Skip to content
AKIDAH.NET
AKIDAH.NET
AKIDAH.NET
AKIDAH.NET

PEMBAHASAN KETIGA: INDERA

Supriyadi Yusuf Boni, 13 November 2025

Sumber: al-Tiryaq: Nahwa Mualajah Ta’shiliyah li al-Syubuhat al-Fikriyah

(Tameng: Upaya Mengatasi Syubhat Pemikiran)

Penulis:  Dr. Mutlaq Jasir Mutlaq al-Jasir

Penerjemah: Supriyadi Yousef Boni

Editor: Idrus Abidin

Indera termasuk sumber pengetahuan yang diakui dalam syariat Islam. Sekalipun telah jelas diakui, namun masih saja ada orang yang menentang kandungan indera seperti mata, pendengaran dan penglihatan. Dia berkata: sekalipun saya lihat sesuatu dengan mata kepalaku saya tetap tidak yakin sesuatu itu ada, atau saya memegangnya dengan tanganku, saya juga tidak percaya sesuatu itu ada. Sungguh sebuah kelucuan yang bodoh.

Yang benar adalah bahwa Indera termasuk sumber pengetahuan. Allah Swt menganjurkan untuk memanfaatkan indera melalui kegiatan berfikir dan mengambil pelajaran seraya mengecam orang kafir. Firman Allah Swt:

لَهُمۡ قُلُوۡبٌ لَّا يَفۡقَهُوۡنَ بِهَا وَلَهُمۡ اَعۡيُنٌ لَّا يُبۡصِرُوۡنَ بِهَا وَلَهُمۡ اٰذَانٌ لَّا يَسۡمَعُوۡنَ بِهَا ؕ اُولٰۤٮِٕكَ كَالۡاَنۡعَامِ بَلۡ هُمۡ اَضَلُّ​ ؕ

Terjemahannya: “Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka memiliki mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi.” (Qs; al-A’raf: 179).

Artinya, orang yang tidak memanfaatkan inderanya untuk mengetahu kebenaran maka diserupakan dengan binatang karena dia juga melihat dan mendengar namun tidak faham dan tidak mengerti. Allah Swt juga berfirman:

وَاللّٰهُ اَخۡرَجَكُمۡ مِّنۡۢ بُطُوۡنِ اُمَّهٰتِكُمۡ لَا تَعۡلَمُوۡنَ شَيۡـــًٔا ۙ وَّ جَعَلَ لَـكُمُ السَّمۡعَ وَالۡاَبۡصٰرَ وَالۡاَفۡـِٕدَةَ​ ۙ لَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُوۡنَ‏ 

Terjemahannya: “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui apa pun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan dan hati nurani, agar kamu bersyukur.” (Qs: al-Nahl: 78).

Jadi, indera dan pengalaman merupakan sumber pengetahuan yang diakui. Hanya saja, Islam mendudukkannya secara tepat dan proporsional, tidak berlebihan dan tidak pula meremehkan, bahkan Indera bisa menjadi dalil akan keesaan Allah Swt. Imam Muhammad bin Jarir al-Thabari berkata: “Diantara perkataanku dan perkataan semua muwahhid (orang bertauhid)[1] bahwa semua yang diindera yang dijangkau oleh indera penciptaan di dunia merupakan dalil kuat akan keesaan Allah Swt, juga atas nama-nama-Nya, sifat-Nya dan keadilan-Nya. Setiap dalil yang menunjukkan hal itu maka ia merupakan dalil yang disepakati ulama, tidak diperselisihkan, digunakan dengan baik dan tidak diabaikan.”[2]

Perlu diketahui bahwa jangkau indera sangat terbatas, ia tidak mampu menjangkau segala sesuatu. Pendengaran terbatas, penglihatan terbatas dan semua perangkat pengetahuan manusia terbatas, ia tidak bersifat mutlak dan tanpa batas.

Jika telah diyakini maka jelaslah letak kesalahan sebagian orang yang menolak ayat Allah Swt atau hadits nabi karena mengklaim kandungannya tidak dijangkau oleh inderanya. Sebab, tidak tahu bukan berarti pasti tidak ada, dan tidak dijangkaunya sesuatu bukan berarti dia tidak ada. Maksudnya; jika anda tidak melihat sesuatu dengan mata kepala dan tidak pula dijangkau oleh indera anda, bukan berarti sesuatu yang dimaksud tidak ada, anda juga tidak berhak menetapkan bahwa sesuatu itu tidak ada. Contohnya, orang yang mengingkari nash-nash syariat tentang adzab kubur hanya karena inderanya tidak menjangkaunya.

Dari sini, tampak jelas betapa pentingnya saling melengkapi antara semua sumber pengetahuan. Sesuatu yang tidak dijangkau oleh indera maka dapat diketahui melalui informasi yang benar, atau melalui akal. Dan sama sekali seseorang tidak bisa mengingkari keberadaannya.

Berikut ini saya sebutkan contohnya secara praktis:

Coba perhatikan gambar di atas ini di mana yang tampak hanya sebatang paku. Jika ada informasi yang benar dari sumber yang terpercaya bahwa di ujung paku itu ada sehelai rambut dan makhluk hidup yang beragam, maka bagaimana menyikapi informasi tersebut?

Jika mengikuti metode yang benar dalam menggunakan sumber pengetahuan maka pasti informasi itu dibenarkan dan dipercaya. Sebab, makhluk-makhluk yang diinformasikan di luar jangkauan indera, sementara diyakini bahwa itu bukan berarti makhluk yang dimaksud tidak ada. Makanya informasi yang benar pasti diterima dan dipercaya apalagi sumbernya terpercaya.

Namun jika terdapat kesalahan parsial dalam menggunakan sumber pengetahuan maka informasi tentang makhluk yang dimaksud tidak diterima dan dipercaya karena tidak dijangkau oleh indera.

Kemudian ketika sesuatu yang sebelumnya tidak terlihat oleh mata, lalu tersingkap setelah menggunakan mikroskop seperti pada gambar berikutnya maka pasti sikap sebelumnya diakui salah ketika mengingkari kenyataan.

Kita dituntut untuk sadari dan akui kesanggupan kita dan keterbatasan jangkauan pengetahuan kita. Jadi, jika kita diberi informasi dari Allah Swt yang maha mengetahui segala sesuatu atau dari Rasulullah Saw yang diperkenankan Allah Swt untuk menjangkau persoalan-persoalan metafisika yang ditentukan Allah Swt, namun indera kita tidak sanggup menjangkaunya maka berdasarkan logika sehat, kita tidak boleh mengingkarinya dan tidak boleh membantahnya menurut syariat.

Diantaranya adalah hadits tentang matahari sujud yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dalam kitab Shahihain dari Abu Dzar, ia berkata: nabi berkata kepada Abu Dzar ketika matahari terbenam: apakah engkau tahu ke mana matahari? Saya jawab: hanya Allah dan Rasul-Nya yang tahu. Beliau bersabda: “Dia pergi untuk bersujud di bawah Arsy, dia meminta izin lalu diizinkan hingga hampir bersujud. Namun tidak diterima, dia kembali minta izin namun tidak diizinkan lalu dikatakan kepadanya: kembalilah engkau dari tempat asalmu, lalu dia terbit di tempatnya terbenam. Itulah firman Allah Swt:

وَالشَّمۡسُ تَجۡرِىۡ لِمُسۡتَقَرٍّ لَّهَا ​ ذٰلِكَ تَقۡدِيۡرُ الۡعَزِيۡزِ الۡعَلِيۡمِؕ‏

Terjemahannya: ‘dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan (Allah) Yang Mahaperkasa, Maha Mengetahui.” (Qs; Yasin: 38).[3]

Hadits ini ditentang sebagian orang dengan alasan bahwa bumi ini bentuknya bulat, dan kita tidak menyaksikan matahari bersujud di sini atau di sana. Saya jawab dengan tegas bahwa:

Pertama, semua orang muslim tahu kalau bentuk bumi bulat, ulama kaum muslimin sudah menyatakannya sejak lebih dari 1000 tahun silam.

Syaikhul Islam Ibnu taimiyah menukil dari Abu al-Husain bin al-Munadi (W. 336 H) bahwa beliau menukil ijma ulama, lalu beliau berkata: “Imam Abu al-Husain Ahmad bin Ja’far bin al-Munadi merupakan salah satu sosok ulama terkenal yang mengetahui atsar dan tulisan besar dalam disiplin ilmu-ilmu agama di generasi kedua dari kalangan sahabat imam Ahmad bahwa: Ulama tidak berbeda pendapat bahwa langit itu seperti bola, ia berputar bersama semua planet seperti berputarnya bola pada dua kutub yang tegak tidak bergerak; yang satu di bagian utara dan yang lain di bagian Selatan. Beliau berkata: di antara bukti bahwa semua planet berputar dari bagian timur dengan satu urutan pada ritme yang satu dan jarak antara bahagiannya sampai ke pertengahan langit kemudian dia turun dari urutan itu seolah tegak di bulatan yang memutar semuanya dengan satu putaran. Dia berkata: demikian pula mereka berijma’ bahwa bumi dengan segala gerakannya dari daratan ke laut seperti bola.”[4]

Imam Abu Muihammad bin Hazm (W. 456 H) berkata: “Seseorang dari para imam kaum muslimin yang disebut ulama tidak mengingkari bulatnya bumi, tiada pernah ada pernyata seorang pun dari mereka yang menolaknya. Bahkan bukti-bukti dari al-Qur’an dan sunnah menunjukkan kalau bumi bulat. Firman Allah Swt:

يُكَوِّرُ الَّيۡلَ عَلَى النَّهَارِ وَيُكَوِّرُ النَّهَارَ عَلَى الَّيۡلِ

Terjemahannya: “Dia memasukkan malam atas siang dan memasukkan siang atas malam” (Qs: al-Zumar: 5). Ayat ini sangat tegas menyatakan bahwa bumi itu memutar bahagian-bahagiannya. Kata itu diambil dari kata kawara al-imamah yang artinya diputar. Ayat ini tegas menyatakan bumi diputar dan matahari berputar juga yang menghadirkan cahaya di siang hari dan gelap di malam hari, yakni ayat tentang siang dalam firman-Nya:

وَجَعَلۡنَاۤ اٰيَةَ النَّهَارِ مُبۡصِرَةً

Terjemahannya: “dan Kami jadikan tanda siang itu terang benderang,” (Qs; al-Isra’: 12).”[5]

Jadi, bumi bulat sudah diketahui ulama kaum muslimin sejak dahulu.

Kedua, bahwa Nabi Saw mengabarkan bahwa matahari bersujud, namun beliau tidak kabari cara sujudnya. Allah Swt sendiri kabarkan bahwa semua makhluk juga bersujud, firman Allah Swt:

اَلَمۡ تَرَ اَنَّ اللّٰهَ يَسۡجُدُ لَهٗ مَنۡ فِى السَّمٰوٰتِ وَمَنۡ فِى الۡاَرۡضِ وَالشَّمۡسُ وَالۡقَمَرُ وَالنُّجُوۡمُ وَ الۡجِبَالُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَآبُّ وَكَثِيۡرٌ مِّنَ النَّاسِ​ ؕ وَكَثِيۡرٌ حَقَّ عَلَيۡهِ الۡعَذَابُ

Terjemahannnya: “Tidakkah engkau tahu bahwa siapa yang ada di langit dan siapa yang ada di bumi bersujud kepada Allah, juga matahari, bulan, bintang, gunung-gunung, pohon-pohon, hewan-hewan yang melata dan banyak di antara manusia? Tetapi banyak (manusia) yang pantas mendapatkan azab.” (Qs: al-Hajj: 18). Tiada seorang pun yang tahu bagaimana sujudnya, kapan dilakukan dan hakikatnya kecuali Allah Swt. Demikian pulalah sujudnya matahari, tidak berbeda dengan sujud yang disebutkan dalam ayat, kita percaya lalu serahkan cara sujudnya kepada Allah Swt. Tidak ada yang dapat diingkari dari informasi tersebut.

Imam al-Khattabi berkata: “Tidak dipungkiri bahwa ada tempatnya di bawah Arsy namun kita tidak tahu dan tidak lihat. Hanya saja, kita terima informasi ghaib ini maka kita tidak dustai, tidak pula mereka-reka caranya, karena ilmu kita tidak dapat menjangkaunya.”[6]

Ketiga, sujudnya matahari tidak mesti harus sama dengan sujudnya manusia yang menempelkan dahi ke tanah. Bisa saja sujudnya matahari itu dapat berbentuk ketundukannya kepada sang pencipta dan patuh terhadap perintah-Nya. Bentuk ini merupakan makna sujud secara umum bagi segala sesuatu yang diciptakan Allah Swt., sebagaiman disebutkan dalam surah al-Hajj sebelumnya di mana semua makhluk ciptaan Allah Swt bersujud kepada-Nya, bertasbih dan memuji Allah Swt.

Keempat, sujudnya matahari tidak mengharuskan ia untuk berhenti berputar, berbeda dengan manusia. Imam al-Hafizh Ibnu Hajar berkata: “Sujudnya matahari setiap malam di bawah Arsy tidak menghalanginya dari berputar pada porosnya. Saya tegaskan bahwa zhahir hadits menandakan bahwa yang dimaksud dengan tinggal adalah tempatnya bersujud setiap hari dan setiap malam bersamaan dengan perputarannya yang terus berjalan yang disimbolkan dengan kata al-jaryu (berlari). Wallahu a’lam.”[7]

Jadi, sujud itu adalah ibadah, lalu Allah Swt memerintahkan makhluk untuk beribadah dengan cara yang sesuai bentuk, sifat dan tabiatnya. Cara beribadah yang menunduk dan turun untuk manusia, berbeda dengan cara beribadah makhluk Allah Swt lainnya. Namun ibadah mereka masih dalam cakupan makna sujud yang artinya tunduk kepada Allah Swt secara suka rela atau dengan terpaksa.

Jika empat point ini difahami maka apa yang dipersoalkan seputar hadits ini bisa teratasi. Empat poin ini juga dapat mengatasi semua yang dipersoalkan pada hadits-hadits serupa yang memuat tentang jangkauan Indera yang terbatas. Jika dijumpai orang yang menyanggahnya maka dapat disikapi dengan cara yang tertuang dalam diagram berikut ini:

Pembahasan Keempat: Khabar (Informasi)

Informasi yang didengar seseorang yang bisa dia percaya, apakah sesuatu terjadi atau tidak merupakan salah satu sumber pengetahuan yang diakui. Hanya orang sombong yang menentangnya. Informasi tentang sesuatu lumrah kita dengar dalam kehidupan keseharian. Informasi akan memberikan pengetahuan di luar jangkauan Indera, juga di luar dari jangkauan akal.

Imam al-Syathibi menyebutkan beberapa jenis pengetahuan dengan berkata: “Ada jenis yang tidak bisa diketahui sama sekali, kecuali diberitahu atau tidak diketahui jalan untuk mengetahuinya, seperti pengetahuan tentang persoalan ghaib, dia termasuk perkara yang bisa diketahui dan tidak, seperti mengetahui apa yang berada di bawah tapak kaki, utamanya yang tertimbun sedalam satu jengkal, juga mengetahui tempat yang jauh darinya yang belum pernah dia kunjungi, apalagi tentang apa yang ada di langit, apa yang ada di dasar laut, apa yang ada di syurga, di neraka secara detail. Jadi mengetahui sesuatu yang tidak dijangkau olehnya adalah sesuatu yang tidak mungkin terjadi.”[8]

Akan tetapi Islam mengakomodir informasi yang benar namun bukan semua informasi diakui sebagai sumber pengetahuan. Diantara informasi yang benar dan diakui sebagai sumber pengetahuan adalah informasi ilahiyah, maksudnya informasi yang diwahyukan Allah Swt kepada para nabi dan rasul seperti dalam firman Allah Swt:

وَاُوۡحِىَ اِلَىَّ هٰذَا الۡـقُرۡاٰنُ لِاُنۡذِرَكُمۡ بِهٖ

Terjemahannya: “Alquran ini diwahyukan kepadaku agar dengan itu aku memberi peringatan kepadamu” (Qs: al-An’am: 19). Yakni media untuk menyampaikan risalah-Nya kepada rasul-Nya yang kemudian diperintahkan untuk disampaikan kepada manusia. Firman Allah Swt:

اِنَّاۤ اَوۡحَيۡنَاۤ اِلَيۡكَ كَمَاۤ اَوۡحَيۡنَاۤ اِلٰى نُوۡحٍ وَّالنَّبِيّٖنَ مِنۡۢ بَعۡدِهٖ​ ۚ

Terjemahannya: “Sesungguhnya Kami mewahyukan kepadamu (Muhammad) sebagaimana Kami telah mewahyukan kepada Nuh, dan Nabi-nabi setelahnya,” (Qs: al-Nisa’: 163)

Apabila seseorang dapat mengatasi keraguan lalu mengimani keberadaan Allah Swt, rububiyah dan uluhiyah-Nya kemudian mengimani nubuwah Muhammad Saw, maka pasti dia menerima wahyu ilahi sebagai sumber pengetahuan tertinggi baginya.

PASAL III

METODOLOGI ALIRAN PENCETUS SYUBUHAT

Bahasan sebelumnya mengulas tentang sumber pengetahuan yang dapat menjamin pengetahuan yang diperoleh sudah benar.

Namun, perlu diakui bahwa telah terjadi penyimpangan dan penyesatan terhadap sumber pengetahuan dalam catatan sejarah. Diantara manusia ada orang yang menentang kemungkinan menemukan kebenaran hakiki dan menganggap kebenaran itu relatif, yakni kaum sofistik. Ada juga yang mendewakan akal dan mendudukkannya tidak tepat dan ada lagi yang over merujuk pada indera dan science dan memosisikannya dengan cara yang salah. Penyimpangan ini, baik dari sisi mindset dan metodologi menyebabkan terjadinya kesesatan dan penyimpangan dari manhaj yang benar dan dari jalan yang lurus. Akhirnya, aliran menyimpang ini dianggap sebagai pencipta syubuhat. Selama kebathilan aliran ini dan pintunya ditutup rapat maka yakin syubhat tersebut tidak akan menelan korban, baik secara personal maupun komunal.

Aliran-aliran menyimpang yang dimaksud adalah; aliran sofistik, aliran mendewakan akal, aliran science, dan klasifikasi Islami dan tidak Islami. Penjelasan detail dan rincinya diuraikan pada halaman-halaman berikut ini:

Pembahasan Pertama: Sofistik

Semua orang berakal sehat meyakini bahwa kebenaran hakiki dapat diketahui. Namun ada sebagian orang yang meyakini bahwa kebenaran itu bersifat relatif dan tidak mungkin diketahui secara pasti dan meyakinkan. Dahulu mereka disebut kaum sofistik[9] – tokohnya seorang filosof bernama Protagoras -.[10] Aliran ini muncul di Yunani sekitar antara abad ke IV atau abad ke V sebelum Masehi.

Al-Hafizh Ibnu al-Jauzi mengatakan: “Mereka adalah sekelompok orang yang mengatribusikan diri mereka ke seorang Bernama Sufistho;[11] mereka mengklaim bahwa segala sesuatu tidak ada hakikatnya dan apa yang dianggap mustahil bisa berupa sesuatu yang terlihat dan bisa juga terhadap sesuatu yang tidak terlihat.”[12]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Disebutkan oleh sebagian kaum sofis bahwa akidah adalah segala sesuatu yang berpengaruh pada keyakinan. Mereka tidak mengakui hakikat segala sesuatu yang melekat pada dirinya yang terkadang sejalan dengan keyakinan dan terkadang tidak selaras. Bahkan kebenaran terdapat pada segala sesuatu yang diyakini seseorang. Jadi, kebenaran tergantung pada keyakinan. Pernyataan seperti ini mustahil dinyatakan oleh orang yang berakal sehat, ini hanya dihikayatkan bahwa kaum sofistik mengingkari kebenaran, mereka tidak mengakui kebenaran dan tidak pula mengetahui kebenaran itu.”[13]

Dr. Ali Sami al-Nasyyar berkata: “Teori relatifitas dikemukakan oleh Protagoras al-Safsatha’i katika membantah prinsip-prinsip pengetahuan: “Manusia adalah parameter keberadaan sesuatu yang ada dan parameter keberadaan sesuatu yang tiada.” Lalu kegamangan ini mereka berlakukan dalam memandang sebuah entitas dan seputar ilmu. Jadi, hakikat ilmu itu dipandang tidak valid dan berlanjut, bahkan segala sesuatu – seperti dikatakan Heraclius – selalu berubah secara terus menerus.”[14]

Mereka yang meyakini mustahil menemukan hakikat sesuatu secara pasti dan meyakinkan bahkan segalanya dianggap tiada terbagi ke dalam tiga kategori, yakni;

Pertama, al-La ‘Adriyah (Agnostisisme); mereka dinamai seperti itu karena selalu berkata la adri (saya tidak tahu) dan saya tidak pastikan keberadaan sesuatu dan tidak pula ketiadaannya. Kita menyikapinya secara netral atau diam.

Kedua, al-Inadiyah (Dogmatis-ateistik): dinisbahkan ke sikap al-inad (penentangan) akibat mereka menentang dan menafikan kebenaran secara mutlak.

Ketiga, al-Indiyah (Relativisme): dinisbahkan ke kata ‘indi karena mereka berkata; hukum segala sesuatu mengikuti keyakinan manusia, maka semua yang diyakini manusia maka hakikat sesuatu itu seperti yang dia yakini itu.”[15]

Ibnu Hazm membantah semua kelompok itu kala memulai membantah kaum al-inadiyah bahwa: “cukuplah sanggahan untuk mereka dengan berkata bahwa: pernyataan kalian bahwa tiada hakikat bagi segala sesuatu, benar atau bathil? Jika mereka menjawab: benar, maka mereka sejatinya sudah mengakui hakikat dan kebenaran sesuatu. Jika mereka jawab; tidak dan bukan kebenaran, berarti mereka telah mematahkan pernyataan mereka sendiri dan akhirnya mereka melawan diri mereka sendiri.”[16]

Kemudian beliau membantah kaum al-laadriyah dengan berkata: “Dikatakan kepada peragu dari kalangan mereka bahwa: apakah karaguan kalian itu benar ada dan dari kalian? Atau tidak benar dan sesungguhnya tidak ada? Jika mereka jawab: dia ada dan dari kami, maka mereka sudah mengakui hakikat dan kebenaran sesuatu. Jika mereka jawab: tidak benar ada maka mereka sudah menafikan keraguan mereka sendiri, dan penafian terhadap keraguan berarti mengakui kebenaran atau meyakini kebathilan terkait keraguan itu.”[17]

Sementara bantahan terhadap kaum al-Indiyah yang meyakini realtifitas kebenaran bahwa: “Sesuatu tidak dikatakan benar hanya karena diyakini benar oleh orang yang menyakininya benar, sebagaimana sesuatu tidak dikatakan bathil hanya karena diyakini bathil oleh orang yang meyakininya bathil. Sesuatu dikatakan benar karena dia ada dan valid, sama saja diyakini benar atau diyakini bathil. Andai bukan begini cara mengukurnya maka sesuatu itu bisa dikatakan ada dan tiada dalam waktu bersamaan, dan itu mustahil terjadi.”[18]

Berikut ini diagram sanggahan yang memperjelas bantahan Ibnu Hazm terhadap kaum Sofistik.

Di antara cerita lucu yang dikisahkan bahwa salah seorang pembesar aliran sofistik Bernama Beirun meragukan segala sesuatu hingga diberi nama Beirun al-Syakkak. Disebutkan, suatu ketika dia pernah menyeberang jalan, lalu tetiba  dia melihat sebuah gerobak ditarik seekor kuda di kejauhan sedang mendekat lalu dia memandanginya seraya berkata: “tampaknya seperti gerobak, namun bagaimana caranya sehingga saya pastikan bahwa inderaku tidak membohongiku? Dalam kondisi seperti itu tiba-tiba gerobak menabraknya dan terjatuh ke tanah.”[19]

Khawatirnya, orang yang meniti metode berfikir seperti ini akan sampai pada kesimpulan al-adamiyah (semuanya dianggap tiada). Artinya, mereka menganggap bahwa alam beserta isinya termasuk manusia tidak memiliki nilai, kosong isi dan tiada makna hakikinya. Satu madzhab yang menafikan keberadaan hakikat moralitas dan bentuk nilai.”[20]

Dr. Abdul Razzaq Balaqruz berkata: “Ada relasi kuat antara aliran relatifitas pengetahuan dengan penyebaran faham ketiadaan dalam ruang moralitas. Orang yang tidak membangun pondasi perilakunya berdasarkan pengetahuan global dan final yang menegaskan motif dan tujuan, lalu ditambah dengan validitas, maka perilakunya akan nihil nilai dan akan diombang-ambingkan oleh goncangan jiwa, psikologis, sosial yang hilang integrasi antara fikiran dan perilaku. Sebab, siapa yang hilang kesanggupan untuk menanjak maka dia akan dipaksa turun oleh gravitasi bumi.”[21]

Relatifitas kebenaran adalah problem besar, sebab tidak dibangun atas dasar realitas yang disepakati seluruh manusia, bahkan menuntun manusia pada jurang kehancuran. Pasalnya, setiap orang tidak berhak mencegah orang lain melakukan kesalahan atau menghindarkannya dari kesesatan. Sebab semua persoalan bersifat relatif. Artinya, sesuatu yang dianggap salah oleh seseorang belum tentu salah juga bagi orang lain. Sikap ini akan memantik banyak problematika besar yang tak berkesudahan.

Namun demikian, tidak dibenarkan berputus asa melawan pola berfikir seperti ini. Ibnu al-Jauzi menukil dari Ibnu Aqil al-Hanbali berkata: “Sebagian orang menyatakan, bagaimana kita nasehati mereka itu? Sementara cara paling kuat dalam berdebat adalah mengantar logika untuk diolah oleh Indera, menetapkan persoalan ghaib dengan realitas yang terlihat, sedang mereka itu tidak menerima fakta yang diindera, lantas bagaimana berdialog dengan mereka?

Beliau berkata: Pernyataan seperti ini penanda sempit dada dan kurang sabar. Tidak sepantasnya kita berputus asa menasehati mereka itu. Sebab, problem yang menerpa mereka hanya sebatas waswas dan tidak pantas kita persempit ruang nasehat untuk mereka. Sebab, mereka adalah sekelompok orang yang diterpa penyimpangan fikiran. Perumpamaan kita dengan mereka seperti orang yang dikarunia seorang anak yang juling, di mana dia melihat bulan seolah berjumlah dua hingga dia yakin kalau ada dua bulan di langit sana. Kemudian ayahnya berkata: bulan itu cuma satu, hanya saja matamu bermasalah. Coba tutup matamu yang juling itu lalu pandangi. Setelah dia lakukan, dia berucap: saya melihat hanya satu bulan setelah tutup satu mataku sehingga bulan yang satu ikut menghilang. Lantas muncul syubhat kedua dari pernyataannya itu, kemudian ditimpali oleh ayahnya; jika betul seperti yang engkau katakan, coba tutup matamu yang sehat (tidak juling), lalu dia lakukan lagi dan akhirnya betul, dia melihat dua bulan lagi, namun setelahnya barulah dia tahu perkataan ayahnya benar.”[22]


[1] Artinya apa yang saya katakana dan saya Yakini juga yang dikatakan dan diyakini selainku.

[2] Al-Tabshir fi Ma’alim al-Din karya Ibnu Jarir al-Thabari, h. 132

[3] Muttafaqun Alaihi, al-Bukhari (3199) dan Muslim (159).

[4] Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah, 25/195

[5] Al-Fashlu fi al-Milal wa al-Ahwa’ wa al-Nihal, karya Ibnu Hazm, 2/78

[6] A’lamu al-Hadits Syarhu Shahih al-Bukhari karya al-Khattabi, 3/1893

[7] Fathu al-Bari karya Ibnu Hajar, 8/542

[8] Al-I’tisham, karya al-Syathibi, 3/283

[9] Dr. al-Thayyib Boughuzah dalam bukunya Difa’an an al-Shufisthaiyyin” berkata bahwa tidak ada aliran yang bernama sofistik, dia membantah informasi yang tersebar tentang pengikut sofistik yang dikatkan pencipta keraguan dengan mempermainkan kata-kata.

Saya tegaskan; tidak perlu memperdebatkan istilah, sebab aliran berfikir ini yang menyatakan kebenaran bersifat relatif diyakini adanya. Sama saja apakah dinamai sofistik atau bukan. Walaupun ditemukan nama ini banyak disebutkan dalam kitab-kitab ulama kaum muslimin.

[10] Protogoras (480 SM – 410 SM) adalah seorang filosof Yunani yang dilahirkan di daerah Abdera. Dia mengelilingi Italia Selatan dan Yunani untuk menyampaikan ceramah. Kemudian dia mengunjungi Athena namun tidak lama menetap di sana. Sebab, dia menulis buku berjudul “al-Haqiqah” yang memuat ungkapan: “Saya tidak tahu apakah tuhan-tuhan itu ada atau tidak ada. Karena banyak hal yang merintangiku mengetahuinya dengan pasti, terkhusus karena rumitnya persoalan ketuhanan dan pendeknya usia kehidupan.” Lalu dia dituduh seorang atheis dan divonis pidana mati. Kemudian bukunya dibakar secara terang-terangan lantas dia melarikan diri, namun dia mati tenggelam dalam pelariannya. Salah satu capannya yang terkenal adalah: “Manusia adalah paramater segala sesuatu.” Lihat: Tarikh al-Falsafah al-Yunaniyah karya Yusuf Karam, ta’liq: Dr. Musthafa al-Nasysyar, h. 78-79.

[11] Disebutkan bahwa makna safsathah adalah kebijaksanaan yang dimanipulasi. Lihat Muqaddimah Tahqiq Talkhish al-Safsathah karya Abu al-Walid Ibnu Rusyd (S.J) lihat juga al-Safsathaiyah wa Atsaruha fi Madaris al-Syakk karya Dr. Abdurrahman Awaji, h. 23, al-Mu’jam al-Falsafi al-Shadir an Majma’ al-Lughah al-Arabiyah fi al-Qahirah, h. 97

[12] Talbis Iblis karya Ibnu al-Jauzi, 2/288

[13] Majmu’ al-Fatawa, 19/135

[14] Manahij al-Bahts Inda Mufakkiri al-Islam karya Dr. Ali Sami al-Nasysyar, h. 191

[15] Lihat: al-Fashlu fi al-Milali wa al-Nihal karya Ibnu hazm, 1/172

[16] Al-Fashlu Fi al-Milal wa al-Nihal karya Ibnu hazm, 1/174

[17] Al-Fashlu Fi al-Milali wa al-Nihal karya Ibnu Hazm, 1/174

[18] Al-Fashlu Fi al-Milali wa al-Nihal karya Ibnu Hazm, 1/174

[19] Al-Sufasthaiyah wa Atsaruhu fi Madaris al-Syak karya Dr. Abdurrahman Awaji, h. 88-89

[20] Lihat: Mausu’ah Andrea Laland al-Falsafiyah, h. 871

[21] Azmah al-Hadatsah wa Rahanat al-Khithab al-Islami karya Dr. Abdul Razzaq Balaqruz, h. 83

[22] Talbis Iblis, 1/291-292

Terjemahan Kitab Akidahilmuinderaislamtauhid

Navigasi pos

Previous post
Next post

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recent Posts

  • INFORMASI ALAM GHAIB
  • PERTAMA – BUKTI ADANYA ALLAH SWT.
  • SYUBHAT KETIGA: PIDANA MATI ORANG MURTAD
  • PASAL VI – SYUBHAT DAN BANTAHAN
  • BAHASAN KELIMA – MENGABAIKAN PERKEMBANGAN SEMANTIK
Februari 2026
S S R K J S M
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
232425262728  
« Jan    

ahli kitab (2) ahlussunnah (2) akal (4) Akidah (102) Al 'Uluw (2) Allah (5) alquran (32) budaya (4) dalil (2) evolusi (1) firqah (2) firqah najiyah (2) ghaib (2) hadits (2) hidayah (2) ibadah (3) ibnu taimiyah (4) ilmu (64) imam syafi'i (9) iman (3) islam (89) kalam (2) kenabian (4) kesesatan (2) kitab (1) kristologi (5) ma'rifah (2) manusia (2) meditasi (1) nubuwah (3) pengetahuan (15) perdebatan (1) rububiyah (1) sejarah (4) sunnah (4) syubhat (5) tabiin (1) tafsir (2) takdir (2) tauhid (77) taurat (3) teori (2) tsaqafah (3) uluw (1) wahyu (2)

©2026 AKIDAH.NET | WordPress Theme by SuperbThemes