PASAL XX – KEBUTUHAN TERHADAP AGAMA Supriyadi Yusuf Boni, 7 Agustus 2025 Sumber: Kitab Maraqy al-Wa’yi (Penanaman Kesadaran) Penulis: Prof. Dr. Shaleh bin Abdul Aziz Utsman Sindi Penerjemah: Supriyadi Yousef Boni Editor: Idrus Abidin Pertanyaan teramat penting untuk dijawab adalah; apakah agama yang benar bagi kita – sebagai individu maupun secara kolektif – adalah penting sekali? Apakah agama itu termasuk kebutuhan primer bagi keberadaan kita? Atau agama itu sekedar pelengkap dan tidak punya peran besar bagi kehidupan ini, atau adakah kepentingan lain lebih prioritas dari agama? Menjawab pertanyaan ini sangat penting terutama dari dua sisi; Banyak syubhat yang dihembuskan di tengah generasi muda Islam yang aktif bermedia sosial bahwa: agama itu hanya sampingan dalam hidup, bukan sesuatu yang prinsip, bahkan dituding melalui siaran tertentu bahwa agama sebagai penghalang dan hambatan untuk tumbuh kembang seseorang dan rintangan untuk menikmati kemewahan hidup. Mesti diakui bahwa arus pemikiran atheisme hari ini bekerja maksimal dan dengan cara lebih modern. Bahwa mengetahui jawaban yang tepat akan menanamkan rasa, betapa besarnya karunia Allah Swt kepada kita melalui agama yang mulia ini, lalu kita makin kuat mematuhinya dan mendakwahkannya. Beragama Merupakan Fitrah Manusia Beragama merupakan fitrah dasar manusia, naluri yang mengakar kuat, persis seperti naluri dan kebutuhan dasar lainnya, misal kebutuhan untuk makan, minum, hidup dan sebagainya. Semua bentuk perilaku yang bertentangan dengan fitrah beragama pasti termasuk penyakit dan penyimpangan dari fitrah yang suci nan mendasar. Menarik dicermati definisi manusia menurut sebagian orang menggunakan pola fikir ahli mantiq (filosof), bahwa manusia itu bukan makhluk berfikir (hayawanun nathiq) namun makhluk beragama (hayawanun mutadayyin). Jadi beragama merupakan sifat istimewa dan dasar bagi manusia ketimbang makhluk lainnya. Catatan sejarah menunjukkan bahwa tiada satu wilayah pun atau budaya manusia yang luput dari tuhan yang mereka sembah. Jadi agama merupakan sifat yang melekat pada manusia itu sendiri. Sungguh benar firman Allah Swt; فَاَقِمۡ وَجۡهَكَ لِلدِّيۡنِ حَنِيۡفًا فِطۡرَتَ اللّٰهِ الَّتِىۡ فَطَرَ النَّاسَ عَلَيۡهَا لَا تَبۡدِيۡلَ لِخَـلۡقِ اللّٰهِ ؕ ذٰ لِكَ الدِّيۡنُ الۡقَيِّمُ ۙ وَلٰـكِنَّ اَكۡثَرَ النَّاسِ لَا يَعۡلَمُوۡنَ ۙ Terjemahannya: “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (sesuai) fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu.1 Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui,” (Qs; al-ruum: 30). Kebutuhan beragama bagi manusia bukan dibuat-buat, dikreasikan dan tidak pula muncul kemudian. Namun, kebutuhan beragama adalah tabi’at yang sudah melekat sejak manusia diciptakan. Banyak penelitian mutakhir yang menguatkan pengetahuan dan keyakinan kita selama ini. Diantaranya penelitian yang dilakukan oleh professor Jaston Barets bersama professor Roger Traigh, dua peneliti Universitas Oxford. Keduanya dibantu oleh 75 peneliti dari 25 negara. Mereka meneliti tentang fitrah keimanan dan hasilnya menyatakan bahwa; kebutuhan beragama adalah kebenaran dan hak kolektif termasuk bahagian dari tabi’at manusia di semua masyarakat. Penelitian ini sangat masyhur dan ditulis dalam bahasa Inggris yang bisa ditelurusi di internet. Professor Barets sendiri seorang pakar psikologi anak dan menulis buku yang sangat terkenal dan telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab berjudul: “Fitrah Keimanan”, Bagaimana Realitas Empiris Buktikan Semua Anak Dilahirkan Beriman Kepada Allah.” Beliau menyebutkan kesimpulan dari hasil pengalaman dan pengamatannya selama 20 tahun bahwa: semua anak dilahirkan membawa fitrah iman kepada sang pencipta.” Buku tersebut mematahkan semua syubhat yang dihembuskan banyak orang bahwa keimanan pada anak-anak merupakan hasil doktrinasi kedua orang tuanya. Padahal fakta menunjukkan bahwa iman kepada Allah Swt merupakan fitrah dan bukan hasil doktrin. Beliau menyebutkan dalam bukunya banyak bukti melalui fakta dan kisah yang dia saksikan sendiri. Kesimpulan: kebutuhan beragama pada manusia merupakan murni bawaan dan bersifat natural. Kebutuhan beragama sudah mengakar dalam diri sejak terlahir dan ini berlaku bagi semua orang tanpa terkecuali. Sebelum jauh, perlu ditegaskan bahwa agama yang dimaksud dalam tulisan ini dan yang menjadi kebutuhan dasar manusia adalah agama Islam yang diturunkan Allah Swt menjadi risalah Muhammad Saw. Firman Allah Swt: اَ لۡيَوۡمَ اَكۡمَلۡتُ لَـكُمۡ دِيۡنَكُمۡ وَاَ تۡمَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ نِعۡمَتِىۡ وَرَضِيۡتُ لَـكُمُ الۡاِسۡلَامَ دِيۡنًا ؕ Terjemahannya: ‘Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu” (Qs: al-Maidah: 3). Islam inilah agama yang benar memuat akidah yang murni, syariat yang adil, aturan yang konprehensif, etika dan moralitas yang mulia. Adapun agama lain yang sudah terdistorsi dan bahkan dihapus seperti Yahudi dan Nashraniyah, atau agama berhala seperti Budha dan Hindu, maka bukan menjadi bahagian dari ulasan di tema ini. Kaum Penentang Fitrah Keimanan Gelombang arus pemikiran atheis hari ini sangat massif mengklaim ketidakbutuhan terhadap agama. Trend pemikiran humanisme tampak paling banyak ditampilkan dan digalakkan. Mereka mengklaim bahwa manusia sudah sampai pada tingkat keilmuan dan kesadaran yang tinggi, dan menuntunnya mengelola dan mengendalikan dirinya sendiri. Setiap orang sanggup memenuhi kepentingannya sendiri, menyelesaikan persoalannya tanpa bantuan orang lain apalagi di luar tabi’at kemanusiaan. Manusialah yang merumuskan masa depannya, menentukan arah hidupnya, karena cukup mampu dan sadar bertindak di semua sektor. Akal manusia – menurut mereka – adalah pusat kontrol dan kendali, sehingga dia punya kekuasaan mutlak. Mereka beranggapan bahwa semua bentuk intervensi pihak luar atas manusia merupakan bentuk hinaan, menurunkan derajatnya ke level bawah. Karena itu, upaya mencapai derajat tinggi mesti didasari oleh kemerdekaan diri yang mutlak. Faham seperti ini hakikatnya seolah menjadikan manusia itu sebagai tuhan. Arus pemikiran ini menguat di abad ke-18 Masehi, dan bertambah kuat pada abad ke-19 Masehi dan terus berlangsung hingga hari ini. Pikiran utama aliran ini mendakwahkan kemerdekaan mutlak bagi manusia, tidak butuhkan wahyu dan akal manusia dianggap pengganti wahyu ilahi. Pertanyaan asumtif; apakah arus humanisme sudah mampu menuntun manusia ke level lebih tinggi? Jawabannya; ternyata tidak sama sekali. Bahwa sebaliknya, arus humanisme malah menjerumuskan banyak manusia ke krisis multidimensi, kehidupan mereka menyimpang dan terjerumus dalam lubang persoalan yang dalam, hidup mereka dikelilingi problematika berat, dan memang hanya kondisi ini yang terwujud dari arus humanisme itu. Akal fikiran manusia mustahil bisa diandalkan untuk menguasai pengetahuan dengan sendirinya, apalagi untuk menguasai segala hal. Mereka sejatinya menggabungkan antara sikap over mendudukkan manusia dan sikap meremehkan kuasa dan keterlibatan Allah Swt dalam hidup mereka. Kesalahan pertama yang menimpa mereka adalah, hakikatnya arus pemikiran atheisme telah merendahkan marwah dan keistimewaan manusia. Sekalipun mereka mengklaim menghormati dan meninggikan derajat manusia. Sebabnya, karena kalau Allah Swt dianggap tiada, maka mustahil manusia ini akan ada di dunia. Artinya, hakikat keberadaan manusia seolah dianggap tiada, yakni statusnya sebagai hamba, makhluk yang dimuliakan dan diistimewakan ketimbang makhluk lainnya. Firman Allah Swt: وَلَـقَدۡ كَرَّمۡنَا بَنِىۡۤ اٰدَمَ Terjemahannya: “Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam,” (Qs; al-Isra’: 70). Arus humanisme sejatinya hanya memandang manusia seperti makhluk biasa yang tidak istimewa dan tidak mulia. Persis seperti hewan, tidak ada beda dengan virus, bakteri, cacing dan lain-lain. Hak-hak manusia persis sama dengan hewan dan serangga. Pasalnya, semua makhluk pada hakikatnya memiliki hak dasar dan status yang sama. Selain itu, arus humanisme juga menjadikan manusia seperti bahagian dari benda, tidak punya nilai dan tidak beretika, karena hanya terbentuk tiba-tiba. Kehidupan manusia tidak lebih berharga dari kehidupan makhluk lain seperti monyet atau semut, tidak juga punya values seperti halnya kehidupan virus dan bakteri. Sebab, semua manusia tercipta begitu saja dan secara tiba-tiba. Kesalahan kedua adalah arus pemikiran humanisme sebenarnya tidak mengenal peningkatan marwah diri manusia, perasaan mulia, perilaku lurus, akidah, etika moralitas, values dan semisalnya. Manusia menurut mereka hanya seperti hewan atau seperti benda, dia ada tanpa kesengajaan, dia hilang tanpa tujuan dan tidak ada apapun di balik keberadaannya. Arus pemikiran humanisme mematikan etika dan moralitas, karena etika dan moralitas tidak mungkin ada tanpa dasar agama. Mengingkari keberadaan agama berarti mengingkari keberadaan akhlak dan etika. Dengan begitu; maka tiada beda antara jujur dan dusta, antara amanah dan khianat. Tidak pula values sebagai media untuk menilai antara benar dan salah. Lantas standar apa yang dipakai untuk menilai antara perilaku mulia dengan perilaku jahat? Kesalahan ketiga; pada dasarnya arus humanisme memandang manusia tak berarti. Sebab, jika agama yang hak dianggap tiada maka hidup ini juga tidak bermakna dan tak bertujuan, sehingga tiada sesuatu pun di dunia ini yang keberadaannya berarti. Inti pemikiran humanisme adalah keberadaan manusia dalam kehidupan ini sebenarnya tidak berarti, karena hanya sekedar hidup lalu mati dan punah, tidak lebih dari itu. Sebuah cara berfikir yang tidak bernilai, hanya gurauan dibalut oleh kegelapan dan kebingungan, tiada harapan dan tujuan, hidupnya sama seperti hidupnya binatang, sekedar makan, minum, bercinta, berkembang lalu meninggal sebagai ujung semuanya. Kesimpulan: semua arus pemikiran yang menganggap agama tidak penting sebenarnya mematikan dasar kemanusiaan, bahkan manusia dianggap telah mati, karena tiada prinsip hidup yang dipegang dan tiada values yang diperjuangkan. Di bawah kendali arus pemikiran atheis, manusia diantar menuju kehancuran etika dan moralitas, hilang values, jiwa kering dan kegaduhan sosial. Lantas kebenaran yang tidak bisa disanggah adalah, bahwa iman kepada Allah Swt dan komitmen beragama merupakan hak dan kebenaran bahkan landasan utama hidup, pondasi untuk mewujudkan nilai dari eksistensi manusia di kehidupan ini. Kebutuhan Manusia Terhadap Agama yang Benar. Kebutuhan kita terhadap agama jauh lebih besar ketimbang kebutuhan kita terhadap matahari dan sinarnya, bahkan lebih besar dari kebutuhan kita terhadap makan dan minum, bahkan terhadap udara sekalipun. Kebutuhan kita terhadap agama dimulai dari kebutuhan kita terhadap hidayah dan kebahagiaan. Dua hal ini merupakan kebutuhan mutlak bagi manusia. Keduanya terkait erat dengan agama dan mustahil dipisahkan darinya. Firman Allah Swt: فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَاىَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشۡقٰى .وَمَنۡ اَعۡرَضَ عَنۡ ذِكۡرِىۡ فَاِنَّ لَـهٗ مَعِيۡشَةً ضَنۡكًا Terjemahannya: “maka (ketahuilah) barang siapa mengikuti petunjuk-Ku, dia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit,” (Qs: Thaha: 123-124). Juga firman Allah Swt: فَمَنۡ تَبِعَ هُدَاىَ فَلَا خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُوۡنَ Terjemahannya: “maka barang siapa mengikuti petunjuk-Ku, tidak ada rasa takut bagi mereka dan mereka tidak bersedih hati.”” (Qs: al-Baqarah: 38). Agama yang benar itu hanyalah Islam yang memindahkan manusia dari kegelapan menuju cahaya, dari kegelisahan menuju ketenangan, dari kebingungan menuju keyakinan. Firman Allah Swt: الۤرٰ كِتٰبٌ اَنۡزَلۡنٰهُ اِلَيۡكَ لِـتُخۡرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمٰتِ اِلَى النُّوۡرِ بِاِذۡنِ رَبِّهِمۡ اِلٰى صِرَاطِ الۡعَزِيۡزِ الۡحَمِيۡدِۙ Terjemahannya: “Alif Lām Rā`. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu (Muhammad) agar engkau mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya terang-benderang dengan izin Tuhan, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Mahaperkasa, Maha Terpuji.” (Qs: Ibrahim: 1) Firman Allah Swt: لَقَدۡ مَنَّ اللّٰهُ عَلَى الۡمُؤۡمِنِيۡنَ اِذۡ بَعَثَ فِيۡهِمۡ رَسُوۡلًا مِّنۡ اَنۡفُسِهِمۡ يَتۡلُوۡا عَلَيۡهِمۡ اٰيٰتِهٖ وَيُزَكِّيۡهِمۡ وَيُعَلِّمُهُمُ الۡكِتٰبَ وَالۡحِكۡمَةَ ۚ وَاِنۡ كَانُوۡا مِنۡ قَبۡلُ لَفِىۡ ضَلٰلٍ مُّبِيۡنٍ Terjemahannya: “Sungguh, Allah telah memberi karunia kepada orang-orang beriman ketika (Allah) mengutus seorang Rasul (Muhammad) di tengah-tengah mereka dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab (Alquran) dan Hikmah (Sunah), meskipun sebelumnya, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (Qs; Ali Imran: 164). Agama Islam yang mulia ini seluruh kandungannya adalah kebaikan dan perbaikan, menampik keburukan, solusi bagi semua persoalan, tanpanya tiada tujuan yang diharap, dan tiada ujung yang dicari. Agama yang mulia ini menuntun ke jalan terbaik Agama yang mulia ini hanya kebenaran yang dikabarkan dan keadilan yang dirasakan dalam ketetapan hukumnya. Sisi kemanusiaan kita mustahil sempurna, mustahil kebahagiaan dinikmati dan mustahil ketenangan dirasakan dalam hidup tanpa melalui agama ini. Agama yang benar sangat menghargai keberadaan manusia, bahkan keberadaan segala sesuatu. Kita membutuhkan agama Islam karena rasa kita untuk dimuliakan dan sebagai makna keberadaan kita. Islam memandang manusia sebagai makhluk yang lebih mulia ketimbang makhluk lainnya. Allah Swt memilihnya, memuliakannya, mengistimewakannya dan membebankan kewajiban kepadanya. Manusia adalah makhluk spesial yang diciptakan untuk tujuan spesial. Segala sesuatu ditandukkan untuknya dan wajib menjaga hak dasar dan semua kebutuhannya. Manusia dalam pandangan Islam ditempatkan di derajat yang tinggi, keberadaannya untuk makna yang agung, dan hidupnya lebih penting dari hidup makhluk lainnya. Kewajiban utama dari keberadaan kita menurut agama yang benar ini adalah kemampuan kita menjawab: siapa yang membuat kita ada? Kenapa kita diadakan? Dan apa setelah keberadaan kita sekarang? Persoalan ini sangat meresahkan setiap orang, menyibukkan fikirannya, menuntut untuk segera dijawab. Walau orang berupaya mengabaikannya saat ini, maka suatu saat pasti dia terdorong menjawabnya dengan pasti dan meyakinkan untuk tahu; dari mana? Akan kemana? Dan kenapa? Sejujurnya, saya sudah sebutkan tiga pertanyaan mendasar ini kepada sejumlah orang kafir yang saya temui di banyak negara. Saya rasakan betapa kaget mereka, bingung, bahkan terdiam untuk menjawab tiga pertanyaan ini. Mereka orang-orang terpandang, berpengetahuan namun tidak sanggup menjawab persoalan pemikiran terpenting dalam hidup mereka. Sementara anak kecil kaum muslimin sangat mudah menjawabnya dengan yakin dan tenang. Jadi, agama kita ini sudah menjelaskan segala sesuatu, sehingga semuanya jelas dan tegas dalam pandangan dan hati kita. Pertanyaan pertama: siapa yang mengadakan aku? Agama yang benar pasti menjelaskan tentang bagaimana mengetahui sang pencipta dan tentang hak pencipta atas diri kita. Pertanyaan kedua: kenapa saya diadakan? Agama yang benar pasti menjelaskan apa hikmah di balik penciptaan kita. Firman Allah Swt; وَمَا خَلَقۡتُ الۡجِنَّ وَالۡاِنۡسَ اِلَّا لِيَعۡبُدُوۡنِ Terjemahannya: “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (Qs; al-Dariyat: 56). Dengan demikian hati kita menjadi sangat tenag. Dengan jawaban ini, hidup punya tujuan yang jelas. Dengan jawaban ini, akal fikiran terbebas dari kungkungan khurafat. Pertanyaan ketiga: apa gerangan setelah keberadaan ini? Agama yang benar juga pasti menjelaskan tentang ke mana ujung perjalanan, tentang kehidupan akhirat, tentang dunia, balasan dan ganjaran. Dengan begitu, kita akan bersabar menjalani kehidupan ini, kita juga lebih tenang, lalu harapan baik di hati tumbuh kuat ditambah semangat beramal. Secara otomatis akan terbentuk self controlling dalam diri kita yang mendorong untuk beramal dan menghindarkan kita dari keburukan. Kita perlu agama untuk memenuhi kebutuhan gizi akal fikiran. Akal selalu berupaya mencari tahu apa di sekelilingnya, hingga ingin mengetahui peristiwa ghaib masa lampau dan akan datang. Lantas agama yang benarlah yang dapat menjawab keinginan itu, memenuhi kebutuhan itu seperti disebutkan penjelasannya pada ulasan sebelumnya. Agama yang benar menyiapkan jawaban tepat untuk semua yang hendak diketahui manusia, dan tentang semua yang bermanfaat bila diketahui. Agama yang benar adalah gizi penting untuk tumbuhkan akal fikrian, menuntunnya berfikir benar. Sedang pengetahuan modern tidak sanggup menjawabnya, karena semuanya dibangun atas dasar pengalaman semata. Kita butuh agama untuk memuliakan akal, menjauhkannya dari kesesatan dan khurafat serta dongeng. Agama mengajarkan akal untuk beribadah sepenuhnya kepada Allah Swt satu-satuNya, tidak menghamba kepada pohon, batu, sapi, tikus dan semisalnya. Allah Swt muliakan manusia dengan agama Islam ini, dia buka ruang berfikir untuk meresapi ayat-ayat Allah Swt yang tertulis, atau yang disaksikan mata kepala. Kebutuhan kita terhadap agama Islam sangat besar untuk muliakan rasa dengan penuh cinta, malu, tawadhu’ pemaafan dan semisalnya. Sejauh mana pun engkau mencarinya, pasti engkau tidak dapatkan kecuali pada agama Islam yang benar ini. Kebutuhan kita terhadap agama Islam yang benar ini sangat besar, untuk menata jiwa melalui latihan membiasakan diri melawan godaan palsu dan nafsu buruk, sebagaimana dia menekan ledakan kegembiraan dan kemarahan, lalu menyuguhkan cara paling efektif menghapus keraguan dan menghilangkan keputusasaan. Kita sangat membutuhkan agama untuk menetralisir semua penyakit psikologis berupa kegundahan, keputusasaan, kekhawatiran, obsesif, keraguan dan prasangka buruk. Alam sedang mengerang akibat beban berat dipikulnya, sempoyongan mencari penawar, sedang “resep obat” yang mujarab, – andai mereka tahu – hanya ada dalam agama Islam. Kita butuh agama Islam yang benar ini untuk membawa hati lebih tenang, lebih nyaman dan tenteram. Orang yang menjalankan agama Islam sangat yakin bahwa, segala sesuatu dalam kendali Allah Swt, dan karenanya dia akan tulus menikmati rasa gembira dan sedih. Jika dia tertimpa bencana lalu dia mampu menghindar, maka dia tidak akan menyerah, namun jika tidak mampu menghindar, maka dia tidak mengeluh. Kita butuh agama Islam ini untuk menyuplai gizi spiritual untuk kita. Sebab, agama adalah gizi, penawar, penenang dan syurga bagi ruh, juga ibadah dan dzikirnya yang akan mendekatkan kepada Allah Swt, sehingga merasa lebih tenang dan tenteram. Gizi agama ini memberinya energi dan membebaskannya dari belenggu kehinaan dan kepengecutan. Sebaliknya, dia menanamkan kemuliaan dan kemerdekaan untuk tidak tunduk kepada selain Allah Swt. Kita butuh agama Islam yang benar ini untuk menghadapi segala kesulitan hidup, melewati semua tantangan dan hambatan. Karena mengimani rububiyah Allah Swt, iman kepada takdir, mengimani nama-nama dan sifat-sifat Allah Swt adalah senjata andalan orang mukmin, tiada menyisakan rintangan sebesar apapun kesulitan di hadapannya. Kita butuh agama Islam ini untuk mewujudkan sikap keseimbangan dan keadilan antara tuntutan ruh dengan tuntutan jasad, antara kebutuhan hidup di dunia dengan amal untuk kehidupan akhirat kelak. Firman Allah Swt: وَابۡتَغِ فِيۡمَاۤ اٰتٰٮكَ اللّٰهُ الدَّارَ الۡاٰخِرَةَ وَلَا تَنۡسَ نَصِيۡبَكَ مِنَ الدُّنۡيَا وَاَحۡسِنۡ كَمَاۤ اَحۡسَنَ اللّٰهُ اِلَيۡكَ وَلَا تَبۡغِ الۡـفَسَادَ فِى الۡاَرۡضِ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الۡمُفۡسِدِيۡنَ Terjemahannya: “Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan.” (Qs: al-Qashash: 77). Kita butuh agama Islam ini untuk merawat fisik kita dengan sebaik-baiknya, berupa menjaga kebersihan, kesucian dan kekuatan. Agama Islam melarang manusia melakukan setiap yang timbulkan mudharat, menjauhkan mereka dari segala sumber penyakit, menganjurkan mereka berobat kala sakit, menganjurkan untuk bersikap seimbang kala makan dan minum, memberikan keringanan syariat dan menata cara melampiaskan naluri kemanusiaannya. Kita butuh agama Islam ini untuk mengenali diri kita dengan benar dan tepat, juga untuk mengenal alam sekitar. Kita butuh agama Islam ini untuk membimbing kita. Kita rasakan Islam mengarahkan kita melakukan semua yang berguna, dan mengingatkan kita dari segala yang timbulkan mudharat, mengajarkan kita mengedepankan yang terbaik dan menanggalkan semua yang terburuk. Kita butuh agama Islam ini, karena tabiat dasar kita memang makhluk lemah, kita butuh sandaran kuat tempat bertumpu, tiang penopang kita, dan agama yang benar mengajarkan: yakin kepada Allah Swt, menghamba dan patuh kepadaNya serta nyaman bersamaNya. Jadi, akan ditemukan dalam agama Islam ini, kekuatan kala sedang lemah, harapan saat sedang putus asa, sandaran kala sedang takut dan sabar kala ditimpa musibah. Semua itu mustahil bisa ditukar dengan uang atau kenikmatan lain, atau akal bahkan filsafat. Kita butuh agama Islam yang benar ini karena menjadi sumber nilai, adab, perilaku dan akhlak. Dari Islam, manusia mengerti nilai dan prinsip, di mana tanpa Islam hidup ini akan berubah seperti hutan belantara yang menyeramkan. Kita butuh agama Islam ini karena kita perlu tujuan hidup yang mulia, kita beupaya mewujudkannya dengan sungguh-sungguh, kita berpagi dan bersore hari tidak keluar dari lingkaran perhatian kita, tanpanya hilang makna hidup dan pudar tujuan mulia, lalu hidup pun menjadi gelap gulita. Andai saja agama Islam yang benar ini hanya sebatas menanamkan iman kepada takdir yang menyinari hidup ini, dan menghapus kesialan dan kegelapan hidup serta menumbuhkan sabar dan harapan dalam hidup, maka itu sudah lebih dari cukup. Sungguh kehidupan yang sangat indah di mana manusia diberi aturan dan undang-undang hidup yang agung. Firman Allah Swt; مَاۤ اَصَابَ مِنۡ مُّصِيۡبَةٍ فِى الۡاَرۡضِ وَلَا فِىۡۤ اَنۡفُسِكُمۡ اِلَّا فِىۡ كِتٰبٍ مِّنۡ قَبۡلِ اَنۡ نَّبۡـرَاَهَا ؕ اِنَّ ذٰ لِكَ عَلَى اللّٰهِ يَسِيۡرٌ. لِّـكَيۡلَا تَاۡسَوۡا عَلٰى مَا فَاتَكُمۡ وَلَا تَفۡرَحُوۡا بِمَاۤ اٰتٰٮكُمۡ وَاللّٰهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخۡتَالٍ فَخُوۡرِۙ Terjemahannya: “Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam Kitab (Lauḥ Maḥfūẓ) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah. Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu, dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri,” (Qs; al-Hadid: 22-23). Kita butuh agama Islam yang benar ini karena kepentingan sosial tidak lebih ringan ketimbang kepentingan individual, karena kita perlu ciptakan kebersamaan dan keakraban. Sedang agama Islam ini akan menyatukan hati manusia yang berserakan dan keinginan yang berbeda-beda. Sungguh kita butuh agama Islam yang lurus ini untuk merajut ikatan kuat antar individu, terutama ikatan hati dan moralitas seperti saling mengasihi, saling menyayangi, membangun solidaritas, saling cinta, saling bantu dan saling mengingatkan. Tiada mungkin terbangun hubungan sosial yang kokoh kecuali ditopang oleh ikatan kuat antar individu, dan tiada nilai ikatan sosial kuat kecuali berdasar agama Islam yang lurus ini. Sementara untuk merajut ikatan sosial dalam skala kecil – keluarga misalnya – maka sungguh sangat banyak panduannya. Tiada satu keluarga pun yang tidak butuh panduan agama Islam ini untuk menata semua keperluan seperti hak pasangan suami istri, pendidikan anak, nafkah, saling menanggung beban, kewarisan, wasiat dan sebagainya. Kita butuh agama Islam yang benar ini karena kita perlu aturan menata hubungan antara semua individu dari semua penjuru dunia dengan menetapkan kewajiban dan hak masing-masing, lalu agar masyarakat tumbuh dengan dorongan internal dan kekuatan hati. Semua itu tidak ditemukan dalam semua aturan dan undang-undang ciptaan manusia. Kita butuh agama Islam yang benar ini karena kita adalah masyarakat yang satu dan saling terikat erat, menjaga kekuatannya dan menghindarkan dari keterpurukan dan kepunahan. Kita butuh agama Islam yang benar ini karena kita perlu keadilan yang menempatkan segala sesuatu pada tempatnya, menghilangkan semua bentuk tindakan zalim. Dan semuanya merupakan inti agama Islam ini. Kita butuh agama Islam yang lurus ini untuk mewujudkan keamanan. Dan agama yang benar ini merupakan kekuatan terbesar dan motivasi terbaik. Tidak dapat ditandingi oleh kekuasaan dan kekuatan manapun. Agama sebagai internal controlling, dan orang beragama yang benar selalu merasa dipantau oleh Allah Swt, baik dalam kesendirian atau bersama orang lain. Dengan begitu, maka dia pasti takut berlaku curang, aniaya, zalim atau menyakiti orang lain. Buah Indah Pemeluk Agama Islam Kita tidak akan sampai pada puncak kenikmatan berkat karunia agama Islam yang mulia ini kecuali dengan memenuhi enam syarat, yakni; Kita mempelajari Islam dengan benar, sempurna dan lebih detail, baik terkait akidah, ibadah, hukum dan akhlaknya. Orang muslim yang tidak tahu agamanya dengan benar dan detail termasuk orang muslim yang minus. Kita mengimani semua ajaran yang ada dalam agama Islam yang lurus ini. Jangan mengakui sebagian lalu menolak sebagian lainnya. Firman Allah Swt; يٰٓاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوا ادۡخُلُوۡا فِى السِّلۡمِ Terjemahannya: “Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam” (Qs; al-Baqarah: 208). Kita bersungguh-sungguh mengamalkannya, memaksimal dalam menjalankan hukumnya sebatas kemampuan kita. Kita menjauhi segala yang yang bertentangan dengannya atau dikhawatirkan melemahkan komitmen kita terhadapnya seperti, perilaku syirik, kufur, bid’ah dan perbuatan mungkar. Dengan begitu, kita akan merasakan kebahagiaan beragama Islam, bahkan seolah hidup dalam syurga. Kita menjadikan agama ini sebagai prioritas dan kebutuhan hidup dan di setiap waktu kita, termasuk mengisi tangga obsesi kita. Pastikan bahwa agama Islam ini yang paling utama, dan semua hal selainnya ditempatkan setelahnya. Kita merasakan betapa besarnya nikmat ini. Diantara caranya adalah dengan mengamati kehidupan mereka yang jauh dari agama Islam, atau hidup orang yang sebelumnya jauh dari Islam lalu dikaruniai untuk berislam. Bandingkan kehidupannya antara sebelum atau sesudah dia berislam, pasti akan terasa betapa besarnya karunia yang engkau miliki karena berislam. Salah satu persoalan besar hari ini adalah; diantaranya generasi muda Islam ada yang tidak merasakan nikmatnya agama Islam yang dikaruniakan Allah Swt kepada kita. Seperti singa yang disiksa oleh rasa haus Sedang air dia pikul di pundaknya. Adakah engkau tahu bagaimana anda seorang muslim? Artinya muslim di semua sisi, ia berarti engkau pemenang, engkau bahagia, engkau tenang bersama sang maha perkasa. Pandanganmu jelas, hatimu sehat, ruhmu kuat, jiwamu tenang. Semua bentuk kebahagiaan digiring untukmu, harapan, kegembiraan, dan keselamatan, semua itu diserahkan Allah Swt untukmu. Seiring dengan itu, engkau tidak diluputkan apapun dari kehidupanmu, bahkan hidupmu lebih bersinar, lebih cerah dan lebih teratur. Jika engkau teguh memeluknya hingga meninggalkan hidup ini, maka engkau bahagia di dua alam, engkau selamat di dua kehidupan, di dunia dan di akhirat. Penutup: hendaknya diyakini bahwa diantara yang ditetapkan Allah Swt pada makhlukNya adalah, bahwa nikmat yang tidak disyukuri akan diganti dengan lawannya, nikmat aman kalau tidak disyukuri akan diganti dengan ketakutan, nikmat rizqi jika tidak disyukuri akan diganti dengan kelaparan. Demikian pula, nikmat agama Islam ini, kalau tidak disyukuri akan diganti dengan kekufuran. Firman Allah Swt; وَاِنۡ تَتَوَلَّوۡا يَسۡتَـبۡدِلۡ قَوۡمًا غَيۡرَكُمۡ ۙ ثُمَّ لَا يَكُوۡنُوۡۤا اَمۡثَالَـكُم Terjemahannya: “Dan jika kamu berpaling (dari jalan yang benar) Dia akan menggantikan (kamu) dengan kaum yang lain, dan mereka tidak akan (durhaka) seperti kamu.” (Qs; Muhammad: 38). Perlu juga diyakini bahwa agama Islam adalah karunia paling berharga bagi pemeluknya, jika dia tidak menemukan orang yang meresapi nikmatnya Islam ini dan menjaganya erat-erat, serta melihatnya seperti ghanimah yang disiapkan Allah Swt untuknya, maka Islam akan menjauh darinya dan pindah ke yang lain. firman Allah Swt: فَسَوۡفَ يَاۡتِى اللّٰهُ بِقَوۡمٍ يُّحِبُّهُمۡ وَيُحِبُّوۡنَهٗۤ ۙ Terjemahannya: “maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum, Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya,” (Qs: al-Maidah; 54). Sebagai tambahan, saya pesan kepadamu untuk; Baca kutaib kecil yang saya sebutkan sebelumnya. Yakni yang berjudul: “al-Dinu al-Shahih Yahullu Jami’u al-Masyakil” karya syekh Abdurrahman al-Sa’di. Saya berharap para pembaca membaca ulang bab ketujuh buku ini. Di sana disebutkan penjelasan keenam tentang bukti nubuwah Muhammad Saw yakni; kesempurnaan syariat dan keindahannya. Menggabungkan antara bab tersebut dengan bab ini akan terasa makin lengkap dan sempurna. Terjemahan Kitab agamaAkidahalquranilmuislam