Skip to content
AKIDAH.NET
AKIDAH.NET

Keyakinan Pangkal Penghayatan

AKIDAH.NET
AKIDAH.NET

Keyakinan Pangkal Penghayatan

PASAL XVIII – CARA TEPAT ATASI SYUBHAT

Supriyadi Yusuf Boni, 1 Agustus 20251 Agustus 2025

Sumber: Kitab Maraqy al-Wa’yi (Penanaman Kesadaran)

Penulis:  Prof. Dr. Shaleh bin Abdul Aziz Utsman Sindi

Penerjemah: Supriyadi Yousef Boni

Editor: Idrus Abidin

            Kata syubuhat adalah bentuk jamak dari kata syubhat, digunakan secara beragam dan disebutkan di bahasan berbeda, namun yang kita maksudkan di sini adalah; syubhat yang objeknya ilmu. Maknanya: cara berdalil yang terbaur antara yang benar dan yang bathil. Atau: Kebathilan yang dipoles dengan kebenaran. Atau: kebathilan yang ditampakkan seperti kebenaran. Atau; kebathilan yang dikenakan pakaian kebenaran Atau; pernyataan yang zahirnya baik namun hakikatnya buruk.

            Semua definisi di atas bermuara pada satu makna yakni; dalil yang dicampur baurkan antara yang benar dengan yang bathil oleh orang-orang jahat. Mereka memoles kebathilan sehingga seolah kebenaran, sampai orang jahil terpedaya olehnya.

  • Bahaya Syubhat

            Syubhat mengandung bahaya besar, syubhat menjadi sumber fitnah, penyebab penyimpangan dan tangga menunju kesesatan. Sungguh bahayanya sangat besar, jika syubhat sudah merasuk ke hati dan bersemayam di dalamnya bahkan sudah berubah menjadi tindakan maka tiada kesesatan dan faham atheis kecuali diawali oleh syubhat.

            Bukankah perpecahan terjadi di kalangan kaum muslimin disebabkan oleh syubhat? Tidakkah sebagian kaum muslimin menjadi pemberontak kecuali karena disebabkan oleh syubhat?

            Jika zaman dahulu sudah ditemukan bahaya laten syubhat, maka zaman ini akan jauh lebih berbahaya karena menghancurkan kehidupan generasi muda Islam, akibat mudahnya syubhat menjangkau mereka melalui media sosial, dia sudah merasuk masuk ke rumah-rumah bahkan hingga kamar privat dan menyelinap di balik selimut.

            Belum lagi kemasannya yang sangat menarik, tampilannya yang menggiurkan, bentuknya yang beragam, ada yang dibaca, didengar hingga ditonton. Bentuknya bisa twits, tulisan dan video pendek. Kadang pula syubhat dihembuskan melalui program dialog, atau diselipkan di sinetron, film dokumenter, cerita dan novel. Jika dikombinasikan antara keindahan polesan produknya dengan glorifikasi narasumber lalu ditangkap orang lemah iman dan ilmu maka akan tampak jelas bahaya syubhat, dia seperti epidemik modern yang mematikan, menyebarkan kebimbangan dan keguncangan serta memutus rantai keyakinan.

            Syubhat adalah marketer kesesatan, karena andai keburukan itu tampak di hadapan manusia dalam bentuknya yang asli dan tidak dipoles seolah kebenaran, maka dipastikan orang enggan menerimanya, ini cukup membuktikan bahaya latennya. Tipuan yang dikemas oleh penjahat akidah adalah senjata mematikan, menghancurkan akidah kaum muslimin, karena sebagian kaum muslimin lebih tertarik pada kata-kata, tergoda dengan kemasannya tanpa mampu menilai hakikat dan kandungannya. Firman Allah Swt:

وَلَا تَلۡبِسُوا الۡحَـقَّ بِالۡبَاطِلِ

            Terjemahannya: “Dan janganlah kalian campuradukkan kebenaran dengan kebatilan” (Qs: al-Baqarah: 42). Membaurkan antara yang hak (kebenaran) dengan bathil adalah hakikat kerja syubhat.

  • Panduan Syariat Sikapi Syubhat.

            Ulasan ini menyangkut dua kondisi, yakni; kondisi normal dan kondisi syubhat merebak. Kondisi pertama: kondisi normal di mana syubhat belum muncul dan belum merebak hingga merasuk ke kalangan kaum muslimin. Yang harus dilakukan adalah; hendaknya setiap individu muslim menjauhinya dan mengabaikannya. Firman Allah Swt:

وَالرُّجۡزَ فَاهۡجُرۡ

            Terjemahannya: “dan tinggalkanlah segala (perbuatan) yang keji,” (Qs: al-Mudatstsir: 5).

            Nabi Saw bersabda; orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan larangan Allah Swt.” (HR. al-Bukhari, no. 10).

            Apa yang terkandung dalam syubhat sesungguhnya termasuk yang dilarang oleh Allah Swt, karena syubhat hakikatnya adalah pernyataan dusta mengatasnamakan Allah Swt, dan itu termasuk larangan Allah Swt yang mesti dijauhi. Firman Allah Swt:

وَاِذَا رَاَيۡتَ الَّذِيۡنَ يَخُوۡضُوۡنَ فِىۡۤ اٰيٰتِنَا فَاَعۡرِضۡ عَنۡهُمۡ

            Terjemahannya: “Apabila engkau (Muhammad) melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka” (Qs; al-An’am: 68).

            Kata “fa a’ridh” termasuk kata perintah yang bermuatan kewajiban, jadi wajib bagi setiap muslim menjauhi syubhat, menjauhi pinggirannya termasuk menjauhi tempat tumbuhnya.

            Sungguh untuk selamat dari Salma dan tetangganya

                        Jangan lewat di pintu lembahnya.

            Jangan masuki tempat orang-orang sesat, jangan ikuti akun orang-orang mencurigakan, jangan baca buku orang-orang menyimpang, jangan tonton video orang-orang tertipu dan jangan buka website orang-orang rusak. Jika engkau menjauhi orang sakit kusta seperti menjauhmu dari kejaran singa, maka bagaimana lagi dengan orang yang hati, akal dan agamanya terserang virus kusta.

            Sadarilah bahwa satu percikan syubhat jika telah merasuk ke hati lambat laun akan menghanguskannya.

            Jangan ditipu dengan seruan kemerdekaan dan keterbukaan, atau semangat belajar.

            Kecerdasan ini perlu dilatih terus menerus yakni kecerdasan mencari selamat.

            Jika ada video sampai kepadamu dan engkau tahu itu milik orang sesat maka jangan engkau buka bahkan segera hapus. Dengan begitu engkau dijaga oleh Allah Swt dan jangan biarkan keburukan menimpa dirimu. Lakukan itu sebagai bentuk ketundukan kepada Allah Swt dan rasulNya Saw. Dengarkan firman Allah Swt dan lakukan perintahnya. Firman Allah Swt:

وَاِذَا رَاَيۡتَ الَّذِيۡنَ يَخُوۡضُوۡنَ فِىۡۤ اٰيٰتِنَا فَاَعۡرِضۡ عَنۡهُمۡ حَتّٰى يَخُوۡضُوۡا فِىۡ حَدِيۡثٍ غَيۡرِهٖ​ ؕ وَاِمَّا يُنۡسِيَنَّكَ الشَّيۡطٰنُ فَلَا تَقۡعُدۡ بَعۡدَ الذِّكۡرٰى مَعَ الۡقَوۡمِ الظّٰلِمِيۡنَ‏

            Terjemahannya: “Apabila engkau (Muhammad) melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka hingga mereka beralih ke pembicaraan lain. Dan jika setan benar-benar menjadikan engkau lupa (akan larangan ini), setelah ingat kembali janganlah engkau duduk bersama orang-orang yang zalim!” (Qs: al-An’am: 68).

            Rasulullah Saw bersabda dalam kitab shahihain bahwa: Jika kalian melihat orang-orang yang suka mengikuti ayat-ayat mutasyabih maka mereka itulah yang disebutkan Allah Swt dan jauhilah mereka itu.” (HR. al-Bukhari, no. 4547 dan Muslim, no. 2665). Kata “fahdzaruhum/jauhi mereka) termasuk kata perintah yang bermuatan hukum wajib, jadi ini perintah Rasulullah Saw yang wajib dipatuhi seklaigus termasuk bukti keberanian.

            Sebagian orang menuding bahwa menjauhi orang-orang sesat termasuk sifat pengecut, lemah dan kerdil. Padahal sejatinya itu pertanda keberanian logis yang terpuji. Bahkan bukti kuatnya iman, karena iman bagi seorang mukmin sangat berharga sehingga wajar untuk dijaga secara ekstra. Makanya dia tidak sudi membiarkan pendengaran dan hatinya terkotori oleh kebathilan.

            Kekhawatiran terhadap syubhat dan sikapnya untuk menjauh sejatinya karena dorongan keyakinan dan iman yang kuat, penuh rasa takut kepada Allah Swt, dia tidak berani menguji keyakinannya dengan kesesatan yang bisa mendegradasi kualitas beragamanya.

            Wajib untuk diyakini bahwa iman dan akidah Islam adalah nikmat termahal yang dikaruniakan Allah Swt, merawatnya juga merupakan karuni berharga. Diantara cara merawatnya adalah dengan menjauhi semua bentuk syubhat dan berhati-hati menyikapinya, karena syubhat itu ibarat pancing, sedang hati ini sangat lemah. Imam Malik berkata: apapun yang engkau guraukan maka jangan guraukan agamamu,”

            Syubhat ibarat wabah sedang kita dilarang keras mendekati wabah penyakit. Kesehatan dan keselamatan nikmat tak terbandingi. Menghindari awalnya jauh lebih mudah ketimbang memutus keberlangsungan.

            Syubhat adalah salah satu bentuk fitnah, sementara Rasulullah Saw mengingatkan tentang fitnah dalam sabdanya: “Siapa yang mendekatinya akan disambut, siapa yang temukan tempat berlindung maka hendaklah dia berlindung.” (Muttafaqun alaihi. Al-Bukhari, no. 7081 dan Muslim, no. 2886).

            Berapa banyak orang yang tertipu mengandalkan ilmu lalu membuka situs, atau mendengar ocehan kaum sesat lalu hatinya tertarik pada syubhat dan akhirnya larut dan menjadi sesat juga.

            Kondisi Kedua: kondisi saat syubhat sudah merebak. Misalnya, seseorang dikirimi surat, atau melihat video, atau membaca twits tanpa sengaja lalu tetiba syubhat mulai merasuk ke hatinya dan mulai tergoda maka apa yang harus dia lakukan?

            Diantara yang mesti dia lakukan segera adalah:

  1. Orang yang diuji dengan syubhat harus tetap kuat dan tidak melemah, dia mesti kokoh dan tidak terjatuh, wajib tegap dan tidak goyah. Sebab, Allah Swt sudah memberi taufik dalam bentuk kebenaran dan tauhid serta ikuti sunnah. Maka jangan engkau biarkan siapapun mengombang ambingkanmu. Syubhat yang menyapamu biarkan saja itu sebagai syubhat, dan akan hilang dengan sendirinya dengan izin Allah Swt. Hatimu jangan lemah sehingga mudah dipengaruhi, namun tetaplah kuat dan teguh. Ketahuilah bahwa munculnya syubhat bukan berarti dia benar, dan tampilannya yang menarik bukan berarti dia benar. Ketidakmampuanmu menemukan jawabannya bukan berarti tidak ada jawabannya, jadi engkau mesti tetap kuat dan teguh menghadapinya.
  2. Kembali dan berserah diri kepada Allah Swt dengan tulus dan serius. Segera lakukan itu, mintalah hidayah dari dzat yang mengendalikan semuanya, yang mentakdirkan hidayah dan kesesatan, tunduklah kepada Allah Swt dengan serius, tulus lalu optimis dengan kebaikan dari Allah Swt. Sebab, Allah Swt akan berikan hidayah kepada mereka yang betul-betul kembali kepadanya. Firman Allah Swt:

قُلۡ اِنَّ اللّٰهَ يُضِلُّ مَنۡ يَّشَآءُ وَيَهۡدِىۡۤ اِلَيۡهِ مَنۡ اَنَابَ 

Terjemahannya: “Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya Allah menyesatkan1 siapa yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk orang yang bertobat kepada-Nya,” (Qs: al-Ra’du: 27).

Jika engkau jujur maka Allah Swt beri petunjuk, dan hilangkan syubhat di hatimu. Jangan engkau terlihat malas apalagi menganggap enteng persoalan syubhat. Berapa banyak orang yang tersesat hanya karena syubhat merasuk ke dalam dirinya, namun dia enggan berdo’a kepada Allah Swt agar syubhatnya dihilangkan. Atau kadang mereka lebih mengandalkan ulama atau orang-orang tertentu ketimbang Allah Swt. Tentu ini pertanda lemahnya iman dan rapuhnya tauhid. Ingatlah bahwa segala sesuatu tergantung pada Allah Swt, kebaikan di tangan Allah Swt, maka tampakkan kebutuhanmu dan ketergantunganmu kepada Allah Swt, kembali kepadaNya, bersandarlah kepadaNya, tanamkan optimisme untuk diselamatkan Allah Swt maka pasti engkau tidak tersesat.

  • Jangan ikuti irama syubhat, dan jangan biarkan dia bersemayam di hatimu. Sebagian orang kala mendengar syubhat dan mulai diakui oleh fikirannya malah aktif bersamanya, menelusurinya, menganalisanya, mengembangkannya bahkan menguatkannya. Lalu setan merasa temukan pintu masuk menyesatkannya. Hingga yang tadinya hanya benih berubah menjadi kuncup. Makanya, hendaknya segera mematikan syubhat yang muncul dengan cara tidak mengikuti iramanya, karena bisa saja syubhat itu hanya berupa lintasan sesaat atau lintasan bisikan setan yang akan hilang dengan sendirinya dalam waktu singkat.
  • Jangan ceritakan ke orang lain. Jangan sebarkan di kalangan sejawatmu, jangan engkau sampaikan ke kerabatmu, dan jangan jadi pintu syubhat menimbulkan mudharat bagi orang lain. Diantara sikap keliru di saat terserang syubhat menuliskannya di group whatsapp berkata; apa jawaban syubhat ini dan itu? Sikap ini sungguh dilarang keras karena akan menambah sebaran syubhat yang muncul padanya.
  • Segera Temui Dokter Iman dan Akidah. Jika engkau ditimpa penyakit maka pasti engkau segera konsultasi ke dokter. Penyakit syubhat yang menimpa hatimu sesungguhnya lebih berbahaya. Para tabib syubhat adalah para ulama yang dalam ilmunya, temui mereka dan mintalah resep ampuh hilangkan syubhat. Rasulullah Saw bersabda: “Tidakkah obat ketidaktahuan itu adalah bertanya?”. (HR. Abu dawud, no. 337). Firman Allah Swt:

وَلَوۡ رَدُّوۡهُ اِلَى الرَّسُوۡلِ وَاِلٰٓى اُولِى الۡاَمۡرِ مِنۡهُمۡ لَعَلِمَهُ الَّذِيۡنَ يَسۡتَنۡۢبِطُوۡنَهٗ مِنۡهُ

Terjemahannya: “(Padahal) apabila mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri 1 di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya (secara resmi) dari mereka (Rasul dan Ulil Amri)” (Qs: al-Nisa’: 83). Yang dimaksud ulul amri dalam ayat ini adalah para ulama.

            Firman Allah Swt:

فَسۡـــَٔلُوۡۤا اَهۡلَ الذِّكۡرِ اِنۡ كُنۡتُمۡ لَا تَعۡلَمُوۡنَۙ‏

Terjemahannya: “maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan1 jika kamu tidak mengetahui,” (Qs; al-Nahl: 43).

Segera temui ulama atau talibul ilmi yang kuat ilmunya dan mampu menjawab syubhat hingga hilang dari fikiranmu. Saya tegaskan bahwa banyak orang hari ini yang tidak tahu jawaban syubhat yang menerpanya, lalu dia cari jawabannya di internet, di google atau youtube atau selainnya. Namun sikap seperti ini perlu kehati-hatian ekstra karena bisa saja malah menjebak ke syubhat yang lebih parah. Makanya saya pesan untuk bersikap hati-hati berinteraksi dengan jaringan yang tidak jelas melalui internet.

  • Apapun yang terjadi, engkau wajib berpegang pada prinsip, lalu merujuk ke kaedah dasar, engkau hapus musytabihat dengan yang muhkam.
  • Gunakan jawaban generalis menyikapi syubhat yang engkau tidak tahu jawabannya. Yakni; keyakinannmu tentang kebenaran cukup untuk tahu kebathilan, firman Allah Swt:

​ ۚ فَمَاذَا بَعۡدَ الۡحَـقِّ اِلَّا الضَّلٰلُ​​ ۚ

          Terjemahannya; ‘maka tidak ada setelah kebenaran itu melainkan kesesatan.” (Qs; Yunus: 32).

Untuk mengetahui sesatnya syubhat tidak selamanya harus tahu bantahannya secara detail, kadang cukup dengan menyadari bahwa dia bertentangan dengan kebenaran. Artinya: kebathilan itu diketahui melalui dua cara: yakni; mengetahui bantahan kuat yang menunjukkan rusaknya sebuah kebathilan dan cara lainnya; mengetahui kebenaran. Keduanya cukup menjadi media membantah kebathilan.

Jika ada orang yang datang membawa syubhat menyangkut rububiyah Allah Swt, atau nubuwah, al-Qur’an, sunnah, atau ketetapan hukum yang saya tidak tahu cara menjawabnya, maka cukup saya berkata; engkau datang membawa persoalan yang tidak saya tahu jawabannya secara detail, persoalan ini agak samar bagiku, namun tidak mengapa dia tetap samar seperti itu. Akan tetapi, saya yakin itu kebathilan. Diantara buktinya; karena bertentangan dengan kebenaran, dan tidak mungkin ada sesuatu yang bertentangan dengan kebenaran kacuali karena dia bathil.

Jawaban seperti ini dapat dipakai orang awam. Namun bagi ulama atau penuntut ilmu maka mereka wajib menyingkap syubhat tersebut dan membantahnya dengan cara arif dan bijak. Dan sungguh keuntungan diberikan kepada mereka yang mampu menumbangkan syubhat yang dilekatkan kepada agama Allah Swt atau sunnah Rasulullah Saw.

  1. Apakah Sebaiknya Syubhat Disebarkan atau Disembunyikan?

            Menjawab pertanyaan terkait tema ini perlu dirinci. Terkadang, cara mematikan syubhat adalah dengan menutupnya rapat-rapat dan menyembunyikan pengusungnya. Para ulama berkata: “mengabaikan pernyataan yang disampaikan lebih kuat untuk mematikannya dan mengalahkan pengusungnya.” Cara ini cocok dilakukan pada kondisi yang tepat, yakni ketika syubhat belum merebak dan belum menyesatkan orang.

            Namun ketika syubhat sudah sangat merebak apalagi digandrungi banyak orang maka wajib dijelaskan sedetail-detailnya dan menyebutkan bantahannya sebanyak-banyaknya.

  1. Aturan Membantah Syubhat, Baik Bantahan Secara Umum atau Dialog Terbatas

            Ada tujuh aturan sekaligus panduan, yakni;

  1. Perlu dipastikan bahwa syubhat tersebut sudah sangat merebak dan pengaruhnya tampak jelas serta menjebak banyak orang.
  2. Sudah diberikan peringatan awal melalui penjelasan tentang kebenaran agar kebathilan tersesbut didudukkan secara tepat.
  3. Hendaknya yang membantah adalah orang yang kredibel dan kompeten, baik dalam kapasitas sebagai ulama atau seorang thalibul ilmi.

Adapun orang awam sebaiknya tidak ikut-ikutan membantah. Pasalnya, dia tidak kompeten. Sebab, bisa saja bantahan dari orang awam malah menambah masalah dan syubhat makin kuat mengakar.

Jadi, wahai sekalian ayah, ulama, pendidik, sejawat, imam masjid; jika ada orang yang terpengaruh oleh syubhat datang menemuimu maka sambut ia dengan ramah dan tenang. Perlakukan dia dengan lembut dan sopan. Yang diperlukan adalah bagaimana meyakinkannya dan bukan merendahkannya, menyambutnya dan bukan menghindarinya. Lapangkan dadamu menerimanya, jangan hadapi dia dengan emosi, cacian dan makian, karena bisa saja dia malah lari menjauh.

Jika engkau mampu membantah syubhatnya maka bantahlah sembari memohon pertolongan dari Allah Swt, namun jangan anggap energi dan waktumu terbuang percuma. Sebab, membantah syubhat termasuk jihad terbaik di jalan Allah Swt. Namun jika engkau tidak sanggup membantahnya maka mohonlah taufiq dari Allah Swt dan antar dia temuai ulama yang bisa hilangkan syubhat darinya.

  • Pastikan bahwa bantahan terhadap syubhat tersebut kuat dan benar di mana tidak lagi menyisahkan sedikitpun keraguan.

Orang yang tidak memunhi tuntutan ini hanya membantah syubhat ini menggunakan ujung pena dengan kalimat-kalimat bersayap yang tidak berguna berarti dia tidak menunaikan kewajibannya terhadap Islam, tidak pula jawabannya berguna dalam menghilangkan syubhat. Seharusnya bantahan kuat dan jelas serta tegas, baik isinya maupun retorikanya.

  • Perhatikan usnur maslahat dalam membantah, apakah bantahannay bersifat general saja atau mesti dirinci.
  • Bantahan terhadap syubhat dianjurkan sesegera mungkin, sesaat setelah munculnya syubhat itu. Jangan sampai syubhatnya sudah muncul namun bantahannya ditunda beberapa lama.
  • Jika bentuknya dialog terbatas bersama orang yang tanyakan syubhat, maka perlu dibedakan antara orang yang sehat psikis dengan orang yang tertimpa gangguan psikis atau tekanan mental. Sebab, faktanya banyak orang yang tanyakan tentang syubhat tertentu akibat terganggu psikisnya. Dengan begitu, yang diperlukan adalah bagaimana mengobati gangguan spikis atau tekanan mental yang menderanya.
  • Tindakan Preventif Bentengi Generasi Muda dari Serangan Syubhat.

            Tama ini urgen, dalam dan luas. Namun saya coba ringkas dalam beberapa poin. Namun sebelumnya perlu ditegaskan bahwa:

  1. Yang dimaskud dengan tindakan preventif adalah upaya membentuk para generasi muda muslim untuk bentengi akal dan fikiran mereka dari serangan syubhat dan dampaknyanyang buruk. Tujuannya adalah; mereka diharapkan mampu menikmati manisnya iman. Siapa yang merasakan nikmatnya iman dan bercahaya hatinya maka dia akan kokoh dan tidak mudah goyah.
  2. Motif kita melakukan itu adalah keinginan kuat untuk membimbing dan menuntun generasi muda bukan untuk menguasai mereka. Sikap ini merupakan manifestasi iman yang jelas. Sebab, semangat membimbang manusia menemukan hidayah merupakan teladan dari para nabi. Jika agama ini bernilai besar di hati kita maka kita kerahkan waktu dan energi kita, termasuk hidup dan mati kita untuknya.
  3. Penting untuk Tahu Psikologi Pemuda

Generasi muda hari ini berbeda dengan generasi muda tiga puluh tahun atau empat puluh tahun yang lalu. Psikologi mereka berubah, komunikasi mereka berubah, prioritas mereka berubah, kerangka berfikir mereka berubah, cara mereka menyikapai persoalan berubah, rasa mereka terhadap diri mereka sendiri dan juga orang sekitar mereka berubah, dan masih banyak hal yang berubah pada diri mereka hari ini. Jadi, perlu mengikuti perubahan ini, agar dialog kita dengan mereka tepat, dan interaksi kita dengan mereka menarik.

            Terkait tindakan preventif maka caranya bisa berupa;

  1. Perlu mengajarkan empat tema dasar yakni; tentang rububiyah Allah Swt, tentang nubuwah Muhammad Saw, tentang kebenaran Al-Qur’an dan tentang sempurnanya Islam.

Sebagian persoalan ini telah disebutkan pada bahasan sebelumnya, diantara program yang direkomendasikan adalah; membaca buku-buku kecil yang ditulis dengan bahasa menarik, baik secara sendiri-sendiri atau bersama-sama, di rumah atau di perkumpulan keluarga dan sahabat, diantara kutaibnya adalah karya Abdurrahman al-Sa’di berjudul: al-Barahinu al-Aqliyah ala Wahdaniyah al-Rabbi wa Wujuhi Kamalihi (Bukti Rasional terkait Keesaan Allah dan Aspek-Aspek Kesempurnannya), juga “al-Durrah al-Mukhtasharah fi Mahasini al-Dini al-Islami” (Ringkasan Menarik Terkait Nuansa Keindahan Islam) dan “al-Dinu al-Shahih Yahullu Jami’u al-Masyakil” (Agama yang Benar Pasti akan Menjawab semua Persoalan), “al-Qawathi’u wa al-Barahinu fi Ibthali Ushuli al-Mulhidin” (Argumentasi Kokoh dalam Meruntuhkan Prinsip Dasar Kaum Atheis) dan “al-Nashihah al-Rabbaniyah” (Pengarahan dan Nasehat Ilahi).

Ditambah dengan program menonto video-video berbentuk motion graphic, atau video biasa yang diproduksi oleh lembaga atau markaz yang kredibel dan spesialis untuk menguatkan akidah dan keyakinan serta membantah penyimpangan kaum atheis.

  • Mengaktifkan Budaya Berfikir. Aktifitas berfikir yang benar termasuk ibadah yang mulia namun diabaikan banyak orang. Mengaktifkan budaya berfikir perlu digalakkan, terutama menyangkut tiga hal, yakni;
    • Berfikir tentang makna al-Qur’an, sebisa mungkin setiap hari ada satu ayat yang dikaji maknanya melalui kitab-kitab tafsir yang ada semisal tafsir al-Sa’di atau lainnya.
    • Berfikir tentang makna nama-nama Allah Swt yang baik, dan diantara kiatab yang direkomendasikan adalah: Tafsir Asma Allah al-Husna.” Karya al-Sa’di.
    • Berfikir tentang ayat-ayat kauniyah, bisa dengan melihat langsung atau menonton video dan lainnya.
  • Mengingatkan generasi muda untuk menjauhi tempat-tempat kesesatan, kerangka berfikir sesat seperti yang disebutkan sebagiannya dalam kitab ini.
  • Mempelajari kisah orang-orang yang masuk Islam, sebelum dan sesudah mereka berislam. Banyak sekali video-video singkat di internet yang bisa ditonton.

Rasulullah Saw bersabda: ‘Ada tiga hal yang bisa membuat seseorang bisa menikmati manisnya iman, yakni; hendaknya Allah Swt dan rasulNya lebih dia cintai ketimbang selainnya, hendaknya dia cintai orang lain semata-mata karena Allah Swt, dan hendaknya dia benci kembali kufur setelah berislam seperti bencinya dia dimasukkan ke dalam api yang membara.” (Muttafaqun alaihi, al-Bukhari, no. 21 dan Muslim, no. 43).

Mengetahui cerita orang berislam yang berubah benci kepada kekufuran akan menghadirkan manisnya iman dalam hati.

  • Menanamkan pengagungan tehadap agama ini dalam jiwa mereka. Hendaknya ditanamkan dalam hati mereka bahwa agama ini adalah paling prioritas, paling penting, paling berharga, dan peling bernilai melebihi segala sesuatu.
  • Fokus pada jawaban umum seperti yang dijelaskan sebelumnya.
  • Membiasakan mereka memprioritaskan keselamatan seperti yang telah dijelaskan sebelumnya.
  • Mengenalkan mereka hikmah di balik ketetapan hukum syariat Islam. Tujuannya, untuk menguatkan keyakinan dan iman mereka. Mengetahui hikmah di balik syariat akan menambah iman, sedang mengabaikan hikmah di balik syariat bisa melemahkan iman. Diantara yang direkomendasikan terkait tema ini adalah karya-karya syekh Ibnu Utsaimin, beliau banyak menyingkap hikmah-hikmah di balik syariat dan ketetapan hukum.
  • Memilih rekan dan sahabat baik untuk mereka. Tugas ini terhitung paling berat. Andai sahabat baik bisa dibeli di pasar maka berapapun harganya tidak sebanding dengannya. Namun demikian, mari tetap berusaha menemukannya seraya banyak berdo’a kepada Allah Swt.
  • Banyak Berdo’a Kepada Allah Swt. Betapapun upaya yang dilakukan maka selalu kembali pada do’a kepada kepada Allah Swt. Do’a, do’a dan senantiasa berdo’a kepada Allah Swt.

            Untuk tambahan penjelasan silahkan baca:

            Muqaddimah kitab Kasyfu al-Syubhat karya Muhammad bin Abdul Wahhab, di mana beliau menyebutkan banyak jawaban bersifat umum di dalamnya.

Terjemahan Kitab Akidahilmuislamsyubhattauhid

Navigasi pos

Previous post
Next post

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recent Posts

  • INFORMASI ALAM GHAIB
  • PERTAMA – BUKTI ADANYA ALLAH SWT.
  • SYUBHAT KETIGA: PIDANA MATI ORANG MURTAD
  • PASAL VI – SYUBHAT DAN BANTAHAN
  • BAHASAN KELIMA – MENGABAIKAN PERKEMBANGAN SEMANTIK
April 2026
S S R K J S M
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  
« Jan    

ahli kitab (2) ahlussunnah (2) akal (4) Akidah (102) Al 'Uluw (2) Allah (5) alquran (32) budaya (4) dalil (2) evolusi (1) firqah (2) firqah najiyah (2) ghaib (2) hadits (2) hidayah (2) ibadah (3) ibnu taimiyah (4) ilmu (64) imam syafi'i (9) iman (3) islam (89) kalam (2) kenabian (4) kesesatan (2) kitab (1) kristologi (5) ma'rifah (2) manusia (2) meditasi (1) nubuwah (3) pengetahuan (15) perdebatan (1) rububiyah (1) sejarah (4) sunnah (4) syubhat (5) tabiin (1) tafsir (2) takdir (2) tauhid (77) taurat (3) teori (2) tsaqafah (3) uluw (1) wahyu (2)

©2026 AKIDAH.NET | WordPress Theme by SuperbThemes