Skip to content
AKIDAH.NET
AKIDAH.NET

Keyakinan Pangkal Penghayatan

AKIDAH.NET
AKIDAH.NET

Keyakinan Pangkal Penghayatan

MENETAPKAN RUBUBIYAH ALLAH TA’ALA (Bag. 1)

Supriyadi Yusuf Boni, 26 Maret 2025

Sumber: Kitab Ma`arij al-Qabul Bisyarhi Sullami al-Wushul Ila Ilmi al-Ushul Fii at-Tauhid

Penulis:  Syeikh Hafidz bin Ahmad al-Hakami

Penerjemah: Supriyadi Yousep Boni.

Editor: Idrus Abidin

وَأَنَّهُ الرَّبُّ الْجَلِيلُ الْأَكْبَرُ … الْخَالِقُ الْبَارِئُ وَالْمُصَوِّرُ

بَارِي الْبَرَايَا مُنْشِئُ الْخَلَائِقِ … مُبْدِعُهُمْ بِلَا مِثَالٍ سَابِقِ

Sungguh Dialah Rabb Maha Mulia dan Maha Besar

                        Maha Pencipta, Pengendali dan Penentu Bentuk

            Pencipta manusia dan semua makhluk

                        Ciptaannya indah tanpa contoh sebelumnya.

            Wa annahu ar-rabbu (Dialah Rabb) maksudnya mengimani rububiyah Allah Swt. di mana Dialah Rabb dan penguasa segala sesuatu, rabb kaum terdahulu, saat ini dan yang akan datang, Rabb belahan timur dan barat, Rabb langit dan bumi dan segala yang ada di antara keduanya, rabb dua alam, Rabb kehidupan akhirat dan dunia.

            Dialah Raja diraja, tiada yang berserikat dengan-Nya dalam kekuasaan-Nya, Allah Swt. karuniakan kekuasaan kepada yang dikehendaki dan mencabut kekuasaan itu dari yang dikehendaki, memuliakan orang yang dikehendaki, menghinakan siapa yang dikehendaki, memberi hidayah bagi yang dikehendaki, menyesatkan orang yang dikehendaki, membahagiakan orang yang dikehendaki, menyengsarakan orang yang dikehendaki, merendahkan derajat yang dikehendaki, menaikkan marwah yang dikehendaki, melapangkan orang yang dikehendaki, menyulitkan orang yang dikehendaki, menyambung karunia orang yang dikehendaki, memutus karunia orang yang dikehendaki, melapangkan rezeki orang yang dikehendaki, menyempitkan rezeki orang yang dikehendaki, menciptakan apapun yang dikehendaki, mengaruniakan keturunan pria yang dikehendaki, mengaruniakan keturunan wanita yang dikehendaki, mengaruniakan keturunan kembar bagi yang dikehedaki, dan membuat mandul orang yang dikehendaki. Sungguh Allah Swt. Maha Mengetahui dan Maha Kuasa.

            Allah Swt. mengganti malam dengan siang secara perlahan, menggantikan siang dengan malam secara perlahan, menciptakan yang hidup dari yang mati dan menghadirkan yang mati dari yang hidup, menghidupkan bumi setelah ditimpa kegersangan, mengendalikan matahari dan bulan hingga tetap berputar pada porosnya masing-masing hingga waktu yang ditentukan. Allah Swt. mengatur kehidupan dari langit, turun ke bumi, lalu naik ke langit di setiap seribu tahun bilangan manusia.

            Allah Swt. menciptakan dan mengindahkannya, menetapkan kadar dan mengaruniakan hidayah, mentakdirkan makhluk bisa tertawa dan menangis, mematikan dan menghidupkan, menciptakan makhluk berpasangan, pria dan wanita dari setetes air mani, Allah Swt. pula mentakdirkan makhluk kaya atau miskin, berkembang dan punah, Allah Swt. memulai penciptaan, mengembalikan dan melakukan apa yang dikehendaki.

            Allah Swt. tinggikan langit dengan presisi, menggelap-gulitakan malamnya lalu memancarkan cahaya siangnya, menghamparkan bumi dan menggulungnya untuk menjadi tempat istirahat manusia dan tempat berusaha. Allah Swt. pancangkan gunung agar menjadi penopang bumi, melapangkan laut tempat kapal berlayar, menciptakan langit tinggi tanpa tiang namun tidak jatuh ke bumi, membolak-balikkan waktu, menjadikan malam sebagai waktu tenang, matahari dan bulan sebagai penanda waktu, dan matahari tidak akan mendahului bulan dan malam tidak akan mendahului siang. Semuanya beredar pada porosnya masing-masing.

            Allah Swt. menciptakan makhluk-Nya dalam bentuk sempurna, menciptakan manusia dimuali dari saripati tanah, lalu dikembangkan dalam bentuk air yang menjijikkan, lalu membentuknya untuk ditiupkan ruh ke dalamnya, kemudian melengkapinya dengan indera pendengaran, penglihatan, nurani sekalipun hanya sedikit manusia yang mensyukurinya.

            Allah Swt. pencipta alam beserta seluruh isinya, Dia juga akan mengumpulkan manusia di hari kiamat yang pasti terjadi kelak. Mempertemukan dua jenis air dalam satu wadah, air tawar dan air asin kemudian memberikan garis pemisah seperti benteng terbuat dari bebatuan, melimpahkan karunia dan nikmat-Nya kepada hamba-hamba-Nya, baik nikmat yang terindera maupun yang tidak, mempergilirkan siang dan malam untuk ditela’ah orang-orang berfikir dan bersyukur.

            Allah Swt. mengajarkan ilmu dan ilham kepada manuasia, mengatur alam ini dengan sangat presisi, menetapkan qadha dan memastikan pemberlakunya, tiada yang dapat menolak ketetapan-Nya atau menentang perintah-Nya, atau mengubah ketentuan-Nya, tiada serikat dalam kekuasan-Nya, tiada sembahan yang benar selain-Nya, tiada Rabb selai-Nya, segala yang dikehendaki pasti terjadi dan segala yang tidak dikehendaki pasti tidak terjadi, tiada daya dan kekuatan makhluk melainkan dengan bersandar kepada Allah Swt. yang Maha Mulia dan Maha Agung.

            Al-Jalil (Maha Mulia) maksudnya adalah bahwa Allah Swt. mengumpulkan semua sifat-sifat kemuliaan dan kesempurnaan, suci dari segala bentuk cacat dan kekurangan, tiada tandingan dan yang serupa dengan-Nya, memiliki nama-nama terbaik dan sifat-sifat puncak kemuliaan dan keagungan, dan hanya untuk-Nya lah segala macan puji-pujian di dunia dan di akhirat.

            Al-Akbar (Maha Besar), yang mana langit dan bumi serta seluruh yang ada di antara keduanya berada di tangan-Nya seperti butiran debu yang menempel di telapak seorang hamba. Allah Swt. Maha Agung dan digdaya. Dialah yang tak tergambar ke-Mahabesaran-Nya, tiada yang dapat menandingi-Nya, dan tiada keagungan dan kedigdayaan selain milik-Nya, siapa yang mencoba menyombongkan diri menentang-Nya pasti celaka dan binasa sebagaimana dia juga akan dimurkai dan merasakan pedihnya siksa Allah Swt.

            Al-Khaliq (Maha Mencipta) artinya Allah Swt. yang menentukan, mengendalikan dan mengatur semua makhluk. Firman Allah Swt.:

يَخْلُقُكُمْ فِي بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ خَلْقًا مِنْ بَعْدِ خَلْقٍ فِي ظُلُمَاتٍ ثَلَاثٍ

 “Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan” (QS. al-Zumar: 6). Firman Allah Swt.:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِنَ الْبَعْثِ فَإِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ مِنْ مُضْغَةٍ مُخَلَّقَةٍ وَغَيْرِ مُخَلَّقَةٍ لِنُبَيِّنَ لَكُمْ ۚ وَنُقِرُّ فِي الْأَرْحَامِ مَا نَشَاءُ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى ثُمَّ نُخْرِجُكُمْ طِفْلًا

“Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi “ (QS. al-Hajj: 5). Firman Allah Swt.:

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ طِينٍ. ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ. ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ ۚ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.” (QS. al-Mukminuun: 12-14). Firman Allah Swt.:

أَوَلَا يَذْكُرُ الْإِنْسَانُ أَنَّا خَلَقْنَاهُ مِنْ قَبْلُ وَلَمْ يَكُ شَيْئًا

“Dan tidakkah manusia itu memikirkan bahwa sesungguhnya Kami telah menciptakannya dahulu, sedang ia tidak ada sama sekali?” (QS. Maryam: 67). Firman Allah Swt.:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَجَعَلَ الظُّلُمَاتِ وَالنُّورَ

“Segala puji bagi Allah Yang telah menciptakan langit dan bumi dan mengadakan gelap dan terang,” (QS. al-An’aam: 1).

            Firman Allah Swt.: الله خالق كل شيئ (Allah mencptakan segala sesuatu) dan firman Allah Swt.: والله خلقكم و ما تعملون (Dan Allah menciptakan kalian dan segala perbuatan kalian) berarti Allah Swt. adalah al-Khaliq (Maha Pencipta). Selain Allah Swt. adalah makhluk yang tunduk kepada Allah Swt. yang tiada pencipta selain diri-Nya.

            Seluruh langit dan bumi dan segala isi dari keduanya, termasuk pergerakan penduduk keduanya, diam mereka, rezeki mereka, ajal kematian mereka, perkataan mereka, perbuatan dan tingkah laku mereka merupakan ciptaan Allah Swt. Dia terwujud baru setelah sebelumnya tiada. Dia lah Allah Swt. yang menciptakan segalanya, yang mewujudkannya, mengawalinya dan akan mengembalikannya kepada bentuk semula. Dari Allah Swt. berawal segala sesuatu dan akan kembali kepada-Nya. Firman Allah Swt.:

أَلَا إِلَى اللَّهِ تَصِيرُ الْأُمُورُ

“Ingatlah, bahwa kepada Allah-lah kembali semua urusan.” (QS. al-Syura: 53).

            Al-Bari’ (Maha Pencipta) artinya Allah Swt. yang mengadakan segala sesuatu dari yang semula tiada. Kata al-Bar’u artinya al-Fara yakni mengeksekusi sesuatu dan menampakkannya dalam bentuk berwujud. Sebab, tidak semua yang ditakdirkan Allah Swt. tampak dalam bentuk berwujud sebagaimana sebuah ungkapan menyatakan:

Sungguh Engkau wujudkan segala yang Engkau kehendaki sedang makhluk hanya mampu berkehendak namun tidak mampu wujudkan segala kehendaknya.

            Artinya Allah Swt. berkuasa mewujudkan semua yang Allah kehendaki sedang makhluk tidak mampu wujudkan semua yang dikehendaki.

            Al-Mushawwir (Maha Membentuk) artinya membentuk semua makhluk dan meletakkan tanda-tanda spesifik pada masing-masing makhluk yang berfungsi sebagai pembeda antara satu dengan lainnya. Allah Swt. berkuasa mewujudkan segala yang dikehendaki dan dalam bentuk yang dikehendaki. Proses terwujudnya sesuatu dimulai dari kehendak lalu dicipta kemudian dibentuk.

Ibnu Katsir menjelaskan tiga nama yang tertuang dalam penghujung surah al-Hasyr pada ayat: هو الله الخالق البارئ المصور (Dialah Allah yang menghendaki lalu menciptakan lalu membentuk) bahwa apabila Allah Swt. menghendaki sesuatu maka Dia hanya berkata jadilah maka terjadilah sesuatu itu dalam bentuk yang Dia kehendaki dan yang Dia pilih. Firman Allah Swt.:

فِي أَيِّ صُورَةٍ مَا شَاءَ رَكَّبَكَ

“Dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu.” (QS al-Infithaar: 8)

Ba’ri’ul Baraya (Pencipta makhluk) maksudnya semua makhluk berwujud. منشئ الخلائق (Menumbuhkan Makhluk) artinya semua makhluk tanpa terkecuali. مبدعهم (mengindahkan mereka) artinya menciptakan mereka, menumbuhkan mereka dan mengadakan mereka. Kata tersebut dijelaskan oleh بلا مثال سابق (Tanpa contoh sebelumnya) artinya tidak ada bentuk yang ditiru sebelumnya. Dari kata inilah istilah bid’ah itu dilahirkan karena tidak ada contoh sebelumnya dalam syariat. Firman Allah Swt.:

بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ

“Allah Pencipta langit dan bumi,” (QS. al-Baqarah: 117)

Maknanya, Allah Swt. mewujudkan dan membentuknya dalam bentuk yang baru tanpa contoh sebelumnya. Kalimat ini menafsirkan bait-bait sebelumnya sebagaimana telah dijelaskan.

‌الْأَوَّلُ ‌الْمُبْدِي بِلَا ابْتِدَاءِ … وَالْآخِرُ الْبَاقِي بِلَا انْتِهَاءِ

            Maha Awal dan Mengawali tanpa permulaan

                        Maha Akhir dan kekal tanpa penghabisan

            الأول (Maha Awal) tiada yang mendahului-Nya. المبدي (Yang Mengawali) artinya yang memulia dan mengembalikan ciptaannya. بلا ابتداء (Tanpa permulaan) artinya Allah lah yang Awal. و الآخر (Maha Akhir) tiada sesuatu setelahnya. الباقي (Maha Kekal) karena segala sesuatu selain-Nya bersifat fana. بلا انتهاء (tanpa penghabisan) artinya Allah Swt. yang paling akhir bahkan tak berakhir. Firman Allah Swt.:

هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ ۖ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Dialah Yang Awal dan Yang Akhir Yang Zhahir dan Yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. al-Hadiid: 3). Firman Allah Swt.:

قُلْ هَلْ مِنْ شُرَكَائِكُمْ مَنْ يَبْدَأُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ ۚ قُلِ اللَّهُ يَبْدَأُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ ۖ فَأَنَّىٰ تُؤْفَكُونَ

“Apakah di antara sekutu-sekutumu ada yang dapat memulai penciptaan makhluk, kemudian mengulanginya (menghidupkannya) kembali?” katakanlah: “Allah-lah yang memulai penciptaan makhluk, kemudian mengulanginya (menghidupkannya) kembali; maka bagaimanakah kamu dipalingkan (kepada menyembah yang selain Allah)?” (QS. Yunus: 34). Firman Allah Swt.:

أَوَلَمْ يَرَوْا كَيْفَ يُبْدِئُ اللَّهُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ. قُلْ سِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ بَدَأَ الْخَلْقَ ۚ ثُمَّ اللَّهُ يُنْشِئُ النَّشْأَةَ الْآخِرَةَ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Dan apakah mereka tidak memperhatikan bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian mengulanginya (kembali). Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. Katakanlah: “Berjalanlah di (muka) bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian Allah menjadikannya sekali lagi. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. al-Ankabuut: 19-20). Firman Allah Swt.:

وَلَا تَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا آخَرَ ۘ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۚ كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ ۚ لَهُ الْحُكْمُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

“Janganlah kamu sembah di samping (menyembah) Allah, tuhan apapun yang lain. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. Bagi-Nya-lah segala penentuan, dan hanya kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.” (QS. al-Qashash: 88). Firman Allah Swt.:

كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ. وَيَبْقَىٰ وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ

“Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (QS. al-Rahman: 26-27). Firman Allah Swt.:

يَوْمَ هُمْ بَارِزُونَ ۖ لَا يَخْفَىٰ عَلَى اللَّهِ مِنْهُمْ شَيْءٌ ۚ لِمَنِ الْمُلْكُ الْيَوْمَ ۖ لِلَّهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ

“(Yaitu) hari (ketika) mereka keluar (dari kubur); tiada suatupun dari keadaan mereka yang tersembunyi bagi Allah. (Lalu Allah berfirman): “Kepunyaan siapakah kerajaan pada hari ini?” Kepunyaan Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan.” (QS. Ghafir: 16).

            Rasulullah saw bersabda:

اللَّهُمَّ رَبَّ السَّمَوَاتِ السَّبْعِ وَرَبَّ الْأَرْضِ، وَرَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ، رَبَّنَا وَرَبَّ كُلِّ شَيْءٍ، فَالِقَ الْحَبِّ وَالنَّوَى، وَمُنْزِلَ التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْفُرْقَانِ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ شَيْءٍ أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ، اللَّهُمَّ أَنْتَ الْأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُونَكَ شَيْءٌ، اقْضِ عَنَّا الدَّيْنَ وَأَغْنِنَا مِنَ الْفَقْرِ

Artinya: Ya rabb langit yang tujuh, Rabb Arsy yang Agung, Rabb kami dan Rabb segala sesuatu, Dzat yang menumbuhkan biji benih, yang menurunkan Taurat dan Injil serta al-Qur’an. Saya berlindung kepada-Mu dari segala keburukan yang ditimpakan makhluk di mana Engkau kendalikan ubun-ubunnya. Engkaulah yang awal dan tiada yang mendahului-Mu, Engkaulah yang akhir dan tiada sesuatupun sesudah-Mu, Engkaulah yang tampak dan tiada yang melebihi kebesaran-Mu, dan engkau yang bathin dan tiada yang melebihi-Mu, lunasilah utang-utangku dan jauhkan aku dari kefakiran.” (HR. Muslim dari hadits Abu Hurairah dari Rasulullah Saw.[1]

Dalam kitab Shahihain diriwayatkan dari Imran bin Hushain r.a., beliau berkata:

دخلت على رسول الله صلى الله عليه و سلم و عقلت ناقتي بالباب فاتاه ناس من بني تميم فقال: أقبلوا البشرى يا بني تميم، قالوا: قد بشرتنا فأعطنا. مرتين ثم دخل عليه ناس من أهل اليمن فقال: اقبلوا البشرى يا أهل اليمن إذ لم يقبلها بنو تميم. قالوا: قبلنا يا رسول الله. قالوا: جئناك نسألك عن أول ÷ذا الأمر، قال: كان الله و لم يكن شيئ غيره و كان عرشه على الماء و كتب في الذكر كل شيئ و خلق السماوات و الأرض.

            Artinya: saya pernah menemui Rasulullah Saw. lalu aku ikat untaku dekat pintu. Tetiba datanglah sekelompok orang dari Bani Tamim kemudian Beliau berkata kepada mereka: terimalah berita gembira yang aku bawa ini wahai Bani Tamim, mereka jawab: engkau sudah sampaikan itu dan coba perlihatkan ke kami, dua kali mereka katakan itu. Lalu datang lagi sekelompok orang penduduk Negeri Yaman. Kemudian Rasulullah Saw. berkata kepada mereka: Terimalah berita baik yang aku bawa kepada kalian wahai penduduk Yaman karena Bani Tamim menolaknya. Lalau mereka menjawab: Kami terima dengan senang hati wahai Rasulullah. Mereka juga berkata: kami datang menghadap kepadamu untuk tahu hakikat awal kehidupan ini. Lantas beliau menjawab: yang pertama ada adalah Allah Swt., tiada yang lebih awal dari-Nya, dan Arsy Allah Swt. terletak di atas air, lalu mencatat segala sesuatu dalam al-Qur’an kemudian Allah Swt. ciptakan langit dan bumi.”[2]

            Umar bin Khattab r. a. mengisahkan:

قام فينا النبي صلى الله عليه و سلم مقاما فأخبرنا عن بدء الخلق حتى دخل أهل الجنة منازلهم و أهل النار منازلهم، حفظ من حفظه و نسيه من نسيه.

            Artinya: Rasulullah Saw. pernah berdiri lalu Beliau menyampaikan tentang awal penciptaan hingga penduduk surga menepati tempatnya dan penduduk neraka juga menempati tempatnya. Sabda itu diingat oleh sebagian dan mungkin dilupakan oleh sebagian (sahabat). (HR. al-Bukhari).[3]

            Dalam hadits Ibnu Umar r. a. disebutkan:

أنه تعالى يطوي السماوات بيده ثم يقول: أنا الملك أنا الملك أنا الجبار أنا المتكبر، أين ملوك الأرض أين الجبارون أين المتكبرون.

            Artinya: “Allah Swt. menggulung langit di tangannya sembari berfirman: “Sayalah penguasa, sayalah penguasa, sayalah yang Maha Kuasa dan Penentu, di mana semua para raja di bumi itu, di mana orang-orang sombong di dunia, mana orang-orang congkak itu.”[4]

            Dalam hadits tentang gambar disebutkan:

أنه عز و جل إذا قبض أرواح جميع خلقه فلم يبق سواه وحده لا شريك له حينئذ يقول لمن الملك اليوم ثلاث مرات ثم يجيب نفسه قائلا: لله الواحد القهار.

            Artinya: Sesungguhnya Allah azza wa jalla setelah mencabut ruh semua makhluknya hingga tak tersisa kecuali Allah Swt. yang tiada serikat bagi-Nya lalu Allah Swt. berfirman: milik siapakah kekuasaan itu hari ini sebanyak tiga kali, kemudian Allah Swt. menjawab sendiri melalui firman-Nya: Hanya Allah Swt. satu-satunya penguasa hari ini.”[5]

            Maksudnya bahwa hanya Allah Swt. yang paling berkuasa mengatur dan mengendalikan segala sesuatu.

            Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu Abbas r. a. berkata:

ينادي مناد بين يدي الساعة يا أيها الناس أتتكم الساعة فيسمعه الأحياء و الأموات قال: و ينزل الله عز و جل إلى السماء الدنيا و يقول لمن الملك اليوم؟ لله الواحد القهار.

            Artinya: menjelang hari kiamat terdengar sebuah suara menyeru wahai manusia, hari kiamat akan datang menemui kalian, suara tersebut di dengar oleh semua yang hidup dan yang sudah meninggal. Lalu berkata: Allah Swt. turun ke langit dunia sembari berfirman: milik siapakah kekuasaan hari ini? hanya, milik Allah Swt. satu-satunya.”[6]

            Ibnu al-Qayyim rahimahullah menjelaskan empat nama Allah Swt. yakni al-Awwalu, al-Akhiru, al-Zhahiru dan al-Bathinu bahwa keempat nama ini merupakan pondasi ilmu dan pengetahuan. Jangkauan pengetahuan setiap hamba ditentukan oleh kesanggupannya mengoptimalkan pemahamannya. Anda punya awal, akhir, zhahir dan bathin, dan setiap makhluk memiliki awal, akhir, zhahir dan bathin. termasuk fikiran, kesempatan dan jiwa atau yang lebih kecil dari itu.

            Akan tetapi, awalnya Allah Swt. mendahului awalnya segala makhluk, dan akhirnya Allah Swt. akan tetap hingga setelah berakhirnya semua makhluk. Jadi, awalnya Allah Swt. adalah dahulunya ketimbang makhluk dan akhirnya Allah Swt. adalah kekalnya setelah semua makhluk berakhir. Zhahirnya Allah Swt. berarti Maha Tingginya Allah Swt. di atas segala makhluk. Sebab, kata zhahir itu identik dengan ketinggian. Sesuatu dikatakan zhahir kalau sesuatu itu berada di ketinggian dan mencakup semua yang bathin. Bathin Allah Swt. bermakna penguasaan dan ilmu Allah Swt. yang menjangkau semua makhluk, di mana Allah Swt. menjadi lebih dekat dengan makhluk tersebut. Kedekatan semacam ini berbeda jauh dengan kedekatan seseorang dengan kekasihnya. Tingkatan dan bentuknya berbeda.

            Inti dari empat nama ini adalah cakupan yang meliputi dua dimensi yakni dimensi waktu dan dimensi ruang dan tempat. Cakupan Awwaliyah (awal) dan akhiriyah (akhir) adalah pada kata qabl (sebelum) dan ba’da (sesudah). Karena setiap yang dahulu titik hentinya pada awalnya dan setiap yang hadir kemudian titik hentinya pada keberakhirannya. Cakupan awal dan akhir-Nya karena Allah Swt. tanpa batas awal dan tanpa ujung akhir. Sementara zhahiriyah (zhahir) dan Bathiniyah (bathin) adalah pada semua yang zhahir dan yang bathin.

Tiada sesuatu yang zhahir (tinggi dan nampak) melainkan Allah Swt. lebih tinggi dari darinya, dan tiada sesuatu yang bathin melainkan Allah Swt. lebih dari itu.  Tiada sesuatu yang hadir di awal melainkan Allah Swt. jauh mendahuluinya dan tiada sesuatu yang berada di akhir melainkan Allah Swt. tetap ada setelahnya. Jadi, sifat awal Allah Swt. adalah keterdahuluan-Nya, sifat akhir Allah Swt. adalah kekal-Nya, sifat zhahir Allah Swt. adalah keMaha Tinggian-Nya dan sifat bathin Allah Swt. adalah dekat-Nya.

Sifat awal Allah Swt. mendahului segala sesuatu, sifat akhir Allah Swt. kekal-Nya setelah akhir segala sesuatu, sifat zhahir Allah Swt. adalah keberadaan-Nya di atas segala sesuatu dan sifat bathin Allah Swt. adalah dekat-Nya dengan segala sesuatu. Tiada yang tersembunyi dari Allah Swt., baik berupa lapisan langit tertinggi atau lapisan bumi terdalam. Sesuatu yang zhahir tidak mampu menutupi bathin di hadapan Allah Swt. Sebaliknya, di hadapan Allah Swt., yang bathin adalah zhahir, yang ghaib itu tetap tampak jelas, yang jauh tetap dekat dan yang tersembunyi tetap terang benderang.

Empat nama ini merangkum pilar-pilar tauhid, Allah Swt. adalah awal dalam kekal-Nya, kekal sejak awal-Nya, tinggi dalam dekat-Nya dan dekat dalam ketinggian-Nya. Sejak dahulu sampai kapanpun, Allah Swt. akan tetap bersifat awal, akhir, zhahir dan bathin. Kemudian Ibnu al-Qayyim melanjutkan penjelasannya tentang hakikat pengabdian melalui empat sifat ini yang amat lengkap dan menyeluruh.[7]

Penjelasan di atas telah dicakup dalam hadits Rasulullah Saw. riwayat Abu Hurairah sebelumnya dengan redkasi yang sangat ringkas. Ini menjadi bukti betapa Rasulullah Saw. dikaruniai jawami’ al-kalim (kalimat yang ringkas namun sarat makna). Subhanallah.

الْأَحَدُ الْفَرْدُ الْقَدِيرُ الْأَزَلِيُّ … الصَّمَدُ الْبَرُّ الْمُهَيْمِنُ الْعَلِيُّ
عُلُوَّ قَهْرٍ وَعُلُوَّ الشَّانِ … جَلَّ عَنِ الْأَضْدَادِ وَالْأَعْوَانِ
كَذَا لَهُ الْعُلُوُّ وَالْفَوْقِيَّهْ … عَلَى عِبَادِهِ بِلَا كَيْفِيَّهْ

Maha Esa, Tunggal, Maha Kuasa dan Maha Awal

            Tempat bergantung, Maha Benar, Maha Tahu, Maha Tinggi

Tak tertandingi, Dzat Maha Tinggi

            Mustahil perlukan segala saingan dan penolong

Begitulah sifat Agung dan Maha Tinggi-Nya

            Di atas segala hamba tanpa menduga bentuknya.

الأحد الفرد (Maha Esa dan Tunggal) artinya tiada tandingan, tiada saingan dan tiada serikat pada uluhiyah-Nya dan rububiyah-Nya. Tiada pembantu bagi-Nya mengelola kerajaan-Nya. Tiada yang serupa atau mirip dengan-Nya pada nama-nama dan sifat-sifat-Nya.

Allah Swt. Maha Esa pada uluhiyah-Nya dan tiada sembahan yang benar selain-Nya, tiada yang berhak disembah dengan benar kecual Allah Swt. Karenanya, Allah Swt. mewajibkan agar seluruh hamba tidak menyembah kecuali kepada-Nya. Allah Swt. Esa dalam rububiyah-Nya. Tiada serikat bagi-Nya dalam kekuasaan-Nya, tiada tandingan, tiada saingan dan tiada yang dapat mengalahkan-Nya. Allah Swt. Esa dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya, tiada yang mirip dengan-Nya dan tiada yang serupa dengan-Nya dan Allah Swt. Maha Mendengar dan Maha Melihat. Allah Swt. mengetahui segala yang terjadi di masa mendatang dan yang telah terjadi di masa lalu namun makhluk tak mampu mengetahui seluruhnya tentang Allah Swt.

Ketika Allah Swt. Esa dalam uluhiyah-Nya, rububiyah-Nya, nama-nama dan sifat-sifat-Nya maka Allah Swt. juga esa dalam segala ketetapan dan kekuasaan-Nya yang meliputi mewujudkan sesuatu, mematikan, menghidupkan, mematikan, menciptakan, memberi rezeki, memuliakan, menghinakan, memberi hidayah, membuat sesat, menghadirkan kebahagiaan, mendatangkan kesedihan, merendahkan, meninggikan, melapangkan hidup, menyempitkan rezeki, menyambung hubungan antar hamba, memutus hubungan, mendatangkan mudharat, mengaruniakan manfaat.

Andai semua makhluk langit yang ada pada tujuh lapis dan makhluk bumi serta makhluk lain yang ada di antara keduanya bersatu padu untuk mematikan orang yang Allah Swt. hidupkan, memuliakan orang yang dihinakan Allah Swt., memberi hidayah orang yang disesatkan Allah Swt., membahagiakan orang yang disengsarakan Allah Swt., merendahkan orang yang diangkat derajatnya oleh Allah Swt., menyambung hubungan orang yang diputus hubungannya oleh Allah Swt., melapangkan orang yang ditahan rezekinya oleh Allah Swt., menimpakan mudharat ornag yang diberi manfaat oleh Allah Swt., atau sebaliknya maka mustahil mereka bisa melakukannya.

Bagaimana mungkin mereka bisa melakukannya, sementara semua makhluk adalah ciptaan-Nya, berada dalam kuasa-Nya, hamba-Nya dan dalam kendali Allah Swt., tergantung pada ketetapan Allah Swt., berlaku pada mereka ketentuan Allah Swt., amat adil qadha Allah Swt. pada mereka, berlaku kehendak Allah Swt. pada mereka, tiada dari mereka yang mampu menolak keputusan Allah Swt., mereka juga mustahil dapat menghindar dari kendali Allah Swt. Sebab, tiada sekecil apapun benda di langit dan di bumi yang bergerak ataupun diam tanpa diizinkan Allah Swt., apa pun yang Allah Swt. kehendaki pasti akan terjadi sebagaimana setiap yang tidak dikehendaki maka pasti tidak terjadi.

Sungguh kecelakaan yang nyata bagi penduduk neraka, bagaimana mereka bisa mengingkari ayat-ayat Allah Swt., menserikatkan Allah Swt. dalam uluhiyah-Nya dan rububiyah-Nya padahal mereka itu adalah makhluk Allah Swt., berada dalam kendali Allah Swt. Mereka tidak mampu menghadirkan kemanfaatan dan mudharat bagi diri mereka sendiri, tidak pula dapat menentukan kematian, masa hidup atau bagaimana dibangkitkan, lalu mereka menjadikan sebagian makhluk sebagai tuhan-tuhan mereka dan tandingan bagi Allah Swt., menyamakan mereka denagn Allah Swt., lebih loyal pada mereka, meyakini kalau tuhan-tuhan mereka punya kemampuan sama dengan Allah Swt. hingga mereka menyembahnya selain Allah Swt. Padahal mereka juga sadar kalau makhluk yang mereka pertuhankan itu juga ciptaan Allah Swt., mereka juga sebelumnya tiada, tak mampu memenuhi kebutuhannya sendiri namun juga memerlukan pihak lain membantunya.

Orang-orang munafik terjebak dalam penyimpangan terhadap nama-nama dan sifat-sifat Allah Swt., ayat-ayat Allah Swt. melalui ragam bentuk dan cara di mana dianataranya Musyabbih (Menyepadankan) Allah Swt. dengan makhluk-Nya. Mereka menuding semula Allah Swt. tiada. Mereka ini kelompok pengingkar nama-nama dan sifat-sifat Allah Swt. bahkan tidak sadar terjebak dalam menafikan dzat Allah Swt. Yang lain menyepadankan sifat-sifat Allah Swt. dengan sifat-sifat makhluk. Menurut mereka bahwa dua-duanya muhdats (bercorak kebaruan), mereka merasa berhak dan bebas memilihkan sifat-sifat untuk Allah Swt.

Kelompok lain mengingkari iradah (keinginan) dan masyi’ah (kehendak) Allah Swt. yang berperan utama, juga mengingkari kuasa kendali Allah Swt. hingga mereka mengklaim bahwa semua perilaku dan tindak tanduk mereka diputuskan secara mandiri tanpa keterlibatan Allah Swt. sedikit pun. Mereka mengingkari Allah Swt. sebagai pencipta mereka dan segala jenis perbuatan mereka di kehidupan dunia ini.

Sebagian lagi berdalih dengan qadha dan qadar Allah Swt. untuk meninggalkan segala perintah Allah Swt. dan menikmati kemaksiatan kepada Allah Swt. Mereka beralasan bahwa mereka tak punya kuasa dan tak punya pilihan dalam kehidupan ini, mereka merasa kewajiban-kewajiban yang dibebankan di luar kesanggupan mereka, juga larangan yang ditetapkan Allah Swt. di luar kesanggupan untuk meninggalkannya. Bahkan ada yang menganggap kemaksiatan mereka termasuk bentuk keta’atan karena sejalan dengan kehendak kauniyah Allah Swt. Jadi, mereka menentang kehendak Allah Swt. dan takdir. Bahkan mereka memandang Allah Swt. berlaku dzalim karena membebankan perintah dan larangan sedang ia sulit dipenuhi.

Terkait siksa yang ditimpakan kepada mereka yang tidak bersyahadat tidak mengucapkan asyhadu an la ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadan rasulullah, tidak shalat, tidak puasa, tidak berzakat, tidak haji, tidak melakukan ketaatan dan tidak meninggalkan kemaksiatan, ibarat siksaan yang ditimpakan kepada seorang pria karena tidak sanggup berubah menjadi wanita, atau kepada wanita yang tidak mampu berubah menjadi pria. Perintah shalat atau perintah lainnya yang dibebankan kepada manusia seperti perintah kepada manusia untuk terbang tinggi atau ibarat perintah kepada orang buta untuk membuka lembaran-lembaran al-Qur’an. Mereka ini dipastikan menjadi musuh-musuh Allah Swt. di hari kiamat. Sungguh Maha Suci Allah Swt. dari segala tudingan orang-orang dzalim itu dan Maha Tinggi Allah Swt. dari perilaku orang-orang ingkar kepada-Nya.

Allah Swt. mengasihi orang-orang mukmin ketika Allah Swt. bimbing mereka mengenal Allah Swt. dengan baik, mengagungkan Allah Swt. dengan bimbingan hidayah, mentauhidkan Allah Swt. dalam uluhiyah-Nya, rububiyah-Nya, nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Orang mukmin mengimani segala nama yang Allah Swt. sematkan pada diri-Nya dan menafikan segala yang Allah Swt. nafikan dari diri-Nya. Orang mukmin meyakini tiada serupa dengan Allah Swt., meyakini qadha dan qadar Allah Swt., menyikapinya dengan penuh kerelaan dan ketundukan, meyakini bahwa semua itu merupakan konsekuensi dari rububiyah dan uluhiyah Allah Swt. yang sebangun dengan kebijaksanaan dan kemahasucian Allah Swt.

Mereka menyikapi segala bentuk perintah dengan sikap menyimak, mena’ati, dan menjalankannya dengan penuh kesadaran dan ketundukan. Mereka juga menjauhi semua jenis larangan Allah Swt., tidak melanggar aturan dan hukum-hukum Allah Swt. Mereka mendudukkan qadar dan perintah syariat secara tepat dan proporsional tanpa harus memperhadap-hadapkan keduanya. Qadha dan qadar wajib diimani namun bukan dijadikan alasan melegalkan pelanggaran sementara perintah dan larangan dihadirkan untuk ditaati dan dijalankan.

Mengimani takdir merupakan syarat kesempurnaan tauhid dan syahadat la ilaha illallah sementara menunaikan kewajiban dan meninggalkan larangan merupakan syarat sahnya syahadat anna Muhammadan Rasulullah. Siapa saja yang tidak mengimani qadha dan qadar dan tidak pula menaati perintah dan larangan maka hakikatnya dia mendustakan dua kalimat syahadat sekalipun dia lantunkan berulang-ulang kali.

Ulasan lengkap mengenai persoalan ini akan dituangkan dalam lembaran-lembaran berikutnya secara tersendiri. Persoalan ini disinggung di halaman ini untuk melengkapi bahasan tentang keesaan Allah Swt. dalam uluhiyah-Nya, rububiyah-Nya, nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, ketetapan-nya, qadar-Nya dan syariat-Nya. Juga untuk menegaskan bahwa tiada yang mampu menolak kehendak-Nya dan tiada pula yang mampu mengubah hukum dan ketetapan-Nya. Termasuk menyadarkan bahwa makhluk tidak mampu mengendalikan dirinya sendiri apalagi hendak mengendalikan makhluk lainnya, tiada kuasa milik makhluk tanpa izin dan takdiq dari Allah Swt. Lantas bagaimana mungkin makhluk disamakan dengan Allah Swt., makhluk berpaling dari Allah Swt., makhluk menserikatkan Allah Swt. dalam uluhiyah-Nya, atau menyandarkan kuasa kendali pada wilayah kekuasaan Allah Swt.

Betapa banyak dalil difirmankan Allah Swt. yang yang menegaskan bahwa siapa yang menserikatkan Allah Swt. dengan sesuatu yang dianggap tuhan lalu menyepadankannya dengan Allah Swt. dalam rububiyah-Nya, nama-nama dan sifat-sifat-Nya maka dia telah musyrik, juga menjelaskan bahwa makhluk yang dipertuhankan sedikitpun tidak berhak disepadankan dengan Allah Swt. Bahkan sebaliknya, banyak dalil yang mewajibkan mengesakan Allah Swt. dalam uluhiyah yang merupakan konsekuensi turunan dari rububiyah. Firman Allah Swt.:

رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا فَاعْبُدْهُ وَاصْطَبِرْ لِعِبَادَتِهِ ۚ هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا

“Tuhan (yang menguasai) langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya, maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadat kepada-Nya. Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia (yang patut disembah)?” (QS. Maryam: 65). Firman Allah Swt.:

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُمْ ثُمَّ رَزَقَكُمْ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ ۖ هَلْ مِنْ شُرَكَائِكُمْ مَنْ يَفْعَلُ مِنْ ذَٰلِكُمْ مِنْ شَيْءٍ ۚ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ

“Allah-lah yang menciptakan kamu, kemudian memberimu rezeki, kemudian mematikanmu, kemudian menghidupkanmu (kembali). Adakah di antara yang kamu sekutukan dengan Allah itu yang dapat berbuat sesuatu dari yang demikian itu? Maha Sucilah Dia dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. al-Ruum: 40). Firman Allah Swt.:

قُلْ هَلْ مِنْ شُرَكَائِكُمْ مَنْ يَبْدَأُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ ۚ قُلِ اللَّهُ يَبْدَأُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ ۖ فَأَنَّىٰ تُؤْفَكُونَ. قُلْ هَلْ مِنْ شُرَكَائِكُمْ مَنْ يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ ۚ قُلِ اللَّهُ يَهْدِي لِلْحَقِّ ۗ أَفَمَنْ يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ أَحَقُّ أَنْ يُتَّبَعَ أَمَّنْ لَا يَهِدِّي إِلَّا أَنْ يُهْدَىٰ ۖ فَمَا لَكُمْ كَيْفَ تَحْكُمُونَ

“Katakanlah: “Apakah di antara sekutu-sekutumu ada yang dapat memulai penciptaan makhluk, kemudian mengulanginya (menghidupkannya) kembali?” katakanlah: “Allah-lah yang memulai penciptaan makhluk, kemudian mengulanginya (menghidupkannya) kembali; maka bagaimanakah kamu dipalingkan (kepada menyembah yang selain Allah)?” Katakanlah: “Apakah di antara sekutu-sekuturmu ada yang menunjuki kepada kebenaran?” Katakanlah “Allah-lah yang menunjuki kepada kebenaran”. Maka apakah orang-orang yang menunjuki kepada kebenaran itu lebih berhak diikuti ataukah orang yang tidak dapat memberi petunjuk kecuali (bila) diberi petunjuk? Mengapa kamu (berbuat demikian)? Bagaimanakah kamu mengambil keputusan? (QS. Yunus: 34-35). Dan masih banyak ayat lainnya yang senada.

القدير (Maha Kuasa) yakni dzat yang memiliki kekuasaan mutlak dan paripurna yang tiada sesuatu pun yang dapat melemahkannya, baik yang di bumi maupun di langit. Di mana ketika Allah Swt. menciptakan makhluk dengan kuasa paripurnanya hanya ibarat menciptakan satu jiwa, cukup dengan berfirman jadi maka apapun yang Allah Swt. inginkan pasti terjadi.

Allah Swt. yang memulai ciptaannya dan akan mengembalikan masing-masingnya pada bentuk semula dan baginya semua itu sangatlah mudah. Allah Swt. yang menahan langit dan bumi agar tidak tenggelam dan punah, Dia pula yang menahan langit agar tidak menimpa bumi kecuali di saat dikehendaki oleh Allah Swt., Dia yang kursi-Nya meliputi langit dan bumi serta tidak pernah terserang lelah menjaga keduanya, Maha mengerjakan setiap kehendak-Nya, saat Dia kehendaki dalam bentuk yang Dia kehendaki serta pada waktu yang Dia kehendaki. Firman Allah Swt.:

إِنْ يَشَأْ يُذْهِبْكُمْ أَيُّهَا النَّاسُ وَيَأْتِ بِآخَرِينَ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَلَىٰ ذَٰلِكَ قَدِيرًا

“Jika Allah menghendaki, niscaya Dia musnahkan kamu wahai manusia, dan Dia datangkan umat yang lain (sebagai penggantimu). Dan adalah Allah Maha Kuasa berbuat demikian.” (QS. al-Nisaa’: 133). Setelah menegaskan tentang awal dan penciptaan kembali, Allah Swt. berfirman:

ذَٰلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ

“(Kuasa Allah) yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah (Tuhan) Yang Haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah, itulah yang batil, “ (QS. al-Hajj: 62). Firman Allah Swt. setelahnya:

ذَٰلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّهُ يُحْيِي الْمَوْتَىٰ وَأَنَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Yang demikian itu, karena sesungguhnya Allah, Dialah yang haq dan sesungguhnya Dialah yang menghidupkan segala yang mati dan sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu,” (QS. al-Hajj: 6). Firman Allah Swt.:

أَوَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَيَنْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَكَانُوا أَشَدَّ مِنْهُمْ قُوَّةً ۚ وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعْجِزَهُ مِنْ شَيْءٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ ۚ إِنَّهُ كَانَ عَلِيمًا قَدِيرًا

“Dan apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang yang sebelum mereka, sedangkan orang-orang itu adalah lebih besar kekuatannya dari mereka? Dan tiada sesuatupun yang dapat melemahkan Allah baik di langit maupun di bumi. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” (QS. Faathir: 44). Firman Allah Swt.:

مَا خَلْقُكُمْ وَلَا بَعْثُكُمْ إِلَّا كَنَفْسٍ وَاحِدَةٍ

“Tidaklah Allah menciptakan dan membangkitkan kamu (dari dalam kubur) itu melainkan hanyalah seperti (menciptakan dan membangkitkan) satu jiwa saja.” (QS. Luqman: 28). Firman Allah Swt.:

إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

“Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” maka terjadilah ia.” (QS. Yasiin: 82). Firman Allah Swt.:

أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّ اللَّهَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَمْ يَعْيَ بِخَلْقِهِنَّ بِقَادِرٍ عَلَىٰ أَنْ يُحْيِيَ الْمَوْتَىٰ ۚ بَلَىٰ إِنَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah yang menciptakan langit dan bumi dan Dia tidak merasa payah karena menciptakannya, kuasa menghidupkan orang-orang mati? Ya (bahkan) sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. al-Ahqaaf: 33). Firman Allah Swt.:

أَفَعَيِينَا بِالْخَلْقِ الْأَوَّلِ ۚ بَلْ هُمْ فِي لَبْسٍ مِنْ خَلْقٍ جَدِيدٍ

“Maka apakah Kami letih dengan penciptaan yang pertama? Sebenarnya mereka dalam keadaan ragu-ragu tentang penciptaan yang baru.” (QS. Qaaf: 15). Firman Allah Swt.:

وَلَقَدْ خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ وَمَا مَسَّنَا مِنْ لُغُوبٍ

“Dan sesungguhnya telah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, dan Kami sedikitpun tidak ditimpa keletihan.” (QS. Qaaf: 38). Firman Allah Swt.:

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الْأَرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ الْأَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا

“Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.” (QS. al-Thalaq: 12). Firman Allah Swt.:

أَوَلَيْسَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِقَادِرٍ عَلَىٰ أَنْ يَخْلُقَ مِثْلَهُمْ ۚ بَلَىٰ وَهُوَ الْخَلَّاقُ الْعَلِيمُ. إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

“Dan tidaklah Tuhan yang menciptakan langit dan bumi itu berkuasa menciptakan yang serupa dengan itu? Benar, Dia berkuasa. Dan Dialah Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui. Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” maka terjadilah ia.” (QS. Yaasiin: 81-82). Firman Allah Swt.:

تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Maha Suci Allah Yang di tangan-Nya-lah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu,” (QS. Tabarak: 1). Firman Allah Swt.:

فَلَا أُقْسِمُ بِرَبِّ الْمَشَارِقِ وَالْمَغَارِبِ إِنَّا لَقَادِرُونَ. عَلَىٰ أَنْ نُبَدِّلَ خَيْرًا مِنْهُمْ وَمَا نَحْنُ بِمَسْبُوقِينَ

“Maka aku bersumpah dengan Tuhan Yang memiliki timur dan barat, sesungguhnya Kami benar-benar Maha Kuasa. Untuk mengganti (mereka) dengan kaum yang lebih baik dari mereka, dan Kami sekali-kali tidak dapat dikalahkan.” (QS. al-Ma’arij: 40-41). Firman Allah Swt.:

وَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً بِقَدَرٍ فَأَسْكَنَّاهُ فِي الْأَرْضِ ۖ وَإِنَّا عَلَىٰ ذَهَابٍ بِهِ لَقَادِرُونَ

“Dan Kami turunkan air dari langit menurut suatu ukuran; lalu Kami jadikan air itu menetap di bumi, dan sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa menghilangkannya.” (QS. al-Mukminuun: 18). Firman Allah Swt.:

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنَّكَ تَرَى الْأَرْضَ خَاشِعَةً فَإِذَا أَنْزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ ۚ إِنَّ الَّذِي أَحْيَاهَا لَمُحْيِي الْمَوْتَىٰ ۚ إِنَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Dan di antara tanda-tanda-Nya (Ialah) bahwa kau lihat bumi kering dan gersang, maka apabila Kami turunkan air di atasnya, niscaya ia bergerak dan subur. Sesungguhnya Tuhan Yang menghidupkannya, Pastilah dapat menghidupkan yang mati. Sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Fushshilat: 39). Firman Allah Swt.:

قُلْ سِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ بَدَأَ الْخَلْقَ ۚ ثُمَّ اللَّهُ يُنْشِئُ النَّشْأَةَ الْآخِرَةَ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ. يُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ وَيَرْحَمُ مَنْ يَشَاءُ ۖ وَإِلَيْهِ تُقْلَبُونَ. وَمَا أَنْتُمْ بِمُعْجِزِينَ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ ۖ وَمَا لَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ

“Katakanlah: “Berjalanlah di (muka) bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian Allah menjadikannya sekali lagi. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Allah mengazab siapa yang dikehendaki-Nya, dan memberi rahmat kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan hanya kepada-Nya-lah kamu akan dikembalikan. Dan kamu sekali-kali tidak dapat melepaskan diri (dari azab Allah) di bumi dan tidak (pula) di langit dan sekali-kali tiadalah bagimu pelindung dan penolong selain Allah.” (QS. al-Ankabuut: 20-22). Ayat-ayat lain yang senada dengan ini masih banyak.


[1] HR. Muslim, 4/2084/2713 dalam pasal Dzikir dan Do’a, bab Bacaan Saat hendak tidur, Abu Dawud, 5/312/5051, pasal Adab, bab Do’a tidur, al-Tirmidzi, 5/472/3400 dalam pasal Adab, bab 19 dan berkata Hadits Hasan Shahih.

HR. Al-Nasa’i dalam kitab Amalan Harian, no. 790. Ibnu Majah, 2/1274/3873 dalam pasal Do’a bab Anjuran Berdo’a Saat Hendak Tidur

HR. Al-Bukhari dan kitab al-Adabu al-Mufrad, no. 1212, Ibnu Abi Syaibah dalam kitab al-Mushannaf, 10/251/9362 dan Ibnu Hibban dalam kitab al-Ihsan, 7/426

[2] HR. Bukhari, 6/286 dalam pasal Awal penciptaan, bab firman Allah Swt. و هو الذي بيده الخلق dan pada 13/408 dalam pasal Tauhid, bab Arsy Allah terletak di air. Hadits ini tidak diriwayatkan oleh imam Muslim dalam kitab shahihnya. Diriwayatkan pula oleh Ahmad, 4/426, 431, 433 dam 436. Ibnu Abi Syaibah dalam pasal Arsy, no. 1. Al-Tirmidzi, 5/732/3951 dalam pasal al-manaqib, bab tentang Tsaqif dan Bani Hanifah dalam kasha al-Bisyarah. Ibnu Mundah dalam kitab al-Iman, no. 8 dan 9. Ibnu Jariir dalam kitab Tarikh, 1/38, Ibnu Khuzaimah dalam kitab al-Tauhid, hal. 376 dan selainnya.

[3] HR. Bukhari secara muallaq. Lihat al-Fath, 6/286-287 dalam pasal Awal Penciptaan, bab firman Allah Swt. و هو الذي يبدأ الخلق ثم يعيده

Al-Hafid meriwayatkannya secara bersambung dalam kitab Taghliiqu al-Ta’liiq sembari berkata: Ibnu Mundah berkata: hadits ini hadits shahih gharib di mana Isa bin Musa meriwayatkannya bersendirian dari Ruqbah dari Qais bin Sala dari Thariq bin Syihaab berkata saya mendengar Umar r. a. lalu menyebutkan riwayat di atas. Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim yang disebutkan dari jalur Abu Hamzah al-Sukkari dari Ruqbah namun di dalamnya terdapat al-Nadhar bin Salamah yang mana dituding menculik hadits ini. lihat kitab al-Fath, 6/90 dan kitab al-Taghliiq, 3/488.

[4] HR. Bukhari, 13/393 dalam pasal al-Tauhid, bab firman Allah Swt.: لما خلقت بيدي, Muslim, 4/2148/2788 dalam pasal sifat orang-orang munafik.

[5] Ini adalah potongan hadits panjang yang berasal dari riwayat Abu Hurairah r. a. Nanti akan dijelaskan pada hadits gambar beserta pernyataan para ulama.

[6] Disebutkan oleh Ibnu Katsir dengan sanadnya dalam kitab Tafsirnya, 4/81 di mana perawinya tsiqah semuanya kecuali Ubaid bin Ubaidah. Ibnu Hajar menilainya sebagai hadits asing (gharib). Namun disebutkan oleh Ibnu Hibban dalam kelompok perawi tsiqah sementara al-Daraquthni meriwayatkan dari Mu’tamar riwayat-riwayat yang gharib yang tidak disebutkan perawi lainnya. Lihat kitab al-Lisan, 256. Saya tegaskan; saya tela’ah perawi hadits I I dari Ibnu Abbas di manuskrip dari Ibnu Katsir disandarkan ke Abu al-Nadhar yakni Abu Nadhrah al-Abdi.

[7] Dinukil dari kitab Thariiqu al-Hijrataini, hal. 24.

Artikel Terjemahan Kitab Akidahalquranislamrububiyahtauhid

Navigasi pos

Previous post
Next post

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recent Posts

  • INFORMASI ALAM GHAIB
  • PERTAMA – BUKTI ADANYA ALLAH SWT.
  • SYUBHAT KETIGA: PIDANA MATI ORANG MURTAD
  • PASAL VI – SYUBHAT DAN BANTAHAN
  • BAHASAN KELIMA – MENGABAIKAN PERKEMBANGAN SEMANTIK
April 2026
S S R K J S M
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  
« Jan    

ahli kitab (2) ahlussunnah (2) akal (4) Akidah (102) Al 'Uluw (2) Allah (5) alquran (32) budaya (4) dalil (2) evolusi (1) firqah (2) firqah najiyah (2) ghaib (2) hadits (2) hidayah (2) ibadah (3) ibnu taimiyah (4) ilmu (64) imam syafi'i (9) iman (3) islam (89) kalam (2) kenabian (4) kesesatan (2) kitab (1) kristologi (5) ma'rifah (2) manusia (2) meditasi (1) nubuwah (3) pengetahuan (15) perdebatan (1) rububiyah (1) sejarah (4) sunnah (4) syubhat (5) tabiin (1) tafsir (2) takdir (2) tauhid (77) taurat (3) teori (2) tsaqafah (3) uluw (1) wahyu (2)

©2026 AKIDAH.NET | WordPress Theme by SuperbThemes