Skip to content
AKIDAH.NET
AKIDAH.NET
AKIDAH.NET
AKIDAH.NET

INFORMASI ALAM GHAIB

Supriyadi Yusuf Boni, 19 Januari 2026

Sumber: Kāmil al-Shuraḥ li-Ta‘zīz al-Yaqīn wa Tathbīt al-Thawābit

(Gambaran Utuh dan Menyeluruh: Mengokohkan Keyakinan & Meneguhkan Prinsip)

Penulis:  Dr. Aḥmad bin Yūsuf al-Sayyid

Penerjemah: Supriyadi Yousef Boni

Editor: Idrus Abidin

Diketahui bahwa betapapun seseorang percaya intuisinya tetapi dia tidak mampu melihatnya pada kemampuan orang lain yang sering berubah dan berganti. Dia mesti – terutama saat diinformasikan mengenai kejadian masa mendatang tanpa didasari oleh perhitungan dan prediksi ilmiyah – menyiapkan diri untuk me-review andai informasi yang dia terima tidak terjadi. Jika seseorang datang membicarakan persoalan-persoalan ghaib yang banyak, beragam temanya, berbeda masa kejadiannya, bermacam-macam faktornya, di mana diantaranya ada yang dipengaruhi oleh perubahan alami, peristiwa politik, peristiwa sosial, nasib sosok-sosok tertentu sepuluh tahun ke depan; dengan penuh keyakinan dan penegasan lantas semua yang diinformasikan itu terjadi, persis seperti yang digambarkan, maka semestinya itu di luar kuasa dan kemampuan manusia.

Jika hal itu diyakini, maka coba amati beberapa informasi “ghaib” dalam al-Qur’an:

Pertama: Allah Swt berfirman:

الٓمّٓ ۚ‏. غُلِبَتِ الرُّوۡمُۙ‏.  فِىۡۤ اَدۡنَى الۡاَرۡضِ وَهُمۡ مِّنۡۢ بَعۡدِ غَلَبِهِمۡ سَيَغۡلِبُوۡنَۙ‏.فِىۡ بِضۡعِ سِنِيۡنَ  لِلّٰهِ الۡاَمۡرُ مِنۡ قَبۡلُ وَمِنۡۢ بَعۡدُ ؕ وَيَوۡمَٮِٕذٍ يَّفۡرَحُ الۡمُؤۡمِنُوۡنَ ۙ ‏.بِنَصۡرِ اللّٰهِ​ يَنۡصُرُ مَنۡ يَّشَآءُ ؕ وَهُوَ الۡعَزِيۡزُ الرَّحِيۡمُۙ‏ 

Terjemahannya: “Alif Lām Mīm. Bangsa Romawi telah dikalahkan, di negeri yang terdekat1 dan mereka setelah kekalahannya itu akan menang, dalam beberapa tahun (lagi).1 Bagi Allah lah urusan sebelum dan setelah (mereka menang). Dan pada hari (kemenangan bangsa Romawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman, karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang Dia kehendaki. Dia Mahaperkasa, Maha Penyayang.” (Qs; al-Rum: 1-5). Ayat-ayat ini menginformasikan kejadian masa mendatang bahwa:

  1. Terjadinya perang antara Persia dan Romawi.
  2. Romawi mengalahkan Persia
  3. Waktu antara terjadinya perang dengan kemenangan Romawi adalah sekitar tiga sampai tujuh tahun
  4. Sebagian ulama menyatakan informasi keempat yaitu kemenangan kaum muslimin bersamaan dengan Romawi menguasai pemerintahan Persia berdasarkan firman Allah Swt:

وَيَوۡمَٮِٕذٍ يَّفۡرَحُ الۡمُؤۡمِنُوۡنَ ۙ‏.بِنَصۡرِ اللّٰهِ​

Terjemahannya: “Dan pada hari (kemenangan bangsa Romawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman, karena pertolongan Allah.” (Qs: al-Rum: 4-5). Tidak diragukan bahwa ayat ini memuat informasi tentang kebahagian kaum mukminin atas kemenangan dalam perang. Hanya saja, perdebatannya pada kemenangan siapa yang dimaksud, apakah kemenangan kaum muslimin atau kemenangan bangsa Romawi.

Coba renungkan, betapa besar potensi dakwah Rasulullah Saw akan didustakan – andai beliau tidak didorong oleh keyakinan kuat – dengan sikap penuh percaya dan yakin terhadap hasil perang yang belum terjadi antara dua imperium besar masa itu. Belum lagi rentang waktu yang diprediksikan perang besar itu terjadi.

Bagaimana kira-kira andai perang tersebut tidak terjadi?

Bagaimana seandianya pasukan Persia yang justru memenangkan perang tersebut?

Termasuk, bagaimana seandainya Romawi memenangkan perang namun di luar, baik sebelum atau setelah batas rentang waktu yang beliau informasikan?

Tidakkah infromasi tersebut menjadi dalil dan bukti kuat bagi orang-orang kafir mendustakan dan berpaling dari dakwah Rasulullah Saw?

Sudah pasti demikian yang akan terjadi.

Faktanya, tidak berlalu tahun-tahun yang disebutkan dalam ayat lantas perang antara Persia dan Romawi benar-benar terjadi, dan hasilnmya juga dimenangkan oleh pasukan Romawi seperti disebutkan al-Qur’an. Bahkan, sebagian ulama dan sejarawan menyatakan kemenangan Romawi bersamaan dengan kemenangan kaum muslimin dalam perang Badar. Sungguh sebuah bukti dan fakta yang menunjukkan kebenaran al-Qur’an bahwa dia adalah wahyu dari Allah Swt, Zat maha mengetahui yang ghaib.

Kedua: Allah Swt berfirman tentang orang-orang quraisy bahwa:

سَيُهۡزَمُ الۡجَمۡعُ وَيُوَلُّوۡنَ الدُّبُرَ‏

Terjemahannya: “Golongan itu pasti akan dikalahkan dan mereka akan mundur ke belakang.” (Qs; al-Qamar: 45). Ayat Makkiyah yang turun sebelum terjadinya perang apapun antara mereka dengan kaum muslimin. Ayat ini memuat informasi kejadian di masa mendatang yang mustahil dipastikan kecuali oleh Zat Yang Mahamengetahui persoalan ghaib. Sebab, ayat ini turun di masa-masa sulit sedang menerpa kaum muslimin di Makkah, bahkan mereka disebut dengan istilah al-mustadh’afin (orang-orang lemah), di mana mereka dimusuhi dan dikucilkan. Lantas pasukan besar yang mana yang akan menderita kekalahan itu? Apakah pasukan besar – yakni Quraisy – itu yang akan lari tunggang langgang menghindari kaum muslimin yang lemah? Bagaimana itu akan terjadi. Andaipun informasi ini hanya dimaksudkan menanamkan optimisme dan impian besar, maka kenapa tidak menggunakan redaksi yang mensinyalir kemungkinan terjadi atau tidak, namun tetap menggunakan redaksi penegasan dan penuh kepastian.

Faktanya, tidak berselang lama setelah Islam eksis di Madinah, pasukan besar kaum musyrikin datang menjemput kematian mereka di wilayah Badar, mereka dikalahkan hingga sebagian mereka lari dipukul mundur. Sungguh benar janji Allah Swt akan memenangkan pasukan-Nya.

Ketiga: Allah Swt berfirman:

لَـقَدۡ صَدَقَ اللّٰهُ رَسُوۡلَهُ الرُّءۡيَا بِالۡحَـقِّ​ ۚ لَـتَدۡخُلُنَّ الۡمَسۡجِدَ الۡحَـرَامَ اِنۡ شَآءَ اللّٰهُ اٰمِنِيۡنَۙ مُحَلِّقِيۡنَ رُءُوۡسَكُمۡ وَمُقَصِّرِيۡنَۙ لَا تَخَافُوۡنَ​ فَعَلِمَ مَا لَمۡ تَعۡلَمُوۡا فَجَعَلَ مِنۡ دُوۡنِ ذٰلِكَ فَتۡحًا قَرِيۡبًا‏

Terjemahannya: “Sungguh, Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya tentang kebenaran mimpinya bahwa kamu pasti akan memasuki Masjidilharam, jika Allah menghendaki dalam keadaan aman, dengan menggundul rambut kepala dan memendekkannya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang tidak kamu ketahui, dan selain itu Dia telah memberikan kemenangan yang dekat” (Qs: al-Fath: 27).

Ayat ini turun di masa perdamaian Hudaibiyah, tahun ke-6 Hijriyah, dan memuat dua janji di masa mendatang;

  1. Kaum muslimin akan memasuki kota Makkah dengan aman untuk menunaikan ibadah Umrah.
  2. Seblum mereka memasukinya akan didahului dengan peristiwa kecil penaklukan kota Makkah.

lantas dua peristiwa yang dijanjikan Allah Swt dalam ayat ini benar-benar terjadi seperti yang dijanjikan.

Faktanya; Pada tahun ke-7 Hijriyah, kota Khaibar ditaklukkan yang memberikan ruang kebaikan besar bagi kaum muslimin, kemudian di tahun yang sama, Rasulullah Saw bersama para sahabat memasuki kota Makkah menunaikan ibadah Umrah, hingga bertahallul tanpa dihantui rasa takut sedikit pun. Itu menjadi dalil lain yang membuktikan bahwa al-Qur’an adalah wahyu dari Allah Swt.

Keempat; penegasan bahwa Rasulullah Saw pasti dimenangkan di dunia dan di akhirat. Firman Allah Swt:

مَنۡ كَانَ يَظُنُّ اَنۡ لَّنۡ يَّـنۡصُرَهُ اللّٰهُ فِى الدُّنۡيَا وَالۡاٰخِرَةِ فَلۡيَمۡدُدۡ بِسَبَبٍ اِلَى السَّمَآءِ ثُمَّ لۡيَـقۡطَعۡ فَلۡيَنۡظُرۡ هَلۡ يُذۡهِبَنَّ كَيۡدُهٗ مَا يَغِيۡظُ‏

Terjemahannya: “Barangsiapa menyangka bahwa Allah tidak akan menolongnya (Muhammad) di dunia dan di akhirat, maka hendaklah dia merentangkan tali ke langit-langit, lalu menggantung (diri), kemudian pikirkanlah apakah tipu dayanya itu dapat melenyapkan apa yang menyakitkan hatinya.” (Qs: al-Hajj: 15). Mari cermati tafsirnya yang indah.

Syekh al-Syinqithi berkata: “Kalimat “مَنۡ كَانَ” (Siapa saja) dari kalangan orang kafir tukang hasad terhadap Nabi Saw yang يَظُنُّ اَنۡ لَّنۡ يَّـنۡصُرَهُ اللّٰهُ (menyangka nabi tidak akan ditolong oleh Allah Swt), artinya: Allah Swt mustahil menolong Nabi-Nya Muhammad Saw, maka hendaklah فَلۡيَمۡدُدۡ بِسَبَبٍ اِلَى. (memanjang sebab) yangn membentangkan tali ke langit, maksudnya di atas rumahnya (atap rumahnya). Sebab orang Arab menyebut semua yang tinggi dengan istilah sama’, sebagaimana dalam pernyataan:

Dan disebut sama’ semua yang tinggi

            Namun keistimewaan hanya pada matahari dan bulan

Maksudnya: hendaklah ia letakkan ujung tali pada kayu atap rumahnya, ثُمَّ لۡيَـقۡطَعۡ (kemudian dia potong) artinya dia lilit dirinya dengan tali dan mengikat lehernya lalu bergantung menggunakan tali itu hingga mati. Gantung diri disebut al-qath’u (memutus) karena gantung diri akan memutus nafas akibat salurannya tertutup. Kemudian cermatilah setelah dia gantung diri هَلۡ يُذۡهِبَنَّ كَيۡدُهٗ  (apakah makarnya berhenti), artinya apakah tindakannya itu mengurangi kebenciannya terhadap pertolongan Allah Swt kepada nabi-Nya di dunia dan di akhirat. Maknanya: tindakannya gantung diri itu tidak mengurangi rasa benci dan murkanya terhadap pertolongan Allah Swt kepada Nabinya Saw.

Kesimpulannya bahwa: Allah Swt menegaskan kepada kaum pembenci Muhammad Saw yang selalu hendak menelikungnya, dan menyangka bahwa Allah Swt tidak akan menolongnya bahwa: amatilah kalian yang membawa kebencian itu, karena Allah Swt akan menolong nabi-Nya walau kalian benci dan murka. Diantara ulama yang menyatakan pendapat ini adalah Mujahid, Qatadah, Atha’, Abu al-Jaza’ dan selainnya sebagaimana dinukil oleh Ibnu Katsir, dan menurutku pendapat ini yang tampak lebih kuat. Diantara ayat yang selaras maknanya adalah firman Allah Swt;

وَاِذَا خَلَوۡا عَضُّوۡا عَلَيۡكُمُ الۡاَنَامِلَ مِنَ الۡغَيۡظِ​ قُلۡ مُوۡتُوۡا بِغَيۡظِكُمۡؕ​

Terjemahannya: “dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari karena marah dan benci kepadamu. Katakanlah, “Matilah kamu karena kemarahanmu itu!”” (Qs: Ali Imran: 119). Pernyataan syekh Muhammad bin al-Amin al-Syinqithi yang menarik ini dinukil dari kitabnya Adhwa’ al-Bayan.[1]

Informasi dan janji yang bersifat ghaib juga banyak disebutkan dalam sunnah, tidak cukup untuk dipaparkan di lembaran ini. Di dalamnya disebutkan secara detail tentang orang-orangnya, peristiwa yang mengagumkan seperti syahidnya Umar dan Utsman padahal keduanya khalifah yang sedang memimpin negeri yang besar. Juga informasi tentang terbunuhnya Ammar oleh kelompok pemberontak, juga tentang al-Hasan yang mendamaikan dua kelompok besar kaum muslimin, informasi tentang munculnya kaum al-Khawarij, juga tetang Fathimah yang menjadi orang pertama keluarga nabi yang meninggal setelahnya dan informasi-informasi lainnya.

Antara Pendukung dan Pendusta

Ibnu Abi al-Izz al-Hanafi menulis sebuah kalimat indah mengenai nubuwah. Sebelumnya, Ibnu Taimiyah sudah menyebutkan makna senada, sebuah kalimat yang mencerahkan akal, menyegarkan fikiran, saya sering mengulang-ulangnya kala menyebutkan bukti-bukti kenabian Muhammad Saw.

Beliau mengatakan: “Kenabian itu hanya bisa diklaim oleh orang terjujur atau pendusta ulung. Persoalan ini mustahil samar diketahui kecuali oleh orang terbodoh, lantas indikator-indikator keduanya yang mengungkapnya, terdapat banyak cara untuk membedakan antara yang jujur dengan pendusta sebelum mengklaim kenabian apalagi saat ia mengklaim kenabian itu.[2]

Kalau ditelusuri lebih jauh tentang bukti kebenaran Muhammad Saw maka akan ditemukan bukti yang sangat banyak hingga kita tidak bisa mengira penyebab Abdullah bin Salam kala melihat Nabi tetiba berkata: “Saya lihat wajah beliau bukan wajah pendusta.”[3]

Sebelum diangkat menjadi nabi membawa risalah Islam, Umar mengamatinya di Makkah dan tidak menemukan pada diri Muhammad kecuali fakta kejujuran dan sifat amanah yang kuat, hingga beliau dikenal dengan sebutan al-shadiqu al-amin (jujur dan amanah). Makanya, di awal beliau menyampaikan risalah, beliau menggiring mereka mengingat sifat jujur dan amanahnya yang mereka saksikan sendiri. Beliau berkata: “Kalau saya informasikan bahwa di balik lembah itu ada pasukan yang hendak menyerang kalian, apakah kalian membenarkan? Mereka jawab: kami belum pernah melihatmu dusta walau sekali. Beliau lanjutkan: “Saya ingatkan kalian untuk jaga diri kalian dari adzab yang pedih.”[4]

Ketika Abu Sufyan, tokoh Quraisy melawan Rasulullah Saw sampai di Syam sebelum beliau berIslam, beliau dipanggil raja Heraklius -penguasa Romawi- untuk menginformasikan tentang sosok Muhammad Saw melalui banyak pertanyaan yang dia ajukan demi mendapatkan keteranagn yang sebenarnya, di mana diantara pertanyaannya adalah: “Apakah kalian menudingnya berdusta?” dijawab oleh Abu Sufyan: Tidak sama sekali. Heraklius berkata: “Saya tanyakan apakah kalian tahu dia pernah berdusta sebelumnya lalu kalian jawab tidak, maka saya yakini mustahil dia tidak berdusta kepada manusia lantas dia berani berdusta atas nama Allah Swt.”[5]

Ketika terjadi grhana matahari bertepatan dengan hari meninggalnya putranya bernama Ibrahim, sebagian orang berkata: “Gerhana matahari terjadi karena meninggalnya Ibrahim” lantas bagaimana nabi Muhammad merespon perkataan itu?

Apakah beliau sokong pernyataan itu? Atau minimal beliau diam?

Beliau malah berdiri dan berkhutbah di tengah-tengah mereka meluruskan keyakian mereka yang keliru, membesarkan Allah Swt, Sang Pencipta dan penguasa seraya berkata: “Matahari dan bulan merupakan tanda-tanda keagungan Allah Swt., keduanya tidak gerhana karena matinya atau hidupnya seseorang.”[6]

Kemudian beliau arahkan mereka untuk mendirikan shalat dan banyak beristighfar serta bersedekah. Itu pertanda bahwa beliau adalah utusan Allah Swt. Andai pernyataan seperti di atas disampaikan untuk seorang penguasa maka dia respon dengan menampakkan keunggulan putranya yang lain.

Diantara bukti kejujuran Rasulullah Saw adalah bahwa beliau sampaikan al-Qur’an secara sempurna walaupun ada ayat yang mengecam sikap beliau. Seperti firman Allah Swt:

عَبَسَ وَتَوَلّٰٓىۙ‏. اَنۡ جَآءَهُ الۡاَعۡمٰىؕ‏. وَمَا يُدۡرِيۡكَ لَعَلَّهٗ يَزَّكّٰٓىۙ‏

Terjemahannya: “Dia (Muhammad) berwajah masam dan berpaling, karena seorang buta telah datang kepadanya (Abdullah bin Ummi Maktum). Dan tahukah engkau (Muhammad) barangkali dia ingin menyucikan dirinya (dari dosa),” (Qs: Abasa: 1-3), juga firman Allah Swt:

لِمَ اَذِنۡتَ لَهُمۡ

Terjemahannya: “Mengapa engkau memberi izin kepada mereka (untuk tidak pergi berperang),” (Qs: al-Taubha: 43), juga firman Allah Swt:

يٰۤاَيُّهَا النَّبِىُّ لِمَ تُحَرِّمُ مَاۤ اَحَلَّ اللّٰهُ لَـكَ​ تَبۡتَغِىۡ مَرۡضَاتَ اَزۡوَاجِكَ​

Terjemahannya: “Wahai Nabi! Mengapa engkau mengharamkan apa yang dihalalkan Allah bagimu? Engkau ingin menyenangkan hati istri-istrimu?” (Qs; al-Tahrim: 1), juga firman Allah Swt:

وَتُخۡفِىۡ فِىۡ نَفۡسِكَ مَا اللّٰهُ مُبۡدِيۡهِ وَتَخۡشَى النَّاسَ  وَاللّٰهُ اَحَقُّ اَنۡ تَخۡشٰٮهُ ؕ

Terjemahannya: “sedang engkau menyembunyikan di dalam hatimu apa yang akan ditampakkan oleh Allah, dan engkau takut kepada manusia, padahal Allah lebih berhak engkau takuti.” (Qs; al-Ahzab: 37).

Coba jujur menilai, andai Muhammad bukan utusan Allah maka apakah beliau akan menyampaikan ayat-ayat seperti ini? Apa yang memaksa beliau menyampaikan ayat-ayat seperti ini yang akan terus dibaca hingga hari kiamat kalau bukan karena beliau diperintah menyampaikannya?

Banyak ayat dalam al-Qur’an yang menegaskan bahwa Nabi Muhammad Saw adalah seorang hamba yang ditugaskan menyampaikan risalah Allah Swt, beliau tidak bisa memberikan manfaat atau menimpakan mudharat, tidak mengetahui persoalan ghaib, tidak mengkreasi risalah sendiri, beliau hanya menyampaikan seperti yang ditugaskan. Ini merupakan bukti kuat akan kebenaran dan nubuwah Rasulullah Saw.

Diantara ayat dimaksud adalah friman Allah Swt;

لَيۡسَ لَكَ مِنَ الۡاَمۡرِ شَىۡءٌ

Terjemahannya: “Itu bukan menjadi urusanmu (Muhammad)” (Qs: Ali Imran: 128), juga firman Allah Swt:

قُلۡ اِنِّىۡ لَاۤ اَمۡلِكُ لَـكُمۡ ضَرًّا وَّلَا رَشَدًا‏. قُلۡ اِنِّىۡ لَنۡ يُّجِيۡرَنِىۡ مِنَ اللّٰهِ اَحَدٌ   وَّلَنۡ اَجِدَ مِنۡ دُوۡنِهٖ مُلۡتَحَدًا ۙ‏

Terjemahannya: “Katakanlah (Muhammad), “Aku tidak kuasa menolak mudarat maupun mendatangkan kebaikan kepadamu.” Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya tidak ada sesuatu pun yang dapat melindungiku dari (azab) Allah dan aku tidak akan memperoleh tempat berlindung selain dari-Nya.” (Qs: al-Jin: 21-22), juga firman Allah Swt;

قُلْ لَّاۤ اَقُوۡلُ لَـكُمۡ عِنۡدِىۡ خَزَآٮِٕنُ اللّٰهِ وَلَاۤ اَعۡلَمُ الۡغَيۡبَ

Terjemahannya: “Katakanlah (Muhammad), “Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan aku tidak mengetahui yang gaib” (Qs; al-An’am: 50), juga fiman Allah Swt;

قُلۡ مَا كُنۡتُ بِدۡعًا مِّنَ الرُّسُلِ وَمَاۤ اَدۡرِىۡ مَا يُفۡعَلُ بِىۡ وَلَا بِكُمۡؕ

Terjemahannya: “Katakanlah (Muhammad), “Aku bukanlah Rasul yang pertama di antara rasul-rasul, dan aku tidak tahu apa yang akan diperbuat terhadapku dan terhadapmu.” (Qs: al-Ahqaf: 9).

Bukti kenabian Muhammad Saw lainnya adalah dia dilindungi dan ditolong Allah Swt sebagaimana disebutkan dan dijanjikan dalam al-Qur’an. Selama 23 tahun beliau habiskan untuk menyampaikan risalah, beliau menghadapi semua bentuk tantangan dan intimidasi, namun tiada seorang pun yang mampu membunuhnya. Padahal ragam upaya telah dilakukan musuh-musuhnya. Firman Allah Swt:

وَاللّٰهُ يَعۡصِمُكَ مِنَ النَّاسِ​ ؕ

Terjemahannya: “Dan Allah memelihara engkau dari (gangguan) manusia” (Qs; al-Maidah: 67), Allah Swt melindunginya, menanamkan ketenangan dalam dirinya dan pasukannya hingga menyelesaikan tugas menyampaikan risalah dengan sempurna dan telah turun pengakuan dari langit bahwa:

اَ لۡيَوۡمَ اَكۡمَلۡتُ لَـكُمۡ دِيۡنَكُمۡ وَاَ تۡمَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ نِعۡمَتِىۡ وَرَضِيۡتُ لَـكُمُ الۡاِسۡلَامَ دِيۡنًا​ ؕ

Terjemahannya: “Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu” (Qs: al-Maidah: 3). Manusia pun berbondong-bondong masuk ke dalam Islam dan Makkah ditaklukkan.

Siapa yang hendak memastikan bagaimana Allah Swt melindunginya maka lihatlah rumahnya di Madinah, tidak dikelilingi dinding tembok yang kokoh dan tinggi seperti benteng kaum Yahudi, tidak juga seperti istana Romawi, namun hanya sebatas ruang kamar yang tidak dijaga pihak keamanan dan tidak berpintu. Dia hanya dijaga oleh Allah Swt.

Disebutkan dalam kitab Shahih al-Bukhari dari jalur Tsabit al-Bunani, ia berkata: saya mendengar Anas bin Malik bertanya kepada seorang wanita dari kalangan keluarganya, ia berkata: apakah kalain tahu Fulanah? Mereka jawab: iya. Beliau berkata: Rasulullah Saw pernah melihatnya menangis di samping sebuah kuburan. Lalu beliau berkata: “Bertakwalah engkau kepada Allah Swt dan sabarlah.” Lalu wanita itu menimpalinya: Menjauhlah dariku, karena engkau tidak ditimpa musibah sepertiku. Anas berkata: beiau lantas berlalu dan pergi meninggalkannya. Kemudian seseorang berpapasan dengan wanita tersebut seraya bertanya: “Apa yang disampaikan Rasulullah Saw kepadamu? Dia jawab: saya tidak tahu dia. Orang itu berkata: ‘orang tadi adalah Rasulullah Saw. Anas berkata: wanita itupun pergi mengetuk pintu rumah beliau namun dia temukan rumahnya tidak berpintu. Kemudian wanita tersebut berkata: wahai Rasulullah, demi Allah, saya tidak tahu kalau engkau yang menegurku tadi, lantas Rasulullah Saw bersabda: “Kesabaran itu diukur pada awal terpaan bencana.”[7] Namun demikian, beliau tetap dilindungi Allah Swt dari segala mara bahaya dan diselamatkan dari segala tipu muslihat.

Bukti lainnya bahwa beliau sangat percaya dan yakin akan janji Allah Swt, jiwanya tidak pernah goncang sekalipun dalam kondisi sangat berbahaya dan sangat sulit, bertawakkal kepada Allah Swt, Sang Pencipta dan kekasihnya. Disebutkan dalam kitab Shahih al-Bukahri dan Muslim dari Anas bin Malik bahwa Abu Bakar al-Shiddiq pernah menceritakan kepadanya dengan berkata: “Saya lihat kaki-kaki kaum musyrikin berada di atas kepala kami saat sedang dalam Goa, lalu saya berucap: andai seorang dari mereka melihat ke bawah maka dia pasti temukan kita. Lalu beliau bersabda: “Wahai Abu Bakar, bagaimana menurutmu jika dua orang ditemani oleh Allah Swt sebagai yang ketiga.?[8]

Disebutkan juga dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih Msulim dari Jabir bin Abdillah yang mengabarkan bahwa beliau pernah ikut perang bersama Rasulullah Saw di wilayah Nejed, kala Rasulullah Saw beranjak, beliau beranjak bersamanya, lalu mereka ditemukan oleh penyerang di sebuah lembah yang dipenuhi pepohonan, kemudian Rasulullah Saw turun dan orang-orang pun menyebar di pepohonan, berlindung di balik pohon. Kemudian Jabir berkata: kami tertidur sejenak lalu tetiba Rasulullah memanggil kami, dan tampak seorang Arab Badui sedang duduk di sampingnya, lantas Rasulullah Saw berkata: “Arab badui ini mengambil pedangku Ketika sedang tertidur, lalu saya terbagun dan dia sedang menghunus pedang kepadaku seraya berkata: “Siapa Yang bisa membebaskanmu dariku? Kemudian saya jawab: “Allah” dan inilah orang itu sedang terduduk. Namun Rasulullah Saw tidak memberi sanksi orang Arab badui itu.”[9]

KEEMPAT: INDAHNYA ISLAM.

Keindahan Islam seringkali hanya ramai dibicarakan secara teoritis. Namun faktanya, banyak orang yang menikmati keindahan Islam dalam realitas kehidupannya. Mayoritas orang yang merasakan kenikmatan iman adalah mereka yang istiqamah menjalankan ajaran Islam dan tuntunannya dalam dirinya, keluarganya dan orang sekitarnya, dalam mua’malahnya, dalam kesendiriannya. Sebab, Islam menanamkan dalam diri orang yang menjalankan ajarannya sebuah nilai yang melampauin zaman, muncul dalam nurani seseorang – walau tiada aturan yang memaksa – yang jauh lebih berharga ketimbang sekedar manfaat, jauh lebih mulia dari sekedar teori filosofis, atau penguasa atau pembuat undang-undang.

Konsistensi merawat nilai di saat tidak terawasi menanamkan dalam diri orang mukmin keyakinan dan rasa aman terhadap keindahan agama yang mulia ini. Sebab, dia sendiri merasakan kenikmatan dari sikapanya menahan diri berbuat zhalim, menganiaya, khiyanat dan berkubang dalam dosa dan maksiat. Apapun tudingan yang diarahkan ke ajaan Islam, pasti tidak bernilai dan tidak berpengaruh sedikit pun bagi dirinya.

Nilai-nilai Akhlak dan Perilaku dalam Islam.

Ketika iman merupakan perkara penting yang wajib dijaga dalam kehidupan seorrang muslim, kemudian dijumpai pula banyak nash-nash syariat yang menafikan iman dari orang yang mengabaikan nilai-nilai moralitas seperti berbuat baik kepada tetangga misalnya, atau nash-nash yang menegaskan keIslaman hakiki seseorang manakala orang lain selamat dari gangguan lisan dan tangannya, maka dapat dibayangkan betapa kedudukan etika dan moralitas dalam Islam sangat tinggi.

Doktor Muhammad Diraz mengumpulkan ayat-ayat al-Qur’an yang mengulas etika dan moralitas di akhir kitabnya “Dustur al-Akhlaq fi al-Qur’an.”

Saya memilih beberapa hadits shahih yang menunjukkan pengaruh iman bagi perilaku dan nilai sekaligus menampakkan sebagian keindahan Islam. Saya telah mengumpulkan semua hadits tersebut dengan tema: “Ta’allamna min al-Ahadits al-Shahih.”

Selanjutnya:

  1. Kita belajar dari hadits shahih bahwa: “Orang mukmin adalah orang yang bisa diamanahi orang lain untuk menjaga harta dan jiwa mereka.”[10] Hadits ini seolah merobek-robek simbol dan melunturkan ikon-ikon tertentu yang dipasang sebagian orang untuk tampakkan imannya, sebab iman itu dinilai berdasarkan tingkat amanahnya merawat emas dan perak yang dititipkan kepadanya.
  2. Kita belajar dari hadits shahih bahwa: “Nabi Saw telah bersumpah sebanyak tiga kali bahwa orang yang sakiti tetangga dianggap bukan mukmin yang baik sebagaimana dalam sabdanya: “Demi Allah, dia tidak beriman (dengan sempurna), demi Allah dia tidak beriman, demi Allah dia tidak beriman,” para sahabat bertanya: “Siap orang itu wahai Rasulullah Saw? Beliau bersabda: “Orang yang tetangganya tidak aman dari gangguannya.”[11] Arti bawwaiqahu adalah tindakan jahatnya. Masihkah ragu kalau iman itu menyangkut persoalan tindakan dan perilaku?
  3. Kita belajar dari hadits shahih bahwa: “Orang yang paling buruk di hari kiamat di sisi Allah Swt adalah orang yang memiliki dua wajah, dia temui seseorang dengan wajah tertentu dan temui orang lain dengan wajah berbeda.”[12]
  4. Kita belajar dari hadits shahih bahwa: “Sifat tawadhu adalah kemuliaan dan sifat pemaaf adalah kemuliaan.”[13]
  5. Kita belajar dari hadits shahih bahwa: “Hendaknya memandang wanita muslimah itu dengan proporsional dan berimbang, jika ada perilakunya yang dibenci maka ada juga yang disukai.”[14]
  6. Kita belajar dari hadits shahih bahwa: “Menjaga harta yang dihasilkan dari kerjaan yang baik merupakan kemuliaan dan kejantanan. Jika seseorang terbunuh karena pertahankan hartanya maka dia termasuk syahid.”[15]
  7. Kita belajar dari hadits shahih bahwa: “Tidak pantas seorang mukmin abai dan tertipu, karena Rasulullah Saw bersabda: “Tidak boleh seorang mukmin tertimpa batu yang sama sebanyak dua kali.”[16]
  8. Kita belajar dari hadits shahih bahwa: bobot pertanggungjawaban di pundak seseorang diukur dari tingkat pelanggaran (siapapun dia), berdasarkan sabda Rasulullah Saw: “Permisalan orang yang menjaga hukum Allah Swt dengan orang terjatuh dalam pelanggaran seperti sekumpulan orang yang saling mengundi menumpangi kapal, sebagian mereka tinggal di bagian atas dan sebagian lagi menempati bagian bawah. Orang yang tinggal di bawah harus melalui orang yang tinggal di atas setiap kali hendak mengambil air, lalu mereka berkata: andai kita lubangi saja dinding kapal dekat kita sehinga kita tidak mengganggu orang di bagian atas. Jika orang di atas membiarkan mereka melubanginya maka mereka tenggelam semua, namun jika mereka menahan dan memberinya sanksi maka mereka selamat dan semuanya juga ikut selamat.”[17] Orang yang menjaga hukum Allah Swt adalah orang menyeru kebaikan dan melawan kemungkaran. Istahamu artinya mengundi, maksudnya mereka diundi untuk berbagi tempat di atas dan di bawah.

Hadits ini menggambarkan penumpang satu kapal yang mustahil mewujudkan cita-cita bersama tanpa terbangun kerjasama menjaga kapal itu, kerjasama menahan orang-orang bodoh menenggelamkan kapal itu demi untuk mewujudkan kemaslahatan bersama.

  • Kita belajar dari hadits shahih bahwa: perlu upaya tampil indah menawan. Rasulullah Saw bersabda: “Sesungguhnya Allah Swt indah dan suka melihat keindahan.”[18] Termasuk di dalamnya menjaga aroma mulut: “Bersiwak akan membersihkan mulut dan mengundang ridha Allah Swt.”[19]
  • Kita belajar dari hadits shahih bahwa dianjurkan untuk husnu al-zhan (baik sangka) dan bahwa: “Dugaan termasuk perkataan paling dusta.”[20]
  • Kita belajar untuk menghukumi orang berdasarkan yang dia tampilkan dan tidak menghukumi niat dan motifnya, “Sudahkah engkau belah dadanya.”[21]
  • Kita belajar dari hadits shahih bahwa: wanita muslimah memiliki kedudukan spesial di mana Rasulullah Saw berwasiat khusus merawat mereka pada hari perkumpulan akbar di musim haji melalui sabdanya: “Takutlah kalian kepada Allah Swt dalam pesoalan wanita.”[22]
  • Kita belajar dari hadits shahih bahwa: wajib menjaga perasaan orang-orang yang hadir di majelis, “Maka jangan dua orang berbisik tanpa melibatkan orang ketiga.”[23]
  • Kita belajar dari hadits shahih bahwa: dianjurkan menanamkan rasa optimisme dan beramal shaleh bagi pelaku kesalahan agar menutupi kesalahannya, sebagaimana dicontohkannoleh Rasulullah Saw menyikapi orang yang pernah mencium wanita bukan mahramnya kala mengadu dan dijawab:

اِنَّ الۡحَسَنٰتِ يُذۡهِبۡنَ السَّيِّاٰتِ ​

Terjemahannya: “Perbuatan-perbuatan baik itu menghapus kesalahan-kesalahan.” (Qs; Hud: 114).[24]

  1. Kita belajar dari hadits shahih tentang kedudukan kedua orang tua, status hubungan kekelaurgaan, hak tetangga, setia berinteraksi dengan sejawat ayah sepeninggalnya sebagaimana dalam hadits shahih bahwa: “Sungguh diantara bentuk bakti adalah jalinan komunikasi dengan sejawat ayahnya.”[25]
  2. Kita belajar dari hadits bahwa malu termasuk sifat terbaik yang mesti dimiliki setiap orang, namun sifat malu tidak jadi alasan seseorang menahan diri mengucapkan kebenaran dan mendakwahkannya. Rasulullah Saw adalah orang yang “Paling tinggi malunya ketimbang wanita yang dipingit.”[26] Namun demikian, beliau naik ke bukit shafa memanggil kaum Quraisy untuk mengatakan kebenaran: “Saya ingatkan kalian untuk menjaga diri kalian dari siksa yang pedih.”[27] Beliau tidak lewatkan satu jengkal tanah pun kacuali penghuninya didakwahi Rasulullah Saw.
  3. Kita belajar dari hadist shahih bahwa: “Sifat paling buruk pada diri sesorang adalah kikir dan pengecut.”[28] Sifat kikir yang membuatnya ketakutan kala menginfakkan sebagian hartanya.

Sedang sifat pengecut adalah ketakutan yang membuat seolah hatinya copot karena kelemahannya sehingga dia tidak berani menampakkan kebenaran, beramar makruf dan nahi mungkar apalagi jihad di jalan Allah Swt.

Lembaran ini tidak cukup untuk mengurai apa yang bisa dipelajari (baik secara pesoalan maupun secara kolektif) dari hadits Nabi tentang panduan dasar befikir, metodologi dan pemahaman tentang hukum, adab, akhlak yang menampakkan keagungan agama ini dan keindahannya.

Banyak buku, tulisan ilmiyah dan penelitian dalam persoalana ini, hingga ada satu penelitian panjang yang ditulis tersendiri mengungkap keindahan syariat Islam pada masing-masing bab, missal bab perang. Saya telah sebutkan di awal bukuku “Nazharatu Manhajiyah fi Mahasini al-Islam” sejumlah buku dan penelitian yang khusus mengulas keindahan Islam disusun berdasarkan merode penulisannya atau berdasarkan subjeknya.

Sebelum beralih ke bab berikutnya, saya tertarik mengutip secara singkat beberapa tema dari buku “Nazharat Manhajiyah fi Mahasin al-Islam”. Kutipan ini hanya merekam sisi metodologi yang belum disebutkan pada penjelasan sebelumnya agar penjelasan lebih sempurna.

Diantara keistimewaan Islam ketimbang ajaran agama lainnya adalah kejelasan akidah tentang al-ilah (Tuhan) dari sisi sifat kesempurnaan. Makanya, akal tidak perlu bersusah paya menerima akidah Islam terutama tentap konsep Tuhan. Berbeda dengan khurafat dan dongeng yang ada, berisi asumsi manusia tentang Tuhan. Persoalan ketuhanan sangat jelas dan tegas dalam akidah Islam. Pembuktiannya juga tidak sulit. Sebab, al-Qur’an mulai dari awal hingga akhirnya berisi pemuliaan, pengagungan dan penyucian Allah Swt. Surah yang ditegaskan Rasulullah Saw sebagai surah paling mulia adalah surah yang dimulai dengan ayat pujian kepada Allah Swt dan pengakuan Allah Swt sebagai Rabb sekalian alam, yang menguasai hari pembalasan, lalu menjelaskan relasi antara makhluk dengan sang Khaliq melalui sikap pengagungan yang pantas, bahwa tiada yang pantas disembah kecuali Dia, tiada yang pantas dimintai pertolongan kecuali Dia, dan inilah jalan yang lurus itu.

Demikian pula, ayat kursi sebagai ayat termulia dalam al-Qur’an memuat keterangan tentang Tuhan, mulai dari awal hingga akhir ayat.

Tidak ditemukan bentuk pengagungan kepada Allah Swt di ajaran lain yang semisal dengan bentuk pengagungan yang dimuat dalam ayat kursi.

Selanjutnya, Rasulullah Saw tegaskan bahwa ada satu surah dalam al-Qur’an yang setara dengan sepertiga al-Qur’an yakni surah al-Ikhlash di mana seluruhnya berisi pengagungan kepada Allah Swt.

Orang yang ingin membandingkan antara ajaran yang bersumber dari Allah Swt maka dipastikan dia tidak memerlukan energi besar untuk dapat membedakan antara Islam dengan selainnya. Bahkan upaya membandingkan Islam dengan agama selainnya merupakan tindakan zhalim.

Diantara bukti keindahan, kesempurnaan dan keagungan perspektif Islami tentang Allah Swt adalah tidak terbatas pada gambaran yang sempurna, namun gambaran yang mengandung unsur pengabdian, ketundukan dan kerendahan diri di hadapan Allah Swt. Farid al-Anshari berkata: “Jadi, Rububiyah – bagi yang memahaminya dengan benar – akan menumbuhkan kecintaan. Sebab jika Ilahiyah – yakni akidah kecintaan dan turunannya berupa rasa takut dan penuh harap – dibangun atas dasar Rububiyah, maka konsekuensinya adalah; bahwa Rububiyah secara spesifik akan menarik hati untuk menghamba kepada-Nya.”[29]

Akidah Islam yang mulia tentang Allah Swt ini – selain konsepnya jelas, mulia dan indah– keindahannya makin bertambah karena mengandung sisi pengabdian kepada sang Ilah.

Seperti diketahui ulama akidah Islam bahwa diantara dalil al-Qur’an terpenting dalam membantah kaum musyrikin adalah dalil tentang Rububiyah, sifat-sifat-Nya dan ksempurnaan-Nya dalam tauhid ilahiyah dan hak Allah Swt atas tauhid ilahiyah itu.[30]

Diantara hal terpenting yang menampakkan keindahan Islam dan menanamkannya dalam hati adalah dengan mengamati kehidupan Jahiliyah – baik yang telah ada sebelum Islam atau sesudah Islam – lalu membandingkannya dengan proses perbaikan yang dilakukan oleh Rasulullah Saw mereformasi apa yang dahulunya tersebar dan tertanam kuat dalam hati orang-orang Arab dalam bentuk keyakinan dan perilaku, juga dari sisi kebiasaan dan kultur.

Kita tidak berbicara tentang hasil perubahan biasa yang serupa dengan gerakan perubahan masa lalu dan terkini, namun kita bicara tentang hasil perubahan sangat spesifik dalam catatan sejarah, seorang sejarawan terkemuka menyebutkannya dalam al-Tarikh al-Hadits (Wall Durant) dalam statusnya sebagai orang yang tidak mengimani risalah Muhammad Saw, bahkan dia sendiri menghembuskan beberapa tudingan, namun kerena realitas mustahil ditutupi sehingga dia terpaksa mengunkapkan pernyataannya dalam bukunya “Qishshatu al-Hadharah” bahwa: “Kalau kita hendak menyematkan kebesaran seseorang yang telah berjasa besar bagi manusia maka kita pasti menyatakan bahwa Muhammad adalah orang paling mulia sepanjang sejarah. Beliau mampu menaikkan standar ruhiyah dan moralitas bangsa yang mana budaya barbarisme diperparah oleh iklim yang panas dan gurun yang tandus. Akan tetapi beliau mampu mewujudkan keberhasilan gemilang yang tidak munmgkin dilakukan seorang pun dalam sepanjang sejarah, juga sangat jarang orang yang mampu mewujudkan semua yang dia impikan.”[31] [32]


[1] Adhwa’ al-Bayan, Dar Alam al-Fawaid, 5/52-53

[2] Kitab Syarhu al-Thahawiyah, cetakan kementerian urusan Islam, dakwah dan bimbingan, (h. 109), sebuah pernyataan yang telah disampaikan IbnuTaimiyah dan diulang oleh Ibnu Abi al-Izz. Seperti diketahui bahwa kitab Syarhu al-Thahawiyah umumnya disarikan dari pandangan-pandangan Ibnu taimiyah dan Ibnu al-Qayyim.

[3] Sunan al-Tirmidzi, (2485) dan berkata hadits ini shahih.

[4] Shahih al-Bukhari, (4971) dan Shahih Muslim, (208).

[5] Shahih al-Bukhari, (7).

[6] Shahih al-Bukahri, (1043) dan Muslim, (902).

[7] Shahih al-Bukhari, (7154).

[8] Shahih al-Bukhari, (4663) dan Muslim (2381).

[9] Shahih al-Bukahri, (4135) dan Shahih Msulim, (833).

[10] Diriwayatkan oleh al-Tirmidzi, (2627) dan beliau berkata hadits shahih.

[11] Shahih al-Bukhari, (6016)

[12] Shahih al-Bukahri, (6058) dan Shahih Musli, (2526).

[13] Shahih Muslim, (2588)

[14] Shahih al-Bukhari, (1469).

[15] Shahih al-Bukahri, (2480) dan Shahih Msulim (141).

[16] Shahih al-Bukhari, (6133) dan Shahih Muslim (2998).

[17] . shahih al-Bikhari, (2439).

[18] . Shahih Muslim, (91).

[19] . Sunan al-Nasa’I, (5).

[20] . Shahih al-Bukhari, (5143).

[21] . Shahih Muslim, (96).

[22] . Shahih Muslim, (1218)

[23] . Shahih al-Bukhari, (6290)

[24] . Shahih al-Bukhari, (4687).

[25] Shahih Muslim, (2552).

[26] Shahih al-Bukahri, (3562).

[27] Shahih al-Bukhari (4770).

[28] Sunan Abi Dawud, (2511).

[29] Jamaliyatu al-Din, Ma’ariju al-Qalbi Ila Hayati al-Ruh karya Farid al-Anshari, 45.

[30] Dikutip dari buku Nazharat Manhajiyah fi Mahasin al-Islam

[31] Qishahatu al-Hadharah, 13/47

[32] Disadur dari buku Nazharat Manhajiyah fi Mahasini al-Islam.

Terjemahan Kitab Akidahghaibilmuislamtauhid

Navigasi pos

Previous post

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recent Posts

  • INFORMASI ALAM GHAIB
  • PERTAMA – BUKTI ADANYA ALLAH SWT.
  • SYUBHAT KETIGA: PIDANA MATI ORANG MURTAD
  • PASAL VI – SYUBHAT DAN BANTAHAN
  • BAHASAN KELIMA – MENGABAIKAN PERKEMBANGAN SEMANTIK
Februari 2026
S S R K J S M
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
232425262728  
« Jan    

ahli kitab (2) ahlussunnah (2) akal (4) Akidah (102) Al 'Uluw (2) Allah (5) alquran (32) budaya (4) dalil (2) evolusi (1) firqah (2) firqah najiyah (2) ghaib (2) hadits (2) hidayah (2) ibadah (3) ibnu taimiyah (4) ilmu (64) imam syafi'i (9) iman (3) islam (89) kalam (2) kenabian (4) kesesatan (2) kitab (1) kristologi (5) ma'rifah (2) manusia (2) meditasi (1) nubuwah (3) pengetahuan (15) perdebatan (1) rububiyah (1) sejarah (4) sunnah (4) syubhat (5) tabiin (1) tafsir (2) takdir (2) tauhid (77) taurat (3) teori (2) tsaqafah (3) uluw (1) wahyu (2)

©2026 AKIDAH.NET | WordPress Theme by SuperbThemes