Pasal I – PENDAHULUAN TENTANG SYUBHAT Supriyadi Yusuf Boni, 4 November 20254 November 2025 Sumber: al-Tiryaq: Nahwa Mualajah Ta’shiliyah li al-Syubuhat al-Fikriyah (Tameng: Upaya Mengatasi Syubhat Pemikiran) Penulis: Dr. Mutlaq Jasir Mutlaq al-Jasir Penerjemah: Supriyadi Yousef Boni Editor: Idrus Abidin Ulasan Pertama: Definisi Syubhat Syubuhat merupakan bentuk jamak dari kata syubhat yang dalam bahasa Arab diartikan; al-iltibas (samar, rancu),[1] artinya kesamaran antara benar atau bathil. Syubhat merupakan upaya mengaburkan, menyamarkan dan mengubah kebenaran dengan cara memoles kebathilan hingga tampak seolah kebenaran untuk mengecoh manusia. Ibnu al-Qayyim berkata: syubhat terkadang menerpa hati yang menghalanginya mengetahui kebenaran. Dinamakan syubhat karena adanya keserupaan dan kemiripan antara kebenaran dan kebathilan, dimana kebathilan dipoles dengan kebenaran. Pasalnya, mayoritas manusia hanya sekedar melihat cover. Artinya cover yang baik umumnya dipercaya benar dan baik tanpa melihat hakikatnya. Berbeda dengan ahli ilmu yang tidak terkecoh dengan syubhat, pandangan bathinnya melampaui syubhat dan tajam melihat hakikat yang lebih dalam sehingga dia mudah mengetahui dan menyingkapnya.[2] Jadi, syubhat adalah memoles kebathilan agar tampak seolah kebenaran bahkan hingga hilang bentuk kebathilannya. Sebabnya, jika kebathilan tampak dengan wajah aslinya dan terlihat sebagai kebathilan murni maka akal fikiran menolaknya dan ditentang oleh jiwa. Namun ketika kebathilan dipoles sehingga terlihat sebagai kebenaran lalu dibungkus dengan kebenaran maka kebenaran dan kebathilan akan berbaur, dusta dan jujur menyatu. Polesan yang dibuat semata-mata agar kebathilan itu diterima dan diyakini. Oleh sebab itu, Allah Swt mengecam keras kaum Yahudi dan Nasrani yang mengaburkan kebenaran dengan cara mencampurnya dengan kebathilan dan sembunyikan kebenaran. Allah Swt melarang perbuatan mereka itu dan memberi peringatan keras dalam firman-Nya: يٰۤـاَهۡلَ الۡكِتٰبِ لِمَ تَلۡبِسُوۡنَ الۡحَـقَّ بِالۡبَاطِلِ وَتَكۡتُمُوۡنَ الۡحَـقَّ وَاَنۡـتُمۡ تَعۡلَمُوۡنَ Terjemahannya: “Wahai Ahli Kitab! Mengapa kamu mencampuradukkan kebenaran dengan kebatilan, dan kamu menyembunyikan kebenaran, padahal kamu mengetahui?” (Qs; Ali Imran: 71), juga firman Allah Swt: وَلَا تَلۡبِسُوا الۡحَـقَّ بِالۡبَاطِلِ وَتَكۡتُمُوا الۡحَـقَّ وَاَنۡتُمۡ تَعۡلَمُوۡنَ Terjemahannya: “Dan janganlah kalian campuradukkan kebenaran dengan kebatilan1 dan (janganlah) kalian sembunyikan kebenaran, sedangkan kalian mengetahuinya.” (Qs: al-Baqarah: 42). Kata al-labsu artinya mencampurbaurkan, labastu alaihi al-amra albisuhu jika saya campurbaurkan sesuatu dengan yang serupa dengannya atau antara kebenaran dan kebathilan. Firman Allah Swt: وَّلَـلَبَسۡنَا عَلَيۡهِمۡ مَّا يَلۡبِسُوۡنَ Terjemahannya: “dan (dengan demikian) pasti Kami akan menjadikan mereka tetap ragu sebagaimana kini mereka ragu.” (Qs; al-An’am: 9). Pernyataan wa fi al-amri lubsatun artinya tidak jelas. Diantara dalilnya adalah pernyataan Ali r.a. kepada al-Harits bin Hauth; “wahai Harits, persoalan ini tampak samar bagimu! Kebenaran itu tidak bisa dinilai berdasarkan orang namun ketahuilah kebenaran itu pasti engkau tahu siapa pendukungnya.”[3] Sebanyak apapaun syubhat yang dihembuskan untk merusak Islam namun dalil dan bukti kebenaran pasti memudarkannya dengan izin Allah Swt. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Demikianlah, semakin manusia butuh untuk mengetahui sesuatu maka Allah Swt siapkan dalil dan bukti kuat nan banyak untuk mengetahuinya. Persis seperti dalil untuk mengenal Allah Swt, untuk mengenal nubuwah Rasulullah Saw, dalil kuasa dan ilmu-Nya dan semacamnya. Dalil dan bukti-bukti itu banyak dan kuat serta jelas. Walaupun sebagian orang juga mempersempit ruang yang diluaskan Allah Swt sebagaimana ada sebagian kecil orang diterpa rasa ragu atas sebagian persoalan indrawi dan logis yang tidak diragukan mayoritas manusia.”[4] Ulasan Kedua: Definisi Waswas Sebagian orang sulit membedakan antara syubhat dengan waswas (keraguan) karena adanya kemiripan antara keduanya. Oleh sebab itu, sebelum melanjutkan tela’ah metodologis membantah syubhat maka terlebih dahulu perlu dibedakan antara syubhat dengan waswas agar hasil terapi bisa optimal. Waswas atau waswasah adalah bisikan hati dan lintasan fikiran. Orang yang terganggu wawas adalah orang yang dikendalikan oleh bisikan hati dan fikirannya. Waswasa ilaihi nafsuhu waswasatan wa wiswasan, al-waswas adalah nama setan, lalu waswasa artinya jika dia berbicara tanpa dia jelaskan.”[5] Al-waswas adalah lintasan fikiran yang menerpa seseorang; Apakah dari dalam dirinya sendiri seperti firman Allah Swt: وَلَقَدۡ خَلَقۡنَا الۡاِنۡسَانَ وَنَعۡلَمُ مَا تُوَسۡوِسُ بِهٖ نَفۡسُهٗ ۖ وَنَحۡنُ اَقۡرَبُ اِلَيۡهِ مِنۡ حَبۡلِ الۡوَرِيۡدِ Terjemahannya: ‘Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” (Qs: Qaf; 16). Atau bersumber dari setan seperti waswas setan kepada Adam as. Firman Allah Swt: فَوَسۡوَسَ اِلَيۡهِ الشَّيۡطٰنُ قَالَ يٰۤاٰدَمُ هَلۡ اَدُلُّكَ عَلٰى شَجَرَةِ الۡخُلۡدِ وَمُلۡكٍ لَّا يَبۡلٰى Terjemahannya: “Kemudian setan membisikkan (pikiran jahat) kepadanya, dengan berkata, “Wahai Adam! maukah aku tunjukkan kepadamu pohon keabadian (khuldi) dan kerajaan yang tidak akan binasa?”” (Qs: Thaha: 120). Waswas ini menghembuskan keraguan dalam dirinya terhadap agamanya, rabbnya atau terhadap Rasulnya Saw. Seorang muslim tidak dianggap berdosa hanya karena bisikan hatinya atau bisikan setan padanya selama dia belum ucapkan atau melakukan turunannya. Firman Allah Swt: لَا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفۡسًا اِلَّا مَاۤ اٰتٰٮهَا Terjemahannya: “Allah tidak membebani seseorang melainkan (sesuai) dengan apa yang diberikan Allah kepadanya.” (Qs: al-Thalaq: 7), juga firman Allah Swt: فَاتَّقُوا اللّٰهَ مَا اسۡتَطَعۡتُمۡ Terjemahannya: “Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu” (Qs: al-Taghabun: 16). Sabda Rasulullah Saw bahwa: “Allah Swt memaafkan ummatku bila sekedar bisikan dirinya selama belum dia ucapkan atau lakukan.”[6] Akan tetapi, setiap muslim dianjurkan untuk melawan bisikan itu. Sebab jika dia remehkan dan larut di dalamnya maka dia dianggap berdosa karena sikapnya yang meremehkan itu. Seringkali setan menghembuskan bisikan mungkar dan kesesatan tentang Allah Swt, atau tentang Rasul-Nya, serta syariat-Nya yang terasa berat oleh seorang muslim. Sikap melawan dan membenci waswas itu merupakan tanda iman yang benar. Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., ia berkata: ada sekelompok orang dari kalangan shabat Nabi Saw bertanya: bagaimana jika kita merasakan bisikan hati yang berat untuk diucapkan, beliau jawab: “Apakah kalian merasakan hal itu? Mereka jawab: iya. Beliau bersabda: itu pertanda iman yang benar.”[7] Dalam Riwayat lain dari Aisyah[8] dan Ibnu Mas’ud[9] disebutkan: itulah iman yang murni.” Hadits-hadits ini dan selainnya menunjukkan betapa bahaya bisikan yang menerpa hati mereka sebagaimana disebutkan juga dalam Riwayat mereka bertanya: ”Wahai Rasulullah, kami terkadang merasakan bisikan dalam diri yang mana andai ditimpakan bara[10] lebih baik baginya ketimbang dia ucapkan.”[11] Dalam riwayat lain disebutkan: “Saya terkadang berbisik dalam hati di mana andai saya dilemparkan dari langit lebih baik ketimbang saya ucapkan.”[12] Riwayat lain mengatakan: “andai saya dilemparkan dari langit hingga dipatuk oleh burung-burung lebih aku sukai ketimbang saya mengucapkannya.”[13] Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Artinya munculnya waswas ini yang memantik timbulnya rasa resah dan benci serta usaha membuangnya dari hati adalah penanda iman yang benar. Ibarat seorang mujahid yang diserang musuh lalu dia melawan hingga mengalahkannya. Ini termasuk jihad berat, iman yang nyata seperti susu murni. Dikatakan murni karena muncul rasa benci terhadap waswas setan kemudian dia lawan hingga iman bersih dan suci.”[14] Al-Khattabi berkata: “Sabdanya bahwa itu penanda iman yang murni artinya bahwa iman murni itu akan menghalangi kalian menerima waswas setan yang dihembuskan dalam hati kalian sehingga waswas tersebut tidak tersimpan dalam hati kalian dan bahkan hati merasa resah. Bukan berarti waswas itulah yang menandakan iman yang murni itu. Sebab, waswas itu lahir dari bisikan setan sehingga mustahil dianggap iman yang murni. Diriwayatkan dalam hadits lain bahwa mereka mengadu kepada Rasulullah Saw dan berkata alhamdulillah karena waswas itu dapat ditepis.”[15] Menurut saya, yang beliau maksudkan adalah hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. di mana, ia berkata: ada seseorang datang menghadap kepada Rasulullah Saw seraya berkata: wahai Rasulullah, seseorang diantara kami terkadang merasakan dalam dirinya di mana andai dia dijebloskan ke dalam bara api lebih dia sukai ketimbang mengucapkannya, beliau jawab: Allahu akbar, Allahu akbar, segala puji bagi Allah Swt yang telah menolak muslihatnya dalam bentuk waswas.”[16] Al-Shan’ani berkata: “Sabdanya: yang telah membuat muslihatnya dalam bentuk waswas artinya; bahwa setan hanya menghembuskan waswas ke dalam hati orang yang tidak sanggup dia sesatkan. Muslihatnya berupa waswas yang dia hembuskan penanda ketidakmampuannya menyesatkan orang itu. Sebab orang kafir sangat mudah disesatkan dari arah mana saja yang setan inginkan, tidak terbatas pada waswas, bahkan setan bebas mempermainkannya sesuai keinginannya.”[17] Ulasan Ketiga: Perbedaan Antara Waswas dengan Syubhat Ada kemiripan antara waswas dengan syubhat sebagaimana antara keduanya ada perbedaan. Penting membedakan antara orang yang diterpa waswas dengan orang yang diganggu syubhat. Pasalnya, metode mengatasi keduanya berbeda. Berikut ringkasan perbedaan keduanya, yakni; Pertama, orang yang terganggu dengan waswas tidak senang dengan fikiran yang menerpanya. Dia yakin bahwa Allah Swt ada dan agama Islam benar. Namun lintasan fikiran menerpanya tanpa dia inginkan apalagi sampai tertanam kuat dalam fikirannya. Dia takut waswasnya bertambah. Andai bukan karena iman kepada Allah Swt dan adanya neraka maka sejatinya tidak akan gelisah dengan waswasnya itu. Oleh sebab itu, dia dibebaskan dari dosa in sya Allah Swt. Al-Hafizh Ibnu Katsir menafsirkan firman Allah Swt: وَاِنۡ تُبۡدُوۡا مَا فِىۡۤ اَنۡفُسِكُمۡ اَوۡ تُخۡفُوۡهُ يُحَاسِبۡكُمۡ بِهِ اللّٰهُ Terjemahannya: “Jika kamu nyatakan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu sembunyikan, niscaya Allah memperhitungankannya (tentang perbuatan itu) bagimu.” (Qs; al-Baqarah: 284) berkata: “bahwa sekalipun Allah Swt menghisab seseorang karena bisikan hatinya maka dia tidak akan disiksa kecuali kalau dalam kendalinya. Sesuatu yang sulit ditepis oleh seseorang berupa waswas (bisikan hati) maka bukan bahagian dari beban hukum yang harus ditanggung manusia. Benci terhadap bisikan busuk dalam hati merupakan bukti iman.”[18] Sementara orang yang ragu sejatinya dipengaruhi oleh syubhat. Dia dengarkan syubhat lalu sengaja dia simpan dalam fikirannya, bahkan dia cenderung membenarkannya dan menganggapnya logis. Bahkan bisa saja dia anggap itu benar sehingga dia mempertanyakan imannya sendiri. Kedua, orang yang diterpa waswas bisa saja tidak tahu jawaban sebuah syubhat yang dihembuskan oleh waswas itu kemudian dia menanyakannya dan diakui oleh fikirannya. Namun fikiran tersebut tidak hilang dan terus bermain dalam otaknya sekalipun dia sadar kalau itu salah, dan berupaya melawannya, namun waswas itu terus menyerang seolah berkata kepadanya: “namun bagaiman jika begini dan begitu….Sementara orang yang ragu secara otomatis akan tenang ketika syubhatnya telah dipadamkan, syubhat tersebut akan menghilang dari fikirannya. Buku ini secara umum dimaksudkan untuk memadamkan syubhat, sementara untuk melawan waswas maka akan diulas kemudian. Ulasan Keempat: Memadamkan Waswas Akidah[19] Orang yang diserang perasaan waswas dalam akidah disarankan untuk tetap tenang. Sebab, kegelisahan akibat waswas dan upaya melepaskan diri darinya merupakan penanda iman bahkan iman yang murni sebagaimana disebutkan sebelumnya dalam sabda Rasulullah Saw. Termasuk yang membuatnya mesti tenang adalah mengetahui bahwa Allah Swt tidak membebankan seseorang kecuali berada dalam kuasa dan kendalinya. Makanya, seorang muslim tidak dibebani dosa oleh lintasan fikiran setan yang sulit dia lawan. Selama lintasan fikiran itu belum dia ubah dalam bentuk perkataan atau tindakan, maka masih berada dalam lingkaran maaf dan ampunan Allah Swt. Perlu diketahui oleh mereka yang diserang rasa waswas dalam akidah bahwa syariat Islam menyiapkan penawar mujarab dalam menghilangkan waswas itu. Saya sebut “Obat empat T” yakni; ta’kid, tathmin, tahshin dan tasyaghul. Pertama, ta’kidu al-iman (pengokohan iman). Penawar paling mujarab mematahkan rasa waswas adalah menguatkan iman dalam diri. Artinya mengokohkannya dan jiwa dan mendendangkannya dengan lisan. Rasulullah Saw telah menyarankannya melalui sabdanya yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a. berkata: Rasulullah Saw bersabda: “Setiap manusia akan terus bertanya hingga sampai ujungnya bahwa makhluk ini diciptakan Allah Swt, lantas siapa yang menciptakan Allah Swt? Siapa yang menemukan itu dalam dirinya maka hendaklah dia berucap; saya beriman kepada Allah Swt.”[20] Rasulullah Saw menganjurkan setiap orang untuk berucap; saya beriman kepada Allah Swt atau saya beriman kepada Allah Swt dan Rasulnya. Sebab, pernyataan yang memuat iman dan dzikir kepada Allah Swt ini dipastikan meredam waswas yang buruk secara otomatis. Waswas seperti ini juga biasa dirasakan sebagian orang dalam ibadahnya hingga menimbulkan rasa ragu, apakah dia sudah bertakbir atau belum? Apakah sudah membaca al-fatihah atau belum? Apakah sudah didahului dengan niat ibadah atau belum? Apakah sudah sempurna berwudhu atau belum? Waswas ini merusak keyakinan indrawinya. Padahal sejatinya, mencuci anggota tubuh itu termasuk tindakan yang terlihat secara kasat mata, mengucapkan takbir atau membaca al-fatihah juga diketahui oleh hati dan didengar oleh telinga, berniat shalat persis seperti berniat makan, minum, berkendara dan berjalan. Keyakinannya bersifat otomatis dan kuat serta tidak memerlukan tela’ah dalil dan bukti. Sebab, dia sendiri sudah menajdi bukti bahkan termasuk pengantar dan landasan bukti yang sifatnya teoritis memuat premis-premis ilmiyah. Rasa waswas yang muncul semestinya sudah hilang dengan isti’adzah (meminta perlindungan) dan usainya beribadah. Jika waswas muncul dan seolah berkata; engkau belum basuh wajahmu maka hendaknya ditimpali dengan berucap; saya sudah basuh mukaku. Jika waswas muncul dan seolah dia belum berniat, atau belum bertakbir, maka hendaknya dia timpali dengan berucap; saya sudah berniat dan saya sudah bertakbir. Jadi, dia kuatkan dirinya dengan realitas yang ada dan meredam pengaruh waswas itu. Dengan begitu, setan pun melihatnya kokoh dalam kebenaran sehingga dia pun pergi menjauh. Kapan setan melihatnya larut dalam rasa ragu dan syubhat, terpedaya oleh waswas dan lintasan fikirannya maka setan terus menghembuskannya hingga dia tak mampu melawannya, di mana akhirnya dia sendiri menjadi objek permainan setan manusia dan setan jin dengan berbagai macam tipuan sampai akhirnya terjerembab dalam kehancuran.[21] Imam al-Iraqi menjelaskan cara meredam rasa waswas dengan berkata: “Selain melawan waswas tersebut, dianjurkan juga memutus rantainya dengan mengucapkan iman dengan tegas bahwa saya beriman kepada Allah Swt dan kepada para rasul-Nya.”[22] Kedua, al-Tathmin (Menenangkan Diri). Maksudnya orang yang diterpa waswas meyakini bahwa waswas yang menerpa dirinya bukan penanda dia tiada atau lemah iman, tidak pula kelemahan beragama. Sebab, waswas yang sama juga menimpa para sahabat Rasulullah Saw padahal mereka adalah generasi terbaik. Bahkan rasa waswas yang tidak disenangi tersebut malah disebut penanda iman sebagaimana disebutkan dalam hadits: “Sungguh itu penanda iman yang benar.” Ketiga: al-Tahshin (Membentengi Diri) dengan Dzikir dan Ta’awwudz. Maksudnya memohon perlindungan Allah Swt dari segala muslihat setan yang dilaknat. Sebab, waswas umumnya bersumber dari setan. Dialah yang membisikkan godaan buruk dalam jiwa manusia. Firman Allah Swt: قُلۡ اَعُوۡذُ بِرَبِّ النَّاسِۙ مَلِكِ النَّاسِۙ اِلٰهِ النَّاسِۙ مِنۡ شَرِّ الۡوَسۡوَاسِۙ الۡخَـنَّاسِ ۙ الَّذِىۡ يُوَسۡوِسُ فِىۡ صُدُوۡرِ النَّاسِۙ ٥مِنَ الۡجِنَّةِ وَالنَّاسِ Terjemahannya: “Katakanlah, “Aku berlindung kepada Tuhannya manusia, Raja manusia, sembahan manusia, dari kejahatan (bisikan) setan yang bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia.”” (Qs: al-Nas: 1-6). Imam Ibnu al-Arabi berkata: “Jika setan merasukkan syubhatnya padamu maka obatnya adalah dalil… dan jika dia hembuskan waswas kepadamu maka penawarnya adalah isti’adzah.”[23] Imam al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., ia berkata: Rasulullah Saw bersabda: “seseorang dari kalian akan didatangi oleh setan dengan membisikkan: siapa yang ciptakan ini? Siapa yang ciptakan ini? Hingga dia bisikkan; siapa yang ciptakan Rabbmu? Jika sudah begitu maka segeralah memiinta perlindungan dari Allah Swt dan segera sadar.”[24] Dari Ibnu Mas’ud berkata: Rasulullah Saw bersbada: “Setan itu mampu memengaruhi jiwa manusia sebagaimana malaikat mampu memengaruhi jiwa manusia. Pengaruh setan adalah perintahnya pada perbuatan buruk dan mendustakan kebenaran, sedang pengaruh malaikat adalah perintahnya untuk melakukan kebaikan dan meyakini kebenaran. Siapa yang menemukan hal itu maka hendaklah dia yakini bahwa sumbernya dari Allah Swt dan hendaknya memuji Allah Swt. Dan siapa yang menemukan selainnya maka hendaklah dia berlindung kepada Allah Swt dari godaan setan yang dirajam.” Lalu beliau membaca ayat: اَلشَّيۡطٰنُ يَعِدُكُمُ الۡـفَقۡرَ وَيَاۡمُرُكُمۡ بِالۡفَحۡشَآءِ ۚ Terjemahannya: “Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kemiskinan kepadamu dan menyuruh kamu berbuat keji (kikir),” (Qs: al-Baqarah: 268).”[25] Al-Munawi berkata: “bahwa setan punya pengaruh artinya dekat dan tepat diambil dari kata al-ilmam yang artinya dekat, dan malaikat juga punya pengaruh, maksudnya bahwa apa yang merasuk dalam hati bisa bersumber dari setan atau malaikat.”[26] Jadi, dzikir kepada Allah Swt akan mengusir setan dan meredam bisikan waswasnya. “Tiada yang dapat meredam waswas setan dari hati kecuali dengan menyebutkan lawan dari yang diwaswaskan itu. Sebab, ketika muncul sesuatu dalam hati maka akan menghilang apa yang ada sebelumnya. Dan semua yang selain Allah Swt atau yang terkait dengan Allah Swt maka pasti bisa diisi oleh setan. Jadi, hanya dzikir kepada Allah Swt yang dapat memberi rasa aman dan tidak mungkin diganti oleh setan serta penawar sesuatu adalah lawannya sendiri. Lantas lawan dari semua waswas setan adalah dzikir kepada Allah Swt dan isti’adzah dan mengakui ketidakberdayaan di hadapan-Nya. Itulah hakikat makna ungkapan a’udzu billahi mina al-Syaithani al-rajim wa la haul awa la quwwata illa billah al-aliyyi al-azhim (saya berlindung kepada Allah Swt dari godaan setan yang terkutuk, tiada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah Swt yang maha tinggi dan maha agung)” [27] Keempat, al-Tasyaghul (Mengabaikan) Maksudnya menepis rasa waswas dan menyibukkan diri dengan penawar mujarabnya. Rasulullah Saw telah menganjurkan dalam hadits yang disebutkan sebelumnya bahwa: …hendaklah beristi’adzha kepada Allah Swt dan segera sadar”. Artinya; sibukkan diri dan abaikan waswas yang muncul. Diantara yang sanagt membantu adalah dengan menyibukkan diri melakukan amalan yang melibatkan fisik dan fikiran agar otak diabaikan dari waswas itu. Namun demikian, perlu diingat bahwa terapi dengan mengabaikan ini tidak cocok digunakan melawan syubhat yang sudah tertanam dalam hati seseorang dan menyerangnya dari luar hingga mengganggu fikriannya. Syubhat hanya bisa diredam dengan dalil dan bukti. Berbeda dengan waswas yang bisa ditepis dengan isti’adzah dan mengabaikannya. Imam al-Mazri menjelaskan hadits di atas dengan berkata: “tampaknya, bahwa beliau menganjurkan mereka untuk menepis lintasan fikiran dengan cara mengabaikannya dan melawannya tanpa menggunakan dalil dan teori yang mematahkannya. Penting untuk diketahui bahwa lintasan fikiran itu terbagi dua: Lintasa fikiran yang beluim mengakar dan bukan karena pengaruh syubhat maka dia bisa ditepis dengan sekedar mengabaikannya. Cara inilah yang difahami dari hadits di atas dan yang serupa dengannya disebut waswas. Maksudnya sesuatu yang muncul tanpa landasan yang kuat maka dia bisa ditepis dengan tanpa dalil dan dasar pembuktian. Sementara lintasan fikiran yang telah tertanam kuat dan disebabkan oleh syubhat maka cara menepisnya hanya bisa dengan dalil dan bukti untuk mematahkannya. Makna inilah yang difahami dari hadits: “Tiada yang menular” menjawab pernyataan al-A’rabi bahwa: kenapa unta yang sehat bisa sakit setelah berbaur dengan unta yang sakit? Rasulullah Saw tahu bahwa dia tertipu dengan realitas yang ada dan dirasuki oleh syubhat sehingga Rasulullah Saw meredam syubhatnya dalam hadits yang sama melalui sabdanya: “lantas siapa yang menulari yang pertama?!”[28] Ulasan Kelima: Pemantik Syubhat. Kecenderungan dipengaruhi oleh syubhat disebabkan oleh beberapa faktor yang kadang tidak terdeteksi hatta oleh korban syubhat sendiri. Orang yang hanya berlindung di balik syubhat selalu menyembunyikan misi utamanya. Langkah pertama untuk menerapi syubhat adalah mendeteksi pemantik dan misi di baliknya lalau menerapinya. Bahkan korban syubhat hanya membutuhkan terapi ini dan bukan yang lain. Diantara pemantik utama syubhat adalah: Pertama: Pesona Buta Tidak dipungkiri bahwa standar kehidupan dunia di masa sekarang dan dianggap maju selalu merujuk pada kehidupan barat. Kebudayaan barat yang sudah menyebar dan mendominasi kehidupan dunia, tidak hanya terhadap dunia Islam dan Arab, namun lebih dari itu. Fakta paling jelas adalah generasi muda dunia Arab, India, China dan sebagainya berpenampilan ke barat-baratan. Sedang kita tidak temukan generasi muda negara barat yang berpenampilan Arab, india atau china. Dominasi kebudayaan barat itu dipengaruhi oleh banyak faktor, diantaranya hasil imperialisme dan penjajahan barat yang menimpa dunia beberapa abad silam, dominasi media massa beserta ragam jenisnya yang dahsyat, kekaguman terhadap kemajuan teknologi dan ekonomi negara-negara barat dan sebagainya. Persoalan-persoalan syariat yang dihembuskan dan menjadi pusaran syubhat selama ini selalu dipertentangkan dengan kebudayaan barat, tidak ada satu syubhatpun yang didendangkan yang tidak bertentangan dengan kebudayaan barat. Artinya, tampak kebutaan massal yang menutupi kebenaran yakni pesona buta terhadap kebudayaan barat. Dr. Wail Hallaq[29] berkata: “gagasan kemajuan dengan segala manifestasinya berupaya merekonstruksi sejarah melalui pendekatan Eropa centris setelah struktur hegemoni intelektual barat – istilah Scheler – mampu tampil mendominasi.[30] Persoalan besar dari pesona buta ini adalah karena memanipulasi kebenaran dan fakta serta keburukan kebudayaan yang mendominasi ditampakkan berwajah kebenaran. Sebuah lelucon menggelitik yang saya temukan adalah pernyataan Huda Sya’rawi[31] kala menceritakan peristiwa yang dia lalui di Paris bahwa: “Saya kagum terhadap segala hal yang ada di Paris hatta kekejian moral masyarakat di sana. Sebab mereka apa adanya dan tampil tanpa kepura-puraan dan manipulasi. Masyarakat Perancis terbilang unik dan jenius. Mereka independen dalam pemikiran, karakter, pekerjaan, sifat termasuk cela dan kekurangan mereka. Olehnya, mereka terlihat menjaga kepribadian mereka, bangga dan bahagia dengan kebebasan mereka, mereka membela kebebasan itu. Namun demikian, saya merasa sedih melihat dampak ekstrimisme yang dipantik oleh kebebasan di awal kunjungan saya ke sana. Di mana awalnya saya menduga bahwa anak kecil dan dewasa di semua level masyarakat akan ramah dan baik interaksinya. Saya masih ingat, ketika pertama kali saya hendak mengunjungi satu mall besar di Paris saat sedang promosi diskon, saya dapati antrian panjang di depan pintu mall. Lalu saya berhenti di depan pintu dengan maksud memudahkan orang lain berlalu seperti kebiasaan kita di negeri timur, dengan harapan ada orang lain yang memberikan kemudahan yang sama padaku. Akan tetapi, saya perhatikan tiada seorang pun yang peduli padaku, bahkan mereka membiarkan saya terhimpit di tengah manusia berdesakan. Sekelompok orang mendorongku dan yang lain menyikutku bahkan menginjakku. Air mataku hampir jatuh bercucuran di pipiku melihat kerakusan mengerikan ini. Kemudian saya terlempar ke sebuah meja dikelilingi pria dan wanita yang menonton peristiwa itu, lalu saya memegang sebuah kain yang saya suka, namun tetiba seorang wanita menariknya dengan kasar hingga air mataku tumpah kembali. Hanya saja, kesedihanku saya pendam agar tidak ditertawakan dan diejek oleh mereka. Akhirnya saya tinggalkan tempat itu sembari bertumpu pada lenganku agar selamat keluar dari himpitan orang-orang yang banyak itu. Peristiwa seperti ini tidak menarik bagiku, namun saya sadar setelah tahu bahwa kompetisi dalam kehidupan merupakan faktor kebangkitan dan kemajuan masyarakat barat sekalipun nuansa egoistik sangat dominan. Sementara sikap lembut dan kendali perasaan merupakan sebab keterbelakangan dan kemunduran masyarakat negeri timur sekalipun mengandung kemuliaan dan toleransi.”[32] Coba perhatikan, pernyataannya ini sudah cukup membuktikan bahwa kekaguman terhadap sesuatu dapat memanipulasi kebenaran dan fakta, memoles keburukan menjadi tampak baik dan mengecam kebaikan sebagai keburukan. Mengagumi kelompok yang kuat adalah lumrah dan biasa terjadi dalam kehidupan manusia di sepanjang sejarah dan masa. Termasuk orang barat juga pernah terjebak pada masa tertentu. Terutama ketika negeri Andalusia menjadi pusat Kerajaan Islam yang berkembang pesat. Generasi muda Eropa terhipnotis dan tampil berpenampilan Arab dan kaum muslimin. Pada tahun 854 M, Uskuf Alvar mengeluhkan ketertarikan pemuda kaum Nashrani pada syair-syair Arab, dan mendorong mereka belajar bahasa latin untuk merawat bahasa Arab.”[33] Dr. Mahmud Sa’id Imran mengisahkan uskuf kota Akka tahun 1216 M dan keluhannya berinteraksi dengan orang-orang yang terpengaruh oleh Arab dan kaum muslimin berkata: “Orang-orang orientalis Inggris merasa resah dengan yang disebut Poulains dan orang-orang yang terpengaruh oleh kultur masyarakat timur terutama dalam cara berpakaian dan penggunaan bahasa Arab dalam kehidupan keseharian mereka. Ditambah dengan degradasi semangat bersalibis dan kebiasan hidup malas, bermewah dan kerusakan moral. Karenanya, Jack De Fatri menyebut mereka kelompok pengkhianat, penipu dan hipokrit.”[34] Persoalan ini dapat dimaklumi dalam batas-batas tertentu. Hanya saja, sepatutnya setiap orang punya kesadaran cukup untuk menahannya mengaitkan antara kebenaran agama dan keyakinannya dengan kemajuan industri, atau kebudayaan masyarakat tertentu. Ulasan Keenam: Golongan Ahli Syubhat Memahami manhaj, pemikiran dan akidah yang benar termasuk persoalan paling urgen bagi setiap da’i. Pasalnya, metode dakwah akan berbeda mengikuti siap objek dakwah. Makanya, seorang da’i mesti tahu keyakinan objek dakwahnya dan cara berfikirnya sehingga dia memilih cara tepat dalam berdakwah. Dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan al-Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Abbas, ia berkata: Rasulullah Saw berpesan kepada Mu’adz bin Jabal ketika beliau diutus ke Yaman: “Engkau akan datangi suatu kaum yang berasal dari ahli kitab, jika engkau temui mereka, maka yang pertama engkau lakukan adalah ajak mereka mengucapkan syahadat, bahwa tiada ilah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah…”[35] Rasulullah Saw menginformasikan akidah kaum yang akan didatangi agar dia siapkan metode dakwah yang sesuai. Para penebar syubhat yang menjadi korban syubhat dan menebarkan syubhat itu berbeda-beda, bahkan metode dan motivasi mereka juga berbeda-beda, di mana secara umum mereka dapat dikelompokkan ke dalam dua metode: Pertama: Menolak Sumber Rujukan Syariat Islam Kelompok ini secara tegas dan terang-terangan menolak syariat Islam sebagai rujukan dalam persoalan akidah dan hukum. Mereka tidak mengakui Allah Swt sebagai rabb dan menolak Muhammad bin Abdillah sebagai rasul, serta menolak Islam sebagai agama. Secara umum, mereka itu bukan muslim, baik mereka orang Yahudi, Nashrani, atheism dari kalangan kaum menyimpang yang menolak syariat Islam sebagai rujukan utama. Mereka terang-terangan menentang Islam dengan cara mengaburkan, memanipulasi dan menebarkan syubhat serta menjelek-jelekkan sebagian hukum syariat. Seorang muslim diharuskan memiliki imunitas syariat yang tinggi untuk menghadapi kelompok ini, melawan pemikiran mereka yang sesat karena mereka pada dasarnya sudah kafir. Mereka tiada beragama dan bukan penganut ajaran agama. Perlu saya tegaskan bahwa kekeliruan yang terjadi pada umumnya kaum muslimin adalah ikut terlibat berdialog dengan mereka tentang persoalan turunan syariat Islam lalu mengabaikan persoalan pokok dan prinsip. Ini sebuah kesalahan besar dilihat dari dua sisi; Rasulullah Saw memberikan teladan bahwa materi dakwah yang pertama adalah akidah. Dimulai dengan menanamkan akar tauhid dan mengokohkannya sebelum menyentuh persoalan turunan syariat. Hal ini didasarkan pada potongan akhir dari hadits sebelumnya yang memuat pesan Rasulullah Saw kepada Mu’adz kala mengutusnya ke Yaman bahwa: “Engkau akan datangi satu kaum dari kalangan ahli kitab, maka jika engkau temuai mereka, hendaknya engkau ajak mereka bersyahadat bahwa tiada ilah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Jika mereka menerimanya maka sampaikan kalau Allah Swt mewajibkan mereka shalat lima kali sehari semalam. Jika mereka sudah taat maka sampaikan kalau Allah mewajibkan zakat yang diambil dari orang kaya untuk dibagikan kepada orang miskin di kalangan mereka. Jika mereka taati dakwahmu maka hindari harta berharga mereka, waspadai do’anya orang terzhalimi, sebab tiada penghalang antaranya dengan Allah Swt.”[36] Rasulullah Saw berpesan agar dakwahnya dimulai dari akidah sebelum ajakan shalat dan zakat. Berdialog tentang persoalan turunan syariat dengan orang yang menolak syariat sebagai rujukan hanya sia-sia karena tidak didasarkan pada prinsip dan landasan yang sama. Tidak ada titik kesamaan antara dua pihak, tidak pula berangkat dari landasan yang disepakati. Dialog seperti ini hanya menambah ruwet persoalan turunan syariat, memantik rasa ragu dalam hati pengikutnya. Makanya, tidak layak mendebat mereka tentang persoalan turunan syariat. Namun semestinya mereka diajak dialogkan persoalan prinsip terlebih dahulu. Berdebat dengan kaum atheis tenatng persoalan turunan syariat sebelum akidah seperti mendebat seorang perwira tentang kegunaan tombol-tombol mesin sedang dia sendiri tidak tahu cara kerja perangkat itu, tidak tahu kenapa dibuat dan bahkan tidak tahu perangkat itu sama sekali. Debat semacam ini pasti gagal total bahkan sebelum dimulai. Kedua: Orang Yang Mengklaim Menerima Syariat Islam Sebagai Rujukan. Manhaj yang dianggap lebih berbahaya dari sisi landasan teoritis yang menjadi dasar syubhat adalah yang mengakui syariat Islam sebagai rujukan. Penganut manhaj ini dikelompokkan menjadi dua: Kaum Penipu. Yaitu mereka yang sebenarnya menerima dan mengakui syariat Islam sebagai rujukan secara terang-terangan, namun mereka menolaknya secara diam-diam. Mereka menentangnya dan menentang hukum-hukumnya. Orang muslim lainnya mengira mereka itu adalah orang-orang muslim juga. Mereka masih takut untuk menegaskan kekufuran mereka dan terang-terangan menolak syariat Islam sebagai rujukan. Bahkan sebagian mereka berpenampilan agamawan dan seorang alim serta mengklaim pakar ilmu-ilmu syariat. Di sinilah letak bahaya itu. Dimana seorang muslim melihat mereka sebagai kaum msulimin bahkan dipandang sebagai ulama, peneliti dan pemikir Islam. Sehingga benteng pemikiran lebih terbuka. Penganut manhaj ini mulai melakukan pengosongan budaya,[37] di mana mereka hanya merawat simbol-simbol keislaman dan tampilan luar, lalau mereka menyerang dari dalam dengan cara menebar keraguan terhadap prinsip dan persoalan turunan Islam. Kemudian menebar pemikiran sampah yang dihembuskan kaum kuffar, kaum zindiq dan penentang hukum syariat. Bersamaan dengan itu, faktor-faktor lain bekerja seperti meningkatnya keterpesonaan, menguatnya tautan hati dengan orang-orang kafir dan faktor psikologis lainnya yang menjadikan mereka enggan komitmen menjalankan syariat Islam. Mereka tolak diatur syariat, sehingga muncullah pertentangan antara keinginan nafsu dengan kehendak syariat Islam. Mereka akhirnya diterpa kegundahan, namun mereka tetap takut menolak syariat secara terang-terangan dan dalam waktu bersamaan mereka juga enggan menjalankannya dengan benar. Orang yang Tulus Menela’ah Mencari Kebenaran. Mereka ini sekelompok kaum muslimin yang tidak benci agamanya, tidak pula terhadap syariat. Hanya saja, mereka diterpa syubhat yang membuat mereka ragu dan sulit terbebas darinya. Mereka tulus mencari jawaban tepat dan penawar mujarrab. Mereka ini diharapkan akan menemukan kebenaran, dan keyakinan tepat selama menempuh metode yang tepat pula. Mereka ini mesti dituntun keluar dari kungkungan syubhat dan menggantinya dengan keyakinan yang benar. Mereka dibimbing agar terbebas dari terpaan rasa ragu menuju ketenangan paripurna. Saya berharap buku ini mengambil peran itu, membuka jalan luas bagi mereka agar kita semua selamat dari jebakan keburukan dan kehancuran dengan izin Allah Swt. [1] Lihat: Lisan al-Arab karya Ibnu Manzhur, 8/17 [2] Miftah Dar al-Sa’adah karya Ibnu al-Qayyim, 1/394-395 [3] Tafsir al-Qurthubi, 2/19 [4] Dar’u Ta’arudh al-Aql wa al-Naql karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, 10/129 [5] Kitab al-Nihayah fi Gharibi al-Hadits wa al-Atsar, karya Ibnu al-Atsir, 5/186, dan Lisan al-Arab karya Ibnu Manzhur, 6/255. [6] Diriwayatkan oleh al-Bukhari (4968) dan Muslim (127) dari hadits Abu Hurairah r.a. [7] Diriwayatkan oleh Muslim (132) [8] Diriwayatkan oleh Ahmad dalam kitab al-Musnad (24752) [9] Diriwayatkan oleh Muslim (133). [10] Al-Thaibi berkata dalam kitab Syarhu al-Misykah, 2/525 bahwa: al-himam adalah bara dan debu serta semua sisa pembakaran, bentuk tunggalnya adalah humamah. [11] Shahih Ibnu Hibban (tartib Ibnu Balban), 1/359 [12] Musnad Ahmad (9156) [13] Syarhu al-Sunnah karya al-Baghawi, 1/109 [14] Al-Iman al-Kabir karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, h. 539-540 [15] Ma’alim al-Sunan, 4/147, pernyataan serupa disebutkan oleh al-Maziri dalam kitab al-Mu’allam bi Fawaid Muslim, 1/313 [16] Diriwayatkan oleh imam Ahmad dalam kitab al-Musnad (2097), Abu Dawud (5112). Pentahqiq al-Musnad berkata, 4/10 bahwa; sanadnya shahih memenuhi syarat dua syekh (al-Bukhari dan Muslim). [17] Al-Tahbir li Idhahi Ma’ayiri al-Taisir karya al-Shan’ani, 1/198. [18] Tafsir Ibnu katsir, 1/737 [19] Ulasan ini dan yang sebelumnya telah saya tulis dalam catatan tersendiri berjudul al-Ilaj al-Syar’I li al-Waswas (terapi syar’i terkait waswas). [20] Diriwayatkan oleh Muslim (134) [21] Dar’u Ta’arudhi al-Aql wa al-Naql, 3/317-318 [22] Tharhu al-Tatsrib fi Syarhi al-Taqrib, 8/164 [23] Al-Qabas fi Syarhi al-Muwaththa’, 3/1179 [24] Diriwayatkan oleh al-Bukhari (3276) dan Muslim (221). [25] Diriwayatkan oleh al-Tirmidzi (2988), al-Thabari dalam tafsirnya, 5/6 dan sanadnya dihasankan oleh Ahmad Syakir dalam Tahqiqnya untuk kitab Tafsir al-Thabari, dan dishahihkan pula oleh al-Albani dalam kitab Shahih mawarid al-Zham’an (38). [26] Faidhu al-Qadir, 2/499 [27] Ihya’ Ulumi al-Din karya al-Ghazali, 5/102. [28] Al-Mu’allam bi Fawaid Musallam karya al-Maziri, 1/81 [29] Dr. Wail al-Hallaq (lahir tahun 1955 M) seorang peneliti berdarah Palestina berkewarganegaraan Kanada, beragama Nashrani, pakar di bidang hukum dan sejarah pemikiran Islam. Bekerja sebagai dosen ilmu-ilmu sosial di universitas Kolombia – jurusan studi timur tengah. Usai menyelesaikan tingkatan doktoral di universitas Washington dia bergabung dengan institute Islamic studies univesitas Meghil dan menjadi asisten professor bidang undang-undang Islam tahun 1985 M. Diantara tulisannya yang terkenal : al-daulah al-Mustahilah; al-Islam wa al-Siyasah wa Ma’zaqu al-Hadatsah al-Akhlaqi, kitab Muqaddimah al-Qanuni al-Islami, kitab al-Syari’ah; al-Nazhariyah, al-Tathbiq wa al-Tahawwulat. [30] Al-Daulah al-Mustahilah, Wail Hallaq, h. 54 [31] Huda Sya’rawi (1879 – 1947 M) Bernama Nurul Huda binti Muhammad Sulthan Basya yang kemudian dikenal dengan nama Huda Sya’rawi. Ia mengikuti gaya nama masyarakat barat yang disandingkan dengan nama suaminya yakni; Ali Basya Sya’rawi. – ayahnya bernama Muhammad Sulthan Basya yang membantu pasukan Inggris, negeri penjajah saat menyerang ibu kota. Dia mengajak penduduk untuk menyambut kehadiran pasukan Inggris dan melarang melawan mereka, bahkan dia terang-terangan mengungkapkan siap memberikan semua fasilitas yang dibutuhkan penjajah. Dia berikan hadiah kepada panglima pasukan penjajah sebagaimana ditulis oleh surat kabar al-Waqai’ al-Mishriyah sebagai tanda terima kasihnya yang menyelamatkan negerinya dari serangan pasukan pemberontak. Dia diberikan tanda kehormatan oleh Kerajaan Inggris Victoria dengan gelar Sir berkat bantuan dan kerjasamanya dengan Inggris. Huda Sya’rawi sangat terpesona dengan barat yang tampak jelas dalam kitab Mudzakkiratnya. Dia termasuk orang pertama yang mendakwahkan lepas jilbab dan pakaian Islami di Mesir. Widad al-Sakkakini dalam biografi yang ditulisnya berkata: ketika Huda Sya’rawi pulang pertama kali dari barat, dia mulai mengkritisi warisan budaya yang melarang Wanita keluar tanpa hijab, dia mulai menentang dimulai dari al-Iskandariyah hingga dia bersama teman-teman (Siza Nabrawi) masuk kota Mesir dengan melepas niqab (cadar) di mana keduanya menerima kecaman dan intimidasi dari orang-orang yang istiqamah beragama. Lihat kitab: Nisa’ Syahirat min al-Syarq wa al-Gharb, karya Widad al-Sakkakini. [32] Mudzakkirah Huda Sya’rawi, h. 109, wa Alamat al-Ta’ajjub Minni. [33] Ta’tsir al-Islam fi Arubba al-Ushur al-Wustha, karya William Montgohmeri Watt, h. 57 [34] Tarikhu al-Hurub al-Shalibiyah, karya Dr. Mahmud Said Imran, h. 237 [35] Muttafaqun Alaihi, diriwayatkan al-Bukhari (1425) dan Muslim (19). [36] Muttafaqun Alaihi, al-Bukhari (1425) dan Muslim (19) [37] Saya menukil istilah ini dari pernyataan syekh Mahmud Muhammad Syakir dalam kitabnya Risalah fi al-Thariq ila Tsaqafatina dan saya sering menggunakannya. Terjemahan Kitab Akidahislamsyubhattauhid