PASAL XXI – KEWAJIBAN TERHADAP SUNNAH Supriyadi Yusuf Boni, 7 Agustus 2025 Sumber: Kitab Maraqy al-Wa’yi (Penanaman Kesadaran) Penulis: Prof. Dr. Shaleh bin Abdul Aziz Utsman Sindi Penerjemah: Supriyadi Yousef Boni Editor: Idrus Abidin Maksud sunnah pada bahasan ini adalah semua yang diatribusikan kepada Nabi Saw berupa perkataan, perbuatan, persetujuan atau karakterisitik beliau. Pengertian ini selaras dengan pengertian hadits. Artinya, sunnah pada pembahasan ini bukan seperti kata sunnah dalam disiplin ilmu lain seperti sunnah yang artinya dianjurkan, atau sunnah yang dimaksudkan keyakinan (akidah) seperti yang disebutkan oleh ulama akidah. Buah Patuhi Sunnah Allah Swt telah mengutus kekasihnya Muhammad Saw kepada manusia sebagai Rasul, lalu menguatkannya dengan dalil. Beliau Saw sampaikan risalah Allah Swt, jelaskan maksud ayat-ayatNya, sehingga komitmen terhadap sunnahnya adalah puncak keselamatan dan inti kemuliaan. Siapa yang istiqamahi sunnahnya pasti terjaga, dan siapa yang menyelisihinya pasti menyesal. Karena sunnah adalah benteng kokoh dan tonggak kuat. Siapa yang berpegang teguh padanya pasti mulia dan siapa yang berpaling darinya pasti hina. Orang yang berpegang padanya akan bahagia di akhirat dan orang dicemburui khalayak manusia di kehidupan dunia. Buah mengikuti Rasulullah Saw sangat manis karena Allah Swt akan mendampinginya, membimbingnya, menolongnya dan karuniakan rezeki padanya. Siapa yang impikan keselamatan maka wajib mengikuti sunnah. Firman Allah Swt: وَمَنۡ يُّطِعِ اللّٰهَ وَرَسُوۡلَهٗ وَيَخۡشَ اللّٰهَ وَيَتَّقۡهِ فَاُولٰٓٮِٕكَ هُمُ الۡفَآٮِٕزُوۡنَ Terjemahannya: “Dan barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya serta takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, mereka itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.” (Qs: al-Nur: 52). Siapa yang ingin dikaruniai rahmat Allah Swt maka wajib mengikuti sunnah. Firman Allah Swt: وَاَطِيۡعُوا اللّٰهَ وَالرَّسُوۡلَ لَعَلَّكُمۡ تُرۡحَمُوۡنَ Terjemahannya: “Dan taatlah kepada Allah dan Rasul (Muhammad), agar kamu diberi rahmat.” (Qs: Ali Imran: 132) Siapa yang inginkan hidayah dan taufiq Allah Swt, maka hendaklah mengikuti sunnah. Firman Allah Swt: وَاِنۡ تُطِيۡعُوۡهُ تَهۡتَدُوۡا Terjemahannya: “Jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk.” (Qs: al-Nur: 54) dan firman Allah Swt: وَاتَّبِعُوۡهُ لَعَلَّكُمۡ تَهۡتَدُوۡنَ Terjemahannya: “Ikutilah dia, agar kamu mendapat petunjuk.”” (Qs: al-A’raf: 158). Siapa yang ingin meniti jalan yang lurus, maka hendaklah ikuti sunnah. Firman Allah Swt: وَاِنَّكَ لَـتَدۡعُوۡهُمۡ اِلٰى صِرَاطٍ مُّسۡتَقِيۡمٍ Terjemahannya: “Dan sungguh engkau pasti telah menyeru mereka kepada jalan yang lurus.” (Qs; al-Mukminun: 73). Siapa yang menginginkan keselamatan dan dimasukkan syurga, maka komitmenlah pada sunnah. Rasulullah Saw bersabda: “Semua ummatku akan masuk syurga kecuali yang menolak, para sahabat bertanya: siapa yang menolak itu wahai Rasulullah? Beliau jawab: siapa yang taati aku, maka dia masuk syurga, dan siapa yang durhakai aku, maka dialah yang menolak.” (HR. al-Bukhari, no. 7280). Imam Malik berkata: “Sunnah itu ibarat perahunya Nabi Nuh, siapa yang menumpanginya, maka dia selamat, dan siapa yang menjauhinya, maka dia akan tenggelam.” (Dzammu al-Kalam li al-Harawi, 5/71). Siapa yang ingin cinta Allah Swt, maka segeralah taati Rasulullah Saw. Firman Allah Swt; قُلۡ اِنۡ كُنۡتُمۡ تُحِبُّوۡنَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُوۡنِىۡ يُحۡبِبۡكُمُ اللّٰهُ وَيَغۡفِرۡ لَـكُمۡ ذُنُوۡبَكُمۡؕ Terjemahannya: “Katakanlah (Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.”” (Qs; Ali Imran: 31) Ibnu al-Qayyim menyatakan: “Engkau tak akan dicintai Allah Swt hingga engkau mengikuti kekasihNya Muhammad Saw, secara zahir dan bathin, engkau membenarkan khabarnya, taati perintahnya, sambut dakwahnya, engkau kedepankan Beliau Saw, engkau gantikan hukum selainnya dengan hukumnya, ganti cinta kepada selainnya dengan mencintainya, ubah taat kepada selainnya dengan taat kepadanya, jika tidak demikian maka jangan bermimpi.” (al-Madarij, 3/39). Ini sebagian buah dari mengikuti sunnah dan komitmen padanya, walau sesungguhnya paparan tentang ini sangat banyak. Perlu saya tegaskan bahwa, ketika kita bicara tentang buah dari komitmen terhadap sunnah bukan berarti mengikuti sunnah lalu mengabaikan al-Qur’an. Sebab, al-Qur’an dan sunnah itu ibarat saudara kembar, keduanya wahyu dari Allah Swt. Jadi yang dimaksud adalah komitmen terhadap sunnah bersama al-Qur’an. Kewajiban Ummat Terhadap Sunnah Mencintai Sunnah. Diantara kewajiban kita terhadap sunnah adalah mencintai semua yang diatribusikan kepada nabi Saw. Mencintai setiap sunnah yang disunnahkan Rasulullah Saw adalah kewajiban mutlak sekaligus menunjukkan keseriusanmu mencintai Rasulullah Saw. Karena Belaiu Saw pernah bersabda: “Tidak beriman seseorang dari kalian hingga saya lebih dia cintai ketimbang anaknya, orang tuanya, dan manusia seluruhnya.” (HR. al-Bukahri, no. 15 dan Muslim, no. 44). Diantara bukti cinta kepada Nabi Saw adalah mencintai sunnahnya. Jika engkau ingin tahu benarnya cintamu kepada nabi Saw, maka ujilah dengan ujian berikut: jika engkau temukan dia cintai semua yang bersandar kepada Rasulullah Saw, maka berbahagialah dan tenanglah. Namun jika tidak, maka evaluasi kembali pengakuan cintamu. Siapa yang amati kehidupan para sahabat r. a., orang-orang yang betul-betul mencintai Rasulullah Saw dan sunnahnya akan menemukan banyak hal mengagumkan. Sampai-sampai mereka mencintai persoalan-persoalan sederhana, hanya karena pernah dilakukan Rasulullah Saw, atau karena dicintai olehnya. Diriwayatkan dari Anas r. a. bahwa seorang penjahit pernah mengundang Nabi Saw lalu menghidangkan makanan berupa beruang untuknya. Anas berkata: saya melihat Rasulullah Saw menikmati beruang dari pinggir nampan, dan sejak itu saya menyukai beruang.” (HR. al-Bukhari, no. 2092 dan Muslim, no. 2041). Jika telah jelas, maka waspada jangan sampai ada sedikit rasa benci terhadap apa yang bersumber dari sunnah Rasulullah Saw, seperti yang menimpa sebagian orang celaka. Kadang engkau temukan mereka benci atau minimal meremehkan apa yang telah disunnahkan Rasulullah Saw, hanya karena tidak sejalan dengan keinginan nafsu mereka. Mereka tidak sadar, kalau sikap itu telah jebloskan mereka ke jurang kehancuran. Para ulama menyatakan: “Siapa yang benci sesuatu yang jelas berasal dari Rasulullah Saw atau yang diamalkan olehnya, maka dia telah kafir berdasarkan ijma’. Dalilnya adalah firman Allah Swt: ذٰلِكَ بِاَنَّهُمۡ كَرِهُوۡا مَاۤ اَنۡزَلَ اللّٰهُ فَاَحۡبَطَ اَعۡمَالَهُمۡ Terjemahannya: “Yang demikian itu karena mereka membenci apa (Alquran) yang diturunkan Allah, maka Allah menghapus segala amal mereka.” (Qs; Muhammad: 9). Kokohkan jiwamu untuk cintai sunnah sekalipun masih banyak kekurangan. Artinya sekalipun engkau belum sempurna mengikuti sunnah, namun tetap wajib mencintai dan memuliakan sunnah, persoalan akidah ini jangan diabaikan. Contoh; memelihara jenggot termasuk sunnah, baik berupa pernyataan maupun perbuatan Rasulullah Saw, siapa yang mencukur jenggotnya berarti dia termasuk melanggar dan berbuat dosa. Hanya saja, dia tetap dipinta mencintai dan memuliakan sunnah dengan merawat jenggot. Indikatornya, jika dia senang melihat orang lain yang merawat jenggotnya karena sunnah Rasulullah Saw, lalu dia sendiri mencintai Nabi Saw dan mencintai sunnahnya. Dengan begini, seseorang tidak dianggap meremehkan sunnah. Seperti juga sunnah mengharuskan wanita memakai jilbab, wanita yang pamerkan auratnya berarti dia melanggar dan berbuat dosa. Namun demikian dia tetap diminta untuk menyukai wanita berjilbab dan menghormatinya, karena ada sunnah perintahkan itu. Persoalannya adalah; dikawatirkan sikap sering tinggalkan sunnah dan membiasakannya bisa menumbuhkan rasa benci terhadapnya di dalam jiwa, dan tidak senang melihatnya. Sikap seperti ini sudah berbahaya. Jadi, bila anda masih belum sempurna mengikuti sunnah, maka waspada jangan sampai dosa ini menarik dosa lebih besar lalu memudarkan imanmu. Agungkan, muliakan dan pandang sunnah dengan penuh penghormatan. Ini diantara kewajiban kita terhadap sunnah. Sunnah wajib dimuliakan karena dia wahyu Allah Swt dan sunnah diagungkan karena tuntunan Rasulullah Saw. Mengagungkan sunnah termasuk sikap dan cara mengagungkan Rasulullah Saw, dimana Beliau Saw wajib diagungkan dan dimuliakan, diinteraksi dengan penuh penghormatan dan penghargaan dengan cara yang layak baginya Saw. Firman Allah Swt: لِّـتُؤۡمِنُوۡا بِاللّٰهِ وَ رَسُوۡلِهٖ وَتُعَزِّرُوۡهُ وَتُوَقِّرُوۡهُ ؕ وَتُسَبِّحُوۡهُ Terjemahannya: “agar kamu semua beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, menguatkan (agama)-Nya, membesarkan-Nya,” (Qs; al-Fathu: 9). Sungguh indah pernyataan syekhul Ibnu Taimiyah bahwa: Jika binatang dan benda mati memuliakan Rasulullah Saw, maka semestinya kita lebih patut memuliakan Beliau Saw.” (al-Raddu ala al-Bakri, 1/285). Jadi, kapanpun engkau tahu sebuah sunnah, maka muliakan sunnah itu di hatimu dan kapanpun engkau dengar hadits, maka agungkan hadits itu. Menarik untuk disebutkan di sini pernyataan imam Hammad bin Zaid, menafsirkan firman Allah Swt: لَا تَرۡفَعُوۡۤا اَصۡوَاتَكُمۡ فَوۡقَ صَوۡتِ النَّبِىِّ Terjemahannya: “Janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi,” (Qs: al-Hujurat: 2) Beliau berkata: menurut saya, mengeraskan suara hingga mengalahkan suara Rasulullah Saw sepeninggalnya sama dengan mengalahkan suara Rasulullah Saw di masa hidupnya. Jadi, jika disampaikan kepadamu hadits Rasulullah Saw maka wajib bagimu diam mendengarkannya seperti engkau diam mendengarkan al-Qur’an.” (Siyaru A’lami al-Nubala’, 7/460). Sikap yang berbeda dengan itu adalah; mengejek dan meremehkan sunnah, sungguh sebuah sikap yang buruk dan busuk sekaligus dosa besar. Kaum muslimin telah sepakat bahwa siapapun yang mengejek sunnah Rasulullah Saw, atau haditsnya maka dianggap murtad, keluar dari agama Allah Swt. Firman Allah Swt: وَلَٮِٕنۡ سَاَلۡتَهُمۡ لَيَـقُوۡلُنَّ اِنَّمَا كُنَّا نَخُوۡضُ وَنَلۡعَبُؕ قُلۡ اَبِاللّٰهِ وَاٰيٰتِهٖ وَرَسُوۡلِهٖ كُنۡتُمۡ تَسۡتَهۡزِءُوۡنَ. لَا تَعۡتَذِرُوۡا قَدۡ كَفَرۡتُمۡ بَعۡدَ اِيۡمَانِكُمۡ ؕ Terjemahannya: “Dan jika kamu tanyakan kepada mereka, niscaya mereka akan menjawab, “Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah, “Mengapa kepada Allah, dan ayat-ayat-Nya serta Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak perlu kamu meminta maaf, karena kamu telah kafir setelah beriman.” (Qs: al-Taubah: 65-66). Jadi, gurauan atau komedi yang meremehkan sunnah atau hadits, atau sekedar mencandakannya akan menjebloskan pelakunya ke lembah kebinasaan. Candaan yang engkau tertawakan atau untuk ditertawakan orang lain, bisa saja menyebabkan engkau dimurkai dan dilaknat Allah Swt, sedang engkau tidak sadari. Rasulullah Saw bersabda: “Sungguh seseorang berucap satu kata, yang dia tidak tahu isinya membuatnya terjatuh ke dalam neraka yang jaraknya lebih jauh ketimbang jarak antara timur dan barat.” (Muttafaqun alaihi, al-Bukhari, no. 6477 dan Muslim, no. 2988). Saya pesan sekaligus nasehatkan; jika candaan sudah menyentuh persoalan agama maka tahan lisanmu, jangan berbaur dengan pelaku dosa, jangan korbankan agamamu. Meyakini bahwa sunnah adalah hidayah, cahaya, kebenaran dan puncak kesempurnaan, tidak mungkin kebenaran di luar sunnah. Rasulullah Saw bersabda: “Sebaik-baik pedoman adalah tuntunan Muhammad Saw.” (Shahih Muslim, no. 867). Ibnu Mas’ud r. a. berkata: “Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah Muhammad Saw.” (HR. al-Bukahri, no. 6098). Tiada hidayah kecuali dengan mematuhi al-Qur’an dan sunnah, kemanapun seseorang mencari hidayah selain dari al-Qur’an dan sunnah, maka pasti hasilnya hanya kesesatan, diperdaya hawa nafsu dan dibuat buta mata dan gelap hati. Firman Allah Swt; فَاِنۡ لَّمۡ يَسۡتَجِيۡبُوۡا لَكَ فَاعۡلَمۡ اَنَّمَا يَـتَّبِعُوۡنَ اَهۡوَآءَهُمۡ ؕ وَمَنۡ اَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوٰٮهُ بِغَيۡرِ هُدًى مِّنَ اللّٰهِ ؕ اِنَّ اللّٰهَ لَا يَهۡدِى الۡقَوۡمَ الظّٰلِمِيۡنَ Terjemahannya: “Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu), ketahuilah bahwa mereka hanyalah mengikuti keinginan mereka. Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti keinginannya tanpa mendapat petunjuk dari Allah sedikit pun? Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (Qs; al-Qashash: 50). Jadi pilihannya hanya dua; mengikuti Rasulullah Saw atau menjadi hamba hawa nafsu. Sangat mengherankan jika ada pemuda muslim yang berkata; saya bingung, saya tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah, bahkan dia sibuk mencarinya di pemikiran filsafat klasik atau filsafat kontemporer, atau menela’ah konsep hidup timur atau barat, atau ajaran bid’ah, sementara al-Qur’an dan sunnah ada di hadapannya. Sungguh tepat pernyataan seorang peyair; Diantara keanehan dan sungguh aneh Dekatnya obat untuk digapai Seperti serigala di sahara dibunuh rasa hausnya Sedang air dia pikul di punggungnya. Jangan lelahkan dirimu, jangan biarkan dia bimbang, engkau punya al-Qur’an dan sunnah, pada keduanya terdapat penawar ampuh, kesembuhan dan kekayaan. Penyerahan diri yang tulus dan totalitas serta mengedepankan sunnah ketimbang lainnya. Kewajiban seorang muslim lainnya terhadap suannah adalah; penyerahan diri sepenuhnya kepada sunnah, kapan saja sunnah menyapanya maka dia mesti menerimanya, menyerahkan diri kepadanya dan tunduk kepadanya. Tidak boleh bimbang dan tidak pula ragu. Kemudian menanggalkan semua selain sunnah, ini kewajiban, bukan bersifat optional. Firman Allah Swt: فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤۡمِنُوۡنَ حَتّٰى يُحَكِّمُوۡكَ فِيۡمَا شَجَرَ بَيۡنَهُمۡ ثُمَّ لَا يَجِدُوۡا فِىۡۤ اَنۡفُسِهِمۡ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيۡتَ وَيُسَلِّمُوۡا تَسۡلِيۡمًا Terjemahannya: “Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, (sehingga) kemudian tidak ada rasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (Qs; al-Nisa’: 65). Umar bin Abdul Aziz berkata: “Tidak dibenarkan seseorang berpendapat pada persoalan yang telah disunnahkan Rasulullah Saw.” (Jami’ Bayan al-Ilmi wa fadhlihi, 1/781). Imam al-Syafi’i mengatakan: “kaum muslimin bersepakat bahwa siapa yang sudah tahu sunnah Rasulullah Saw maka dilarang mengabaikan sunnah demi perkataan siapapun.” (I’lamu al-Muwaqqi’in, 2/11). Menarik disebutkan di sini bahwa pernah ada seseorang bertanya kepada Abdullah bin Umar r. a. tentang shalat di Mina; kenapa diqashar? Beliau jawab kepadanya: apakah engkau pernah dengar Muhammad Saw? Orang itu berkata: iya, dan saya mendengar itu. Beliau berkata: Beliau Saw shalat di Mina dua rakaat.” (Musnad Ahmad, no. 5240). Beginilah sebenarnya sikap penyerahan diri sepenuhnya dan sikap mematuhi sunnah. Cukup setelah tahu bahwa Rasulullah Saw melakukannya, maka tiada pilihan kecuali mengikuti apa yang Beliau Saw lakukan. Lawannya, menentang sunnah, meremehkannya, mengabaikannya dan mengedepankan selainnya. Sayangnya, semua itu banyak dijumpai pada dekade terakhir ini. Berapa banyak orang yang saat mendengar sunnah tetiba seolah dia jadi sakit dan mencari alasan untuk berpaling dari sunnah. Celaka bagi otang yang menolak hukum Rasulullah Saw, ketika disebutkan sunnah, dia malah berkata; namun logika saya berbeda, atau berkata; madzhabku berbeda dengan sunnah ini, atau; zaman sudah berubah. Lebih aneh lagi, sebagian orang berani melakukan polling online di media sosial tentang satu sunnah Rasulullah Saw dengan pertanyaan: apakah anda setuju/suka dengan sunnah ini atau tidak? Subhanallah, bagaimana anda bisa begitu berani tidak setuju/suka sunnah Rasulullah Saw? Ada seseorang yang bertanya kepada imam al-Syafi’i tentang sebuah persoalan, lalu dikatakan kepadanya: diriwayatkan dari Rasulullah Saw bahwa Beliau Saw bersabda begini dan begitu. Kemudian penanya itu berkata: wahai Abu Abdillah, engkau yakini itu? Imam al-Syafi’i emosi dan wajahnya memerah lalu berkata: binasalah engkau, bumi mana lagi yang aku pijak dan langit mana lagi yang akan menaungiku jika saya meriwayatkan hadits Rasulullah Saw lalu aku tidak yakini. Iya, pasti aku terima, pasti aku terima. (Manaqib al-Syafi’I lil Baihaqi, 1/475). Ada juga seseorang yang bertanya kepadanya tentang suatu persoalan lalu menjawab: Rasulullah Saw bersabda begini. Kemudian orang itu berkata: engkau meyakini itu? Beliau berkata kepadanya; apakah engkau lihat aku kenakan toga? Apakah engkau lihat aku keluar dari gereja? Saya katakan: Rasulullah Saw bersabda, lalu engkau bilang apakah engkau yakini itu? Pantaskah saya meriwayatkan hadits Rasulullah Saw lalu saya abaikan? (Manaqib al-Syafi’i lil Baihaqi, 1/474). Beginilah seharusnya sikap seorang muslim, yakni tunduk dan berserah diri sepenuhnya kepada sunnah. firman Allah Swt: وَمَا كَانَ لِمُؤۡمِنٍ وَّلَا مُؤۡمِنَةٍ اِذَا قَضَى اللّٰهُ وَرَسُوۡلُهٗۤ اَمۡرًا اَنۡ يَّكُوۡنَ لَهُمُ الۡخِيَرَةُ مِنۡ اَمۡرِهِمۡ ؕ Terjemahannya: “Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang mukmin dan perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada pilihan (yang lain) bagi mereka tentang urusan mereka.” (Qs; al-Ahzab: 36). Sikap paling berbahaya yang berpotensi menggerus agama seseorang adalah ketika berani menentang atau menolak ayat atau hadits. Sikap seperti ini tidak mungkin ditolerir, karena terkait erat dengan intisari agama. Siapapun yang berani menolak hadits dengan rasa angkuh, maka dia berada di ujung jurang kehancuran, dan siapa yang menentang sunnah secara terus menerus, maka akan ditimpa malapetaka, dan menjatuhkan dirinya pada kehinaan serta diancam siksa pedih. Firman Allah Swt: فَلۡيَحۡذَرِ الَّذِيۡنَ يُخَالِفُوۡنَ عَنۡ اَمۡرِهٖۤ اَنۡ تُصِيۡبَهُمۡ فِتۡنَةٌ اَوۡ يُصِيۡبَهُمۡ عَذَابٌ اَ لِيۡمٌ Terjemahannya: “maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul-Nya takut akan mendapat cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” (Qs: al-Nur: 63) dan firman Allah Swt: وَمَنۡ يُّشَاقِقِ الرَّسُوۡلَ مِنۡۢ بَعۡدِ مَا تَبَيَّنَ لَـهُ الۡهُدٰى وَ يَـتَّبِعۡ غَيۡرَ سَبِيۡلِ الۡمُؤۡمِنِيۡنَ نُوَلِّهٖ مَا تَوَلّٰى وَنُصۡلِهٖ جَهَـنَّمَ ؕ وَسَآءَتۡ مَصِيۡرًا Terjemahannya: “Dan barang siapa menentang Rasul (Muhammad) setelah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan dia dalam kesesatan yang telah dilakukannya itu dan akan Kami masukkan dia ke dalam neraka Jahanam, dan itu seburuk-buruk tempat kembali.” (Qs; al-Nisa’: 115). Orang celaka itu kalau tidak bertaubat akan merasakan sesal berat tak berguna pada hari kiamat dan menjadi orang yang disebutkan Allah Swt: وَيَوۡمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلٰى يَدَيۡهِ يَقُوۡلُ يٰلَيۡتَنِى اتَّخَذۡتُ مَعَ الرَّسُوۡلِ سَبِيۡلًا Terjemahannya: “Dan (ingatlah) pada hari (ketika) orang-orang zalim menggigit kedua tangannya, (menyesali perbuatannya) seraya berkata, “Wahai! Sekiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama Rasul.” (Qs; al-Furqan: 27). Belum lagi sanksi di dunia sebelum sanksi akhirat. Sabda Rasulullah Saw: “Kehinaan dan kekerdilan akan menimpa orang yang menyelisihi perintahku.” (Musnad Ahmad, no. 5115). Patut bagi setiap muslim mengamati kisah nyata dalam shahih Muslim, no. 2021, bahwa: “Ada seseorang yang makan dengan tangan kirinya” lalu Nabi Saw berkata kepadanya: Makanlah dengan tangan kananmu.” Orang itu pun merasa angkuh seraya berkata; saya tidak bisa. Kemudian Rasulullah Saw berkata kepadanya: tidak, engkau pasti bisa, hanya angkuh yang menghalangimu.” Perawi hadits ini berkata: maka diapun tidak bisa mengangkatnya ke mulutnya, artinya terkena lumpuh waliyadzu billah. Segera menyambutnya dan menjalankannya tanpa ragu dan tidak menunda. Diantara kewajiban seorang muslim terhadap sunnah adalah segera menjalankan apa yang diperintahkan dan meninggalkan apa yang dilarang, serta meyakini apa yang diinformasikan. Ini termasuk konsekuensi dari iman kepada Nabi Saw. Firman Allah Swt: وَاَطِيۡعُوا اللّٰهَ وَرَسُوۡلَهٗۤ اِنۡ كُنۡتُمۡ مُّؤۡمِنِيۡنَ Terjemahannya: “dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu orang-orang yang beriman.”” (Qs; al-Anfal: 1). Dan amati pula firman Allah Swt: يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوا اسۡتَجِيۡبُوۡا لِلّٰهِ وَلِلرَّسُوۡلِ اِذَا دَعَاكُمۡ لِمَا يُحۡيِيۡكُمۡۚ Terjemahannya: “Wahai orang-orang yang beriman! Penuhilah seruan Allah dan Rasul apabila dia menyerumu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu,” (Qs; al-Anfal: 24). Perhatikan kalimat: لِمَا يُحۡيِيۡكُمۡۚ Terjemahannya: “kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu” (Qs; al-Anfal; 24) adalah pernyataan tegas bahwa hidup yang sebenarnya adalah yang dinaungi oleh sunnah. Hidup yang sebenarnya akan menghidupkan hati di mana tidak mungkin terwujud kecuali dengan menaati Nabi Saw. Sedang menentang nabi Saw akan mematikan hati. Pengamatan sungguh-sungguh oleh seseorang akan menemukan bahwa syariat menggunakan diksi-diksi khusus untuk menyatakan perintah atau larangan, yakni; uhudan (perjanjian), washaya (wasiat), rahmah (rahmat), syaqa’ (kesengsaraan), nuur (cahaya), hudan (petunjuk) dan hayat (hidup). Sungguh indah pernyataan ibnu al-Qayyim bahwa: Rasulullah Saw memiliki dua telaga yang besar; telaga di dunia berupa sunnahnya dan semua yang bersumber darinya, lalu telaga di akhirat. Orang yang minum dari telaganya di dunia akan menikmati minuman di telaganya di akhirat kelak. Jadi ada yang diizinkan meminumnya, ada juga yang terhalang, ada yang minum banyak dan ada pula yang minumnya sedikit. Siapa yang haus dari sunnahnya di dunia dan dia tidak dapat selain satu teguk maka di akhirat kelak akan lebih haus dan lebih panas lagi hatinya.” (Ijtima’ al-Juyusyi al-Islamiyah, 85). Maka hendaklah ini diperhatikan oleh orang yang bermalas-malasan taati Nabi Saw, karena hidupnya ternyata sangat kurang dan gelap. Diantara tanda kurangnya atau bahkan nihilnya taufik adalah seseorang berkata: “perintah nabi sangat memberatkan”. Dia tidak sadar kalau perintah nabi Saw itu penyejuk mata dan kehidupan bagi hati. Cukuplah seseorang dipandang buruk dan tercela dengan menganggap perintah nabi memberatkan. Seolah dia tidak tahu kalau perintah syariat itu bukan gurauan, dan bukan pula untuk kepentingan Allah Swt. Sebaliknya perintah syariat adalah demi kemaslahatan hamba, bentuk rahmat dan kebahagiaan untuknya selamanya. Mercukupkan diri dengan sunnah dan tidak menambahinya. Point ini mencakup semua jenis bid’ah dan ibadah-ibadah baru yang diciptakan orang. Sebab, sikap kaum pelaku bid’ah sesungguhnya menyatakan: sunnah Nabi Saw itu belum cukup, kita perlu menambahinya dengan yang lain. Dia tidak tahu bahwa yang dia hasilkan hanya capek dan lelah, karena amalan bid’ahnya itu tertolak. Rasulullah Saw bersabda: “Siapa yang mengerjakan amalan yang tidak kami perintahkan maka amalan itu tertolak.’ (Muttafaqun alaihi, al-Bukhari, no. 2697 dan Muslim, no. 1718). Kata raddun maksudnya mardudun (tertolak). Pelaku bid’ah tidak sadar bahwa bid’ah yang dia lakukan sekalipun sederhana menurutnya, namun dia temasuk amalam paling buruk dan jahat. Disebutkan dalam kitab shahih Muslim, no. 867 bahwa nabi Saw bersabda: Seburuk-buruk amalan adalah bid’ah dan semua bid’ah itu sesat.’ Jadi, bid’ah itu sesat dan bukan petunjuk sekalipun baik dan indah di pandanganmu. Ibnu Umar r. a. berkata: “Setiap bid’ah itu sesat, sekalipun semua manusia memandangnya baik.” (al-Banah li Ibni Baththah, 1/339). Pelu kiranya di sini saya kutipkan dua atsar sangat tepat mematahkan sikap orang yang belum yakin dengan sunnah lalu mencari jalan lain; Diriwayatkan dari Sa’id bin al-Musayyib – seorang tabi’in – bahwa beliau pernah melihat seseorang yang mengulang-ulang shalatnya setelah terbitnya matahari. Lalu beliau melarangnya. Lantas orang itu menyanggah: “Apakah Allah Swt akan mengazabku karena shalat yang aku lakukan ini? beliau jawab; tidak. Tetapi Allah Swt akan adzab engkau karena menyalahi sunnah.” (Mushannaf Abdurrazzaq, 3/52). Pelajaran dari kisah ini bahwa Rasulullah Saw tidak pernah shalat sunnah setelah adzan fajar kecuali hanya dua rakaat. Maka tidak cukupkah bagi seorang muslim untuk teladani sunnah Rasulullah Saw itu? Atau dia ingin menganggap dirinya lebih tahu, atau lebih takwa dan lebih takut kepada Allah Swt dari nabi Muhammad Saw? Mengikuti sunnah yang benar adalah dengan mencukupkan diri pada sunnah tersebut dan tidak menambahinya. Diriwayatkan dari imam Malik bin Anas, -imam dar al-hijrah bahwasanya beliau pernah ditemui seseorang seraya berkata: wahai Abu Abdillah, dari arah mana saya berihram? Beliau jawab: dari area Dzul Hulaifah tempat Rasulullah Saw mulai berihram. Orang itu berkata: Saya mau berihram dari masjid saja. Beliau berkata; jangan lakukan itu. Orang itu berkata; saya mau berihram dari masjid persisnya dari makam Rasulullah Saw. Beliau berkata; jangan lakukan itu, saya kawatir engkau tertimpa musibah (fitnah). Orang itu berkata lagi: fitnah apa yang engkau maksud? Saya hanya menambah beberapa meter saja. Beliau berkata: fitnah apa yang lebih besar ketimbang engkau anggap sesuatu lebih baik dari yang dilakukan oleh Rasulullah Saw? Lalu beliau membaca ayat: فَلۡيَحۡذَرِ الَّذِيۡنَ يُخَالِفُوۡنَ عَنۡ اَمۡرِهٖۤ اَنۡ تُصِيۡبَهُمۡ فِتۡنَةٌ اَوۡ يُصِيۡبَهُمۡ عَذَابٌ اَ لِيۡمٌ Terjemahannya: “maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul-Nya takut akan mendapat cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” (Qs: al-Nur: 63) (Kitab al-I’tisham, 1/174). Semangat mempelajari sunnah. Kewajiban muslim lainnya terhadap sunnah adalah mempelajarinya. Jika sunnah memiliki nilai yang tinggi dalam hatimu, engkau muliakan dan agungkan serta engkau yakini kalau sunnah adalah jalan menuju syurga, maka alasan apa yang membuatmu malas mempelajarinya, dan tidak berminat untuk menambah pengetahuanmu seputar sunnah? Mungkin saja engkau baca semua bahna bacaan kecuali sunnah, lantas kenapa engkau lakukan itu? Wajib engkau pelajari sunnah dan menguasainya. Berupayalah untuk selalu menambah pengetahuan tentang sunnah, pelajari satu sunnah setiap hari, pilih kitab yang mengumpulkan hadits-hadits shahih, baca dan pelajarilah. Baca kitab Riyadhu al-Shalihin, atau Mukhtashar Shahih al-Bukhari, atau Mukhtashar Shahih Muslim. Apalagi semua hadits-hadits itu jelas dan mudah difahami, kalau pun ada yang musykil maka tanyakan ke pakarnya. Saya jamin, belajar sunnah akan mendatangkan kebahagiaan, dan pengaruh sangat positif dalam hati dan kehidupan. Memahami sunnah dengan benar dan tepat. Kewajiban kita terhadap sunnah adalah memahaminya sebagaimana mestinya setelah dipastikan validitasnya dari Nabi Saw. Ini penting diperhatikan. Banyak orang yang menisbahkan hadits dan sunnah kepada Nabi Saw namun ternyata tidak benar. Sikap seperti ini sangat dilarang Rasulullah Saw. Rasulullah Saw bersabda: “Siapa yang menyampaikan hadits atas namaku sedang dia tahu bahwa itu dusta maka dia termasuk satu dari dua pendusta.” (HR. Muslim dalam Mukaddimahnya, 1/8). Jadi, langkah pertama yang dilakukan adalah memastikan validitas sunnah sampai ke Rasulullah Saw, kemudian memahaminya dengan pemahaman yang benar sebagaimana difahami salafu al-shalih dan para ulama Islam yang mengikuti langkah mereka. Sunnah tidak boleh difahami sekehendak siapapun, atau dimodifikasi agar sejalan dengan selera, atau ditakwil agar mendukung keinginan nafsu sebagaimana dilakukan oleh orang-orang celaka. Diantara yang banyak membantu untuk mengetahui validitas sunnah dan bisa memahaminya dengan baik adalah merujuk ke para ulama kredibel yang menguasai ilmu tentang sunnah dan syari’ah berdasarkan dasar-dasar dan tujuan-tujuannya (maqasid-nya). Mengajarkan sunnah kepada masyarakat dan mendakwahkannya. Jika engkau dengar sebuah sunnah yang shahih maka ajarkan banyak orang agar diketahui dan diamalkan. Dengan begitu, engkau dapat pahala orang yang mengamalkannya. Rasulullah Saw bersabda: “Allah Swt sangat senang melihat seseorang yang mendengar sesuatu dari kami lalu mengajarkan seperti yang dia dengar, bisa saja orang yang disampaikan lebih faham ketimbang orang yang menyampaikan.” (HR. al-Tirmidzi, no. 2657). Sungguh benar pernyataan Ibnu al-Qayyim bahwa: “Menyampaikan sunnah Rasulullah Saw kepada manusia lebih baik ketimbang melepaskan panah ke leher musuh.” (Jala’ al-Afham, hal. 415). Membela dan Mempertahankannya. Membela sunnah termasuk diantara bukti pengagungan yang tulus dan kecintaan murni terhadapnya. Seorang muslim yang memuliakan dan mencintai sunnah pasti tidak rela melihat ada orang yang meremehkan dan merendahkan serta melampaui ketentuan sunnah. Dia akan berupaya maksimal membela sunnah sekemampuannya. Sangat disayangkan, zaman kita hari ini banyak yang mencela dan merendahkan sunnah, banyak tuduhan buruk bertubi-tubi menyerangnya, mengarahkan panah busuk mereka untuk merusak sunnah. Kewajiban seorang muslim, baik sebagai penguasa atau rakyat, sangat besar menghadapi realitas ini. siapa yang membela sunnah maka berbahagialah, karena akan dicatat di samping Allah Swt dan akan ditolong dan dibantu. Firman Allah Swt: اِلَّا تَـنۡصُرُوۡهُ فَقَدۡ نَصَرَهُ اللّٰهُ اِذۡ اَخۡرَجَهُ الَّذِيۡنَ كَفَرُوۡا ثَانِىَ اثۡنَيۡنِ اِذۡ هُمَا فِى الۡغَارِ اِذۡ يَقُوۡلُ لِصَاحِبِهٖ لَا تَحۡزَنۡ اِنَّ اللّٰهَ مَعَنَا ۚ Terjemahannya: “Jika kamu tidak menolongnya (Muhammad), sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir mengusirnya (dari Mekkah); sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, ketika itu dia berkata kepada sahabatnya, “Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.” (Qs: al-Taubah: 40). Menolong Rasululalh Saw hari ini adalah dengan membela agama dan sunnahnya. Penutup; sadarilah bahwa cara terbaik membela sunnah dan paling ampuh taklukkan musuh-musuhnya adalah dengan membela sunnah dalam jiwa kita masing-masing. Dengan cara, menguatkan relasi kita dengan sunnah, menata ulang hidup kita berdasarkan tuntunan sunnah, mendidik anak-anak kita dengan sunnah dan mengajarkan sunnah kepada orang-orang di sekitar kita. Jika dikatakan pada diri kita masing-masing ahlussunnah artinya kita kaum ahlussunnah wal jama’ah. Kita mesti berupaya agar layak dan pantas menyandang status itu dan dipastikan tampak dalam realitas kehidupan dan tidak hanya sekedar nama dan pengakuan atau sebatas klaim belaka. Perlu diyakini bahwa setiap langkah gerak kehidupan kita bahkan dalam diam kita ada panduan sunnahnya maka pelajarilah dan amalkanlah. Perlu juga kita terus berdo’a kepada Allah Swt agar ditolong dan dikuatkan untuk memaksa diri dalam mempelajari sunnah, mengamalkannya dan mengajarkannya kepada seluruh masyarakat. Siapa yang tulus berupaya pasti diberi kemudahan dan Taufiq dari Allah. Untuk ulasan tambahan silahkan baca Kitab Syarhu Riyadh al-Shalihin karya Ibnu Utsaimin. Upayakan engkau miliki kitab ini agar engkau tahu banyak dan memiliki pemhaman mendalam tentang sunnah. Terjemahan Kitab Akidahislamsunnah