, Dia tidak beristeri dan tidak (pula) beranak.” (QS. al-Jinn: 3). Firman Allah Swt.:

رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا فَاعْبُدْهُ وَاصْطَبِرْ لِعِبَادَتِهِ ۚ هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا

“Tuhan (yang menguasai) langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya, maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadat kepada-Nya. Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia (yang patut disembah)? (QS. Maryam: 65). Firman Allah Swt.:

يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يَشْفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ارْتَضَىٰ

“Allah mengetahui segala sesuatu yang dihadapan mereka (malaikat) dan yang di belakang mereka, dan mereka tiada memberi syafa’at melainkan kepada orang yang diridhai Allah,” (QS. al-Anbiya’: 28). Firman Allah Swt.:

مَا مِنْ شَفِيعٍ إِلَّا مِنْ بَعْدِ إِذْنِهِ ۚ

“Tiada seorangpun yang akan memberi syafa’at kecuali sesudah ada izin-Nya.” (QS. Yunus: 3). Firman Allah Swt.:

مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ ۚ

“Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya?” (QS. al-Baqarah: 255). Firman Allah Swt.:

وَهُوَ يُجِيرُ وَلَا يُجَارُ عَلَيْهِ

“Sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)-Nya,” (QS. al-Mukminuu: 88). Firman Allah Swt.:

وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَيِّ الَّذِي لَا يَمُوتُ

“Dan bertawakkallah kepada Allah yang hidup (kekal) Yang tidak mati,” (QS. al-Furqan: 58). Firman Allah Swt.:

اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ ۚ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ ۚ

“Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur.” (QS. al-Baqarah: 255). Firman Allah Swt.:

وَلَقَدْ خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ وَمَا مَسَّنَا مِنْ لُغُوبٍ

“Dan sesungguhnya telah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, dan Kami sedikitpun tidak ditimpa keletihan.” (QS. Qaaf: 38). Firman Allah Swt.:

أَفَعَيِينَا بِالْخَلْقِ الْأَوَّلِ ۚ بَلْ هُمْ فِي لَبْسٍ مِنْ خَلْقٍ جَدِيدٍ

“Maka apakah Kami letih dengan penciptaan yang pertama? Sebenarnya mereka dalam keadaan ragu-ragu tentang penciptaan yang baru.” (QS. Qaaf: 15). Firman Allah Swt.:

أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّ اللَّهَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَمْ يَعْيَ بِخَلْقِهِنَّ بِقَادِرٍ عَلَىٰ أَنْ يُحْيِيَ الْمَوْتَىٰ ۚ بَلَىٰ إِنَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah yang menciptakan langit dan bumi dan Dia tidak merasa payah karena menciptakannya, kuasa menghidupkan orang-orang mati? Ya (bahkan) sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. al-Ahqaaf: 33). Firman Allah Swt.: و ما الله بغافل عما تعملون (Dan Allah tidak pernah lalai dari apa yang kalian lakukan), firman Allah Swt.:

وَمَا كُنَّا عَنِ الْخَلْقِ غَافِلِينَ

“Dan Kami tidaklah lengah terhadap ciptaan (Kami).” (QS. al-Mukminuun: 17). Firman Allah Swt. و ما كان ربك نسيا (Dan Rabbmu tidak pernah lupa). Kemudian Allah Swt. berfirman tentang Musa di saat Fir’aun berkata kepadanya:

قَالَ فَمَا بَالُ الْقُرُونِ الْأُولَىٰ. قَالَ عِلْمُهَا عِنْدَ رَبِّي فِي كِتَابٍ ۖ لَا يَضِلُّ رَبِّي وَلَا يَنْسَى

Berkata Fir’aun: “Maka bagaimanakah keadaan umat-umat yang dahulu?” Musa menjawab: “Pengetahuan tentang itu ada di sisi Tuhanku, di dalam sebuah kitab, Tuhan kami tidak akan salah dan tidak (pula) lupa; (QS. Thaha: 51-52). Firman Allah Swt.:

عَالِمِ الْغَيْبِ ۖ لَا يَعْزُبُ عَنْهُ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ وَلَا أَصْغَرُ مِنْ ذَٰلِكَ وَلَا أَكْبَرُ

Demi Tuhanku Yang Mengetahui yang ghaib, sesungguhnya kiamat itu pasti akan datang kepadamu. Tidak ada tersembunyi daripada-Nya sebesar zarrahpun yang ada di langit dan yang ada di bumi dan tidak ada (pula) yang lebih kecil dari itu dan yang lebih besar, (QS. Saba’: 3). Firman Allah Swt.:

وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاءَ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا بَاطِلًا ۚ ذَٰلِكَ ظَنُّ الَّذِينَ كَفَرُوا ۚ

Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya tanpa hikmah. Yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang kafir itu. (QS. Shaad: 27). Firman Allah Swt.:

وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا لَاعِبِينَ. مَا خَلَقْنَاهُمَا إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dengan bermain-main. Kami tidak menciptakan keduanya melainkan dengan haq, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. (QS. al-Dukhan: 38-39). Firman Allah Swt.:

أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ

Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? (QS. al-Mukminuun: 115). Firman Allah Swt.:

أَيَحْسَبُ الْإِنْسَانُ أَنْ يُتْرَكَ سُدًى

Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)? (QS. al-Qiyamah: 36). Firman Allah Swt.:

وَوَجَدُوا مَا عَمِلُوا حَاضِرًا ۗ وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا

Dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang juapun”. (QS. al-Kahfi: 49). Firman Allah Swt.:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ ۖ وَإِنْ تَكُ حَسَنَةً يُضَاعِفْهَا

Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebajikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipat gandakannya (QS. al-Nisaa’: 40). Firman Allah Swt. و ما ربك بظلام للعبيد (Dan Rabbmu sekali-kali tidak akan berbuat zalim terhadap hamba). Firman Allah Swt.:

وَمَنْ يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَا يَخَافُ ظُلْمًا وَلَا هَضْمًا

Dan barangsiapa mengerjakan amal-amal yang saleh dan ia dalam keadaan beriman, maka ia tidak khawatir akan perlakuan yang tidak adil (terhadapnya) dan tidak (pula) akan pengurangan haknya. (QS. Thaha: 112). Firman Allah Swt.:

قُلْ أَغَيْرَ اللَّهِ أَتَّخِذُ وَلِيًّا فَاطِرِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَهُوَ يُطْعِمُ وَلَا يُطْعَمُ ۗ

Katakanlah: “Apakah akan aku jadikan pelindung selain dari Allah yang menjadikan langit dan bumi, padahal Dia memberi makan dan tidak memberi makan?” (QS. al-An’aam: 14). Firman Allah Swt.:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ. مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ. إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki Yang mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh. (QS. al-Dzariyyat: 56-58). Firman Allah Swt.:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ

Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji. (QS. Fathir: 15). Firman Allah Swt.:

يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِهِ عِلْمًا

Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka, sedang ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmu-Nya. (QS. Thaha: 11). Firman Allah Swt.:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat. (QS. al-Syura: 11).

Ayat-ayat yang selaras dengan ini sangat banyak dalam al-Qur’an. Dua makna kemahatinggian Allah Swt. di atas diakui dan diyakini oleh setiap yang mengklaim diri muslim. Ketergelinciran sebagian orang disebabkan karena salah jalan, ditambah dengan terlalu berprasangka baik pada diri sendiri dan pada logikanya lalu tanpa sadar semakin jauh dari tuntunan al-Qur’an dan sunnah. Banyak juga yang terbius oleh propaganda para durjana, ahli kerusakan dan kekufuran bahwa yang mereka inginkan sesungguhnya adalah menyelami hakikat keimanan dan keilmuan.

Akan tetapi, jalan mereka salah dan keliru serta jauh dari panduan al-Rahman. Sebagian orang hendak menyucikan Allah Swt. dari sifat ketinggian di atas Arsy karena kawatir menyerupakan Allah Swt. dengan makhluk, namun mereka malah terjatuh dalam kesalahan lebih besar dengan meyakini kalau Allah Swt. berada di setiap tempat, termasuk di temapt-tempat kotor. Sebagian lagi hendak menyucikan Allah Swt. dari sifat tinggi dan berada di atas lalu berkata Allah Swt. sekedar ada.

Sebagian lagi mengingkari adanya dzat Allah Swt. dan meyakini sebaliknya, sebagian lagi hendak menyucikan Allah Swt. dari sifat kuasa dan berkehendak demi untuk tidak menyandarkan zalim kepada-Nya, namun tanpa sadar mereka sejatinya menuding Allah Swt. lemah karena tidak berkuasa. Bahkan ada yang amat berlebihan sehingga berani mengingkari sifat kemahatahuan Allah Swt., lalu menuding Allah Swt. tidak berilmu. Yang lain lagi, berlebihan menyikapi persoalan takdir dengan cara memperhadap-hadapkannya dengan perintah dan larangan syariat. Alasannya agar tidak terjatuh dalam kesalahan ummat terdahulu. Akan tetapi, mereka malah terjatuh dalam pelanggaran lebih berat karena berani menolak syariat dan menyifati Allah Swt. dengan zalim akibat membebani makhluk dengan kewajiban yang di luar kesanggupan mereka.

Dengan sikap itu, mereka semuanya berani memilih jalan sesat ketimban bimbingan hidayah, memilih jalan kelam ketimbang jalan terang, memilih kekufuran ketimbang Islam, memilih bid’ah ketimbang sunnah, memilih kegelapan ketimbang cahaya Islam. Mereka berjalan di atas kesesatan namun menyangka diri berlaku bijak dan bajik.

Alhamdulillah, Allah Swt. membimbing orang-orang mukmin, di mana ketika mereka berbeda pandang, maka rujukan utama mereka adalah al-Qur’an dan sunnah.Mereka komitmen berpedoman pada keduanya dalam hal perintah dan larangannya. Makanya, mereka mengimani semua yang Allah Swt. sematkan pada diri-Nya atau yang Rasulullah Saw. sematkan pada-Nya berupa nama-nama terbaik dan sifat-sifat termulia.

Orang mukmin mengimani takdir baik dan takdir buruk, mereka menyikapinya dengan penuh ketundukan dan berserah diri, aktif menjalankan syariat, menerima semua perintah dan menjauhi semua larangannya dengan penuh pengagungan. Apa yang Allah Swt. tetapkan pada diri-Nya diimani oleh orang mukmin. Demikian pula, apa yang Allah Swt. nafikan dari diri-Nya akan dinafikan pula oleh orang mukmin.

Saat orang mukmin mendengar ayat-ayat tentang sifat dan juga hadits-hadits tentangnya, respon mereka hanyalah mengimaninya dan meyakini bahwa semua itu bersumber dari Allah Swt. Ketika berbuat baik, mereka mengucapkan Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Swt. yang telah karuniakan hidayah-Nya karena sungguh mustahil selamat tanpa bimbingan hidayah Allah Swt. Kalau pun mereka bersalah, maka ungkapan mereka adalah ya Rabb kami, sungguh kami telah menganiaya diri kami sendiri, jika Engkau tidak ampuni kami dan rahmati kami maka sungguh kami akan merugi, dan kalau tertimpa musibah, maka mereka berucap, sungguh kita adalah milik dan dalam kendali Allah Swt. dan akan kembali kepada Allah Swt.

كذا (begitulah) faktanya له العلو و الفوقية (Allah bersemayam tinggi dan di atas) berdasarkan al-Qur’an, sunnah dan Ijma’ para malaikat, para nabi, para rasul dan seluruh pengikutnya dari kalangan ahlussunnah wa al-jama’ah. على عباده (atas hamba-Nya) artinya Allah Swt.  berada tinggi di atas hamba bersemayam di atas Arsy-Nya. Allah Swt. tahu amalan semua manusia, mendengar semua pembicaraan manusia, melihat semua gerakan dan diam mereka, tiada sekecil apapun yang bisa luput dari ilmu Allah Swt. Dalil-dalil dari al-Qur’an dan sunnah sangat banyak yang menielaskan itu. Termasuk fitrah manusia dan hati yang bersih mengakui dan membenarkannya. Berikut ini disebutkan beberapa sebagai contoh konkrit.

Diantaranya adalah nama-nama terbaik Allah Swt. yang menunjukkan sifat kemahatinggian Allah Swt., seperti nama al-A’la, al-Aliy, al-Muta’ali, al-Zhahir, al-Qahir dan sebagainya. Firman Allah Swt.:

سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى

Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi, (QS. al-A’la: 1). Ketika ayat ini turun, Rasulullah Saw. bersabda:

Jadikanlah ia bacaan di sujud-sujud kalian.”[25] Firman Allah Swt.:

وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ ۖ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا ۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. (QS. al-Baqarah: 255). Firman Allah Swt.:

إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا

Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. (QS. al-Nisaa’: 34). Firman Allah Swt.:

ذَٰلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ

(Kuasa Allah) yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah (Tuhan) Yang Haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah, itulah yang batil, dan sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar. (QS. al-Hajj: 62). Firman Allah Swt.:

حَتَّىٰ إِذَا فُزِّعَ عَنْ قُلُوبِهِمْ قَالُوا مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ ۖ قَالُوا الْحَقَّ ۖ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ

Sehingga apabila telah dihilangkan ketakutan dari hati mereka, mereka berkata “Apakah yang telah difirmankan oleh Tuhan-mu?” Mereka menjawab: (Perkataan) yang benar”, dan Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar. (QS. Saba’: 23). Firman Allah Swt.:

إِنَّهُ عَلِيٌّ حَكِيمٌ

Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana. (QS. al-Syura: 51). Firman Allah Swt.:

عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ الْكَبِيرُ الْمُتَعَالِ

Yang mengetahui semua yang ghaib dan yang nampak; Yang Maha Besar lagi Maha Tinggi. (QS. al-Ra’du: 9). Firman Allah Swt.:

هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ ۖ

Dialah Yang Awal dan Yang Akhir Yang Zhahir dan Yang Bathin; (QS. al-Hadiid: 3).

Nabi Saw. melantunkan dalam do’anya:  و أنت الظاهر فليس فوقك شيئ (Dan Engkau al-Zhahir dan tiada yang lebih tinggi dari-Mu).[26] Firman Allah Swt.:

وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ ۚ

Dan Dialah yang berkuasa atas sekalian hamba-hamba-Nya. (QS. al-An’aam: 18). Semua nama-nama ini menunjukkan kemahatinggian Allah Swt., baik dzat-Nya, Kuasa-Nya dan kendali-Nya.

Di antaranya lagi adalah penegasan bahwa Allah Swt. bersemayam di Arsy sebagaimana disebutka dalam firman Allah Swt.:

إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ

Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. (QS. al-A’raaf: 54). Firman Allah Swt.;

إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ ۖ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ ۖ

Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy untuk mengatur segala urusan. (QS. Yunus: 3). Firman Allah Swt.;

اللَّهُ الَّذِي رَفَعَ السَّمَاوَاتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا ۖ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ ۖ

Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arasy, (QS. al-Ra’du: 2). Firman Allah Swt.;

الرَّحْمَٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ

(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas ‘Arsy. (QS. Thaha: 5). Firman Allah Swt.;

الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ ۚ الرَّحْمَٰنُ

Yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, kemudian dia bersemayam di atas ‘Arsy, (Dialah) Yang Maha Pemurah, (QS. al-Furqan: 59). Firman Allah Swt.;

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ ۖ مَا لَكُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا شَفِيعٍ ۚ أَفَلَا تَتَذَكَّرُونَ. يُدَبِّرُ الْأَمْرَ مِنَ السَّمَاءِ إِلَى الْأَرْضِ

Allah lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Tidak ada bagi kamu selain dari pada-Nya seorang penolongpun dan tidak (pula) seorang pemberi syafa’at. Maka apakah kamu tidak memperhatikan? Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, (QS. al-Sajadah: 4-5). Firman Allah Swt.;

هُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ ۚ يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِي الْأَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا ۖ وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa: Kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS. al-Hadiid: 4).

Hadits Anas menyebutkan keistimewaan hari Jum’at dan namanya di akhirat disebut yaum al-Mazid:

Artinya: ‘Yaitu hari di mana Rabbmu bersemayam di atas Arsy” diriwayatkan oleh Imam al-Syafi’i dalam kitab Musnadnya, Abdullah bin Ahmad dalammkitab al-Sunnah dan Ibnu Khuzaimah serta lainnya.[27]

Abu Bakar bin Abu dawud mengumpulkan semua jalur periwayatannya dalam satu bahasan tersendiri dan akan disajikan pada lembaran-lembaran berikutnya in sya Allah Swt. dengan lengkap sekaligus menegaskan akan kesempatan orang-orang mukmin melihat Allah Swt. di akhirat kelak.

Dari Anas ra berkata: Rasulullah Saw. bersabda:

إذا جمع الله الخلائق حاسبهم فيميز بين أهل الجنة و أهل النار و هو تعالى في جنته على عرشه.

Artinya: setelah Allah Swt. mengumpulkan semua makhluk, Allah Swt. menghisab amalan mereka lalau memisahkan antara penduduk surga dan penduduk neraka, sedang Allah Swt. berada di surga bersemayam di atas Arsy-Nya.” Muhammad bin utsman al-Hafidz berkata hadits ini shahih.[28]

Dari Qatadah al-Nu’man ra berkata; saya mendengar Rasulullah Saw. bersabda:

لما فرغ الله من خلقه استوى على عرشه

Artinya: Tatkala Allah Swt. telah usai menciptakan makhluk, Allah Swt. bersemayam di atas Arsy-Nya”. Diriwayatkan oleh al-Khallaal dalam kitabnya al-Sunnah dengan sanad yang shahih berdasarkan standar al-Bukhari.[29]

Dari Ibnu Abbas r. a. bahwasanya kaum Yahudi mendatangi Rasulullah Saw. menanyakan bagaimana penciptaan langit dan bumi. Kemudian Rasulullah Saw. menjawabnya dalam hadits yang panjang, lalu mereka berkata: lalu bagaimana selanjutnya wahai Muhammad? Beliau menjawab: kemudian Allah Swt. bersemayam di atas Arsy-Nya”. Mereka menimpali: sungguh benar jawabanmu wahai Muhammad andai engkau lanjutkan dengan ungkapan kemudian Dia istirahat. Mendengar itu Rasulullah Saw. marah besar lantas Allah Swt. menurunkan firman-Nya:

وَلَقَدْ خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ وَمَا مَسَّنَا مِنْ لُغُوبٍ

Dan sesungguhnya telah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, dan Kami sedikitpun tidak ditimpa keletihan. (QS. Qaaf: 38). Diriwayatkan oleh Ibnu Mundah dan al-Hakim dan juga menshahihkannya. Namun dalam sanadnya ada al-Baqqaal yang dilemahkan oleh Ibnu Ma’in.[30]

Dari Abu Razin al-Uqaili berkata: saya bertanya kepada Rasulullah Saw. di mana Allah Swt. sebelum menciptakan langit dan bumi? Beliau menjawab:

كان في عماء ما فوقه هواء و ما تحته هواء ثم خلق العرش فاستوى عليه.

Artinya: “Allah Swt. di ruang tinggi yang bahagian atasnya hanya berisi ruang kosong dan di bawahnya juga ruang kosong, kemudian Allah Swt. ciptakan Arsy lalu bersemayam di atasnya.” Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ibnu Majah. Al-Dzahabi berkata: sanadnya Hasan.[31]

Diriwayatkan juga oleh al-Tirmidzi dan menyatakan derajatnya hasan namun redaksinya berbunyi: و خلق عرشه على الماء (Dan Allah ciptakan Arsy-Nya di atas air). Yazid bin Harun berkata: al-Ama’ adalah ruang hampa.[32]

Dari Ibnu Abbas r. a. dan dari Murrah al-Hamadani dari Ibnu Mas’uud dan dari beberapa sahabat Rasulullah Saw. menjelaskan firman Allah Swt. ثم استوى على العرش (Kemudian naik ke langit) bahwasanya Arsy Allah Swt. di atas air yang menjadi ciptaan pertama Allah Swt. Kala hendak menciptakan segala makhluk, Allah Swt. keluarkan asap dari air hingga muncul di atas air kemudian Allah Swt. lantas naik meninggi maka dinamailah sama’ (langit), lalu air menjdi kering dan dinamailah bumi kemudian membelahnya sehingga bumi menjadi tujuh lapis… hingga sampai pada sabdanya: tatkala Allah Swt. usai menciptakan makhluk, Allah Swt. bersemayam di atas Arsy.” Diriwayatkan oleh al-Suddi, Ibnu Jariir al-Thabari dalam tafsirnya dan al-Baihaqi dalam kitab al-Asma’ wa al-Shifat.[33]

Dari Abu Hurairah ra bahwasanya Rasulullah saw pernah memegang tangan Abu Hurairah lalu bersabda:

يا أبا هريرة إن الله تعالى خلق السماوات و الأرضين و ما بينهما في ستة أيام ثم استوى على العرش يوم السابع.

Artinya: Wahai Abu Hurairah, Allah Swt. menciptakan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya selama enam hari lalu naik bersemayam di Arsy pada hari ketujuh.” Hadits ini panjang diriwayatkan oleh al-Nasaa’I pada pasal Tafsir Surah al-Sajadah dalam kitab al-Sunan al-Kubra.[34]

Dalam sanadnya terdapat Akhdhar bin Ajlan. Menurut al-Dzahabi, dinilai tsiqah oleh Ibnu Ma’in. Ibnu Abu Hatim menyatakan riwayatnya diterima. Sedang al-Azadi mengatakan riwayatnya layyin (sedikit lemah). Hadits ini lemah dan termasuk riwayat al-Akhdhar sendiri.


[1] HR. Bukhari, 11/183 dalam pasal Do’a-do’a bab Do’a istikharah Dan dalam pasal al-Tathawwu’, bab Matsna Matsna Dalam dalam pasal Tauhid, bab firman Allah Swt. قل هو القادر. Imam Muslim tidak meriwayatkannya dalam kitab shahihnya sebagaimana disebutakan dalam kitab al-Mushannaf. Abu Dawud, 3/89-90/1538 dalam pasal Shalat, bab Do’a istikharah. Al-Tirmidzi, 2/345-346/480 dalam pasal Shalat, bab Do’a istikharah. Al-Nasaa’i, 6/80-81 dalam pasal Nikah, bab Istikharah. Ibnu Majah, 1/440/1383 dalam pasala iqamat dan sunnah-sunnahnya, bab shalat istikharah. Ahmad, 3/342, Ibnu Abi Syaibah dalam kitab al-Mushannaf, 10/285/9452 dari hadits Jabir r.a.

[2] Sudah disebutkan takhrijnya pada halaman sebelumnya.

[3] Tafsir Ibnu Katsir, 4/609

[4] al-Thabari, 30/346 namun dalam sanadnya terdapat inqitha; (terputus) antara Ali dan Abdullah bin Abbas r.a. Lihat tafsir Ibnu Katsir, 4/609

[5] Ibnu Katsir, 4/610 dinukil dari al-Thabari, 30/346. Abu Wail adalah ‘Ashim bin Abi Wail, disebutkan oleh al-Bukhari dalam kitab Shahihnya. Al-Hafidz menyatakan, riwayat ini disebutkan bersambung sanadnya oleh al-Faryabi.

[6] Dari jalur Malik dari Ibnu Mas’uud dan termasuk sahabat spesialnya. Lihat kitab Ibnu Katsir, 4/610

[7] Al-Thabari, 30/347

[8] Ibnu Katsir, 4/610.

[9] Al-Thabari, 30/345

[10] Al-Thabari, 30/344-345 dan Ibnu Katsir, 4/610

[11] Al-Thabari, 30/345

[12] Ibnu Katsir, 4/610

[13] Dinukil dari tafsirnya, 4/610.

[14] HR. Tirmidzi, 5/452/3364 dalam pasal Tafsir al-Qur’an, bab surah al-ikhlash. Diriwayatkan juga oleh Ahmad dan kitab al-Musnad, 5/134, Ibnu Jarir dalam Tafsirnya, 30/342. al-Hakim, 2/540 kemudian berkata, hadits ini sandanya shahih walau tidak disebutkan oleh al-Bukhari dan Muslim. Hal ini disetujui oleh al-Dzahabi. Al-Baihaqi mengatakan dalam kitab al-Asma’ wa al-Sifaat, hal 49-50 bahwa sanadnya lemah di mana Abu Ja’far al-Razi kurang bagus hafalannya dan al-Tirmidzi juga menyebutkan illahnya pada Abu Sa’id al-Shan’ani sebagaiman disetujui oleh Muhammad bin Sabiq pada riwayat al-Hakim dalam kitab al-Mustadrak sehingga cacatnya pada yang pertama.

Hadits ini memiliki banyak riwayat pendukung dari hadits Jabir r.a. Diriwayatkan pula oleh Abu Ya’la dan kitab Musnadnya dan Ibnu jarir, 30/343 serta al-Thabarani dalam kitab al-Ausath. Namun dalam sanadnya terdapat Mujalid bin Sa’id di mana diduga lemah hafalannya. Ada banyak hadits penguat lainnya hingga derajatnya menjadi Hasan.

[15] HR. Tirmidzi, 5/452/3365 dalam pasal Tafsir al-Qur’an, bab Surah al-Ikhlash di mana disebutkan dalam sanadnya ada Abu Ja’far al-Razi.

[16] Redaksi hadits ini beragam diantaranya yang diriwayatkan oleh Abu Sa’iid al-Khudriy bahwa ada seseorang yang mendengar orang lain membaca qul huwallahu ahad berulang-ulang, keesokan harinya datanglah orang ini menemui Rasulullah Saw. dan menyampaikan hal itu sembari menganggap enteng amalan itu, kemudian Rasulullah Saw. bersabda: demi dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh surah itu setara dengan sepertiga al-Qur’an. Diriwayatkan oleh al-Bukhari, 9/59 dalam pasal Keutamaan al-Qur’an, bab Keutamaan qul huwallahu ahad. Abu Dawud, 2/72/1461 dalam pasal shalat, bab surah al-Shamad. Al-Nasa’i, 2/171, dalam pasal al-iftitah, bab keutamaan baca qul huwallahu ahad, al-Muwaththa’, 1/208, Ahmad, 3/35-43.

[17] HR. al-Baghawi, 5/236 dalam kitab Ma’alim al-Tanziil.

[18] Ibid

[19] HR. al-Baghawi, 5/356 dalam kitab Ma’alim al-Tanziil.

[20] Ibid.

[21] HR. al-Baghawi, 5/356 dalam kitab Ma’alim al-Tanziil.

[22] Ibid

[23] Ibid,

[24] Ibid,

[25] HR. Ahmad dala kitab Musnadnya, 4/155, Abu Dawud, no. 869, Ibnu Majah, no. 887, al-Thahawi, 1/138, al-Hakim, 1/225 dan 2/477, al-Baihaqi, 2/86 dari jalur Musa bin Ayyub al-Ghafiqi berkata saya mendengar pamanku Ayyas bin Amir berkata saya mendengar Uqbah bin Amir al-Juhani berkata lalu menyebutkan hadits di atas. Al-Hakim mengatakan, hadits ini Shahih dan telah disepakati semua perawinya diterima kecuali Ayyas bin Amir. Realitasnya beliau diterima riwayatnya lalu al-Dzahabi menimpali: Iyyas tidak dikenal. Hanya saja, al-Ajali mengatakan riwayatnya bisa diterima. Ibnu Hibban menyebutnya dalam kelompok perawi yang tsiqah sebagaimana dibenarkan juga oleh Ibnu Khuzaimah dalam kitab al-Tahdziib dan dalam kitab al-Taqriib disebutkan shaduuq. Artinya, hadits ini bisa naik derajatnya menjadi hasan.

[26] Telah disebutkan takhrijnya pada halaman sebelumnya.

[27] HR. al-Syafi’i dalam kitab Musnadnya, 1/126-127. Namun dalam sanadnya ada Ibrahim bin Muhammad Syaikhu al-Syafi’i yang diduga berdusta. Diriwayatkan oleh Abdullah bin Ahmad dalam kitab al-Sunnah, no. 460, Ibnu Jarir, 26/175 dan al-Ajurri dalam kitab al-Syari’ah serta Ibnu Abi Syaibah dalam kitab al-Raddu ala al-Jahamiyah, no. 145. Dari beberapa jalur dari Utsman bin Umair Abu al-Yaqazhan di mana dianggap lemah dan terganggu hafalannya serta dituding mudallis. Al-Haitsami mengatakan, al-Thabarani meriwayatkan dari Anas di mana semua perawinya tsiaqah. Lihat kitab al-Majma’, 2/164

[28] Disebutkan Ibnu al-Qayyim dalam kitabnya Ijtima’ al-Juyusy al-Islamiyah, hal 55, juga menyebutkan pernyataan Muhammad bin Utsman ini, namun saya tidak temukan dalam kitabnya al-Arsy.

[29] Disebutkan Ibnu al-Qayyim dalam kitabnya Ijtima’ al-Juyusy al-Islamiyah, hal 54 dan menyatakan; hadits ini derajatnya shahih berdasarkan syarat al-Bukhari. Al-Dzahabi berkata dalam kitab al-Uluw, para perawinya tsiqah, lihat kitab al-Uluwwu, hal 52, dan kitab al-Mukhtashar, no. 38.

[30] Disebutkan oleh al-Hakim, 2/543 dan disebutkan pula oleh Ibnu al-Qayyim dengan sanadnya dari jalur Ibnu Mundah, lihat kitab Ijtima’ al-Juyusy al-Islamiyah, hal 60. Al-Hakim mengatakan; hadits ini shahih sanadnya sekalipun tidak diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim. Hanya saja, imam al-Dzahabi tidak sependapat. Beliau berkata: tidak seperti itu karena al-Baqqaal telah dianggap lemah oleh Ibnu Ma’iin dan selainnya. Lihat kitab al-Uluwwu, hal 76.

[31] Diriwayatkan oleh al-Tirmidzi, 5/288/3109 dan berkata hadits ini hasan. Juga oleh Ibnu Majah dalam al-Muqaddimah, 1/64/182. Juga oleh Ahmad dalam kitab al-Musnad, 4/11, Ibnu Abi Syaibah dalam kitab al-Arsy, 7, Ibnu Jariir dalam kitab tafsirnya, 12/4, Abdullah dalam kitab al-Sunnah, no. 540, al-Baihaqi dalam kitab al-Asma’ wa al-Shifaat, hal 478-479, namun sanadnya dianggap lemah karena di dalamnya ada Waki’ bin Hadas atau Adas. Al-hafidz menilainya, diterima riwayatnya jika sebagai pendukung. Al-Dzahabi berkata; dia tidak diketahui sebagaimana pernyataan Ibnu al-Qaththan. Menurut saya: redaksi lalu bersemayam di atas Arsy-Nya tidak ditemukan kecuali riwayat al-Baihaqi dalam kitab al-Asma wa al-Shifaat, hal 514 dan saya juga tidak temukan di kitab Sunan Abi Dawud.

[32] Ibid.

[33] Ibnu Jariir, 1/194, al-Baihaqi dalam kitab al-Asma’ wa al-Shifaat, hal. 457 dan 482, Ibnu al-Mundzir dan Ibnu Abi Hatim. Lihat kitab al-Durru al-Mantsur, 1/106 dari jalur Asbaath dari al-Suddi dari Abi malik dan dari Abi Shalih dari Ibnu Abbas dan dari Murrah al-Hamadani dari Ibnu Mas’uud dan dari sebagian sahabat Rasulullah Saw. Asbaath adalah Ibnu Nashr al-Hamadani dinilai tsiqah oleh Ibnu Ma’iin, sedang Ahmad tidak berkomentar tentangnya, kemudian Abu Nu’aim mengatakan dia lemah. Al-Nasa’i berkata, riwayatnya tidak kuat. Al-Suddi yang dimaksud di riwayat ini adalah al-Suddi senior. Dia perawi yang shaduuq hanya diduga cenderung ke syi’ah-syi’ahan. Murrah al-Hamadani termasuk perawi tsiqah. Jadi, sanad hadits ini diterima sampai Ibnu Mas’ud r. a.

[34] Diriwayatkan oleh al-Nasa’i dalam kitab al-Sunan al-Kubra, lihat Tuhfatu al-Asyraaf, no. 14193, dalam kitab al-Uluwwu karya al-Dzahabi, hal. 75, al-Dzahabi menyatakan, Hadits gharib dan termasuk riwayat al-Akhdhar bin Ajlan. Al-Hafid berkata: Shaduuq. Lihat pernyataan al-Albani fi Mukhtashar al-Uluh/71.

Artikel Terjemahan Kitab Akidahalquranilmuislamtauhid

Navigasi pos

Previous post
Next post

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recent Posts

  • INFORMASI ALAM GHAIB
  • PERTAMA – BUKTI ADANYA ALLAH SWT.
  • SYUBHAT KETIGA: PIDANA MATI ORANG MURTAD
  • PASAL VI – SYUBHAT DAN BANTAHAN
  • BAHASAN KELIMA – MENGABAIKAN PERKEMBANGAN SEMANTIK
April 2026
S S R K J S M
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  
« Jan    

ahli kitab (2) ahlussunnah (2) akal (4) Akidah (102) Al 'Uluw (2) Allah (5) alquran (32) budaya (4) dalil (2) evolusi (1) firqah (2) firqah najiyah (2) ghaib (2) hadits (2) hidayah (2) ibadah (3) ibnu taimiyah (4) ilmu (64) imam syafi'i (9) iman (3) islam (89) kalam (2) kenabian (4) kesesatan (2) kitab (1) kristologi (5) ma'rifah (2) manusia (2) meditasi (1) nubuwah (3) pengetahuan (15) perdebatan (1) rububiyah (1) sejarah (4) sunnah (4) syubhat (5) tabiin (1) tafsir (2) takdir (2) tauhid (77) taurat (3) teori (2) tsaqafah (3) uluw (1) wahyu (2)

©2026 AKIDAH.NET | WordPress Theme by SuperbThemes