PASAL VII – BUKTI KENABIAN MUHAMMAD SAW bag 3 Supriyadi Yusuf Boni, 9 Juli 202513 Juli 2025 Sumber: Kitab Maraqy al-Wa’yi (Penanaman Kesadaran) Penulis: Prof. Dr. Shaleh bin Abdul Aziz Utsman Sindi Penerjemah: Supriyadi Yousef Boni Editor: Idrus Abidin BUKTI KELIMA: REALITAS DAKWAH RASULULLAH SAW. Sikap dan realitas dakwah Nabi Saw menegaskan bahwa beliau adalah benar utusan Allah Swt. Mustahil beliau sekedar mengklaim diri sebagai rasul apalagi motifnya ingin mendustai banyak orang. Fakta dakwah Rasulullah Saw yang dimaksud sangat banyak dan beragam. Ulasan ini hanya memotret sebagian saja dan dianggap sudah lebih dari cukup untuk mewakili. Diantara fakta-fakat dakwah Rasulullah Saw adalah; Pertama: kehidupan duniawi Rasulullah yang sangat sederhana dan tidak bermewah-mewahan. Beliau terbiasa memperbaiki sandalnya sendiri, memeras susu sendiri, menjahit pakaiannya sendiri, tidak lantas meninggikan dirinya sebagai seorang nabi atau membanggakan sosoknya sebagai rasul. Beliau makan seadanya, bahkan terkadang tidur malam menaham lapar karena tak punya makanan, pernah mengikat dan menimpa perutnya dengan batu untuk melawan lapar, pernah tiga bulan berturut-turut dapurnya padam, dan tak pernah dikenyangkan oleh roti dari gandum hingga akhir hayatnya. Ketika memperolah harta, Beliau sisihkan untuk harinya dan tidak menyimpan untuk hari esok. Jabir r. a. berkata: “Tak pernah Rasulullah dipinta sesuatu lantas berkata; tidak.” (Muttafaqun alaihi, al-Bukhari, no. 6034 dan Muslim, no. 2311). Kala wafat, beliau tidak meninggalkan harta duniawi sedikitpun, bahkan baju besinya sedang digadaikan pada seorang Yahudi, jaminan atas tiga puluh sha’ gandum yang beliau beli. Apakah akan begini fakta kehidupan orang yang mengaku-ngaku nabi? Logika sehat pasti menolak. Sebab, adakah yang menghalanginya untuk menumpuk kekayaan atau membangun istana megah? Bukankah motif utama orang yang mengklaim diri sebagai nabi, hanya sekedar ingin merasakan kenikmatan kehidupan duniawi. Sungguh fakta kehidupan Rasulullah Saw menegaskan beliau orang paling mustahil hanya mengaku-ngaku nabi. Karenanya, beliau adalah benar rasul Allah Swt. Kedua: Beliau tidak meninggalkan harta warisan untuk kerabatnya, sekalipun hanya sebesar satu Dirham. Beliau Saw bersabda; “Kami tidak saling mewarisi, semua yang kami tinggalkan adalah sedekah, sungguh keluarga Rasulullah Saw hanya diizinkan mengonsumsi makan, tidak boleh mengambil harta melebihi yang dimakan.” (Muttafaqun alaihi, al-Bukhari, no. 3711 dan Muslim, no. 1759). Beliau juga tidak menunjuk ahli baitnya menggantikannya sebagai khalifah dan tidak pula untuk jadi pemimpin. Padahal, pamannya masih ada, sepupu-sepupunya juga masih hidup. Adakah orang yang mengaku-ngaku nabi yang rela meninggalkan keluarganya hidup berkekurangan, sedang dia mampu mendudukkan mereka pada jabatan duniawi yang tinggi? Tidakkah fakta kehidupan Rasulullah Saw ini menegaskan bahwa beliau Saw adalah benar rasul Allah Swt? Ketiga: Rasulullah Saw konsisten melawan semua yang menentang dakwahnya untuk memurnikan tauhid dan ibadah kepada Allah Swt, walau harus korbankan kehidupan duniawinya. Olehnya, ketika seseorang berkata kepadanya: wahai Muhammad, wahai sosok terbaik di antara kami, putra orang terbaik di internal kami, wahai paduka kami putra paduka kami, beliau menjawab: silahkan ucapkan pernyataan kalian itu, namun jangan sampai setan memperdaya kalian, saya ini Muhammad, seorang hamba dan rasul Allah. Saya tidak ingin kalian meninggikan aku melebihi kedudukanku yang ditetapkan Allah Swt untukku.’ (HR. Ahmad, no. 13596) Demikian pula ketika seseorang berkata kepadanya: dengan kehendak Allah dan kehendakmu. Beliau lantas berseru: apakah engkau menjadikan aku serikat bagi Allah? Katakanlah hanya dengan kehendak Allah Swt satu-satunya.” (HR. Ahmad, no. 3247) Ketika putranya bernama Ibrahim meninggal bertepatan dengan gerhana matahari, sebagian orang berkata; matahari mengalami gerhana karena putranya bernama Ibrahim meninggal, lalu beliau bersabda: “Sesungguhnya matahari dan bulan merupakan tanda-tanda kebesaran Allah Swt, keduanya tidak gerhana karena meninggalnya seseorang dan tidak pula karena lahirnya seseorang. Jika kalian melihat keduanya sedang gerhana, maka berdo’alah kalian kepada Allah dan shalatlah dua raka’at hingga gerhana berakhir.” (Muttafaqun alaihi, al-Bukhari, no. 1060 dan Muslim, no. 915) Andai beliau orang yang mengaku-ngaku sebagai nabi – dan mustahil itu terjadi – maka pasti dia senang dengan peristiwa tersebut bahkan akan memanfaatkannya dengan baik demi mengangkat dirinya di mata kaum jahil. Akan tetapi, karena beliau betul rasul Allah Swt, makanya tidak dia lakukan. Keempat: Dahulu Rasulullah Saw pernah dikawal para sahabatnya sampai turun firman Allah Swt: وَاللّٰهُ يَعۡصِمُكَ مِنَ النَّاسِ ؕ Terjemahannya: “Dan Allah memelihara engkau dari (gangguan) manusia.” (Qs; al-Maidah: 67) Lalu beliau berkata kepada para pengawalnya: wahai sekalian manusia, kembalilah kalian karena Allah Swt sendiri yang akan menjagaku.” (HR. al-Tirmidzi: no. 3046) Demikianlah sikap beliau, padahal kaum Yahudi, Nashrani dan Majusi bersatu memusuhinya dan bahkan memata-matainya, namun beliau tidak peduli karena yakin dijaga Allah Swt. Bahkan beliau menyampaikan ke para sahabatnya, tidak mungkin musuhnya dapat mencelakainya. Andai bukan nabi, akankah dia bersikap seperti itu? Logika sehat pasti meyakini bahwa semua itu menunjukkan kalau beliau benar-benar seorang nabi dan rasul sesungguhnya. Kelima: Bahwa al-Qur’an al-Karim adalah puncak sastra Arab, tiada yang menandinginya. Al-Qur’an dibawa oleh Rasulullah Saw seraya bersabda: “ini adalah kalamullah dan saya hanya bertugas menyampaikannya. Firman Allah Swt: وَاِذَا تُتۡلٰى عَلَيۡهِمۡ اٰيَاتُنَا بَيِّنٰتٍ ۙ قَالَ الَّذِيۡنَ لَا يَرۡجُوۡنَ لِقَآءَنَا ائۡتِ بِقُرۡاٰنٍ غَيۡرِ هٰذَاۤ اَوۡ بَدِّلۡهُ ؕ قُلۡ مَا يَكُوۡنُ لِىۡۤ اَنۡ اُبَدِّلَهٗ مِنۡ تِلۡقَآئِ نَـفۡسِىۡ ۚ اِنۡ اَتَّبِعُ اِلَّا مَا يُوۡحٰۤى اِلَىَّ ۚ اِنِّىۡۤ اَخَافُ اِنۡ عَصَيۡتُ رَبِّىۡ عَذَابَ يَوۡمٍ عَظِيۡمٍ Terjemahannya: “Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami dengan jelas, orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan kami berkata, “Datangkanlah kitab selain Alquran ini atau gantilah.” Katakanlah (Muhammad), “Tidaklah pantas bagiku menggantinya atas kemauanku sendiri. Aku hanya mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku. Aku benar-benar takut akan azab hari yang besar (Kiamat) jika mendurhakai Tuhanku.”” (Qs; Yunus: 15). Andai beliau hanya sekedar mengaku-ngaku sebagai nabi, maka semestinya dia menisbahkan al-Qur’an itu kepada dirinya sendiri, hingga statusnya lebih tinggi lagi di mata manusia. Bukankah orang yang mengklaim dirinya nabi, hanya mengingnkan kebanggaan dan kedudukan tinggi di hadapan masyarakat? Atau minimal, dia mengaku bahwa al-Qur’an al-Karim diterima langsung dari Allah Swt tanpa melalui perantaraan Jibril a. s. Sungguh fakta ini lebih dari cukup untuk menunjukkan kalau nabi yang terpercaya betul-betul sebagai nabi dan rasul Allah Swt. Keenam: Berulang-ulang disebutkan dalam al-Qur’an bahwa Nabi Saw adalah seorang hamba yang tunduk kepada Rabbnya. Dia hanyalah seorang individu seperti manusia pada umumnya, tiada kuasa atas dirinya dan atas selainnya. firman Allah Swt: قُلۡ اِنَّمَاۤ اَنَا بَشَرٌ مِّثۡلُكُمۡ يُوۡحٰٓى اِلَىَّ Terjemahannya: “Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang telah menerima wahyu,” (Qs: al-Kahfi: 110) Firman Allah Swt: Terjemahannya: “Katakanlah (Muhammad), “Aku tidak kuasa mendatangkan manfaat maupun menolak mudarat bagi diriku kecuali apa yang dikehendaki Allah. Sekiranya aku mengetahui yang gaib, niscaya aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan tidak akan ditimpa bahaya. Aku hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman.” (Qs; al-A’raf: 188) قُلْ لَّاۤ اَمۡلِكُ لِنَفۡسِىۡ نَـفۡعًا وَّلَا ضَرًّا اِلَّا مَا شَآءَ اللّٰهُ ؕ وَلَوۡ كُنۡتُ اَعۡلَمُ الۡغَيۡبَ لَاسۡتَكۡثَرۡتُ مِنَ الۡخَيۡرِ ۖ وَمَا مَسَّنِىَ السُّۤوۡءُ اِنۡ اَنَا اِلَّا نَذِيۡرٌ وَّبَشِيۡرٌ لِّقَوۡمٍ يُّؤۡمِنُوۡنَ Andai beliau berani hanya mengaku-ngaku sebagai nabi, lantas mengapa beliau tidak menempatkan dirinya lebih tinggi dan memiliki kedudukan paling tinggi.? Ketujuh: Nabi Saw disebutkan dalam al-Qur’an hanya sebanyak empat kali. Sementara nabi-nabi lainnya disebutkan dalam jumlah lebih banyak. Musa a. s. misalnya disebut namanya sebanyak 136 kali, Ibrahim as disebut sebanyak 69 kali, Nuh a. s. disebutk sebanyak 43, dan nabi-nabi lain disebutkan nama mereka lebih banyak ketimbang nabi Muhammad Saw. Pertanyaan otomatis yang muncul adalah; andai al-Qur’an ini dibuat oleh Nabi Saw, apakah logis akan melakukan itu? Adakah orang yang mengaku-ngaku nabi akan menyebut nama nabi-nabi lainnya dengan jumlah lebih banyak – padahal momentnya untuk puja-puja – sedang namanya hanya disebut sebanyak empat kali? Bukankah fakta realitas menunjukkan kalau orang yang mengaku-ngaku nabi selalu menyebut-nyebut nama, memuji dirinya sendiri dan tanpa peduli dengan nabi-nabi yang lain? Bukankah dengan menyebut namanya berulang, dia merasa terhormat? Adakah motif orang yang mengaku-ngaku nabi selain ingin dipuja-puja? Tidakkah cukup bagi kaum berakal, informasi dalam al-Qur’an sebagai petunjuk bahwa Beliau adalah rasul yang benar? Kedelapan: Pernah wahyu terlambat turun di saat beliau sedang butuh-butuhnya. Pada peristiwa al-ifki (tudingan zina ditujukan kepada Aisyah r. a.) misalnya; peristiwa tersebut sangat berat menimpa Rasulullah Saw dan juga kaum muslimin, hingga seolah mereka sulit bernafas. Sebab, selama sebulan atau lebih, kaum munafikun riang gembira merusak marwah diri Rasulullah Saw. Lantas apa yang menghalangi beliau – andai hanya mengaku-ngaku nabi – untuk menyusun pernyataan sendiri dan menyebutnya sebagai wahyu, atau mengeluarkan pernyataan yang membuatnya terbebas dari bencana buruk tersebut dan menghentikan cerita buruk kaum munafikun? Tidakkah sangat muda baginya – jika dia hendak berdusta – untuk menemui khalayak ramai seraya mengeluarkan pernyataan mengatasnamakan wahyu dari Allah Swt lalu membebaskannya dari tudingan sesat itu. Namun faktanya, itu tidak Beliau lakukan. Karena beliau Saw tidak akan berbicara mengikuti kesenangan dan hawa nafsunya, mustahil beliau meninggalkan berdusta atas nama manusia sedang berdusta atas nama Allah Swt beliau berani, semoga salam dan shalawat selalu dikaruniakan untuknya. Pelajaran Penting dari Ulasan di Atas. Seluruh kejadian, peristiwa dan sikap dakwah Rasulullah Saw yang banyak dan beragam itu memberikan keyakinan kuat bagi orang berakal sehat bahwa: mustahil semua sikap dan fakta tersebut akan dilalui oleh orang yang hanya mengaku-ngaku sebagai nabi. Arahkan pandanganmu dan perhatikan perjalanan hidupnya, sunnah-sunnahnya, sikapnya dalam kehidupan di semua sisinya, kehidupan rumah tangganya, kehidupan dakwahnya, kehidupan politiknya dan sebagainya, lalu amati itu dengan penuh kesadaran, maka pasti engkau temukan bahwa Muhammad bin Abdullah adalah betul-betul nabi pilihan Allah Swt, utusan mulia Saw. BUKTI KEENAM: SYARIAT YANG PARIPURNA Jujur, saya bingung akan mulai dari mana ulasan ini? ulasan tentang ini ibarat lautan yang tidak berujung. Andai tiada penanda lain yang menunjukkan kenabian Beliauu Saw selain syariat yang mulia dan menyinari dunia ini serta menghadirkan kebahagiaan bagi pemeluknya, maka itu pasti sudah lebih dari cukup. Islam adalah agama paling sempurna, paling mulia, paling baik mencakup ragam kebajikan dan kemulian, keindahan dan kesempurnaan yang mengandung banyak hikmah dan menunjukkan bahwa Muhammad Saw adalah seorang rasul yang amat terpercaya. Keindahan agama ini tampak dari persoalan prinsip dan turunannya, syariat dan dalil-dalilnya sehingga cukup diandalkan menjamin kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Sungguh benar firman Allah Swt: لَقَدۡ مَنَّ اللّٰهُ عَلَى الۡمُؤۡمِنِيۡنَ اِذۡ بَعَثَ فِيۡهِمۡ رَسُوۡلًا مِّنۡ اَنۡفُسِهِمۡ يَتۡلُوۡا عَلَيۡهِمۡ اٰيٰتِهٖ وَيُزَكِّيۡهِمۡ وَيُعَلِّمُهُمُ الۡكِتٰبَ وَالۡحِكۡمَةَ ۚ وَاِنۡ كَانُوۡا مِنۡ قَبۡلُ لَفِىۡ ضَلٰلٍ مُّبِيۡنٍ Terjemahannya: “Sungguh, Allah telah memberi karunia kepada orang-orang beriman ketika (Allah) mengutus seorang Rasul (Muhammad) di tengah-tengah mereka dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab (Alquran) dan Hikmah (Sunah), meskipun sebelumnya, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (Qs: Ali Imran: 164). Islam memerintahkan semua kebenaran, mengakui semua bentuk kejujuran dan menganjurkan untuk mengerjakan semua bentuk kebajikan, memiliki etika yang mulia dan mewujudkan kemaslahatan bagi semua manusia. Akidah Islam menjernihkan hati, etika dan moralitas yang diajarkan memurnikan jiwa dan amal kebajikan yang diperintahkan mewujudkan kemaslahatan bagi kehidupan. Islam hadir untuk meluruskan peyimpangan agama sebelumnya dan memperbaiki kehidupan dunia, mensinergikan antara kemaslahatan unsur jasmaniyah dan ruhaniyah, kehidupan individu dan masyarakat, memenuhi hak setiap makhluk dengan sempurna. Pondasi Islam adalah iman kepada Allah Swt dan buahnya adalah berupaya mengerjakan semua yang dicintai dan diridhai Allah Swt. Islam memerintahkan untuk berbuat adil, melakukan kebajikan dan membumikan kasih sayang. Sebagaimana Islam melarang tindakan aniaya dan akhlak buruk, membunag jauh-jauh segala bentuk kesyirikan, khurafat dan kebergantungan kepada sesama makhluk. Akidah Islam mudah difahami dan amat jelas, sejalan dengan akal dan fitrah, tidak kontradiksi dan tidak pula samar dan sumir. Tidak ada persoalan dalam agama Islam yang mustahil secara logika, atau bertentangan dengan pengetahuan yang benar. Makanya Islam cocok dijalankan sepanjang zaman dan di semua tempat. firman Allah Swt: اَلَا يَعۡلَمُ مَنۡ خَلَقَؕ وَهُوَ اللَّطِيۡفُ الۡخَبِيۡرُ Terjemahannya: “Apakah (pantas) Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui? Dan Dia Mahahalus, Maha Mengetahui.” (Qs: al-Mulku: 14). Kisah dan peristiwa di dalamnya benar selaras, tidak saling bertentangan, ketetapan hukumnya mengandung banyak hikmah dan setiap ilmu, baik duniawi maupun keagamaan yang diajarkan sarat manfaat bagi manusia dan kehidupan. Sungguh Islam adalah agama penuh hikmah dan selaras dengan fitrah, penuh kasih dan kebajikan, mengajarkan semua bentuk kebutuhan manusia, baik kebutuhan primer, sekunder bahkan tersier. Islam tidak menganjurkan kecuali pada sesuatu yang murni maslahat atau maslahat yang dominan, dan tidak pula melarang kecuali sesuatu yang murni mudharat atau mudaharatnya dominan ketimbang maslahatnya. Sungguh Islam memenuhi semua kebutuhan dan kepentingan manusia serta menciptakan kehidupan harmonis. Islam mampu mengharmoniskan relasi antara akal dengan naqli, baik dalam persoalan akidah, ibadah dan mu’amalah. Tiada satupun perintah oleh dalil naqli lantas akal bergumam: andai naqli tidak perintahkan itu. Demikian pula, tiada satu larangan oleh naqli lantas akal berucap: andai naqli tidak melarang itu. Syariat Islam sangat menganjurkan agar setiap individu muslim rajin berkarya dengan serius dan penuh kesungguhan dalam lautan kehidupan ini, melintasi bumi ini mengais karunia Allah Swt. Islam tidak memberikan batas demarkasi antara agama dan kehidupan dunia, namun Islam mensinergikan keduanya hingga tampil menyatu harmonis. Ruang hukum mubah amat diperluas areanya oleh Islam berdasarkan kaedah “hukum asal persoalan muamalah adalah boleh”. Gunakan apapun yang dikehendaki, kenakan pakaian apapun yang disukai, nikmati makanan dan minuman yang diselerai. Silahkan berbisnis, bersafar, belajar, memproduksi barang dan jasa, bercocok tanam dan sebagainya sesuai keinginan, yang penting: jauhi yang diharamkan Allah Swt yang mana, jumlah item-itemnya sangat sedikit dibanding yang dihalalkan. Islam dipenuhi kasih sayang dan kebajikan, menganjurkan kelembutan, empati kepada sesama dan saling bantu memenuhi kebutuhan dan mengatasi segala kesulitan, berupaya mencapai titik kesempurnaan. Islam menjadikan ilmu dan agama serta kekuasaan saling menopang dan menguatkan. Islam membolehkan semua yang baik dan bermanfaat lalu mengharamkan semua yang buruk dan mengandung madharat. Islam memerintahkan menghapuskan kezaliman, menghormati dan mengembalikan semua hak orang lain, menetapkan sanksi pidana bagi sebagian tindakan kriminalitas agar tidak berulang dan tidak menyebar luas dilakukan. Bahkan Islam menganjurkan berlaku baik ke hewan dan binatang dan menjaga “perasaannya” dengan tidak menjadikannya sasaran tembak untuk sekedar membunuhnya. Artinya, dilarang menjadikan burung dan semisalnya sebagai sasaran tembak untuk sekedar hiburan atau karena hobi. Sebab, menjaga hak hidup hewan jauh lebih berharga ketimbang hiburan dan hobi seseorang. Islam melarang menjadikan hewan dan binatang ternak sebagai kursi tempat duduk karena akan menyakitinya, juga Islam melarang melaknat hewan dan binatang serta Islam melarang menyiksa burung dalam sangkarnya. Bahkan hak seekor domba pun dijaga oleh Islam. Di mana seorang muslim dilarang membiarkan seekor domba melihat domba lain yang sedang disembelih, juga Islam perintahkan untuk menajamkan pisau untuk menyembelih, Islam melarang mengiris domba sembelihan sebelum dipastikan betul-betul sudah mati bahkan setelah badannya telah dingin. Islam juga menjaga hak ulat sutera, di mana penangkarnya wajib menyiapkan daun murbei sebagai pakannya, jika tidak maka diperintahkan untuk dilepas bebas. Betapa serangga kecil sangat dihargai hak hidupnya oleh Islam. Termasuk lebah, para ulama menganjurkan agar para peternak lebah diwajibkan menyisahkan sedikit madu untuk dikonsumsi lebah peliharaannya. Hewan ternak susu perah, para ulama mewajibkan kaum peternak untuk memendekkan kukunya agar tidak menyakiti hewan tersebut saat memerah susunya. Syariat Islam yang pengasih ini selalu menyeruh siapa saja bahwa jangan sekali-kali mengusik hidup hewan tak bersalah. Seorang peternak yang tidak memberikan pakan ke hewan ternaknya semestinya dipaksa oleh penguasa untuk segera melepaskan atau menjual hewan ternaknya itu agar tidak tersakiti, jika tidak sanggup maka pakannya dibebankan ke baitul mal. Begitulah gambaran kasih sayang yang diajarkan Islam. Pertanyaannya, adakah ajaran selain Islam yang menjamin keberlangsungan hak hidup hewan ternak sedetail ini? Jika perhatian Islam sedemikian itu terhadap hak hidup hewan ternak, lantas bagaimana besarnya perhatian Islam terhadap kelangsungan hidup manusia? Islam menegaskan status manusia sama dan setara di hadapan Allah Swt. Seseorang tidak istimewa dari lainnya hanya karena warna kulitnya, rasnya, garis keturunannya atau lainnya. Yang mengistimewakan seseorang adalah takwanya. Firman Allah Swt: اِنَّ اَكۡرَمَكُمۡ عِنۡدَ اللّٰهِ اَ تۡقٰٮكُمۡ Terjemahannya: “Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa” (Qs; al-Hujurat: 13). Syariat Islam adalah ajaran penuh kasih dan menjunjung tinggi prinsip keadilan, baik dalam persoalan besar ataupun pada persoalan kecil, bahkan hingga kedua kaki setiap individu. Di mana Islam melarang seseorang beralas kaki hanya sebelah. Nabi Saw bersabda: “Janganlah seseorang dari kalian berjalan memakai satu alas kaki, namun hendaklah memakai keduanya atau sekali melepas keduanya.” (Muttafqun alaihi, al-Bukhari, no. 5856 dan Muslim, no. 2097). Beliau juga bersabda: “Jika alas kaki seseorang putus maka jangan dia berjalan mengenakan satunya yang baik sampai dia memperbaiki yang rusak.” (HR. Muslim, no. 2098). Syariat menjamin dan memotivasi setiap orang memiliki ruang yang sama dalam beraktivitas ekonomi, dan pasar kaum muslimin berlangsung secara transparan dan berjalan dengan normal, makanya Islam mengharamkan praktik menimbun barang, tipu-menipu, jual beli palsu dan menghadang pelaku pasar di luar kota. Islam meletakkan aturan ekonomi yang etis dan mapan yang belum pernah ditemukan bandingannya oleh sekalian manusia. Silahkan disearching, baca dan amati bagaimana perkembangan industri keuangan Islam di Eropa saat ini, bagaimana aktifnya penelitian tentang ekonomi Islam di pusat-pusta penelitian dan universitas-universitas di barat, bagaimana tumbuh keyakinan para ekonom bahwa sistem ekonomi Islam sarat etika dan moral disertai jaminan terhadap keamanan modal usaha. Selain adil, syariat Islam juga penuh maaf. Islam tidak berseru; jika pipi kananmu dipukul maka serahkan pipi kirimu. Namun Islam mengajarkan melalui firman Allah Swt: وَجَزٰٓؤُا سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِّثۡلُهَاۚ فَمَنۡ عَفَا وَاَصۡلَحَ فَاَجۡرُهٗ عَلَى اللّٰهِؕ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الظّٰلِمِيۡنَ Terjemahannya: “Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang setimpal, tetapi barangsiapa memaafkan dan berbuat baik (kepada orang yang berbuat jahat) maka pahalanya dari Allah. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang zalim.” (Qs; al-Syura: 40). Islam adalah agama persatuan, selalu mengajak bersatu dan memutus rantai perpecahan. Islam mengharamkan semua bentuk sengketa dan sikap memutus silaturrahmi. Sampai-sampai seorang muslim diharamkan melamar wanita lamaran muslim lainnya, juga melarang bertransaksi di atas transaksi muslim lainnya. Islam merupakan agama kebersihan, keteraturan dan interaksi berkelas, penuh rasa yang dalam, menjaga perasaan. Faktanya, Islam melarang dua orang berbisik tanpa melibatkan orang ketiga, bahkan menggosok gigi dihitung sebagai ibadah. Perintah siwak dianjurkan dilakukan pertama kali setiap muslim kala masuk ke rumahnya. Aisyah r. a. menyatakan bahwa Nabi Saw selalu bersiwak setiap kali masuk ke rumahnya. (HR. Muslim, no. 253). Syariat Islam mengumpulkan semua perilaku mulia dan moralitas tinggi. Islam mengharamkan ghibah, namimah, berdusta, mengejek orang lain, sombong, hasad, dengki lalu menganjurkan kebalikannya. Islam adalah ajaran solidaritas sosial melalui perintah zakat dan sedekah. Islam seolah berkata: hubungan silaturrahmi tidak cukup hanya dengan saling memberi salam, tukar hadiah dan saling mengunjungi, namun bagi mereka yang punya kemampuan bendawi diharuskan berbagi kepada mereka yang berkekurangan atas dasar pemenuhan hak. Firman Allah Swt: وَاٰتِ ذَا الۡقُرۡبٰى حَقَّهٗ Terjemahannya: “Dan berikanlah haknya kepada kerabat dekat,” (Qs: al-Isra’: 26). Hak tetangga sangat diperhatikan syariat Islam, hingga hampir saja diberi hak waris. Apalagi hak kedua orang tua, hak anak keturunan, hak suami istri, hak janda, anak yatim, orang miskin, pembantu, tamu, pengajar hingga pelajar dan sebagainya. Islam adalah syariat paripurna, tidak mengabaikan sesuatu pun terkait kehidupan dunia dan keagamaan, semuanya diatur secara detail dan apik, mulai dari bagaimana menata relasi sang hamba dengan rabbnya, relasi seseorang dengan dirinya sendiri dan relasi seseorang dengan orang lain, dengan hewan dan dengan tumbuhan. Syariat mulia ini telah mengatur bagaimana seorang hamba mengabdi kepada rabbnya, bagaimana menikah dan bercerai, bagaimana bertransaksi jual beli, bagaimana sistem pengupahan, bagaimana mengelola pertanian, bagaimana berperkara, menuntut hak dan bersaksi dalam sebuah sengketa, menuntun cara makan, minum, tidur, bangun hingga bagaimana mengenakan alas kaki. Islam menata bagaimana berinterkasi dengan sesama, menyapa dan bercengkerama. Semua persoalan hidup, baik yang rutin maupun yang tidak rutin telah ditata, ditetapkan panduannya dengan apik, tepat, lengkap dan konsisten. Semuanya menunjukkan ketepatan, kesenangan dan kemudahan. Islam mengatur semua kepntingan setiap individu, baik di saat masih hidup bahkan hingga setelah meninggal, termasuk persoalan warisan dan hak-hak lainnya. Firman Allah Sawt: اَفَغَيۡرَ اللّٰهِ اَبۡتَغِىۡ حَكَمًا وَّهُوَ الَّذِىۡۤ اَنۡزَلَ اِلَيۡكُمُ الۡـكِتٰبَ مُفَصَّلاً ؕ Terjemahannya: “Pantaskah aku mencari hakim selain Allah, padahal Dialah yang menurunkan Kitab (Alquran) kepadamu secara rinci?” (Qs: al-An’am: 114). Akhirnya, ini hanya sekelumit dari kesempurnaan Islam, jika hendak disebutkan seluruhnya maka sekalipun menarik namun dipastikan lembarannya tidak mencukupi.[1] Pertanyaannya adalah: dari mana Rasulullah Saw mampu menata semua syariat yang mulia dan menakjubkan, sempurna dan sangat detail ini, mulai dari bagaimana hubungan internasional ditata, saat sedang konflik atau dalam kondisi aman hingga tuntunan beralas kaki, masuk kamar kecil, cara bermajlis, bahkan sampai bagaimana menumbuhkan etik dan moral yang tinggi pada anak-anak melalui bimbingan agar mereka meminta izin sebelum masuk di kamar orang tuanya, terutama di tiga waktu berbeda. Dari mana Beliau tahu semua itu dan kenapa mesti diatur seperti itu? Umumnya, jika ada aturan hatta dalam skala kecil hendak dirumuskan maka semua pakar dikumpulkan untuk melakukan beberapa kali rapat dan dalam waktu lama, mereka diminta mengumpulkan poin-poin penting kemudian merumuskannya. Kemudian di-review oleh team auditor untuk disempurnakan, diubah yang salah dan ditambal kekurangannya. Syariat Islam yang mulai mengatur semua sendi kehidupan, dijelaskan secara detail, lengkap dan sempurna, tidak ada kekurangan dan penyimpangan dan mustahil dapat diganti atau dilengkapi dengan syariat lain. Adakah seorang yang ummi – walau memiliki kecerdasan maha dahsyat – yang mampu merumuskan aturan hidup di semua sektor, atau menyiapkan solusi atas segala persoalan yang muncul, atau mampu meletakkan pondasi kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Atau akal sehat dan nalar tajam akan menyimpulkan bahwa sungguh Muhammad Saw adalah benar ditunjuk sebagai rasul dan nabi, dan Beliau Saw tidak mengucapkan sesuatu kecuali wahyu yang diturunkan kepadanya? Semoga shalawat salam senantias tercurah kepadanya dan kepada keluarga dan seluruh sahabatnya. URGENSI MENAMPAKKAN KEINDAHAN ISLAM Perlu ditegaskan bahwa menyampaikan keindahan Islam kepada masyarakat non-muslim merupakan media dakwah yang penting. Bahkan bisa saja menjadi cara singkat mendakwahi mereka, dan cara terbaik menarik hati serta meyakinkan mereka tentang kebenaran Islam dan kenabian Muhammad Saw.[2] Ini bukti nyata bagaimana keindahan Islam dapat dengan mudah difahami, tidak perlu merunut riwayatnya untuk memastikan kebenarannya. Pesannya bahwa keindahan agama Islam yang mulia ini akan membekas dalam jiwa orang kafir seperti pengaruh sihir. Sungguh penting dioptimalkan untuk kepentingan dakwah. Kebutuhan untuk mengetahui keindahan syariat Islam sama urgennya antara kaum muslimin dengan non muslim. Betul bahwa mereka itu telah berislam, tumbuh kembang beragama Islam. Namun menampakkan keindahan Islam termasuk menyebarkan nikmat Allah Swt. Firman Allah Swt; وَاَمَّا بِنِعۡمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثۡ Terjemahannya: “Dan terhadap nikmat Tuhanmu, hendaklah engkau nyatakan (dengan bersyukur).” (Qs: al-Dhuha: 11). Kemudian agama Islam yang mulia ini adalah nikmat terindah dan termulia yang dikaruniakan Allah Swt kepada kita kaum muslimin. Sebagaimana mengetahui keindahan Islam akan menguatkan iman dan keyakinan kita, ia juga menghadirkan kebahagiaan tersendiri karena dihidayahi untuk menganut syariat ini, sedang bergembira merupakan ibadah yang dicintai Allah Swt. Firman Allah Swt: قُلۡ بِفَضۡلِ اللّٰهِ وَبِرَحۡمَتِهٖ فَبِذٰلِكَ فَلۡيَـفۡرَحُوۡا ؕ هُوَ خَيۡرٌ مِّمَّا يَجۡمَعُوۡنَ Terjemahannya: “Katakanlah (Muhammad), “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaknya dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.”” (Qs: Yunus: 58). Sebagian orang kadang abai dengan persoalan ini. Mereka luput untuk duduk merenungi keindahan Islam lalu menikmati kemuliaannya. Oleh sebab itu, tema-tema tentang keindahan Islam penting untuk di-publish dan terus digaungkan. Terutama ditujukan kepada kaum muda. Akan lebih menyentuh jika dibarengi dengan informasi tentang kehidupan jahiliyah, baik di masa klasik maupun di masa kontemporer. Ini bisa dijalani bila kita ingin mereka tumbuh kembang dalam bimbingan Islam atas dasar keyakinan. Dengan demikian, mereka akan bangga dengan agama mereka, merasa mulia dengan Islam dan akan selamat dari hembusan berbagai syubhat yang ditiupkan kepada mereka. Untuk ulasan tambahan silahkan baca: Kitab al-Durru al-Mukhtasharah fi Mahasini al-Islam karya al-Syaikh Abdurrahman al-Sa’di. [1] Akan disebutkan pada bahagian berikutnya (Pasal XX – Kebutuhan terhadap agama) yang akan menambah dan menyempurnakan ulasan sebelumnya. [2] Bukti dan fakta terkait ini sangat banyak dan beragam. Diantaranya kisah nyata yang terjadi di Barat, bahwa ada seorang pembantu yang bekerja di rumah keluarga muslim, dia tertarik dengan praktik hidup bersih orang-orang Islam. Itu terlihat saat dia mencuci pakaian internal anggota keluarga tersebuit sedikit tidak dikotori oleh bekas-bekas kotoran manusia, tidak seperti orang-orang di negaranya. Lalu muncullah dalam hatinya bahwa agama keluarga muslim tempatnya bekerja itu adalah benar. Hal tiu menuntunnya untuk belajar dari anggota keluarga tersebuit lalu masuk Islam. Terjemahan Kitab Akidahilmuislamkenabianmuhammadtauhid