PEMBAHASAN KEDUA – METODE EKSTRIM YANG MENDEWAKAN AKAL Supriyadi Yusuf Boni, 13 November 2025 Sumber: al-Tiryaq: Nahwa Mualajah Ta’shiliyah li al-Syubuhat al-Fikriyah (Tameng: Upaya Mengatasi Syubhat Pemikiran) Penulis: Dr. Mutlaq Jasir Mutlaq al-Jasir Penerjemah: Supriyadi Yousef Boni Editor: Idrus Abidin Sering kita mendengar serangan terhadap dalil-dalil syariat yang dianggap bertentangan dengan akal. Sejatinya pernyataan itu tidak dimanipulasi, karena mereka menjadikan akal bermakna tunggal. Tentu ini sikap yang salah. Sebab, kita tahu akal memiliki empat makna seperti dijelaskan sebelumnya. Prof. Abdul Jalil al-Kour berkata: “Salah satu yang perlu diperhatikan dalam hal ini, bahwa banyak diantara mereka yang mengklaim berpedoman pada akal tidak menentukan batasan yang mereka maksudkan, atau tidak menjelaskan syarat-syarat tertentu dalam merujuk pada akal. Karenanya, pernyataan mereka terlihat bias bahwa akal dapat menunjukkan sesuatu, akal tidak menerima, akal mengharuskan ini, bahkan ada yang hanya memandang akal selalu bertentangan dengan naqli (dalil syariat).[1] Penting untuk disinggung di kesempatan ini, bahwa makna akal sangat rumit dan ruwet dalam pandangan orientalis dan orang yang menamakan dirinya sebagai rasionalis. Olehnya itu, seorang tokoh orientalis Arab bernama Dr. Adil Dhamir berkata: “Makna akal berdasar entitasnya masih perlu penjelasan lebih banyak. Yang meanrik perhatian bahwa kerumitan suguhan penjelasan dan keruwetan makna akal sendiri bukan karena kapasitas akal kita lebih banyak ketimbang kapasitas akal sejawat kita di barat, sekalipun telah tertanam dalam kecenderungan rasional di barat dan dominasinya tampak sempurna dalam menata kehidupan. Namun, perbedaan tentang makna akal tetap terawat di barat. Termasuk apakah peran akal sebatas alat ukur atau fungsinya terbatas untuk menentukan sarana penting[2] untuk mewujudkan tujuan yang disepakati sebelumnya. Termasuk proposal tentang permulaan akal yang disebutkan para pemikir di masa renaissance dimasukkan sebagai sumber utama pemikiran barat sepanjang masa. Saat ini proposal itu yang menjadi objek pertanyaan sebagian kalangan seperti Jack Derrida, Richard Rorty yang mengikuti kaum filosof seperti Bergson, Husserl, Heidegger dan selainnya dari kalangan filosof interpretatif dan filosof existensialis dan filosof pasca era modern.”[3] Penyebutan akal tanpa membedakan kesamaan makna merupak tindakan manipulatif. Abu Hamid al-Ghazali mengatakan: jika ditanyakan apa akal itu? Jangan menyangka hanya memiliki satu makna. Dia unik karena akal adalah kata umum yang mengandung banyak makna. Di mana terkadang diidentikkan dengan sebagian pengetahuan aksiomatik, juga diartikan naluri berupa kesiapan manusia mengetahui ilmu-ilmu teoritis, juga dimaknai ilmu yang dirangkai dari pengalaman empiris. Sampai-sampai orang yang belum melalui proses pengujian tidak disebut berakal, juga disematkan ke mereka yang punya marwah, wibawa dan tenang dalam bicara, duduk dan berinteraksi dengan sesama, seperti jika dikatakan fulan berakal artinya dia tenang. Akal juga diartikan sebagai orang yang sinergikan antara amal dan ilmu. Sampai-sampai orang yang merusak alam walau dia sangat cerdas tidak akan disebut orang yang berakal.[4] Oleh sebab itu, sebelum mendebat seseorang yang mengklaim bahwa akal selalu bertentangan dengan syariat, maka perlu ditanya: apa yang dia maksud dengan akal? * Apabila yang dia maksud akal adalah pengetahuan logis aksiomatik maka sama sekali tidak bertentangan dengan syariat. Tidak ada juga satu ketentuan syariat yang bertentangan dengan pengetahuan aksiomatik, sebab tidak akan ditemukan dalam ayat al-Qur’an dan sunnah Rasulullah Saw yang mustahil terjadi menurut logika. Hal ini diketahui dan disepakati jamak ulama. Imam al-Syafi’i berkata: “Salah satu tanda benar dan dusta adalah ketika seseorang berkata dengan ucapan yang tidak logis sama sekali.”[5] Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Kita yakin dan percaya bahwa para rasul mustahil akan mengajarkan sesuatu yang mustahil menurut logika, mereka hanya menyebutkan sesuatu yang belum dijangkau oleh akal. Mereka tidak sampaikan sesuatu yang sulit diterima akal namun mereka hanya menyampaikan sesuatu yang belum sanggup dijangkau dan diketahui akal.”[6] Abu al-Faraj Ibnu al-Jauzi berkata: “Andai orang-orang terpercaya bersepakat menyampaikan bahwa seekor unta bisa masuk ke lubang jarum maka status tsiqah (integritas) mereka tidak berguna dan tidak pula membenarkan pernyataan mereka itu. Sebab mereka menyampaikan sesuatu yang mustahil terjadi. Jadi, semua ucapan yang tidak logis atau bertentangan dengan prinsip (akidah) maka yakinlah pernyataan tersebut gugur dengan sendirinya dan tidak perlu dipedulikan.”[7] Maksud kalimat tidak logis adalah menyalahi logika aksiomatik dan bukan berdasarkan persangkaan dan dugaan serta asumsi semata. *Apabila yang dia maksud adalah naluri dan bakat untuk mengetahui sesuatu maka pernyataannya itu dusta yang sangat keji. Sebab, sulit dibayangkan akal bertentangan dengan nash-nash syariat. Sebab, naluri dan bakat untuk mengetahui itu bukan ilmu dan bukan pengetahuan serta mustahil akan bertentangan dengan akal. Bakat tersebut hanya berupa perangkat untuk ilmu logika dan ilmu syariat seperti kehidupan ini. Sementara semua yang berstatus sebagai perangkat bagi sesuatu maka mustahil dia menafikan sesuatu itu.”[8] *Apabila yang dia maksud adalah pengetahuan yang diperoleh(al-ulum al-muktasabah) seperti persepsi (zhunun) dan semisalnya – dan mayoritasnya ini yang mereka maksudkan – maka ini bukan sesuatu yang qath’i (pasti), namun masih berupa persepsi. Jadi, kesimpulannya juga tidak otomatis dianggap benar seperti dijelaskan sebelumnya. Atas dasar itu, maka akal mustahil akan bertentang dengan al-Qur’an dan sunnah dengan beberapa dasar pertimbangan; Pertama, ilmu dan pengetahuan yang diperoleh itu termasuk hasil kerja akal yang berarti bakat dan perangkat pengetahuan. Akal berdasarkan makna ini sama dengan indera manusia lainnya seperti pendengaran dan penglihatan. Dia punya keterbatasan yang musthail dilampaui, juga punya kekuatan yang mustahil dia lewati. Jadi akal mustahil bisa mengetahui segala sesuatu. Imam al-Syathibi berkata: “Percayalah bahwa Allah Swt menetapkan akal punya keterbatasan jangkauan yang mustahil dia lampaui. Allah Swt juga tidak menjadikan akal sebagai perangkat untuk mengetahui segala yang diinginkan. Andai benar akal punya kemampuan tak terbatas, berarti dia akan menyamai Rabb sebagai pencipta untuk mengetahui segala apa yang terjadi dan akan terjadi.”[9] Kedua, pengetahuan yang diperoleh itu merupakan produk akal yang kemungkinannya bisa salah dan menyesatkan, sebab, perangkat akal sendiri bisa tertipu, dikendalikan dan disesatkan. Faktanya, para politisi banyak memanfaatkan kelemahan ini untuk menipu masyarakat dan menyesatkan mereka. Al Gore[10] berkata: “Ada logika lain yang mengendalikan perasaan dan reaksi yang pengaruhnya dalam pengambilan kebijakan lebih besar ketimbang akal sehat dan nalar. Hal itu diperparah oleh pengaruh rasa terhadap akal lebih kuat ketimbang kendali akal terhadap reaksi. Apalagi rasa takut, sampai-sampai Charles Tupper – seorang ilmuan universitas Stoony Brook – berkata: “Model logika yang bebas emosi – yang diakui pada masa renainassance di Eropa yang dianggap unsur penting nasionalisme – adalah model yang jauh dari fakta empiris.”[11] Ketiga, sebuah prinsip logis penting menyatakan ketidaktahuan bukan berarti tahu ketiadaan. Artinya ketidaktahuan kita tentang kebenaran tidak menafikan kebenaran itu sendiri. “Apa yang dikabarkan oleh Rasulullah Muhammad Saw adalah pasti dan benar dengan sendirinya, sama saja kita tahu atau belum tahu. Orang yang diutus Allah Swt kepada manusia maka otomatis dia berstatus sebagai Rasulullah, sama saja apakah semua manusia tahu dan percaya kalau dia seorang Rasul atau mereka tidak tahu. Lalu apa yang beliau sampaikan maka pasti sebuah kebenaran, sama saja oang percaya atau tidak. Lalu apa yang dia perintahkan maka itu bersumber dari Allah Swt, sama saja apakah dituruti manusia atau tidak. Makanya, validitas status kerasulan dan kebenaran rasul serta ketetapan apa yang dikabarkan tidak tergantung pada keberadaan kita apalagi digantungkan pada akal fikiran kita atau pada dalil yang kita ketahui. Demikian pula, adanya Allah Swt beserta nama dan sifat-sifat-Nya. Ada sesuatu yang pasti dan benar secara otomatis, sama saja apakah kita tahu atau kita tidak tahu.[12] Pembahasan Ketiga: Scientism Aliran ini meyakini bahwa ilmu empiris mampu mewujudkan semua keinginan manusia dan menjadi satu-satunya sumber pengetahuan, bahkan tidak berarti keberadaan sesuatu yang tidak diperoleh melalui ilmu empiris. Scientism bukan persoalan pengetahuan semata namun tentang persoalan eksistensial sehingga hakikat mengandung dua hal; Pertama, klaim bahwa ilmu dapat mengetahui segala kebutuhan manusia dan sumber pengetahuan manusia hanya satu sumber saja. Kedua, membatasi keberadaan segala sesuatu hanya sesuatu yang dipastikan melalui ilmu empiris.[13] Disebutkan definisi tentang aliran scientism dalam kitab Mu’jam al-Falsafi al-Shadir ‘an Majma’ al-Lughati al-Arabiyah sebagai berikut: “Adalah aliran yang mendasarkan segala sesuatu pada ilmu dan menganggapnya sebagai parameter mutlak. Sesuatu tidak dianggap wujud tanpa melalui wujud ilmiyah dan secara khusus segala sesuatu wajib diuji dengan ilmu-ilmu kimia dan ilmu alam (eksak).”[14] Aliran ini tidak mengakui infomasi sebagai sumber pengetahuan sebagaimana juga tidak mengakui fitrah sebagai sumber pengetahuan, termasuk akal dianggap bukan sumber pengetahuan. Dia hanya mengakui sesuatu yang dilihat, dirasa dan disaksikan. Aliran ini berdasar pada fakta empiris yang dianggap sentral pengetahuan oleh filosof Yunani dan telah disanggah oleh filosof-filosof terkemukan zaman itu seperti Aristoteles, Plato dan sebagainya. Akan tetapi aliran ini mulaui muncul lagi dan terlihat jelas pada abad ke-17, awal abad ke-18 melalui sebagian filosof, dimulai dari Fransiskus Bacon[15] kemudian John Locke[16] dan berakhir di David Hume.[17] Mereka inilah yang dianggap sebagai tokoh yang meletakkan dasar aliran ini. Disebutkan bahwa John Locke adalah orang pertama yang menulis buku tentang metode pengetahuan empiris yang berjudul Maqal fi Fahmi al-Basyari yang dipublish tahun 1690 M. Ulasan Pertama: Sebab Munculnya Aliran Scientism. Kecenderungan ini merupakan hasil dari berbagai peristiwa, pemikiran, dan dinamika yang terjadi selama berabad-abad yang lalu, yang telah menyebabkan terbentuk dan dampaknya muncul dengan jelas; di antara yang paling penting adalah: Pertama, lahirnya banyak penemuan ilmiyah yang mengagumkan, dimulai dari abad ke-18 dan makin mengemuka pada abad ke-19 Masehi. Penemuan-penemuan tersebut mengubah kehidupan manusia secara mendasar. Di abad ke-19 terjadi luapan ilmiyah, di mana dapat diletakkan pada satu papan timbangan sedang capaian ilmu dan penemuan di sepanjang sejarah kehidupan manusia di papan timbangan lainnya. Tidak berlebihan bila saya katakan bahwa realitas kehidupan manusia hari ini merupakan ciptaan manusia yang mengantarkan pada kehidupan mewah melebihi kehidupan para raja masa lampau terutama dalam hal alat transportasi dan selainnya. Penemuan-penemuan ini seolah menyihir akal manusia walaupun luapan ilmiyah dan industri menyimpan banyak efek negatif terhadap kehidupan sosial, lingkungan dan kesehatan.[18] Akan tetapi kekaguman terhadap para ilmuan dan penemuan yang mengubah kehidupan mereka sudah melebihi ambang batas normal. Manusia seakan seperti seoang anak kecil yang melihat ayahnya melakukan sesuatu yang jauh melampaui kesanggupannya, sehingga dia menganggap ayahnya dapat melakukan apa saja. Kedua, gereja dan rohaniawan atau Klerus[19]. Gereja – sebagaimana diketahui umum – pernah mengucilkan para ilmuwan dan penemu serta inventor. Gereja menuduh mereka sesat karena menyimpang dari sikap gereja, bahkan ada yang sampai dipidana mati. Hal itu disebabkan karena gereja memandang perkembangan ilmiyah akan meruntuhkan kendali gereja di hadapan masyarakat. Maka, terjadilah—menurut ungkapan Muhammad Asad—sebuah pertentangan yang sengit antara kalangan jenius dengan gereja.[20] Sekalipun keyakinan dan keimana gereja masa itu tidak diwarisi dari Isa al-masih, namun percampuran antara dongeng dan khurafat. Ketiga, koalisi sesat antara raja-raja Eropa dengan gereja. Gereja mendukung segala tindakan keji para raja-raja Eropa seraya diberi surat pengampunan dosa sebagai imbalan atas bantuan materi kepada gereja dan keterlibatan mereka dalam perang Salib. Fakta rilnya adalah keikutsertaan 3 raja Eropa dalam kancah perang Salib ke-3 pada tahun 1189 M yakni raja Jerman, Perancis dan Inggris.[21] Dr. Sa’id Abdul Fattah Asyur mengisahkan seorang raja Eropa bernama Otto berkata: “Otto I sangat bersandar kepada gereja dalam pemerintahannya dengan memperluas wilayah kewenangan para uskup dan biara lalu dia menempatkan dirinya sebagai pelindung geraja dan asset miliknya. Para rohaniawan terkemuka di Jerman diberikan kekuasaan dan intervensi sangat besar, termasuk menduduki jabatan-jabatan di pengadilan, ekonomi dan menejemen.[22] Will Durant berkata: “Raja-raja penguasa Eropa menyokong gereja di abad-abad awal terbentuknya. Gereja mampu merebut kewenangan mereka secara perlahan sehingga asset kekayaan gereja sangat besar dan kendalinya makin kuat terhadap kehidupan di Eropa. Kekayaan gereja makin melimpah karena banyak menerima upeti dari pengusaha dan hartawan. Begitulah gereja mampu mengendalikan Eropa selama sekitar 1000 tahun didukung oleh undang-undang dan keyakinannya menyatu. Dunia belum pernah mengalami – dan tidak akan mengalami – masa unik seperti itu. Gereja mengendalikan pemikiran di Eropa dengan cara sangat presisi seperti jalan menampung ikan laut. Begitu pula perkembangan ilmu filsafat selalu di bawah pengaruh gereja. Banyak sekali asumsi dan postulat yang dilarang dilampaui atau diabaikan. Akan tetapi, pada abad ke-13 dunia Kristen yang masih dalam masa kekuatannya mulai menyadari filsafat Aristoteles yang diterjemahkan kaum Arab dan Yahudi, akhirnya filsafat Arsitoteles diubah bernuansa keagamaan Nashrani yang disesuaikan dengan abad-abad pertengahan.”[23] Ini beberapa penyebab yang memicu revolusi di Eropa diantaranya revolusi Perancis yang terjadi pada tahun 1789 M yang dianggap titik balik dalam kehidupan manusia di Eropa. Revolusi itu melucuti kendali dan kekuasaan gereja secara total. Walau perjalanan revolusi Perancis dipenuhi darah dan tindakan keji mengerikan, namun dia tetap menajdi pemantik utama gerakan revolusi di Eropa secara keseluruhan. Kemudian masa Viktoria masuk ke Inggris pada abda ke-19 M yang menjadikan ilmu dan pengalaman empiris sebagai ciri utamanya. Ulasan Kedua: Problematika Pemikiran dalam Scientsm Saya mencoba merangkum beberapa hasil pemikiran dan problematika pengetahuan yang melahirkan ragam syubuhat yang mempengaruhi banyak orang hingga kini. Problematikan ini perlu diselami menggunakan akal yang sehat dan pandangan yang jernih. Diantaranya: *Pertama: Sebagian Orang Merasa Tidak Membutuhkan Allah Swt. Allah Swt berfirman: كَلَّاۤ اِنَّ الۡاِنۡسَانَ لَيَطۡغٰٓىۙ ٦اَنۡ رَّاٰهُ اسۡتَغۡنٰىؕ ٧ Terjemahannya: “Sekali-sekali tidak! Sungguh, manusia itu benar-benar melampaui batas, apabila melihat dirinya serba cukup.” (Qs: al-Alaq: 6-7) Artinya bahwa manusia melampaui batas dan bersikap sombong terhadap Allah Swt hingga menajdi kufur sebab merasa tidak butuh Allah Swt.[24] Kemajuan ilmu dan perkembangan teknologi tampak membutakan mata hati mereka mengaku kelemahan dan kelemahan serta kekuasaan dan kemahakaya Allah Swt. Puncak kebutaan mereka kala menganggap temuan terhadap hukum alam membuatnya merasa tidak butuh campur tangan Allah Swt dalam mengatur alam, sampai-sampai seorang filsuf atheis Fredrick Nancih menyatakan Tuhan telah mati. Dia berkata: “Tuhan telah mati, dan Tuhan akan tetap mati. Kita telah membunuhnya. Bagaimana tidak membanggakan diri padahal kitalah pembunuh perkasa itu? Sungguh zat yang paling suci dan paling agung pemilik alam ini telah kita tumpahkan darahnya dengan tetasan-tetesan tinta kita.”[25] Seorang fisikawan Perancis bernama Pierre Laplace[26] suatu saat menghadiahkan sebuah bukunya kepada Napoleon berjudul Harakatu al-Ajram al-Samawiyah (Traité de Mécanique Céleste yang berarti “Risalah tentang Mekanika Langit” atau “Gerak Benda-Benda Langit.”) lalu ditimpali Napoleon: Kenapa mereka tidak menyebutkan Tuhan dalam buku ini? dijawab: Laplace: “Wahai raja, saya tidak butuh asumsi itu.”[27] *God of the Gaps (Tuhan Masa Kekosongan Ilmu) Masa itu muncul pemikiran God of the Gaps yakni bahwa orang-orang mukmin dahulu terpaksa percaya ada Tuhan karena belum tahu bagaimana memahami pergerakan alam. Mereka mengandalkan Tuhan untuk menutupi kelemahan mereka memahami alam. Tujuannya untuk kekosongan ilmu pengetahuan yang belum mampu dilakukan para ilmuwan. Fenomena alam seperti hujan misalnya, manusia zaman dahulu belum mampu menyelami bagaimana hujan turun makanya mereka berkata: Allah yang turunkan hujan. Lantas kala mereka temukan siklus alamiyah pada air dan diyakini sebab turunnya hujan mereka berkata: kita sudah tidak butuh Tuhan. Tidak diragukan lagi bahwa pernyataan ini sangat hina, murahan dan kontradiktif. Sangat mudah dipatahkan oleh logika dan nalar yang benar dengan cukup menggunakan kaedah; penyebab terdekat tidak menafikan penyebab terjauh. Maksudnya; akal sehat tidak menafikan sebuah kejadian disebabkan oleh banyak faktor, lalu tidak ditemukannya penyebab terdekat tidak berarti penyebab terjauh dinafikan. Contoh: jika saya memiliki mesin produksi roti, mesin tersebut tidak bisa berproduksi tanpa ada intervensi dari saya. Ketika roti sudah diproduksi berarti ada keterlibatan mesin sebagai penyebab langsung dan saya sebagai penyebab tidak langsung. Konsumen roti mustahil akan membantah keterlibatan saya dalam memproduksi roti hanya karena dia tahu bagaimana cara kerja mesin produksi roti. Jadi, sikap yang hanya mengakui sebab langsung lalu mengabaikan sebab tak langsung termasuk cacat logika yang sangat jelas. Perhatikan diagram di bawah ini: Allah Swt adalah pengendali semua faktor yang ada dan pencipta segala sesuatu. Hujan tetap diturunkan oleh Allah Swt sebagaimana firmannya: وَهُوَ الَّذِىۡ يُنَزِّلُ الۡغَيۡثَ مِنۡۢ بَعۡدِ مَا قَنَطُوۡا وَيَنۡشُرُ رَحۡمَتَهٗ ؕ وَهُوَ الۡوَلِىُّ الۡحَمِيۡدُ Terjemahannya: “Dan Dialah yang menurunkan hujan setelah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya. Dan Dialah Maha Pelindung, Maha Terpuji.” (Qs: al-Syura: 28), dan Allah Swt juga menyebutkan faktor lain pemantik hujan turun, firman Allah Swt: اَللّٰهُ الَّذِىۡ يُرۡسِلُ الرِّيٰحَ فَتُثِيۡرُ سَحَابًا فَيَبۡسُطُهٗ فِى السَّمَآءِ كَيۡفَ يَشَآءُ وَيَجۡعَلُهٗ كِسَفًا فَتَرَى الۡوَدۡقَ يَخۡرُجُ مِنۡ خِلٰلِهٖ فَاِذَاۤ اَصَابَ بِهٖ مَنۡ يَّشَآءُ مِنۡ عِبَادِهٖۤ اِذَا هُمۡ يَسۡتَبۡشِرُوۡنَۚ ٤٨وَاِنۡ كَانُوۡا مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ يُّنَزَّلَ عَلَيۡهِمۡ مِّنۡ قَبۡلِهٖ لَمُبۡلِسِيۡنَ Terjemahannya: “Allah lah yang mengirimkan angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang Dia kehendaki, dan menjadikannya bergumpal-gumpal, lalu engkau lihat hujan keluar dari celah-celahnya, maka apabila Dia menurunkannya kepada hamba-hamba-Nya yang Dia kehendaki tiba-tiba mereka bergembira. Padahal sebelum hujan diturunkan kepada mereka, sungguh mereka benar-benar telah berputus asa.” (Qs: al-Rum: 48-49). Jadi Allah Swt yang menjadi sebab utama dan yang menurukan hujan, namun tidak menafikan faktor-faktor fisik lainnya. Logika ini dapat dan mesti diberlakukan dalam menyikapi segala hal. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Al-kitab dan sunnah dan diyakini para ulama salaf bahwa Allah Swt yang menciptakan segala sesuatu berserta sebab pemantiknya, jadi potensi yang diciptakan Allah Swt pada hewan dan benda mati merupakan sebab pemantik terjadinya sesuatu yang lain.”[28] *Dikotomi Semu antara Agama dan Ilmu Pengetahuan. Problematikan scientism adalah upaya sebagian orang menumbuhkan dikotomi kontradiktif antara ilmu pengetahuan dengan agama. Mereka anggap ilmu pengetahuan adalah entitas terpisah dari agama yang tidak dapat dipadukan. Ini kesalahan fatal dalam pemahaman hingga menumbuhkan gambaran yang salah.”[29] Sebelum dijaelaskan lebih lanjutnya, perlu ditekankan dua hal: Pertama, ada pembauran terjemahan antara pengetahuan dengan ilmu. Hal ini muncul ketika ilmu-ilmu eksakta empiris sudah mulai berkembang di Eropa. Mereka ingin memisahkannya dari ilmu yang dicakup oleh kata knowledge dalam bahasa Inggris, lalu mereka memilih satu kata secara spesifik yang membedakannya dengan ilmu yang bersfiat umum. Maka dipilihlah kata science yang berasal dari bahasa Latin. Akan tetapi, orang-orang Arab menerjemahkannya secara terbalik. Mereka lebih banyak menggunakan kata yang bermakna ilmu secara umum ketimbang yang bermakna lebih spesifik. Karena itu, kata science diartikan ilmu. Lantas ketika mereka ingin membedakan antara makna yang spesifik ini dengan makna yang umum, mereka mencari kata lain yakni kata ma’rifah yang diberi makna umum yang dikandung oleh kata knowledge. Padahal kata ma’rifah (knowledge) semestinya lebih spesifik ketimbang kata ilmu. Kekeliruan menempatkan dua kata ini memantik gambaran yang sangat keliru, terutama relasi antara ilmu dan agama. Kata ilmu merupakan kata paling penting dan dituangkan banyak dalam al-Qur’an. Lalu ketika kata yang bermkna spesifik itu diberi makna kata science maka terjadilah kesamaran luar biasa. Diantara contohnya: kita sering mendengar banyak orang berkata: “Persoalan ini persoalan ilmiyah dan bukan persoalan agama. Bahkan ada yang berkata: al-Qur’an itu hanya kitab petunjuk (hidayah) dan bukan kitab ilmu.”[30] Kedua, agama tidak boleh diletakkan hanya pada satu keranjang.[31] Ada problem besar dalam agama Yahudi dan Nashrani dalam menyikapi ilmu-ilmu empiris. Sungguh sebuah sikap menyimpang – kalau sedang bicara relasi ilmu dan agama – lantas menyamakan Islam dengan Yahudi dan Nashrani apalagi dengan agama-agama lainnya.[32] Oleh karena itu, ulasan kita dalam buku ini adalah tentang relasi antara ilmu-ilmu empiris dengan agama Islam secara spesifik dan tidak mengulas agama-agama lainnya.[33] Jika ini difahami dengan baik, maka pasti diakui bahwa tidak ada pertentangan antara Islam dengan ilmu-ilmu empiris. Bagaimana bisa diasumsikan akan terjadi pertentangan antara keduanya sementara Islam sangat menganjurkan memperbanyak ilmu, kemajuan dan kebudayaan melalui nash-nash yang banyak? Diantaranya riwayat imam Ahmad dalam Musnadnya yang berasala dari hadits Ibnu Abbas, beliau berkata: “Dahulu, tawanan perang Badar belum diperintahkan untuk ditebus, lalu Rasulullah Saw menetapkan bahwa tebusan mereka adalah mengajar anak-anak Anshar agar pandai menulis.”[34] [35] Dirwiayatkan dari Abdurrahman bin Abi al-Zinad dari ayahnya dari Kharijah bin Zaid dari ayahnya Zaid bin Tsabit berkata: Ketika Rasulullah Saw tiba di Madinah, saya dipertemukan lalu saya membaca dihadapannya, lantas berkata kepadaku: Pelajarilah kitab Yahudi karena saya kawatir mereka otak-atik kitab kita.” Beliau berkata: setelah berlalu setengah bulan saya sudah menguasainya dan saya menulis surat Rasulullah Saw dan membacakan surat mereka kepadanya.”[36] Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata: “Zaid bin Tsabit termasuk orang paling cerdas, dia belajar bahsa Yahudi dan kitab mereka hanya selama 15 hari. Abu al-Hasan bin al-Bara’ berkata: dia belajar bahasa Persia dari utusan Kisra selama 18 hari, juga belajar bahasa Habasiyah, Romawi dan Qibthiyah dari para pembantu Rasulullah Saw.”[37] Rasulullah Saw juga menerima usulan Salman al-Farisi untuk menggali parit pada perang Khandaq yang dianggap strategi baru yang diduplikasi dari Persia dan sebelumnya tidak dikenal di bangsa Arab. Sebagaimana beliau juga menerima usulan untuk membuat mimbar bertangga tiga dan sebagainya. Islam sama sekali tidak menentang ilmu, penemuan dan kreatifitas. Bahkan ulama kaum muslimin termasuk yang pertama bergelut dengan ilmu-ilmu empiris dan mentransfernya ke barat dan Eropa. Cukup sebagai contoh bahwa penguasa Khilafah Abbasiyah bernama al-Muqtadir yang pertama mendirikan rumah khusus untuk para dokter dan mengangkat Sinan bin Tsabit sebagai direkturnya. Dia diperintahkan untuk menguji setiap dokter, jika diketahui dia menguasai salah satu disiplin ilmu kesehatan maka dia berhak diberi izin praktik dan bekerja di rumah sakit itu. Jumlah dokter di Baghdad zaman itu sekitar 860an dokter laki-laki, tidak termasuk orang yang tidak perlu diuji[38] karena dikenal kompetensinya sebelumnya. Juga tidak termasuk dokter kerajaan. Padahal di masa itu dunia barat belum memiliki walau seorang dokter pun.[39] Alija Ezzatbegovic berkata: “Ilmuwan Arab al-Biruni, lima abad sebelum Copernicus sudah tahu bahwa bumi berputar pada porosnya mengitari matahari. Penjelasannya itu membuatnya tidak dituduh orang sesat dan tiada yang menuding pengetahuannya bertentangan dengan agama. Masa itu, pemikiran liberal belum dikenal masyarakat, teori Copernicus dianggap bertentangan dengan kepercayaan Nashrani di dunia, dan bukan berkenaan dengan bumi dan aktifitasnya. Namun hanya terkait dengan hakikat manusia dan sikapnya terhadap alam. Copernicus tidak hanya meletakkan bumi dan alam di lingkaran luar semata, namun juga menyertakan manusia sehingga bumi bukan pusat alam, demikian pula manusia. Teori ini menyesakkan bagi kaum Nashrani dan tidak dianggap maaslah oleh Islam yang memberikan pemahaman spesifik dan berbeda tentang manusia, ajaran yang mengarah pada tauhid kepada Allah dan manusia (Tuhan – Manusia) ini sejalan dengan pemikiran Copernicus yang memandang inovasi tak tersokong, menyerang kultur yang dicintai, sehingga memicu perbedaan sikap terhadap keduanya, juga ujung perjalanan kduanya, yakni Copernicus dan al-Biruni.”[40] Ulasan Ketiga: Bukti Kesalahan Scientism Setelah diketahui bahwa Islam tidak kontra dengan ilmu empiris dan bahwa ilmu empiris bukan metode yang ditentang dan ditolak dalam Islam, bahkan metode yang diakui, namun tetap penting ditekankan bahwa metode sicentism yang membatasi pengetahuan pada fakta-fakta empiris adalah keliru berdasar beberapa alasan: Pertama, kebenaran metode scientism masih sebatas klaim, sementara klaim tidak diakui kecuali dengan bukti dan fakta. Jika metode tersebut dibenarkan tanpa bukti – seperti yang terjadi pada banyak orang tertipu – berarti sudah terjebak dalam prinsip dogmatism.”[41] Oleh sebab itu, kita meminta kepada pengusung scientism untuk membuktikan klaim mereka. Bukti yang dimaksud hanya satu diantara dua kemungkinan; yakni; bukti yang bersumber dari metode scientism sendiri atau berasal dari sumber lain. Jika bukti tersebut bersumber dari scientism sendiri maka itu termasuk logical fallacy sebab termasuk circular reasoning. Yakni persoalan yang dijadikan bukti. Jika bukti yang dimaksud berasal dari sumber lain maka sejatinya mereka telah menjustifikasi bahwa metode mereka keliru dan salah, khususnya dalam membatasi pengetahuan manusia hanya pada ilmu-ilmu empiris. Metode ini menemukan kesulitan pembuktian kebenarannya. Kedua, scientism menjebak dalam jurang kesulitan besar. Yakni tidak sanggup mematahkan persoalan-persoalan mustahil. Seperti diketahui sesuatu yang ada terbagi menjadi tiga: sesuatu yang mustahil ada, mungkin adanya dan mesti ada. Aliran scientism tidak sanggup membutkikan sesuatu yang mustahil. Sebab mustahil dibuktikan menggunakan pendekatan ada atau tidak ada. Pasalnya pembutkian mustahil itu hanya menggunakan akal. Ketiga, membatasi pengetahuan hanya pada satu sumber merupakan tindakan mempersempit (tadhyiq) dan mengebiri pengetahuan manusia. Menghalangi jangkauan pemikiran yang semestinya luas yang bisa diperoleh melalui akal dan informasi. Keempat, mustahil aliran scientism (ilmu empiris) dapat eksis tanpa menggunakan prinsip-prinsip logika, tanpa berpijak pada hukum kausalistas logis mustahil fakta empiris laboratorium dapat dioptimalkan. Kelima, aliran scientism tidak sanggup mewujudkan satu parameter moralitas. Sebab, ilmu selalu berada di sisi berbeda dengan moralitas. Jadi, mustahil moralitas ditetapkan berdasarkan mekanisme empiris, bahkan mustahil diketahui hakikat akhlak moralitas itu, mana yang baik, dan mana yang buruk. Ini yang menyebabkan seorang atheis terkenal Richard Dawkins berkata: Apa yang menahan kita berkata bahwa tindakan Hitler itu benar? Maksudnya, ini pertanyaan sangat sulit.” Seperti dinukil oleh Richard Welkart.”[42] Tampak jelas aliran scientism bathil dan salah besar. [1] Limadza Lastu Mulhidan, Abdul Jalil al-Kour, h. 25 [2] Kata al-qaminah artinya penting [3] Awwaliyatu al-Aql karya Adil Dhamir, h. 18 [4] Al-Mustashfa, karya al-Ghazali, 1/63 [5] Al-Risalah karya al-Syafi’i, h. 399 [6] Dar’u al-Ta’arudh, 1/147 [7] Al-Maudhu’at, karya Ibnu al-Jauzi, 1/150 [8] Dar’u al-Ta’arudh, karya Ibnu Taimiyah, 1/88 [9] Al-I’tisham, karya al-Syathibi, 3/282, cet Dar Ibnu al-Jauzi. [10] Albert Arnold Al Gore Jr (lahir 1948 M) adalah wakil presiden Amerika Serikat ke-45 pada masa pemerintahan presiden Bill Clinton periode 1993 M – 2001 M pernah dicalonkan untuk menjadi presiden oleh Partai Demokrat, namun gagal pada pemilihan presiden Amerika Serikat tahun 2000 M. [11] Hujum ‘ala al-Aql, Al Gore, h. 50 [12] Dar’u Ta’arudh al-Aqli wa al-Naqli, karya Ibnu Taimiyah, 1/88 [13] Zhahiratu Naqdi al-Din fi al-Fikri al-Gharbi al-Hadits, karya Dr. Sulthan al-Umairi, 1/431 [14] Al-Mu’jamu al-Falsafi al-Shadir an Majma’ al-Lughat al-Arabiyah, h. 200. [15] Fransiskus Bacon (1561 – 1626 M) adalah seorang filosof Inggris yang lahir di London dan kuliah di Faklutas Trinity di Universitas Cambridge. Namun dia tinggalkan setelah tahun ketiga karena benci kemudian seorang tokoh bernama Ariel Essex mewariskan seluruh hartanya di Tockenham kepadanya, namun waktu berbalik hingga bersikap angkuh terhadap temannya di salah satu mahkamah yang membuatnya dipidana gantung. Lalu Bacon dicabut kewarganegaraannya untuk beberapa waktu. Hutangnya pun bertumpuk karena boros hingga ditangkap pada tahun 1598 M. Dilah yang mengungkapkan pernyataan yang terkenal: “Sangat sedikit filosof yang menjadi atheis karena berpedoman pada akal, bahkan menyelami akal akan menguatkan imannya.” Lihat: Qishshatu al-Falsafah, Well Durnt, h. 70-86 [16] John Locke (1632-1704 M) adalah seorang filosof Inggris yang lahir di desa Somerset, dia pernah belaja di Oxford namun lari dari Inggris di akhir musim panas tahun 1683 M di usia di atas 50 tahun. Dia tidak memiliki karya yang jelas dan layak dipublish, dia meninggal di rumahnya di pedesaan milik temannya bernama Al Masyam di Ots kota Essex. Lihat: John Locke: Muqaddimah Qashirah Jiddan tulsisan John Dan. [17] David Hume (1711-1776 M) Adalah seorang Filsuf, ekonom, dana sejarawan Skotlandia, dia lahir di kota Adnera Skotlandia, dia sangat mengidolakan para scientism seperti John Locke, juga sangat mengagumi Newtonian natural science sebab dia berhasil menjelaskan pergerakan bumi dan langit berdasarkan prinsip-prinsip umum dan general. Ini pula yang mendorongnya mendalami tabiat manusia dengan mengunakan metode Newtonian scienc fisika dengan maksud dapat menemukan aturan dan prinsip-prinsip yang mengendalikan tabiat manusia dan perilakunya dalam sektor moralitas, pengetahuan, politik dan ekonomi. Hume memandang metode empiris sama dengan metode scientism, juga bahwa menyelami tabiat manusia adalah mempelajari dasar metode empiris. Lihat: Tarikh al-Falsafah al-Haditsah, karya Yusuf Karam, h. 181 [18] Lihat: Tarikh al-Qarni al-Tasi’ Asyar karya Muhammad Qasim dan Husain Hasani, h. 148 [19] Klerus adalah sistem imamat gereja yang menempatkan para rohaiawan sesuai tingkatannya. [20] Al-Islamu ‘ala Maftaraq al-Thuruq, karya Muhammad Asad (Leopold Weiss), terjemah: Umar Farrukh, h. 40 [21] Lihat: Tarikh al-Hurub al-Shalibiyah, karya Mahmud Said Imran, h. 148 [22] Tarikh Arab fi al-Ushur al-Wustha, karya Dr. Sa’id Abdul Fattah Asyur, h. 256. [23] Qishshatu al-Falsafah, karya Will Durant, h. 69 [24] Lihat: Jami’ al-Bayan, karya al-Thabari, 24/532 [25] Al-Ilmu al-Marih, karya Fredrick Nancih, h. 132 [26] Pierre Simon Do Laplace (1749-1828 M) seorang fisikawan, ahli matematika, ahli falak Perancis, dia menjabat menteri dalam negeri masa pemerintahan Napoleon tahun 1812 M, ketika Napoleon berada di puncak kejayaannya, Laplace menghadiahkan bukunya yang cetakan baru kepada Napoleon berjudul Nazhariyah Tahliliyah fi al-Ihtimalat namun setelah dua tahun kemudian pemerintahan Napoleon runtuh dan diasingkan ke pulau Saint Helena yang jauh. Yang menarik karena Laplace termasuk satu diantara pengusul agar Napoleon diasingkan ke tempat yang jauh. Lihat: Mausu’ah Ulama Fiziyah, Maurice Charbel, h. 249 [27] Al-Ilmu fi Manzhurihi al-Jadid, karya Robert Agros, h. 54 [28] Syarhu al-Aqidah al-Ashbahaniyah, karya Ibnu Taimiyah, h. 401 [29] Lihat: al-Imanu bi al-Khaliq wa al-Ilmi, Gordon Leden, h. 47. Dia menyebutkan banyak pernyataan para ilmuwan empiris yang menafikan kontradiksi antara ilmu dan agama. [30] Lihat: Manahij al-Tafkir al-Mushilah li al-Haqaiq al-Syar’iyah wa al-Kauniyah, karya Dr. Ja’far Syaikh Idris, h. 217-218. [31] Seperti dilakukan Shadiq Jalal al-Izham dalam bukunya Naqdu al-Fikri al-Dini. [32] Lihat buku Baina al-Din wa al-Ilmi, Tarikhu al-Shira’ Bainahuma fi al-Quruni al-Wustha Andrew Dixon White, terjemahan Ismail Muzhhir. Buku ini mengulas tentang relasi ilmu dengan agama Nashrani secara spesifik. [33] Lihat penjelasan tambahannya pada kitab; Mauqifu al-Islam wa al-Kanisah Min al-Ilmi karya Abdullah al-Masyukhi. [34] Diriwayatkan oleh imam Ahmad dalam kitab al-Musnad, 4/92- n0. 2216. Muhaqqiq kitab al-Musnad berkata; hasan, diriwayatkan pula oleh al-Baihaqi, 6/322, Ibnu Sa’d dalam kitab al-Thabaqat, 2/22 dari jalur Amir al-Sya’bi berkata: dahulu, tebusan tawanan perang Badar sebesar 4000 ke bawah, siapa yang tidak punya apa-apa maka diminta mengajar anak-anak kaum Anshar agar pandai menulis. Hadits ini Mursal. [35] Lihat nash-nash terkait anjuran Nabi Saw untuk mengajarkan menulis dalam: Aqdhiyatu Rasulullah Saw karya Ibnu al-Thalla’, 1/235-236, dan kitab Takhrij al-Dallalat al-Sam’iyah karya al-Khuza’i, h. 84-87 serta kitab al-Taratib al-Idariyah, al-Kattani, 1/213-221 [36] Diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam kitab shahihnya secara mu’allaq (7195) dan secara bersambung (mausul) oleh Abu Dawud (3645) al-Tirmidzi (2715), syekh al-Albani dalam kitab al-Silsilah al-Shahihah (187) berkata: sanadnya hasan sementara al-Tirmidzi menshahihkan karena ada riwayat beliau yang lain. Imam al-Tirmidzi berkata setelahnya: hadits ini diriwayatkan melalui jalur lain dari Zaid bin Tsabit, diriwayatkan oleh al-A’masy dari Tsabit bin Ubaid al-Anshari dari Zaid bin Tsabit, ia berkata: saya diperintah Rasulullah Saw untuk belajar bahasa Suryaniyah. [37] Al-Bidayah wa al-Nihayah, karya Ibnu Katsir, 11/170. [38] Artinya imtihanuhu; diuji. [39] Syamsu al-Arab Tasthu’ Ala al-Gharb, Sigrid Hunke, h. 235 [40] Hurub Ila al-Hurriyah, Alija Ezzatbigovic, h. 329-330 [41] Al-Dughmaiyah: kejumudan berfikir. Pemikiran seseorang dikendalikan oleh fanatisme hingga menolak menela’ah fikiran berbeda. Jika ditemukan dalil yang menunjukkan pemikirannya salah, dia tentang dengan berbagai macam cara, dia berupaya keras agar pemikirannya diakui dan diterima. Sikap seperti ini dianggap fanatik berlebihan terhadap fikiran, pendapat, prinsip dengan cara menetang semua yang berbeda dengannya. [42] The Death of Humanity, Richard Welkart, p80. Terjemahan Kitab akalalquranilmupengetahuantauhid