Skip to content
AKIDAH.NET
AKIDAH.NET

Keyakinan Pangkal Penghayatan

AKIDAH.NET
AKIDAH.NET

Keyakinan Pangkal Penghayatan

Perkataan Ulama Ahlussunnah Waljama`ah Terkait Sifat “Al-`Uluw” (Kemahatinggian Allah) (Bagian 5)

Natsir an-Naqary, 19 Mei 2026

Sumber: Kitab Ma`arij al-Qabul Bisyarhi Sullami al-Wushul Ila Ilmi al-Ushul Fii at-Tauhid

Penulis:  Syeikh Hafidz bin Ahmad al-Hakami

Penerjemah: Ust. Natsir an-Naqary

Editor: Idrus Abidin

Dalam dzikir setelah shalat beliau mengajarkan:

لا إلهَ إلاَّ اللَّه وحْدهُ لاَ شَرِيكَ لهُ، لَهُ المُلْكُ، ولَهُ الحمْدُ، وَهُو عَلَى كُلِّ شَيءٍ قَدِيرٌ

“Tidak ada Tuhan yang berhak diibadahi kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya semua kerajaan dan pujian dan Dia maha kuasa atas segala sesuatu”. [1]

Dalam ucapan talbiyah:

لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لاَ شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ، وَالنِّعْمَةَ، لَكَ وَالْمُلْكَ، لاَ شَرِيكَ لَكَ

“Aku memenuhi panggilan-Mu Ya Allah, aku memenuhi panggilan-Mu tidak ada sekutu bagi-Mu, semua pujian dan kenikmatan hanya milik-Mu, dan kerajaan hanyalah milik-Mu, tiada sekutu bagi-Mu.” [2]

Dalam do’a yang ma’tsur:

اللهُمَّ لكَ الحمدُ كلُّهُ ولكَ الْمُلْكُ كلُّهُ وبِيدِكَ الخيرُ كلُّهُ وإِليكَ يُرجعُ الأمْرُ كلُّهُ أَسْأَلُكَ الخَيْرَ كُلَّهُ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ الشَّرِّ كُلِّه

“Wahai Allah, semua pujian dan kerajaan hanyalah milik-Mu, semua kebaikan ada di tangan-Mu, segala perkara kembali kepada-Mu, aku meminta kepada-Mu semua kebaikan, dan berlindung dengan-Mu dari semua keburukan.” [3]

Dalam do’a iftitah pada shalat malam:

اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ نُورُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ قَيِّمُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ مَلِكُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ أَنْتَ الْحَقُّ وَقَوْلُكَ الْحَقُّ وَوَعْدُكَ الْحَقُّ وَلِقَاؤُكَ حَقٌّ وَالْجَنَّةُ حَقٌّ وَالنَّارُ حَقٌّ وَالْبَعْثُ حَقٌّ وَالنَّبِيُّونَ حَقٌّ وَمُحَمَّدٌّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَقٌّ

“Ya Allah, segala puji bagi Engkau. Engkau Tuhan langit dan bumi serta orang-orang yang berada di dalamnya. Segala puji bagi Engkau, Engkau Pengatur langit, bumi dan siapa saja yang berada di dalamnya. Segala puji bagi Engkau, Engkau adalah cahaya bagi langit, bumi dan siapa saja yang berada di dalamnya. Segala puji bagi Engkau, Engkaulah Al Haq, Janji-Mu pasti benar, pertemuan dengan-Mu pasti benar, hari kiamat itu benar, surga itu benar adanya, neraka itu benar adanya, semua Nabi itu benar dan Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam itu benar.” [4]

Ayat-ayat dan hadits-hadits tentang bab ini sangat banyak. Intinya adalah bahwa Allah ‘azza wa Jalla itu maha terpuji. Sebagaimana Dia adalah Rabb dan Ilah, maka bagi-Nya lah segala pujian dan kerajaan, tidak ada sekutu bagi-Nya dalam hal pujian dan kepemilikan kerajaan, walaupun sebagian makhluk-Nya ada yang terpuji, seperti para Rasul dan para Ulama, hanya saja pujian tersebut tetap kembali kepada-Nya, karena sumber dan penyebabnya berasal dari-Nya yang maha Tinggi. Dia lah yang menjadikan mereka seperti itu, ini sebagaimana Dia yang maha Merajai tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kerajaan-Nya, dan Dia memberikan rezki berupa kerajaan kepada sebagian hamba-Nya, tapi Dia lah Yang maha memilikinya, sebagaimana Dia maha mengetahui, sementara mereka tidak mengetahui sedikitpun ilmu Allah selain apa yang dikehendaki-Nya. Dia Mengajarkan ilmu yang Dia kehendaki kepada sebagian hamba-Nya. Ketika menyebut hamba-Nya yaitu Ya’qub ‘alaihissalam Dia berfirman:

وَاِنَّهٗ لَذُوْ عِلْمٍ لِّمَا عَلَّمْنٰهُ

“Sesungguhnya dia (Ya’qub) benar-benar memiliki ilmu yang telah Kami ajarkan” [Q.S: Yusuf: 68].

Begitu pula tidak ada satu pun yang terpuji di langit maupun di bumi melainkan pujian tersebut hakikatnya kembali kepada Allah ‘Azza wa jalla, memuji semua hal yang terpuji termasuk dalam memuji-Nya, sebagaimana semua kerajaan itu adalah milik-Nya, segala sesuatu berasal dari-Nya, milik-Nya, dan kembali kepada-Nya, maka segala puji bagi Tuhan langit, bumi, semesta alam. Milik-Nya lah segala kebesaran di langit dan di bumi, yang maha Perkasa lagi maha Bijaksana.

(MASALAH): Jika dikatakan bahwa Allah Azza wa Jalla telah mengabarkan kepada kita di dalam Al Qur’an, juga melalui lisan Rasul-Nya, dan kita ketahui bahwa diantara Sifat-Nya adalah mencintai orang-orang yang berbuat baik, orang-orang bertakwa, orang-orang sabar, ridha terhadap orang-orang yang beriman dan beramal shalih, dan tidak mencintai orang-orang kafir, orang-orang zhalim, kekufuran, kerusakan padahal semua itu berdasarkan kehendak dan keinginanan-Nya. Jika Dia Ingin maka tidak akan terjadi karena tidak akan terjadi pada kerajaan-Nya kecuali apa yang Dia kehendaki, apa jawabannya? Kita katakan: sesungguhnya keinginan, takdir dan perintah itu terbagi menjadi kauniyyah dan syar’iyyah, kata kehendak (masyi’ah) dalam Al-Qur’an itu hanyalah untuk kehendak kauniyyah sebagaimana firman-Nya:

وَمَا تَشَاءُونَ إِلا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ

“Dan tidaklah kalian berkehendak, kecuali Allah Tuhan alam semesta kehendaki” (QS. al-Insan: 30)

Contoh kehendak (iradah) kauniyyah adalah firman-Nya:

وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلَا مَرَدَّ لَهُ

 “Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya.” (QS. ar-Ra’ad: 11)

إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

“Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya: ‘kun (jadilah)’, maka jadilah ia.” (QS. Yasin: 82)

Contoh ketetapan (Qadha’) kauniyyah firman-Nya:

وَإِذَا قَضَى أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

“Jika Dia Menetapkan sesuatu maka Dia Berkata ‘Kun’ maka terjadilah.” (QS. Al-Baqarah: 117)

Contoh perintah (al-Amru) kauniyyah:

وإِذَآ أَرَدْنَآ أَن نُّهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُواْ فِيهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا ٱلْقَوْلُ فَدَمَّرْنَٰهَا تَدْمِيرًا

“Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya”. (QS. Al-Isra’: 16)

Bagian ini merupakan dari kehendak, ketetapan, dan perintah yang bersifat menyeluruh serta kekuasaan-Nya yang sangat kuat, tidak ada satu makhluk pun yang bisa keluar darinya. Tidak ada korelasi antara kehendak, ketetapan dan perintah kauniyyah ini dengan kecintaan dan keridhaan Allah. Justru kekufuran, keimanan, keburukan, ketaatan, sesuatu yang dicintai, diridhai, dibenci, itu semua berdasarkan kehendak, kekuasaan, dan ciptaan-Nya (yang bersifat kauniyyah), tidak bisa diselisihi dan tidak bisa keluar darinya dalam bentuk sekecil apapun.

Contoh ketetapan syar’iyyah adalah firman-Nya:

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

“Allah Menginginkan kemudahan pada kalian, dan Dia tidak menginginkan kesusahan pada kalian.” (QS. al-Baqarah: 185)

يُرِيدُ ٱللَّهُ لِيُبَيِّنَ لَكُمْ وَيَهْدِيَكُمْ سُنَنَ ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ وَيَتُوبَ عَلَيْكُمْ

“Allah hendak menerangkan (hukum syari’at-Nya) kepada kalian, dan menunjuki kalian kepada jalan-jalan orang yang sebelum kalian dan (hendak) menerima taubat kalian.” (QS an-Nisa: 26)

وَٱللَّهُ يُرِيدُ أَن يَتُوبَ عَلَيْكُمْ وَيُرِيدُ ٱلَّذِينَ يَتَّبِعُونَ ٱلشَّهَوَٰتِ أَن تَمِيلُواْ مَيْلًا عَظِيمًا

“Dan Allah hendak menerima taubat kalian, sedang orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya bermaksud supaya kamu berpaling sejauh-jauhnya (dari kebenaran)”. (QS an-Nisa’: 27)

Contoh ketetapan syar’iyyah firman-Nya:

وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

 “Dan Tuhanmu telah menetapkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada orang tuamu.” (QS. al-Isra’: 23)

Contoh perintah syar’iyyah adalah firman-Nya:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

“Sesungguhnya Allah memerintahkan berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepada kalian agar kalian dapat mengambil pelajaran.” (QS. an-Nahl: 90)

            Kehendak, ketetapan serta perintah syar’iyyah yang sudah ditakdirkan ini mengharuskan kecintaan dan keridhaan Allah Ta’ala. Allah tidak memerintahkan (syar’iyyah) kecuali hal-hal yang Dia cintai, ridhai, dan tidak melarag kecuali dari apa-apa yang Dia benci.

Bagian ini tidaklah berkaitan dengan hal yang sebelumnya kecuali terkait hak seorang mu’min yang taat, adapun orang kafir maka haknya tunggal yaitu kehendak, ketetapan dan perintah kauniy qadariy. Allah Subhanahu wata’ala menyeru hamba-Nya pada ketaatan, keridhaan, dan surga-Nya, Dia memberi petunjuk untuk itu pada siapa saja yang Dia kehendaki secara kauniy dan qadariy, karenanya Dia berfirman:

وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَىٰ دَارِ السَّلَامِ وَيَهْدِي مَن يَشَاءُ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ

 “Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (surga), dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus (Islam)” (QS. Yunus:25).

Seruan kepada surga yang merupakan darussalam tersebut Dia jadikan umum yang mana Dia menyeru semua hamba-hamba-Nya, Dia Mengetahui siapa saja dari kalangan hamba-Nya yang akan menyambut seruan tersebut dan yang enggan, dan Dia mengkhususkan petunjuk (hidayah) bagi siapa saja yang Dia kehendaki sebagaimana firman-Nya:

يَهْدِي اللَّهُ لِنُورِهِ مَن يَشَاءُ

 “Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki” (QS. an-Nur: 35)

            (MASALAH): Jika dikatakan bukankah mungkin dalam kekuasaan Allah Ta’ala Dia menjadikan semua makhluk-Nya menjadi orang mukmin taat yang mendapatkan petunjuk?

Kita katakan: tentu, bahkan kami sudah menyampaikan kepada anda beberapa aya-ayat dan hadits-hadits yang cukup terkait hal tersebut. Hanya saja kami juga menyampaikan kepada anda bahwa apa yang Dia perbuat kepada mereka itu adalah konsekuensi hikmah serta nama dan sifat-sifatnya, juga merupakan dampak dari rububiyah dan uluhiyah-Nya, dan Dia lebih mengetahui letak karunia dan keadilan-Nya. Dengan demikian maka perkataan orang “kenapa diantara hamba-hamba-Nya itu ada yang taat dan ada yang pendosa?” Itu seperti perkataan orang yang mengatakan kenapa diantara nama-namanya itu ada ad-Dharr (Maha Memberi mudarat), an-Naafi’ (Maha pemberi manfaat), al-Mu’thii (Maha Pemberi), al-Mani’ (Maha Pencegah), al-Khafidh (Maha Merendahkan), ar-Rafi’ (Maha Mengangkat derajat), al-Mun’im (Maha Pemberi nikmat), al-Muntaqim (Maha Pemberi adzab), dan yang semisal. Perbuatan Allah itu merupakan konsekuensi dari nama-nama-Nya dan dampak dari sifat-sifat-Nya, protes terhadap perbuatan-Nya itu sama dengan protes terhadap nama-nama dan sifat-sifat-Nya, bahkan uluhiyyah dan rububiyyah-Nya, Maha suci Allah Sang pemilik ‘arsy dari semua yang mereka sifatkan, Allah tidak ditanya tentang apa yang Dia Perbuat, merekalah yang akan ditanya apa yang mereka lakukan selama di dunia ini.

            (MASALAH): Ketahuilah kadang setan memberi was-was sebagian orang sehingga dia mengatakan: “apa hikmah di balik adanya takdir yang buruk padahal Allah membenci perbuatan buruk, apakah kebencian berlaku pada hal yang dicintai?”

Kita katakan: segala puji bagi Allah dengan penuh keimanan terhadap uluhiyah, rububiyah, nama-nama dan sifat-sifat-Nya, dengan penyerahan terhadap takdir dan kehendak-Nya, dan dengan penerimaan penuh terhadap keadilan dan hikmah-Nya. Ketahuilah wahai saudaraku semoga Allah memberikan kita taufik bahwa ada perkara yang lebih penting dari membahas hal itu yang merupakan kewajiban bagi seorang hamba yaitu mengimani Allah, nama-nama dan sifat-sifat-Nya serta menerima takdir yang sudah ditetapkan-Nya, yakin dengan keadilan dan hikmah-Nya, sekaligus gembira dengan karunia dan rahmat-Nya. Kita tidak mengetahui hikmah Allah, nama-nama dan sifat-sifat-Nya kecuali apa yang Dia ajarkan kepada kita, tidak ada yang mengetahui hakikat dan puncak dari hikmah tersebut kecuali Dzat yang bersifat dengannya yaitu Allah yang tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Dia. Diantara yang Dia ajarkan kepada kita adalah bahwa keburukan itu secara dzatnya tidaklah dicintai dan diridhai Allah sebagaimana firman-Nya setelah melarang hamba-hamba-Nya dari dosa-dosa besar yang disebutkan di surah Al Isra’

كُلُّ ذٰلِكَ كَانَ سَيِّئُهٗ عِنْدَ رَبِّكَ مَكْرُوْهًا

 “Semua itu kejahatannya amat dibenci disisi Tuhanmu” (QS. al-Isra’: 38)

Hanya saja itu berdampak pada kecintaan dan keridhaan-Nya yang mana Dialah yang lebih mengetahuinya baik pada hak pelaku keburukan tersebut yang berupa taubat, kembali kepada Allah, tunduk, pengakuan terhadap kuasa Allah atasnya, takut terhadap siksaan-Nya, berharap ampunan-Nya, menyingkirkan sifat ujub yang dapat menghapus pahala kebaikan-kebaikannya, senantiasa merasa hina, memurnikan rasa keterbutuhannya, senantiasa meminta ampun kepada-Nya, dan sifat-sifat lainnya yang merupakan kewajiban dan ketaatan yang dicintai oleh Allah ‘azza wa jalla di mana Dia sangat memuji orang-orang yang memiliki sifat-sifat tersebut.

Di dalam shahihain terdapat riwayat dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

للهُ أَشَدُّ فَرَحَاً بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ حِينَ يَتُوبُ إِلَيْهِ مِنْ أَحَدِكُمْ كَانَ عَلى رَاحِلَتِهِ بِأَرْضٍ فَلاةٍ ، فَانْفَلَتَتْ مِنْهُ وَعَلَيْهَا طَعَامُهُ وَشَرَابُهُ فَأَيِسَ مِنْهَا ، فَأَتَى شَجَرَةً فَاضْطجَعَ في ظِلِّهَا وَقَدْ أَيِسَ مِنْ رَاحِلَتِهِ فَبَيْنَمَا هُوَ كَذَلِكَ إَذْ هُوَ بها قَائِمَةً عِنْدَهُ ، فَأَخَذَ بِخِطَامِهَا ثُمَ قَالَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ ، اللَّهُمَّ أَنْتَ عَبْدي وَأَنَا رَبُّكَ ، أَخْطَاءَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ

“Sesungguhnya Allah sangat gembira dengan taubat hamba-Nya ketika dia bertaubat pada-Nya melebihi kegembiraan seseorang di antara kalian yang berada di atas kendaraannya dan berada di padang pasir, lalu hewan tunggangannya lari meninggalkannya. Padahal di atas hewan tunggangannya itu ada perbekalan makan dan minumnya. Dia pun menjadi putus asa, kemudian ia mendatangi sebuah pohon dan tidur berbaring di bawah naungannya dalam keadaan hati yang berputus asa. Ketika ia dalam keadaan seperti itu, ternyata hewan tunggangannya tampak berdiri di sisinya, lalu ia mengambil ikatnya. Karena sangat gembiranya, maka ia berkata, “Ya Allah, Engkau adalah hambaku dan aku adalah Rabb-Mu.” Ia telah salah mengucapkan karena sangat gembiranya.”[5]

Maka yang wajib bagi seorang hamba adalah membenci keburukan-keburukan yang Allah benci, menjauhinya, berusaha menahan diri darinya dan dari mengutamakannya terhadap apa-apa yang dicintai Allah, serta berusaha semaksimal mungkin agar dia tidak melakukan sesuatu apapun yang dibenci Allah. Jika hawa nafsu mengalahkannya karena kejahilan dan keburukan hawa nafsu tersebut sehingga dia melakukan sesuatu yang dibenci Allah maka dia harus bersegera dalam mengobati dan memperbaikinya dengan melakukan hal-hal yang dicintai dan diridhai Allah berupa taubat, kembali kepada-Nya, memohon ampun dan mengingat-Nya, serta berhenti dan tidak terus menerus dalam melakukan perbuatan yang dibenci tersebut. Sesungguhnya Allah sudah mengajarkan hal itu dan memuji orang-orang yang memiliki sifat tersebut, Allah ‘azza wajalla berfirman:

وَسَارِعُوْٓا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ وَالْاَرْضُۙ اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَۙ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ وَالْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ  وَالَّذِيْنَ اِذَا فَعَلُوْا فَاحِشَةً اَوْ ظَلَمُوْٓا اَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللّٰهَ فَاسْتَغْفَرُوْا لِذُنُوْبِهِمْۗ وَمَنْ يَّغْفِرُ الذُّنُوْبَ اِلَّا اللّٰهُ ۗ وَلَمْ يُصِرُّوْا عَلٰى مَا فَعَلُوْا وَهُمْ يَعْلَمُوْنَ اُولٰۤىِٕكَ جَزَاۤؤُهُمْ مَّغْفِرَةٌ مِّنْ رَّبِّهِمْ وَجَنّٰتٌ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَا ۗ وَنِعْمَ اَجْرُ الْعٰمِلِيْنَۗ

“Bersegeralah menuju ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seperti langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa, yaitu orang-orang yang selalu berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang mengendalikan kemurkaannya, dan orang-orang yang memaafkan kesalahan orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan. Demikian juga orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri mereka segera mengingat Allah lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya. Siapa lagi yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Mereka pun tidak meneruskan apa yang mereka kerjakan (perbuatan dosa itu) sedangkan mereka mengetahuinya. Mereka itu balasannya adalah ampunan dari Tuhan mereka dan surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya. Itulah sebaik-baik pahala bagi orang-orang yang mengerjakan amal-amal saleh. (Q.S: Ali Imran: 133-136) Dan ayat-ayat yang lain…

            Dalam hadits disebutkan:

لَوْ لَمْ تُذْنِبُوا  لأتى الله بكم بِقَوْمٍ يُذْنِبُونَ، فَيَسْتَغْفِرُونَ اللهَ فَيَغْفِرُ لَهُمْ

“Kalau seandainya kalian tidak melakukan dosa maka Allah akan mendatangkan sebuah kaum yang melakukan dosa lalu meminta ampun dan Allah pun mengampu mereka.”  [6]

Jika pelaku keburukan mengakibatkan dia memperoleh hal-hal yang dicintai Allah Azza wa jalla maka ini merupakan puncak kemaslahatan, kebahagian dan kesuksesan hamba, tapi jika tidak terjadi hal demikian maka itu karena keburukan jiwanya dan ketidaklayakannya untuk perkumpulan terbesar (al-mala’ul a’la) dan membersamai Nabi, Allah lebih mengetahui dengan orang-orang yang berhak mendapat petunjuk, dan kemudian akan berlaku atasnya kewajiban-kewajiban dari Allah untuk wali-walinya yang beriman dari dakwah kepada-Nya yang merupakan tugas pada Rasul ‘alaihimus salam, begitu juga amar makruf nahi munkar yang merupakan kewajiban terbesar dari Allah, serta jihad di jalan-Nya yang merupakan puncak tertinggi Islam, atas hal ini para wali Allah akan mendapatkan kemenangan atau kesyahidan, dan cukup bagimu terkait keutamaan itu firman Allah Azza wa jalla:

اِنَّ اللّٰهَ اشْتَرٰى مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ اَنْفُسَهُمْ وَاَمْوَالَهُمْ بِاَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَۗ يُقَاتِلُوْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ فَيَقْتُلُوْنَ وَيُقْتَلُوْنَ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِى التَّوْرٰىةِ وَالْاِنْجِيْلِ وَالْقُرْاٰنِۗ وَمَنْ اَوْفٰى بِعَهْدِهٖ مِنَ اللّٰهِ فَاسْتَبْشِرُوْا بِبَيْعِكُمُ الَّذِيْ بَايَعْتُمْ بِهٖۗ وَذٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ اَلتَّاۤىِٕبُوْنَ الْعٰبِدُوْنَ الْحٰمِدُوْنَ السَّاۤىِٕحُوْنَ الرّٰكِعُوْنَ السّٰجِدُوْنَ الْاٰمِرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَالنَّاهُوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَالْحٰفِظُوْنَ لِحُدُوْدِ اللّٰهِۗ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِيْنَ

“Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan surga yang Allah peruntukkan bagi mereka. Mereka berperang di jalan Allah sehingga mereka membunuh atau terbunuh. (Demikian ini adalah) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Al-Qur’an. Siapakah yang lebih menepati janjinya daripada Allah? Maka, bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu. Demikian itulah kemenangan yang agung. (Mereka itulah) orang-orang yang bertobat, beribadah, memuji (Allah), mengembara (demi ilmu dan agama),335) rukuk dan sujud, menyuruh berbuat makruf dan mencegah berbuat mungkar, serta memelihara hukum-hukum Allah. Sampaikan kabar gembira kepada orang-orang yang beriman.” (QS. at-Taubah: 111-112)

Kalau seandainya kami sebutkan ayat-ayat dan hadits-hadits yang berkaitan dengan bab ini maka pembahasannya akan panjang. Kami memohon ampun kepada Allah yang maha agung dari terlalu memperdalam bab ini, dan kami bukanlah termasuk dari orang-orang yang kokoh ilmunya. InsyaAllah nanti akan datang penjelasan lebih lanjut terkait masalah ini di bab Iman terhadap takdir, disana kami akan menyebutkan tingkatan-tingkatan dan mazhab-mazhab kalangan yang menyelisihi ahlussunah wal jamaah InsyaAllah Ta’ala, Allah-lah tempat meminta pertolongan dan tawakkal, tiada daya upaya dan kekuatan melainkan dengan Allah yang maha besar lagi maha agung.

PENETAPAN SIFAT MELIHAT DAN PENDENGARAN BAGI ALLAH AZZA WAJALLA

            Dia-lah yang melihat semut merayap ### di kegelapan atas batu yang keras

            Mendengar Suara yang keras dan pelan ### dengan pendengaran suara yang luas.

Pada dua bait syair ini terdapat penetapan sifat pengelihatan yang meliputi semua objek-objek terlihat bagi Allah, dan penetapan sifat pendengaran yang meliputi semua objek-objek yang terdengar bagi Allah, dua sifat ini termasuk sifat dzat Allah yang mengandung dua nama-Nya as samii’ dan al bashiir. Allah Azza wajalla berfirman:

اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُكُمْ اَنْ تُؤَدُّوا الْاَمٰنٰتِ اِلٰٓى اَهْلِهَاۙ وَاِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ اَنْ تَحْكُمُوْا بِالْعَدْلِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهٖ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ سَمِيْعًاۢ بَصِيْرًا

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada pemiliknya. Apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia, hendaklah kamu tetapkan secara adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang paling baik kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. an-Nisa: 58)

لَيْسَ كَمِثْلِهٖ شَيْءٌ ۚوَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya. Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. asy-Syura: 11)

ذٰلِكَ بِاَنَّ اللّٰهَ يُوْلِجُ الَّيْلَ فِى النَّهَارِ وَيُوْلِجُ النَّهَارَ فِى الَّيْلِ وَاَنَّ اللّٰهَ سَمِيْعٌۢ بَصِيْرٌ

“Hal itu (pertolongan Allah terjadi) karena sesungguhnya Allah memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. al-Hajj: 61)

قُلِ اللّٰهُ اَعْلَمُ بِمَا لَبِثُوْا ۚ لَه غَيْبُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ اَبْصِرْ بِه وَاَسْمِعْۗ مَا لَهُمْ مِّنْ دُوْنِه مِنْ وَّلِيٍّۗ وَلَا يُشْرِكُ فِيْ حُكْمِه اَحَدًا 

“Katakanlah, Allah lebih mengetahui berapa lamanya mereka tinggal (di gua). Milik-Nya semua yang tersembunyi di langit dan di bumi. Alangkah terang penglihatan-Nya dan alangkah tajam pendengaran-Nya. Tidak ada seorang pelindung pun bagi mereka selain Dia dan Dia tidak mengambil seorang pun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan keputusan.” (QS. Al Kahfi: 26)

            Ibnu Jarir berkata: itu bermakna kuat dalam pujian, seakan-akan dikatakan ‘alangkah Dia maha melihat, alangkah Dia maha mendengar, tafsir firman Allah tersebut adalah: sungguh Allah maha melihat semua wujud, dan sungguh Allah maha mendengar semua objek yang didengar, tidak ada sesuatu pun yang samar bagi-Nya. Kemudian Ibnu Jarir meriwayatkan dari Qatadah terkait firman Allah: {اَبْصِرْ بِه وَاَسْمِعْۗ} tidak ada yang lebih terang penglihatannya dan tajam pendengarannya dari Allah. Ibnu Zaid berkata {اَبْصِرْ بِه وَاَسْمِعْۗ} Dia melihat dan mendengar perbuatan-perbuatan mereka sesungguhnya Dia Maha mendengar lagi maha melihat[7]. Al Baghawi rahimahullah berkata: yaitu alangkah maha melihatnya Allah terhadap semua yang wujud, dan alangkah maha mendengarnya Dia terhadap semua objek yang didengar, tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari pendengaran dan penglihatan-Nya[8].  Allah Ta’ala berfirman kepada Nabi Musa dan Nabi Harun ‘alaihimas salam {اِنَّنِيْ مَعَكُمَآ اَسْمَعُ وَاَرٰى} [9] Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: Aku Mendengar do’a kalian berdua lalu Aku mengabulkannya dan aku melihat apa yang diinginkan dari kalian berdua lalu Aku mencegahnya, Aku tidaklah lalai dari kalian berdua sehingga janganlah khawatir. Allah Ta’ala juga berfirman kepada mereka berdua di tempat yang lain:

 كَلَّا ۚفَاذْهَبَا بِاٰيٰتِنَآ اِنَّا مَعَكُمْ مُّسْتَمِعُوْنَ

“Tidak (mereka tidak akan dapat membunuhmu). Maka, pergilah berdua dengan membawa ayat-ayat Kami (mukjizat). Sesungguhnya Kami menyertaimu mendengarkan (apa yang mereka katakan)” (QS. Asy Syu’ara: 15)

اَمْ يَحْسَبُوْنَ اَنَّا لَا نَسْمَعُ سِرَّهُمْ وَنَجْوٰىهُمْ ۗ بَلٰى وَرُسُلُنَا لَدَيْهِمْ يَكْتُبُوْنَ

“Ataukah mereka mengira bahwa Kami tidak mendengar rahasia dan bisikan mereka? Sebenarnya (Kami mendengar) dan utusan-utusan Kami (malaikat) mencatat di sisi mereka.” (QS. az-Zukhruf: 80)

وَقُلِ اعْمَلُوْا فَسَيَرَى اللّٰهُ عَمَلَكُمْ

“Katakanlah (Nabi Muhammad), “Bekerjalah! Maka, Allah akan melihat pekerjaanmu.” (QS. At Taubah: 105)

اَلَمْ يَعْلَمْ بِاَنَّ اللّٰهَ يَرٰىۗ

“Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat (segala perbuatannya)?” (QS. al-‘alaq: 14)

الَّذِيْ يَرٰىكَ حِيْنَ تَقُوْمُ  وَتَقَلُّبَكَ فِى السّٰجِدِيْنَ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

“(Dia) yang melihat ketika engkau berdiri (untuk salat). Dan, (melihat) perubahan gerakan badanmu di antara orang-orang yang sujud. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. asy-Syu’ara: 218-220)

لَقَدْ سَمِعَ اللّٰهُ قَوْلَ الَّذِيْنَ قَالُوْٓا اِنَّ اللّٰهَ فَقِيْرٌ وَّنَحْنُ اَغْنِيَاۤءُ ۘ سَنَكْتُبُ مَا قَالُوْا

“Sungguh, Allah benar-benar telah mendengar perkataan orang-orang (Yahudi) yang mengatakan, “Sesungguhnya Allah itu miskin dan kami kaya.” Kami akan mencatat perkataan mereka” (QS. Ali Imran: 181)

قَدْ سَمِعَ اللّٰهُ قَوْلَ الَّتِيْ تُجَادِلُكَ فِيْ زَوْجِهَا وَتَشْتَكِيْٓ اِلَى اللّٰهِ ۖوَاللّٰهُ يَسْمَعُ تَحَاوُرَكُمَاۗ اِنَّ اللّٰهَ سَمِيْعٌۢ بَصِيْرٌ

“Sungguh, Allah telah mendengar ucapan wanita yang mengajukan gugatan kepadamu (Nabi Muhammad) tentang suaminya dan mengadukan kepada Allah, padahal Allah mendengar percakapan kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (QS. al-Mujadalah: 1)

Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Segala puji bagi Allah yang pendengaran-Nya sangat luas terhadap berbagai macam suara, sungguh telah turun surah Al-Mujadalah kepada Nabi. Saat itu saya berada di pojok rumah, saya tidak mendengar apa yang kamu katakan. Maka Allah menurunkan ayat: Sungguh, Allah telah mendengar ucapan wanita yang mengajukan gugatan kepadamu (Nabi Muhammad) tentang suaminya dan mengadukan kepada Allah, padahal Allah mendengar percakapan kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (Q.S: Al Mujadalah: 1) Diriwayatkan oleh Al Bukhari di kitab tauhid secara mu’allaq, dan diriwayatkan juga oleh An Nasai, Ibnu Majah, Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim.[10]

Pada riwayat yang lain yang bersumber dari beliau juga: Mahasuci Allah yang pendengaran-Nya mencakup segala sesuatu. Sungguh, aku pernah mendengar perkataan Khaulah binti Tsa’labah ketika ia mengadu kepada Rasulullah tentang suaminya, namun aku tidak mendengar yang sebagiannya. Ia mengatakan, “Wahai Rasulullah, ia telah memakan hartaku, menghabiskan masa mudaku dan aku buka rahimku untuknya. Namun ketika umurku telah senja dan tidak bisa lagi memberi anak ia menzhiharku. Ya Allah, aku mengadu kepada-Mu, ia tetap saja begitu hingga Jibril turun dengan membawa ayat tersebut “Sungguh, Allah telah mendengar ucapan wanita yang mengajukan gugatan kepadamu (Nabi Muhammad) tentang suaminya, dan mengadukan kepada Allah, padahal Allah mendengar percakapan kamu berdua.” [Q.S: Al Mujadalah: 1] Aisyah berkata: Suaminya adalah Aus bin as Shamit.[11] Al Bukhari rahimahullah ta’ala berkata di kitab tauhid: bab firman Allah Ta’ala {وَكَانَ اللَّهُ سَمِيْعًا بَصِيْرًا} lalu menyebutkan kabar dari Aisyah tersebut secara mu’allaq.[12] Beliau juga meriwayatkan dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, Abu Musa berkata: “Pernah kami bersama Nabi dalam sebuah safar, jika kami menaiki tempat yang tinggi maka kami bertakbir, dan beliau bersabda, ‘pelan-pelanlah kalian dalam berdoa, sebab kalian tidak menyeru Dzat yang tuli dan tidak pula yang ghaib, sesungguhnya kalian menyeru Tuhan yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat dan Mahadekat’.” Kemudian beliau mendatangiku sedang aku berkata dalam hati: ‘Laa haula walaa quwwata illaa billaah (Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah)’, maka beliau berkata, “Wahai Abdullah bin Qais, ucapkanlah laa haula walaa quwwata illaa billaah, sebab bacaan itu adalah perbendaharaan surga.[13]

Dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha berkata: Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: sesungguhnya Jibril ‘alaihis salam memanggilku dan mengatakan: sesungguhnya Allah mendengar perkataan kaummu dan bantahan mereka kepadamu.[14] Dan diriwayatkan pada bab firman Allah Ta’ala

وَمَا كُنْتُمْ تَسْتَتِرُوْنَ اَنْ يَّشْهَدَ عَلَيْكُمْ سَمْعُكُمْ وَلَآ اَبْصَارُكُمْ وَلَا جُلُوْدُكُمْ وَلٰكِنْ ظَنَنْتُمْ اَنَّ اللّٰهَ لَا يَعْلَمُ كَثِيْرًا مِّمَّا تَعْمَلُوْنَ

“Kamu tidak dapat bersembunyi dari kesaksian pendengaran, penglihatan, dan kulitmu terhadapmu, bahkan kamu mengira Allah tidak mengetahui banyak tentang apa yang kamu lakukan.” (QS. Fushshilat: 22)

Dari Abdullah radhiyallahu ‘anhu: Dua orang kabilah Tsaqif dan seorang qurays, atau dua orang qurasy dan satu orang dari kabilah Tsaqif lemak perutnya terlihat banyak sekali, sementara kefakihan hati mereka sangat minim. Lalu salah seorang dari mereka berkata, ‘Apa menurutmu Allah akan mendengar apa yang kita ucapkan?’ Sedang lainnya berkata, ‘Allah mendengar jika kita mengucapkan dengan lantang, dan Dia tidak mendengar jika kita mengucapkan dengan lirih (rahasia).’ Lantas yang lainnya berkata, ‘Apabila Dia mendengar jika kita mengucapkan secara lantang, tentu Dia juga mendengar jika kita mengucapkan secara lirih! Lantas Allah menurunkan ayat

وَمَا كُنْتُمْ تَسْتَتِرُوْنَ اَنْ يَّشْهَدَ عَلَيْكُمْ سَمْعُكُمْ وَلَآ اَبْصَارُكُمْ وَلَا جُلُوْدُكُمْ وَلٰكِنْ ظَنَنْتُمْ اَنَّ اللّٰهَ لَا يَعْلَمُ كَثِيْرًا مِّمَّا تَعْمَلُوْنَ}

“Kamu tidak dapat bersembunyi dari kesaksian pendengaran, penglihatan, dan kulitmu terhadapmu, bahkan kamu mengira Allah tidak mengetahui banyak tentang apa yang kamu lakukan.” [Q.S: Fushshilat: 22][15]. Abu Dawud meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau membaca ayat ini:

 اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُكُمْ اَنْ تُؤَدُّوا الْاَمٰنٰتِ اِلٰٓى اَهْلِهَاۙ وَاِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ اَنْ تَحْكُمُوْا بِالْعَدْلِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِه ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ سَمِيْعًاۢ بَصِيْرًا

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada pemiliknya Apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia, hendaklah kamu tetapkan secara adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang paling baik kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” [Q.S: An-Nisa: 58]. Beliau berkata: Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meletakkan ibu jarinya ke telinga, sementara jari setelahnya pada mata.” Abu Hurairah melanjutkan, “Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membaca ayat tersebut seraya meletakkan kedua jarinya tersebut.” Ibnu Yunus berkata, “Al Muqri menyebutkan bahwa makna ayat: (Sesungguhnya Allah Maha Mendengar dan Maha Melihat) adalah, bahwa Allah memiliki penglihatan dan pendengaran.” Abu Daud berkata, “Ini adalah bantahan untuk orang-orang Jahmiyah.”[16] Aku (Hafizh Al-Hakami) katakan: Maksud Abu Dawud rahimahullah adalah bahwa jahmiyyah tidak menetapkan nama dan sifat yang Allah dan rasul-Nya tetapkan untuk-Nya. Jahmiyyah tidak menetapkan bahwa Allah maha mendengar lagi maha melihat, memiliki sifat pendengaran dan penglihatan, karena menurut asumsi mereka itu bentuk menghindari tasybih (menyamakan Allah) dengan para makhluk. Konsekuensinya mereka menyucikan Allah dari sifat-sifat-Nya yang sempurna yang digunakan untuk menjelaskan dzat-Nya, dan Dia lebih mengetahui terhadap dzat-Nya dan yang lain, (konsekuensinya) mereka (Jahmiyyah) menyerupakan Allah dengan patung-patung yang tidak bisa mendengar dan melihat. Allah ‘azza wa jalla berfirman terkait kekasih-Nya yaitu Al Khalil Ibrahim ‘alaihis salam ketika beliau mengajak ayahnya ke jalan Allah ‘azza wajalla:

 يٰٓاَبَتِ لِمَ تَعْبُدُ مَا لَا يَسْمَعُ وَلَا يُبْصِرُ وَلَا يُغْنِيْ عَنْكَ شَيْـًٔا

 “Wahai Bapakku, mengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat, dan tidak pula bermanfaat kepadamu sedikit pun?” [Q.S: Maryam: 42]. Jahmiyyah -semoga Allah membuat buruk mereka- telah memberikan peluang argumentasi bagi para penyembah berhala serta jawaban atas pengingkaran kekasih Allah dan seluruh rasul-rasul-Nya, maka bagi orang-orang kafir bisa menjawab: tuhan kalian juga tidak mendengar dan melihat! Maha suci Allah dari apa-apa yang perkataan orang-orang zhalim dan para pengingkar dengan ketinggian yang agung. Muktazilah berkata: Dia maha mendengar tapi tanpa sifat pendengaran, maha melihat tanpa sifat penglihatan, terkait nama-nama Allah mereka konsisten demikian, mereka menetapkan nama-nama Allah dan meniadakan sifat-sifat sempurna yang dikandung oleh nama-nama tersebut. Dalam artian lain, mereka menetapkan lafaz-lafaz tanpa menegaskan kandungan makna-maknanya. Hakikat konsep mereka ini kembali ke konsepnya jahmiyyah; keduanya sama-sama menyelisihi kitab, sunnah, nalar sehat, serta fitrah yang selamat. Dengan karunia-Nya Allah Ta’ala memberi petunjuk kepada Ahlus Sunnah untuk memahami kitab-Nya, merekapun beriman dengan sifat-sifat yang Allah tetapkan sendiri untuk-Nya, dan membenarkan apa yang Dia kabarkan, serta meniadakan penyerupaan (dengan makhluk) sebagaimana kedua konsep ini Allah kumpulkan pada firman-Nya:

 لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan. Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” [Q.S: Asy- Syuura: 11].

ILMU ALLAH

Ilmu-Nya meliputi apa yang tampak dan tersembunyi ### demikian juga dengan yang jelas dan samar.

            Diantara yang Allah tetapkan untuk-Nya dan ditetapkan juga oleh rasul-Nya adalah bahwa Dia Maha Mengetahui dengan sifat ilmu, ilmu-Nya meliputi segala sesuatu baik yang bersifat universal maupun parsial, dan itu merupakan sifat dzat-Nya, ilmu-Nya azali (tidak berawal) dengan keazalian dzat-Nya, begitupula semua sifat-sifat-Nya, Allah Ta’ala telah mengetahui semua apa yang Dia ciptakan sejak azali, serta Mengetahui semua kondisi ciptaan-Nya, rezeki, ajal, amalan-amalan mereka, kesengsaraan dan kebahagiaan mereka, siapa di antara mereka yang termasuk ahli surga dan ahli neraka, Dia Mengetahui jumlah nafas (umur) dan momen mereka, semua gerak-gerik dan diamnya mereka di mana kejadiannya, kapan dan bagaimana kejadiannya semua itu dengan ilmu dan penglihatan serta pendengaran-Nya, tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari-Nya baik pada ilmu-Nya yang ghaib maupun yang nampak, (tidak ada yang tersembunyi dari-Nya) baik sesuatu yang pelan maupun yang keras, yang luhur maupun yang remeh, tidak ada yang lewat dari ilmu-Nya walaupun seberat partikel terkecil di langit, tidak pula di bumi, di dunia dan akhirat, Allah taala berfirman:

 وَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ يَعْلَمُ مَا فِيْٓ اَنْفُسِكُمْ فَاحْذَرُوْهُ ۚوَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ حَلِيْمٌ  

“Ketahuilah bahwa Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu. Maka, takutlah kepada-Nya. Ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.” [Q.S: Al Baqarah: 235]

وَمَا تَفْعَلُوْا مِنْ خَيْرٍ يَّعْلَمْهُ اللّٰهُ

“Segala kebaikan yang kamu kerjakan (pasti) Allah mengetahuinya.” [Q.S: Al Baqarah: 197]

وَمَا تَفْعَلُوْا مِنْ خَيْرٍ فَاِنَّ اللّٰهَ بِه عَلِيْمٌ

“Kebaikan apa saja yang kamu kerjakan, sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya.” [Q.S: Al Baqarah: 215]

وَاِنْ تُبْدُوْا مَا فِيْٓ اَنْفُسِكُمْ اَوْ تُخْفُوْهُ يُحَاسِبْكُمْ بِهِ اللّٰهُ

“Jika kamu menyatakan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikannya, niscaya Allah memperhitungkannya bagimu.” [Q.S: Al Baqarah: 284]

اِنَّ اللّٰهَ لَا يَخْفٰى عَلَيْهِ شَيْءٌ فِى الْاَرْضِ وَلَا فِى السَّمَاۤءِ

“Sesungguhnya bagi Allah tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi di bumi dan tidak pula di langit.” [Q.S: Ali Imran: 5]

وَعِنْدَه مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَآ اِلَّا هُوَۗ وَيَعْلَمُ مَا فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِۗ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَّرَقَةٍ اِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِيْ ظُلُمٰتِ الْاَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَّلَا يَابِسٍ اِلَّا فِيْ كِتٰبٍ مُّبِيْنٍ

“Kunci-kunci semua yang gaib ada pada-Nya; tidak ada yang mengetahuinya selain Dia. Dia mengetahui apa yang ada di darat dan di laut. Tidak ada sehelai daun pun yang gugur yang tidak diketahui-Nya. Tidak ada sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak pula sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan (tertulis) dalam kitab yang nyata (Lauhulmahfuz).” [Q.S: Al An’am: 59]

عَلِمَ اللّٰهُ اَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُوْنَ اَنْفُسَكُمْ

“Allah mengetahui bahwa kamu tidak dapat menahan dirimu sendiri” [Q.S: Al Baqarah: 187]

وَمَا تَكُوْنُ فِيْ شَأْنٍ وَّمَا تَتْلُوْا مِنْهُ مِنْ قُرْاٰنٍ وَّلَا تَعْمَلُوْنَ مِنْ عَمَلٍ اِلَّا كُنَّا عَلَيْكُمْ شُهُوْدًا اِذْ تُفِيْضُوْنَ فِيْهِۗ وَمَا يَعْزُبُ عَنْ رَّبِّكَ مِنْ مِّثْقَالِ ذَرَّةٍ فِى الْاَرْضِ وَلَا فِى السَّمَاۤءِ وَلَآ اَصْغَرَ مِنْ ذٰلِكَ وَلَآ اَكْبَرَ اِلَّا فِيْ كِتٰبٍ مُّبِيْنٍ

“Engkau (Nabi Muhammad) tidak berada dalam suatu urusan, tidak membaca suatu ayat Al-Qur’an, dan tidak pula mengerjakan suatu pekerjaan, kecuali Kami menjadi saksi atasmu ketika kamu melakukannya. Tidak ada yang luput sedikit pun dari (pengetahuan) Tuhanmu, walaupun seberat zarah, baik di bumi maupun di langit. Tidak ada sesuatu yang lebih kecil dan yang lebih besar daripada itu, kecuali semua tercatat dalam kitab yang nyata (Lauhulmahfuz).” [Q.S: Yunus: 61]

اَلَآ اِنَّهُمْ يَثْنُوْنَ صُدُوْرَهُمْ لِيَسْتَخْفُوْا مِنْهُۗ اَلَا حِيْنَ يَسْتَغْشُوْنَ ثِيَابَهُمْ ۙيَعْلَمُ مَا يُسِرُّوْنَ وَمَا يُعْلِنُوْنَۚ اِنَّهٗ عَلِيْمٌ ۢ بِذَاتِ الصُّدُوْرِ

“Ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka menutupi (apa yang ada dalam) dada mereka untuk menyembunyikan diri dari-Nya. Ketahuilah bahwa ketika mereka menyelimuti dirinya dengan kain, Dia mengetahui apa yang mereka sembunyikan dan apa yang mereka nyatakan. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (segala) isi hati.” [Q.S: Hud: 5]

وَاللّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ

“Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” [Q.S: An Nisa: 176]

اَللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَحْمِلُ كُلُّ اُنْثٰى وَمَا تَغِيْضُ الْاَرْحَامُ وَمَا تَزْدَادُ ۗوَكُلُّ شَيْءٍ عِنْدَهٗ بِمِقْدَارٍ (8) عٰلِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ الْكَبِيْرُ الْمُتَعَالِ (9) سَوَاۤءٌ مِّنْكُمْ مَّنْ اَسَرَّ الْقَوْلَ وَمَنْ جَهَرَ بِهٖ وَمَنْ هُوَ مُسْتَخْفٍۢ بِالَّيْلِ وَسَارِبٌۢ بِالنَّهَارِ (10)

“Allah mengetahui apa yang dikandung oleh setiap perempuan dan apa yang berkurang (tidak sempurna dalam) rahim dan apa yang bertambah. Segala sesuatu ada ketentuan di sisi-Nya. (Allahlah) yang mengetahui semua yang gaib dan yang nyata. (Dia) Yang Maha Besar lagi Maha Tinggi. Sama saja (bagi Allah), siapa di antara kamu yang merahasiakan ucapan, siapa yang berterus terang dengannya, siapa yang bersembunyi pada malam hari dan siapa yang berjalan pada siang hari.” [Q.S: Ar ra’d: 8-10]

Allah berfirman terkait ucapan Nabi Syu’aib:

 وَسِعَ رَبُّنَا كُلَّ شَيْءٍ عِلْمًاۗ

“Pengetahuan Tuhan kami meliputi segala sesuatu.” [Q.S: Al A’raf: 89]

Dia juga berfirman terkait ucapan kekasih-Nya (Nabi Ibrahim):

 رَبَّنَآ اِنَّكَ تَعْلَمُ مَا نُخْفِيْ وَمَا نُعْلِنُۗ وَمَا يَخْفٰى عَلَى اللّٰهِ مِنْ شَيْءٍ فِى الْاَرْضِ وَلَا فِى السَّمَاۤءِ

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau mengetahui apa yang kami sembunyikan dan apa yang kami tampakkan. Tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi bagi Allah, baik yang ada di bumi maupun yang ada di langit.” [Q.S: Ibrahim: 38]

Dia berfirman:

 لَا جَرَمَ اَنَّ اللّٰهَ يَعْلَمُ مَا يُسِرُّوْنَ وَمَا يُعْلِنُوْنَ

“Tidak diragukan lagi bahwa Allah mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka tampakkan.” [Q.S: An Nahl: 23]

وَرَبُّكَ اَعْلَمُ بِمَنْ فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ

“Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang di langit dan di bumi.” [Q.S: Al Isra: 55]


[1] H.R al-Bukhari (2/hadits no 325) dalam kitab Adzan, pada bab zikir setelah shalat; dalam kitab Doa-doa, pada bab doa setelah shalat; dan dalam kitab Ar-Riqaq, pada bab tentang hal yang dibenci berupa banyak “katanya dan katanya” (perkataan sia-sia). Dan H.R Muslim (1/414/no. 593) dalam kitab Masjid-masjid, pada bab anjuran berzikir setelah shalat.

[2] H.R. al-Bukhari (3/hadits no 408) dalam kitab Haji, pada bab talbiyah; dan dalam kitab Pakaian, pada bab tahlil.
Dan H.R. Muslim (2/841/ hadits no. 1184) dalam kitab Haji, pada bab talbiyah, sifat dan waktunya, dari hadis Ibnu Umar رضي الله عنهما.

[3] Penulis kitab Al-Kanz menisbatkannya kepada ad-Dailami (hadits no 5097) namun saya tidak menemukannya di dalam kitab tersebut.

[4] H.R al-Bukhari (3/ hadits no 3) dalam kitab Tahajjud, pada bab tahajud di malam hari; dan dalam kitab Doa-doa, pada bab doa ketika terbangun pada malam hari. Dan Muslim (1/532-533/hadits no 769) meriwayatkannya dalam kitab Shalat Musafir, pada bab doa dalam shalat malam.

[5] Imam al-Bukhari tidak meriwayatkannya secara lengkap dari hadis Anas bin Malik, melainkan hanya sampai pada sabdanya: “di bumi yang tandus.”  Hadis Anas tersebut diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab Taubat, pada bab anjuran untuk bertaubat. Dan imam al-Bukhari meriwayatkannya secara lengkap dari hadis al-Harits bin Suwaid dalam kitab Doa-doa, pada bab tentang taubat.

[6] HR. Muslim: 4/2106, 2749 dalam kitab taubat, bab gugurnya dosa dengan istighfar.

[7] Ibnu Jarir, Jaami’ul Bayaan: 15/232

[8] Al Baghawi, Ma’aalimut Tanziil: 3/562

[9]“Sesungguhnya Aku bersama kamu berdua. Aku mendengar dan melihat.” (QS. Thaha: 46)

[10] Al Bukhari (13/373) dalam kitab tauhid, bab firman Allah ta’ala {وكان الله سميعا بصيرا}.  An-Nasai menghukuminya maushul dalam kitab nikah bab zihar (6/168), Ahmad dalam musnad (6/46). Dishahihkan oleh Hakim dalam mustadraknya (2/481) dan disetujui oleh adz dzahabi, Ibnu Majah tidak meriwayatkan dengan redaksi ini tapi dengan redaksi yang nanti akan disebutkan.

[11] Diriwayatkan oleh Ibnu Majah (1/666/2063) dalam kitab talak bab zihar. Dishahihkan oleh hakim di mustadrak (2/481) dan disetujui oleh adz dzahabi.

[12] Al Bukhari (13/373) dalam kitab tauhid, bab firman Allah ta’ala {وكان الله سميعا بصيرا}.

[13] Al Bukhari (13/373) dalam kitab tauhid, bab firman Allah ta’ala {وكان الله سميعا بصيرا}. Diriwayatkan juga oleh Muslim (4/2076/2704) di kitab dzikir dan do’a, bab sunnahnya berdzikir dengan suara yang pelan.

[14] Al Bukhari (13/373) dalam kitab tauhid, bab firman Allah ta’ala {وكان الله سميعا بصيرا}. Muslim (3/1420- 1421/1795) dalam kitab jihad, bab apa yang ditemui Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dari gangguan kaum musyrikin dan munafiqin.

[15] Al Bukhari (13/495) dalam kitab tauhid, bab firman Allah ta’ala { وَمَا كُنْتُمْ تَسْتَتِرُوْنَ اَنْ يَّشْهَدَ عَلَيْكُمْ سَمْعُكُمْ وَلَآ اَبْصَارُكُمْ وَلَا جُلُوْدُكُمْ وَلٰكِنْ ظَنَنْتُمْ اَنَّ اللّٰهَ لَا يَعْلَمُ كَثِيْرًا مِّمَّا تَعْمَلُوْنَ}. Muslim (4/2141/2775) pada sifat-sifat orang munafik.

[16] Abu Dawud (4/233/4728) pada kitab as sunnah, bab tentang kelompok jahmiyyah dan sanadnya shahih.

Terjemahan Kitab Akidahilmuislamtauhiduluw

Navigasi pos

Previous post

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recent Posts

  • Perkataan Ulama Ahlussunnah Waljama`ah Terkait Sifat “Al-`Uluw” (Kemahatinggian Allah) (Bagian 5)
  • Perkataan Ulama Ahlussunnah Waljama`ah Terkait Sifat “Al-`Uluw” (Kemahatinggian Allah) (Bagian 4)
  • INFORMASI ALAM GHAIB
  • PERTAMA – BUKTI ADANYA ALLAH SWT.
  • SYUBHAT KETIGA: PIDANA MATI ORANG MURTAD
Mei 2026
S S R K J S M
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031
« Jan    

ahli kitab (2) ahlussunnah (2) akal (4) Akidah (104) Al 'Uluw (2) Allah (5) alquran (32) budaya (4) dalil (2) evolusi (1) firqah (2) firqah najiyah (2) ghaib (2) hadits (2) hidayah (2) ibadah (3) ibnu taimiyah (4) ilmu (65) imam syafi'i (9) iman (3) islam (91) kalam (2) kenabian (4) kesesatan (2) keyakinan (1) kristologi (5) ma'rifah (2) manusia (2) meditasi (1) nubuwah (3) pengetahuan (16) perdebatan (1) rububiyah (1) sejarah (4) sunnah (4) syubhat (5) tabiin (1) tafsir (2) takdir (2) tauhid (79) taurat (3) teori (2) tsaqafah (3) uluw (2) wahyu (2)

©2026 AKIDAH.NET | WordPress Theme by SuperbThemes