Skip to content
AKIDAH.NET
AKIDAH.NET
AKIDAH.NET
AKIDAH.NET

PASAL VI – SYUBHAT DAN BANTAHAN

Idrus Abidin, 17 Desember 2025

Setelah metode mematahkan syubhat pemikiran dari akarnya diketahui sebagaimana dijelaskan pada lembaran-lembaran sebelumnya, saya tutup bahasan buku ini dengan menyuguhkan beberapa syubhat pemikiran yang banyak dihembuskan diserati bantahan dan sanggahannya. Tujuannya ada dua, yakni;

  1. Memperjelas isi buku ini melalui contoh praktis seputar cara mematahkan syubhat yang diuraikan. Dikatakan; sebuah pernyataan makin jelas dengan contoh.
  2. Sebagai bentuk kontribusi langsung dalam mengungkap dan membantah syubhat, terutama yang banyak disebarkan oleh musuh-musuh Islam.

Pelu saya tekankan metode sistematis penting, yakni bahwa sebagian orang yang berupaya menjaga agama ini melarang membicarakan syubhat, mematahkan bahkan memilih menghindarinya. Mereka berkata: matikan semua syubhat dengan cara mendiamkannya.

Perlu ditegaskan bahwa; pernyataan mereka itu ada benarnya dan mucul dari semangat menjaga agama, namun pernyataan itu juga tidak pantas diberlakukan secara mutlak. Sebab, banyak syubhat yang sudah tersebar dan dikenal luas hingga menarget kawula muda sebelum menyerang generasi tua, menerkam orang jahil sebelum menyasar orang terpelajar. Syubhat seperti ini tidak mati jika didiamkan, bahkan akan tumbuh berkembang. Olehnya itu, orang-orang spesialis wajib bangkit membantah, mematahkan dan menghentikan penyebarannya.

Syubhat Pertama: Persoalan Keburukan

Racun pemikiran ini sudah merusak akal fikiran manusia sejak dahulu dan memunculkan ragam pendapat, yakni tentang adanya keburukan di bumi ini. Agar syubhat ini dipatahkan dengan muda maka kita mengikuti langkah-langkah yang dijelaskan sebelumnya. Yakni;

  • Langkah Pertama: Mengurai Syubhat.

Manusia terjerumus dalam perbedaan pendapat dan debat panas terhadap dua premis di atas, yakni;

Pertama: Kaum Atheism.

Mereka menyimpulkan untuk tidak percaya adanya Tuhan.

Orang pertama yang menghembuskan pesoalan ini adalah seorang filsuf Yunani bernama Epicurus[1] yang sebenarnya sangat mudah dibantah, dimana hanya melalui dua hal;

Pertama: bahwa baik dan buruk memerlukan parameter untuk mengukur, sementara kaum Atheis tidak memiliki standar dan parameter.

Kedua: andai bisa diterima bahwa Tuhan tidak ada karena adanya keburukan maka adanya kebaikan berarti menunjukkan adanya Tuhan.

Lantas, semua manusia tahu bahwa ada kebaikan di alam raya ini, bahkan bisa jadi jumlahnya lebih banyak ketimbang keburukan. Jika dikatakan: adanya keburukan menunjukkan tidak adanya Tuhan maka konsekuensinya adalah adanya kebaikan menunjukkan adanya Tuhan.

Kedua: al-Rububiyyun (Kaum Deis)

Aliran Deisme adalah aliran pemikiran yang meyakini adanya pencipta alam raya, percaya kebenaran dapat diketahui dengan akal dan dengan mengamati alam raya serta batasannya tanpa harus melalui agama.

Kesimpulannya bahwa pencipta bukan pengendali alam raya, dia tidak mengintervensi alam ini dalam bentuk apapun. Namun sang pencipta membiarkan alam mengikuti hukum alam yang telah diciptakan bersamaan dengan penciptaan segala sesuatu.[2]

Ketiga: al-Tsinwiyah (Dualisme Tuhan)

Aliran ini termasuk yang banyak menghembuskan syubhat ini. Mereka berkesimpulan bahwa ada dua Tuhan di alam, yakni; Tuhan kebaikan dan Tuhan keburukan, atau Tuhan cahaya dan Tuhan gelap. Mereka bahagian dari Majusi, Zoroaster, Manikahisme dan sebagainya.

Keempat: al-Mu’tazilah.

Al-Qadariyah al-Mu’tazilah termasuk kelompok yang terpengaruh dengan persoalan keburukan ini. kesimpulan mereka bahwa Allah Swt tidak menciptakan perbuatan manusia, karena dia berjalan otomatis. Allah Swt juga tidak menciptakan keburukan namun manusialah yang menciptakannya.

Masih banyak sekte dan kelompok lainnya yang terpengaruh oleh syubhat keburukan ini.

  • Langkah Kedua: Memastikan Validitas Dalil

Apabila diperhatikan dengan baik, maka premis minornya tidak detail. Sebab, tidak ada keburukan yang murni 100% di alam raya ini.

Ibnu al-Qayyim berkata: “Yang tepat adalah bahwa keburukan itu terbagi dua jenis; keburukan murni dan dari semua sisinya, kemudian keburukan yang relatif dan hanya dari beberapa sisi saja. Keburukan jenis pertama tidak mungkin ada di alam karena akan keluar dari sifatnya yang murni keburukan, sementara jenis kedua yang ada dan dijumpai dalam alam ini.[3]

  • Langkah Ketiga: Menemukan Dalil yang Benar.

Pertanyaan ini dilontarkan kepada pengusung syubhat ini: apa dalil dan argumen yang menunjukkan premis mayornya benar?  

Kita menolak premis mayornya ini karena tidak didasarkan pada dalil yang benar.

Sikap yang benar adalah bahwa kita yakin bahwa Allah Swt menciptakan segala sesuatu, termasuk manusia beserta perbuatannya seperti firman Allah Swt:

وَاللّٰهُ خَلَقَكُمۡ وَمَا تَعۡمَلُوۡنَ‏

Terjemahannya: “Padahal Allah lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat.” (Qs: al-Shaffat: 96).

Lantas, mengapa ada keburukan di alam?

Untuk menjawab pertanyaan ini, perlu difahami tujuh prinsip penting. Siapa yang memahaminya dengan tepat maka problem ini hilang dengan sendirinya, yakni;

Prinsip pertama: Allah Swt maha adil, bijak, penyayang, tidak akan menzhalimi seorang pun. Firman Allah Swt:

وَكَانَ اللّٰهُ عَلِيۡمًا حَكِيۡمًا

Terjemahannya: “dan Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana,” (Qs: al-Fathu: 4), juga firman Allah Swt:

وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِّلۡعَبِيۡدِ‏

Terjemahannya: “Dan Tuhanmu sama sekali tidak menzalimi hamba-hamba-(Nya).” (Qs: Fussilat: 46).

Maha adil merupakan sifat Allah Swt yang paling agung. Firman Allah Swt:

اِنَّ اللّٰهَ لَا يَظۡلِمُ مِثۡقَالَ ذَرَّةٍ​ ۚ

Terjemahannya: “Sungguh, Allah tidak akan menzalimi seseorang walaupun sebesar zarah,1 dan jika ada kebajikan (sekecil zarah),” (Qs: al-Nisa’: 40). Rasulullah Saw juga sabdakan firman Allah Swt: “Wahai hambaKu, saya haramkan sifat zhalim untuk diriKu dan saya haramkan sifat itu antara kalian, maka jangan kalian saling menzhalimi.”[4]

Diantara tanda sifat adil Allah Swt adalah tidak membalas manusia hanya bedasar pada ketetapan azalinya atas perbuatan manusia. Allah Swt tahu apa yang akan terjadi dan akan dilakukan oleh manusia, baik berupa tindakan atau perkataan. Akan tetapi, Allah Swt tidak memberi mereka sanksi hanya karena ketetapan azali Allah Swt yang akan berlaku pada manusia. Namun Allah Swt menciptakan mereka lalu mebiarkan mereka melakukan perbuatan baik atau buruk, dan dengan itu mereka dibalas di akhirat.

Prisnip Kedua: Ilmu Allah Swt luas tak terbatas, sedang ilmu manusia sangat terbatas.

Semua manusia yakin bahwa ilmu Allah Swt mencakup segala hal, karena mereka sendiri menemukan banyak hal setiap hari yang sebelumnya tidak mereka ketahui.

Kita sebagai manusia tidak tahu hakikat dari setiap sesuatu, apakah berujung baik atau buruk makanya Allah Swt berfirman:

وَعَسٰۤى اَنۡ تَكۡرَهُوۡا شَيۡـــًٔا وَّهُوَ خَيۡرٌ لَّـکُمۡ​ۚ وَعَسٰۤى اَنۡ تُحِبُّوۡا شَيۡـــًٔا وَّهُوَ شَرٌّ لَّـكُمۡؕ وَاللّٰهُ يَعۡلَمُ وَاَنۡـتُمۡ لَا تَعۡلَمُوۡنَ‏

Terjemahannya: “Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Qs: al-Baqarah: 216).

Ketika Allah Swt menciptakan Adam, Allah Swt berfirman kepadanya:

قَالُوۡٓا اَتَجۡعَلُ فِيۡهَا مَنۡ يُّفۡسِدُ فِيۡهَا وَيَسۡفِكُ الدِّمَآءَۚ وَنَحۡنُ نُسَبِّحُ بِحَمۡدِكَ وَنُقَدِّسُ لَـكَ​

Terjemahannya: “Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” (Qs: al-Baqarah: 30), lantas Allah Swt menjawab:

قَالَ اِنِّىۡٓ اَعۡلَمُ مَا لَا تَعۡلَمُوۡنَ‏ 

Terjemahannya: “Dia berfirman, “Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui.”” (Qs: al-Baqarah: 30), juga Allah Swt berfirman:

فَعَسٰۤى اَنۡ تَكۡرَهُوۡا شَيۡــًٔـا وَّيَجۡعَلَ اللّٰهُ فِيۡهِ خَيۡرًا كَثِيۡرًا‏

Terjemahannya: “karena boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan kebaikan yang banyak padanya.” (Qs: al-Nisa’: 19).

Jika anda melihat sebuah musibah, orang sakit dan semislanya maka jangan terburu-buru menyatakan itu buruk. Sebab, bisa saja di baliknya tersimpan kemaslahatan lebih banyak ketimbang keburukan yang tampak terlihat.

Orang yang menggugat takdir Allah Swt seperti anak kecil yang masuk ke laboratorium milik ahli kimia terkemuka. Lalu dia melihat peralatan, gelas dan asap mengebul lantas dia kira sang ilmuwan akan melakukan sesuatu yang buruk.

Allah Swt lebih kuasa dari itu. Ilmu kita tidak ada apa-apanya dibanding ilmu Allah Swt. Disebutkan dalam hadits tentang Musa dan al-Khidhir bahwa: “Lalu ada burung pipit hinggap di pinggir kapal, kemudian dia mematuk satu dua kali ke laut, lalu al-Khidhir berkata: “Wahai Musa, ilmuku dan ilmumu tidak mengurangi ilmu Allah Swt kecuali seperti satu patukan pipit itu di air laut.”[5]

Prinsip Ketiga: semua makhluk adalah milik Allah Swt;

Allah Swt yang menciptakan dan membuat kita ada setelah sebelumnya tiada, jadi kita adalah milikNya, dan siapa yang bertindak atas milikNya tidak dianggap zhalim, dan tiada seorangpun yang pantas mempertanyakan tindakanNya. Firman Allah Swt;

لَا يُسۡــَٔـلُ عَمَّا يَفۡعَلُ وَهُمۡ يُسۡـَٔــلُوۡنَ‏

Terjemahannya: “Dia (Allah) tidak ditanya tentang apa yang dikerjakan, tetapi merekalah yang akan ditanya.” (Qs: al-Anbiya’: 23).

Kita wajib yakin bahwa Allah Swt maha beijaksan, maha adil dan maha penyayang, tidak akan zhalimi seorang pun selamanya. Bersamaan dengan itu, kita yakin bahwa adalah milik Allah Swt, Allah Swt berhak bertindak apa saja pada kita. Makanya kala kita tertimpa musibah dianjurkan berkata: kita adalah milik Allah Swt.

Prinsip Keempat: Yakini bahwa dunia hanya penyeberangan dan bukan tempat tinggal.

Kita semua akan kembali kepada Allah Swt, keberadaan manusia di alam raya hanya sementara, tiada seorang pun yang kekal di dunia ini.

Tidak pantas seseorang mengeluh kala tertimpa musibah dunia dan keburukannya kecuali jika tidak memahami rendahnya kehidupan dunia dan kecilnya dibanding kehidupan akhirat. Dunia ini sangat kecil dibanding akhirat beserta musibah atau kenikmatannya. Firman Allah Swt:

اَرَضِيۡتُمۡ بِالۡحَيٰوةِ الدُّنۡيَا مِنَ الۡاٰخِرَةِ​ ۚ فَمَا مَتَاعُ الۡحَيٰوةِ الدُّنۡيَا فِى الۡاٰخِرَةِ اِلَّا قَلِيۡلٌ‏

Terjemahannya: “Apakah kamu lebih menyenangi kehidupan dunia daripada kehidupan akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit.” (Qs: al-Taubah: 38).

Saya coba berikan gambaran ilustrasi dan bukan hakiki agar mudah difahami sebab hakikat akhirat hanya diketahui Allah Swt. Perhatikan gambar ilustrasi berikut ini:

Tidak logis jika perhatian seseorang difokuskan pada titik kecil lalu mengabaikan sisa gambar yang sangat luas di atas.

Beginilah gambaran seseorang yang perhatian dan reaksinya hanya sebatas kehidupan dunia, dia sedih dan gundah melihat musibah yang menimpa lalu mengabaikan kepentingan yang lebih luas di kehidupan akhirat.

Dua prinsip terakhir (ketiga dan keempat) telah ditunjukan oleh Allah Swt, di mana Allah Swt ajarkan ucapan yang dilantunkan ketika tertimpa musibah sebagaimana dalam firmannya:

وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيۡنَۙ‏ الَّذِيۡنَ اِذَآ اَصَابَتۡهُمۡ مُّصِيۡبَةٌ  ۙ قَالُوۡٓا اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّـآ اِلَيۡهِ رٰجِعُوۡنَؕ‏

Terjemahannya: “Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata “Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji’ūn” 1 (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali).” (Qs: al-baqarah: 155-156).

Potongan pertama do’a itu (inna lillahi) mengingatkan bahwa kita adalah milik Allah Swt sehingga kita tidak resah dengan musibah yang menimpa.

Lalu potongan kedua do’a itu (wa inna ilaihi raji’un) mengingatkan kita bahwa dunia itu kecil dan sementara serta musibah pasti ada batas akhirnya.

Siapapun yang mengucapkan dzikir ini ketika ditimpa musibah kemudian meresapi maknanya pasti meredam beban berat musibah yang menimpanya. Namun orang-orang materialis yang tidak mengimani akhirat tidak merasa nyaman. Musibah duniawi seolah memecahkan kepala mereka, bahkan musibah sekecil apapun pasti menyusahkan mereka. Sebab mereka hanya tahu kehidupan dunia. Makanya, banyak yang bunuh diri.

Dr. Sami Amiri berkata: “Kehidupan orang barat sama sekali tidak bermakna dan hanya berlalu antara dinding kelahiran dan kematian, resah dan gelisah karena kesulitan lalu sedih karena hilang kesempatan. Padahal kesedihan dan kepedihan semestinya hanya dirasakan karena detik kehidupan berlalu tanpa manfaat bagi seorang manusia. Makanya, lari dari beragam musibah adalah tujuan utama mereka, sekalipun mereka tidak menjadikannya sebagai sarana mencapai kemuliaan. Kehidupan dunia adalah tujuan utama mereka, padahal keburukan yang menimpa hanya peristiwa selingan di alam, dia hanya seperti benda atau energi yang terus bergerak dan buta.”[6]

Prinsip Kelima: Kenikmatan dan keindahan hidup tidak terasa tanpa diselingi keburukan.

Sesuatu makin terlihat dan terasa dengan kontranya. Kelaparan itu buruk, capek dan lelah itu buruk, namun apakah sesuap nasi dapat dirasakan nikmatnya tanpa didahului rasa lapar? Dapatkah ketenangan dinikmati tanpa rasa capek dan lelah? Apakah keindahan dapat diketahui tanpa ada yang jelek? Akankah kita rasakan nikmatnya sehat tanpa pernah sakit? Mustahil semua itu terjadi. Bahkan banyak etika dan nilai hidup hanya terasa kalau ada keburukan di alam. Taubat dan kembali kepada Allah Swt misalnya, mustahil difikirkan tanpa ada dosa, sifat sabar mustahil dirasakan tanpa ada musibah, sifat berani dan jantan hanya dirasakan dalam perang. Termasuk membantu orang kecelakaan dan sebagainya.

Abu Utsman al-Jahizh berkata: “Ketahuilah bahwa sesuatu yang pasti terjadi sejak adanya kehidupan hingga berakhirnya adalah perbauran antara baik dan buruk, manfaat dan mudharat, benci dan senang, sempit dan lapang, banyak dan sedikit.

Jika keburukan diberi kuasa maka hancur semua makhluk, jika yang ada hanya kebaikan saja maka tiada ujian dan hilang kesempatan berfikir, lalu tanpa berfikir hilang pula kebijaksanaan. Jika kesempatan memilih dihilangkan maka tiada jalan melihat kelebihan, hilang pula kesempatan seorang alim untuk mengkroscek, menetapkan dan belajar, bahkan dia tidak akan mengetahui apapun, tidak dikenal bab klarifikasi, tidak pula upaya menghindari mudharat, atau menarik manfaat, tidak pula ada kesabaran menghadapi musibah, atau syukur atas karunia, tidak pula ada beda kemampuan atau kompetisi untuk lebih baik, hilang pula makna kemenangan dan kesuksesan, tiada pula orang berhak dimuliakan, atau dihinakan karena kebathilan, orang yakin dan tenang, atau orang ragu yang bimbang dan bingung, bahkan tiada asa dalam jiwa dan tidak dirusak oleh keserakahan, padahal orang yang tidak pernah rakus tidak akan pernah merasakan putus asa, lalu siapa yang tidak pernah putus asa berarti tak akan merasa aman.”[7]

Prinsip Keenam: Tidak bermakna hak pilih pada manusia tanpa ada keeburukan.

Jika Allah Swt tahan atau hilangkan keburukan dari muka bumi berarti manusia hidup terpaksa dan tidak pernah bebas memilih.

Banyak keburukan yang kita saksikan di dunia ini sejatinya berupa keburukan etika dan moralitas dan bukan keburukan yang gratis.

Prinsip Ketujuh: Keberadaan kita di dunia untuk diuji.

Setiap yang kita hadapi berupa kebaikan atau keburukan adalah ujian dari Allah Swt. Firman Allah Swt:

اۨلَّذِىۡ خَلَقَ الۡمَوۡتَ وَالۡحَيٰوةَ لِيَبۡلُوَكُمۡ اَيُّكُمۡ اَحۡسَنُ عَمَلًا ؕ

Terjemahannya: “Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya..” (Qs: al-Mulku: 2), juga berfirman:

وَلَـنَبۡلُوَنَّكُمۡ بِشَىۡءٍ مِّنَ الۡخَـوۡفِ وَالۡجُـوۡعِ وَنَقۡصٍ مِّنَ الۡاَمۡوَالِ وَالۡاَنۡفُسِ وَالثَّمَرٰتِؕ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيۡنَۙ‏  الَّذِيۡنَ اِذَآ اَصَابَتۡهُمۡ مُّصِيۡبَةٌ  ۙ قَالُوۡٓا اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّـآ اِلَيۡهِ رٰجِعُوۡنَؕ‏ ١٥٦اُولٰٓٮِٕكَ عَلَيۡهِمۡ صَلَوٰتٌ مِّنۡ رَّبِّهِمۡ وَرَحۡمَةٌ​ وَاُولٰٓٮِٕكَ هُمُ الۡمُهۡتَدُوۡنَ‏

Terjemahannya: “Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata “Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji’ūn” 1 (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali). Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Qs: al-Baqarah: 155-157), juga berfirman:

كُلُّ نَفۡسٍ ذَآٮِٕقَةُ الۡمَوۡتِ​ؕ وَنَبۡلُوۡكُمۡ بِالشَّرِّ وَالۡخَيۡرِ فِتۡنَةً​  ؕ وَاِلَيۡنَا تُرۡجَعُوۡنَ‏

Terjemahannya: “Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu akan dikembalikan hanya kepada Kami.” (Qs: al-Anbiya’: 35).

Jadi bencana itu mengandung sisi buruk dan sisi baik, bukan keburukan semata. Bahkan kebaikan itupun dianggap sebagai ujian. Imam Muslim meriwayatkan dari Shuhaib al-Rumi berkata: Rasulullah Saw bersabda: “Sungguh mengherankan kehidupan kaum muslimin, semuanya berujung baik baginya, dan itu hanya berlaku baginya, jika dia ditimpakebaikan dia bersyukur dan itu baik untuknya, lalu jika dia ditimpa keburukan lalu dia bersabar maka itu juga baik baginya.”[8]

Diantara tanda rahmat Allah Swt bagi hambaNya adalah ketika mereka diuji dengan keburukan berdasarkan kualitas agama dan kekuatan imannya. Dalam shahih al-Bukhari disebutkan dari Abu Hurairah dari Nabi Saw bersabda: “Siapa yang diinginkan Allah Swt baginya kebaikan maka dia diuji.”[9]

Disebutkan pula dalam kitab shahih al-Bukhari dari Aisyah r.a. berkata: “Saya tidak temukan orang paling berat ujiannya melebihi Rasulullah Saw.”[10]

Diriwayatkan dari Sa’ad bin Abi Waqqash berkata: saya bertanya: Wahai Rasulullah, siapakah orang paling berat ujiannya? Beliau jawab: para Nabi lalu orang yang mendekatinya dan orang yang mendaktinya. Setiap orang akan diuji berdasarkan kuaalitas agamanya, jika kualitas agamanya kuat maka berat ujiannya, namun jika kualitas agamanya rendah maka dia diuji berdasarkan itu. Ujian bencana tidak akan membiarkan seorang hamba berjalan melenggang di atas bumi, sedang dia tidak melakukan kesalahan.”[11]

Jika diperhatikan tujuh prinsip tersebut maka tampak jelas kesalahan premis mayor syubhat di atas dan sekaligus mematahkan syubhat tersebut.

Syubhat Kedua: Poligami Rasulullah Saw.

Sebagian orang mempermasalahkan sikap Nabi Saw yang berpoligami. Sumber problem ini dipicu oleh kaum orientalis yang menghina Rasulullah Saw.

  • Langkah Pertama: Mengurai Syubhat.

Syubhat jenis ini berpijak pada distorsi sejarah, dan mengabaikan konteks sejarah. Pria yang berpoligami tidak dan bukan aib atau dianggap tidak bermoral. Andai betul poligami menandakan pria jahat maka pasti musuh-musuh Nabi sudah mengecam dan menyerangnya sejak dahulu. Lantas, ketika mereka tidak lakukan itu, maka berarti perilaku berpoligami adalah sesuatu yang biasa saja dan bukan pelanggaran di masa itu. Persoalan ini sudah dijelaskan sebelumnya.

  • Langkah Kedua: Memastikan Validitas Nukilan.

Premis minor yang disebutkan tidak bermasalah. Sebab faktanya Rasulullah Saw berpoligami.

  • Langkah Ketiga: Menemukan Dalil yang Benar.

Beberapa pertanyaan layak dikatakan kepada penebar syubhat: apa dalil yang menunjukkan pria yang berpoligami dianggap jahat dan buruk? Siapa yang mengatakan itu? Dan atas dasar apa?

Pasalnya, seseorang yang berpoligami tidak serta merta dianggap pria jahat. Apalagi Nabi Saw berpoligami bukan tujuannya untuk memperbanyak istri, atau karena ingin merasakan kenikmatan dunia. Diantara buktinya:

Pertama: Nabi Saw hidup sendirian selama lebih dari 25 tahun dan tetap menjaga marwah dirinya.[12] Nabi Saw tidak pernah mendekati seorang wanita pun, baik jalan halal apalagi dengan cara haram seperti disepakati semua orang. Setelah beliau berusia 25 tahun barulah beliau menikahi ummul mukminin Khadijah r.a.,[13] di usia yang lebih tua darinya.[14]

Kedua: Ikatan pernikahan beliau Saw bersama Khadijah selama 25 tahun dan Rasulullah Saw tidak berpoligami. Padahal beliau Saw bisa, mampu, dan memungkinkan berpoligami apalagi masyarakat masa itu juga pasti tidak melarang dan menentangnya. Peluang tersebut tidak membuatnya berpoligami hingga Khadijah wafat.

Ketiga: Dua tahun setelah wafatnya ummul mukminin Khadijah, beliau Saw baru menikahi Saodah binti Zam’ah yang sudah berusia lanjut, sedang Nabi Saw sudah berusia lebih dari 50 tahun.

Keempat: Rasulullah Saw tidak menikahi seorang gadis pun kecuali Aisyah r.a., padahal kaum quraisy sudah menawarkan untuk memilih wanita tercantik dan paling menawan untuk dinikahkan kepadanya.

Semua hal di atas menunjukkan kalau Nabi Saw tidak berburu kesenangan dunia dan hanya ingin lampiaskan syahwatnya seperti diketahui bahkan oleh selain kaum muslimin sebagaimana dinyatakan oleh sebagian mereka yang masih sehat bersikap.

Jika demikian, maka jelaslah kesalahan fatal syubhat di atas. Namuan, mengapa Rasulullah Saw berpoligami? Dan apa hikmah di balik itu?

Jawabannya:

Pertama: Jumlah yang banyak tersebut diperlukan untuk menyampaikan agama ini kepada masyarakat.Nabi Saw adalah suri tauladan bagi kaum muslimin sebagaimana firman Allah Swt:

لَقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِىۡ رَسُوۡلِ اللّٰهِ اُسۡوَةٌ حَسَنَةٌ

Terjemahannya: “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu” (Qs: al-Ahzab: 21). Beliau Saw adalah teladan kita di kehidupannya di luar dan di dalam rumahnya.

Kehidupannya eksternalnya telah disebutkan dalam banyak riwayat dan sunnahnya Saw serta sabdanya. Namun uruasan detail antara hubunagn suami istri, detail kehidupannya dalam rumahnya, siapa yang akan menyampaikannya selain para istrinya Saw? Tidak cukup satu dua istri yang akan menyampaikan bagaimana kehidupan Nabi Saw yang sangat agung itu. Makanya sungguh bijak bila Nabi Saw dibolehkan berpoligami agar sunnah-sunnahnya tentang kehidupan internal rumahnya dapat disampaikan seolah seperti kita saksikan secara langsung.

Kedua: istri Rasulullah Saw yang banyak menandakan nubuwahnya dan kebenaran nubuwahnya ditambah dengan dalil-dalil lain yang menunjukkan kejujuran dan kebenaran beliau.

Hal itu disebabkan karena seseorang bisa saja berdusta dan berpenampilan baik di luar rumah dalam waktu lama, akan tetapi dia sulit berdusta dan berpenampilan baik di dalam rumahnya setiap waktu.

Sementara Nabi Saw yang memiliki istri yang banyak dari ragam latar belakang dan tabiat namun mereka semua tetap mengakui kemuliaan akhlak Rasulullah Saw, kejujurannya, interaksinya yang baik, bahkan mereka diminta memilih antara beliau dengan kenikmatan dunia, namun istri-istrinya lebih memilih bersama beliau Saw.

Ketiga: Nabi Saw adalah teladan bagi semua orang di semua sendi kehidupan, termasuk kehidupan rumah tangga di dalamnya. Nabi Saw adalah teladan bagi para suami walau tabiat para istri beragam. Seperti diketahui para istri itu memiliki tabiat bermacam-macam, lantas bagaimana Nabi Saw menjadi teladan bagi mereka bila Nabi hanya memiliki satu istri dengan tabiat yang juga hanya satu? Oleh sebab itu, sudah sepantasnya bila Nabi Saw memiliki lebih dari satu istri, baik muda dan tua, gadis atau janda, janda talak, istri yang pencemburu. Setiap istri Nabi Saw memiliki tabiatnya sendiri namun Nabi Saw tetap baik interkasinya dengan mereka agar diteladani semua orang. Jadi, setiap suami dapat meneladani sosok Rasulullah Saw bagaimanapun tabiat istrinya.

Keempat: orang paling dekat dengan Nabi adalah menterinya yang empat yakni khulafau rasyidin; Abu bakar, Umar, Utsman dan Ali. Lantas Rasulullah Saw menjalin relasi pernikahan dengan mereka, beliau Saw menikahi putri Abu Bakar dan putri Umar lalu menikahkan putrinya dengan Utsman dan Ali yang membuat mereka makin dekat dengan Nabi Saw dan mudah berinterkasi dengannya untuk kepentingan dan kemaslahatan kaum muslimin.

Kelima: Rasulullah Saw menikahi wanita dari beragam suku Arab, bahkan menikahi wanita keturunan Bani Israil yakni Shafiyah dari keluarga Yahudi. Hikmahnya adalah untuk mengeratkan relasi antar masyarakat manusia dan mendekatkan mereka kepada Nabi Saw dan kepada agamanya.

Ibnu Hajar al-Asqalani menyebutkan 10 hikmah di balik poligami Rasulullah Saw dengan berkata: “Kesimpulan yang dicatat dari pernyataan ulama mengenai hikmah di balik poligami Rasulullah Saw ada 10 hikmah yakni;

Pertama: Agar lebih banyak orang yang melihat kehidupan pribadinya untuk mematahkan tudingan orang musyrik kalau dia tukang sihir dan semacamnya.

Kedua: agar kabilah dan suku-suku Arab merasa bangga karena hubungan pernikahan dengan Nabi.

Ketiga: menambah kedekatan mereka kepada Nabi Saw.

Keempat: untuk menambah beban hukum di mana diharapakan agar beliau tidak dilenakan oleh cintanya kepada mereka lantas mengabaikan dakwah dan tabligh.

Kelima: agar banyak keluarganya yang membantunya melawan serangan orang lain.

Keenam: agar hukum-hukum syariat yang tidak dijangkau kaum pria tetap bisa disampaikan. Sebab banyak sekali persoalan yang jauh dari jangkau pria dan tersembunyi.

Ketujuh: agar terlihat akhlak dan bathinya yang mulia. Beliau pernah menikahi Ummu Habibah kala ayah mertuanya masih memusuhinya, lalu Shafiyah setelah ayah, paman dan saudaranya terbunuh. Andai beliau Saw tidak berakhlak mulia, maka mereka pasti sudah meninggalkannya, namun yang terjadi adalah mereka makin cinta kepadanya melebih cinta mereka kepada selainnya.

Kedelapan: beliau dikaruniai kekuatan biologis lebih walau sedikit makan dan minum serta banyak puasa, termasuk puasa wishal. Beliau sendiri menganjurkan orang yang belum mampu menanggung beban pernikahan maka hendaklah dia banyak puasa untuk meredam birahi, namun kultur ini tidak berlaku bagi beliau Saw.

Kesembilan dan kesepuluh: seperti dijelaskan sebelumnya tentang upaya menjaga mereka dan memenuhi hak-hak manusiawi mereka. Wallahu a’lam.[15]

Ini beberapa hikmah di balik istri Nabi Saw yang lebih dari satu. Saya yakin jika seseorang memaksimalkan akal dan nalarnya pasti akan temukan hikmah-hikmah lainnya.

Dengan demikian syubhat ini patah dan gugur dengan sendirinya.


[1] Epicurus (341-270 SM) seorang filsuf Yunani yang mendirikan sekolah filosof menggunakan namanya sendiri yakni sekolah Epicurus. Dia tidak mengimani keyakinan beragama, dia menganggap parameter kebaikan adalah kenikmatan dan tidak merasakan sakit. Lihat: Mausu’ah A’lami al-Falsafah: Hayatuhum wa Atasarhum wa Falsafatuhum, Ronnie Eli Alpha, 1/52

[2] Limadza Nahnu Huna? Ismail ‘Arfah, h. 127

[3] Syifa’ al-Alil fi Masa’il al-Qadha’ wa al-Qadar, wa al-Hikmah wa al-Alil, Ibnu al-Qayyim, 2/515

[4] Diriwayatkan oleh Muslim (2577).

[5] Muttafaqun Alaihi, al-Bukahri (122) dan Muslim (4385).

[6] Musykilatu al-Syar wa wujudullahi, Dr. Sami Amiri, h. 25

[7] Kitab al-Hayawan, al-Jahizh, 1/204

[8] Diriwayatkan oleh Muslim (2999)

[9] Diriwayatkan oleh al-Bukhari (5321)

[10] Diriwayatkan oleh al-Bukhari (5646).

[11] Diriwayatkan oleh al-Bukhari (2398), Ibnu Majah (4023) bahkan imam al-Bukhari menulis satu bab dalam shahihnya kitab al-Mardha, bab orang terberat ujiannya adalah para nabi dan orang-orang yang serupa dengan mereka.

[12] Lihat kitab: al-Mubtada’ wa al-Mab’ats wa al-Maghazi, Muhammad bin Ishaq (Sirah Ibnu Ishaq), h. 58

[13] Al-Sirah al-Nabawiyah, Ibnu Hisyam, 1/152

[14] Disebutkan bahwa Khadijah berusia 40 tahun, ada juga yang berkata; 28 tahun atau 35 tahun.

[15] Fathu al-Bari, Ibnu Hajar, 9/115

Terjemahan Kitab Akidahalquranilmuislampengetahuantauhid

Navigasi pos

Previous post
Next post

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recent Posts

  • INFORMASI ALAM GHAIB
  • PERTAMA – BUKTI ADANYA ALLAH SWT.
  • SYUBHAT KETIGA: PIDANA MATI ORANG MURTAD
  • PASAL VI – SYUBHAT DAN BANTAHAN
  • BAHASAN KELIMA – MENGABAIKAN PERKEMBANGAN SEMANTIK
Februari 2026
S S R K J S M
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
232425262728  
« Jan    

ahli kitab (2) ahlussunnah (2) akal (4) Akidah (102) Al 'Uluw (2) Allah (5) alquran (32) budaya (4) dalil (2) evolusi (1) firqah (2) firqah najiyah (2) ghaib (2) hadits (2) hidayah (2) ibadah (3) ibnu taimiyah (4) ilmu (64) imam syafi'i (9) iman (3) islam (89) kalam (2) kenabian (4) kesesatan (2) kitab (1) kristologi (5) ma'rifah (2) manusia (2) meditasi (1) nubuwah (3) pengetahuan (15) perdebatan (1) rububiyah (1) sejarah (4) sunnah (4) syubhat (5) tabiin (1) tafsir (2) takdir (2) tauhid (77) taurat (3) teori (2) tsaqafah (3) uluw (1) wahyu (2)

©2026 AKIDAH.NET | WordPress Theme by SuperbThemes