Skip to content
AKIDAH.NET
AKIDAH.NET

Keyakinan Pangkal Penghayatan

AKIDAH.NET
AKIDAH.NET

Keyakinan Pangkal Penghayatan

PASAL XXVI – ANTARA FAKTA KESEMPURNAAN DAN TEORI KEBETULAN

Supriyadi Yusuf Boni, 8 Agustus 20258 Agustus 2025

Sumber: Kitab Maraqy al-Wa’yi (Penanaman Kesadaran)

Penulis:  Prof. Dr. Shaleh bin Abdul Aziz Utsman Sindi

Penerjemah: Supriyadi Yousef Boni

Editor: Idrus Abidin

            Mengagungkan teori kebetulan merupakan pondasi ateisme kontemporer, dan tidak dipungkiri besarnya pengaruh tren ini terhadap generasi muda kaum muslimin. Sebagaimana tidak bisa dipungkiri juga bahwa sebagian mereka dikuasai oleh kesalahan fikiran ateisme seperti pernyataan mereka bahwa; alam ini tercipta secara kebetulan dari yang tadinya tiada, maka tidak mesti ada penciptanya. Kalimat ini mengundang persoalan bagi mereka yang tidak tahu letak kesalahannya. Itulah sebabnya, tema ini diulas.

TEORI KEBETULAN

            Yang dimaksud dengan kebetulan dalam perbincangan umum adalah sebuah kata yang menggambarkan terjadinya sesuatu secara tiba-tiba tanpa dilatari kehendak atau sebab tertentu, atau tanpa diawali kesepakatan atau prediksi, atau tanpa kuasa dan kecakapan.

            Untuk menghindari kesalahan memahaminya, berikut ada 10 ketentuan yang perlu diperhatikan;

  1. Teori kebetulan yang kita maksud adalah kejadian tiba-tiba tanpa kendali kita atau tidak pernah direncanakan terjadinya, namun bukan berarti kejadian itu tanpa sebab. Artinya; kita menggunakan kata kebetulan untuk menunjukkan ketidaktahuan kita sebab langsung sebuah kejadian. Jadi bukan karena sesuatu terjadi tanpa sebab.
  2. Teori kebetulan hanya sebuah gambaran yang terasa negatif yang sebenarnya tidak berwujud, tidak pula disifatkan pada sesuatu yang ada. Jadi, menisbahkan sebuah kejadian pada kebetulan termasuk sia-sia semata. Karena sesuatu yang tidak ada tidak bisa dianggap ada. Jadi, ketika seseorang menisbahkan kebetulan pada sesuatu yang ada yang berasal dari ketiadaan, sesungguhnya sudah jadi korban imajinasi dan penyesatan.
  3. Adanya sesuatu tanpa sebab adalah mustahil secara logika, dan tidak ada korelasinya dengan teori kebetulan. Siapa yang mengklaim bahwa itu bentuk kebetulan maka dia sebatas hayalan dan mustahil terjadi.
  4. Sesuatu yang terjadi secara kebetulan tidak berlangsung seterusnya dan tidak pula sering terjadi. Pengulangan dan kebetulan adalah dua hal yang kontradiksi. Contoh; bisa saja ada yang berkata; saya melihat fulan di pasar hari ini secara kebetulan – artinya tanpa diatur sebelumnya – namun tidak logis kalau dia melihatnya setiap hari lalu berkata; ini kebetulan.
  5. Mesti dibedakan antara apa yang terlintas dalam fikiran dengan apa yang terjadi secara faktual, bisa saja sesuatu terlintas di fikiran namun mustahil terjadi di luar fikiran. Fikiran boleh saja memprediksi apapun, namun mustahil menjadi realita. Engkau boleh menghayalkan bahwa jumlah kendaraan tidak terbatas, namun faktanya mustahil adanya jumlah kendaraan yang tidak terbatas. Memahami ini dengan baik akan menampakkan kesalahan-kesalahan ateisme yang beragam.
  6. Yang diperhatikan dalam hukum realitas adalah kemusthailan atau kemungkinan terjadi, bukan kemustahilan dan kemungkinan logis. Jika engkau mengambil satu butir pasir berwarna spesifik dariku, lalu engkau buang di tempat yang saya tidak tahu, bisa di tanah kosong atau di sahara Nevada, atau kutub selatan, atau di pinggir pulau tidak berpenghuni atau di samudra India atau di samping rumahku atau di tampat manapun, lalu dalam waktu sekejap butir pasir itu sudah di ujung jariku, apakah ini bisa betul terjadi atau mustahil terjadi? Jawabannya pasti mustahil. Dan siapa yang mengatakan itu terjadi padanya maka dia pasti berdusta atau dianggap gila, padahal menurut akal bisa dianggap tidak mustahil. Akan tetapi, yang diperhitungkan adalah kemungkinannya menjadi realitas.
  7. Kebetulan murni tidak berwujud di alam yang diciptakan Rabb yang maha mengetahui dan maha kuasa. Adanya takdir sesungguhnya mematahkan kebetulan. Tiada sesuatu yang terjadi di alam ini betul-betul secara tiba-tiba. Artinya; tidak mengapa sesuatu disifati kebetulan karena kita tidak mengetahuinya atau karena nihilnya pengetahuan kita. Tetapi, realitasnya pasti ada sebabnya yang tidak kita ketahui atau tidak kita rencanakan sebelumnya. Akan tetapi sesuatu terjadi karena murni kebetulan, mustahil terjadi. Sebab, segala sesuatu ditakdirkan Allah Swt, di mana Allah Swt yang menciptakan segala sesuatu dan menetapkan takdirnya masing-masing.
  8. Kebetulan dapat dijawab hakikatnya melalui pertanyaan “bagaimana” namun tidak bisa dijawab dengan kata “siapa”. Artinya; jika engkau berkata padaku; bagaimana kejadian itu terjadi? Maka saya bisa jawab; terjadi secara kebetulan. Namun jika engkau bertanya; siapa yang menabrakmu di kejadian itu? Maka mustahil saya jawab; secara kebetulan.
  9. Sesuatu yang sudah diprediksi sebelumnya atau dampak dari sesuatu yang diketahui maka tidak bisa disifati kebetulan.
  10. Kata kebetulan tidak digunakan untuk sesuatu yang tampak ada indikator kehendak dan usaha padanya. Contoh; andai saya katakan kepadamu; saya telah melempar batu ke belakangku secara serampangan, kemudian saya menoleh dan tetiba melihat sebuah kamar indah berdinding kokoh, maka pasti engkau akan berkata padaku; engkau telah gila. Andai engkau melihat mobilku yang penyok lalu engkau tanyakan itu padaku, dan aku jawab: tadi terkena lemparan batu besar secara kebetulan. Pernyataan ini masih bisa diterima, namun jika besok hari engkau lihat mobilku sudah baik lalu engkau tanyakan itu padaku dan aku jawab: perbaikannya berlangsung secara kebetulan. Pernyataan ini pasti ditolak, karena perbaikan butuh proses dan kerja, juga perlu keterampilan dan propfesionalisme, dan aktivitas yang disengaja. Jadi jawaban kebetulan dalam hal ini tidak bisa diterima.

KESEMPURNAAN ALAM

            Seorang yang berakal sehat mustahil akan meragukan bahwa alam ini tercipta sangat sempurna dan presisi. Yang dimaksud dengan kesempurnaan adalah ketepatan aturannya dan terjadinya segala sesuatu sebagaimana layaknya. Kesempurnaan ini merupakan bukti nyata dan kuat adanya sang pencipta yang maha agung. Sebab, kemunculan makhluk dari ketiadaan adalah dalil kuat adanya dzat yang menciptakannya. Lalu entitasnya yang akurat, penciptaannya yang sangat teliti dan indah menawan adalah bukti adanya sang pencipta yang maha kuasa.

            Inilah yang disebut para ulama sebagai bukti faktual atau bukti spesialisasi atau bukti sistematis. Setiap sesuatu di alam ini diciptakan dengan bentuk menakjubkan, selaras dengan kemaslahatan manusia. Dan semuanya diciptakan dengan sangat presisi, dengan aturan sangat presisi tanpa cela sedikitpun.

            Orang berakal menggunakan dampak sesuatu sebagai bukti adanya sesuatu itu, orang yang menemukan alat sangat presisi, di mana setiap komponennya diletakkan pada posisinya yang semestinya maka dia pasti yakin bahwa di balik kepresisian itu ada pencipta yang sangat hebat.

            Adapun orang biasa yang tak berkemampuan, tak berilmu dan tak bijak, maka dia tidak bisa menghasilkan apa-apa, apalagi akan menghasilkan sesuatu yang presisi, akurat, sempurna. Siapapun yang mengamati alam ini dengan baik maka dia pasti yakin bahwa penciptanya sungguh maha sempurna sebagaimana yang ditunjukkan oleh friman Allah Swt:

الَّذِىۡۤ اَحۡسَنَ كُلَّ شَىۡءٍ خَلَقَهٗ​ وَبَدَاَ خَلۡقَ الۡاِنۡسَانِ مِنۡ طِيۡنٍ​

            Terjemahannya: “Yang memperindah segala sesuatu yang Dia ciptakan dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah,” (Qs; al-Sajadah: 7). Firman Allah Swt:

صُنۡعَ اللّٰهِ الَّذِىۡۤ اَتۡقَنَ كُلَّ شَىۡءٍ​

            Terjemahannya: “(Itulah) ciptaan Allah yang mencipta dengan sempurna segala sesuatu” (Qs; al-Naml: 88). Firman Allah Swt:

قَالَ رَبُّنَا الَّذِىۡۤ اَعۡطٰـى كُلَّ شَىۡءٍ خَلۡقَهٗ ثُمَّ هَدٰى‏

            Terjemahannya: “Dia (Musa) menjawab, “Tuhan kami ialah (Tuhan) yang telah memberikan bentuk kejadian kepada segala sesuatu, kemudian memberinya petunjuk.”” (Qs; Taha: 50). Firman Allah Swt;

وَخَلَقَ كُلَّ شَىۡءٍ فَقَدَّرَهٗ تَقۡدِيۡرًا‏ 

            Terjemahannya: “dan Dia menciptakan segala sesuatu, lalu menetapkan ukuran-ukurannya dengan tepat.” (Qs; al-Furqan: 2).

            Penemuan ilmiyah kontemporer menunjukkan bukti-bukti alam menujukkan adanya sang pencipta, bahkan menjadi bukti kuat adanya sang maha pencipta. Kita pun bertambah yakin, bertambah pengetahuan, bertambah iman dan pengagungan. Untuk mengetahuinya, cukuplah menegok sedikit ke temuan ilmu biologi, fisika, kimia, geologi, meteorologi, falak dan sebagainya.

            Tentang apakah yang aku katakan padamu! Apakah tentang alat pengukur yang akurat dalam mengukur udara dan gaz yang bertebaran di alam? Atau tentang detail jarak antara kita dengan matahari. Di mana jika ada perbedaan sedikit saja maka bumi akan lebih dingin dari salju atau lebih panas dari bara, dan pasti hidup akan musnah.

            Apakah saya bicara kepadamu tentang lapisan udara yang bergerak hingga miliyaran awan tidak sampai menyentuh kita? Atau tentang air laut yang mengisi ¾ bumi, di mana andai Allah Swt tidak karuniakan itu maka hidup ini mustahil berjalan. Atau saya harus bicarakan padamu tentang gravitasi bumi yang maknanya sekecil apapun pergerakannya maka mustahil bisa hidup di atasnya. Ataukah saya hendak paparkan kepadamu tentang otak atau tentang hati atau tentang mata? Atau semua itu diabaikan saja dan diganti dengan sesuatu yang sangat kecil yakni atom yang tidak terlihat. Fisikawan mengatakan: spesialisasi masing-masing unsur atom kalau tertukar maka mustahil kehidupan akan berjalan.

            Sekarang kita bicarakan sesutau yang sangat rigid, bahkan sulit dibayangkan, perlu diketahui bahwa konstanta kosmologis bila dikaikan dengan luasan alam semesta disebutkan bahwa; tingkat akurasinya jauh di luar jangkauan akal, di mana kalau terjadi perubahan ritme gerak, apakah lebih cepat atau lebih lambat, satu derajat pun dari sepuluh derajat pangkal 120 maka pasti kehidupan akan musnah. Coba bayangkan betapa akuratnya, angka satu menjadi besar karena disertai 120 angka nol di depannya. Apakah semua ini bisa dikatakan kebetulan? Ataukah pertanda kalau alam ini diciptakan oleh Allah Swt yanga sangat presisi segala ciptaanya.

            Kesimpulannya; ada dua premis dan kongklusi yang perlu diperhatikan;

  1. Alam ini sangat akurat dan diciptakan. Dasarnya; fakta riil yang tidak bisa disangkal
  2. Segala yang akurat dan presisi pasti diciptakan oleh dzat yang maha mengetahui, maha bijaksana dan maha kuasa.

            Hasilnya; bahwa alam ini diciptakan oleh sang pencipta yang maha mengetahui, maha bijaksana dan maha kuasa.

KENAPA KAUM ATEIS GLORIFIKASIKAN KEBETULAN

            Diantara kesalahan ateisme adalah, tampilan mereka yang seolah lebih berpihak pada ilmu empirik dan logika lalu mengingkari adanya sang pencipta. Alasannya, karena ilmu empirik membuktikan bahwa alam ini ada dari ketiadaan mengikuti hukum fisika yang sangat akurat, sebagaimana juga menunjukkan kompleksitas ekstrim dalam kehidupan. Padahal logika sehat pasti menyatakan bahwa mustahil alam dan makhluk yang kompleks akan tercipta tanpa ada penciptanya.

            Berangkat dari sini, kaum ateisme mengedepankan prinsip kebetulan agar tampak mereka punya jawaban terhadap sanggahan ini, bahwa mustahil alam tercipta secara kebetulan. Kaum ateis mengalihkan tanggung jawab penuh atas terciptanya alam dan semua makhluk kepada prinsip kebetulan, bahkan hampir saja mereka menyembah prinsip kebetulan itu. Jack Mono – seorang ilmuwan ateis Prancis yang ahli di bidang kesehatan menyatakan; prinsip kebetulan yang menjadi sumber utama terciptanya semua makhluk.”

            Seorang pendaku ateisme kontemporer bernama Richard Dowkin’s, seorang pakar biologi termasuk paling getol menghamba pada prinsip kebetulan terutama dalam bukunya “Sha’niu al-Sa’at al-A’ma.” Dia mengklaim mungkin saja secara kebetulan dia temukan patung marmer tetiba melambaikan tangannya di hadapan kita, ini bisa saja terjadi sekalipun kemungkinannya kecil seperti kemungkinan teoritis seekor sapi melompat dan berdiri di atas bulan secara kebetulan. Dia mendasarkan pada teori kemungkinan ini bahwa kejadian yang terasa mustahil bisa terjadi secara kebetulan, sehingga tidak diperlukan adanya pencipta.

            Syarat untuk bisa membenarkan semua pernyataan kaum ateis adalah dengan membuang jauh-jauh logika, akal dan nalar sehat. Tidak ada yang paling mustahil menurut logika dari sebuah patung berupa benda mati lalu tetiba melambaikan tangannya, atau seekor sapi yang melompat lalu tetiba sudah bertengger di atas bulan. Termasuk sangat mustahil alam ini tercipta sendiri secara kebetulan dari yang semula tiada.

LOGISKAH ALAM TERCIPTA SECARA KEBETULAN?

            Tentu ini kebathilan paling brutal, sanggahannya sangat banyak dan panjang, namun saya cukupkan dengan tujuh sanggahan;

  1. Setiap orang yang mengamati pernyataan kaum ateis akan temukan bahwa mereka sangat mengagungkan teori kebetulan dan menyamakannya dengan rububiyah. Sebab, mereka ingin jadikan prinsip kebetulan sebagai pengganti Allah Swt dalam memahami asal muasal kehidupan. Makanya, mereka sifati teori kebetulan dengan sifat-sifat Allah Swt yang maha kuasa atas segala sesuatu.

Padalah semua orang sehat akalnya tahu bahwa kebetulan itu bukan sesuatu yang berbentuk hingga mampu mencipta, bahkan dia bukan sesuatu sebenarnya, apalagi disifati dengan sifat hidup, berkuasa, berilmu, bijaksana. Lantas bagaimana mungkin sesuatu diatribusikan kepadanya?

Kaum ateis mengakui boleh berhamba kepada segala sesuatu selama selain Allah Swt. Suatu hal yang pasti bahwa kata kebetulan digunakan oleh mereka untuk sebuah kesalahan besar dan untuk tujuan menipu. Tujuannya, agar orang awam berpaling dari mengimani Allah Swt ke penggantinya berupa sesuatu yang melekat dalam kehidupan mereka yakni kebetulan. Mereka terpaksa melakukan itu karena mustahil diyakini alam ini ada dari ketiadaan. Mereka tidak berani menyatakannya secara tegas, lalu bersembunyi di balik kata kebetulan sebagai pencipta pengganti. Mereka mendengungkannya dan menghembuskannya tanpa memberikan makna sesungguhnya atau menutupi hakikatnya yang sebenarnya.

Pertanyaannya adalah; apakah kata kebetulan juga rela ditempatkan seperti keinginan mereka itu? Melirik penggunaan kata kebetulan oleh manusia seperti telah disinggung sebelumnya maka kita temukan kata kebetulan hanya digunakan pada satu dari tiga kondisi, yakni;

  1. Untuk mengungkapkan kejadian yang tidak direncanakan sebelumnya. Seperti berjumpa dengan sahabat di pasar tanpa janjian sebelumnya lalu berkata; saya jumpa dia secara kebetulan, artinya tidak ada niat sebelumnya.
  2. Untuk menyatakan bahwa minat dan rencana sudah disusun namun belum ada kemampuan melakukannya. Seperti orang buta yang menendang bola ke gawang dan menjadi gol. Lantas dikatakan; tendangannya menjadi gol karena kebetulan, bukan karena memang patut dan layak tendangannya menjadi gol.
  3. Untuk menyatakan bahwa tidak ada korelasi dan keterkaitan antara dua peristiwa yang terjadi secara bersamaan atau berurutan. Seperti sebuah mobil yang melintas di pinggir gedung lalu tetiba ada batu terjatuh menimpa mobil tersebut, lalu dikatakan: batu tersebut menimpa mobil itu secara kebetulan.

Jelas sekali bahwa penggunaan kata kebetulan tidak seperti yang diinginkan kaum ateis untuk menipu orang lain. Kata kebetulan hanya khusus digunakan untuk menyatakan, sebuah tindakan tidak diniatkan, atau tidak dimampui atau tidak ada keterkaitan. Kata kebetulan sama sekali tidak menyatakan tidak adanya pelaku sebuah tindakan. Jadi, penggunaan kata kebetulan oleh ateisme seperti ini hanya bermaksud menyesatkan manusia dan menggambarkan seolah ada pengganti pencipta yang logis.

Kesimpulannya; kata kebetulan tidak tepat digunakan untuk menyatakan sesuatu diadakan dari ketiadaan.

Mungkin ada yang berkata; yang mereka inginkan adalah bahwa; alam ini tumbuh secara kebetulan”, yakni perubahannya dari satu keadaan yang semerawut ke keadaan lain yang lebih teratur seperti yang terlihat hari ini yang tanpa pihak yang mengatur. Jadi maksudnya bukan dari tiada menjadi ada. Jawabannya; Mereka jarang menyinggug pembedaan ini, mereka sengaja menyamarkan keduanya; persoalan mengadakan dan persoalan mengatur.           

Kemudian; jika yang mereka maksudkan adalah mengatur dan bukan mencipta, maka katakan; pernyataan ini adalah upaya membelokkan dari persoalan awal, karena menghadirkan sesuatu dari ketiadaan jauh lebih berat ketimbang mengubah sesuatu yang tidak teratur menjadi teratur. Lantas kenapa kalian tinggalkan persoalan inti dan beralih ke persoalan lain? Maksudnya; sebelum kalian bicara tentang keteraturan alam, coba jawab pertanyaan ini bahwa; apa yang menyebabkan alam ini ada? Pasti jawaban kalian akan kembali lagi pada jawaban semula bahwa ini terjadi secara kebetulan.

  • Andai kita tutup mata lalu kita beralih ke persoalan turunan setelah adanya alam, juga pada klaim mereka bahwa kebetulan yang berperan menciptakan akurasi dan harmonisasi dalam alam ini. Maka dikatakan; semua orang berakal sehat pasti tahu bahwa segala yang terjadi secara kebetulan pasti semerawut dan tidak teratur. Maka kompleksitas dan keteraturan bertentangan dengan teori kebetulan dan kesemerawutan.
  • Ateisme mengecoh manusia saat menyatakan sesuatu yang mustahil dengan kalimat mungkin terjadi walau sangat kecil. Padahal semua orang berakal sehat sangat tahu bahwa lompatan sapi hingga ke bulan, atau patung marmer yang lambaikan tangannya, atau menyebar kertas pada musim kemarau akan membentuk bangunan rumah kertas adalah mustahil terjadi. Dan membenarkan kemungkinan terjadinya termasuk ketololan. Persoalan ini sudah sangat jelas.
  • Kaum ateis kontemporer menyatakan bahwa alam yang kita pijak ini punya batas awal. Konsekuensinya bahwa munculnya kehidupan di atas bumi ini punya awal juga. Dan awalnya dibatasi oleh waktu tertentu, mustahil dikatakan tidak terbatas waktu. Andai kita akui – sebatas untuk kepentingan debat – bahwa kebetulan itu sanggup jadi pelaku, namun persoalannya adalah waktunya sangat singkat untuk menjadi pelaku utama.

Contoh; Dowkins – tokoh ateisme modern – menyatakan; sekedar menyiapkan waktu dan kesempatan sekejap tak terbatas, maka segala sesuatu bisa terjadi.” Ini asumsi yang sangat keliru. Sebab, tidak ada waktu yang tidak terbatas, atau kesempatan tak terbatas di alam ini. Realitas kehidupan di atas bumi yang punya awal waktu yang terbatas menjadi hambatan besar bagi mereka.

  • Ketika kaum ateis menyatakan kehidupan di atas bumi ini berlangusng secara kebetulan, maka mereka menentang semua ilmu empirik dan logika sehat. Tidakkah setiap sesuatu yang ada pasti ada yang mengadakan, sedang kebetulan itu tidak bisa mengadakan. Jadi mengklaim bahwa kehidupan di atas bumi ini berlangsung secara kebetulan sangat sesat. Sebab, kemunculan itu mesti memperhatikan beberapa faktor; yakni;
    • Sebelum munculnya kehidupan di atas bumi ini maka wajib dipastikan bahwa alam ini bisa ditempati hidup. Dan agar bisa ditempati hidup, maka di dalamnya mesti disiapkan parameter fisika tertentu. Jika tidak ada maka alam ini tidak bisa ditempati hidup. Fisikawan falakiyah menyatakan bahwa terdapat sekitar 24 standar fisika yang ditetapkan secara akurat agar makhluk hidup dapat hidup di tempat manapun di alam ini. Lantas siapa yang menentukan standar dan parameter ini? apakah kebetulan juga?
    • Makhluk hidup itu terbuat dari sel-sel, sedang sel terbentuk dari protein, lalu protein terbentuk dari asam amino, kemudian protein itu terbentuk dengan sangat rumit, jadi mustahil dia terbentuk secara kebetulan. Seorang fisikawan menyatakan; “Untuk membuat protein secara sederhana adalah dengan memompa energi seperti meledakkan dinamit di bawah tumpukan batu bata, kira-kira bagaimana bentuk rumah tersebut.
    • Protein itu terkait dan berinteraksi aktif dengan DNA yang menjadi unsur tepenting sel dan tempat penyimpanan pengetahuan. lalu munculnya DNA secara kebetulan sangat mustahil.
    • DNA bukan unsur satu-satunya dalam sel, namun banyak unsur lain yang wajib ada. Sel ibarat sebuah pabrik kecil tempat bekerja ribuan departemen. Dr. Michael Dinton – pakar Biologi Molekuler Australia – menyatakan: sel bakteri terkecil yang beratnya kurang dari satu gram trilliunan kali – adalah pabrik kecil yang mencakup ribuan kerja menakjubkan yang bekerja seperti alat yang sangat rumit.”

Empat faktor ini yang membentuk kehidupan, lalu setiap faktor tersebut mustahil terjadi secara kebetulan, lalu jika digabungkan semuanya maka akan lebih mustahil terbentuk secara kebetulan.

  • Persoalannya bukan karena alam bermula dari ketiadaan, tidak pula hanya pada kesempurnaannya, juga bukan pada keberlangsungannya dan tidak hancurnya.

Artinya; anggaplah diterima bahwa alam terjadi seolah tiba-tiba – walau ini mustahil terjadi – lantas, bagaimana bisa tercipta keteraturannya, kenapa tidak cepat hancur? Kenapa juga tidak diasumsikan bahwa kesemerawutan terjadi secara kebetulan juga? Siapa yang menahannya hingga tidak musnah?

Apakah kebetulan itu sendiri kali ini adalah yang maha kuasa dan maha penyayang, penuh kasih ke alam lalu dia menjaga keteraturannya selama berabad-abad? Apakah kebetulan sudah berdamai dengan musuhnya – yakni keberlangsungan dan keberulangan – demi menjaga alam ini? Apakah akal sehat akan menerima omong kosong ini?

  • Kelompok terakhir yang menggaungkan igauan ini adalah kaum ateis materialis. Mereka membuat kita pusing karena menafikan segala sesuatu yang tidak terindera dan tidak pula diuji coba. Dikatakan ke mereka; dari mana kalian tahu kalau alam ini terjadi secara kebetulan? Bagaimana kalian yakin bahwa keindahan di dalamnya terjadi secara kebetulan? Di laboratorium mana kalian lakukan uji coba hingga sampai menyimpulkan demikian?

Bukankah kalian kelompok metarialis yang menafikan semua yang tidak terindera dan tidak melalui uji coba? Bukankah kalian yang menafikan adanya dzat yang maha mulia dan maha lemah lembut dan adanya alam ghaib? Jadi, silahkan terapkan metodologi kalian pada persoalan kebetulan dan munculnya alam ini lalu beritahukan kami hasilnya.

Orang pertama yang percaya sebuah peristiwa adalah pelaku peritiwa itu. Baiklah, saya tidak akan sulitkan kalian tentang awal mula alam, namun saya hanya minta kalian buktikan berdasarkan fakta empiris bahwa sesuatu yang awalnya tiada tetiba bisa muncul secara kebetulan.

Saya juga tidak akan bebani kalian untuk buktikan gunung, laut dan hewan, namun cukup buktikan kalau sebuah mobil ada secara kebetulan. Atau buktikan kalau handphone itu tetiba ada secara kebetulan. Juga buktikan kalau gelas kopi tetiba ada secara kebetulan.

Baiklah, tinggalkan semua yang disebutkan di atas, buktikan kalau percobaan ilmiyah inderawi bahwa sebutir pasir tetiba ada secara kebetulan. Saya yakin, kita akan menunggu jawaban hingga hari kiamat.

Untuk ulasan tambahan silahkan baca;

  1. Miftahu Dar al-Sa’adah (2/539-794) cetakan Daar Alamu al-Fawaid.
    1. Silahkan tonton video singkat selama sekitar 5 menit yang diproduksi oleh Lajnah Yaqin Linaqdi al-Ilhad wa al-Ladiniyah dengan judul; Dalil al-Af’al, Hal al-Shudfah Awjadat al-Kaun? (Bukti perbuatan Allah, apakah mungkin kebetulan bisa menciptakan alam?)

Terjemahan Kitab Akidahfaktailmuislamtauhidteori

Navigasi pos

Previous post
Next post

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recent Posts

  • INFORMASI ALAM GHAIB
  • PERTAMA – BUKTI ADANYA ALLAH SWT.
  • SYUBHAT KETIGA: PIDANA MATI ORANG MURTAD
  • PASAL VI – SYUBHAT DAN BANTAHAN
  • BAHASAN KELIMA – MENGABAIKAN PERKEMBANGAN SEMANTIK
April 2026
S S R K J S M
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  
« Jan    

ahli kitab (2) ahlussunnah (2) akal (4) Akidah (102) Al 'Uluw (2) Allah (5) alquran (32) budaya (4) dalil (2) evolusi (1) firqah (2) firqah najiyah (2) ghaib (2) hadits (2) hidayah (2) ibadah (3) ibnu taimiyah (4) ilmu (64) imam syafi'i (9) iman (3) islam (89) kalam (2) kenabian (4) kesesatan (2) kitab (1) kristologi (5) ma'rifah (2) manusia (2) meditasi (1) nubuwah (3) pengetahuan (15) perdebatan (1) rububiyah (1) sejarah (4) sunnah (4) syubhat (5) tabiin (1) tafsir (2) takdir (2) tauhid (77) taurat (3) teori (2) tsaqafah (3) uluw (1) wahyu (2)

©2026 AKIDAH.NET | WordPress Theme by SuperbThemes