Skip to content
AKIDAH.NET
AKIDAH.NET

Keyakinan Pangkal Penghayatan

AKIDAH.NET
AKIDAH.NET

Keyakinan Pangkal Penghayatan

PASAL VII – BUKTI KENABIAN RASULULLAH SAW bag 1

Idrus Abidin, 13 Juli 202513 Juli 2025

Sumber: Kitab Maraqy al-Wa’yi (Penanaman Kesadaran)

Penulis:  Prof. Dr. Shaleh bin Abdul Aziz Utsman Sindi

Penerjemah: Idrus Abidin

Sebagai pengantar untuk tema ini, terdapat empat mukaddimah yag perlu dijelaskan:

Pertama, Pengutusan para nabi alaihimusalam merupakan efek dari karaktersitik Allah Swt sebagai yang maha pengasih (Rahman) dan pemilik hikmah yang agung (Hakim). Karena jiwa manusia senantiasa terkait dengan pengetahuan seputar Allah yang diimpikannya dengan sangat. Mereka sangat membutuhkan Allah agar mereka diberikan petunjuk menuju ke jalan yang lurus.

Akal yang cerdas, betapapun kejeniusannya, tidak akan mampu mandiri dalam mencari jalan lurus. Sehingga di antara hikmah Allah Swt dan kebaikanNya kepada seluruh makhluk adalah Dia mengutus para nabi sebagai duta antara diri-Nya dengan makhlukNya. Karena itulah kenabian merupakan jiwa dan semangat alam semesta sekaligus cahayanya serta sistemnya yang inheren. Sungguh tidak ada yang menyempal dari ketetapan ini kecuali mereka yang rugi dan tersesat. Sungguh tidak ada jalan kesuksesan bagi manusia dunia akhirat kecuali megikuti teladan para nabi. Diutusnya mereka merupakan salah satu nikmat terbesar Allah kepada mereka. Seandainya tanpa kehadiran para rasul dipastikan manusia akan sama keadaannya dengan binatang, bahkan bisa jadi jauh lebih buruk. Dunia ini sungguh gelap dan penuh dengan laknat kecuali mereka yang mendapatkan pancaran sinar risalah.

Kedua, Membedakan antara nabi yang benar dengan nabi yang palsu termasuk perkara yang mudah dilakukan. Karena mereka yang mengaku sebagai nabi hanya ada dua kemungkinan yang tidak ada kemungkinan ketiga baginya. Bisa jadi dia menjadi manusia yang paling jujur dan paling sempurna atau menjadi manusia yang paling lemah dan penuh dengan kebohongan. Sementara membedakan keduanya adalah perkara yang sangat mudah, bahkan lebih mudah dari sekedar membedakan antara orang yang cerdas dengan orang yang gila dan orang yang alim dengan orang yang bodoh.

Ketiga, Salah satu hikmah dan Rahmat Allah adalah bahwa Dia tidak mengutus seorang rasul pun keuali senantiasa memiliki karakter sebagai manusia terbaik dalam kategori kemanusiaan, mendapatkan dukungan mukjizat dan beragam bukti-bukti. Karena para nabi menyampaikan risalah dari Allah sehingga mutlak bagi Allah memberikan bukti-bukti terkait kebenaran mereka. Allah Swt berfirman:

لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِٱلْبَيِّنَٰتِ وَأَنزَلْنَا مَعَهُمُ ٱلْكِتَٰبَ وَٱلْمِيزَانَ لِيَقُومَ ٱلنَّاسُ بِٱلْقِسْطِ

Terjemahan, “Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan.” (QS al-Hadid: 25)

Itu merupakan bukti rasional yang penuh nilai keyakinan, sangat jelas dan terang, tidak ada syubhat di dalamnya dan tidak mengandung kontradiksi apapun. Jika hal demikian terjadi pada setiap nabi maka sungguh Rasulullah Saw mendapatkan porsi yang jauh lebih besar dari semua bukti-bukti dan argument kebenaran tersebut. Allah Swt berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَكُمْ بُرْهَانٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكُمْ نُورًا مُبِينًا

Terjemah, “Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu. (Muhammad dengan mukjizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (Al Quran).” (QS. an-Nisaa: 174)

Jadi, bukti kenabian Rasulullah Saw dan tanda-tanda kenabiannya sangat banyak dan tidak terbatas pada jumlah tertentu. Maka, setiap ayat dalam al-Qur’an merupakan bukti atas sahnya kenabian beliau.

Demikian pula setiap hadits……

Bahkan setiap sikap yang beliau tunjukkan dalam sirahnya Saw, jika didalami secara penuh maka itu semua merupakan indikasi kuat seputar kenabiannya. Setiap bukti yang merupakan bagian dari totalitas bukti-bukti tersebut merupakan hujjah dengan sendirinya sehingga ketika disatukan dengan beragam bukti yang lain, menghubungkan antara setiap bukti dengan bukti-bukti yang lain akan semakin menambah kuat dan mengokohkan pembuktiannya.

Keempat, Terkait judul pembahasan ini dan hal lain setelahnya: bukti-bukti kenabian Rasulullah dan tanda-tanda risalahnya Saw. Bisa saja ada yang mengatakan, apa manfaat dari menyuguhkan hal seperti ini kepada orang-orang yang mempercayai kenabian Rasulullah Saw? Bukankah justru lebih baik jika disampaikan kepada mereka yang menginkari kenabiannya atau kepada mereka yang terlibas oleh keraguan seputar kenabian Rasulullah?

Jawabannya:  bahwa itu merupakan satu kesalahan identifikasi. Betul bahwa orang-orang kafir lebih pantas untuk mendapatkan penjelasan terkait masalah ini. Tetapi kita kalangan kaum muslimin yang menpercayai kenabian beliau Saw., bahkan rela mengorbankan diri demi beliau, saya katakan: justru sangat butuh untuk mendiskusikan hal ini karena me-review kembali bukti-bukti kenabian beliau akan menambah dan mengokohkan keimanan setiap muslim, serta menambahkan pengagungan dan kecintaan kepada beliau.  Bahkan hal demikian akan menyampaikan kita -dengan taufik dari Allah- kepada level ridha kepada beliau sebagai nabi dan rasul. Rasulullah Saw pernah bersabda: “Sungguh akan merasakan nikmatnya iman siapa pun yang ridha kepada Allah sebagai Tuhannya, rela menjadikan Islam sebagai agamanya dan Rasulullah sebagai rasulnya.” (HR. Muslim, no. 34)

BUKTI PERTAMA: PERJALAN HIDUP BELIAU SEBELUM FASE KENABIAN

Rasulullah Saw sungguh telah mencapai tingkat tinggi dalam hal akhlak, keindahan tampilan dan kefasihan lisan, juga dalam aspek kemulian nasab dan kemulian asal usul kabilahnya.

Kaumnya sangat mengetahui betapa kuatnya akalnya, keutuhan pemahamannya dan kejelian pandagannya. Mereka semua menyaksikan luasnya kedermawanan beliau, ketinggian adabnya dan kesucian dirinya, keberaniannya yang hebat dan tingginya rasa malu beliau serta tingginya kehormatan yang bersangkutan. Semua itu bukanlah etika seorang tukang bohong yang membual atas nama Allah Swt.

Seandainya beliaun tidak mengatakan aku adalah seorang rasul, Bukankah

pada wajah beliau terdapat saksi yang sungguh berkata (jujur akan kenabiannya)!

Renungkalnah wahai kalian yang pantas mendapatkan taufik: seseorang yang konsisten dengan kejujuran dan sikap amanah selama empat puluh tahun. Selama itu dia tidak pernah berbohong kepada siapa pun; baik pada hal jual beli maupun pada aspek lainnya. Beliau tidak pernah mengkhianati janji dan tidak pernah menyalahi kesepakatan. Dia bagus akalnya, mulia nasabnya, tinggi kedudukannya di tengah sukunya, berani dalam bersikap, sang pionir dalam berkorban dan berderma, penuh kezuhudan dan kehati-hatian dan sikap peduli kepada orang lain. Bagaimana mungkin dengan segala kesempurnaan akhlak tersebut dianggap akan meninggalakan itu semua  begitu saja setelah ia mencapai umur 40an. Lalu ia melakukan kebohongan yang termasuk kebohongan paling parah di dunia ini. Yang mana, hal demikian tidak mungkin dilakukan kecuali oleh orang yang paling hina di dunia ini. Sehingga berani mengklaim -dengan penuh kebohongan- bahwa dia adalah nabi yang diutus oleh Allah dengan berbekal wahyu. Sungguh hal itu sangat jauh dari realitas!

Al-Qur’an sudah memberikan isyarat penuh terkait makna ini dan mengingatkan kalangan kafir Quraisy tentang hal tersebut dengan firman-Nya:

أَمْ لَمْ يَعْرِفُوا رَسُولَهُمْ فَهُمْ لَهُ مُنْكِرُونَ

Terjemahan, “Ataukah mereka tidak mengenal rasul mereka, karena itu mereka memungkirinya?.” (QS. al-Mukminun: 69)

Sungguh mereka -baik kalangan muda maupun kalangan tua- mengenal Rasulullah secara penuh terkait etikanya yang sangat agung. Bahkan mereka sendiri memberikan julukan kepadanya sebelum era kenabian sebagai sang pemuda terpercaya (al-amin). Lalu kenapa mereka tidak mempercayainya setelah dia mendapatkan kebenaran mutlak?

Saya mengingatkanmu dengan sesuatu yang baru saja saya sebutkan sebelumnya: bahwa klaim kenabian tidak akan pernah dilakukan kecuali oleh dua orang, bisa dari orang yang paling baik dan sangat jujur atau oleh orang yang paling buruk sekaligus tukang ngibul. Sementara Muhammad bin Abdullah Saw adalah orang yang paling jujur, sangat baik dan paling berbakti.

Rasulullah Saw tinggal di Makkah -setelah kenabian- sekitar 13 tahun. Selama itu, beliau senantiasa menantang suku Quraisy dan mendakwahi mereka dan menyebutkan kelemahan-kelemahan berhala yang mereka pertuhankan. Dengan semua itu, tidak ada seorang pun yang perah menuduh beliau sebagai pembohong sebelum ia menjadi nabi, sekalipun hanya dalam suatu peristiwa. Seandainya mereka pernah menemukan satu kebohongan sekalipun, dipastikan mereka akan menyebarkannya ke santero dunia. Dalam kitab shahihain (Bukhari, no. 4553 dan Muslim, no. 1773) Terdapat kisah Heraklius bersama dengan Abu Sufyan. Heraklius berkata, saya bertanya kepada kalian apakah dia pernah berbohong sebelum ia mengklaim kenabian? Sedang kalian menjawab, tidak. Sehingga saya merasa yakin dia tidak mungkin jujur kepada masyarakatnya lalu dia berbohong atas nama Tuhan.

Suatu hal yang sangat dikenal di tengah masyarakat adalah bahwa siapa yang komitmen untuk bersikap jujur sejak masa kecilnya tentu dia makin konsisten dengan sikap tersebut di masa remaja dan pada masa tuanya. Siapa pun yang bebas dari kebohongan terhadap dirinya, tentu dia lebih jauh dari kebohongan manakala terkait dengan hak-hak Allah Swt.

Ringkasan. Kejujuran dan kesempurnaan akhlak beliau -sebelum diutus jadi nabi- merupakan salah satu bukti kenabian. Sungguh begitu banyak yang menjadi saksi atas hal demikian dari Rasulullah Saw, baik dari kalangan terdekatnya maupun dari kolega yang jauh. Jadi, sungguh beliau benar-benar seorang nabi.

BUKTI KEDUA: PERJALANAN HIDUP BELIAU SETELA ERA KENABIAN

Sungguh Rasulullah adalah pribadi percontohan dalam masalah etika yang sangat unik dan tak tertandingi. Sungugh manusia yang mengoleksi semua keutamaan dan seluruh keistimewaan dari semua sisinya, menyatuukan seluruh kebaikan dari segala penjurunya sehingga etikanya mendasi standar akhlak dan siapa pun memperhatikan salah satu sisi dari perjalanan hidupnya maka dia akan tersendera oleh kemuliaan, keagungan dan kesucian Rasulullah dan dipastikan merasa yakin dengan firman Allah:

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

Terjemah, “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS al-Qalam: 4)

Adalah Rasulullah Saw merupakan manusia paling bagus logatnya, sangat lembut tampilannya dan sangat matang pergaulannya. Beliau dalah manusia paling komit dengan janji, sangat perhatian dengan kesepakatan, selalu bertingkah baik dan sangat supel……sehingga akhlaknya secara total adalah akhlak qur’ani!

Dialah manusia yang paling bagus etikanya, lahir dan batin.

Wajahnya senantiasa cerah layaknya bulan purnama. Semua ucapannya bagaikan Cahaya yang bertelekan. Keluar masuknya semuanya adalah Cahaya. Dialah manusia terbaik dalam hal Cahaya lahir dan Cahaya batin. Cahayanya merupakan pantulan terang yang membuktikan kenabiannya. Sebuah informasi yang berasal dari Abdullah bin Salam r. a., ia berkata, “Tatkala Rasulullah Saw tiba di Madinah, semua orang mengarah kepadanya. Dia berkata, saya lalu ikut bergabung dengan orang-orang untuk melihatnya. Setelah saya menetap wajah Rasulullah Saw dengan jelas saya menyadari bahwa wajah beliau bukan wajah seorang yang suka berbohong.” (HR. Tirmidzi, no. 2485)

Sekalipun tidak ada bukti jelas

Sungguh keadaannya yang tulus akan mengabarimu (kejujurannya)

Sungguh Rasulullah Saw bukan tipe orang yang suka melaknat, bukan pula orang yang suka berkata buruk dan tidak doyan menghina. Dia sungguh banyak diam dan mengurangi tertawa terbahak-bahak. Dia tidak keras dan tidak pula culas dan tampil seperti preman di pasar-pasar. Anas r. a. berkata, “Sugguh saya sudah menjadi pembantunya selama 7 tahun atau 9 tahun, saya tidak pernah mendengar beliau mengomentari sesuatu yang saya luput kerjakan: seandainya engkau melakukan seperti ini dan begini.” (HR. Muslim, no. 2309)

Beliau adalah manusia paling pemberani. Al-Bara bin Azib r. a. bercerita, “Ketika kondisi peperangan sedang genting, kami berlindung di belakang beliau. Sungguh orang yang pealing pemberani di antara kami adalah mereka yang dijadikan tameng (saat peperangan)” (HR. Muslim, no. 1776)

Beliau adalah orang yang paling dermawan dan pemurah soal kebaikan. Senantiasa bersilaturahmi dan menaggung beban orang-orang yang berkekurangan, memuliakan tamu dan senang membantu orang-orang benar. Anas r. a. berkata, “Tidaklah Rasulullah Saw dimintai sesuatu kecuali akan diberikan. Ada seseorang yang datang meminta sehingga diberikan kawanan domba yang terdapat di antara dua lereng gunung, sehingga orang itu Kembali ke sukunya sambil berkata: wahai seluruh anggota sukuku! Masuklah ke dalam Islam! sungguh Muhammad memberikan sesuatu tanpa pernah takut miskin.” (HR. Muslim, no. 2312)

Beliau adalah manusia paling pemalu, bahkan dia jauh lebih pemalu dibanding wanita yang sedang dipingit.

Dia adalah orang yang sangat tawadhu, sehingga salah seorang budak wanita di kota Madinah memegang tangannya sambil keliling kota untuk memenuhi kebutuhannya sampai selesai. Setelah itu barulah beliau pulang ke tempat istirahatnya.

Jika ada seseorang yang memegang tangan beliau, maka beliau membiarkan tangannya dalam gengaman orang lain sampai orang tersebut yang melepaskannya sendiri.

Beliau tidak suka jika beliau datang lalu orang-orang berdiri menjemputnya.

Beliau senang duduk bareng dengan kalangan orang-orang fakir, hobby menjenguk orang-orang yang sedang sakit dan rajin memenuhi undangan.

Belia adalah orang yang paling zuhud di dunia ini. Ia tidak cenderung menikmati keidahannya dan tidak terlalu tertarik dengan solekannya. Allah telah memberikan pilihan kepadanya antara menjadi raja sekaligus nabi atau sekedar sebagai hamba Allah sekaligus rasul-Nya lalu beliau lebih memilih sebagai hamba dan rasul-Nya. Beliau pernah menegaskan, “Apa sih yang saya butuhkan di dunia ini. Saya dengan dunia ini tidak lebih layaknya seorang pengendara yang sedang singgah untuk berteduh untuk beristirahat, lalu meniggalkan pohon tersebut demi melanjutkan perjalanan.” (HR. Tirmidzi, no. 2377)

Aisyah r. a.  berkata, “Rasulullah tidak pernah kenyang 3 hari berturut-turut karena mengkonsumsi roti gandum sampai tiba ajal beliau.” (Muttafaq alaihi. Bukhari, no. 5146. Muslim, no. 2970)

Beliau adalah orang terbaik sikapnya kepada keluarganya. Suami terbaik dalam bersikap kepada istri-istrinya sehingga beliau ketika berada di rumah, beliau rajin membantu pekerjaan rumah.

Beliau tidak pernah mencela makanan sedikitpun. Jika beliau berselera maka makanan yang ada beliau makan. Jika tidak, beliau membiarkannya tanpa komentar.

Beliau senang bercengkrama dengan anak-anak, menyayangi kaum wanita dan suka memberi mereka pengarahan.

Beliau pernah bercerita tentang dirinya dengan mengatakan, “Saya terkadang mulai shalat dan hendak memanjangkannya. Tetapi saya mendengar ada bayi yang menangis sehingga saya memendekkan shalat karena saya merasakan perasaan ibunya ketika mendengar tangisan bayinya.” (Muttafaq alaihi. Bukhari, no. 709. Muslim, no. 470)

Beliau sangat menyayangi hewan dan bersikap lembut kepadanya. Karenannya Beliau memerintahkan agar profesional dalam menyembelih, mempertajam alat sembelih dan membuat sembelihan merasa nyaman. Beliau juga melarang agar hewan yang masih hidup jangan dijadikan sasaran dalam Latihan menembak atau memanah. Beliau juga melarang agar tidak menjadikan hewan sebagai alas duduk. Bahkan, pernah beliau memiringkan bejana supaya kucing bisa minum dengan mudah!

Ibnu Mas’ud r. a. berkata, “Pernah kami bepergian bareng denga Rasulullah pada seuatu perjalanan, lalu kami melihat ada burung -sejenis burung gereja- bersama kedua anaknya. Kami mengambil keduanya sehingga induk burung mendatangi kami dengan panik. Ketika Rasulullah Saw datang, beliau berkata, “Siapa yang menyakiti burung ini dengan mengganggu anaknya? Kembalikan anaknya ke induknya.” (HR. Abu Daud, no. 5268)

Bahkan kasih sayang beliau pun mencakup benda padat. Suatu saat Beliau khutbah di masjidnya dengan menggunakan pohon kurma -sebelum menggunakan mimbar resmi- lalu setelah mimbar yang dipesan sudah selesai, beliau meninggalkan pohon kurma tersebut. Sampai-sampai pohon kurma tersebut menangis layaknya bayi yang sangat rindu dengan ibuny. Beliau datang ke pohon kurma tersebut lalu memelukma sampai ia tenang. Padahal itu hanya potongan pohon kurma. Sungguh kasih sayang seperti apa yang beliau miliki!?

Beliau adalah orang yang paling pemaaf dan sangat lembut. Beliau jauh lebih lembut disbanding siapapun yang memiliki kelembutan. Beliau orang yang paling bersih Ketika mengalami pertengkaran. Pernah beliau ditarik oleh seorang badwi dengan keras, sehingga membekas di leher beliau. Beliau hanya menoleh kepada sang badwi lalu tertawa. Beliapun meminta agar badwi itu diberikan sesuatu!

Aisyah r. a. berkata, “Tidaklah beliau diberikan pilihan kecuali ia memilih yang paling mudah selama bukan dosa. Kalau pilihan yang ada mengandung dosa, maka dia adalah orang yang paling darinya. Rasulullah Saw tidak pernah membalas karena dorongan dendam pribadi, kecuali jika kehormatan Allah dilanggar oleh orang lain.” (Muttafaq alaihi, Bukhari, no. 3560. Muslim, 2327)

Sungguh berkelana dalam taman kemuliaan Rasulullah sangatlah panjang. Cukuplah kita menikmati sejuknya musim semi dan memanen buah-buahan yang sudah ranum sebatas ketersediaan wadah yang kita miliki.

Itulah dia Muhammad bin Abdullah Saw. Beliau agung pada setiap sisisnya. Semua itu disaksikan secara langsung oleh kalangan jauh maupun orang dekat. Teman ataupun lawan. Apa mungkin itu merupakan akhlak seorang pendusta?! Apakah person demikian berani mengada-ada atas nama Allah?! Tentu tidak mungkin. Semua itu merupakan petunjuk jelas terkait kebenaran kenabian beliau bagi mereka yang benar-benar sportif.

Hidupnya sekitar 23 tahun dalam masa kenabian. Sebelumnya 40 tahun. Selama itu beliau dikenal oleh orang-orang sekitar sebagai orang yang sangat tinggi akhlaknya dan mulia jejak hidupnya. Masyarakat tidak mendapatkan cacat dan celahnya satu pun. Apa mungkin demikian kondisi orang yang suka membual dan tukang bohong yang jiwanya penuh terisi oleh keburukan?! Tentu tidak, demi Allah. Sungguh itu sangat mustahil.

Saya menutup pembahasan ini dengan sebuah prinsip yang baik yang disampaikan oleh Ibnu Hazm rahimahullah. Yang mana, beliau pernah berkata, “Sungguh perjalanan hidup Rasulullah bagi siapa pun yang menyelaminya, otomatis akan mempercayainya dan akan bersaksi bahwa dia memang utusan Allah yang sesungguhnya. Seandainya beliau tidak memiliki mukjizat selain rekam jejak hidupnya (sirah) sungguh itu sudah cukup.” (al-Fashl, vol. 2, hlm. 73)

Untuk memperkaya uraian, silahkan baca:

Syamail Muhammadiyah karya imam al-Tirmidzi atau kitab ringkasannya karya syeikh al-Albani rahimahullah.

Terjemahan Kitab Akidahilmuislamkenabiannubuwahtauhid

Navigasi pos

Previous post
Next post

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recent Posts

  • INFORMASI ALAM GHAIB
  • PERTAMA – BUKTI ADANYA ALLAH SWT.
  • SYUBHAT KETIGA: PIDANA MATI ORANG MURTAD
  • PASAL VI – SYUBHAT DAN BANTAHAN
  • BAHASAN KELIMA – MENGABAIKAN PERKEMBANGAN SEMANTIK
April 2026
S S R K J S M
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  
« Jan    

ahli kitab (2) ahlussunnah (2) akal (4) Akidah (102) Al 'Uluw (2) Allah (5) alquran (32) budaya (4) dalil (2) evolusi (1) firqah (2) firqah najiyah (2) ghaib (2) hadits (2) hidayah (2) ibadah (3) ibnu taimiyah (4) ilmu (64) imam syafi'i (9) iman (3) islam (89) kalam (2) kenabian (4) kesesatan (2) kitab (1) kristologi (5) ma'rifah (2) manusia (2) meditasi (1) nubuwah (3) pengetahuan (15) perdebatan (1) rububiyah (1) sejarah (4) sunnah (4) syubhat (5) tabiin (1) tafsir (2) takdir (2) tauhid (77) taurat (3) teori (2) tsaqafah (3) uluw (1) wahyu (2)

©2026 AKIDAH.NET | WordPress Theme by SuperbThemes