Skip to content
AKIDAH.NET
AKIDAH.NET

Keyakinan Pangkal Penghayatan

AKIDAH.NET
AKIDAH.NET

Keyakinan Pangkal Penghayatan

PASAL XV – BERDO’A TAPI BELUM DIIJABAH

Supriyadi Yusuf Boni, 31 Juli 2025

Sumber: Kitab Maraqy al-Wa’yi (Penanaman Kesadaran)

Penulis:  Prof. Dr. Shaleh bin Abdul Aziz Utsman Sindi

Penerjemah: Supriyadi Yousef Boni

Editor: Idrus Abidin

            Do’a ibarat tali membentang dari bumi ke langit, media komunikasi hamba kepada Allah Swt, dengan do’a kemaslahatan agama dan kehidupan dunia mereka terwujud, orang mukmin menjadikannya sarana memenuhi kebutuhan mereka dan menghapuskan bencana mereka, dan do’a termasuk ibadah paling mulia di sisi Allah Swt.

            Doa’ yang tulus merupakan bukti realisasi tauhid dengan segala bentuknya, dia termasuk ibadah sesungguhnya, bukti pengagungan hamba kepada Allah Swt, bukti baik sangka hamba kepada Allah Swt. Olehnya, Rasulullah Saw menyebutnya sebagai ibadah. Sabdanya: “Sungguh do’a itu adalah ibadah.” Lalu membaca firman Allah Swt;

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادۡعُوۡنِىۡۤ اَسۡتَجِبۡ لَـكُمۡؕ

            Terjemahannya: “Dan Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu.” (Qs; Ghafir: 60). (HR. Ahmad, no. 18386).

            Allah Swt anjurkan manusia untuk selalu berdo’a, bahkan marah terhadap mereka yang enggan berdo’a. Sabda Rasulullah Saw: “siapa yang abai berdo’a kepada Allah Swt maka dia dimurkai.” (HR. Ahmad: 9701).

            Atha’ berkata: saya didatangi Thawus lalu berkata: wahai Atha’, jangan engkau adukan kebutuhanmu kepada yang pintunya tertutup untukmu, dan bentangkan tirai di hadapanmu, namun sampaikan semua kebutuhanmu kepada dzat yang membuka pintuNya untukmu hingga hari kiamat, bahkan memintamu untuk berdo’a keapdaNya dan menjanjikanmu mengabulkan do’amu.’ (Disebutkan oleh Abu Nu’aim dalam kitab al-Hilyah, 4/11).

            Doa’ merupakan senjata andalan bagi seorang mukmin untuk menghindarkan dari semua petaka, do’a merupakan bekal dan perlengkapan utamanya. Orang yang paling lemah adalah mereka yang meninggalkan do’a. Sabda Rasulullah Saw; “Sungguh manusia terbakhil adalah mereka yang malas mengucapkan salam, sedang orang terlemah adalah yang malas berdo’a.” (HR. Ibnu Hibban. No. 6097).

            Do’a adalah keuntungan tanpa harus lelah, ghanimah tanpa perang, dan perdagangan yang dimiliki kaum faqir dan orang kaya. Do’a adalah pengundang kebahagiaan dalam kehidupan dunia dan akhirat.

  1. Adab Berdo’a

            Diantara adab berdo’a yang mesti diperhatikan jumlahnya sangat banyak. Ada yang sifatnya wajib dan ada yang sunnah. Adab-adab ini sangat menentukan sebuah do’a diijabah, diantaranya yang terpenting adalah sebagai berikut;

            1. Berdo’a hanya kepada Allah Swt.

            Arahkan pintamu kepada ilah, karena

                        Nikmat itu hanya dikendalikan oleh Rabbuna.

            Jangan sekali-kali berdo’a kepada selain Allah Swt karena ujungnya hanya kehancuran dan kesengsaraan. Firman Allah Swt:

وَمَنۡ يَّدۡعُ مَعَ اللّٰهِ اِلٰهًا اٰخَرَۙ لَا بُرۡهَانَ لَهٗ بِهٖۙ فَاِنَّمَا حِسَابُهٗ عِنۡدَ رَبِّهٖؕ اِنَّهٗ لَا يُفۡلِحُ الۡـكٰفِرُوۡنَ‏

            Terjemahannya: “Dan barangsiapa menyembah tuhan yang lain selain Allah, padahal tidak ada suatu bukti pun baginya tentang itu, maka perhitungannya hanya pada Tuhannya. Sungguh orang-orang kafir itu tidak akan beruntung.” (Qs; al-Mukminun: 117).

            Berdo’a kepada orang telah mati merusak amal

                        Bahkan hilangkan iman, sungguh rugi pelakunya.

            2. Memulai do’a dengan memuji dan memuja Allah Swt, menampakkan harapan besar kepada Allah Swt, bershalawat keapda Rasulullah Saw, merendahkan suara. Firman Allah Swt:

اُدۡعُوۡا رَبَّكُمۡ تَضَرُّعًا وَّخُفۡيَةً​ ؕ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الۡمُعۡتَدِيۡنَ​ ۚ‏

            Terjemahannya: “Berdoalah kepada Tuhanmu dengan rendah hati dan suara yang lembut. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (Qs: al-A’raf: 55). Ibnu Juraij berkata: dilarang meninggikan suara kala memanggil dan dilarang berteriak dalam do’a, bahkan yang diperintahkan adalah tunduk dan tenang.”

            Sangat dianjurkan pula agar seseorang berdo’a seraya bertawassul dengan tawassul yang dibolehkan, memilih waktu-waktu mustajab, menengadahkan kedua tangannya, meyakini do’anya dan yakin akan diijabah. Nabi Saw bersabda: “Jangan seseorang berkata dalam do’a: ya Allah, ampuni saya jika Engkau mau, rahmati saya jika Engkau berkenan, namun hendaklah dia tampakkan keseriusannya berdo’a, karena Allah Swt melakukan sesuai kehendaknya dan tiada yang bisa memaksanya.” (Muttafaqun Alaihi, al-Bukahri, no. 6339 dan Muslim, no. 2679).

            Hatinya hendaknya hadir dan larut dalam do’a, yakin do’anya diijabah. Rasulullah Saw bersabda: “Berdo’alah kalian kepada Allah Swt dan yakinlah akan diijabah, dan sadarilah bahwa Allah Swt tidak menerima do’a orang yang hatinya lalai.” (HR. al-Tirmidzi, no. 3479). Siapa yang ingin do’anya diijabah maka wajib jauhi makan harta haram, hindari minum haram juga mengenakan pakaian haram.

            3. Perbanyak do’a di waktu senggang dan kala terjepit. Nabi Saw bersabda: “Siapa yang ingin do’anya diijabah oleh Allah Swt kala sedang sulit dan susah, maka hendaklah perbanyak do’a di masa lapangnya.” (HR. al-Tirmidzi, no. 3382).

            4. Hendaknya serius dan mengulang-ulang do’anya kepada Allah Swt. Al-Auza’i berkata:  disebutkan bahwa do’a terbaik adalah yang terlihat serius dan sangat menggantungkan diri kepada Allah Swt serta khusyu’ meminta.” Hindarilah sikap memaksa agar do’anya diijabah secepatnya. Rasulullah Saw bersabda: “Do’a setiap kalian akan diijabah selama tidak memaksa disegerakan di mana dia berkata: saya telah berdo’a tapi tidak diijabah-ijabah.” (Muttafaqun alaihi, al-Bukahri, no. 6340 dan Muslim, no. 2735).

            5. Jangan sekali-kali melanggar dalam do’a, yakni; melanggar ketentuan syariat, baik berupa ucapan ataupun dalam bentuk sikap dan cara berdo’a.

  • Do’a Diijabah Bukti Keberadaan Allah dan RububiyahNya.

            Para ulama mengatakan; di antara bukti bahwa Allah Swt ada, juga rububiyahNya, wahdaniyah (esa)Nya, sifatNya yang mulai dan sempurna adalah Allah Swt ijabah do’a di semua waktu. Tidak terhitung berapa banyak permohonan yang telah diijabah, termasuk yang diberikan kepada orang baik dan kepada orang jahat, kepada orang muslim dan orang kafir.

            Berapa banyak orang sepanjang sejarah yang menengadahkan kedua tangannya dan do’anya dikabulkan. Jawabannya ada di saya untuk diri saya, pada anda untuk diri anda dan pada masing-masing orang. Kalaupun ada yang tidak ingat, maka banyak cerita dan miliaran orang yang do’anya dikabulkan. Sejarah masa klasik dan kontemporer mencatat banyak orang-orang shaleh yang dikenal makbul do’anya, belum lagi yang tercatat dalam al-Qur’an dan sunnah, bagaimana do’a para nabi dikabulkan Allah Swt.

            Kesimpulan; banyak sekali kebutuhan manusia yang terpenuhi sejak dahulu hingga sekarang, sedang mereka sendiri hanya tahu telah berdo’a, berharap besar diberi karunia oleh Allah Swt. Fakta ini tersajikan di setiap waktu dan musthail bisa dipungkiri. Olehnya itu, semua itu menandakan bahwa Rabb itu ada, Maha Kuasa, maha Penyayang, mendengar dan mengabulkan do’a.

            Bahkan sekedar sikap manusia yang berdo’a kepada Allah Swt terutama di masa sulit sudah lebih dari cukup untuk membuktikan adanya Allah Swt yang esa dalam rububiyahNya. Dzat yang menciptakan manusia dan membekali mereka dengan fitrah (berdo’a) ini.

  • Jawaban Terhadap Klaim Atheis; Do’a Tidak Dikabulkan Bukti Allah Swt Tiada.

            Banyak persoalan yang sengaja dihenbuskan ke sebagian orang terkait tema do’a ini hingga memantik banyak pertanyaan, sampai ada yang berucap: saya sudah berdo’a namun tidak dikabulkan. Musuh-musuh Allah Swt menjadikan syubhat ini salah satu senjata mengoyak iman masyarakat awam. Mereka berkata: fulan telah berdo’a kepada Allah Swt namun tidak dikabulkan, andai Allah Swt betul ada maka pasti dikabulkan do’a orang itu. Jadi Allah Swt sejatinya tiada. Sungguh Allah Swt maha suci dari tudingan mereka itu.

            Sebelum menjawab syubuhat itu, saya utarakan enam panduan pengantar agar mudah memahami tema ini dengan baik, maka baca dan camkan lalu setelah itu engkau dapatkan jawabannya.

            1. Allah Swt maha bijaksana dan penuh hikmah. Di mana hikmah adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya yang paling sesuai dan cocok serta paling presisi. Sifat hikmah pada Allah Swt pasti adanya, ditunjukkan oleh ribuan dalil, dikabulkannya do’a seseorang, atau ditangguhkannya atau digantinya dengan yang lebih baik dari permintaannya merupakan bukti sekaligus selaras dengan hikmah Allh Swt yang Maha Bijaksana dan maha mengetahui.

            2. Allah Swt paling benar perkataannya. Firman Allah Swt:

وَمَنۡ اَصۡدَقُ مِنَ اللّٰهِ قِيۡلًا‏

            Terjemahannya: “Siapakah yang lebih benar perkataannya daripada Allah?” (Qs: al-Nisa’: 122) Ketika Allah Swt menjanjikan sesuatu pasti ditepati, jadi jangan sampai imanmu goyah karena do’amu terlambat dikabulkan.

            3. Apabila sebagian dalil disebutkan secara mutlak, lalu pada dalil lain disebutkan secara spesifik, maka dalil mutlak difahami berdasarkan dalil spesifik.

            4. Wajib menggabungkan antara iman bahwa Allah Swt maha pengampun dan Maha Penyayang dengan iman bahwa Allah Swt maha pedih siksaNya. Firman Allah Swt:

نَبِّئۡ عِبَادِىۡۤ اَنِّىۡۤ اَنَا الۡغَفُوۡرُ الرَّحِيۡمُۙ‏ .وَاَنَّ عَذَابِىۡ هُوَ الۡعَذَابُ الۡاَلِيۡمُ‏

            Terjemahannya: “Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku, bahwa Akulah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang, dan sesungguhnya azab-Ku adalah azab yang sangat pedih.” (Qs: al-Hijr: 49-50).

            5. Ilmu kita sangat terbatas, akal fikiran kita juga sangat lemah, tidak bisa menjangkau semua hal. Sedang ilmu Allah Swt sangat luas mencakup semua hal. Firman Allah Swt;

وَاللّٰهُ يَعۡلَمُ وَاَنۡـتُمۡ لَا تَعۡلَمُوۡنَ‏

            Terjemahannya: “Dan Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Qs; al-nur: 19).

            6. Dunia ini tempat ujian, bukan tempat bersenang-senang. Kehdiupan dunia bukan syurga, sedang akhirat adalah tempat menerima balasan dan ganjaran setimpal dengan amal.

            Enam pengantar ini sangat penting difahami, dan akan tampak peran dan kontribusinya saat digabungkan dengan jawaban di bawah ini;

            1. Syubuhat yang dihembuskan ini disanggah dengan fakta bahwa banyak do’a dari banyak orang yang sudah dikabulkan Allah Swt. Banyak fakta yang membuktikannya sejak dahulu hingga saat ini. Fakta empiris yang musthail dipungkiri.

            Jadi, orang yang berkata; saya telah berdo’a namun tidak dikabulkan, maka cukup dikatakan kepadanya; saya dan selain saya yang jumlahnya sangat banyak telah dikabulkan do’anya. Kaedahnya, pengakuan lebih dikedepankan daripada penafian. Sungguh tepat pernyataan Nabiyullah Zakariyah kala berkata:

وَّلَمۡ اَكُنۡۢ بِدُعَآٮِٕكَ رَبِّ شَقِيًّا‏

            Terjemahannya: “sedang aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu, ya Tuhanku.” (Qs: Maryam: 4), artinya doa’ku selalu engkau kabulkan, belum pernah engkau tolak apapun pintaku. (Tafsir Ibnu katsir, 5/212).

            Mari sejenak kita saling mengingatkan betapa doa’-do’a kita telah dikabulkan Allah Swt di banyak momen-momen penting. Berapa kali kita ikut ujian lalu kita berdo’a untuk diluluskan dan akhirnya kita lulus. Ketika sering bepergian di mana saat mulai melangkah keluar rumah, kita berdo’a untuk diselamatkan dan faktanya kita selamat. Kita sering berdo’a agar transaksi muamalah kita diberi keuntungan dan akhirnya kita untung. Kita sering berdoa’ untuk disembuhkan dari penyakit menimpa dan akhirnya kita sembuh. Berapa kali kita minta dipertemukan lagi dengan ramadhan, dan akhirnya kita bertemu ramadhan berkali-kali. Dan sebagainya.

            Banyak momen do’a kita dikabulkan, hanaya saja kita yang lupa atau pura-pura lupa, kita hanya mengingat doa’ yang belum terwujud seperti yang diinginkan. Sungguh benar firman Allah Swt:

وَاِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فِى الۡبَحۡرِ ضَلَّ مَنۡ تَدۡعُوۡنَ اِلَّاۤ اِيَّاهُ​ ۚ فَلَمَّا نَجّٰٮكُمۡ اِلَى الۡبَرِّ اَعۡرَضۡتُمۡ​ ؕ وَكَانَ الۡاِنۡسَانُ كَفُوۡرًا‏ 

            Terjemahannya: “Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilang semua yang (biasa) kamu seru, kecuali Dia. Tetapi ketika Dia menyelamatkan kamu ke daratan, kamu berpaling (dari-Nya). Dan manusia memang selalu ingkar (tidak bersyukur).” (Qs: al-Isra’: 67).

            2. Pernyataan seperti ini mustahil diucapkan oleh orang yang tunduk sepenuhnya kepada Allah Swt. Do’a yang dikabulkan adalah doa’ yang dimohonkan seorang hamba sejati keapda Allah Swt, bukan do’anya orang sombong terhadap Allah Swt yang kadang lisan dan sikapnya berkata: pilihannya adalah Engkau kabulkan semua keinginanku atau saya nafikan keberadaanMu. Atau berkata: pilihannya Engkau kabulkan do’aku sekarang, atau saya ragukan kemahakuasaanMu atau kemahapemurahMu. Pola interaksi seperti ini saja tidak layak dilakukan antar sesama, seperti antara anak kepada ayah, ibu atau pimpinan. Apalagi antara seorang hamba dengan Rabbnya.

            Mengulas tema ini mesti diawali dengan menegaskan pola relasi antara seorang hamba dengan rabbnya, apa itu? Apakah maksudnya relasi penghambaan dan ketundukan dari seorang hamba kepada rabbnya yang dicintainya, ditakuti azabnya, diharapkan rahmatnya, kapada rabbnya yang sempurna nama dan sifatnya, yang mana ilmunya sangat luas, dan kebijaksanaan yang dalam, yang Maha sempurna kayaNya, maha sempurna kuasaNya, kepada Rabbnya yang dia harapkan mengabulkan do’anya, tanpa ada yang memaksanya atau mengalahkannya? Atau maksudnya relasi transaksional dan oppurtinis?

            Siapa yang tepat positioning dirinya akan mudah memahami tema ini dengan baik. Jika belum faham, maka sebaiknya dia menata ulang akidah dan keyakinannya sebelum mengulas tema do’a ini. Artinya; ketika seseorang berkata: saya telah berdo’a namun tidak dikabulkan. Maka kita bisa bertanya kepadanya bahwa: apa yang engkau maksud dengan do’a dikabulkan? Apakah bentuknya seperti transaksi, seperti: saya telah berdo’a kepadaMu, maka mana jawabanMu, kenapa Engkau telat kabulkan. Jadi seolah engkau beri sesuatu lalu engkau akan dapat imbalannya. Atau bahwa engkau merasa punya hak di sisi Allah Swt yang engkau tagih? Sejatinya tidak demikian relasi yang benar.

            Makna do’a dikabulkan adalah; bahwa Allah Swt lah yang karuniai engkau dalam bentuk do’a orang yang khusyu’ dikabulkan. Jika dikaitkan dengan kehendak Allah Swt maka ada tiga hal yang perlu diketahui;

  1. Bahwa Allah Swt hanya kabulkan do’a orang yang tunduk dan khusyu’ kepadaNya, bukan do’a orang angkuh lagi sombong, orang ragu, atau yang sekedar hanya ingin menguji keberadaan Allah Swt, atau kuasa Allah Swt atau kekayaan Allah Swt. Firman Allah Swt:

اُدۡعُوۡا رَبَّكُمۡ تَضَرُّعًا وَّخُفۡيَةً​ ؕ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الۡمُعۡتَدِيۡنَ​ ۚ‏ وَلَا تُفۡسِدُوۡا فِى الۡاَرۡضِ بَعۡدَ اِصۡلَاحِهَا وَادۡعُوۡهُ خَوۡفًا وَّطَمَعًا​ ؕ اِنَّ رَحۡمَتَ اللّٰهِ قَرِيۡبٌ مِّنَ الۡمُحۡسِنِيۡنَ‏

            Terjemahannya: “Berdoalah kepada Tuhanmu dengan rendah hati dan suara yang lembut. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat kebaikan.” (Qs: al-A’raf: 55-56).

            Allah Swt kabulkan do’a sesuai kehendakNya, bukan karena dipaksa atau diintimidasi oleh pihak lain. Sungguh Allah Swt maha mulia dan maha besar. Firman Allah Swt;

بَلۡ اِيَّاهُ تَدۡعُوۡنَ فَيَكۡشِفُ مَا تَدۡعُوۡنَ اِلَيۡهِ اِنۡ شَآءَ

            Terjemahannya: “(Tidak), hanya kepada-Nya kamu minta tolong. Jika Dia menghendaki, Dia hilangkan apa (bahaya) yang kamu mohonkan kepada-Nya,” (Qs: al-An’am: 41).

            Allah Swt kabulkan do’a berdasarkan sifat hikmahNya dan bukan gurauan. Dan hikmahNya menuntut menyegerakan semua permohonan, atau menunda atau menggantinya dengan yang lebih baik dari yang dipinta.

  • Do’a dikabulkan bukti adanya Allah Swt dan bukan tes untuk menguji apakah Allah Swt ada atau tidak. Allah Swt yang berhak menguji manusia dan bukan sebaliknya. Saya tegaskan lagi bahwa do’a dikabulkan bukti adanya Allah Swt, dan do’a tidak dikabulkan bukan dimaknai Allah Swt tiada. Karena dalil tidak boleh dibalik. Tidak adanya dalil bukan berarti objek pendalilan tiada pula, karena bisa saja ditegaskan oleh dalil lain. Sedang kita memiliki ribuan dalil yang menunjukkan adanya Allah Swt. Sebagaimana tidak dikabulkannya do’a sebenarnya mengandung banyak penafsiran yang logis, maka tidak dikabulkannya do’a sebagai alasan melakukan penyimpangan adalah kesalahan buruk dan fatal, juga hujjah yang cetek.
  • Orang yang ingkari adanya Allah Swt hanya karena permintaannya tidak dikabulkan berarti dia tidak ingin Allah Swt itu maha kuat dan maha kuasa yang memiliki sifat maha perkasa, maha berkehendak dan maha mengendalikan. Dia seolah ingin Rabb itu sebagai pelayannya yang tunduk pada perintahnya, tugasnya sekedar mematuhi semua permintaannya dan mewujudkan semua keinginannya. Dia ingin Rabb seperti robot yang diprogram untuk melakukan sesui permintaan. Sungguh maha mulia Allah Swt dari yang mereka inginkan itu.
  • Tidak dikabulkannya do’a seseorang bisa saja untuk menunjukkan sifat maha penyayang Allah Swt. Yang mana diantara bentuk rahmatNya adalah dengan tidak memenuhi permintaan hambaNya, karena akan berdampak negatif bagi hamba tersebut. Firman Allah Swt:

وَيَدۡعُ الۡاِنۡسَانُ بِالشَّرِّ دُعَآءَهٗ بِالۡخَيۡرِ​ ؕ وَكَانَ الۡاِنۡسَانُ عَجُوۡلًا‏

            Terjemahannya: “Dan manusia (seringkali) berdoa untuk kejahatan sebagaimana (biasanya) dia berdoa untuk kebaikan. Dan memang manusia bersifat tergesa-gesa.” (Qs; al-Isra’: 11). Terutama kala dia mendo’akan buruk untuk anak dan istrinya saat sedang dikendalikan amarahnya.

            Berapa banyak orang yang berdo’a kepada Allah Swt di masa sulit, saat kondisinya lemah, atau sedang marah, atau karena tidak tahu yang mana jika dipenuhi akan buruk baginya. Diantara dalilnya adalah hadits riwayat Muslim, no. 2688 dari Anas r. a. bahwa Rasulullah Saw pernah menjenguk seorang muslim yang sudah sangat lemah seolah seperti anak ayam, lalu Rasulullah Saw bertanya kepadanya: Apakah engkau berdo’a atau meminta sesuatu kepada Allah Swt? Dia jawab: iya. Saya berdo’a: ya Allah, jika Engkau akan siksa aku di akhirat, maka percepatlah untukku di dunia. Lalu Rasulullah Saw bersabda: Subhanallah, sungguh engkau tak akan sanggup, sebaiknya engkau berdo’a: ya Allah berilah aku di dunia ini kehidupan yang baik dan di akhirat kehiudpan yang baik juga dan jauhkan aku dari siksa neraka.” Lalu orang itu mengucapkannya dan akhirnya disembuhkan.

            Jadi, tidak semua do’a yang dikabulkan menjadi rahmat. Malah sebaliknya, bisa saja menjadi bencana. Lalu kita yang akalnya pendek dan sering ditipu diri sendiri merasa sudah menguasai semua hal, dan tahu mana yang terbaik untuk kita sehingga kita menyesal saat pinta kita tidak dikabulkan.

            Coba perhatikan bayi yang sakit lalu meminta makan atau minum kepada orang tuanya seraya merengek, padahal makan dan minum untuknya saat itu akan memperparah sakitnya. Nah, menolak permintaannya itu adalah bentuk kasih sayang orang tuanya untuknya, sekalipun anaknya itu marah karena pintanya ditolak. Sungguh seringkali sikap kita serupa dengan anak kecil tersebut.

            Pelajaran pentingnya adalah: betapa terbatas jangkauan akal fikiran kita untuk mampu mengetahui ujung dari semua hal yang ada, dan berapa sering penyesalan menyapa kita karena di awal kita tidak pernah menyangka akibat tindakan kita, atau pilihan kita, atau takdir kita. Maka penting kita serahkan semua urusan kita sepenuhnya kepada dzat yang maha tahu dan maha penyayang.

            Serahkanlah urusanmu keapdanya

                        Karena dia lebih pantas untuk itu dari dirimu.

            Kesimpulan: diantara kasih sayang Allah Swt kala tidak kabulkan do’a kita karena akan berdampak buruk bagi kita. Firman Allah Swt:

وَعَسٰۤى اَنۡ تَكۡرَهُوۡا شَيۡـــًٔا وَّهُوَ خَيۡرٌ لَّـکُمۡ​ وَعَسٰۤى اَنۡ تُحِبُّوۡا شَيۡـــًٔا وَّهُوَ شَرٌّ لَّـكُمۡؕ وَاللّٰهُ يَعۡلَمُ وَاَنۡـتُمۡ لَا تَعۡلَمُوۡنَ‏

            Terjemahannya: “Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Qs; al-Baqarah: 216).

  • Tidak dikabulkannya do’a seseorang adalah diantara bukti sifat maha mulia dan maha kuasa Allah Swt. Bisa saja do’a ditolak karena akan berujung pada sikap sombong dan melawan Allah Swt dengan bermaksiat kepadanya, atau malah menjauh dari ketaatan, maka sanksinya dalam bentuk do’a ditolak. Makanya sebelum buruk sangak kepada Allah Swt, periksa kembali diri kita, bisa saja sebab do’a kita ditolak karena kelakuan kita sendiri yang buruk di mata Allah Swt. Tertolaknya do’a kita dalam kondisi seperti ini, sesungguhnya adalah kasih sayang Allah Swt dari sisi yang lain, yakni bahwa ditundanya permintaan kita mengajak kita untuk mengevaluasi diri lalu bertaubat kepada Allah Swt atas dosa yang dilakukan.
  • Ditolaknya do’a seseorang merupakan salah satu bukti sifat bijaksan Allah Swt. Sebaliknya bisa saja kalau do’a dikabulkan malah tidak bijak. Artinya, ditolaknya do’a itu kebijaksanaan. Firman Allah Swt;

وَلَوِ اتَّبَعَ الۡحَـقُّ اَهۡوَآءَهُمۡ لَفَسَدَتِ السَّمٰوٰتُ وَالۡاَرۡضُ وَمَنۡ فِيۡهِنَّ​

            Terjemahannya: “Dan seandainya kebenaran itu menuruti keinginan mereka, pasti binasalah langit dan bumi, dan semua yang ada di dalamnya.” (Qs: al-Mukminun: 71).

            Allah Swt maha tahu apa yang maslahat bagi manusia. Firman Allah Swt:

وَاللّٰهُ يَعۡلَمُ وَاَنۡـتُمۡ لَا تَعۡلَمُوۡنَ‏

            Terjemahannya: “Dan Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Qs; al-Nur: 19)

            Oleh karena itu, Allah Swt tidak kabulkan do’anya nabi Nuh a. s. padahal termasuk orang yang dicintai Allah Swt. Firman Allah Swt:

وَنَادٰى نُوۡحٌ رَّبَّهٗ فَقَالَ رَبِّ اِنَّ ابۡنِىۡ مِنۡ اَهۡلِىۡ وَاِنَّ وَعۡدَكَ الۡحَـقُّ وَاَنۡتَ اَحۡكَمُ الۡحٰكِمِيۡنَ‏

            Terjemahannya: “Dan Nuh memohon kepada Tuhannya sambil berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku adalah termasuk keluargaku, dan janji-Mu itu pasti benar. Engkau adalah hakim yang paling adil.”” (Qs; Hudd: 45).

            Juga do’a nabi Ibrahim a. s. ditolak kala bermohon:

وَمِنۡ ذُرِّيَّتِىۡ قَالَ لَا يَنَالُ عَهۡدِى الظّٰلِمِيۡنَ‏

            Terjemahannya: “”Dan (juga) dari anak cucuku?” Allah berfirman, “(Benar, tetapi) janji-Ku tidak berlaku bagi orang-orang zalim.”” (Qs: al-Baqarah: 124).

            Bahkan do’a nabi Muhammad Saw juga ditolak kala berdoa: Saya meminta kepada Allah Swt tiga permohonan, dua permohonanku diterima namun yang satu ditolak. Saya bermohon agar ummatku tidak dihancurkan karena kelaparan lalu dikabulkan, saya juga mohon agar ummatku tidak binasa dengan ditenggelamkan dan dikabulkan, lalu saya mohon agar ummatku tidak saling membunuh, namun ditolak.” (HR. Muslim, no. 2890).

            Jadi, sifat bijaksana Allah Swt kadang mengharuskan sebuah do’a ditunda ijabahnya atau bahkan tidak dikabulkan sama sekali.

  • Do’a yang ditolak mustahil bisa dijadikan alasan menafikan dzat yang dipinta, apalagi membatalkan dalil qath’i lain yang jumlahnya lebih banyak. Adanya Allah Swt dan kemahaagunganNya telah ditegaskan dalam banyak dalil qath’i. Adapun takdirNya yang menolak sebagian do’a maka semua hanya dikaitkan dengan kehendak Allah Swt dan bukan karena dia tiada.

Permisalan paling sederhana adalah: jika engkau tahu ada orang yang sedang duduk di sebelah dinding karena engkau denagr suaranya, lalu engkau panggil namun tidak dia jawab, maka mustahil orang berakal akan berkata; orang itu tidak ada. Yang terjadi adalah bahwa: orang itu tidak mau menjawab panggilan anda, kenapa dia tidak menjawab? Ini bahasan lain yang terkait dengan hikmah bukan terkait dengan ke’ada’an atau tiada.

    Demikian pula persoalan ini; Allah Swt ada, hanya saja Allah Swt tidak kabulkan permintaanmu karena sangat tergantung pada kehendakNya atas dasar sifat bijaksanaNya Allah Swt, bisa diketahui hikmah itu dan bisa juga tidak.

  • Tenanglah, doa’ yang memenuhi semua syarat dan ketentuannya pasti dikabulkan. Firman Allah Swt:

وَاِذَا سَاَلَـكَ عِبَادِىۡ عَنِّىۡ فَاِنِّىۡ قَرِيۡبٌؕ اُجِيۡبُ دَعۡوَةَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِ

            Terjemahannya: “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku” (Qs: al-Baqarah: 186).

            Namun dikabulkannya do’a bukan berarti harus sesuai permintaan. Sebab, mengabulkan do’a lebih luas cakupan maknanya ketimbang memenuhi sesuai permintaan. Pengabulan do’a itu bisa dalam bentuk sesuai permintaan dan bisa juga bentuk yang lain. Artinya: setiap orang berdo’a yang memenuhi semua syarat dan ketentuan do’a serta terhindar dari penghalang do’a maka pasti dikabulkan. Hanya saja bentuknya bisa berupa:

            a. Sesuai dengan permintaan

            b. Diberikan pengganti yang lebih baik, seperti ditabung untuknya di akhirat kelak.

            c. Diselamatkan dan dilepaskan dari bencana duniawi.

            Semua bentuk itu selalu merujuk pada sifat bajkasana Allah Swt yang maha bijaksana.

            Hal ini sejalan dengan sabda Rasulullah Saw: Tiada seorang muslim yang berdo’a yang bukan dosa dan tidak pula untuk putuskan silaturrahim melainkan Allah Swt kabulkan dalam bentuk satu diantara tiga ahal; disegerakan sesuai permintaannya, disimpan untuknya di akhirat kelak, atau diselamatkan dari bencana yang semisal akan menimpanya.” Mereka bertanya: kalau begitu kita perbanyak do’a. Beliau bersabda: perbanyaklah berdo’a.” (HR. Ahmad, no. 11133).

            Dengan demikian semua syubhat tentang doa gugur dengan sendirinya. Do’a adalah ibadah yang sangat baik, dan pasti dikabulkan sedang orang berdo’a pasti akan menerima faedah do’anya.

  • Untuk do’a yang dikabulkan mesti memenuhi syaratnya dan bebas dari penghalang do’a. Semua do’a yang memenuhi syarat dan bersih dari penghalang maka pasti dikabulkan. Oleh sebab itu, seseorang yang berdo’a dan merasa terlambat dikabulkan maka segera mengevaluasi diri; apakah semua syarat do’anya telah terpenuhi dan penghalangnya telah tiada?

Kemudian kala mengevaluasi dirinya jangan tertipu di satu sisi, lalu mengakui dan menyadarinya dengan jujur di sisi yang lain. Seringkali kita berdo’a dan merasa lambat dikabulkan, lalu setelah dievaluasi ternyata sebab utamanya ada pada kita sendiri.

  1. Seseorang bisa saja berkata: apa yang engkau katakan itu benar adanya, bisa saja kita berdo’a padahal diri kita penuh salah. Namun bagaimana dengan do’a-do’a orang-orang shalih bahkan terzhalimi memohon agar kezhaliman menimpa mereka dihentikan dan atau diringankan bencana mereka, dan nyatanya telat dikabulkan. Bukankah menghentikan kezhaliman adalah baik bagi yang terzhalimi? Jadi, kenapa terlambat dikabulkan?

Jawabannya; betul, bahwa itu semua pasti baik. Namun bukan berarti itu yang terbaik. Ini termasuk penting dicamkan sebaik-baiknya. Bahwa sesuatu itu berada diantara dua yang baik. Diantara hikmahNya adalah: upaya mendapatkan yang terbaik, seperti disepakati para ulama. Dengan begitu, do’a dan kesabaran orang yang terzhalimi jika digantikan dengan penghapusan kesalahan, balasan syurga, dinaikkan derajatnya akan jauh lebih baik dari yang dia pinta yang sekedar menghentikan kezhaliman yang menimpanya.

            Coba perhatikan kisah di masa Nabi Saw. Disebutkan dalam kitab shahihain (al-Bukhari, no. 5652 dan Msulim, no. 2576) bahwa ada seroang wanita yang menemui nabi Saw seraya berkata: saya menderita epilepsi dan kadang terbuka auratku, maka do’akan agar aku disembuhkan. Lalu Nabi Saw bersabda; jika engkau mau engkau sabar dan bagimu syurga, dan jika engkau mau aku do’akan agar Allah Swt sembuhkan engkau darinya. Wanita itu berkata: saya pilih sabar. Lalu dia berkata: kadang tersingkap auratku, maka do’akan agar tidak lagi auratku tersingkap, lalu Beliau Saw do’akan wanita itu.

      Coba perhatikan kisah ini, jaminan masuk syurga jauh lebih baik baginya ketimbang sekedar pulih dari epilepsinya.

  1. Jika kaum atheis menghembuskan syubhat ini maka ketahuilah bahwa dia salah besar dan permainkan agama. Dia bukan mencari kebenaran. Sebab, jika jika doa’ telat dikabulkan maka dia ingkari adanya Allah Swt, lalu jika do’a dikabulkan dia ngeles dan berkata; itu terjadi kebetulan, jadi, sejatinya dia mengingkari Allah Swt di semua kondisi. Maka berhati-hatilah berinteraksi dengan mereka.
  2. Pesan Jika Do’a Telat Dikabulkan

            Ini lima pesan penting bagi orang yang merasa do’anya telat dikabulkan;

            1. Handaknya setiap muslim mengagungkan Allah Swt dalam hatinya. Sebab ini pondasi segala sesuatu. Atas dasarnya sesuatu berujung dan diawali. Allah Swt maha kuasa atas segala sesuatu, tidak ada yang mengalahkannya. Jika Allah Swt kehendaki maka Allah Swt berikan pintamu, atau jika Dia kehendaki angkat engkau di puncak keinginanmu lebih cepat dari kedipan mata, maka pasti dilakukan, dan semua itu sangat teramat mudah bagi Allah Swt, namun semua ketetapanNya didasarkan pada hikmahNya Allah Swt.

            2. Yakin dan percayalah kepada Allah Swt dan pada kebijaksanaannya, tawakkal kepdanya, serahkan semua urusanmu keapdanya dan baik sangka kepadanya. Firman Allah Swt;

وَمَنۡ اَحۡسَنُ مِنَ اللّٰهِ حُكۡمًا لِّـقَوۡمٍ يُّوۡقِنُوۡنَ‏

            Terjemahannya: “(Hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang meyakini (agamanya)?” (Qs: al-Maidah: 50).

            3. Jangan putus asa dan jangan menyerah, ulang-ulangi do’amu, jangan malas berdo’a, dan bahagialah dengan jawaban terdekat.

            Wahai orang tidur tanggung sedih di awalnya

                        Sungguh kabar gembira mengetuk pintu di waktu sahur.

            4. Ingatlah selalu firman Allah Swt:

وَلَـلۡاٰخِرَةُ خَيۡرٌ لَّكَ مِنَ الۡاُوۡلٰىؕ‏

            Terjemahannya: “dan sungguh, yang kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang permulaan.” (Qs; al-Dhuha: 4) dan firman Allah Swt;

وَمَا عِنۡدَ اللّٰهِ خَيۡرٌ وَّاَبۡقٰى​ ؕ

            Terjemahannya: “sedang apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal.” (Qs: al-Qashash: 60).

            Catat dua ayat ini di kepalamu dan ingat selalu.

            5. Evaluasi dirimu sendiri, perbaiki yang buruk, selalu perbaharui taubat, dan perbanyak istighfar.

Wallahu a’lam.

Untuk mengetahui ulasan tambahan silahkan telusuri do’a-do’a para nabi dalam al-Qur’an, baca dan camkan baik-baik, maknanya, kalimatnya dan etikanya, maka pasti akan dibuka untukmu ilmu yang banyak dan iman yang kuat. Biasakan lisanmu mengulanginya.

Terjemahan Kitab Akidahdoaijabahislamtauhid

Navigasi pos

Previous post
Next post

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recent Posts

  • Perkataan Ulama Ahlussunnah Waljama`ah Terkait Sifat “ilmullah” (Pengetahuan Allah) dan Kekayaan serta Kalam-Nya
  • Perkataan Ulama Ahlussunnah Waljama`ah Terkait Sifat “Al-`Uluw” (Kemahatinggian Allah) (Bagian 5)
  • Perkataan Ulama Ahlussunnah Waljama`ah Terkait Sifat “Al-`Uluw” (Kemahatinggian Allah) (Bagian 4)
  • INFORMASI ALAM GHAIB
  • PERTAMA – BUKTI ADANYA ALLAH SWT.
Juni 2026
S S R K J S M
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  
« Mei    

ahli kitab (2) ahlussunnah (2) akal (4) Akidah (105) Al 'Uluw (2) Allah (6) alquran (32) budaya (4) dalil (2) evolusi (1) firqah (2) firqah najiyah (2) ghaib (2) hadits (2) hidayah (2) ibadah (3) ibnu taimiyah (4) ilmu (66) imam syafi'i (9) iman (3) islam (91) kalam (3) kebenaran (1) kenabian (4) kesesatan (2) kristologi (5) ma'rifah (2) manusia (2) meditasi (1) nubuwah (3) pengetahuan (16) perdebatan (1) rububiyah (1) sejarah (4) sunnah (4) syubhat (5) tabiin (1) tafsir (2) takdir (2) tauhid (79) taurat (3) teori (2) tsaqafah (3) uluw (2) wahyu (2)

©2026 AKIDAH.NET | WordPress Theme by SuperbThemes