Skip to content
AKIDAH.NET
AKIDAH.NET
AKIDAH.NET
AKIDAH.NET

ALIRAN KEEMPAT – KLASIFIKASI KAUM MUSLIMIN: ISLAMIS DAN BUKAN ISLAMIS

Supriyadi Yusuf Boni, 13 November 2025

Sumber: al-Tiryaq: Nahwa Mualajah Ta’shiliyah li al-Syubuhat al-Fikriyah

(Tameng: Upaya Mengatasi Syubhat Pemikiran)

Penulis:  Dr. Mutlaq Jasir Mutlaq al-Jasir

Penerjemah: Supriyadi Yousef Boni

Editor: Idrus Abidin

Diantara metode menyusupkan syubuhat adalah pengklasifikasian kaum muslimin menjadi kelompok Islamis dan bukan kelompok Islamis. Padahal kaum muslimin tidak mengenal istilah kelompok Islamis, sejak zaman Nabi Saw sampai pertengahan abad kemarin, beberapa tahun lalu ketika istilah ini mulai dimunculkan dalam keadaan sangat pelik dan manipulatif, di mana akhirnya mampu memecah kaum muslimin menjadi beberapa kelompok dan golongan dan membuka pintu kerusakan parah.

Diantara pihak paling berperan menebarkan racun ini adalah The Washington Institute for Near East Pollicy.[1] Banyak peneliti lembaga tersebut yang merekomendasikan pengklasifikasian itu, dan telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab serta dipublish di laman resminya. Diantaranya adalah pernyataan mereka: “….untuk tuntutan identitas, mesti ditekankan bahwa Islam berupa pandangan global, aturan moral, prinsip keyakinan bagi sekitar 1,5 miliyar muslim di seluruh penjuru dunia. Sementara Islam politis sebagai bahan perbandingan adalah ideologi politik yang mendukung sikap tegas untuk kepentingan Islam, yang terbatas, kaku dan keras, terkesan legal formil (terikat oleh istilah syariat).[2] Mereka gambarkan kaum islamis dalam bentuk negara Islam berdasarkan agama dan undang-undang yang menyatukan negara Islam secara keseluruhan, namun belum memilik bentuk nyata. Hanya saja, pemikiran ini didengungkan untuk mendorong tindakan kekerasan. Ketika bercampur antara ideologi Islam dengan akidah salafiyah, maka munculllah fenomena baru dalam bentuk gerakan jihad salafiyah. Lantas apa yang harus dilakukan? Jawabannya wajib menghilangkan idelogi ekstrimis bernuansa kekerasan dari syariat Islam yang ada.”[3]

Sebab utama yang mendorong mereka melakukan pengklasifikasian ini adalah kekawatiran reaksi seluruh kaum muslimin membela agama mereka. Makanya mereka berkata: “Pemikir barat mesti menegaskan perbedaan anatara kaum islamis dengan akidah Islam, jika tidak maka kita akan dihadapkan pada perang ideologi melawan seperempat penduduk dunia.”[4]

Lantas siapa yang dimaksud kaum islamis radikal menurut mereka? Jawabannya ditegaskan dalam makalah sebelumnya; “partai politik Islam ini kalaupun tidak bernuansa kekerasan dan sejalan dengan ideologi bukan liberal namun mereka tidak mengakui kesetaraan gender.”[5]

Diyakini bahwa Islam pasti membedakan antara laki-laki dan perempuan di beberapa hukum syariat dan bukan hanya kaum islamis. Jadi mereka sejatinya memerangi Islam namun berlindung di balik perang melawan kaum islamis.

James Wolsey menegaskan kelompok radikal dengan berkata; “Kaum radikal meyakini bahwa kegagalan kaum muslimin diakibatkan oleh lemahnya iman mereka. Jadi cara terbaik memperbaikinya adalah kembali mengikuti sumber agama yang murni dan asli, sebagaimana telah dibuktikan dalam kehidupan Muhammad[6] Saw dan para sahabatnya. Selain itu mereka meyakini contoh ideal adalah saat hukum dan undang-undang Islam diterapkan di abad ke-7 M. Artinya mereka mendorong agar banyak aturan dan hukum Islam yang dituangkan dalam bentuk undang-undang.”[7]

Artinya, dosa kaum radikal yang buruk adalah berupaya agar syariat Islam yang murni ini diterapkan sebagaimana diterapkan di zaman nabi Saw dan para sahabatnya.

Graham Fuller mengungkapkan dalam seminar yang diselenggarakan oleh the Washington Institute for Near east policy bahwa: “Islam merupakan ideologi yang jauh lebih luas ketimbang apa yang diyakini oleh kaum teroris radikal. Kaum islamis meyakini dan mengupayakan agar kandungan al-Qur’an dan sunnah diposisikan sebagai panduan dan rujukan utama untuk menuntun masyarakat dan pemerintah.”[8]

Sementara kaum muslimin bukan islamis radikal menurut orang barat adalah mereka yang mengabaikan agamanya dan lebih sejalan dengan pemikiran barat. Sayangnya, sebagian kaum muslimin ikut berperan dalam menanamkan pemahaman manipulatif dan salah ini dengan menyebut diri sebagai islamis, juga dengan menggunakan label partai politik Islam, atau jama’ah islamiyah lalu mereka berpecah ke dalam banyak sekte dan kelompok. Firman Allah Swt:

كُلُّ حِزۡبٍۢ بِمَا لَدَيۡهِمۡ فَرِحُوۡنَ‏

Terjemahannya: “Setiap golongan (merasa) bangga dengan apa yang ada pada mereka (masing-masing).” (Qs: al-Mukminun: 53).

Seorang muslim semestinya bangga mengatribusikan diri dengan Islam. Kita semua adalah kaum muslimin, tiada pembeda kecuali takwa sementara takwa hanya diketahui Allah Swt. Sehingga, tidak pantas kita dibedakan berdasarkan bentuk atau pakaian yang dikenakan. Sebab agama ini merupakan akumulasi dari ibadah, simbol dan keyakinan. Sedikit yang tampak dan banyak yang tersembunyi. Lantas dasar apa sehingga seorang muslim dikelompokkan menjadi islamis atau bukan islamis? Adakah seseorang sudah ditelisik amalnya? Apakah hatinya sudah dipastikan dekat dengan Allah Swt? Ataukah hanya sekedar berdasar pada penampilan semata?

Pengklasifikasian ini sangat mengandung banyak sisi negatif, diantaranya:

Pertama, pengklasifikasian ini termasuk persoalan baru yang tidak dijumpai di zaman nabi Saw dan di zaman para sahabatnya, serta tidak pula di zaman tiga generasi terbaik. Faktanya di zaman Nabi Saw yang ada hanya kelompok kaum muslimin. Firman Allah Swt;

هُوَ سَمّٰٮكُمُ الۡمُسۡلِمِيۡنَ مِنۡ قَبۡلُ وَفِىۡ

Terjemahannya: ‘Dia (Allah) telah menamakan kamu orang-orang muslim sejak dahulu,” (Qs: al-Hajj: 78).

Kedua, pengkalisifikasian ini membuka pintu bagi musuh-musuh Islam memerangi Islam dengan alasan memerangi kaum islamis radikal. Hal itu dilakukan setelah menyematkan stigma negatif dan mendendangkan kesalahan mereka untuk memancing amarah orang lain terhadap agama.

Cheryl Benard dalam rekomendasinya yang terkenal tentang Islam civil demokratis berkata: “Menyerang kaum fumdamentalis dengan tegas dengan menyasar titik kelemahan dalam sikap islami dan ideologi. Caranya, menampilkan keburukan yang tidak ditolerir, baik oleh generasi mudanya yang menjadi target utama, juga generasi tua yang awam seperti, kejahatan mereka, tindakan kkerasan, kebodohan parah, fanatisme buta dan keburukan lain yang terjadi dalam menerapkan syariat Islam, termasuk ketidaksanggupan mereka memimpin dan memerintah.”[9]

Ketiga, asumsi jahat mereka bahwa islamis – menurut klasifikasi mereka – adalah pihak satu-satunya yang berkewajiban memperjuangkan syariat Islam untuk diterapkan di bumi Allah Swt. Sementara selain mereka yang juga dari kalangan kaum muslimin tidak berkewajiban menerapkannya. Mereka anggap hanya cukup dengan mendirikan shalat dan puasa. Mereka tidak terikat dengan syariat Islam lainnya, tidak dalam bentuk amar makruf dan nahi mungkar, atau upaya menerapkan syariat Allah Swt. Mereka menjauhkan kaum muslimin dari status ummat terbaik dalam ahyat:

كُنۡتُمۡ خَيۡرَ اُمَّةٍ اُخۡرِجَتۡ لِلنَّاسِ تَاۡمُرُوۡنَ بِالۡمَعۡرُوۡفِ وَتَنۡهَوۡنَ عَنِ الۡمُنۡكَرِ

Terjemahannya: “Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar,” (Qs: Ali Imran: 110).

Keempat, melalui pengklasifikasian ini mereka seolah menetapkan ajaran tertentu bagi setiap kelompok. Jadi agama selain orang islamis tidak mengenal hukum haram, mereka anggap biasa melakukan perbuatan haram, hanya karena mereka tidak termasuk kaum islamis. Sampai-samapi ada orang yang dinasehati untuk bertakwa dan takut kepada Allah Swt karena perbuatannya haram malah dia jawab: “sudahlah akhi, saya bukan islamis, saya juga bukan Islam fanatik, berhentilah menasehatiku. Sungguh tipuan Iblis sudah memangsanya.

Hakikatnya, semua ayat yang ada dalam al-Qur’an diperuntukkan kepada semua manusia, kepada anda dan kepada saya, saya pertanggungjawabkan sebagaimana akan anda pertanggungjawabkan juga. Setiap hadits shahih dari Nabi Saw diarahkan kepada saya dan kepada anda bahkan kepada semua; saya, anda dan semua orang akan diperhadapkan kepada Allah Swt di hari kiamat kelak.

Diantara muslihat mereka adalah ketika mereka berhasil menumpas kaum islamis, mereka hadirkan sosok lain yang ditampilkan sebagai ahli agama dan pemikir Islam.[10]

Cheryl Benard berkata: “Islam modern ditampilkan oleh banyak tokoh dan pemimpin. Mereka sosok yang memiliki bekal ilmiyah, terpercaya dan pengetahuan baik tentang akidah Islam ditambah perilaku dan moralitas modern. Sebagaian mereka pakar di bidang sosial, atau di lingkungan akademik lokal. diantara mereka dan bukunya telah menyebar di Amerika Serikat bahkan dianggap paling unggul adalah Professor Khalid Abu al-Fadhl, professor Syariah Islamiyah di universitas California Los Angales (UCLA). Dia seorang ilmuwan dan penulis yang dikagumi dan memokuskan tulisannya untuk mengkritisi semua metode pemakluman dan pembenaran yang dilakukan masyarakat awam, juga pola penguasaan intimidatif puritan oleh kelompok fundamentalis. Dia meyakini bahwa realitas menyedihkan yang menimpa dunia Islam modern menuntut untuk introspeksi diri, mempertajam wawasan dan menarik diri dari perang peradaban melawan barat. Ada juga Muhammad Syahrur…[11]

Dia melanjutkan menyebutkan beberapa rekomendasinya dengan berkata: “Ikut terlibat dalam mengatasi monopoli kaum fundamentalis dan tradisional terhadap Islam, baik melalui definisi, penjelasan dan tafsir.”

  • Memilih ilmuwan modern yang mampu mengelolah laman elektronik, dia menjawab semua pertanyaan yang terkait dengan kehidupan keseharian, seraya menawarkan pemikiran fiqih modern.
  • Mendorong ilmuwan modern untuk menulis makalah akademis ilmiyah dan ikut mengembangkan kurikulum.
  • Menyebarkan buku-buku modul awal dan pengantar dengan harga murah hingga dapat dikonsumsi oleh masyarakt luas seperti bku-buku kecil yang ditulis oleh kaum fundamentalis.
  • Mengoptimalkan media masa lokal yang luas sebarannya, seperti radio untuk menyebarkan pemikiran Islam modern serat budaya mereka, menyebarkan pandangan dan tafsiran mereka terhadap Islam secara global dengan jangkauan yang luas.[12]

Ulasan di atas menunjukkan sisi negatif dan problematika pemikiran dari pengklasifikasian kaum muslimin ke dalam kelompok islamis dan bukan islamis. Bahkan dianggap aliran penebar syubhat paling berbahaya. Pasalnya dia memanfaatkan media untuk menampilkan tampilan kaum islamis yang mereka buat. Kemudian mereka merusak ajaran agama, akidah dan hukumnya sehingga kaum msulimin memiliki gambaran buruk terhadap agamanya sendiri. Kemudian mereka dipisahkan dari kelompok islamis.

Makanya aliran ini wajib diwaspadai dan dilawan.

PASAL IV

LANDASAN & PIJAKAN SYUBHAT

Syubhat pemikiran sangat banyak jumlahnya, sulit dihitung dan disebutkan satu per satu. Sebab. “Membicarakan setiap syubhat yang muncul dalam fikiran setiap orang sofistik mustahil dapat dijangkau dan dijelaskan secara detail.”[13]

Namun jika diamati maka syubhat-syubhat ini berpusat pada prinsip-prinsip tertentu, beranjak dari kesalahan tertentu, dibangun di atas dasar pondasi. Ketika dasar-dasar ini dan logical fallacy ini dijelaskan maka problema dan syubhat teratasi dengan sendirinya, sehingga benteng pemikiran akan terbentuk dan imunitas pengetahuan menguat yang akan memadamkan semua virus akal.

Lembaran-lembaran berikutnya akan memuat uraian tentang dasar-dasar terpenting dan landasan berfikir serta logical fallacy yang menjadi pijakan syubhat dan pemikiran bathil.

Pertama: Dusta

Diantara landasan paling tampak bagi banyak jenis syubhat adalah dusta, bahkan paling dikenal menjadi pijakan segala logical fallacy yang biasa disebut Straw Man atau Khayal al-Ma’atah (imajinasi mati)[14]. Maksudnya, seseorang mengulang argumentasi pihak lawan setelah diganti atau diubah atau diselewengkan atau dikaburkan dalam bentuk lain yang lebih lemah ketimbang argumen aslinya. Tujuannya agar dia merasa sanggup mematahkannya dengan mudah ketimbang mematahkan argumen dasarnya.

Straw man diambil dari sosok imajinatif yang dibuat para petani dan diletakkan di ladang untuk mengelabui burung-burung – berbahan baku kayu dan rumput serta lainnya. Biasanya dibalut dengan kain seperti baju agar burung tertipu -. Logical fallacy dalam hal ini diserupakan dengan sosok yang tidak sanggup mengalahkan orang lain; di mana sebagai gantinya dia memperalat straw man untuk dia kalahkan ketimbang lawan aslinya.

Beginilah cara kerja logical fallacy itu di mana pihak yang merasa tidak sanggup mematahkan argumen pihak lain; memilih menyerang argumen lain yang lebih lemah dan belum disebutkan pihak lawan, misalnya; sehingga dia tampak lebih logis dan merasa memenangkan debat.

Tipuan ini – jika tidak diperhatikan dengan baik – dapat memalingkan seseorang dari argumen lebih kuat seperti gerakan melingkar (akrobatik). Makanya sebagian orang menyebut logical fallacy dengan istilah logical akrobatik.

Fallacy umumnya berpijak pada kedustaan dan kebohongan. Ini karakter dominan – dan sangat disayangkan – pada ruang media yang menyebarkan syubhat tentang Islam.

Pascal Boniface mengatakan; “Penyimpangan etika yang profesional tidak terbatas pada jenis media massa tertentu, sebab, dusta sudah menjadi srana yang dianjurkan dalam perang ideologi.”[15]

Pijakan inilah yang dijadikan modal gerakan merusak dan mengaburkan Islam dengan menempelkan ragam kedustaan hina dan tudingan buruk terhadap Islam.

Kedustaan tidak hanya menyerang persoalan-persoalan pelik dan detail dalam Islam namun sudah merambah pada persoalan-persoalan yang umum dan tampak jelas, sebagaimana pengakuan salah satu orientalis bernama Patricia Crone bahwa Makkah al-Mukarramah bukan di Makkah al-Mukarramah yang ada saat ini.”[16]

Coba perhatikan bagaimana mereka sudah sampai menentang persoalan aksiomatik yang sangat jelas. Serangan seperti ini juga bukan hal baru namun bibitnya sudah ada di zaman Rasulullah Saw, di mana agamanya diserang dengan tuduhan buruk, sosoknya juga dituduh pendusta, penipu dan gila serta dituduh tukang sihir.

Serangan ini terus berlanjut hingga nampak wajah aslinya pada pertengahan abad ke-5 H bersamaan dengan perang salib. Di mana “Para pendeta bergerak memasuki wilayah Eropa Utara untuk menggaet orang masuk ke Nashrani kemudian dipersiapkan untuk masuk dalam kancah perang besar antara Islam dengan Nashrani. Diantara persiapan itu adalah; menjelek-jelekan Islam di mata mereka. Bahwa Islam itu penyembah berhala, dan Rasul Islam itu begini dan begitu …. Tiada satu kedustaan yang mereka lewatkan dengan maksud agar hati orang-orang itu terkotori dengan keburukan Islam yang mereka buat-buat lalu merekalah yang dianggap benar karena diucapkan oleh seorang pendeta atau biksu. Sebab, dia hanya bekata benar tak pernah dusta jadi tuduhan buruk terhadap Islam adalah benar adanya, bahkan dianggap bahagian dari ajaran agama mereka.”[17]

Dr. Mahmud Sa’id Imran berkata: “Diantara sarana terbaik yang digunakan pasukan salib dalam meminta bantuan ke negara Eropa adalah fhoto kota Baitul Maqdis dan gereja al-Qiyamah yang mereka kirimkan ke negara-negara Eropa disertai tulisan: Sungguh ini adalah makam isa al-Masih, lalu ditempeli gambar mujahid muslim yang menginjak-injaknya dan media lainnya yang membakar semangat kaum Nashrani.”[18]

Seorang orientalis bernama Maxim Rodinson[19] berkata: “Perang salib memantik kebutuhan mendesak untuk mengetahui gambaran sempurna dan meyakinkan terkait ideologi musuh. Masyarakat umum suka mendengar gambaran buruk tentang Islam dengan penampakkan yang kasar dan dalam waktu bersamaan disifati sebagai ajaran asing dengan cara yang halus dan sastrawi, sebab tampak menajdi karakter umum masyarakat pada saat itu. Orang biasa ingin melihat karakter kuat dan menonjol negeri barat yang mengejutkan pasukan salib dalam interaksinya besama kaum muslimin. Demikian pula dijumpai pada penulis berbahasa latin antara tahun 1100 M hingga 1140 M yang berupaya memenuhi keingina masyarakat umum kala itu. Mereka fokus menyerang kehiduapn Muhammad Saw tanpa menggambarkannya secara detail dan jujur. Tudingan banyak dilontarkan namun berbasis ilusi dan keberpihakan buta seperti yang diungkapkan oleh R. W. Southem ketika berkata; Muhammad adalah penyihir yang menghancurkan gereja di Afrika dan di Timur, ia menggunakan sihir untuk menipu, diantara keberhasilannya adalah dibolehkannya hubungan seksual, menggunakan cerita legenda rakyat berupa budaya klasik dan dongeng Bizantium tentang Islam hingga referensi Islam setelah dibaur dengan kebathilan kaum Nashrani timur, semua itu digunakan untuk memoles gambaran buruk tentang Islam.”[20]

Tudingan palsu digiatkan selama masa perang berupa dorongan pengusiran orang-orang Nashrani di Palestina dan intimidasi yang mereka terima dari kaum muslimin. Padahal semua itu sangat bertentangan dengan akidah Islam. Orang-orang muslim distigma negatif sebagai penyembah patung dalam bentuk sosok Muhammad sehingga orang-orang bodoh berkata: Nabi itu pernah terserang penyakit epilepsi hingga diterkam oleh babi hutan, ada juga banyak cerita-cerita dongeng dimunculkan tentang kekayaan negeri timur, perempuan-perempuan kaya yang menunggu kehadiran para lelaki jantan.”[21]

Setelahnya, muncullah kebudayaan Inggris menambah parah serangan berupa tuduhan palsu penuh kebencian. Umumnya, sastrawan Inggris jauh lebih jahat ketimbang sastrawan Perancis dalam merusak perwajahan Islam. Hal itu tampak jelas padanya dalam apa yang disebut sastra Normandia, yang banyak memuat gambaran tentang peperangan Salib, dia banyak memaki Islam dan kaum muslimin dengan menghina mereka hingga istilah Saracen (al-syarqi atau al-Syarkasi) yang dikenal masa itu diidentikkan dengan masyarakat gurun di timur, digunakan para sastrawan Romand untuk para penyembah berhala di Eropa Utara, juga untuk mereka yang tidak mengimani Taurat dan Injil. Seiring dengan hadirnya Islam dan kemenangan kaum muslimin istilah tersebut mulai digunakan khusus untuk kaum muslimin, sebagaiman Islam digambarkan dalam cerita dan sandiwara serta syair masa itu sebagai agama kufur, atheis dan sesat.”[22]

Diantara kedustaan besar yang disematkan pada Islam dan kaum muslimin di masa sekarang adalah tuduhan terorisme. Peristiwa pemboman di Oklahoma tahun 1995 M yang dilakukan seorang Nashrani Amerika yang sangat agamis bernama Timothy McVeigh hanya disebut sebagai penyimpangan (Aberation) oleh media Amerika. Sementara jika pelakunya seorang muslim maka media menyebutnya tindakan terorisme.”[23]

Serangan-serangan ini mulai dirasakan dampaknya yang buruk hingga pandangan umumnya masyarakat Amerika contohnya, tidak tahu tentang Islam dan kaum muslimin serta tentang Timur Tengah kecuali informasi negatif berupa bencana, kudeta dan pertempuran. Tindakan terorisme yang dimunculkan berbalut kedustaan sangat jauh dari realitas Islam dan kaum muslimin.

ABC News pernah memberitakan sebuah hasil penelitian yang menunjukkan bahwa 46% warga Amerika menganggap mayoritas kaum muslimin suka kekerasan dan cenderung melakukan tindakan terorisme. Demikian pula yang disinyalir oleh Pusat Hubungan antara Amerika dengan Islam “Care’ bahwa satu dari setiap empat warga Amerika membenci Islam dan kaum muslimin, dimana 23-27% warga Amerika menilai kaum muslimin tidak menghargai hak hidup seperti halnya orang lain, juga bahwa Islam adalah agama yang mengajarkan kebencian dan kekerasan.”[24]

Diantara contoh serupa adalah pernyataan seorang filsuf Inggris terkenal yakni Bertrand Russell dalam bukunya “Why I Am Not a Christian” (Limadza Lastu Masihian) yang menerangkan kenapa dia keluar dari agama Nashrani dan memilih menjadi atheis, dia berkata: “Saya menerima konsep kausa prima selama bertahun-tahun hingga saya berusia 18 tahun di mana saya membaca biografi John Stuart Mill, yang menulis sebuah kalimat:[25] “Saya diajari ayahku bahwa mempertanyakan penciptaanku mustahil akan terjawab karena akan melahirkan pertanyaan lain yakni: siapa yang menciptakan Tuhan? Kalimat singkat itu sejalan dengan fikiranku dan mematahkan kesalahan konsep kausa prima. Jika keberadaan diriku disebabkan oleh Tuhan maka semestinya Tuhan juga diciptakan oleh sebuah sebab (Tuhan). Lantas jika dimungkinkan Tuhan ada tanpa pencipta maka alam ini semestinya juga bisa ada tanpa pencipta. Persis seperti adanya Tuhan.”[26]

Coba diperhatikan dengan seksama, dia terjebak dalam kesalahan straw men di mana dia sendiri rumuskan argumennya lalu dia klaim sebagai argumen kaum muslimin tentang keberadaan Allah Swt, yakni bahwa segala sesuatu wajib ada kausanya. Padahal pernyataan seperti ini tidak pernah diterapkan kaum muslimin dalam menetapkan keberadaan Allah Swt.

Kaum muslimin hanya menegaskan bahwa semua yang baharu itu adalah ciptaan sebuah kausa, sementara Allah Swt bukan makhluk. Maka mustahil logical fallacy semacam: siapa yang menciptakan Allah Swt dapat diterapkan pada Allah Swt.”

Bahasan Kedua: Kesalahan Referensi

Pijakan syubhat lainnya adalah keselahan referensi. Artinya menetapkan sesuatu baik atau buruk, benar atau salah didasarkan pada referensi yang salah lalu memaksakan konsekuensinya.

Diantara masyaraka ada yang hanya berpatokan pada jumlah yang mayoritas ketimbang mendasarkan pada logika – atau bahkan hingga mengabaikan akal – lalu berupaya membenarkan sebuah pemikiran tertentu dengan cara menyentuh perasaan kemudian mengabaikan argumen logis yang benar. Jika “semua orang telah meyakininya” atau “semua orang percaya” maka sudah dianggap benar secara otomatis.”[27]

Diantara masyarakat, ada juga yang berpedoman pada kendali dan dominasi tertentu, apakah dalam hal ilmiyah atau selainnya. Kendali yang dimaksud seolah tidak layak dipertanyakan, dia dipercaya karena dominasinya dan menjadi pemutus akhir, pengetahuannya lebih dari orang lain. Diantara contohnya adalah sosok Aristoteles yang diposisikan sebagai pemikir dan ilmuawan paling popular sepanjang sejarah kebudayaan. Faktanya, filsuf Yunani ini dianggap rujukan utama semua disiplin ilmu sepanjang sejarah Eropa, bahkan semua pemikirannya diambil tanpa boleh dipertanyakan, walaupun ada ilmuwan yang sudah berhasil keluar dari kungkungan pemikirannya, terutama di ilmu-ilmu empiris. Diantara yang menarik perhatian adalah karena sosoknya seolah sudah dikultuskan namun berujung pada bencana, setelah sosoknya dibuatkan patung yang disembah.”[28]

Contoh lainnya adalah pernyataan seorang atheis terkenal Richard Dawkins dalam dialog di televisi bersama wartawan Mahdi Hasan, di mana Dawkins menyebutkan teori alam beragam, sebuah teori ilusi yang lucu.

Host Mahdi hasan bertanya: Engkau tertawakan saya karena mengimani nabiku yang keliling syurga, namun engkau juga percaya alam yang beragam yang engkau sendiri tidak sanggup membuktikannya berdasarkan fakta empiris, tidakkah itu sama dengan keimananku kepada Allah Swt dan kepada nabiku?

Dawkins menjawab: engkau tidak boleh menggunakan intuisimu untuk menentang ilmu fisika, jika engkau sanggup melakukan itu maka kita tidak membutuhkan fisikawan, padahal mereka orang-orang paling cerdas sangat pandai membuat perhitungan.

Host Mahdi Hasan menimpali; tapi, bukankah dia juga fisikawan seperti Paul Davis yang menganggap teori alam beragam tidak rasional.”[29]

Dialog tersebut menampakkan Dawkins dua logical fallacy, yakni;

Pertama, memanipulasi informasi seolah teori alam beragam diakui oleh semua fisikawan.

Kedua, kesalahan merujuk pada dominasi dan kendali. Di mana teori ini yang diakui hanya sebagian fisikawan seolah menjadi jaminan benarnya teori ini sekalipun tanpa menyebutkan dasar argumennya.

Kesalahan parah yang menimpa Masyarakat manusia akibat salah referensi adalah manusia hanya bersandar pada budaya yang ada sebagai rujukan utama. Diantara fakta rilnya adalah justifikasi salah satu orientalis terkenal bernama Bernard Luwis[30] terhadap kaum muslimin dalam What Went Wrong yang membedakan antara muslim baik dengan muslim buruk yang hanya diukur dari seberapa kuat dia meniru budaya barat, mendukung kepentingan negara barat. Orang muslim yang baik adalah yang tidak beragama dan hanya ikut ke barat, orang yang mendukung politik barat dan tidak menentangnya. Sementara muslim yang buruk adalah menentang modernitas dan mengancam kepentingan barat.”[31]

Bahasan Ketiga: Perangkap Generalis.

Kata al-mujmal artinya sesuatu yang berada diantara dua kemungkinan dengan bobot yang sama.[32] Atau sesuatu yang makna kandungannya belum jelas.[33]

Diantara pijakan dan pemantik syubhat adalah menggunakan kata dan kalimat yang umum yang mengandung banyak makna yang benar dan bathil lalu mendudukkannya sebagai lafazh kebenaran yang bersifat mutlak.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Kaum salaf dan para ulama tidak mengecam ilmu kalam hanya karena memuat istilah-istilah umum seperti jauhar (esensi), aradh (sifat), jism (bentuk) dan semacamnya. Akan tetapi karena ada makna bathil yang terkandung dalam istilah-istilah tersebut yang semestinya dilarang, sebab istilah-istilah tersebut mengandung makna umum yang semestinya ditetapkan atau dinafikan. Sama dengan pernyataan imam Ahmad mengenai ahli bid’ah bahwa mereka itu berbeda pendapat tentang al-kitab, menyelisihi al-kitab dan sepakat menentang al-kitab…mereka mempertentangkan ayat-ayat mutasyabih untuk mengecoh dan mengelabui kaum juhhal melalui makar dan muslihat mereka.

Jika engkau tahu makna yang mereka ingin di balik istilah-istilah itu lalu engkau rujuk ke al-Qur’an dan sunnah – dengan prinsip menetapkan kebenaran yang ditetapkan al-Qur’an dan sunnah lalu menafikan kebathilan yang dinafikan al-Qur’an dan sunnah – maka itulah kebenaran. Berbeda dengan apa yang dijalani budak nafsu dalam menggunakan istilah-istilah itu, baik dalam menetapkan atau menafikan sesuatu, termasuk dalam persoalan sarana dan permasalahan tanpa menjelaskan lebih detail dan rinci yang merupakan bentuk ketundukan pada jalan lurus maka itulah yang memantik banyak syubhat.”[34]

Perhatikan… bagaimana Ibnu Taimiyah menjadikannya sebagai pijakan dan pemantik syubhat. Dasar ini berpijak pada logical fallacy yakni kesalahan atas istilah-istilah yang ditunggangi penuh pancingan.”[35]

Ibnu al-Wazir berkata: “Seorang penipu dalam ilmu debat kadang mengungkapkan syubhat yang dipoles dengan baik, ditata dengan rapi untuk mengelabui orang yang tertarik dengan ilmu manthiq, lemah dalam berdebat, maka waspadai keangkuhan dirimu karena banyak sekali niat buruk yang ditutupi kalimat-kalimat mengambang.”[36]

Diantara contohnya seruan persamaan dan kesetaraan serta sanggahan terhadap firman Allah Swt:

لِلذَّكَرِ مِثۡلُ حَظِّ الۡاُنۡثَيَيۡنِ​ ۚ فَاِنۡ

Terjemahannya: “(yaitu) bagian seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua orang anak perempuan” (Qs; al-Nisa: 11) dan menudingnya salah karena tidak sejalan dengan prinsip kesetaraan.

Di sini terdapat kesalahan fatal sebab kata kesetaraan itu bersifat umum, dia mengandung makna benar dan bathil sekaligus. Faktanya bahwa kesetaraan dalam beberapa hal malah termasuk tindakan zhalim.

Kata yang benar dan bersifat mutlak adalah adil (keadilan). Sementara keadilan itu tidak selamanya harus setara sebagaimana jamak diketahui.

Gustaf Le Bon berkata: “Kekuatan kata sangat terkait dengan gambaran yang diinginkan, dia sangat terpisah dari makna hakikinya. Kata-kata yang sulit didefinisikan maknanya secara detail dianggap paling kuat memberi pengaruh dan reaksi.”

Diantara contohnya, beberapa kata berikut ini; demokrasi, kebersamaan, kesetaraan, kebebasan dan sebagainya.  Makna kandungan yang tampak rumit di mana diperlukan banyak waktu dan media untuk menjelaskannya. Namun demikian, susunan huruf terasa seperti sihir. Apalagi jika dianggap sebagai solusi untuk sebuah persoalan. Dia menggabungkan antara ambisi bawah sadar dengan motivasi mewujudkannya. Logika dan argumen rasional tidak sanggup mematahkan sebagian diksi dan ungkapan tertentu. Selama diutarakan sepenuh hati di depan khalayak ramai, maka akan mudah menyihir dan menundukan orang yang mendengarnya. Sebagian orang menyatakan seperti kekuatan alami atau kekuatan dari alam, dia tanamkan dalam hati kesungguhan dan kerumitan. Namun kerumitan yang diinginkan bertambah akibat kekuatan tersembunyinya.”[37]

Diantara diksi yang umum dan berhasil memantik ragam syubhat adalah kebebasan (al-hurriyah). Diksi ini sangat menarik, menutupi akal sehat, namun mengandung makna benar dan bathil sekaligus. Kata ini bisa dimaknai kebebasan untuk kufur, jahat, memberontak, mengintimidasi orang lain, tentu kebebasan seperti ini adalah bathil. Kata itu juga bisa dimaknai kebebasan memiliki, berbisnis, makan, minum dan sebagainya, makna yang dapat diterima. Olehnya itu, kata ini tidak tepat didengungkan dan diberlakukan sebelum dipastikan maknanya yang diinginkan dan tujuan yang telah ditetapkan.

Bahasan Keempat: Distorsi Sejarah.

Pijakan ini banyak melahirkan syubhat yakni distorsi sejarah. Artinya: “Memproyeksikan realitas kontemporer berdasarkan fakta sejarah masa lampau, kemudian menafsirkannya berdasarkan pengalaman dan perasaan mereka serta fakta realitas kehidupan dan lingkungan mereka.”[38] Syubhat yang dipantik olehnya didasarkan pada logical fallacy, yakni mengabaikan konteks sejarah.[39]

Mayoritas syubhat yang dihembuskan atas pijakan ini adalah pengaburan terhadap sirah nabi dan kehidupan Rasulullah Saw. Hal itu dimunculkan dengan menjadikan kultur dan adat yang dominan pada masa itu sebagai tolok ukur terhadap kultur dan adat di masa kini. Ini termasuk dendangan kaum orientalis dalam meneliti sirah Nabi Saw.”[40]

Orang yang melakukan seperti itu ibarat seseorang yang membawa fhoto orang lain berusia 150 tahun, kemudian dia tertawai dan ejek pakaiannya yang dikagumi masa itu, juga menertawakan sikapnya terhadap kulturnya.

Ejekan ini sesungguhnya lahir dari kesalahan yang muncul karena membandingkan antara bentuk pakaian masa klasik dengan bentuk pakaian saat ini. Padahal pakaian orang di fhoto itu tidak buruk di masa dan dalam kultur mereka zaman itu.

Pada pasal VI akan disebutkan sebagian contoh syubhat yang muncul atas dasar pijakan ini in sya Allah Swt.


[1] The Washington Institute for Near East Policy adalah lembaga reseach Amerika yang didirikan tahun 1985 M oleh departemen hubungan Amerika dengan Israel yang disingkat AIPAC dan bermarkaz di Washington. Merujuk pada laman resminya mengatakan bahwa lembaga ini bertujuan untuk meningkatkan kesefahaman berimbang dan ril demi melindungi kepentingan Amerika di Timur Tengah. Lembaga ini dikendalikan oleh majelis pertimbangan terkemuka dari dua negara untuk menyiapkan pengetahuan, penelitian dan peran dalam menguatkan politik Amerika di wilayah paling dinamis di dunia. Laman Washington mengungkapkan bahwa pendirian Lembaga ini untuk mendukung sikap Israel melalui penelitian dan pusat studi di mana AIPAC dianggap Lembaga induk bagi institute tersebut. Pasalnya, institute tersebut dikomandoi oleh Marten Indyk, mantan direktur penelitian pada Lembaga AIPAC. Lihat: https://www.Washingtoninstitute.org/ar/about/mission-and-history

[2] Artinya muslim biasa yang tidak komitmen menjalankan syariat Islam dengan baik.

[3] https://www.washingtoninstitute.org/ar/policy-analysis/view/islamist-terrorism-in -the-west

[4] https://www.washingtoninstitute.org/ar/policy-analysis/view/is -it-islamic-or-islamist

[5] https://www.washingtoninstitute.org/ar/policy-analysis/view/is -it-islamic-or-islamist

[6] Saw

[7] Shuratu al-Islam fi I’lami al-Muhafizhina al-Judud, Dr. Aisyah Wazouz, h. 205

[8] Shuratu al-Islam fi I’lami al-Muhafizhina al-Judud, Dr. Aisyah Wazouz, h. 209

[9] Al-Islam al-Dimoqrathi al-Madani, Cheryk Benard, h. 112, terjemahan: Ibrahim ‘Awadh.

[10] Pemkirian Islam adalah istilah baru dan rumit, saya belum tahu siapa pemikir Islam itu, apa parameternya? Jika yang dimaksud adalah orang yang tahu tentang syariat maka sebenarnya disebut alim, namun jika dia tidak kuasai syariat Islam maka sebenarnya dia tidak pantas berbicara tentang syariat Islam. Hanya saja, istilah ini dijadikan tameng bagi mereka yang ingin ikut-ikutan berbicara tentang Islam walau tanpa dasar ilmu.

[11] Al-Islam al-Dimoqrathi al-Madani, Cheryk Benard, h. 90-91, terjemahan; Ibrahim ‘Awadh.

[12] Al-Islam al-Dimoqrathi al-Madani, Cheryk Benard, h. 113, terjemahan; Ibrahim ‘Awadh.

[13] Dar’u Ta’arudh al-Aql wa al-Naql, karya Ibnu Taimiyah, 3/306

[14] Lihat: al-Mughalathat al-Manthiqiyah, Dr. Adil Mushthafa, h. 201

[15] Al-Mutsaqqafun al-Mughalithun, Pascal Boniface, h. 33

[16] Lihat: al-Raddu Ala Patricia Crone wa Kitabuhah Tijarah Makkah wa Zhuhur al-Islam, dr. Amal al-Rubi, h. 19

[17] Risalatun fi al-Tharid ila Tsaqafatina, Syekh Mahmud Syakir, h. 35

[18] Tarikhu al-Hurub al-Shalibiyah, Dr. Mahmud Sa’id Imran, h. 147

[19] Maxim Rodinson (1915-2004 M) seorang orientalis, sejarawan, sosiolog berkebangsaan Perancis. Lahir di Paris keturunan keluarga Yahudi, dahulu seorang Marxisme dan pakar bahasa. Dia menguasai sekitar 30 bahasa klasik dan modern, ditambah dia menguasai ragam dialek Arab yang diperoleh dari pengalamannya menetap di berbagai negara Arab masa pendudukan Perancis atas negara Suriah dan Lobanon. Dia menghabiskan usianya selama 7 tahun menjadi pasukan Perancis (1940-1947 M) dia bertugas menyelesaikan pesoalan-persoalan sosial dan banyak mempengaruhi pemikir Arab terutama golongan kiri, Rodinson mati di Marseille. Lihat kitab: al-Jundiyu al-Mustaghrib: Sanawatu Maxim Rodinson fi Lubnan wa Suriah (1940-1947 M ) karya Faishal Jalul.

[20] Al-Shurah al-Gharbiyah wa al-Dirasat al-Gharbiyah al-Islamiyah, Maxim Rodinson bahagian dari kitab Turats al-Islam, Tahrir: Syakhet, h. 34

[21] Tarikhu al-Hurub al-Shalibiyah, Dr Mahmud Sa’id Imran, h. 25-26. Lihat juga Amtsilatun Ukhra, h. 230.

[22] Shuratu al-Islam fi I’lam al-Muhafizhin al-Judud fi al-Wilayat al-Muttahidah, Dr. Aisyah Wazouz, h. 230.

[23] Shuratu al-Islam fi I’lam al-Muhafizhin al-Judud fi al-Wilayat al-Muttahidah, Dr. Aisyah Wazouz, h. 197

[24] Shuratu al-Islam fi I’lam al-Muhafizhin al-Judud fi al-Wilayat al-Muttahidah, Dr. Aisyah Wazouz, h. 286. Untuk memperdalam informasi tentang bahasan ini silahkan lihat Kitab Taghthiyah al-Islam, karya; Edward Sa’id, terjemahan: Samirah Kahuri, termasuk terjemahan lainnya oleh Dr. Muhammad ‘Annani, cet Dar Ru’yah hanya muqaddimah kedua penulis tidak diterjemahkan.

Kemudian kitab Shuratu al-Islam fi I’lam al-Muhafizhin al-Judud fi al-Wilayat al-Muttahidah, Dr. Aisyah Wazouz, dan kitab Limadza al-Rasul? Al-Shurah – al-Dzakirah- al-Tasywih: Qashidah al-Isa’ah fi al-Tsaqafah al-Gharbiyah, karya: Prof. Dr. Muhammad Karim al-Sa’idi.

[25] Lihat: al-Sirah al-Dzatiyah; John Stuart Mil, h. 36-37

[26] Limadza Lastu Masihian, Bernard Russell, h. 18

[27] . lihat; al-Mughalathat al-Manthiqiyah, Adil Mushthafa, h. 120.

[28] . lihat: al-Tafkir al-Ilmi, DR. Fuad Zakariyah, h. 63-64 juga Hadi al-Uqul, DR. Amru Syarif, h. 270

[29] Dialog di stasiun Televisi al-Jazirah bersama Richard Dawkins bersama host Mahdi Hasan dan telah dipublish di Youtube https://youtu.be/tjQD1GvSL1k Cuplikan dialog tersebut dari menit 42.00 sampai menit 45.00

[30] Bernard Lewis (1916-2018 M) dilahirkan di keluarga Yahudi di kasta pertengahan di London. Referensi ilmiyah tidak menyebutkan informasi tentang bagaiman dia belajar agama Yahudi secara spsifik. Dia belajar di Universitas London jurusan sejarah, kemudian berpindah ke Perancis untuk jenjang Diploma jurusan Samiyah Studies tahun 1937, dia belajar pada salah satu orientalis Perancis bernama Massignon dan selainnya.

Dia dinobatkan sebagai professor sejarah Islam tahun 1949 M lalu dia berpindah ke Amerika Serikat tahun 1974 M akibat cacat moral. Dia dipangil jadi dosen tamu di banyak Universitas Amerika dan Eropa diantaranya Universitas Colombia, Universitas Indiana, Universitas California di Los Angeles, Univeritas Oklahoma, universitas Princeton tempatnya mengajar tetap hingga pensiun. Di sana ia diangkat jadi direktur pembantu Enanerge institute for Jewish and Middle Eastern Studies di kota Philadelpia negara bagian Pennsylvania.

Lewis dianggap orientalis paling produktif, sekalipun dia hanya mahir me-recycle karyanya yang sudah dipublish sebelumnya dalam bentuk yang baru. Sebelum pensiun, dia memberi perhatian besar pada dunia Arab dan Islam di era modern, dia menulis buku tentang gerakan Islam (al-Ushuliyah) tentang Islam dan demokrasi, dia aktif membantu dan mengadvise pemerintah Inggris yang mengirimnya ke beberapa universitas di Amerika, menjadi narasumber di beberapa stasiun radio dan televisi tahun 1954 M. Dia juga mengadvise Kongres Amerika. Pada 8 Maret 1974 M dia menyampaikan pidato di jajaran Departemen Urusan Luar Negeri Kongres Amerika tentang Timur Tengah. Pidatonya dipublish oleh Kementerian Luar Negeri Israel dua pekan kemudian. Dia orang paling terdepan membela penjajah Zionis dan menentang kaum muslimin.

Lihat: pidatonya di Youtube dengan judul: Manhaj Bernard Luwis fi Dirasah al-Fikri al-Siyasi fi al-Islam, Dr. Mazin Mathbaqani dan kitab; Juhudu al-Mustasyriqin Baina al-Tajarrud al-Ilmi wa Nazhariyah al-Mu’amarah (Bernard Luwis) karangan Muhammad Yusri Abu Hadur.

[31] Lihat: Shuratu al-Islam fi I’lami al-Muhafizhin al-Judud, Dr. Aisyah Wazouz, h. 252.

[32] Mukhtashar al-Tahrir, Imam Ibnu al-Najjar, h. 99

[33] Definisi ini disebutkan oleh Ibnu Muflih dalam kitabnya Ushul al-Fiqih, 3/999

[34] Dar’u Ta’rudh al-Aqli wa al-Naqli, Ibnu Taimiyah, 1/44-45

[35] Lihat: al-Mughalathat al-Manthiqiyah, Dr. Adil Musthafa, h. 147

[36] Al-Awashim wa al-Qawashim fi al-Dzabbi an Sunnati Abi al-Qasim, Ibnu al-Wazir al-Yamani, 4/179

[37] Sikolojiyatu al-Jamahir, Gustaf Le Bon, h.116.

[38] Al-Manhaju Inda al-Mustasyriqin, Dr. Abdul Azhim al-Dib, h. 363

[39] Lihat kitab: Hujaj Fasidah, Julian Baggini, h. 84

[40] Lihat: Manahij al-Mustasyriqin wa Mawaqifuhum Min al-Nabi saw; ‘Ardhun wa Naqdun fi Dhau’ al-Aqidah al-Islamiyah, Dr. Riyadh bin Hamad al-Umari, 1/526, juga kitab Muhammad Mu’assis al-Dini al-Islami, George Busy: ‘Ardhun wa Naqdun, Dr. Mahmud Baghdadi, h. 51, serta kitab al-Istisyraq fi al-Sirah al-Nabawiyah, Abdullah Muahmmad al-Amin, h. 35 dan selainnya.

Terjemahan Kitab Akidahislamislamispengetahuantauhid

Navigasi pos

Previous post
Next post

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recent Posts

  • INFORMASI ALAM GHAIB
  • PERTAMA – BUKTI ADANYA ALLAH SWT.
  • SYUBHAT KETIGA: PIDANA MATI ORANG MURTAD
  • PASAL VI – SYUBHAT DAN BANTAHAN
  • BAHASAN KELIMA – MENGABAIKAN PERKEMBANGAN SEMANTIK
Februari 2026
S S R K J S M
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
232425262728  
« Jan    

ahli kitab (2) ahlussunnah (2) akal (4) Akidah (102) Al 'Uluw (2) Allah (5) alquran (32) budaya (4) dalil (2) evolusi (1) firqah (2) firqah najiyah (2) ghaib (2) hadits (2) hidayah (2) ibadah (3) ibnu taimiyah (4) ilmu (64) imam syafi'i (9) iman (3) islam (89) kalam (2) kenabian (4) kesesatan (2) kitab (1) kristologi (5) ma'rifah (2) manusia (2) meditasi (1) nubuwah (3) pengetahuan (15) perdebatan (1) rububiyah (1) sejarah (4) sunnah (4) syubhat (5) tabiin (1) tafsir (2) takdir (2) tauhid (77) taurat (3) teori (2) tsaqafah (3) uluw (1) wahyu (2)

©2026 AKIDAH.NET | WordPress Theme by SuperbThemes