Skip to content
AKIDAH.NET
AKIDAH.NET
AKIDAH.NET
AKIDAH.NET

PERTAMA – BUKTI ADANYA ALLAH SWT.

Supriyadi Yusuf Boni, 16 Januari 2026

Sumber: Kāmil al-Shuraḥ li-Ta‘zīz al-Yaqīn wa Tathbīt al-Thawābit

(Gambaran Utuh dan Menyeluruh: Mengokohkan Keyakinan & Meneguhkan Prinsip)

Penulis:  Dr. Aḥmad bin Yūsuf al-Sayyid

Penerjemah: Supriyadi Yousef Boni

Editor: Idrus Abidin

Ketika seseorang yang sedang dilanda kebimbangan bertanya: “Apa bukti adanya Allah Swt.?” Maka terlebih dahulu mesti dipastikan, bentuk bukti seperti apa yang dia inginkan untuk membuktikan keberadaan Allah Swt. Pasalnya, sebagian orang yang meragukan keberadaan al-Khaliq (sang pencipta) – apalagi yang yang jelas-jelas ingkar – mengabaikan bukti sederhana yang dekat dengan mereka, lalu mekasakan diri mencari bukti yang pelik yang malah membingungkan, bahkan terkadang mereka menetapkan syarat tertentu – agar bisa diterima sebagai bukti untuk mengetahui keberadaan Allah Swt – dengan hanya berdasar pada perasaan dan asumsi-asumsi semata, tidak berdasarkan pada metode ilmiyah yang sistematis dan parameter terukur dan objektif.

 Dalil-dalil dan bukti yang dijelaskan kepada mereka dianggap tidak berguna sama sekali selama tidak selaras dengan asumsi dan parameter yang mereka tetapkan. Persis seperti pernyataan Bani Israel kepada Nabiyullah Musa a.s. bahwa:

يٰمُوۡسٰى لَنۡ نُّؤۡمِنَ لَـكَ حَتّٰى نَرَى اللّٰهَ جَهۡرَةً

Terjemahannya: “wahai Musa, Kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan jelas,”” (Qs: al-Baqarah: 55). Mereka sudah menetapkan bahwa bukti iman itu mesti tampak terlihat oleh indera penglihatan (empiris). Sebuah standar yang mengada-ada namun tetap diwarisi terus menerus oleh generasi setelahnya di sepanjang zaman hingga saat sekarang ini.

Padahal, jika diamati, dalil dan bukti yang menyampikan kepada fakta yang pasti secara umum pada semua bidang, maka tidak hanya terbatas pada fakta yang terindera saja. Sebagai contoh; percaya bahwa orang-orang cerdas yang dicatat sejarah seperti Plato, Aristoteles, Shalahuddin al-Ayyubi pernah ada bukan karena kita pernah melihat mereka atau karena pernah beriteraksi dengan mereka secara langsung, namun hanya didasarkan pada informasi – yang merupakan salah satu sumber pengetahuan dan referensi ilmu-.

Membutktikan adanya Allah Swt itu sangat mudah, bahkan cukup sekedar lewat naluri fitrawi dan akal sehat. Sebab, keberadaan Allah Swt berdasarkan pada prinsip atau teori dasar yang sudah tertanam kuat dalam akal fikiran yang mustahil dipungkiri. Yaitu prinsip sebab akibat (hukum kausalitas). Anehnya, semua orang atheis mengguakan hukum kausalitas ini di semua sisi kehidupan mereka, namun mereka tolak pemberlakukannya dalam persoalan terkait keberadaan Allah.

Ulasan tentang keberadaan pencipta di balik semua ciptaan, adanya pelaku di balik semua perbuatan dan peristiwa; mustahil dipungkiri – secara mutlak – kecuali oleh mereka yang kehilangan akal sehat. Sebab, mustahil seseorang dapat membayangkan adanya sesuatu yang sebelumnya tiada tanpa dipicu oleh faktor lain yang sesuai dengan tingkat kerumitan dan karakter peristiwa tersebut.

Apabila akal sehat manusia mustahil mencerna adanya sebuah gambar atau lukisan seseorang yang begitu indah di atas kertas putih bersih tanpa digambar oleh pelukis di kertas tersebut, maka penolakan akal sehat terhadap adanya manusia secara tiba-tiba dan tanpa pencipta yang maha kuasa dan maha mengetahui; jauh lebih pantas dan lebih tegas.

Kemudian, gunakan hukum logika sederhana tersebut pada segala sesuatu yang ada; di mana sebelumnya pernah tiada.

Semakin presisi dan sulit sebuah ciptaan baru maka semakin kuat pula naluri dan akal manusia untuk mencari siapa sebenarnya yang pantas dan ada di balik keberadaan ciptaan yang amat pelik dan presisi tersebut. Bahkan, akal tidak hanya sekedar mengakui adanya sesuatu di balik ciptaan yang ada, namun akan meyakini bahwa sesuatu yang berada di balik ciptaan itu pasti sangat sesuai dengan tingkat kerumitan ciptaan yang baru muncul tersebut. Apabila akal sehat kita sulit membayangkan seorang anak kecil berusia delapan tahun mampu meciptakan komputer, akibat perangkat komputer yang begitu presisi dan pelik serta membutuhkan pengetahuan luas, pengalaman yang panjang, dan akal yang matang, maka kita juga pasti menolak bahwa alam yang teramat dahsyat ini diciptakan oleh zat yang bodoh dan lemah; apalagi kalau sampai menganggap alam ini tercipta dengan sendirinya, tanpa adanya pencipta sama sekali.

Betapapun persoalan ini sangat jelas dan sederhana, namun masih banyak orang yang mengabaikan bukti yang jelas ini sekalipun mengitari mereka. Mereka suka merumitkan sesuatu yang sejatinya sederhana, mempersulit sesuatu yang sebenarnya mudah, mereka meminta bukti dan dalil yang rumit bahwa Allah Swt ada. Yang mana, terkadang dalil tersebut tidak mengandung kebenaran yang diharapkan.

Saya mencatat beberapa persoalan dan sanggahan terhadap masalah yang banyak dihembuskan dalam tema ketuhanan ini dan saya simpulkan penyebab utamanya ada empat, yakni;

  1. Penyimpangan pada sumber pengetahuan dan media pembelajaran.

Maksudnya penyimpangan pada sumber pengetahuan adalah membatasi pengetahuan hanya pada sumber tunggal lalu mengabaikan sumber-sumber lainnya.

Diantara sumber utama yang mampu membantu memberikan pengetahuan adalah; akal sehat, indera – penglihatan dan peraba -, informasi yang benar, sebagaimana fitrah dan naluri dapat memberikan pengetahuan awal yang menjadi basis beragam pengetahuan baru di kemudian hari.

Contoh penyimpangan pada sumber pengetahuan; Apabila anda menyatakan kepada seorang atheis; kami mengimani Allah Swt ada berdasarkan bukti akal sehat dan juga fitrah naluriah.

Dia akan menimpali: saya hanya berdasarkan pada indera dan fakta empiris dan diuji dalam laboratorium. Karena dasar iman kepada Allah Swt tidak melewati ujian seperti itu, maka kami tidak percaya Allah Swt ada.

Bentuk ateisme seperti ini disebabkan oleh penyimpangan pada sumber pengetahuan disertai keangkuhan lalu mengabaikan kebenaran yang menuntut melawan hawa nafsu.

  • Tidak memahami dalil orang mukmin dan menyamakannya dengan sybuhat orang-orang atheis.

Sering kali orang-orang ateis meremehkan dalil orang mukimin untuk menunjukkan Allah Swt ada, mereka selewengkan dari hakikatnya sehingga difahami sebagai logical fallacy dan sekedar fanatisme dan keimanan kaku. Tentu ini tidak benar sama sekali.

Diantara contohnya adalah: menyamakan antara dasar logika fitrawi aksiomatik (semua yang ada pasti ada yang mengadakan) dengan asumsi hipotesis asumtif murahan yang dikreasikan oleh Bertrand Russell, yang menggambarkan bahwa kemungkinan adanya Tuhan seperti kemungkinan adanya kendi di angkasa yang mustahil dibenarkan atau dinafikan. Asumsi ini muncul akibat menyamakan antara sesuatu yang berbeda. Bagaimanapun, keberadaan kendi tidak punya peran sementara semua makhluk yang ada di alam ini merupakan bukti dan ciptaan Allah Swt.

  • Klaim hasil & kesimpulan yang salah karena minus relevansi.

Diantara syarat pendalilan dan penalaran adalah bahwa kesimpulan dihasilkan dari dalil melalui logika relevansi (saling terkait). Sementara penalaran dengan mengunakan dalil yang tidak saling terkait untuk sebuah kesimpulan merupakan keslahan yang sering dilakukan oleh kaum atheis dan para penggiat syubhat untuk menggugat sunnah dan prinsip yang sudan paten dan permanen.

Contohnya: menafikan keberadaan pencipta dengan berpatokan pada teori dan fakta ilmiyah untuk menafsirkan pergerakan alam. Cara berdalil dan bernalar seperti ini tidak memenuhi unsur relevani & saling keterkaitan. Sebab keberadaan fakta ilmiyah tidak mengharuskan ada atau tiadanya pihak yang mengatur alam (Allah).

  • Kesombongan dan hawa nafsu.

Akal sehat menusia pasti menolak keberadaan alam ini beserta isinya secara random dan kebetulan. Sebaliknya, meyakini keberadaan sang pencipta yang maha agung, maha mengetahui dan maha berkuasa di balik ketepatan dan kepresisian – pada ribuan bukti, baik pada diri manusia maupun pada realitas alam – adalah tuntutan fitrawi, akal sehat dan jiwa. Penolakan yang ada hanya diakibatkan oleh beragam syubhat yang dihembuskan sehingga merusak akal sehat nan lurus dan mengotori fitrah yang suci, lalu disertai dengan hawa nafsu dan kesombongan yang merintangi manusia dari sikap tunduk dan merendahkan diri di hadapan Allah Swt. Firman Allah Swt:

اِنَّ الَّذِيۡنَ يُجَادِلُوۡنَ فِىۡۤ اٰيٰتِ اللّٰهِ بِغَيۡرِ سُلۡطٰنٍ اَتٰٮهُمۡۙ اِنۡ فِىۡ صُدُوۡرِهِمۡ اِلَّا كِبۡرٌ مَّا هُمۡ بِبَالِغِيۡهِؕ فَاسۡتَعِذۡ بِاللّٰهِؕ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيۡعُ الۡبَصِيۡرُ‏

Terjemahannya: “Sesungguhnya orang-orang yang memperdebatkan ayat-ayat Allah tanpa alasan (bukti) yang sampai kepada mereka, yang ada dalam dada mereka hanyalah (keinginan akan) kebesaran yang tidak akan mereka capai, maka mintalah perlindungan kepada Allah. Sungguh, Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.” (Qs; Ghafir: 56).

KEDUA: TUJUAN PENCIPTAAN

Apabila segala sesuatu di alam ini – dimulai dari benih dalam tubuh tubuh manusia kemudian berproses kemudian berakhir pada masa yang belum terungkap hingga kini – menunjukkan bahwa kemunculannya bukan karena kebetulan, maka itu juga menunjukkan kalau ada tujuan khusus dari penciptaan tersebut dan bukan senda gurau.

Meyakini tujuan penciptaan dan bukan sekedar gurauan merupakan tuntutan lebih dari sekedar menafikan teori kebetulan dan random dalam penciptaan. Sebab menafikan kebetulan hanya diartikan bahwa ada sebab (pelaku) yang selaras di balik semua peristiwa yang terjadi. Sementara menafikan kesia-siaan adalah sebab (pencipta) memiliki hikmah, tujuan dan maksud kenapa dia menciptakan sesuatu, bukan sedang ingin bergurau.

Jika diperhatikan alam ini maka ditemukan bahwa:

  • Sangat sempurna
  • Sangat presisi
  • Sangat indah
  • Sangat serasi
  • Bergerak mengikuti aturan yang tertata dan hukum alam yang membuat para ilmuan sangat takjub dan heran melihat sangat detail dan tepat.
  • Sangat teratur dan terorganisir rapi. Misal sel dan sistem kerjanya yang mengagumkan serta informasi tentang keturunan yang dikandungnya.
  • Dan fakta-fakta lainnya yang mustahil bisa disebutkan semuanya, baik yang ada pada diri manusia maupun yang ada di alam ini.

Semua itu menunjukkan kalau penciptaan itu tidak sia-sia tanpa tujuan, sebagaimana firman Allah Swt;

لَوۡ اَرَدۡنَاۤ اَنۡ نَّـتَّخِذَ لَهۡوًا لَّا تَّخَذۡنٰهُ مِنۡ لَّدُنَّا اِنۡ كُنَّا فٰعِلِيۡنَ‏

Terjemahannya: “Seandainya Kami hendak membuat suatu permainan (istri dan anak), tentulah Kami membuatnya dari sisi Kami, jika Kami benar-benar menghendaki berbuat demikian.” (Qs; al-Anbiya: 17).

Kesempurnaan ciptaan yang sangat mengagumkan ini tidak diperlukan kalau dimaksudkan sekedar gurauan yang sia-sia. Firman Allah Swt;

اَفَحَسِبۡتُمۡ اَنَّمَا خَلَقۡنٰكُمۡ عَبَثًا وَّاَنَّكُمۡ اِلَيۡنَا لَا تُرۡجَعُوۡنَ‏ .فَتَعٰلَى اللّٰهُ الۡمَلِكُ الۡحَـقُّ​ ۚ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ رَبُّ الۡعَرۡشِ الۡـكَرِيۡمِ‏

Terjemahannya: “Maka apakah kamu mengira bahwa Kami menciptakan kamu main-main (tanpa ada maksud) dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? Maka Mahatinggi Allah, Raja yang sebenarnya; tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Tuhan (yang memiliki) Arasy yang mulia.” (Qs: al-Mukminun: 115-116).

Keberadaan tujuan dan hikmah besar sangat tampak setelah mengamati makhluk Allah Swt dan dengan berdasar pada hukum kausalitas. Hanya saja, apa tujuan besar itu? Dan bagaimana mengetahuinya?

Setelah kita meyakini sang Pencipta Yang Mahaagung dan Mahabijaksana, kemudian kita juga meyakini berdasarkan dalil dan fakta bahwa Allah mengutus para rasul dan menurunkan kitab suci untuk menjelaskan apa yang diinginkan al-Khaliq dari mereka -di mana akan dijelaskan pada bahasan selanjutnya – maka mencari jawaban atas pertanyaan di atas melalui risalah sang al-Khaliq lalu menjadikan ilmu yang diturunkan kepada para rasul-Nya sebagai panduan, merupakan konsekuensi logis, kesadaran hakiki dan sikap bijak dan arif.

Seseorang yang merenungi sejenak – dalam proses pencarian jawaban atas pertanyaan di atas – sumber yang akan menuntun dan membimbingnya maka pasti meyakini sumber di ataslah yang memuat segala pengetahuan, pondasi semua ilmu, juga meyakini bahwa sumber di ataslah yang melatari semua yang ada. Kapan dia berpaling darinya lalu mencari penggantinya maka itu pertanda kebodohan dan keangkuhan semata.

Allah Swt telah menyiapkan penanda dan alamat serta aturan bagi manusia yang menjadi panduan untuk mengetahui arah di darat, di laut dan di udara. Mereka menggunakannya dan mengikuti petunjuknya dalam kehidupan fisik mereka. Allah Swt juga telah menjadikan penanda dan panduan bagi manusia untuk menuntun mereka menemukan hakikat tujuan pengetahuan besar di balik penciptaan alam semesta ini.

Adakah petunjuk lain bagi manusia di bumi menyeramkan ini kalau jauh dari cahaya wahyu yang diturunkan Allah Swt untuk menerangi akal manusia agar jiwanya tenang?

Betapa banyak orang yang mencoba berpedoman pada akal fikirannya semata dalam lautan pencarian hakikat alam yang besar ini tanpa memperhitungkan dalil eksternal, namun gagal menemukan jawaban yang menenangkan jiwanya.

Benar, orang bisa saja melalui logika yang benar – jika lolos dari sanggahan – dapat meyakini keberadaan pencipta alam semesta ini, juga mampu mengetahui sifat-sifat yang pantas bagi-Nya, atau meyakini bahwa alam semesta tidak diciptakan sebagai gurauan, namun; apakah itu merupakan puncak dari segalanya?

Ketika kita sudah meyakini bahwa penciptaan alam semesta bukan gurauan dan kita pun yakin bahwa di balik penciptaan itu ada hikmah yang besar, lantas bagaimana cara menentukan tujuan itu secara pasti?

Setiap orang ingin mengetahui detail sang penciptanya dan pencipta segala sesuatu, dia ingin mengenal-Nya dan berkomunikasi dengan-Nya. Manusia ingin mengangungan-Nya, namun manusia juga ingin tahu bagaimana cara mengangungkan yang dia sukai? Manusia ingin memuliakan-Nya, memuji-Nya, memohon agar memulihkan keresahannya, menguatkannya dan menyinari perjalanannya.

Manusia ingin tahu dari mana dia berawal dan akan sampai ke mana ujung perjalanannya, mengetahui apa yang diinginkan sang pencipta darinya, dia memerlukan penjelasan lengkap dari Sang Mahamengetahui hakikat segala sesuatu di sekelilingnya, memudahkan dia untuk mengetahui apa di balik semua yang terindera, menyingkap semua problema yang menyesakkan akal fikirannya.

Oleh karena Allah Swt maha sempurna sifat-Nya, maka sifat bijaksana dan Rahmat-Nya menuntut untuk menjelaskan hakikat semua penciptaan kepada manusia melalui manusia pilihan yang sudah sampai pada puncak integritas, amanah dan takwa. Allah Swt memilih mereka sebagaiman dalam firman-Nya:

اَللّٰهُ اَعۡلَمُ حَيۡثُ يَجۡعَلُ رِسٰلَـتَهٗ​ ؕ

Terjemahannya: ‘Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan-Nya.” (Qs: al-An’am: 124), kemudian menguatkannya dengan dalil kebenaran risalah-Nya dan keNabian mereka.

Orang yang mengamati al-Qur’an al-Karim – yang merupakan risalah terakhir yang diturunkan Allah Swt kepada manusia – dipastikan akan menemukan banyak ayat yang mengenalkannya dengan Allah Swt, bahkan ayat termulia dalam al-Qur’an memuat tentang Allah Swt – yakni ayat al-kursi -. Demikian pula, surat teragung dalam al-Qur’an hanya memuat pujian dan pujaan kepada Allah Swt, perintah tawakkal kepada-Nya dan permohonan pertolongan dari-Nya – yakni surah al-Fatihah -, juga surah yang dikatakan Nabi Saw setara dengan sepertiga al-Qur’an – yakni surah al-ikhlash – hanya memuat tentang Allah Swt dan pengagungan kepada-Nya. Firman Allah Swt:

اَللّٰهُ الَّذِىۡ خَلَقَ سَبۡعَ سَمٰوٰتٍ وَّمِنَ الۡاَرۡضِ مِثۡلَهُنَّ ؕ يَتَنَزَّلُ الۡاَمۡرُ بَيۡنَهُنَّ لِتَعۡلَمُوۡۤا اَنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَىۡءٍ قَدِيۡرٌ وَّاَنَّ اللّٰهَ قَدۡ اَحَاطَ بِكُلِّ شَىۡءٍ عِلۡمًا‏

Terjemahannya: “Allah yang menciptakan tujuh langit dan dari (penciptaan) bumi juga serupa. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu, dan ilmu Allah benar-benar meliputi segala sesuatu.” (Qs; al-Thalaq: 12).

Risalah ilahiyah penutup ini mengenalkan manusia keagungan, kemuliaan dan kesempurnaan sang pencipta mereka, sebagaimana mengenalkan mereka bahwa kehendak mereka yang bebas merupakan objek ujian agar digiring menyembah kepada-Nya secara sukarela atau terpaksa, kemudian Allah Swt mengganjar orang yang taat dan mengadzab orang yang durhaka. Firman Allah Swt:

تَبٰرَكَ الَّذِىۡ بِيَدِهِ الۡمُلۡكُ وَهُوَ عَلٰى كُلِّ شَىۡءٍ قَدِيۡرُۙ.‏ اۨلَّذِىۡ خَلَقَ الۡمَوۡتَ وَالۡحَيٰوةَ لِيَبۡلُوَكُمۡ اَيُّكُمۡ اَحۡسَنُ عَمَلًا ؕ وَهُوَ الۡعَزِيۡزُ الۡغَفُوۡرُۙ‏

Terjemahannya: “Mahasuci Allah yang menguasai (segala) kerajaan, Dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa, Maha Pengampun.” (Qs: al-Mulku: 1-2), juga firman Allah Swt;

وَ هُوَ الَّذِىۡ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالۡاَرۡضَ فِىۡ سِتَّةِ اَ يَّامٍ وَّكَانَ عَرۡشُهٗ عَلَى الۡمَآءِ لِيَبۡلُوَكُمۡ اَيُّكُمۡ اَحۡسَنُ عَمَلًا ؕ

Terjemahannya: “Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan Arasy-Nya di atas air, agar Dia menguji siapakah diantara kamu yang lebih baik amalnya.” (Qs: Hud: 7), juga firman Allah Swt:

اِنَّهٗ يَـبۡدَؤُا الۡخَـلۡقَ ثُمَّ يُعِيۡدُهٗ لِيَجۡزِىَ الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ بِالۡقِسۡطِ​ؕ وَالَّذِيۡنَ كَفَرُوۡا لَهُمۡ شَرَابٌ مِّنۡ حَمِيۡمٍ وَّعَذَابٌ اَلِيۡمٌۢ بِمَا كَانُوۡا يَكۡفُرُوۡنَ‏

Terjemahannya: “Sesungguhnya Dialah yang memulai penciptaan makhluk kemudian mengulanginya (menghidupkannya kembali setelah berbangkit), agar Dia memberi balasan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan dengan adil. Sedangkan untuk orang-orang kafir (disediakan) minuman air yang mendidih dan siksaan yang pedih karena kekafiran mereka.” (Qs: Yunus: 4).

Allah Swt menegaskan dalam banyak ayat bahwa Allah Swt tidak membutuhkan hamba-Nya, tidak memerlukan mereka, juga bahwa siapa yang mendapat hidayah dan taat maka dia beruntung dan baik untuk dirinya sendiri, dan siapa yang sesat dan menjauh dari Allah Swt maka dia rugi dan petaka bagi dirinya sendiri.

Allah Swt juga mengingatkan bahwa rahasia di balik penciptaan mereka termasuk persoalan yang mulia berupa mampu membedakan antara yang benar dan yang salah, yang baik dan yang buruk, termasuk turunannya berupa pembagian manusia ke dalam dua kelompok besar, kemudian perseteruan abadi antara keduanya hingga tampaklah hal yang terbaik dalam alam dan hal yang terburuk pada manusia. Semua itu merupakan bukti terbesar yang menunjukkan ksempurnaan Allah Swt sebagai dzat yang dipatuhi oleh makhluk terbaik secara sukarela.

Allah Swt berfirman:

وَمَا خَلَقۡنَا السَّمَآءَ وَالۡاَرۡضَ وَمَا بَيۡنَهُمَا لٰعِبِيۡنَ‏لَوۡ اَرَدۡنَاۤ اَنۡ نَّـتَّخِذَ لَهۡوًا لَّا تَّخَذۡنٰهُ مِنۡ لَّدُنَّاۤ  ۖ اِنۡ كُنَّا فٰعِلِيۡنَ‏.بَلۡ نَـقۡذِفُ بِالۡحَـقِّ عَلَى الۡبَاطِلِ فَيَدۡمَغُهٗ فَاِذَا هُوَ زَاهِقٌ​  وَلَـكُمُ الۡوَيۡلُ مِمَّا تَصِفُوۡنَ‏

Terjemahannya: “Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan segala apa yang ada di antara keduanya dengan main-main. Seandainya Kami hendak membuat suatu permainan (istri dan anak), tentulah Kami membuatnya dari sisi Kami, jika Kami benar-benar menghendaki berbuat demikian. Sebenarnya Kami melemparkan yang hak (kebenaran) kepada yang batil (tidak benar) lalu yang hak itu menghancurkannya, maka seketika itu (yang batil) lenyap. Dan celaka kamu karena kamu menyifati (Allah dengan sifat-sifat yang tidak pantas bagi-Nya).” (Qs; al-Anbiya’: 16-18), juga berfirman:

اَفَحَسِبۡتُمۡ اَنَّمَا خَلَقۡنٰكُمۡ عَبَثًا وَّاَنَّكُمۡ اِلَيۡنَا لَا تُرۡجَعُوۡنَ‏ فَتَعٰلَى اللّٰهُ الۡمَلِكُ الۡحَـقُّ​ ۚ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ رَبُّ الۡعَرۡشِ الۡـكَرِيۡمِ‏.

Terjemahannya: “Maka apakah kamu mengira bahwa Kami menciptakan kamu main-main (tanpa ada maksud) dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? Maka Mahatinggi Allah, Raja yang sebenarnya; tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Tuhan (yang memiliki) Arasy yang mulia.” (Qs; al-Mukminun: 115-116), juga berfirman:

اَيَحۡسَبُ الۡاِنۡسَانُ اَنۡ يُّتۡرَكَ سُدًىؕ‏

Terjemahannya: “Apakah manusia mengira, dia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung-jawaban)?” (Qs: al-Qiyamah: 36), al-Syafi’I berkata: al-Suddi berkata: “yang tidak diperintah dan tidak dilarang.” Bahkan Allah Swt berfirman dengan sangat tegas:

وَمَا خَلَقۡتُ الۡجِنَّ وَالۡاِنۡسَ اِلَّا لِيَعۡبُدُوۡنِ‏

Terjemahannya: “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (Qs: al-Dzariyat: 56). Allah Swt juga berfirman:

وَلَوۡ شَآءَ رَبُّكَ لَجَـعَلَ النَّاسَ اُمَّةً وَّاحِدَةً​ وَّلَا يَزَالُوۡنَ مُخۡتَلِفِيۡنَۙ‏ .اِلَّا مَنۡ رَّحِمَ رَبُّكَ​ ؕ وَلِذٰلِكَ خَلَقَهُمۡ​ ؕ

Terjemahannya: “Dan jika Tuhanmu menghendaki, tentu Dia jadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih (pendapat), kecuali orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka.” (Qs: Hud: 118-119).

Jadi tujuan penciptaan makhluk adalah;

  • Untuk mengenal Allah Swt
  • Untuk mendekatkan diri kepada-Nya secara suka rela
  • Agar orang mukmin diganjar pahala besar
  • Untuk menciptakan kebenaran dan kebathilan sebagai ujian dan cobaan agar orang-orang terbaik terpilih lalu membuang orang-orang terburuk.
  • Untuk menampakkan bukti sifat-sifat Allah Swt berupa Mahamengetahui, Mahamencipta, Mahabijaksana, Mahaberkehendak, Mahaperkasa, Mahapenyayang dan sebagainya disertai bukti ketidakbutuhan Allah Swt kepada seluruh makhluk.
  • Ini beberapa hikmah yang tampak dan kita ketahui, namun demikian tiada seorang pun yang mampu menguasai hikmah-hikmah Allah Swt, sebab Allah Swt tidak ditanya tentang perbuatan dan Tindakan-Nya, hanya Dialah yang mengetahui hikmah-Nya sedang kita hanya berupaya untuk memahami apa yang sudah ditegaskan keapda kita. Sungguh Dia tidak membutuhkan kita, pemahaman kita dan pengabdian kita kepada-Nya.

Ketiga: Mengakui Nubuwah Dan Kebenaran Al-Qur’an

            Pola orang-orang yang menyerang nubuwah Muhammad Saw sangat beragam, syubhat yang dihembuskan untuk mendustakannya juga bermacam-macam. Mereka kerahkan effort besar selama 14 abad untuk menuding bahwa Muhammad Saw tidak pernah membawa al-Qur’an sebagai wahyu dari Allah Swt, namun hingga kini mereka gagal total.

            Setelah ilmuwan bahasa Arab sepakat mengakui dan terkagum-kagum dengan keagungan al-Qur’an dan sastrawi al-Qur’an, mereka berbeda pendapat menjawab pertanyaan: dari mana sumber al-Qur’an yang dibawa oleh Nabi Saw? Terkadang mereka menuding Nabi sebagai seorang penyihir yang diilhami oleh setan, lalu Allah jawab mereka:

هَلۡ اُنَبِّئُكُمۡ عَلٰى مَنۡ تَنَزَّلُ الشَّيٰـطِيۡنُؕ‏ .تَنَزَّلُ عَلٰى كُلِّ اَفَّاكٍ اَثِيۡمٍۙ‏

Terjemahannya: “Maukah Aku beritakan kepadamu, kepada siapa setan-setan itu turun? Mereka (setan) turun kepada setiap pendusta yang banyak berdosa,” (Qs; al-Syu’ara’: 221-222). Padahal mereka sendiri tidak pernah melihat Nabi berbohong dan berbuat dosa, sebab lisan mereka sendiri sering menceritakan kejujuran Nabi dan sikap amanahnya.

Terkadang mereka juga berkata: ada orang yang mengajarkan al-Qur’an ke Nabi. Hanya saja, mereka tidak menjumpai sastrawan dari mereka yang mampu menyusun kalimat seperti itu sehingga mereka mengklaim bahwa al-Qur’an dibuat oleh seorang pandai besi bermarga romawi yang dianggap asing di Makkah. Mereka menuding dialah yang mengajar Nabi Saw. Lalu Allah Swt sanggah mereka;

وَلَـقَدۡ نَـعۡلَمُ اَنَّهُمۡ يَقُوۡلُوۡنَ اِنَّمَا يُعَلِّمُهٗ بَشَرٌ​ لِسَانُ الَّذِىۡ يُلۡحِدُوۡنَ اِلَيۡهِ اَعۡجَمِىٌّ وَّهٰذَا لِسَانٌ عَرَبِىٌّ مُّبِيۡنٌ‏ 

Terjemahannya: “Dan sesungguhnya Kami mengetahui bahwa mereka berkata, “Sesungguhnya Alquran itu hanya diajarkan oleh seorang manusia kepadanya (Muhammad).” Bahasa orang yang mereka tuduhkan (bahwa Muhammad belajar) kepadanya adalah bahasa ‘Ajam,1 padahal ini (Alquran) adalah dalam bahasa Arab yang jelas.” (Qs: al-Nahl: 103).

Kemudian generasi kontemporer mereka berkata: Nabi Swt menjiplak isi al-Qur’an dari kitab-kitab suci sebelumnya akibat mereka temukan beberapa kemiripan antara kisah-kisah al-Qur’an dengan kisah-kisah yang tertuang dalam kitab Taurat dan Injil. Akan tetapi mereka abaikan banyak hal yang menunjukkan kegagalan dan kelemahan mereka menyanggah kebenaran.

Kemiripan sebagian kisah di dalamnya malah menguatkan kebenaran Nabi Saw dan bukan sebaliknya. Sebab, pengetahuan Nabi Saw terhadap kisah-kisah yang dimaksud hanya melalui wahyu, akibat beliau termasuk ummi yang tidak mampu membaca kitab-kitab suci sebelumnya, dan kitab-kitab tersebut belum diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, ditambah lagi dengan perilaku para pendeta yang menyembunyikan kitab-kitab tersebut agar mereka tetap difungsikan sebagai penghubung antara orang awam dengan Tuhan.

Mereka juga lupa bahwa al-Qur’an mengingkari banyak kisah-kisah yang tertuang dalam kitab Taurat dan Injil sebagaimana diketahui melalui hasil temuan para arkeolog seperti penguasa Mesir pada zaman Nabi Yusuf tidak disebut Fir’aun, padahal kitab suci sebelumnya menyebutnya demikian, lalu ditemukan fakta bahwa masa ini belum terhitung pemerintahan Fir’aun.

Bahkan al-Qur’an juga menyebutkan banyak kisah yang tidak disebutkan kitab suci sebelumnya, hingga dalam satu surah penuh, padahal al-Qur’an memuat penjelasan tegas bahwa dia membenarkan apa yang dimuat kitab sebelumnya. Jadi, adanya kemiripan pada beberapa isi itu disebutkan al-Qur’an sendiri dan bukan yang disebutkan oleh selainnya.

Terkait dengan tudingan mereka terhadap pribadi Rasulullah Saw, maka generasi awal mereka melontarkan tudingan yang kontradiktif, penuh kekacauan sekaligus menunjukkan kelemahan mereka. Mereka menuding Rasulullah Saw sebagai; penyihir, tukang ramal, gila, penyair dan orang yang diajar serta tudingan lainnya. Kemudian generasi akhir mereka menulis kita-kitab siyar dan sejarah serta kitab adab (sastra) untuk menampakkan wajah kebencian, dengki untuk menjelek-jelekkan Rasulullah Saw. Mereka mengabaikan metodogi ilmiyah atas dasar kebencian kepada Nabi, dengan cara mengabaikan informasi yang dijamin valid dan benar lalu memilih kisah yang tidak jelas jalur periwayatannya ataunyang diriayatkan oleh perawi pendusta dan tidak dikenal.

Mereka semua – generasi awal dan kontmporer – berkelit, lari dari tantangan Allah Swt dalam firman-Nya:

وَاِنۡ کُنۡتُمۡ فِىۡ رَيۡبٍ مِّمَّا نَزَّلۡنَا عَلٰى عَبۡدِنَا فَاۡتُوۡا بِسُوۡرَةٍ مِّنۡ مِّثۡلِهٖ وَادۡعُوۡا شُهَدَآءَكُمۡ مِّنۡ دُوۡنِ اللّٰهِ اِنۡ كُنۡتُمۡ صٰدِقِيۡنَ‏ .فَاِنۡ لَّمۡ تَفۡعَلُوۡا وَلَنۡ تَفۡعَلُوۡا فَاتَّقُوۡا النَّارَ الَّتِىۡ وَقُوۡدُهَا النَّاسُ وَالۡحِجَارَةُ اُعِدَّتۡ لِلۡكٰفِرِيۡنَ‏

Terjemahannya: “Dan jika kamu meragukan (Alquran) yang kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad), maka buatlah satu surah semisal dengannya dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. Jika kamu tidak mampu membuatnya, dan (pasti) tidak akan mampu, maka takutlah kamu akan api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu yang disediakan bagi orang-orang kafir.” (Qs; al-Baqarah: 23-24), juga pada firman Allah Swt;

قُلْ لَّٮِٕنِ اجۡتَمَعَتِ الۡاِنۡسُ وَالۡجِنُّ عَلٰٓى اَنۡ يَّاۡتُوۡا بِمِثۡلِ هٰذَا الۡقُرۡاٰنِ لَا يَاۡتُوۡنَ بِمِثۡلِهٖ وَلَوۡ كَانَ بَعۡضُهُمۡ لِبَعۡضٍ ظَهِيۡرًا‏ 

Terjemahannya: “Katakanlah, “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa (dengan) Alquran ini, mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya, sekali pun mereka saling membantu satu sama lain.”” (Qs; al-Isra’: 88).

Ayat ini turun di saat kaum quraisy bersiap menyatakan kekalahan dan kemenangan Nabi Saw, di mana kemampuan sastrawi masa itu dianggap paling kuat dan digemari. Banyak orang Arab selalu memantau Rasulullah Saw, bertekad untuk memeranginya dan mengalahkannya, seperti yang mereka lakukan di perang Ahzab, lantas kenapa mereka semua tertunduk menyerah di hadapan tantangan itu?

Tidakkah mengumpulkan para sastrawan untuk menyusun kitab yang serupa dengan al-Qur’an lebih mudah bagi mereka ketimbang terlibat dalam kancah perang melawan Nabi Saw?

Tidakkah ketokohan mereka – para pemuka bangsa Arab – enggan membiarkan tantangan yang digaungkan di depan khalayak ramai ketimbang harus berperang dan berupaya mengalahkan Nabi? Terutama saat divonis bahwa mereka musthail dapat memenangkan tantangan itu padahal sudah diminta untuk memperkuat barisan mereka dengan siapapun dan meminta bantuan dari siapapun.

Dr. Muhamamd Diraz menyebutkan dalam bukunya “al-Naba’u al-Azhim” uraian menarik tentang tantangan dalam surah al-Baqarah yang ditutup dengan firman Allah Swt:

فَاِنۡ لَّمۡ تَفۡعَلُوۡا وَلَنۡ تَفۡعَلُوۡا فَاتَّقُوۡا النَّارَ

Terjemahannya: “Jika kamu tidak mampu membuatnya, dan (pasti) tidak akan mampu, maka takutlah kamu akan api neraka” (Qs: al-Baqarah: 24).

Beliau mengatakan; “Cermati, sungguh provokatif; sebab Allah Swt sudah tegaskan ketetapan baku dan paten dalam firmannya: ا وَلَنۡ تَفۡعَلُوۡا (kalian pasti tidak mampu lakukan selamanya), kemudian Allah Swt ancam mereka dengan neraka, mereka disamakan dengan batu. Sungguh, semestinya lisan mereka tidak terdiam, kaku membisu membiarkan tantangan ini berlalu apalagi mereka sebagai musuh sejati, tokoh yang dihormati, serangan telah menyasar ketokohan dan kebanggaan mereka. Namun demikian, mereka gagal temukan cela menjawab tantangan itu, tiada tangga mereka gunakan menyingkirkannya. Bahkan, mereka dapati diri mereka berhadapan dengan dinding kokoh, mareka tak mampu tampil dan melawan hingga mereka putus asa dan meragukan kemampuan mereka serta meyakini kelemahan mereka. Makanya jawaban terbaik mereka adalah memilih jalan kematian, menggunakan pedang menutupi malu karena lemah lisan. Cara yang umumnya dgunakan orang yang kalah dalil dan lemah argumen, serta orang yang tidak mampu melawan menggunakan Qalam dan lisan.

Tantang al-Qur’an terus berlanjut untuk menguji kemampuan siapapun, termasuk masa di mana jumlah manusia makin banyak beserta percampuran nasab, namun lisan Arab mereka belum keliru, kemampuan bahasa masih terjaga, dan diantara mereka ada juga yang andai dia sanggup menutupi kelemhan generasi awalnya niscaya dia akan lakukan. Akan tetapi, mereka tetap dipaksa kalah dan merunduk, merasakan kegagalan seperti yang dialami pendahulu mereka.

Kemudian masa itupun berlalu, dan bahasa ini diwarisi oleh generasi berikutnya, namun ternyata generasi baru jauh lebih lemah, juga lemah semangat dan minta menerima tantangan itu, sehingga cerita mereka menambah kegagalan generasi sebelum mereka dan dicatat dalam sejarah….. begitulah kondisi menusia terhadap tantangan al-Qur’an hingga kini dan sampai Allah Swt hanguskan bumi beserta segala isinya.[1]

Tantang al-Qur’an ini terus berlaku selama langit dan bumi masih ada. Siapa yang meragukan al-Qur’an maka medan ini terbuka untuknya, dia bisa buang lembarannya dan mengumumkan akan mendatangkan yang semisalnya. Jika dia tidak sanggup dan pasti tak akan sanggup maka hendaklah dia jaga dirinya dari neraka dan karena sungguh ancaman itu benar adanya.


[1] Kitab al-Naba’u al-Azhim, Muhammad Diraz, cetakan Dar al-Thaybah, h. 105-106

Terjemahan Kitab AkidahAllahalquranilmuislam

Navigasi pos

Previous post
Next post

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recent Posts

  • INFORMASI ALAM GHAIB
  • PERTAMA – BUKTI ADANYA ALLAH SWT.
  • SYUBHAT KETIGA: PIDANA MATI ORANG MURTAD
  • PASAL VI – SYUBHAT DAN BANTAHAN
  • BAHASAN KELIMA – MENGABAIKAN PERKEMBANGAN SEMANTIK
Februari 2026
S S R K J S M
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
232425262728  
« Jan    

ahli kitab (2) ahlussunnah (2) akal (4) Akidah (102) Al 'Uluw (2) Allah (5) alquran (32) budaya (4) dalil (2) evolusi (1) firqah (2) firqah najiyah (2) ghaib (2) hadits (2) hidayah (2) ibadah (3) ibnu taimiyah (4) ilmu (64) imam syafi'i (9) iman (3) islam (89) kalam (2) kenabian (4) kesesatan (2) kitab (1) kristologi (5) ma'rifah (2) manusia (2) meditasi (1) nubuwah (3) pengetahuan (15) perdebatan (1) rububiyah (1) sejarah (4) sunnah (4) syubhat (5) tabiin (1) tafsir (2) takdir (2) tauhid (77) taurat (3) teori (2) tsaqafah (3) uluw (1) wahyu (2)

©2026 AKIDAH.NET | WordPress Theme by SuperbThemes