Skip to content
AKIDAH.NET
AKIDAH.NET

Keyakinan Pangkal Penghayatan

AKIDAH.NET
AKIDAH.NET

Keyakinan Pangkal Penghayatan

PASAL III – RELASI ANTARA WAHYU (NAQLI) DAN AKAL

Supriyadi Yusuf Boni, 9 Juli 2025

Sumber: Kitab Maraqy al-Wa’yi (Penanaman Kesadaran)

Penulis:  Prof. Dr. Shaleh bin Abdul Aziz Utsman Sindi

Penerjemah: Supriyadi Yousef Boni

Editor: Idrus Abidin

            Semestinya proses berfikir dimulai dari persoalan dasar dan prinsip yakni apa makna Islam itu? Islam adalah penyerahan diri kepada Allah Swt. Firman Allah Swt:

وَمَنۡ يُّسۡلِمۡ وَجۡهَهٗۤ اِلَى اللّٰهِ وَهُوَ مُحۡسِنٌ فَقَدِ اسۡتَمۡسَكَ بِالۡعُرۡوَةِ الۡوُثۡقٰى​ؕ

Terjemahannya: “Dan barang siapa berserah diri kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya dia telah berpegang kepada buhul (tali) yang kokoh.” (Qs; Luqman: 22)

            Islam adalah menyambut seruan Allah Swt dan rasul-Nya Saw. Firman Allah Swt:

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوا اسۡتَجِيۡبُوۡا لِلّٰهِ وَلِلرَّسُوۡلِ اِذَا دَعَاكُمۡ لِمَا يُحۡيِيۡكُمۡ​

Terjemahannya: ‘Wahai orang-orang yang beriman! Penuhilah seruan Allah dan Rasul apabila dia menyerumu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu,” (Qs; al-Anfal: 24)

             Sikap seorang muslim hakiki seolah berkata: wahai rabbku, saya adalah hambaMu, bodoh kecuali engkau karuniai ilmu, sesat kecuali engkau beri hidayah, tiada petunjuk melainkan dengan wahyuMu, dan tiada kebahagiaan melainkan dengan mengikuti nabiMu Saw, saya tegakkan wajahku sesuai perintahMu, aku hadapkan wajahku ke arah yang Engkau perintahkan, saya mengerjakan perintahMu, meninggalkan laranganMu, menerima semua ketetapanMu, rela menjalani takdir dariMu. Inilah sikap seorang muslim sejati. Jika sikapnya berbeda, maka hendaklah segera mengevaluasi imannya.

            Pernyataan iman menuntut komitmen menjalankan kitabullah dan sunnah. Maksudnya, meyakini kewajiban mengikuti keduanya, tidak layak seseorang mengabaikan keduanya. Bahkan, keduanya wajib diterima dan dijalankan dengan sungguh-sungguh, firman Allah Swt:

وَمَا كَانَ لِمُؤۡمِنٍ وَّلَا مُؤۡمِنَةٍ اِذَا قَضَى اللّٰهُ وَرَسُوۡلُهٗۤ اَمۡرًا اَنۡ يَّكُوۡنَ لَهُمُ الۡخِيَرَةُ مِنۡ اَمۡرِهِمۡ

Terjemahannya: “Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang mukmin dan perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada pilihan (yang lain) bagi mereka tentang urusan mereka.” (Qs; al-Ahzab: 36).

            Iman menuntut agar menjadikan wahyu memegang otoritas mutlak pada diri seseorang. Wahyu berhak sepenuhnya menetapkan hukum segala sesuatu, diutamakan ketimbang sesuatu yang lain, apakah berupa pendapat, akal atau madzhab. Firman Allah Swt:

يٰۤاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا لَا تُقَدِّمُوۡا بَيۡنَ يَدَىِ اللّٰهِ وَرَسُوۡلِهٖ​ وَ اتَّقُوا اللّٰهَ​

Terjemahannya: “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya,1 dan bertakwalah kepada Allah.” (Qs: al-Hujurat: 1).

            Firman Allah Swt:

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤۡمِنُوۡنَ حَتّٰى يُحَكِّمُوۡكَ فِيۡمَا شَجَرَ بَيۡنَهُمۡ ثُمَّ لَا يَجِدُوۡا فِىۡۤ اَنۡفُسِهِمۡ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيۡتَ وَيُسَلِّمُوۡا تَسۡلِيۡمًا‏ 

Terjemahannya: “Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, (sehingga) kemudian tidak ada rasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (Qs; al-Nisa’; 65). Inilah Islam sesungguhnya.

            Prinsip mendahulukan wahyu wajib ditanamkan dalam diri setiap individu. Apalagi dewasa ini, kaum muslimin diperhadapkan dengan ragam tudingan negatif terhadap al-Qur’an dan sunnah, atau minimal mendegradasi statusnya sebagai rujukan utama, atau keduanya terkontaminasi dengan logika keliru lalu konsekuensinya mengutamakan akal ketimbang dalil naqli, atau menyesuaikan muatan dalil dengan keinginan akal, atau kewajiban menerima wahyu mesti ditunjang oleh pengetahuan hikmah yang ada di baliknya, atau tudingan dan klaim sesat lainnya. Allah Swt berfirman mengenai orang munafik;

وَاِذَا قِيۡلَ لَهُمۡ تَعَالَوۡا اِلٰى مَاۤ اَنۡزَلَ اللّٰهُ وَاِلَى الرَّسُوۡلِ رَاَيۡتَ الۡمُنٰفِقِيۡنَ يَصُدُّوۡنَ عَنۡكَ صُدُوۡدًا​ ۚ‏

            Terjemahannya: ‘Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Marilah (patuh) kepada apa yang diturunkan Allah dan (patuh) kepada Rasul,” (niscaya) engkau (Muhammad) melihat orang munafik menghalangi dengan keras darimu.” (Qs: al-Nisa’; 61).

            Sebenarnya relasi dalil naqli dengan akal bisa saling menguatkan dan tidak kontradiktif. Kata naqlu yang dimaksud adalah dalil yang bersumber dari al-Qur’an atau sunnah yang shahih. Mustahil akan terjadi kontradiksi antara naqli yang shahih dengan akal yang sehat.

            Mustahil wahyu akan bertentangan dengan akal apalagi keduanya kontradiksi. Faktanya, tiada satu ayat pun yang kandungannya diklaim mustahil diterima oleh akal. Bahkan asumsi ini sendirilah yang mustahil. Jadi tidak akan terjadi pertentangan antara syariat berbasis wahyu dengan kebenaran logika dan nalar.

            Beberapa prinsip yang mesti ditanamkan dalam diri adalah;

  • Bahwa Allah Swt yang menurunkan wahyu kepada nabi Muhammad Saw berupa al-Qur’an dan sunnah.
  • Allah Swt yang menciptakan akal fikiran
  • Artinya, sumber keduanya satu, lantas bagaimana mungkin akan kontradiksi?

            Kontradiksi antara naqli dengan akal hanya terjadi jika akalnya rusak atau karena lemah mencerna. Maksud akal yang bermasalah adalah yang tersesat atau dihinggapi sikap sombong melawan Allah Swt. Sedang akal yang lemah karena kekeliruannya hingga menduga adanya kontradiksi dan pertentangan, padahal sejatinya tidak demikian.

PENYEBAB KLAIM KONTRADIKSI

            Diantara sebab kenapa sebagian orang mengklaim terjadi kontradiksi antara dalil naqli dengan akal adalah;

            Pertama: Dalil Naqli Tidak Valid

            Tentu dalil tidak valid mustahil ditujukan pada al-Qur’an, namun yang dimaksud hanya klaim kontradiksi antara akal dengan sunnah yang diriwayatkan dari nabi Saw. Bisa saja seseorang yang bukan ahli ilmu mendengar sebuah hadits yang berbeda dengan logikanya, lalu dia berkata; ini bukti kontradiksi antara dalil naqli dengan akal. Akan tetapi, setelah diperiksa, ternyata hadits yang dia maksud tidak valid diriwayatkan dari nabi Saw. Bisa karena tergolong hadits palsu atau lemah. Dengan begitu, maka jelas tidak terjadi kontradiksi seperti yang dia klaim.

            Sebab, hadits (dalil naqli) yang dia maksud tidak valid. Sementara kontradiksi itu seharusnya melibatkan dua dalil yang valid. Ditambah lagi bahwa pihak yang berperan menvalidkan atau melemahkan sebuah hadits itu bukan kewenangan setiap orang. Melainkan hanya diperankan oleh ahli ilmu yang pakar hadits.

            Kedua: Perilaku Salah yang Dilekatkan ke Islam

            Sebagian orang mengira bahwa cerita israiliyat itu termasuk perkataan Rasulullah saw. Padahal realitasnya tidak demikian. Atau sebagian orang melihat perilaku menyimpang sebagian kaum muslimin atau bahkan bukan kaum muslimin atau sebagian sekte sesat, kemudian perilaku itu dilekatkan ke Islam. Kemudian mereka berkata; inilah ajaran Islam. Padahal perilaku tersebut sangat jauh dari nilai-nilai Islam.

            Ketiga: Logika dan Nalarnya Tidak Benar

            Banyak sekali dijumpai kekeliruan semacam ini. Dimana seseorang dengan mudah mengklaim bahwa logika dan nalar mengharuskan begini atau begitu, namun yang benar berbeda dengan klaimnya tersebut.

            Artinya; yang dimaksud dengan akal di ulasan ini adalah sebatas persoalan teoritis keliru yang dianggap benar oleh seseorang. Kekeliruan itu disebabkan oleh salah faham, atau kelemahan berargumentasi atau karena landasan berfikirnya yang keliru.

            Sebagai contoh; ditemukan sebagian orang mempertanyakan proses timbangan amal di akhirat kelak. Mereka mengklaim peristiwa tersebut tidak logis. Lantas jika ditanya; kenapa? Mereka jawab: karena amalan itu hanya berupa sifat, sedang sifat mustahil ditimbang.

            Tentu jawaban ini sangat keliru. Sebab, manusia sudah mampu menimbang sebagian sifat. Faktanya, saat ini, tingkat suhu panas dan suhu dingin sudah dapat diukur. Padahal keduanya termasuk sifat. Kecepatan cahaya juga dapat diukur yang notabene juga sifat. Lalu apakah sang khalik tidak mampu mengukur amal karena dia sifat?

            Layak direnungkan sebuah cerita lucu berikut ini; salah seorang ulama pernah hadir di sebuah majlis, lalu seseorang berkata: apakah mungkin di Jahannam – semoga Allah Swt jauhkan kita darinya – ada dua musim yakni panas dan dingin seperti yang disebutkan dalam hadits (al-Bukhari no. 356 dan Muslim no. 617)? Sungguh ini musthail terjadi. Sebab bagaimana mungkin sesuatu mengeluarkan hawa panas dan hawa dingin secara bersamaan? Orang bercerita itu berkata: sebelum saya jawab ungkapan orang itu, seseorang dari masyarakat biasa yang hadir menyela: kenapa tidak? AC ini – seraya menunjuk ke AC – mengeluarkan hawa dingin dari depan dan hawa panas di belakangnya.[1]

            Jadi, sebagian orang menganggap sesuatu itu wajib secara logis atau mustahil secara logis. Padahal yang salah adalah gambaran yang ada dalam akal dan logika mereka sendiri.

            Keempat: Tidak Mampu Bedakan Mana yang Mustahil Menurut Logika dan Mana yang Kemungkinan Terjadinya Perlu Waktu.

            Sesuatu yang mustahil terjadi seperti sesuatu yang ada dan tiada dalam waktu bersamaan, atau eceran lebih besar dari grosiran atau yang semisalnya. Ini yang dikatakan mustahil oleh syariat.

            Namun sesuatu yang sulit terjadi – tapi bisa saja terjadi menurut logika – bukan berarti mustahil terjadi. Kita hanya tidak melihat itu terjadi di dunia. Seperti sungai madu atau sungai susu di syurga, atau perihal lain yang dikehendaki Allah Swt. Itu termasuk sesuatu yang mungkin terjadi dan bukan mustahil terjadi. Karena, Dzat yang mampu menciptakan laut berisi air asin, juga mampu menciptakan sungai madu atau sungai susu.

            Jadi, perlu dibedakan antara yang mustahil terjadi dengan yang mungkin terjadi.

            Sebagian besar persoalan yang disengketakan disebabkan oleh ketidaktahuan memisahkan antara yang mustahil terjadi, dengan yang mungkin terjadi. Dimana sebagian muatan hadits dianggap mustahil terjadi lalu dijadikan senjata untuk tanamkan keraguan atau pengingkaran terhadapnya. Akan tetapi, setelah diamati lebih dalam, ternyata yang ada bukan mustahil terjadi, namun dia mungkin terjadi. Hanya saja, tidak bisa dipastikan kapan terjadinya, atau dia di luar kebiasaan, atau dia belum pernah terlihat terjadi, atau dia belum diketahui apakah sudah terjadi.

            Oleh sebab itu, mengingkari informasi dalam hadits yang valid hanya karena tidak biasa terjadi adalah sebuah kesalahan berfikir yang besar, jauh dari prinsip-prinsip dan kaedah akal, bahkan termasuk dosa besar.

Kelima: Tidak Mampu Membedakan Mana yang Tidak Logis dengan Kebimbangan Logika

            Tidak logis artinya ketetapan akal yang tegas menyatakan bahwa sesuatu itu mustahil dan tidak mungkin terjadi. Kebimbangan logika artinya akal tidak mampu memahaminya dengan tegas atau logika tampak bingung memahaminya, atau rasa takjub berlebihan karena di luar dugaan, akan tetapi, akal sendiri tidak mampu menegasikannya.

            Misalnya, Allah Swt yang maha mendengar semua jenis bunyi sehalus apapun itu, dan tidak mungkin terganggu oleh ragam bunyian, tentu merupakan kuasa yang maha dahsyat, akal tidak sanggup memahaminya secara tepat. Akal mengakui kelemahannya sekaligus meyakini keagungan dan kesempurnaan Allah azza wa jalla.

            Kesalahan yang sering terjadi adalah; bahwa sebagian orang, ada yang diperhadapkan dengan sesuatu yang sulit dia pahami dengan baik lalu dia anggap sesuatu itu mustahil terjadi dan atau tidak logis. Tentu ini kesalahan fatal.

            Sebab, akal tidak dipersiapkan untuk menghukumi ketetapan syariat, atau untuk memahami syariat itu dari semua sisi. Sebaliknya, akal akan terus lemah melogikakan semua yang termuat dalam wahyu. Akan tetapi, akal dilarang mengatakan itu tidak logis dan mustahil terjadi.

            Kelemahan akal tidak boleh menjadikannya seolah lebih unggul dari syariat. Akal semestinya tunduk mengakui kelemahan dan kekurangannya lalu meyakini kesempurnaan syariat Allah Swt.

            Jadi, perlu dipastikan untuk membedakan antara:

  • Apa yang bisa ditegaskan akal bahwa itu mustahil dan tidak akan terjadi. Dan ini tidak mungkin ada dalam syariat Allah Swt.
  • Dengan apa yang tidak mampu dijangkau oleh akal, atau yang tidak diketahui detailnya oleh akal. Ini dapat ditemukan dalam semua persoalan ghaib, takdir dan sifat-sifat Allah Swt, bahkan termasuk sebagian persoalan fiqih. Oleh sebab itu, ulama menyatakan; para rasul mengabarkan persoalan yang sulit dijangkau oleh akal, namun bukan persoalan yang mustahil dinalar.

            Keenam: Keliru Memahami Dalil Naqli.

            Ada juga sebagian orang yang mengklaim terjadi kontradiksi antara akal dengan ayat atau dengan hadits, disebabkan karena dia sendiri tidak faham nash ayat atau hadits yang dimaksud, atau tidak memaknainya secara benar dan tepat.

            Misalnya; disebutkan dalam kitab shahihain (al-Bukahri, no. 1144, dan Muslim, no. 774) sebuah sabda Rasulullah Saw bahwa siapa yang tertidur hingga pagi hari dan tidak shalat subuh “maka setan telah mengencingi telinganya.” Sebagian orang yang merasa pintar berkata; hadits ini bertentangan dengan akal sehat. Karena tidak ada bekas kencing setan yang terlihat. Sementara diketahui bahwa sesuatu yang tidak faktual berarti tidak logis. Jadi hadits ini mesti ditolak karena tidak logis.

            Kesalahan fatal orang itu adalah karena dia menganggap bahwa kencing setan itu berfisik seperti kencingnya manusia. Anggapan ini sangat keliru dan analogi yang sesat. Sebab, setan termasuk alam ghaib bagi kita manusia sebagaimana diyakini oleh semua orang. Berarti kencingnya juga termasuk ghaib. Nah, kalau premis pertama (setan ada secara ghaib) dia terima, maka dia mesti menerima premis keduan (kencing setan ghaib).

            Dengan kalimat lain, bahwa kalau dia mengakui bahwa setan itu ada sekalipun dia tidak melihat fisiknya, maka dia juga harus mengakui bahwa kencing setan ada walaupun dia tidak melihat fisiknya. Apalagi yang mengabarkan hal tersebut adalah Rasulullah Saw, sosok jujur dan terpercaya yang diimani kenabiannya Saw.

KLAIM TERTOLAK DAN TIDAK BERDASAR

            Ada sebagian orang yang mengakui punya jalan keluar menyikapi polemik ini, bahwa apabila terjadi kontradiksi antara akal dengan naqli, maka mesti akal lebih dikedepankan.

            Klain ini sebenarnya sudah usang namun sering diulang. Klaim ini terdiri dari dua premis dan kesimpulan, yakni;

            Premis pertama: akal sebagai sentral dan wajib dikedepankan baru diikuti oleh dalil naqli. Premis kedua: bahwa terjadi kontradiksi antara akal dengan naqli.[2] Kesimpulannya: wajib mengedepankan akal daripada dalil naqli.

            Mereka sesungguhnya salah pada kedua premis tersebut dan menyebabkan kesimpulannya juga salah.

            Sanggahan terhadap premis pertama:

            Klaim ini mesti dihukumi dusta, karena yang seharusnya mengikut adalah akal sedang yang diikuti adalah wahyu (dalil naqli).

            Demikian pula, bahwa dalil naqli yang semestinya dijadikan sentral, dikedepankan dan diprioritaskan. Karena dalil naqli merupakan wahyu yang diturunkan oleh dzat yang menciptakan akal.

            Akal hanya difungsikan sebagai perangkat untuk memahami dalil naqli, akal bukan pengendali dalil naqli. Dalil yang dimaksud adalah dalil rububiyah (ayat al-Qur’an) dan dalil nubuwah (sunnah).

            Sanggahan terhadap premis kedua;

            Kalim ini juga salah besar, terutama jika ditilik dari beberapa sisi, yakni;

  1. Bahwa nabi Saw itu terjaga dari dosa (ma’shum), semua yang beliau sampaikan adalah kebenaran dari Allah Swt, semua yang beliau kabarkan adalah kebenaran. Siapapun yang menuding bahwa dalam sunnahnya ada yang bertentangan dengan akal, maka dipastikan dia dusta, atau bisa dipastikan bahwa yang dia anggap logis sebenarnya salah, atau yang dia anggap dalil naqli tidak valid, atau karena dia yang tidak memaknainya secara benar.
    1. Berdasarkan pengamatan mendalam ditemukan kesesuaian dan keselarasan sempurna nan harmonis antara akal dengan dalil naqli.
    1. Klaim ini sejak awal sudah keliru, sebab kontradiksi yang diklaim sesungguhnya tidak terjadi. Semua yang diduga kontradiksi ternyata disebabkan oleh kekeliruan – seperti pada contoh sebelumnya – dan terbukti tidak kontradiksi.
    1. Bahwa orang yang paling sempurna dan lurus akalnya setelah Rasulullah Saw adalah para sahabat r. a. kemudian para Tabi’un dan tabi’ tabi’un lalu orang yang mengikuti jejak mereka. Sementara tidak pernah terbesit dalam fikiran mereka, bahwa terjadi kontradiksi antara akal dengan dalil naqli, sebagaimana yang kita baca dari pernyataan-pernyataan mereka.

SANGGAHAN TERHADAP KESIMPULAN; MENGEDEPANKAN AKAL DARI DALIL NAQLI

            Kesimpulan berupa mengedepankan akal ketimbang dalil naqli adalah sesat karena dilandasi oleh dua premis yang salah besar. Jadi, kalau premisnya sudah salah, maka dipastikan kesimpulannya juga salah. Namun demikian beberapa pertimbangan ditambahkan untuk memperjelas kesalahan kesimpulan itu, yakni;

  1. Islam adalah sikap menyerahkan diri sepenuhnya kepada wahyu Allah Swt. Tanpa itu, maka tidak bermakna Islamnya. Jadi, mengedepankan akal ketimbang wahyu bertentangan dengan sikap penyerahan diri sepenuhnya, dengan demikian bertentangan pula dengan pengakuan Islam.
    1. Bagaimana mungkin mengedepankan sesuatu yang tidak terjaga dari kesalahan, ketimbang yang terjaga dari kesalahan. Dalil naqli sudah dijamin tidak akan salah, sementara kesimpulan akal tidak dijamin terbebas dari kesalahan, bahkan sangat sering salah dan keliru. Faktanya, betapa banyak kesalahan logika yang terjadi pada ketetapan akal manusia.
    1. Pertanyaan mendasar adalah akal siapa yang berhak dikedepankan dan diprioritaskan? Karena setiap individu punya akal dan independensinya sendiri-sendiri. Bisa saja, orang ini menganggapnya baik sedang yang lain mengatakan buruk atau sebaliknya. Jadi, sekedar bermodalkan akal dipastikan sulit bersepakat.

SIKAPI KONTRADIKSI PEMAHAMAN SESEORANG ANTARA AKAL DENGAN DALIL NAQLI

  1. Seorang muslim wajib meyakini bahwa mustahil terjadi kontradiksi antara akal dengan dalil naqli. Tanamkan keyakinan ini kuat-kuat dalam diri, lantas kebingungan yang muncul tetap sikapi itu sebagai kebingungan yang akan mendapatkan jawaban hingga sirna dengan izin Allah Swt.
    1. Jadikan motif utama untuk menemukan kebenaran sebagai bentuk manifestasi iman kepada Allah Swt dan rasulNya Saw, seraya berharap mendapat hidayah kebenaran setelah melalui proses pembelajaran. Allah Swt telah menegaskan bahwa:

اِنَّ الَّذِيۡنَ لَا يُؤۡمِنُوۡنَ بِاٰيٰتِ اللّٰهِۙ لَا يَهۡدِيۡهِمُ

Terjemahannya: “Sesungguhnya orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah (Alquran), Allah tidak akan memberi petunjuk kepada mereka” (Qs; al-Nahl: 104). Maknanya, siapa yang beriman kepada ayat-ayat Allah maka pasti diberi hidayah. Maka rumusnya adalah: imani maka engkau diberi hidayah.

  • Hendaknya orang yang mengalami kontradiksi pemahaman bertanya kepada orang alim atau lembaga ilmiyah yang kredibel untuk mendapatkan pencerahan. Dengan begitu, kebingungannya dan ketidaktahuannya akan hilang. Telah dikatakan, obat ketidaktahuan adalah bertanya. Namun perlu waspada, jangan sampai orang yang dia tanya, malah menambah kebingungannya bahkan menambah syubhat dalam fikirannya.
    • Kuatkan hati untuk tetap mengedepankan wahyu ketimbang akal bahkan ketimbang segala sesuatu sebagaimana tuntutan sekaligus bukti iman.

            Jadikan kaedah hidup seperti disebutkan dalam firman Allah Swt:

اِتَّبِعُوۡا مَاۤ اُنۡزِلَ اِلَيۡكُمۡ مِّنۡ رَّبِّكُمۡ وَلَا تَتَّبِعُوۡا مِنۡ دُوۡنِهٖۤ

            Terjemahannya: “Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu, dan janganlah kamu ikuti selain Dia” (Qs; al-A’raaf: 3).

            Penutup: dugaan sebagian orang bahwa dilarang menanyakan makna ayat yang tidak dia fahami dengan benar adalah salah besar. Sebab, hal itu biasa saja dan pernah terjadi di era sahabat Rasulullah Saw, sementara Rasulullah Saw tidak melarang mereka.

            Disebutkan dalam kitab shahihain (al-Bukahri, no. 4760 dan Muslim, no. 2806) dari hadits Anas r. a. bahwa ada seseorang yang berkata; wahai Rasulullah, bagaimana orang-orang kafir akan dikumpulkan di atas wajah mereka pada hari kiamat? Dia bingung memahami seseorang akan berjalan dengan wajahnya, seperti firman Allah Swt:

وَنَحۡشُرُهُمۡ يَوۡمَ الۡقِيٰمَةِ عَلٰى وُجُوۡهِهِمۡ عُمۡيًا وَّبُكۡمًا وَّصُمًّا​ ؕ

Terjemahannya: “Dan Kami akan mengumpulkan mereka pada hari Kiamat dengan wajah tersungkur, dalam keadaan buta, bisu, dan tuli.” (Qs: al-Isra’: 97)

            lantas Rasulullah Saw menjawab: “Bukankah Dzat yang menjadikannya berjalan dengan kedua kakinya di dunia, sanggup menjadikannya berjalan dengan wajahnya di hari kiamat”?

             Jadi, dalam hadits tersebut Rasulullah Saw mengajak si penanya untuk meyakini kemahakuasaan Allah Swt dan secara otomatis kebingungannya dihilangkan dengan jawaban meyakinkan. Rasulullah Saw mengajak untuk menghadirkan keagungan Allah Swt dan kemahakuasaannya, bahwa Allah maha kuasa melakukan apapun.

            Diantara syarat yang mesti dipenuhi kala hendak mempertanyakan kebingungan akal adalah;

  1. Hendaknya motif utamanya adalah ingin mengetahui kebenaran
    1. Hendaknya bertanya ke ahli ilmu yang kredibel, jangan bertanya ke teman sejawat yang sederajat pemahaman, teman yang di grup whatsapp misalnya, atau tidak ngetwit di twitter untuk direspon oleh siapapun. Karena bisa saja malah menambah kebingungannya bahkan merusak pemahaman orang lain.
    1. Hendaknya mengistiqamahi adab berkomunikasi dengan Allah Swt, juga kepada Rasulullah Saw dengan cara memuliakan al-Qur’an dan sunnah.

Ulasan Tambahan silahkan baca;

  • Kitab al-Shawaiq al-Mursalah, karya Ibnu al-Qayyim, (3/829), (3/853) dan setelahnya.

[1] Sebuah rahmat dan karunia dari Allah swt, bahwa kemajuan teknologi modern ikut memudahkan kita memahami persoalan yang dahulunya dianggap pelik.

[2] Mereka ini merekayasa seolah ada pertentangan antara keduanya, namun sejatinya hanya hayalan dan dugaan semata, tidak nyata.

Terjemahan Kitab akalAkidahilmuislamtauhidwahyu

Navigasi pos

Previous post
Next post

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recent Posts

  • INFORMASI ALAM GHAIB
  • PERTAMA – BUKTI ADANYA ALLAH SWT.
  • SYUBHAT KETIGA: PIDANA MATI ORANG MURTAD
  • PASAL VI – SYUBHAT DAN BANTAHAN
  • BAHASAN KELIMA – MENGABAIKAN PERKEMBANGAN SEMANTIK
April 2026
S S R K J S M
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  
« Jan    

ahli kitab (2) ahlussunnah (2) akal (4) Akidah (102) Al 'Uluw (2) Allah (5) alquran (32) budaya (4) dalil (2) evolusi (1) firqah (2) firqah najiyah (2) ghaib (2) hadits (2) hidayah (2) ibadah (3) ibnu taimiyah (4) ilmu (64) imam syafi'i (9) iman (3) islam (89) kalam (2) kenabian (4) kesesatan (2) kitab (1) kristologi (5) ma'rifah (2) manusia (2) meditasi (1) nubuwah (3) pengetahuan (15) perdebatan (1) rububiyah (1) sejarah (4) sunnah (4) syubhat (5) tabiin (1) tafsir (2) takdir (2) tauhid (77) taurat (3) teori (2) tsaqafah (3) uluw (1) wahyu (2)

©2026 AKIDAH.NET | WordPress Theme by SuperbThemes